Pengaduan

DASA JIWA, Inovasi Pendampingan Psikososial Berbasis Dasawisma

Dampak bencana banjir tidak hanya berhenti ketika air surut. Bagi sebagian masyarakat, khususnya ibu dan keluarga, pengalaman menghadapi bencana dapat meninggalkan tekanan psikologis, kecemasan, rasa tidak aman hingga menurunkan kemampuan keluarga. Berangkat dari kondisi tersebut, tim dosen bersama mahasiswa melaksanakan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) melalui skema pemberdayaan berbasis masyarakat ruang lingkup pemberdayaan kemitraan masyarakat, bidang fokus kesehatan dengan pendanaan tahun 2026.

Program pemberdayaan kader dasawisma berkelanjutan melalui pendampingan psikososial untuk penguatan resiliensi dan kesejahteraan mental ibu pasca banjir di Kelurahan Beras Basah merupakan upaya Direktorat Penelitian dan PKM Ditjen Riset dan Pengembangan Kementerian Diktisaintek mendorong pengabdian yang memberi manfaat nyata dan berkelanjutan.

Program ini diketuai Siti Marlina (Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua) dengan anggota tim Monika Nina Kurniawaty Ginting (Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua) dan Lili Suryani Tumanggor (Institut Kesehatan Santa Elisabeth Medan) serta mahasiswa Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua yakni Andini Ikhsa Amalia Putri, Davi Sulia Pratama, Nazwa Ananda Armi dan Herdelonsha. Siti Marlina menjelaskan bahwa DASA JIWA dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan dukungan psikososial yang mudah diakses dan dapat dilakukan secara berkelanjutan di tingkat komunitas. DASA JIWA menggandeng Dasawisma Beras Basah sebagai mitra masyarakat. kader dasawisma diposisikan bukan hanya sebagai peserta kegiatan, tetapi sebagai agen perubahan dan penggerak dukungan psikososial berbasis komunitas.

Salah satu inovasi dalam program ini adalah MONOPSI BANGKIT atau Monopoli Psikososial Bangkit Pasca Bencana. Media tersebut dikembangkan dalam bentuk permainan monopoli edukatif yang dimainkan secara berkelompok. Peserta bergerak mengikuti angka dadu dan berhenti pada sejumlah kotak yang berisi pertanyaan reflektif, afirmasi positif maupun aktivitas diskusi singkat mengenai pengalaman menghadapi bencana, pengenalan dan pengelolaan emosi, dukungan sosial, kekuatan keluarga serta harapan untuk bangkit setelah bencana.

Program DASA JIWA juga mendorong terbentuknya kelompok dukungan ibu pascabanjir sebagai ruang aman bagi para ibu untuk berbagi pengalaman, mengungkapkan perasaan, memperoleh dukungan dari sesama anggota masyarakat serta membangun kembali rasa percaya diri dan optimisme setelah menghadapi bencana. Kader Dasawisma akan mendampingi kelompok tersebut dengan supervisi dari tim pengabdian.

Keberlanjutan menjadi salah satu perhatian utama dalam pelaksanaan DASA JIWA. Program tidak dirancang sebagai kegiatan penyuluhan satu kali, tetapi diarahkan agar kader mampu melanjutkan kegiatan secara mandiri melalui sistem train-the-trainer. Program juga menyiapkan panduan operasional, pembagian peran kader, lembar monitoring, pengelolaan media komunikasi digital serta integrasi kegiatan pendampingan ke dalam agenda rutin Dasawisma.

DASA JIWA diharapkan dapat membangun model pendampingan psikososial yang sederhana, mudah diterapkan, dekat dengan masyarakat dan berpotensi direplikasi di wilayah yang memiliki risiko bencana. Sebagai program pengabdian kepada masyarakat, DASA JIWA diarahkan untuk menghasilkan pemberdayaan yang berkelanjutan dan memberikan dampak langsung bagi mitra masyarakat.

