32 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 74

Tifatul Sembiring Sebut Kesetiakawanan Sosial adalah Modal Besar Bangsa Indonesia

MEDAN, SumutPos.co- Anggota DPR RI dari PKS Ir H Tifatul Sembiring mengatakan, masyarakat Indonesia sudah terkenal ramah dan santun terhadap semua orang, bahkan dengan yang baru dikenalnya. Dan sejak kecil, kita sudah diajarkan oleh orang tua untuk saling membantu jika ada saudara yang tertimpa musibah atau kesusahan seperti yang dialami saudara-saudara kita di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh.

“Semua masyarakat Indonesia membantu, memberikan empati. Ada yang dengan uang, tenaga, dan waktu. Ini semua menunjukkan nilai Kesetiakawanan Sosial rakyat Indonesia tinggi. Ini modal besar bangsa kita,” kata Tifatul Sembiring ketika menggelar Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Aula DPD PKS Serdang Bedagai, Rabu (17/12/2025).

Menurut mantan Presiden PKS ini, dengan nilai kesetiakawanan sosial yang dimiliki, dia optimis bangsa ini dapat menyelesaikan berbagai macam masalah, seperti yang sekarang sedang terjadi di tiga provinsi di Pulau Sumatera.

Ia juga berharap, kesetiakawanan sosial dapat diaplikasikan keberbagai aspek seperti ekonomi dan pendidikan, dengan adanya sikap saling membantu di masyarakat. “Saya optimis, berbagai masalah sosial dapat teratasi sehingga tercipta masyarakat yang tentram, harmonis dan sejahtera,” ujar Tifatul.

Sedangkan pada pemaparannya tentang 4 pilar MPR RI, Tifatul menjelaskan tentang poin-poin penting yang terkandung di dalamnya, yaitu Pancasila sebagai dasar Negara. Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi dan ketetapan MPR. Kemudian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara. Dan terakhir, Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara. (adz)

Tifatul: Pancasila Harus Jadi Benteng Utama dalam Bernegara

MEDAN, SumutPos.co- Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Ir H Tifatul Sembiring kembali menggelar Sosialisasi 4 Pilar MPR RI, kali ini dia mendatangi konstituennya di Jalan Rengas VI, Medan Marelan, Selasa (16/12). Pada sosialisasi yang digelar di Aula Masjid Baiturahman ini, Tifatul mengajak para konstituennya untuk terus merawat, menjaga, dan mengamalkan Pancasila secara kontinyu.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila sudah holistik atau menyeluruh, bisa dipakai untuk hidup bermasyarakat dan bernegara. “Di tengah-tengah rongrongan dari luar maupun dalam negeri, Pancasila jadi benteng utama dalam menghempangnya,” jelas kader senior PKS ini.

Pada kesempatan tersebut, Tifatul juga mengajak para konstituennya untuk terus mendoakan dan membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. “Yang gugur semoga mendapat surga di sisi Allah SWT. Dan yang selamat semoga diberi ketabahan dan kekuatan untuk bangkit,” ujarnya.

Adapun peserta Sosialisasi 4 Pilar MPR RI berasal dari Majelis Taklim yang ada di Kota Medan. “Saya merasa senang hari ini bisa belajar tentang agama dan negara secara sekaligus. Saya berharap, kegiatan semacam ini dapat rutin dilakukan di lingkungan kami,” harap seorang peserta sosialisasi.

Di kesempatan Sosialisasi 4 pilar MPR RI ini Tifatul menjabarkan tentang poin-poin penting yang terkandung di dalamnya, yaitu Pancasila sebagai dasar Negara. Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi dan ketetapan MPR.
Kemudian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara. Dan terakhir, Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara. (adz)

Bersama Pulihkan Aceh, Telkomsel Tegaskan Komitmen dalam Rakor Satgas Pascabencana

Banda Aceh, sumutpos.co – Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana Sumatra digelar di Banda Aceh sebagai upaya mengakselerasi pemulihan wilayah terdampak bencana, khususnya di Aceh. Forum ini mempertemukan kementerian/lembaga, BUMN, dan kepala daerah terdampak untuk membahas langkah-langkah pemulihan, termasuk perbaikan infrastruktur dan keberlanjutan layanan telekomunikasi. Dalam rakor tersebut, Telkomsel menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pemulihan pascabencana di Aceh dengan memastikan layanan jaringan dan konektivitas tetap terjaga bagi masyarakat.

