BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos
SEPATU: Manajemen Mezzo memberikan sepatu secara simbolis kepada perwakilan atlet.
BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos SEPATU: Manajemen Mezzo memberikan sepatu secara simbolis kepada perwakilan atlet.
MEDAN-Mezzo, Lifestyle Concept Store hadir untuk mendukung atlet di Medan berprestasi untuk terus mengukuri prestasi ditingkat nasional maupun internasional. Sebagai wujud dukung tersebut, Mezzo memberikan perlengkapan bagi atlit seperti sepatu.
Hal itu, dilakukuakan saat launching gerai Mezzo di Mall Center Point di Jalan Jawa, Medan, Rabu (15/8) sore. Public Relations Assitant Manager Metrox Group, Iqbal Zakky Hasbianto mengatakan Mezzo ingin memberikan kontribusi kepada negeri melalui olahraga.
“Kami mendukung para atlet muda untuk terus berprestasi dalam bidangnya,” ucap Iqbal, yang juga dihadiri oleh Andika Kurniadi dan Jolon Angelia atlet Badminton asal Medan. Kemudian, juga tampak hadir Aldy Lukman atlet sekaligus pelatih Wushu.
Disisi lain, Iqbal mengatakan pembukaan gerai baru Mezzo melihat share market di Kota Medan terus meningkat dengan mengikuti fashion kaum muda di kota terbesar nomor tiga di Indonesia ini.
“Melihat antusiasme masyarakat terhadap perkembangan fashion terkini, Mezzo ingin melebarkan sayapnya untuk menjangkau pasar lebih luas,” tutur Iqbal.
Di kesempatan yang sama, Iqbal juga memperkenalkan produk terbaru dari Wakai, yakni GYOU Indenpendence Day Edition. Ia menjelaskan sepatu ini, merupakan sepatu kasual dengan balutan merah-putih.
“Koleksi ekslusif ini, merupakan persembahan khusus untuk masyarakat Indonesia sudah sangat baik menerima keberadaan kami selama lebih dari lima tahun,” jelas Iqbal.
Sementara itu, sebagai bentuk dukungan dan penghargaan kepada para atlet, Mezzo pun memberikan kartu membership ME Card kepada para atlet tersebut.
“Terima kasih atas persembahan khusus yang diberikan kepada kami. Kami senang Mezzo memiliki Visi yang sama dengan kami,yakni memberikan yang terbaik untuk bangsa Indonesia,” ucap Andika.(gus/ram)
PENGHARGAAN: Direktur Utama Bank Sumut Edie Rizliyanto, didampingi Direktur Operasional Didi Duharsa, saat memperlihatkan piagam Infobank Award
2018 di Hotel Royal Ambarrukmo, Jogjakarta, Selasa (14/8).
PENGHARGAAN: Direktur Utama Bank Sumut Edie Rizliyanto, didampingi Direktur Operasional Didi Duharsa, saat memperlihatkan piagam Infobank Award 2018 di Hotel Royal Ambarrukmo, Jogjakarta, Selasa (14/8).
JOGJAKARTA-Untuk kali ketiga, Majalah Infobank menilai Bank Sumut layak meraih predikat sangat bagus atas kinerja keuangan 2017 kategori Bank Buku II, aset di atas Rp25 triliun. Predikat sangat bagus merupakan predikat tertinggi dari rating yang melibatkan 115 bank di Indonesia.
Atas pencapaian kinerja tersebut, Bank Sumut dianugerahi penghargaan dalam event Infobank Award 2018, yang diserahkan di Hotel Royal Ambarrukmo Jogjakarta, Selasa (14/8). Direktur Utama Bank Sumut Edie Rizliyanto, yang hadir langsung menerima penghargaan itu.
Menurut Biro Riset Infobank, sebagaimana dilansir Majalah Infobank Vol l Nomor 480, Edisi Juli 2018, ada 4 pendekatan yang digunakan sebagai kriteria, yakni pendekatan rasio keuangan penting, pertumbuhan, Good Corporate Governance, dan profil risiko.
Berdasarkan keempat pendekatan tersebut, hanya 64 bank yang berhasil meraih predikat sangat bagus, 23 bank mendapatkan predikat bagus, 15 bank memperoleh nilai cukup bagus, 4 bank dinilai tidak bagus, dan 9 bank tidak dapat di-rating.
Pemimpin Redaksi Majalah Infobank, Eko B Supriyanto menyebutkan, Biro Riset Infobank melakukan penelitian secara independen, tidak ada yang bisa menghalangi apapun hasil penilaiannya.
“Kami tetap memegang integritas dan kepercayaan dari perbankan. Saya menghargai sekali bank-bank yang hadir saat ini. Bank-bank yang berhasil mendapatkan penghargaan, adalah bank-bank yang memenuhi 4 kriteria, bank yang tumbuh dengan baik, bank yang melaksanakan GCG dengan baik, dan mengumumkan profil risiko dengan terbuka. Kami ucapkan selamat kepada para pemenang,” ungkap Eko.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Sumut Edie Rizliyanto, menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras, hingga menorehkan kinerja keuangan yang sangat baik di 2017 lalu. “Semua ini tak terlepas dari peran seluruh pegawai Bank Sumut, manajemen, hingga jajaran komisaris yang tak pernah lelah dan lengah untuk tetap mempertahankan prestasi,” kata Edie.
Edie juga menyampaikan, penghargaan ini dipersembahkan untuk seluruh nasabah dan masyarakat Sumut, yang telah mendukung dan percaya kepada Bank Sumut, sehingga dapat terus berkontribusi dalam pembangunan ekonomi.
Kinerja keuangan Bank Sumut pada 2017 memang mencatatkan beberapa pertumbuhan positif. Di antaranya laba bersih meningkat 7,79 persen menjadi Rp630 miliar, dibanding 2016 sebesar Rp584 miliar. Aset Bank Sumut juga tumbuh 10,55 persen atau menjadi Rp28,98 triliun.
ari sisi kredit dan DPK juga sama. Masing-masing mencatatkan pertumbuhan 5,69 persen dan 11,32 persen, atau berada pada posisi Rp20,64 triliun dan 23,16 triliun. (rel/saz/ram)
istimewa
KERJA SAMA: Rektor UMSU, Agussani diabadikan bersama Ketua DRD Sumut Prof Dr Harmein Nasution MSIE PhD, dan Kepala Balitbang Sumut Dr Ir HMA Effendy Pohan MSi usai penandatangan kerja sama.
istimewa KERJA SAMA: Rektor UMSU, Agussani diabadikan bersama Ketua DRD Sumut Prof Dr Harmein Nasution MSIE PhD, dan Kepala Balitbang Sumut Dr Ir HMA Effendy Pohan MSi usai penandatangan kerja sama.
Untuk meningkatkan penelitian dan riset secara akademis, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menjalin kerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pemeritah Provinsi Sumatera Utara (Balitbang Sumut) dan Dewan Riset Daerah Sumatera Utara (DRD Sumut).
Kerja sama itu ditandai dengan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Rektor UMSU Dr Agussani MAP, Kepala Balitbang Sumut Dr Ir HMA Effendy Pohan MSi dan Ketua DRD Sumut Prof Dr Harmein Nasution MSIE PhD, di ruang Aula Pascasarjana UMSU, Jalan Denai No 217 Medan, Selasa (14/8).
Rektor UMSU Dr Agussani MAP mengatakan, dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi dewasa ini tidak cukup hanya sebatas melaksanakan proses pembelajaran klasikal semata. Namun, harus ada kejelasan output yang dihasilkannya.
Dengan itu, UMSU berkomitmen untuk maksimal mengimplementasikan Tri Darma Perguruan Tinggi yang salah satu pilarnya adalah bidang penelitian dan pengembangan.
