Home Blog Page 6085

Pedagang Minta KPK Turun Tangan

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS// SUASANA: Suasana Pasar Peringgan di Jalan DI Panjaitan Medan. Pedagang menolak pengelola Pasar Peringgan yakni pihak swasta PT Parbens.

Kisruh pengelolaan Pasar Peringgan hingga kini belum juga tuntas. Meski aset pasar tersebut telah diambil alih Pemko Medan yang diserahkan kepada pihak swasta, PT Parbens, para pedagang di pasar tersebut tetap menolak.

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS// SUASANA: Suasana Pasar Peringgan di Jalan DI Panjaitan Medan. Pedagang menolak pengelola Pasar Peringgan yakni pihak swasta PT Parbens.

Pedagang berharap KPK dapat turun tangan dalam persoalan ini Ketua Pedagang Pasar Peringgan Bahtera Sembiring menyatakan, pengelolaan pasar tersebut sesuai Perda Kota Medan Nomor 23 Tahun 2014 pasal 331 ayat 1, 2, 3 dan 4, seyogyanya dikelola oleh pemerintah yakni PD Pasar bukan swasta. Artinya, tidak dibenarkan dikelola swasta. Akan tetapi, kenapa ditengah jalan Pemko bersikukuh agar dikelola pihak ketiga.

“Ada apa ini sebenarnya, kenapa Pemko ngotot mengalihkan kepada swasta. Kami curiga ada intervensi kebijakan yang dilakukan Pemko, diduga ada menerima sesuatu,” kata Bahtera yang dihubungi, kemarin.

Oleh sebab itu, lanjut Bahtera, para pedagang berharap KPK dapat turun tangan dalam persoalan ini. Sebab, KPK diyakini lembaga hukum yang independen atau tidak memihak kepada siapapun. “KPK harus turun tangan dalam masalah ini. Kami tidak percaya lagi kepada aparat hukum selain KPK,” ucapnya.

Menurut dia, jika nantinya KPK turun tangan dalam persoalan ini tentu akan terbongkar secara jelas. Sebab, diduga ada unsur KKN dalam kerja sama yang dilakukan Pemko Medan dengan PT Parbens.

“Kami mohon agar KPK membuka mata dan turun tangan. Soalnya, pedagang telah diminta uang untuk membayar sewa kios tetapi pengelolaannya malah dialihkan kepada swasta. Benar-benar aneh negara kita ini, rakyatnya malah ditindas,” tegasnya.

Sementara, Sekda Kota Medan Syaiful Bahri yang juga sekaligus Ketua Badan Pengawas BUMD Kota Medan belum berhasil dimintai tanggapannya terkait tudingan pedagang. Nomor seluler Syaiful yang dihubungi tak kunjung diangkat.

Sekretaris Komisi III DPRD Medan, Boydo HK Panjaitan mengatakan, pengelolaan Pasar Peringgan di tangan pihak swasta tanpa ada rekomendasi dari DPRD Medan. Artinya, pengelolaan pasar tersebut diberikan kepada pihak ketiga dilakukan secara sepihak.

Diutarakannya, perlu disampaikan bahwa selama ini Komisi III yang merupakan konter partnya Pasar Peringgan tidak pernah mengetahui kerja sama yang dilakukan antara Pemko Medan dengan PT Parbens sehingga bisa dibilang ilegal.

“Sewaktu saya menjabat Ketua Komisi III pada tahun 2017 lalu, telah meluruskan dan mengembalikan Pasar Peringgan dari pihak swasta ke PD Pasar. Namun, tiba-tiba pada Januari 2018 Pemko sudah mengeluarkan MoU dengan PT Parbens. Padahal, Pasar Peringgan sudah menjadi aset dipisahkan yang dikelola oleh BUMD. Jadi, ketika misalnya Pasar Petisah saya mau sewa (kelola), berarti bisa saja padahal sedang dikelola PD Pasar,” ungkapnya.

Kata Boydo, kalau memang dikelola swasta kenapa tidak ada kontes atau pelelangan untuk pengelolaan pasar tersebut. “Kok ujuk-ujuk langsung PT Parbens yang mengelola,” pungkasnya. (ris/ila)

Poldasu Pasang Police Line

Agusman/sumut pos POLICE LINE: Ditreskrimum Poldasu memasang police line di arena futsal Cemara Sport Center di Jalan Cemara, Jumat (3/8).