Rapat koordinasi tersebut membahas sejumlah isu strategis, mulai dari percepatan perbaikan infrastruktur, penanganan transportasi, penguatan anggaran, layanan sosial, hingga pemulihan pasokan listrik dan jaringan komunikasi.

Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menyampaikan laporan terkait progres pemulihan jaringan dan berbagai dukungan Telkomsel pascabencana di wilayah Aceh. “Pemulihan jaringan Telkomsel di Aceh terus menunjukkan progres positif. Sebagian besar site telah kembali beroperasi, dan untuk site yang masih terdampak keterbatasan listrik, kami memastikan layanan tetap berjalan melalui dukungan genset agar masyarakat tetap dapat terhubung,” ujar Nugroho.

Hingga saat ini, 94% site Telkomsel di Aceh telah berhasil dipulihkan, sementara sekitar 5% site masih bergantung pada dukungan genset akibat keterbatasan sistem catu daya dan pasokan listrik di sejumlah lokasi terdampak.

Selain pemulihan jaringan, Telkomsel juga telah menyalurkan berbagai bantuan sosial bagi masyarakat terdampak bencana, meliputi bantuan logistik, perangkat komunikasi, pakaian layak pakai, program air bersih, penyediaan genset, serta bentuk dukungan lainnya sesuai kebutuhan di lapangan.

Telkomsel juga memastikan bahwa Hunian Sementara (Huntara) yang saat ini tengah dibangun di wilayah terdampak akan didukung dengan layanan konektivitas berupa akses internet WiFi gratis dari Telkomsel, guna membantu aktivitas dan komunikasi masyarakat selama masa transisi.

“Kami tidak hanya fokus pada pemulihan jaringan, tetapi juga pada keberlanjutan layanan dan dukungan bagi masyarakat. Telkomsel akan terus menghadirkan berbagai produk dan layanan, seperti paket komunikasi terjangkau, penyesuaian tagihan, serta dukungan lainnya hingga status kedaruratan bencana di Aceh resmi dicabut,” tambah Nugroho.

Melalui koordinasi intensif bersama pemerintah pusat, daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, Telkomsel menegaskan komitmennya untuk terus menjaga konektivitas, mendukung pemulihan yang berkelanjutan, serta memastikan masyarakat Aceh dapat kembali bangkit dengan dukungan layanan telekomunikasi yang andal.(rel)

Pembangunan 600 Hunian Danantara Terus Dikebut, Pemulihan Pascabencana Aceh Tamiang Masuki Fase Relokasi

BP BUMN sekaligus COO Danantaea Dony Oska (jaket cokelat) saat meninjau lokasi relokasi hunian di Aceh Tamiang.
BP BUMN sekaligus COO Danantaea Dony Oska (jaket cokelat) saat meninjau lokasi relokasi hunian di Aceh Tamiang.

Aceh Tamiang – Penanganan pascabencana banjir di Aceh terus bergerak ke fase lanjutan. Pembangunan hunian sementara (huntara) mulai direalisasikan sebagai langkah awal pemulihan bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana. Sebanyak 600 unit hunian telah dibangun pada tahap awal ini.

Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) yang juga menjabat Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria, mengatakan bahwa pembangunan huntara merupakan bentuk partisipasi aktif negara melalui BUMN dalam membantu masyarakat terdampak bencana.