Ia mengungkapkan, beberapa tahun terakhir ini UMSU telah membuktikan komitmennya, terutama dengan membuat kebijakan konkrit dan pengalokasian dana yang maksimal untuk mendukung pengembangan riset ini.
“Bahkan sesuai amanat Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah setiap PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah-red) itu wajib mengalokasikan anggarannya sebesar 5 persen untuk penelitian dan pengembangan. Maka dari itu, tahun ajaran ini UMSU mengalokasikan Rp2 miliar untuk pengembangan riset,” jelas Agussani.
Ditegaskan Agussani, pihaknya sangat membuka diri dan antusias melakukan pelbagai bentuk kerja sama terkait pengembangan riset tersebut, termasuk dengan Balitbang Sumut dan Dewan Riset Daerah Sumut.
“Mudah-mudahan dengan jalinan kerja sama ini kita mampu bersinergi untuk membangun semangat bersama mengembangan dunia riset, khususnya di daerah yang kita cintai ini,” ucap Agussani.
Sementara itu, Kepala Balitbang Sumut, Effendy Pohan mengungkapkan baik dan mengapresiasi kerja sama ini. Ia berharap, kedepan kerja sama ini tidak cuma berhenti di atas kertas dan acara serimonial saja.
“Tapi juga harus bisa direalisasikan dalam program-program nyata,” ucap Effendy.
Sedangkan, Ketua DRD Sumut Prof Dr Harmein Nasution MSIE PhD dalam sambutannya mengatakan, bahwa perguruan tinggi yang dikelola oleh organisasi Muhammadiyah sudah tidak perlu diragukan kredibilitas dan kualitasnya.
Harmein mengungkapkan, selama ini keberadaan PTM dalam dunia pendidikan nasional cukup berperan. ”Karena itu, adalah sebuah kehormatan bagi kita bisa menjalin kerja sama ini, dan kita optimis akan bisa membawa manfaat bagi kemajuan dunia penelitian di Sumatera Utara,” tutur Harmein.
Dalam acara ini juga hadir WR I UMSU Dr Muhammad Arifin SH MHum, WR III Dr Rudianto Msi, Sekretaris Universitas Gunawan SPdi MTH, Direktur pascasarjana Umsu Dr Syaful Bahri MAP dan civitas akdemika lainnya. (gus/han)
Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
SITI KHODIJAH: Siti Khodijah Nasution, memberi meminta para wartawan yang mengikuti site visit ke Tambang Emas Martabe di Batangtoru, Tapanuli Selatan, agar melepas benda-benda logam yang dikenakan sebelum dibawa ke dekat bebatuan.
Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos SITI KHODIJAH: Siti Khodijah Nasution, meminta para wartawan yang mengikuti site visit ke Tambang Emas Martabe di Batangtoru, Tapanuli Selatan, agar melepas benda-benda logam yang dikenakan sebelum dibawa ke dekat bebatuan.
Ia membuktikan, emak-emak tak sekadar tahu soal-soal dapur dan rumah tangga. Tapi juga mampu menguasai ilmu yang kerap dianggap kawasan laki-laki: Pertambangan. Awal berkarir di industri tambang, ia satu-satunya perempuan di tim yang berjibaku ke hutan dan sungai mencari bebatuan. Kini… ia memimpin di divisinya.
—————————————–
Dame Ambarita, Batangtoru
—————————————–
“Selamat siang bapak ibu. Nama saya Siti Khodijah Nasution. Saat ini menjabat sebagai Senior Specialist Exploration, Operations, Safety Departemen Eksplorasi di Tambang Emas Martabe. Di sini kita akan melihat bebatuan, yang dikumpulkan Departemen Eksplorasi,” sapa seorang perempuan cantik berjilbab mengenalkan diri, sembari menebar senyum lebar ke para tamunya.
Memegang toa sebagai pengeras suara, perempuan berpostur tubuh relatif mungil itu dengan lincah memandu puluhan wartawan yang mengikuti site visit ke Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources di Batangtoru, Tapanuli Selatan, beberapa waktu lalu. Langkahnya menuju ke core sheed, semacam gudang tempat penyimpanan batuan inti hasil pemboran.
Di gudang beratap seng tetapi tanpa dinding itu, Siti meminta para wartawan yang mengenakan benda-benda mengandung logam, agar melepasnya dari tubuh dan menyimpannya di kantong atau tas. Alasannya, benda-benda itu bisa secara semu memengaruhi pengukuran kadar mineral bebatuan, jika berada dekat-dekat.
Di tengah gudang, deretan bebatuan beragam warna langsung menyedot perhatian. Batu bermacam warna itu dibariskan beberapa jalur secara horizontal. Menurut Siti, sebutannya core, yakni sepotong batuan atau formasi bawah tanah berbentuk bulat (seperti lemang) yang dipotong dan diangkat ke permukaan dengan alat bor putar yang dilengkapi dengan stang (batang) bor pipa dan dan tabung penangkap core. Panjangnya mulai 1,5 meter sampai 3 meter. Diameternya ada tiga ukuran: 4 cm, 6 cm, dan 8.4 cm.
Batu-batu itu tampak pecah-pecah. Di setiap batu, ada tag berisi informasi tentang ukuran panjang dan kedalaman saat batu itu digali dari perut bumi. Batu itu untuk penyelidikan geologi dan analisis di laboratorium.
Menurut Siti, ada beberapa conto core hasil pemboran di wilayah kontrak karya PT Agincourt Resources di Batangtoru. Sebagian core disimpan di ruangan tertutup (freezer), disesuaikan dengan analisa yang akan dilakukan.
“Di gudang ini, tersimpan conto batuan inti pemboran. Di sini juga dilakukan kegiatan logging/deskripsi batuan, sampling, photo core, cutting core, sampai pada persiapan pengiriman conto ke lab,” jelasnya.
Sambil terus bergerak di antara bebatuan, ia menjelaskan jenis-jenis batu berikut kandungan mineralnya. “Ini adalah urat kuarsa, batuan yang paling banyak mengandung emas. Logam perak merupakan ikutan dari mineral emas, dengan perbandingan 1:3,” jelasnya sembari menunjuk batu dimaksud.
“Ini batu andesite, yakni jenis batuan beku yang pada beberapa lingkungan pengendapan menjadi ’rumah’ untuk emas dan perak serta mineral lainnya,” lanjutnya lagi sambil menunjuk batu lain.
Batu conto hasil pemboran di beberapa titik itu akan diinterpretasi oleh para geologist, dibuat modelnya, dan dihitung cadangannya di perut bumi di wilayah penggalian. Nantinya data analisa cadangan dan kualitas sumber daya mineral batu akan disetor ke konsultan (pihak ketiga). Konsultan akan memvalidasi data. Jika dinilai layak tambang, data akan disetor ke Departemen Mining, untuk dijadikan pedoman dasar aktivitas pertambangan.
Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos SERIUS: Siti Khodijah Nasution, serius memberi penjelasan soal jenis-jenis bebatuan inti hasil pemboran, kepada puluhan wartawan yang mengikuti site visit ke Tambang Emas Martabe di Batangtoru, Tapanuli Selatan, beberapa waktu lalu.
Perempuan lulusan Jurusan Pertambangan dari Institut Teknologi Medan (ITM) ini menjelaskan, di perusahaan tambang emas, Departemen Eksplorasilah yang sejak awal mencari dan menemukan lokasi bebatuan mengandung emas di perut bumi.
Tahap awal, tuturnya, para ilmuwan — kerap disebut detektif alam–, mengobservasi alam dengan mempelajari bebatuan. Tujuannya, mencari bukti tentang kandungan mineral di wilayah yang dituju.
Berbekal alat tulis, kantong sampel, palu, pipa penanda tempat, kamera, GPS, tim geologi (biasanya terdiri dari geologist, medis, dan kru) berangkat ke area yang pemilihan area berdasarkan peta dasar dan data pendukung yang sudah ada sebelumnya. Kegiatan ini disebut dengan mapping. “Sekali berangkat bisa beberapa tim dengan tujuan yang berbeda,” katanya.