Subdit I/Keamanan Negara (Kamneg) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumut, melakukan police line (garis polisi) terhadap arena futsal Cemara Sport Center di Jalan Cemara Simpang Jalan Krakatau, Kecamatan Medan Timur, Jumat (3/8).

Agusman/sumut pos
POLICE LINE: Ditreskrimum Poldasu memasang police line di arena futsal Cemara Sport Center di Jalan Cemara, Jumat (3/8).

Kasubdit I/Kamneg, AKBP Simon Sinulingga melalui Kanit IV Kompol Sahrul Rambe mengaku, pihaknya melakukan garis polisi tersebut berdasarkan laporan dari pemilik lahan, Suteja pada 5 Maret 2018 lalu.

“Jadi, pak Teja selaku pemilik tanah bersama dengan perusahaan Cemara Sport Center membuat perjanjian kontrak selama 10 tahun dimulai pada 27 Oktober 2007 sampai 27 Oktober 2017. Setelah habis masa berlakunya, Pak Teja meminta supaya tanahnya dipulangkan oleh Dirut PT Cemara Sport Center Sumandi Widjaja. Tapi sampai laporan dibuat, Sumandi tak kunjung mengembalikannya,” ungkapnya kepada wartawan.

Karenanya, sambung Sahrul, pihaknya melakukan penyidikan, lalu sidik serta mengajukan kepada pengadilan untuk melakukan penyitaan, dan lokasi diberi garis polisi.”Untuk tindaklanjut, kasus ini akan dilimpahkan ke JPU,” tegasnya.

Sementara itu, saat ditemui di lokasi, Suteja menyatakan, jika masalah sengketa lahan seluas 8.672 meter dan bangunannya itu karena dirinya merasa dibohongi.”Ini tanah saya dan disewa selama 10 tahun sejak tahun 2007. Sewa menyewa harusnya terakhir 27 Oktober 2017,” katanya.

Teja menceritakan, kejadian berawal dari perjanjian antara dirinya dengan pemegang saham PT Cemara Sport Center untuk sewa menyewa lahan. Saat membicarakan itu, sambung Teja, dirinya bertemu dengan Direktur PT Cemara Sport Center, Alwin, Anton sebagai komisaris, Leonardo Soh sebagai komisaris utama.

“Jadi kami menandatangani surat perjanjian sewa menyewa antara saya dan istri dan disitu ada Alwin dan Anton. Setelah tandatangan kontrak sewa menyewa, Alwin menelpon Leonardo Soh dan mengabari sewa menyewa sudah dilakukan,” jelasnya seraya menyatakan inti dari isi perjanjian itu, apabila kontrak habis, pihak penyewa harus mengosongkan lahan.

Ia mengaku, pada tahun 2009, tepatnya setelah Cemara Sport Center terbangun dimana Teja menjadi pemegang saham sebanyak 45 persen, Leonardo melaporkan dirinya ke Polda Sumut, sehingga ia ditahan.

“Saya dituntut oleh Leonardo karena pembukuan di PT Cemara Sport Center tidak saya buat. Padahal itu bukan tugas saya, melainkan itu tugas Alwin karena dia direkturnya saat itu. Karena itu saya ditahan, namun setelah diperiksa Polda dan ternyata saya tidak terbukti melakukan penggelapan uang. Akhirnya Polda Sumut melakukan SP3 atas kasus saya yang dilaporkan Leonardo Soh,” terangnya.

Setelah itu, Teja menambahkan, oleh inisiatif dari pemegang saham untuk mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), yang menghasilkan pembicaraan untuk mengejar pembukuan.”Tapi saya tidak sanggup membuat pembukuan. Maka dari itu saya mencari akuntan dan ditolak mentah-mentah oleh mereka, yaitu Alwin, Anton dan Leonardo,” sebutnya.

Karenanya, sambungnya, barulah masuk nama Sumandi Widjaja dan Alwin, Anton serta Leonardo sebagai pemegang saham di PT Cemara Sport Center tanpa sepengetahuan dirinya.

Oleh karena itu, Suteja mengaku, dirinya membuat laporan ke Polda Sumut terkait lahan dan bangunannya tidak dikembalikan Sumandi Widjaja yang mengklaim bahwa lahan dan bangunan itu adalah miliknya.

“Padahal, nama Sumandi Widjaja tidak terdaftar atau tidak ada di PT Cemara Sport Center sebagai Direktur. Dia (Sumandi) cuma mengklaim bahwa lahan itu adalah miliknya. Padahal lahan itu, punya saya,” pungkasnya.