DASA JIWA juga membawa pesan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan kekuatan bersama. Ketika kader diberdayakan dan masyarakat memiliki ruang untuk saling mendukung, proses untuk bangkit tidak lagi harus dijalani seorang diri. DASA JIWA tidak hanya menjadi bentuk respons terhadap dampak psikologis pascabanjir, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membangun ketahanan mental ibu, keluarga dan komunitas di Kelurahan Beras Basah.(dmp)

Dampak bencana banjir tidak hanya berhenti ketika air surut. Bagi sebagian masyarakat, khususnya ibu dan keluarga, pengalaman menghadapi bencana dapat meninggalkan tekanan psikologis, kecemasan, rasa tidak aman hingga menurunkan kemampuan keluarga. Berangkat dari kondisi tersebut, tim dosen bersama mahasiswa melaksanakan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) melalui skema pemberdayaan berbasis masyarakat ruang lingkup pemberdayaan kemitraan masyarakat, bidang fokus kesehatan dengan pendanaan tahun 2026.

Program pemberdayaan kader dasawisma berkelanjutan melalui pendampingan psikososial untuk penguatan resiliensi dan kesejahteraan mental ibu pasca banjir di Kelurahan Beras Basah merupakan upaya Direktorat Penelitian dan PKM Ditjen Riset dan Pengembangan Kementerian Diktisaintek mendorong pengabdian yang memberi manfaat nyata dan berkelanjutan.

Program ini diketuai Siti Marlina (Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua) dengan anggota tim Monika Nina Kurniawaty Ginting (Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua) dan Lili Suryani Tumanggor (Institut Kesehatan Santa Elisabeth Medan) serta mahasiswa Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua yakni Andini Ikhsa Amalia Putri, Davi Sulia Pratama, Nazwa Ananda Armi dan Herdelonsha. Siti Marlina menjelaskan bahwa DASA JIWA dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan dukungan psikososial yang mudah diakses dan dapat dilakukan secara berkelanjutan di tingkat komunitas. DASA JIWA menggandeng Dasawisma Beras Basah sebagai mitra masyarakat. kader dasawisma diposisikan bukan hanya sebagai peserta kegiatan, tetapi sebagai agen perubahan dan penggerak dukungan psikososial berbasis komunitas.

Salah satu inovasi dalam program ini adalah MONOPSI BANGKIT atau Monopoli Psikososial Bangkit Pasca Bencana. Media tersebut dikembangkan dalam bentuk permainan monopoli edukatif yang dimainkan secara berkelompok. Peserta bergerak mengikuti angka dadu dan berhenti pada sejumlah kotak yang berisi pertanyaan reflektif, afirmasi positif maupun aktivitas diskusi singkat mengenai pengalaman menghadapi bencana, pengenalan dan pengelolaan emosi, dukungan sosial, kekuatan keluarga serta harapan untuk bangkit setelah bencana.

Program DASA JIWA juga mendorong terbentuknya kelompok dukungan ibu pascabanjir sebagai ruang aman bagi para ibu untuk berbagi pengalaman, mengungkapkan perasaan, memperoleh dukungan dari sesama anggota masyarakat serta membangun kembali rasa percaya diri dan optimisme setelah menghadapi bencana. Kader Dasawisma akan mendampingi kelompok tersebut dengan supervisi dari tim pengabdian.

Keberlanjutan menjadi salah satu perhatian utama dalam pelaksanaan DASA JIWA. Program tidak dirancang sebagai kegiatan penyuluhan satu kali, tetapi diarahkan agar kader mampu melanjutkan kegiatan secara mandiri melalui sistem train-the-trainer. Program juga menyiapkan panduan operasional, pembagian peran kader, lembar monitoring, pengelolaan media komunikasi digital serta integrasi kegiatan pendampingan ke dalam agenda rutin Dasawisma.

DASA JIWA diharapkan dapat membangun model pendampingan psikososial yang sederhana, mudah diterapkan, dekat dengan masyarakat dan berpotensi direplikasi di wilayah yang memiliki risiko bencana. Sebagai program pengabdian kepada masyarakat, DASA JIWA diarahkan untuk menghasilkan pemberdayaan yang berkelanjutan dan memberikan dampak langsung bagi mitra masyarakat.

DASA JIWA juga membawa pesan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan kekuatan bersama. Ketika kader diberdayakan dan masyarakat memiliki ruang untuk saling mendukung, proses untuk bangkit tidak lagi harus dijalani seorang diri. DASA JIWA tidak hanya menjadi bentuk respons terhadap dampak psikologis pascabanjir, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membangun ketahanan mental ibu, keluarga dan komunitas di Kelurahan Beras Basah.(dmp)

Artikel Terkait

Pengaduan

Terpopuler

Artikel Terbaru