Di wilayah yang dituju, para geologis mengambil contoh sedimen sungai. Seperti pasir dan lumpur di sepanjang aliran sungai. Contoh endapan sungai ini kemudian dikirim ke laboratorium untuk mengetahui nilai kandungan logam.
Selain itu, contoh tanah dan batu juga diambil. Tindakan ini dilakukan untuk lebih meyakinkan nilai kandungan logam di suatu wilayah yang sudah pernah dilakukan pengambilan contoh endapan sungainya.
“Ciri pertama daerah yang mengandung emas adalah adanya sebaran batuan beku,” jelas Siti.
Selanjutnya dilakukan pemetaan geologi, yakni peta penyebaran jenis-jenis batuan dalam suatu wilayah eksplorasi, yang diperkirakan mengandung bahan tambang. “Contohnya andesit, breksi, batu pasir, dan batu gamping,” katanya. Dilanjutkan survei pemetaan geofisika dan geokimia.
Untuk lebih memastikan, geologist melakukan pemboran di berbagai titik yang dipilih. Pemboran dilakukan di areal 8 x 12 meter, mulai kedalaman 30 hingga 1.000 meter ke perut bumi. Setelah kegiatan pemboran selesai, bukaan lahan ditanami kembali dengan bibit tanaman agar kembali menyerupai aslinya.
“Hasil pemboran dicek oleh para geologist. Selanjutnya, sampel batu hasil pemboran dibawa ke lab untuk diperiksa,” terang perempuan yang sudah lebih 8 tahun bekerja di Tambang Emas Martabe ini.
Setelah kadar bebatuan dipastikan, tugas penggalian diserahkan ke Departemen Mining. Adapun para geologist, kembali ke langkah awal di wilayah berbeda.
Sembari terus memandu wartawan ke deretan bebatuan lainnya, Siti tetap sigap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan wartawan. Ia bahkan siap mengembangkan senyum saat diminta berpose menatap kamera.
Siti bercerita, ia bergabung dengan Tambang Emas Martabe sejak April 2010. Awalnya sebagai Trainee Geologist di Departemen Eksplorasi. Di timnya, ia satu-satunya perempuan yang ikut keluar masuk hutan mengambil contoh batuan. Timnya bisa keluar masuk hutan selama 2 minggu. Tergantung kebutuhan.
Bagaimana rasanya menjadi geologist perempuan, yang bekerja di antara kaum Adam?
“Yah… asyik-asyik aja sih. Paling saat keluar masuk hutan, sering lelah menyamakan langkah dengan rekan pria yang suka berjalan cepat. Kita sudah pengen istirahat, sementara mereka masih enerjik. Hahaha…,” kenang perempuan kelahiran 6 September 1981 ini dengan nada ceria.
Tim sering harus menginap dua minggu di hutan. Tiap dua minggu turun ke site untuk membuat laporan. Lalu naik lagi untuk melanjutkan mapping. Menghadapi hujan, cuaca terik, kabut, jalanan licin, menjadi makanan sehari-hari.
Untuk tidur, mereka biasa singgah di flying camp terdekat. Tak ada listrik di sana. Kadang juga tidak ada sinyal telepon seluler. Untungnya, kamar mandi selalu tersedia di setiap flying camp. Jadi ia tidak kesulitan soal kebersihan pribadi.
Meski rekannya semua laki-laki, ia mengaku tidak menemui kendala berarti. Satu tim saling membantu di lapangan. Ia juga tidak pernah dilecehkan, baik dengan kata-kata ataupun tindakan. “Satu tim sudah seperti keluarga,” ungkapnya pasti.
Untuk menjaga agar kulitnya tidak gosong, ia biasa menyiapkan sun block. Untungnya, ia memang kurang suka dandan, sehingga tidak ribet di lapangan. “Lebih suka sepatu kets dibanding sepatu berhak tinggi. Lebih suka celana daripada rok. Cocoklah untuk dunia geologist,” cetusnya lalu tertawa ngakak.
Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos TERSENYUM MANIS: Siti Khodijah Nasution, tersenyum manis saat diminta berpose di dekat koleksi bebatuan inti hasil pemboran.
Delapan bulan sebagai Trainee Geologist, karir si Siti Khodijah Nasution meningkat. Ia menjadi Junior Geologist. Setahun kemudian, ia dipercaya menduduki posisi Geologist.
Meski bekerja di tambang bukanlah cita-citanya sejak awal, lulusan SMK Teknik Kimia ini mengaku menikmati peranan sebagai geologist. Ia bahkan menyukai pekerjaannya di lingkungan hutan. Kerap menemukan batu-batu langka, menjadi kenikmatan tersendiri baginya. Selain, lebih berpengalaman mengenal topografi sebuah wilayah.
“Pernah dapat batu akik?” tanya seorang rekan wartawan.
“Ohh… kita memang tidak mencari batu akik, Pak,” jawabnya, lalu memalingkan wajah ke kiri sembari terkekeh geli.
Sejak tahun 2015, ia mulai fokus di aktifitas pemboran. “Tapi tidak ikut ngebor loh ya.. karena saya bukan driller. Saya hanya melakukan monitoring, progress bor, kebutuhan rig/pemboran, komunikasi dengan driller, dan membuat laporan,” jelasnya.
Beberapa tahun bertahan di posisi Geologist, awal 2017 posisinya naik menjadi Project Geologist. Pada posisi ini, ia mendeskripsikan batuan, menentukan batas sampling, QAQC data, spectrum mineral batuan, interpretasi model, dan pemodelan batuan. Dalam menentukan batas sampling, ia berwenang memutuskan apakah sebuah pemboran layak dilanjutkan atau tidak. Putusan itu diambil hanya dengan melihat hasil pemboran secara manual.
Keahlian-keahlian itu membuat karirnya terus melejit. Hanya 7 bulan di posisi Project Geologist, pada September 2017 lalu ia kembali mendapat promosi. Nama jabatannya kini: Senior Specialist Exploration, Operations, Safety Departemen Eksplorasi di Tambang Emas Martabe.
Jika di posisi lama ia lebih banyak ‘bergaul’ dengan bebatuan, kini ia lebih banyak mengurus operasional. Memastikan sistem pelaporan operasional dan keselamatan kegiatan eksplorasi lebih baik. Mengurus izin, berurusan dengan kontraktor, dan sebagainya.
“Posisi saya sekarang memungkinkan saya punya pengetahuan yang menyeluruh. Saya tertantang membuat sistem pelaporan yang lebih detil dan rapi,” katanya.
Awal diangkat memimpin di divisinya, penggemar baca buku biografi ini sempat merasakan sentimen penolakan dari rekan laki-laki. Baik dari bawahan maupun dari rekan sesama manager. “Ada rekan yang merasa dipotong karirnya oleh saya. Saya sedikit dipersulit,” kisahnya, tanpa mau merinci bentuk penolakan itu.
Tapi ia memilih cuek dan maju terus. Mottonya: jangan pernah ragu untuk mencoba, karena kita tidak akan pernah tau hasilnya sebelum mencoba.
Ia bahkan menuliskan tekadnya di profil whatsapp-nya: I never dreamed about succes. I worked for it… Diakuinya, tekad itulah yang membuatnya bertahan di masa-masa tertekan.
“Adaptasi bekerja di pertambangan memang sulit. Sebagai karyawan perempuan, saya dituntut untuk menyesuaikan diri dengan cepat. Saya harus bisa membuktikan bahwa saya memiliki kemampuan yang sama dengan karyawan laki-laki,” kata si sulung dari lima bersaudara ini mantap.
Kenaikan karirnya yang lumayan cepat, di samping karena kemauannya untuk belajar dan bekerja keras, juga didukung program PT Agincourt Resources membangun keberagaman gender di perusahaan.