Terpisah, Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Sumut Kombes Pol Andi Rian membenarkan bahwa pihaknya melakukan police line di Cemara Sport Center yang berada di Jalan Cemara simpang Jalan Krakatau.”Kita melakukan police line sebagai tindak lanjut izin penyitaan yang sudah diterima penyidik,” tandasnya. (man/ila)

Dewan Minta Dahulukan Hak Pedagang

Rencana relokasi pedagang Pasar Timah oleh Satpol PP yang menuai pro dan kontra dari kala-ngan Komisi III DPRD Kota Me-dan, langsung disikapi pimpinan lembaga legislatif tersebutn
Dewan meminta agar dalam relokasi tersebut mendahulukan hak pedagang.

Ketua DPRD Kota Medan Henry Jhon Hutagalung mengatakan, dalam persoalan ini seharusnya melihat secara jeli hak-hak pedagang dan mendahukan hak pedagang. Sebab, pedagang hanya ingin berjualan dengan aman dan nyaman.”Penolakan pedagang disebabkan ada hak-hak yang tidak terpenuhi. Sebab, tempat relokasi yang akan diberikan kepada pedagang tidak layak dan bermasalah,” kata Henry Jhon, kemarin.

Menurutnya, sejak awal ia tak pernah setuju revitalisasi pasar ditangani pihak swasta. Sebab, developer cenderung sesuka hati menjual harga kios yang bakal ‘mencekik’ para pedagang sehingga menimbulkan ketidaknyamanan.

“Jika ditangani swasta, pedagang seakan terjerat dengan peraturan mereka. Developer juga cenderung menjual kios dengan harga mahal. Makanya, hal ini yang seharusnya menjadi perhatian Pemko karena berpotensi adanya penyimpangan,” ungkap Henry Jhon.

Diutarakan Henry Jhon, kekisruhan yang terjadi dalam revitalisasi Pasar Timah disebabkan Pemko Medan melibatkan pihak ketiga. Sehingga, permasalahan tersebut selama bertahun-tahun tak mencapai titik temu “Makanya, pimpinan DPRD Medan tak pernah mengeluarkan rekomendasi apapun tentang revitalisasi pasar itu,” cetus dia.

Disinggung adanya pro kontra antar sesama anggota Komisi III DPRD Medan, Henry Jhon menyebut hal ini lumrah. “Dewan yang duduk di komisi berasal dari berbagai fraksi. Jika ada perbedaan, itu hal biasa. Namun, secara kelembagaan harusnya kita membela pedagang atau kepentingan orang banyak bukan bukan pengembang,” tukasnya.

Sementara, Ketua Komisi III DPRD Kota Medan, Hendra DS menyatakan bahwa dirinya tak pernah mengeluarkan rekomendasi kepada Satpol PP agar Pasar Timah ditertibkan. Menurutnya, apa yang dilakukannya hanya mempertanyakan kelanjutan pembangunam revitalisasi yang tidak kunjung selesai padahal sudah berjalan hampir 4 tahun.

Apalagi, sambung dia, sebelumnya Komisi III mendapat laporan dari pengembang bahwa pembangunan terkendala karena masih ada pedagang yang bertahan di lokasi dan menolak relokasi.

“Tidak ada rekomendasi, hanya saya tanya ke Satpol PP kenapa tidak dibantu proses relokasi. Terlebih, berdasarkan ketentuan hukum tidak menyalah atau sudah memenangkan gugatan kasasi di MA (Mahkamah Agung),” ujar Hendra.

Terkait adanya pernyataan koleganya di Komisi III, Hasyim, yang mengaku tidak diundang rapat dengar pendapat (RDP) bersama Satpol PP dan Bagian Hukum Senin (30/7) lalu, Hendra membantahnya. Kata Hendra, hal itu tidak benar. “Staf yang sampaikan undangan ke seluruh anggota komisi (III).

Jadi, kenapa tidak hadir saat RDP, saya tidak tahu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi III DPRD Medan yang juga Ketua Fraksi PDIP, Hasyim meminta Pemko Medan untuk tidak menindaklanjuti rekomendasi yang dikeluarkan Komisi III terkait relokasi Pasar Timah dari hasil RDP.