“Pada prinsipnya kami ingin ikut berpartisipasi membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana. Kami berharap hunian yang dibangun dapat menjadi tempat tinggal yang aman dan layak bagi masyarakat, sekaligus mendukung proses pemulihan mereka,” ujar Dony di sela peninjauan lokasi, Selasa (30/12/2025).

Menurutnya, pembangunan huntara selain berorientasi pada kecepatan juga pada kualitas lingkungan hunian. Karena itu, kawasan yang dibangun dirancang agar memiliki fasilitas pendukung kehidupan sehari-hari, mulai dari fasilitas umum, tempat ibadah, hingga ruang bermain anak. Akses konektivitas juga menjadi perhatian agar warga tetap dapat beraktivitas dan berkomunikasi selama masa pemulihan.

Dony menambahkan, 600 unit hunian tersebut merupakan tahap awal dari program yang lebih besar, dengan target pembangunan hingga 15.000 unit di berbagai wilayah terdampak. Ke depan, pembangunan akan dilakukan secara bertahap di sejumlah lokasi lain, menyesuaikan kebutuhan dan kesiapan daerah.

“Kami akan menunggu arahan dari pemerintah daerah terkait lokasi-lokasi lain yang memang membutuhkan dan siap untuk dibangunkan,” katanya.

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, SE, menyampaikan bahwa dampak banjir yang terjadi beberapa waktu lalu dirasakan hampir di seluruh wilayah provinsi. Dari 18 kabupaten/kota terdampak, setidaknya tujuh daerah mengalami dampak paling parah, sehingga memerlukan penanganan cepat dan kolaboratif.

“Kami menyampaikan ribuan terimakasih. Progresnya sangat cepat. Kami melihat pekerjaan pembangunan nonstop 24 jam. Kami berharap pembangunan hunian sementara ini berjalan paralel dengan pemulihan yang sedang berjalan. Pemerintah daerah telah meminta agar lahan disiapkan, baik dari pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pihak lain yang memungkinkan, sehingga pembangunan bisa segera dilanjutkan,” ujar Fadhlullah.

Ia menekankan bahwa keberadaan huntara harus benar-benar memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Selain unit hunian, kawasan tersebut diharapkan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, sehingga warga dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih layak selama masa transisi.

“Harapannya masyarakat yang menempati hunian ini merasa betah, aman, dan nyaman, sambil menunggu proses pemulihan berikutnya,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang, Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, MH, mengungkapkan bahwa skala kerusakan akibat bencana di wilayahnya tergolong sangat besar. Berdasarkan pendataan sementara, lebih dari 14.000 rumah terdampak, dengan sekitar 8.000 unit mengalami kerusakan berat.

“Untuk rumah yang rusak parah jumlahnya lebih kurang 8.000 unit. Total rumah terdampak bisa lebih dari 14.000. Karena itu, untuk rumah-rumah yang rusak berat kemungkinan besar akan dilakukan relokasi,” ujar Armia.

Ia juga menekankan pentingnya kelengkapan data dan persyaratan administrasi agar proses pembangunan dan bantuan dapat berjalan berkelanjutan serta menjangkau lebih banyak warga terdampak.

Pembangunan huntara tahap awal ini dikerjakan secara kolaborasi oleh BUMN Karya, Himbara, PLN, Pertamina, Telkom dan didukung oleh kesiapan areal oleh PTPN Grup, percepatan penyediaan dan kesiapan areal oleh PTPN memungkinkan proses pengerjaan dilakukan lebih cepat.

Program pembangunan huntara ini merupakan bagian dari sinergi lintas pihak antara pemerintah pusat dan daerah, BUMN, serta berbagai institusi pendukung. Sejumlah entitas terlibat dalam penyediaan infrastruktur dasar, utilitas, dan layanan pendukung lainnya, sehingga kawasan hunian dapat segera difungsikan sebagai tempat tinggal sementara yang aman dan layak. (ila)

Rayakan Natal 2025, The Reiz Suites Hadirkan Santa Claus dan Merchandise Spesial untuk Tamu

MEDAN, SumutPos.co – Dalam semangat suka cita Natal, The Reiz Suites menghadirkan perayaan Natal yang hangat dan penuh kebahagiaan bagi para tamu yang menginap pada Hari Natal, 25 Desember 2025. Mengusung konsep Christmas Moments at The Reiz Suites, mereka membagikan merchandise spesial Natal berupa gantungan kunci eksklusif edisi Christmas kepada seluruh tamu beragama Nasrani yang check-in hari ini.