“Tambang Emas Martabe memberi kesempatan kerja yang bagus untuk cewek-cewek. Perusahaan menargetkan 25 persen karyawan perempuan. Diutamakan masyarakat lokal,” ungkapnya.
Para pekerja perempuan difasilitasi dengan baik. Cuti melahirkan disediakan 4 bulan. Juga ada cuti dua minggu untuk suami yang istrinya melahirkan.
Suasana kerja di lingkungan tambang juga diatur lebih nyaman untuk perempuan. Ada ruang laktasi untuk ibu menyusui.
“Pelecehan dilarang. Jika ada ucapan atau bahkan pandangan mata yang dianggap melecehkan, bisa dilaporkan ke atasan. Kami para pekerja perempuan tentu saja merasa terlindungi,” ungkapnya.
Para pekerja juga mendapatkan banyak training untuk meningkatkan ketrampilan dan wawasan. Training diberi tanpa membedakan gender. “Tidak ada diskriminasi deh. Jadi meski sistem kerjanya sangat disiplin, suasana kerja lebih terasa menyenangkan,” katanya.
Ada keluhan soal perbedaan gaji antara laki-laki dan perempuan? Siti menggeleng. “Sepengetahuan saya, sistem gaji berdasarkan kemampuan, bukan jenis kelamin,” katanya.
Yang menarik, pekerja perempuan di bagian geologist terus bertambah. Saat ini ada 10 perempuan dari 27 pekerja di departemen eksplorasi. Dari jumlah itu, ada 5 perempuan yang ilmunya setara dengan geologist pria.
Persoalan keluarga menjadi tantangan sendiri bagi Siti. Awalnya ia tinggal di Medan bersama keluarga. Agar lebih fokus bekerja, tahun 2012 ia memboyong keluarganya pindah ke Sibolga. Bersyukur, suami mendukung. Suami yang berkarir sebagai seorang Core Sekurity, rela banting setir menjadi guru honorer. “Tidak masalahlah, asal keluarga lebih sering kumpul,” senyumnya. Apalagi, jarak dari Sibolga ke lokasi tambang dapat ditempuh dalam tempo 1 jam perjalanan.
Saban hari, ia diantar sang suami pukul 5 pagi ke Batangtoru. Maklum, jam kerjanya dimulai pukul 6 pagi. Berakhir pukul 6 sore. Sistem kerjanya cuti roster: 24:14. Maksudnya, 24 hari kerja terus menerus, kemudian libur 14 hari.
Kerja 16 jam per hari ini, sering mengundang protes dari kedua anaknya. “Ma… jangan kerja lagi, napa? Di rumah saja yaaa,” pinta kedua anaknya, yang berumur 3 dan 6 tahun.
Dengan lembut, Siti biasanya menjawab ringan tapi serius: “Tapi kita perlu beli susu lo Dek,” seraya memeluk kedua anaknya memberi pengertian.
Siti mengaku, larangan membawa keluarga ke lokasi tambang memang terasa agak berat bagi pekerja yang juga ibu rumah tangga. Apalagi fasilitas hiburan terbatas. Ia berharap pekerja yang memiliki balita, boleh tinggal di camp bersama anaknya. “Kalau bisa sih, ada tempat penitipan balita selama ibu bekerja,” pintanya.
Rencananya, sampai kapan berkarir di dunia tambang?
“Sampai tambang tutuplah,” candanya lalu tertawa tergelak.
Ia menjelaskan, sebenarnya tim di Departemen Eksplorasi adalah tim yang bakal paling cepat pensiun dari sebuah perusahaan tambang. Pasalnya, jika cadangan emas sudah habis dieksplorasi, departemennya pasti tak punya kegiatan lagi. Sementara tim di departemen lain masih aktif. Adapun departemen yang paling lama bertahan adalah departemen enviroment. Dibutuhkan sejak awal, dan pensiun paling akhir. Bahkan bisa dipertahankan hingga bertahun-tahun untuk mengawasi aktivitas pascatambang.
“Pertanyaan saat ini adalah: sampai kapan kami dibutuhkan di Tambang Emas Martabe?” katanya sambil mengedipkan mata.
Kalau demikian, apa rencanamu jika nanti pensiun?
“Balik ke Medan. Pengennya sih jadi konsultan. Tapiii… ada juga rencana jadi pedagang. Niatnya kalau pensiun di usia 45 tahun, mau buka toko,” cetusnya.
Adakah keinginannya yang masih terpendam?
“Menemukan batu langka dan istimewa… batu itu campuran antara granit dan diort. Jarang dilihat dan susah ditemukan. Kalau dapat… wah, pasti rasanya puas sekali,” katanya, tertawa lebar seraya mengajak para tamunya ke luar gudang, mengakhiri sesi kunjungan.
****
Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources Katarina Siburian Hardono di sela-sela soft launching Kompetisi Karya Jurnalistik 2018 Tambang Emas Martabe di Padangsidimpuan (17/7).
Perekrutan para perempuan menjadi karyawan di Tambang Emas Martabe, menurut Katarina Siburian Hardono, menyikapi penelitian yang membuktikan: ada hubungan yang kuat antara kesuksesan sebuah perusahaan, dengan keberagaman di dalamnya.
“Dampak keberagaman gender adalah munculnya keberagaman ide untuk pengembangan perusahaan, kemampuan pemecahan masalah, dan peluang berinovasi. Pada akhirnya, kualitas karyawan pun meningkat,” papar Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources ini, dalam sebuah orientasi lanjutan media di Padangsidimpuan, belum lama ini.
Merekrut perempuan ke dunia pertambangan sebagai strategi pengembangan perusahaan, menurutnya, menjadi fokus sejak tahun 2017 lalu. “Target progresif dalam tiga tahun adalah 25 persen karyawan perempuan pada akhir 2019. Saat ini telah mencapai angka 20 persen dari lebih dari 2.600 karyawan dan kontraktor,” katanya.
Dari jumlah itu, ditargetkan sebanyak 40 persen karyawan perempuan berada di posisi manajerial pada akhir 2019. “Saat ini sudah mencapai 21 persen,” kaanya.
Target dan kuota itu hanyalah katalisator perubahan yang diharapkan manajemen Tambang Emas Martabe. Adapun tujuan utamanya adalah budaya organisasi dan kerja yang terbuka dan positif. Keberagaman dianut sebagai norma. Dan karyawan perempuan maupun laki-laki berkontribusi secara aktif, sehingga perusahaan dapat beroperasi lebih efektif.
Saat ini, sebanyak 494 karyawan perempuan bekerja di 30 jenis pekerjaan yang ada di tambang. Mulai pekerjaan terampil, profesional, produksi, dan non produksi. Perusahaan percaya, penerapan pendekatan inisiatif keberagaman gender yang sukses, akan membuat Tambang Emas Martabe menjadi perusahaan yang lebih baik.
Untuk membangun budaya keberagaman itu, perusahaan merekrut tenaga kerja baru netral gender, untuk beragam pekerjaan. Baik teknis, produksi, maupun pekerjaan profesional.
“Tantangan perekrutan adalah menarik perhatian kandidat yang sesuai dengan kualifikasi. Nah, inisiatif keberagaman gender menjadi daya tarik bagi para perempuan berbakat dan kompetitif, untuk berkarya di perusahaan ini,” katanya, tersenyum dengan yakin. (dame ambarita)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kelompok Terbang (Kloter) 22 menjadi kloter terakhir dari Embarkasi Medan (MES) yang bertolak ke Tanah Suci, Makkah. Kloter 22 dengan 216 orang jamaah dari Kota Medan 182 orang, Padanglawas 28 orang, Padangsidimpuan 2 orang, TPHI 1 orang dan TKHI 3 orang ini akan berangkat dari Bandara Kualanamu, Rabu (15/8) pagi ini.