“RDP terkait Pasar Timah yang digelar dengan pengembang dan perwakilan Pemko Medan sangat aneh, karena pedagang tidak diundang, ada apa ini? Bahkan, saya juga tidak diundang padahal saya juga anggota komisi, apa ada kepentingan lain,” ujar Hasyim.

Kehadiran pedagang Pasar Timah, menurut Hasyim sangat penting. Lantaran, sebagai lembaga politik, Komisi III DPRD Medan harus mendengar pendapat dari keduabelah pihak.

“Seharusnya juga panggil pedagang, jangan ambil keputusan yang didapat dari satu pihak. Kasih kesempatan pedagang memberikan pendapatnya. Kemudian, harus tinjau ke lapangan seperti apa lokasi relokasinya, setelah itu baru tentukan sikap,” tandas Hasyim. (ris/ila)

Tuntaskan Anak Muda

Satu ujian terakhir harus dilalui Indonesia U-16 di penyisihan piala AFF U-16. Timor Leste menjadi lawan pamungkas yang harus dituntaskan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sabtu (4/8).

Kemenangan itu menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya tim yang belum terkalahkan di grup A. Bahkan, David Maulana dkk menyapu bersih tiga pertandingan yang dijalani. Dengan nilai 9, Indonesia menempatkan satu kaki di semifinal.

Satu kemenangan lagi bakal memastikan langkah pasukan Merah Putih ke babak empat besar. Hal itu ditentukan pada laga melawan Timor Leste.

Semangat juang saat melibas Vietnam 4-2 patut diacungi jempol. Meski sempat tertinggal saat laga baru berjalan enam menit, skuad Garuda Muda tidak menyerah. Mereka menunjukkan mental petarung.

“Saya bangga dengan apa yang ditunjukkan pemain. Mereka mempunyai motivasi tinggi untuk mengalahkan juara bertahan,” kata pelatih timnas U-16 Fakhri Husaini. “Tapi, ini masih babak penyisihan. Tidak perlu merayakan berlebihan,” sambungnya.

Namun timnas U-16 tetap harus mewaspadai Timor Leste. Dengan raihan tiga poin yang didapat, Timor Leste dan pelatih Joao M da S Araujo kembali bersemangat sebelum menghadapi tuan rumah timnas Indonesia.

“Bagi kami, kemenangan ini membuat kans untuk bisa lolos ke babak selanjutnya masih terbuka. Jadi, kami akan berupaya untuk bisa mengimbangi Indonesia dalam pertandingan selanjutnya, meski saya tahu itu akan berat,” ujar Joao selepas laga kontra Kamboja, Kamis (2/8).

“Kalau kami bisa dapat poin dari laga lawan Indonesia, kans akan kembali ada. Sebab, menurut prediksi saya, Filipina yang menjadi lawan terakhir masih bisa kami kalahkan,” ucap dia.

Menurut dia, kekalahan dari Vietnam, Selasa (31/7), memberikan banyak pelajaran. “Menurut saya, kalau bermain bertahan seperti lawan Vietnam sebelumnya, para pemain akan lebih capek dan itu memudahkan kami kebobolan. Jadi, kami akan coba bermain normal saja agar bisa mengimbangi Indonesia,” pungkasnya. (bbs/don)

Usia Penderita Diabetes Semakin Muda

Jumlah pasien diabetes di Indonesia mencapai 10 juta orang. Jumlah itu membuat Indonesia menduduki peringkat ke-7 negara dengan pasien diabetes terbanyak di dunia pada tahun 2017. Ironisnya lagi, usia penderita diabetes
semakin muda.

Hal ini disampaikan Direktur Diklat Penelitian dan kerja sama RS USU dr Sake Juli Martina, SpFK pada kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar Koordinator Klinik dr Werina Bastian, bekerja sama yang RS USU dan PT Telkom, dilaksanakan di Klinik Yakes – Telkom Jalan Sena No 8A Medan.

Dr Sake Juli Martina, SpFK yang jugan
Ketua Panitia pelaksana menyatakan, berdasarkan data jika dibagi berdasarkan umurnya, usia penderita diabetes di Indonesia semakin muda. Dari angka 10 juta tersebut, sebanyak 1,67 juta berusia di bawah 40 tahun, 4,65 juta berusia 40-59 tahun, sedangkan sisanya (2 juta) berusia 60-79 tahun.

Padahal, lanjut dr Sake, dulu kalau belum usia 40 tahun, dokter akan langsung menghapus diabetes dari dugaan mereka.