Tak hanya itu, suasana Natal semakin terasa dengan kehadiran Santa Claus di area lobby hotel yang secara khusus menyapa dan membagikan berbagai makanan ringan seperti bolu, lollipop, yupi, jelly, dan aneka snack favorit anak-anak. Momen ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi tamu keluarga yang menginap bersama buah hati mereka.

Sebagai bagian dari rangkaian perayaan, para tamu juga diberikan kesempatan untuk berfoto bersama Santa Claus, menciptakan pengalaman menginap yang berkesan dan penuh cerita di Hari Natal.

Anton Subiyakto, Cluster General Manager mengatakan, Natal adalah momen tentang
kebersamaan, kasih, dan sukacita. “Melalui perayaan sederhana namun hangat ini, kami ingin.setiap tamu merasakan atmosfer Natal yang penuh kegembiraan selama menginap di The Reiz Suites. Kehadiran Santa Claus dan merchandise spesial ini kami persembahkan sebagai bentuk apresiasi dan kenangan manis bagi para tamu,” ujarnya.

Perayaan Natal ini mendapat respons positif dari para tamu, khususnya keluarga dengan anak-anak, yang terlihat antusias mengikuti sesi foto dan menikmati kejutan dari Santa Claus. Dengan lokasi strategis dan konsep pelayanan yang mengutamakan personal touch, The Reiz Suites terus berkomitmen untuk menghadirkan momen-momen spesial di setiap perayaan, menjadikan hotel tidak hanya sebagai tempat menginap, tetapi juga sebagai ruang untuk menciptakan kenangan. (rel/adz)

Tifatul Sembiring: Sikap Tepo Seliro Harus Menjadi Kebiasaan Bangsa Indonesia

MEDAN, SumutPos.co- Anggota DPR/MPR RI Tifatul Sembiring berharap, sikap tepo seliro harus menjadi kebiasaan Bangsa Indonesia. Di mana tepo seliro adalah kearifan lokal dari suku Jawa yang secara sederhana bisa diartikan sebagai tenggang rasa, empati, dan toleransi.

“Kalau soal toleransi, perjalanan panjang bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa kita bisa menjalankan toleransi dengan baik. Memang ada gesekan di sana-sini, tapi Alhamdulillah kita bisa melalui itu semua dengan baik,” kata Tifatul Sembiring ketika menggelar sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Aula Masjid Rohmatul Hidayah, Jalan Panglima Denai Medan, Selasa (16/12) lalu.

Tifatul menjelaskan, sikap tepo seliro merupakan salah satu pengamalan dari semboyan negara Indonesia, Bhineka Tunggal Ika. Suku dan kebudayaan yang beragam serta agama yang juga banyak di Indonesia, tidak menjadikan bangsa ini terpecah belah. Tapi justru dengan adanya Bhineka Tunggal Ika, bangsa ini malah menjadi bangsa besar yang disegani dunia,” ujar Menteri Kominfo era SBY ini.

Sebelumnya, Tifatul menjabarkan poin-poin yang terkandung dalam 4 pilar MPR RI, yaitu Pancasila sebagai dasar Negara. Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi dan ketetapan MPR..Kemudian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara. Dan terakhir, Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Pada sosialisasi ini masyarakat mengaku gembira karena bisa menambah wawasan kebangsaan. Mereka berharap, sosialisasi seperti ini dapat dilaksanakan setiap bulan, agar rasa nasionalisme di tengah masyarakat dapat terus terjaga. (adz)