Menurut Kabid Dokumen PPIH Embarkasi Medan Eri Nofa, sebelum terbang ke Makkah, jamaah Kloter 22 ini akan singgah dulu di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, untuk menjemput Kloter 12 Embarkasi Aceh (BTJ). “Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 3122 akan menjemput jamaah Kloter 12/BTJ di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, lalu berangkat ke Tanah Suci. Diperkirakan, mereka mendarat di Jeddah pada Rabu (15/8) sore pukul 16.00 Waktu Arab Saudi,” ungkap Nofa.
Selain itu, kata Nofa, sampai kemarin, calhaj Embarkasi Medan yang wafat di Tanah Suci berjumlah 5 orang. “Jamaah haji yang wafat berasal dari Asahan 1 orang, Tebingtinggi 1 orang, Mandailing Natal 1 orang dan Medan 2 orang,” ungkapnya.
Dia mengatakan, ahli waris jamaah haji yang wafat akan mendapatkan santunan dari PT Asuransi Takaful Keluarga yang menjadi penyelenggara asuransi haji pada musim haji 2018, setelah menjadi pemenang dalam lelang pengadaan jasa asuransi jiwa dan kecelakaan jemaah haji tahun 1439 H/2018 M tahun anggaran 2018.
Eri Nofa menjelaskan, dengan kontribusi (premi) sebesar Rp49.000 setiap jemaah haji, maka manfaat yang diperoleh yakni santunan sebesar Rp18,5 juta bila jamaah haji meninggal karena sakit dan Rp37 juta bila jemaah haji meninggal karena kecelakaan. “Adapun risiko cacat tetap karena kecelakaan mendapatkan santunan sebesar persentase tertentu sesuai dengan kriteria cacatnya,” ungkapnya.
Eri Nofa menambahkan, ahli waris jamaah haji yang wafat dapat mengajukan klaim asuransi setelah proses pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji berakhir.
Jamaah haji Embarkasi Medan yang wafat di Tanah Suci diantaranya, Katio Abdul Majid Simanjuntak Bin Abdul Majid Simanjuntak (59) warga Dusun II Alang Bonbon Aek Kuasan Asahan, kloter 02/MES manifes 234, wafat tanggal 25 Juli 2018 pukul 14.15, di RS Arab saudi sebab wafat Cardiovascular Diseases (jantung)
Kemudian, Bainah Banua Siregar Binti Banua Siregar (72) warga Jalan Bukit Suling Lk IV Rantau Laban Rambutan Tebingtinggi, kloter 08/MES manifes 033 wafat tanggal 5 Agustus 2018 pukul 10.20, di KKHI Makkah sebab wafat Respiratory Diseases (saluran pernapasan).
Paisah Junaiddin Rangkuti Binti Jainuddin Rangkuti (60) warga Panyabungan Jae Mandailing Natal, kloter 03/MES manifes 042 wafat tanggal 6 Agustus 2018 pukul 14.03 di RS Arab Saudi sebab wafat Respiratory Diseases (saluran pernapasan).
Yurni Jafar Abdullah Binti Jafar (68) warga Jalan Gurilla Gg Mestika No02 Medan Perjuangan, kloter 12/MES manifes 272, wafat tanggal 9 Agustus 2018 pukul 09.00, di Pemondokan sebab wafat Cardiovascular Diseases (jantung).
Lalu, Manyuzar Young Mansyur Bin H Mansyur Budiman (69) Jalan Marelan IV Pasar III Timur Rengas Pulau Medan Marelan, kloter 10/MES manifes 213, wafat tanggal 12 Agustus 2018 pukul 02.00, di RS Arab Saudi sebab wafat Respiratory Diseases (saluran pernapasan). (man)
SUMUTPOS.CO – Pencoretan bakal calon legislatif dari Partai Beringin Karya (Berkarya) di daerah pemilihan (dapil) 9 dan bacaleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sumut di dapil 1 oleh KPU Sumut, menuai reaksi. Kedua pimpinan partai tersebut kompak melanjutkan persoalan ini dalam sengketa di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sumut.
KETUA PSI Sumut, Fuad Ginting dan Ketua Partai Berkarya Sumut, Rajamin Sirait, kukuh menggugat keputusan KPU tersebut ke Bawaslu Sumut. Jalur tersebut dianggap tepat setelah mekanisme yang ada di KPU untuk syarat dukungan bacaleg selesai.
“Biar nanti Bawaslu saja yang putuskan seperti apa jalan tengahnya. Lagian KPU sudah menyampaikan alasannya kepada kami, makanya kami gugat ke Bawaslu,” kata Ketua PSI Sumut, Fuad Ginting saat dikonfirmasi, Selasa (14/8) malam.
Dia mengatakan, permasalahan tersebut tengah diproses Bawaslu dan sebelum pengumuman DCT sudah ada jawaban atas hal ini. “Kebetulan tadi saya tanyakan dengan Kak Syafrida (Ketua Bawaslu Sumut), dia katakan masih diproses. Intinya kita menggugat keputusan KPU itu. Cuma ‘kan ada tahapannya seperti mediasi,” katanya.
Pihaknya bahkan siap menunjukkan ijazah asli Bacaleg mereka yang dinyatakan TMS tersebut. Di samping itu, dari keterangan Bawaslu sendiri, menurut Fuad masalah ini masih bisa dicarikan solusi. “Ya, tidak begitu berat walaupun kita tahu tahapan perbaikan berkas sudah lewat. Tapi Bawaslu bilang masih bisa dicarikan jalan tengah atas masalah legalisir ijazah Bacaleg kami. Masa gara-gara satu orang, sembilan orang Bacaleg ikut gugur di satu dapil,” pungkasnya.
Senada, Rajamin Sirait secara tegas menyatakan, pihaknya memang menggugat keputusan KPU yang telah men-TMS-kan Bacaleg mereka sehingga kehilangan satu dapil yakni di Dapil Sumut 9. Menurutnya status TMS Bacaleg mereka bukan karena persoalan tidak memenuhi kuota keterwakilan perempuan, melainkan penempatan nomor urut calon perempuan pada alokasi dapil sebagaimana diamanatkan pada PKPU 20/2018.
Sementara, KPU Sumut membantah pernyataan Ketua Partai Berkarya dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Rajamin Sirait dan Fuad Ginting paskamenyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) bakal calon legislatif kedua parpol tersebut.
Menurut Komisioner KPU Sumut, Benget Silitonga, Bacaleg perempuan Partai Berkarya memang tidak memenuhi kuota keterwakilan 30 persen. Jadi bukan karena persoalan ketidaksesuaian nomor urut dalam komposisi bacaleg yang didaftarkan sebelumnya. “Karena Bacaleg perempuan mereka TMS, maka akhirnya keterwakilan 30 persen kuotanya tidak terpenuhi. Jadi bukan ada persoalan nomor urut,” katanya kepada Sumut Pos, Selasa (14/8).
Kasus Partai Berkarya dan PSI, disebut Benget, hampir sama. Akibat ada Bacaleg perempuan yang TMS dikarenakan tidak melengkapi persyaratan sesuai ketentuan, makanya kuota keterwakilan 30 persen perempuan menjadi tidak terpenuhi. “Ya itu bisa-bisa saja statemen seperti itu. Seingat saya memang jumlahnya (kuota perempuan) kurang, makanya tidak memenuhi keterwakilan karena TMS,” katanya.
Benget menegaskan, tidak ada lagi peluang Bacaleg perempuan di kedua parpol tersebut diganti lantaran sudah TMS. “Masa perbaikan ‘kan sudah lewat. Mana bisa lagi diganti? Bagaimana pula caranya mengganti calon yang sudah TMS. Sama seperti PSI yang katanya tidak ada KPU menyampaikan soal ijazah bacalegnya yang BMS saat masa verifikasi. Itu sudah kita sampaikan dan berkas yang harusnya dilengkapi, tak dilengkapi sampai akhir masa perbaikan,” katanya.