“Oleh karena itu, kita patut memperhatikan faktor risiko dan gejala khas diabetes untuk mencegah atau memperlambat komplikasi akibat diabetes,” ungkapnya.

Dipaparkan dalam acara tersebut, ada 12 faktor risiko dari diabetes, yakni usia 45 tahun ke atas, riwayat keluarga diabetes, riwayat penyakit kardiovaskular, pernah melahirkan bayi dengan berat di atas empat kilogram, mengalami kadar gula tinggi saat hamil, sukar hamil, kolesterol tinggi, darah tinggi, gemuk, pre-diabetes, kurang aktivitas fisik dan merokok.

“Jika memiliki salahsatu atau bahkan lebih dari faktor-faktor tersebut, saya mengusulkan untuk melakukan pemeriksaan glukosa plasma normal setiap tiga tahun, atau setahun sekali bila masuk dalam kelompok pre-diabetes (kadar gula 140-200 mg/DL),” ungkapnya.

Selain itu, juga harus diperhatikan gejala-gejala khas diabetes, seperti sering haus, sering lapar, sering buang air kecil, berat badan turun tanpa diketahui penyebabnya, mudah mengantuk, cepat lelah, luka sukar sembuh, gatal, kaki atau tangan terasa baal atau kesemutan, impotensi, keputihan, dan pengelihatan buram.

“Ketika kita mengalami satu atau lebih dari gejala-gejala tersebut sudah bisa menjadi alasan yang cukup kuat untuk berkonsultasi ke dokter,” ungkapnya.

Sake Juli Martina memberi apresiasi terhadap dukungan penuh dari Direktur Utama RS USU Dr dr Syah Mirsya Warli, Sp.U dan seluruh jajarann direksi lainnya. “Kegiatan ini menjadi bukti nyata peran RS USU dalam membina klinik – klinik yang ada di sekitarnaya,” ungkapnya.

Dokter Sake Juli Martina juga menyebutkan bahwa kegiatan yang sama sebelumnya juga sudah dilakukan di klinik diabetes Alifa Jalan Brigjend Katamso pada Rabu, 11 Juli 2018.

“Kita berharap agar masyarakat lebih peduli dengan yang namanya penyakit Diabetes. Karena seperti yang saya terangkan penyakit ini sudah mulai menyerang orang di usia muda,” pungkasnya.

Sementara dari unsur panitia hadir Dr. dr. Isti Ilmiati Fijiati, M.Kes, Dr.Tulus Ikhsan Nasution, MSc dan Rica Asrosa, S.Si serta dr. Dina Utami Lubis yang memberikan banyak informasi berupa ceramah dan dialog interaktif bagi para penderita diabetes yang hadir pada saat itu.

Acara yang dilaksanakan oleh Koordinator Klinik dr Werina Bastian dan dihadiri Asisten Manager Bagian Umum, M. Fitri, Tim Pembinaan Yakes Telkom Quinta, Zuraida , Irmadani dan Trimuharramah mendapat dukungan penuh dari Manajer Yakes Telkom Area Sumatera Bapak Zendrich Saragih dan Asisten Manager Pengendalian Medis dr Firamadani. (dvs/ila)

Medan Utama v PSDS

Liga 3 Zona Sumut akhirnya memasuki babak final. Medan Utama dan PSDS memastikan diri akan bentrok di Stadion Teladan, Minggu (5/8). Kedua tim sama-sama belum terkalahkan di Liga 3.

Terpenting, kedua tim sudah sama-sama lolos ke babak regional. Dari setiap daerah ada tiga wakil yang akan dikirim. Namun tetap saja semua laga di final harus dituntaskan dengan kemenangan.

PSDS menjadi tim paling produktif di Liga 3. Mereka mencetak 35 gol dan baru kebobolan tiga gol. Tim besutan Ansyari Lubis itu pun difavoritkan untuk bisa mengulang prestasi tahun lalu.

Pelatih PSDS Ansyari Lubis berharap skuadnya bisa tampil lebih tenang di final nanti. Dari laga sebelumnya, Uwak mengakui masih ada kelemahan karena pertama kali main di luar Stadion Baharoeddin Siregar. “Di awal kita akui masih ada pemain yang belum mampu beradaptasi dengan kondisi lapangan,”ungkapnya.

Uwak, sapaan akrabnya, berharap skuadnya juga tak canggung tampil di final. Seperti diketahui PSDS banyak mengandalkan para pemain muda. “Kan baru kali ini pemain kita tampil di lapangan yang kondisi lapangannya dengan rumput tebal. Jadi perlu penyesuaian lokasi. Setelah kita ingatkan hasilnya para pemain mampu mengatasinya,” sebutnya.

Sementara itu Medan Utama juga tak kalah optimis. Perpaduan para pemain muda dan senior yang diperkuat Jecky Pasarella, Aidun Sastra dan Biondi Lubis serta mengandalkan kecepatan Faisal Doni di lini depan membuat Medan Utama cukup tangguh.

Striker Medan Utama, Jecky Pasarella yang sudah menorehkan enam gol mengatakan dirinya siap kembali tampil maksimal untuk bisa menjebol gawang PSDS. Namun diakui Jecky, PSDS adalah tim yang tangguh.

“PSDS tim yang padu dan solid. Mereka juga dibesut pelatih yang bagus. Tapi kami tidak takut dan siap merebut gelar juara bertahan dari mereka,” kata Jecky Pasarella.(don)

Perebutan Tapal Batas di Titik Nol Belmera

Adanya sengketa tapal batas di titik nol Jalan Tol Belawan Medan dan Tanjung Morawa (Belmera), membuat petugas Badan Pertanahan Negara (BPN) Medan melakukan pengukuran ulang dengan sidang lapangan, Jumat (3/8) Kehadiran petugas BPN berdasarkan surat permohonan Bareskrim Mabes Polri atas laporan PT Jasa Marga. Pengukuran di lapangan turut dihadiri yang terlibat sengketa PT Mitra Jaya Bahari (MJB) dan PT STTC serta petugas dari Polres Pelabuhan dan Polda Sumut serta Kecamatan Medan Belawan.

Sejumlah aparat bersenjata lengkap turut mengawal. Tapal batas yang menjadi masalah antara PT Jasa Marga, PT MJB dan PT STTC berlangsung lancar.

GM PT Jasa Marga Cabang Tol Belmera, Iwan Rosa mengatakan, pihaknya melaporkan ke Bareskrim Mabes Polri dengan dugaan penyerobotan lahan selebar 3 mater di sepanjang pinggir di titik nol tol Belmera.

Penyerobotan 3 meter dilakukan pihak PT MJB dan PT STTC, dengan demikian pihaknya hadir untuk menyaksikan sidang lapangan yang dilakukan BPN Kota Medan.

“Ada lahan yang kita kelola ini diserobot 3 meter, makanya kita laporkan ke Mabes Polri. Hari ini (kemarin,Red) kita menyaksikan titik penyerobotan lahan kita, makanya kita menunggu hasil pengukuran dari BPN,” terang Iwan Rosa.

Sementara itu, Kasubsi Pengukuran BPN Kota Medan, Andika menjelaskan, mereka melakukan pengukuran ulang, berdasarkan adanya tembusan surat permohonan dari Bareskrim Mabes Polri, terkait sengketa tapal batas di objek yang sedang mereka lakukan pengukuran.

“Kita masih menerima semua surat dari masing – masing bersengkta, baik itu dari PT Jasa Marga, PT MJB dan PT STTC. Dari situ akan kita cek, jadi belum bisa kita simpulkan siapa yang menyerobot dan objek mana yang diserobot,” sebut Andika.

Dijelaskan Andika, mereka masih kesulitan mengukur, karena areal lahan dipenuhi lalang rumput. Untuk itu, hasil pengukuran akan menunggu proses paling lama seminggu.

“Hari ini kita maksimalkan untuk menuntaskannya.

Jadi nanti akan nampak mana objek yang diserobot dan mana objek milik masing – masing lahan mereka,” jelas Andika.

Humas PT MJB, Kayun dalam kesempatannya mengatakan, pihaknya tidak mengetahui adanya objek tanah mereka serobot, karena mereka membeli dari pihak pengembang.

Berdasarkan surat sertifikat yang mereka beli, lahan yang mereka tempati sudah sesuai objek. Bahkan, ada sisa jalan untuk digunakan sebagai fasilitas umum yang berdampingan dengan PT STTC dengan perusahaan mereka.

“Kalau berdasarkan surat, di samping perusahaan kita, ada jalan umum. Tapi jalan itu malah diserobot pihak PT STTC, dari denah surat yang kita pegang jelas. Biarlah BPN yang mengecek, bahwa jalan itu telah diserobot,” ujar Kayun.