Sehingga, untuk masalah PSI yang sebelumnya ada kekurangan berkas berupa stempel basah legalisir ijazah bacaleg perempuan, tetap tak bisa dipenuhi sampai lewat masa perbaikan berkas. “Sampai lewat masa perbaikan, tetap saja ijazah itu yang disampaikan. Jadi jangan diputar-putar dong ceritanya dan KPU yang disalahkan. Dari awal kita sudah sampaikan BMS, ijazahnya (bacaleg) mereka bermasalah. Kan tujuh hari itu masa perbaikan. Tapi dari 22-31 itu ijazah yang diberikan ke kita kembali lagi fotokopi ijazah yang lama yang tidak ada stempel basah. Maunya apa fakta sebenarnya saja sampaikan, jangan diputar-putar. Urusan dia gugat ke Bawaslu, ya itu urusan lain,” ungkapnya.
KPU siap menunjukkan berita acara usai masa verifikasi berkas seluruh bacaleg karena memang ada termuat secara administrasi. Sehingga tidak ada stigma bahwa KPU terkesan ‘menjegal’ parpol yang mendaftarkan kadernya sebagai bacaleg. “Jadi jangan mengatakan legalisir (ijazah) itu masalah kecil. Kalau memang masalah kecil kenapa tidak bisa penuhi?” ujarnya.
Paskapengumuman daftar calon sementara (DCS) tingkat DPRD Sumut di Pileg 2019, KPU Sumut mendata ada sebanyak 1.333 bacaleg. Di mana sampai 22 Agustus 2018 diperkenankan kepada masyarakat untuk memberi tanggapan atau masukan atas pengumuman DCS tersebut. “DCS itu kan sudah bacaleg yang kita nyatakan MS (Memenuhi Syarat). Lalu kemudian dalam perjalanannya ada tanggapan masyarakat tentang calon tertentu, yang mengakibatkan bersangkutan bisa TMS barulah boleh diganti. Tapi itu kasusnya beda. Bukan lagi dari sisi administrasi persyaratan melainkan ada tanggapan masyarakat,” ujarnya seraya mengungkapkan sampai hari itu belum ada tanggapan masyarakat yang masuk ke pihaknya atas data DCS tersebut.
Diketahui, sebelumnya Partai Berkarya dan PSI langsung berkonsultasi ke Bawaslu Sumut paskabakal calon legislatif mereka dinyatakan TMS oleh KPU Sumut. Ketua Partai Berkarya Sumut, Rajamin Sirait mengatakan, pada prinsipnya untuk kuota bacaleg perempuan tidak ada masalah namun hanya persoalan nomor urut yang tidak tepat diletakkan. “Kuota bacaleg perempuan kami sudah memenuhi. Cuma lantaran nomor urutnya tidak beraturan dinyatakan TMS. Makanya kami gugat ke Bawaslu,” katanya saat dikonfirmasi Sumut Pos, Senin (13/8).
Menurut dia, sesuai aturan tidak ada keharusan menyusun nomor urut bacaleg perempuan dan yang terpenting kuotanya terpenuhi 30 persen. “Jadi masalah nomor saja makanya bacaleg kami di TMS. Harusnya tidak segitu jumlahnya, karena masalah itu satu dapil (Sumut 9) jadi gugur semua,” katanya.
Atas keputusan KPU Sumut menyatakan, TMS bacaleg mereka saat pengumuman DCS pada Minggu (12/8), pihaknya langsung melakukan konsultasi ke Bawaslu Sumut. “Setahu kami kalau gugur itu bila kuota keterwakilan perempuan tidak terpenuhi. Kami tidak tahu kalau ada aturan yang mengharuskan nomor urut sesuai penempatannya,” pungkasnya.
Ketua PSI Sumut Fuad Ginting mengungkapkan, bacaleg mereka yang dinyatakan TMS lantaran tidak melengkapi legalisir ijazah SMA sampai masa perbaikan berkas. “Memang bacaleg perempuan kami itu sebelumnya BMS. Cuma yang kami sayangkan tidak ada verifikasi dari KPU sampai lewat masa perbaikan. Kami pikir aman dan mereka diam-diam saja. Rupanya waktu pengumuman DCS kita diberi tahu dan tidak bisa berbuat apa-apa,” ungkapnya.
Namun sekarang masalah itu, kata Fuad sudah clear dan tinggal pengajuan mediasi di Bawaslu. Apalagi setelah pihaknya berkonsultasi dengan anggota Bawaslu, hal ini masih bisa dievaluasi kembali. “Sebelum DCT kan masih bisa diganti. Apalagi khusus bacaleg perempuan,” katanya seraya mengaku siang kemarin masih di kantor Bawaslu untuk berkonsultasi.
Di samping itu pihaknya mengakui akan segera melengkapi berkas yang kurang tersebut. Karena persoalannya begitu sepele yang cuma tidak ada stempel basah pada legalisir ijazah bacaleg mereka. “Jadi sudah saya bilang kepada komisioner kemarin, kenapa masalah begini tidak disampaikan jauh hari. Sehingga kita tidak perlu sampai ke Bawaslu sebab ijazah aslinya juga ada,” katanya seraya mengakui akibat hal ini bacaleg mereka semuanya gugur di dapil Sumut I. “Cuma satu orang saja. Masalahnya kan karena dia perempuan, makanya yang sembilan orang lagi gugur,” imbuh Fuad. (prn)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut kasus suap mantan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho kepada anggota dan mantan anggota DPRD Sumut. Pemeriksaan kali ini dilakukan terhadap empat tersangka sekaligus, yakni Washington Pane(WP), Restu Kurniawan Sarumaha (RKS), John Hugo Silalahi (JHS), dan Ferry Suando Tanuray Kaban (FST). Sayang, keempatnya tidak hadir alias mangkir.
“Hari ini diagendakan pemeriksaan terhadap empat orang anggota DPRD Sumut sebagai tersangka. Keempat tersangka belum datang sampai siang ini,” kata juru bicara KPK Febri Diansyah dalam keterangan tertulisnya yang disampaikan ke media, Selasa (14/8).
Katanya, Washington Pane dan John Hugo Silalahi ada mengirimkan surat tidak bisa hadir karena alasan ada penugasan lain. Sedangkan tersangka lainnya, Restu dan Ferry, KPK belum mendapatkan informasi tentang ketidakhadiran mereka.
Selain itu, KPK juga memanggil seorang saksi yang juga anggota DPRD Sumut 2009-2014 Sudirman Halawa untuk tersangka Musdalifah. “Sedangkan yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka MDS,” ujar Febri.
Menurut Febri, KPK merencanakan kembali akan memanggil mereka. Namun, ia tidak dijelaskan waktu pastinya. Sebelumnya Washington pernah berupaya mengajukan praperadilan terhadap KPK ke Pengadilan Negeri Medan. Bersama tiga tersangka lainnya yakni Arifin Nainggolan, Syafrida Fitrie dan Muhammad Faisal. Namun hakim menolak gugatan tersebut karena wilayah hukum KPK sebagai tergugat berada di Jakarta Selatan. Bukan di Kota Medan.
Washington dan yang lainnya merupakan bagian dari 38 tersangka yang sebagian diantaranya sudah dijebloskan ke dalam penjara. Yang terbaru ditahan beberapa hari lalu adalah Tahan Manahan Panggabean, politisi Partai Demokrat.
Demokrat Proses PAW Arifin Nainggolan Cs
Sementara, setelah ditetapkan tersangka oleh KPK atas kasus suap mantan Gubsu Gatot Pujo Nugroho, sejumlah legislator dari Partai Demokrat kini tengah berproses untuk pergantian antar waktu (PAW). Selain tersangka, ada juga beberapa orang akan diganti karena pindah partai.
Pelaksana tugas (Plt) Ketua DPD Partai Demokrat Sumut Herri Zulkarnain menyebutkan, saat ini pihaknya tengah menunggu proses PAW anggota DPRD Sumut yang dinyatakan tersangka kasus suap oleh KPK. Satu diantaranya kini telah ditahan. Karena itu, secara aturan mereka, pemberhentian dilakukan sesaat setelah seorang kader menjadi tersangka hukum.
“Ada empat orang yang diproses karena menjadi tersangka KPK. Ini sesuai fakta integritas kita, bahwa setiap kader yang jadi tersangka, agar segera mengunci diri. Karena otomatis hak dan kewajibannya gugur sebagai kader” ujar Herri, Selasa (14/8).
Selai sempat dari 38 tersangka yang diumumkan KPK, yakni Mustofawiyah, Solar Siburian, Tiaisah Ritonga dan Arifin Nainggolan, di PAW, begitu juga tiga anggota dewan yang diketahui pindah partai. Herri mengatakan proses pergantian juga dilakukan sejalan dengan yang lain. Sehingga ada sekitar tujuh orang yang ditunggu prosesnya oleh Partai Demokrat Sumut.
“Begitu mereka sampaikan surat pengunduran diri, kita langsung proses. Kan rugi juga kalau mereka tidak lagi di Demokrat. Mudah-mudahan di partai barunya, bisa berhasil,” sebutnya.
Saat ini kata Herri, pihaknya tengah menunggu DPRD Sumut melalui pimpinan dewan untuk tahapan pergantiannya. Disebutkannya, setelah selesai dari legislatif, maka selanjutnya diketahui akan disampaikan ke Pemprov Sumut yang selanjutnya dibawa ke Kementerian Dalam Negeri untuk diputuskan. Setelahnya baru PAW dilakukan di rapat paripurna dewan.
“Semakin cepat akan kan akan semakin baik. Kita ingin prosesnya jangan berlama-lama. Karena kan kita tidak mau keterwakilan Partai Demokrat terganggu dan kosong akibat prosesnya lama,” kata Herri yang tidak menyebutkan siapa saja anggota DPRD Sumut pindah dari Demokrat ke partai lain.
Sebelumnya Sekretaris DPD Partai Hanura Sumut Edison Sianturi mengatakan, pihaknya telah mengirimkan usulan untuk dilakukan segera proses PAW anggota DPRD Sumut periode 2014-2019. Hal itu sudah disampaikan mereka kurang lebih sebulan lalu ke pusat. Saat ini pihaknya menunggu instruksi atau keputusan dari atasannya di Jakarta.
“Sudah kita sampaikan ke pusat usulannya. Sekarang menunggu putusan pusat. Kalau sudah ada, kita akan segera proses PAW-nya,” ujar Edison.
Dikatakan Edison, bahwa nama Rinawati Sianturi yang tersangkut masalah hukum terkait periode DPRD 2009-2014. Namun saat itu, nama anggota DPRD Sumut ini masih berstatus sebagai perwakilan dari Partai Persatuan Rakyat Nasional (PPRN). Sehingga masalah dimaksud menurutnya, tidak terkait Hanura. “Walaupun begitu, masalah yang menimpanya kan berpengaruh pada keterwakilan kita di DPRD Sumut,” sebutnya.
Selain mengusulkan PAW kata Edison, mereka juga sudah menyiapkan nama pengganti yang belum dibuka. Tetapi proses itu belum bisa berjalan menunggu keputusan dari pusat. (wah/rmol/bal)
LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Daftar Calon Sementara (DCS) yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Deliserdang langsung mendapat tanggapan dari masyarakat. Seorang bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) Partai Nasdem dari daerah pemilihan II, Raslan Sitompul ternyata masih berstatus PNS dan menjabat Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Pemkab Deliserdang.
Komisioner KPU Deliserdang, Bobby Indra Prayoga mengakui, saat ini mereka sudah mendapat pengaduan dari masyarakat tentang kelengkapan berkas pencalonan Raslan Sitompul. Atas dasar itu, pihaknya juga sudah menyampaikan kepada Partai Nasdem bahwa yang diajukan bukan pengunduran diri Raslan, melainkan SK pensiun yang waktunya melebihi batas waktu penetapan DCT, yakni 21 September 2018.
“Begitu dapat pengaduan dari masyarakat, langsung kami tindak lanjuti. Dan kita teliti SK pensiunnya, ternyata melebihi batas waktu penetapan DCT yang akan diumumkan pada 21 September,” ungkap Bobby kepada wartawan, Selasa (14/8).
Dia juga mengaku, KPU Deliserdang sudah menyampaikan ke Partai Nasdem persoalan ini. “Mereka bilang, akan menanyakan ke dia (Raslan, Red) soal pengunduran diri sebagai ASN. Ya sudah tidak bisa lagilah sekarang ini dilengkapi,” tandas Bobby.
Sementara informasi yang dikumpulkan Sumut Pos di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Deliserdang, Raslan Sitompul ada mengajukan usul pensiun karena telah mau mencapai Batas Usia Pensiun (BUP). Apa yang dilakukannya itu berbeda dengan yang dilakukan Kadis Pendidikan Deliserdang, Wastiana Harahap yang juga ikut mencalonkan diri sebagai Caleg.
“Jadi karena bulan lahir Pak Raslan Oktober, maka dia mulai pensiun 1 November 2018. SK pensiunnya sudah keluar, karena dia ngurus sendiri ke BKN,” ungkap Kabid Pensiun BKD Deliserdang, Heny.
Dijelaskan Heny, kalau Wastiana Harahap mengajukan pensiun sebagai ASN dari Disdik Deliserdang karena memang dia ingin mencalonkan diri sebagai Caleg. Sehingga, SK Pensiunnya berlaku mulai 1 September 2018. Sedangkan Raslan Sitompul, dia mengajukan pensiun bukan karena ingin menjadi caleg, namun karena memang sudah memasuki masa pensiun, yakni Oktober 2018, sehingga SK pensiunnya berlaku mulai 1 November. “Kalau Pak Raslan mengajukan pensiun tidak ada hubungannya dengan Caleg. Jadi, apa yang dilakukan Pak Raslan itu seperti yang dilakukan PNS pada umumnya, bukan karena kemauan sendiri,” kata jelas Heny.
Terpisah, Kepala Inspektorat Deliserdang, Agus Mulyono mengaku sudah mendengar kabar kalau Raslan Sitompul mencalonkan diri sebagai Caleg dari Partai Nasdem. Ia mengaku sependapat, kalau ASN tidak boleh menjadi bagian dari partai politik. Disebutnya, kalau saat ini mereka akan melakukan tindaklanjut atas apa yang dilakukan Raslan Sitompul.
“Ya saya sudah tau ceritanya. Ini sedang kita pelajari dululah, karena dia sudah daftar di partai (punya kartu keanggotaan). Ya kita tindaklanjutilah ini, apakah nanti harus mengundurkan diri atau tidak,” kata Agus.
Bacaleg Nasdem di Medan Juga Diprotes
Hal serupa juga terjadi di Medan. KPU Kota Medan juga ada menerima laporan, ada Bacaleg Partai Nasdem masih berstatus ASN dan menjabat kepala OPD di Pemko Medan.
Ketua KPU Medan Herdensi Adnin mengatakan, tanggapan keberatan masyarakat yang disampaikan itu masih dilaporkan sebatas lisan. “Kita minta masyarakat yang keberatan untuk membuat laporannya secara tertulis. Hal ini agar bisa dipertanggungjawabkan,” kata Herdensi yang dihubungi, Selasa (14/8).