Mengenai penyerobotan lahan 3 meter milik PT Jasa Marga, kata Kayun, pihaknya bersedia mengembalikannya kepada negara. Bahkan, pihaknya akan membebaskan sisa tanahnya mencapai 10 meter untuk membantu akses jalan tembus ke Kampung Kurnia.

Pembebasan lahan secara hibah yang akan mereka lakukan, untuk mempermudah perlintasan mobil pemadam kebakaran ke Kampung Kurnia. Sebab, selama ini masyarakat terisolir tidak bisa dilalui mobil beskala besar.

“Soal 3 meter itu, kita rela memberikannya. Bahkan, kita juga telah mengibahkan sebahagian tanah kita untuk akese jalan. Itu hasil perundingan dengan pimpinan daerah beserta Kementrian PUPR. Hasilnya, izin perlintasan jalan itu sudah dikeluarkan dari Dirjen Bina Marga,” terang Kayun.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Jerico Lavian Candra dikonfirmasi mengakui adanya laporan sengketa antara PT Jasa Marga, PT MJB dan PT STTC terkait tapal batas di wilayah tersebut.

“Laporan itu ada di Mabes Polri dan Polres Pelabuhan Belawan. Kita sebagai penyidik masih menyelidiki objek tanah itu. Jadi, belum bisa kita simpulkan mana objek diserobot dan mana objek milik masing – masing yang bersengkata,” jelas Jerico. (fac/ila)

Konfidensi Tinggi

Arema FC vs Persija dalam laga lanjutan Liga 1 2018 akan digelar di Stadion Kanjuruhan Minggu (5/8). Bagi Arema, ini bukan laga ringan. Sebab, Macan Kemayoran–julukan Persija Jakarta– tengah dalam konfidensi tinggi pasca meraih dua kemenangan beruntun.

Setelah melewati empat laga tanpa kemenangan, Persija mampu mengalahkan tuan rumah Mitra Kukar dengan skor 1-0 pada 21 Juli. Tren positif itu berlanjut saat menjamu Bhayangkara FC pada 27 Juli. Anak asuh Stefano ”Teco” Cugurra itu menang 2-0.

Dua rekrutan anyar Persija, Osas Marvelous Saha (striker) dan Shahar Ginanjar (kiper) langsung tune in. Osas mencetak satu gol saat menghadapi Mitra Kukar. Sementara Shahar bermain gemilang dengan mementahkan enam tembakan pemain Bhayangkara FC. ”Ini akan menjadi pertandingan yang sulit,” kata pelatih Arema FC Milan Petrovic.

Apalagi, berkebalikan dengan Persija, tim Singo Edan baru saja meraih hasil negatif. Yakni, saat kalah 3-4 dari tuan rumah Mitra Kukar di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, 27 Juli lalu. ”Tapi, bagaimana pun kami ingin meraih kemenangan pada setiap pertandingan,” ujar pelatih berkebangsaan Serbia ini.

Kemenangan atas Persija pekan ini menjadi harga mati. Sebab, Arema FC bermain di kandang mereka sendiri, Stadion Kanjuruhan. Diprediksi, stadion bakal disesaki penonton. Baik Aremania maupun Jakmania–sebutan untuk suporter Persija.

Beruntung bagi Milan, dia punya waktu cukup panjang untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ada jeda waktu seminggu lebih pasca kekalahan di kandang Mitra Kukar. ”Saya sudah menyiapkan strategi yang mengandalkan permainan keras dan agresif,” ujar pelatih yang mengantongi lisensi kepelatihan UEFA Pro ini.

Pelatih berusia 57 tahun ini menyatakan bahwa dirinya juga akan mengoptimalkan serangan-serangan dari sayap. ”Kami akan memulainya pada awal-awal pertandingan,” kata pria yang sebelumnya menjadi asisten pelatih era Joko ”Gethuk” Susilo tersebut. (bbs/jpnn/don)

Jadi Keluarga Minang

Tasya

Pernikahan Tasya Kamila dan Randi Bachtiar tinggal menghitung hari. Sebelum hari pernikahan, Tasya rajin membagikan momen mesra dengan calon suami. Mulai dari foto pra-nikah di media sosial, sampai video perjalanan cinta mereka.

Tasya

Beberapa foto pra-nikah memperlihatkan keduanya dibalut pakaian adat. Pertama, yakni busana adat Minangkabau yang begitu indah dengan warna keemasan. Tasya tampak cantik didampingi Randi.

“Menghitung hari. Beberapa hari lagi bakal jadi bagian dari keluarga Minang. Insya Allah,” ungkap Tasya.

Selain pakaian Minang, calon suami istri ini juga memamerkan pose mengenakan busana adat Jawa. Menurut Tasya, ini merupakan pakaian daerah asal usul keluarganya. “Tema foto prewedding kali ini adalah mengadaptasi elemen budaya Jawa, sesuai asal usulku,” katanya.

Tasya rencananya menikah dengan Randi pada 5 Agustus 2018.

Mereka sepakat membangun rumah tangga usai pacaran bertahun-tahun. Beberapa pekan lalu, Tasya dan Randi melaksanakan lamaran. Saat dilamar, Tasya dapat cincin berlian seharga ratusan juta dari calon suami. (mg3/jpnn/saz)

Tasya

Open Source, Tren Branding Terkini

Salah satu eksekutif branding terkemuka dari Amerika Serikat, Mary Ellen Muckerman, berbagi pengalaman mengenai Tren Terkini dalam Strategi Branding dan Marketing, untuk para wirausahawan, professional dan mahasiswa di Medan.

Dame Ambarita/Sumut Pos OPEN SOURCE: Wakil Presiden perusahaan Mozilla dari Amerika Serikat Mary Ellen Muckerman, berbagi pengalaman mengenai tren terkini dalam strategi branding dan marketing, di Cocowork at Clapham, Komplek Ruko Centre Point Medan, Jumat (3/8) sore.

Dalam paparannya, Wakil Presiden perusahaan Mozilla dari AS ini mengatakan, tren branding terkini dan di masa depan adalah mengedepankan konsep Open Source.

“Konsep branding Open Source maksudnya merek bisnis sebagian besar dikendalikan oleh pelanggan atau pengguna. Perusahaan masih memiliki hak cipta terhadap merek, tetapi pengguna diberi kebebasan besar untuk mempengaruhi merek,” kata Mary Ellen, dalam presentasi dan diskusi dengan para anggota KADIN Sumatera Utara, mahasiswa, jajaran pemerintahan, komunitas non-profit, dan anggota dari co-working space Cocowork@Clapham serta publik Medan, di Cocowork at Clapham, Centre Point Medan, Jumat (3/8) sore.

Mary mencontohkan raksasa mesin pencari Google, yang membangun basis kodenya di atas software bebas dan Open Source. Cara ini menghemat sumber daya pengembangan software. Tak hanya Google, Mozilla juga menerapkan cara serupa. Yakni menyediakan kode-kode software gratis di internet, yang terbuka bagi publik untuk digunakan, didistribusikan dan dimodifikasi.

“Strategi software Open Source ini terbukti semakin diminati oleh kalangan pebisnis,” katanya.

Contoh lainnya adalah bisnis GoJek di Indonesia, yang memberi drivernya kebebasan besar untuk mempengaruhi merek GoJek.

“Dengan branding konsep open source, siapapun dapat mengadopsi dan memodifikasi merek yang mereka pilih. Tetapi pemilik merek tetap menempatkan kontrol untuk mencegah penyelewengan yang tidak diinginkan terhadap mereknya,” katanya.

Untuk strategi marketing, Mary menekankan pentingnya tiga konsep dalam open source mindset. Yakni Transparansi, Kolaborasi, dan Partisipasi, untuk mengamplifikasi brand yang ingin dipasarkan.

“Transparan itu baik untuk bisnis, karena membuat publik percaya pada brand yang dipasarkan dan pada akhirnya membuat pelanggan datang dan datang lagi,” sebutnya.

Salahsatu situs belanja online, Everlane misalnya, menerapkan keterbukaan tentang harga barang, dan berapa keuntungan yang ingin disumbangkan pembeli bagi situs tersebut. Juga ada histori tentang barang yang dijual. Keterbukaan ini membangun kepercayaan publik.

Kedua kolaborasi, yang menurutnya akan menciptakan network dan menjadi kekuatan pengganda bagi merek yang akan dipasarkan. Contoh bisnis yang sukses menerapkan konsep ini adalah bisnis Gojek, dengan para driver sebagai partner.

Ketiga partisipasi, yakni semua orang harus berkontribusi, baik bakat, waktu, atau uang . (mea/ala)