Dikatakannya, apabila laporan yang disampaikan hanya secara lisan, cukup sulit membuktikannya apakah melanggar regulasi yang ada atau tidak. Walau begitu, laporan itu tetap ditindaklajuti untuk diklarifikasi kepada partai politiknya. “Nantinya akan diklarifikasi terhadap yang bersangkutan dan juga partai politiknya,” ujar Herdensi.
Menurut dia, bacaleg Partai Nasdem yang diprotes tersebut sudah melampikan SK pensiunannya. Disinggung, apakah tidak bermasalah lantaran saat ini masih aktif statusnya sebagai ASN, ia mengaku tidak ada masalah. “Kita melihat berkas yang diajukan bacaleg, apakah memenuhi syarat atau tidak. SK pensiunnya itu sudah dikeluarkan tertanggal 4 April 2018,” bebernya.
Ia menuturkan, pihaknya mempersilahkan kepada masyarakat yang keberatan untuk memberikan tanggapannya secara lisan maupun tertulis. Namun, dengan melampirkan bukti. “Kalau hanya secara lisan saja, bagaimana mau diklarifikasi,” ucapnya.
Herdensi menambahkan, laporan secara lisan lainnya ada juga terhadap bacaleg terkait persoalan ijazah. Namun, dia masih enggan membeberkan siapa yang melaporkan dan dilaporkan karena harus dilindungi. “Kita tidak bisa sampaikan sebelum ada bukti yang kuat atas dugaan pelanggaran yang dilakukan. Makanya, kita butuh laporan secara tertulis untuk diklarifikasi,” tukasnya.
Sementara, Kepala Pusat Penerangan Kemendagri, Bahtiar mengatakan apabila ASN yang bersangkutan sudah pensiun maka secara administrasi sudah terpenuhi. Aturan mengenai ASN atau pegawai BUMN yang memutuskan untuk mengikuti agenda Pemilu 2019 sudah tertuang di dalam Peraturan KPU (PKPU) No 20/2018. “Intinya ASN sudah harus berhenti sebelum ditetapkan dalam DCT (daftar caleg tetap). Hal itu yang diatur di dalam PKPU,” terangnya.
Bahtiar menyatakan, meski sudah memutuskan terjun ke dunia politik prkatis, ASN tetap akan mendapatkan haknya. Terlebih, nantinya terpilih menjadi legislatif. “Kalau hak pensiunan tetap dapat,” tandasnya. (btr/ris)
LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO –Komisi Pemilihan Umum (KPU) Deliserdang menetapkan 608 bakal calon legislatif (bacaleg) masuk Daftar Calon Sementara (DCS), dan 23 bacaleg dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS).
“Hasil Rapat Pleno, dari 709 bacaleg yang mendaftar, hanya 686 orang yang masuk DCS dan akan dipublikasikan ke media,”ujar Humas KPU Deliserdang, Bobby I Prayoga, di Lubukpakam, Senin (13/8).
Disebutkannya, partai politik (parpol) PKPI di dapil 6 (Percut Seituan dan Batangkuis-red) semua bacaleg dinyatakan TMS. Hal itu dikarenakan 2 bacaleg keterwakilan perempuannya TMS, sehingga berdampak ke 9 bacaleg lainnya yang ikut dinyatakan TMS.
Sementara itu, satu bacaleg masing-masing dari parpol Berkarya dan Gerindra dinyatakan TMS karena ijazah bermasalah. “Indikasinya, saat memberikan surat keterangan ijazah dinyatakan hilang diambil dari kepolisian, sehingga tidak sesuai PKPU. Seharusnya, surat keterangan pengganti ijazah itu yang dikeluarkan sekolah,” sebut Bobby.
“Selebihnya untuk 10 bacaleg dinyatakan TMS karena tidak melengkapi persyaratan Peraturan KPU,” tutur Bobby.
Ditambahkannya, untuk pejabat Pemkab Deliserdang yang masuk DCS harus mengajukan surat pengunduran diri paling lambat 19 September 2018. Sebab, pada 20 September 2018 penetapan Daftar Calon Tetap (DCT).
Terpisah, Ketua PKPI Deliserdang Hendri Rosmawati Sitanggang mengaku 11 bacalegnya di dapil 6 kandas. “Dapil 6 kandas, setiap saat sudah saya ingatkan bacaleg agar berkas dilengkapi dengan baik,” katanya singkat.(btr/han)
MOTIVASI: Pakar motivasi etos kerja tingkat nasional, Jansen Sinamo (Berdiri) memberikan motivasi dihadapan Bupati dan para pejabat struktural, kepala puskesmas dan kepala sekolah lingkup Pemkab Pakpak Bharat di Balai Diklat, Cikaok, (13/8).(Foto : Sumut Pos/Tamba Tinendung)
MOTIVASI: Pakar motivasi etos kerja tingkat nasional, Jansen Sinamo (Berdiri) memberikan motivasi dihadapan Bupati dan para pejabat struktural, kepala puskesmas dan kepala sekolah lingkup Pemkab Pakpak Bharat di Balai Diklat, Cikaok, (13/8).(Foto : Sumut Pos/Tamba Tinendung)
PAKPAK BHARAT-Peningkatan kapasitas SDM aparatur Pemkab Pakpak Bharat terus dilakukan, termasuk dengan pemberian motivasi dalam bentuk pelatihan revolusi mental dan etos kerja profesional untuk menghasilkan pelayanan publik yang lebih prima, tata kelola pemerintahan serta pembangun yang lebih baik di Kabupaten Pakpak Bharat, seperti yang dilaksanakan di Balai Diklat, Cikaok pada 13-14 Agustus 2018, dan dibuka secara resmi oleh Bupati Pakpak Bharat, Dr Remigo Yolando Berutu, MFin, MBA, pada Senin (13/8).
Tidak hanya membuka acara, Bupati Remigo bersama Sekda, Sahat Banurea SSos, MSi juga mengikuti rangkaian acara dengan serius yang menghadirkan pakar motivasi etos kerja tingkat nasional, Jansen Sinamo, yang dikenal dengan sebutan Mr Etos bersama jajarannya dari Darma Mahardika Institute, dengan melibatkan para pejabat struktural, kepala puskesmas dan kepala sekolah lingkup Pemkab Pakpak Bharat.
Kegiatan pelatihan ini bertujuan mengubah cara pandang, berfikir dan bersikap, perilaku serta cara kerja untuk membangkitkan kesadaran dan membangun sikap optimis dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian. Target yang diharapkan adalah para peserta akan mendapatkan framework akan cara berfikir yang komprehensif tentang bagaimana bekerja secara benar dan tepat dalam birokrasi.
Secara khusus Bupati Remigo menggambarkan tantangan berat ASN saat ini. “Disamping pengetahuan mendasar juga diperlukan motivasi untuk menghasilkan kinerja yang semakin meningkat di tengah tingkat persaingan yang semakin tinggi”, tuturnya. Untuk itulah menurut Bupati, para aparatur harus update dan di-upgrade agar terus prima.
“Ikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh, sehingga apa yang kita harapkan nantinya akan sesuai dengan hasilnya”, sambung Bupati seraya berpesan, agar memperbaiki diri untuk berbuat lebih besar.
Dalam kesempatan ini, sang motivator, Jansen Sinamo membagi kenangan akan daerah Pakpak Bharat sebagai tempatnya tumbuh sejak kecil dan merupakan tanah leluhurnya. “Kegiatan ini juga bertujuan untuk membangun kampung dengan lebih semangat atau dalam bahasa Pakpak disebut dengan tendi”, tandasnya.
Paparan yang disampaikan dalam acara ini menyangkut konsep besar tentang revolusi mental serta penguatan akan etos kerja profesional yang beranjak dari tiga nilai utama, yaitu integritas, etos kerja dan gotong royong. Adapun delapan etos kerja profesional yang menjadi penekanan adalah rahmat, amanah, panggilan, aktualisasi, ibadah, seni, kehormatan dan pelayanan.(tam/han)