Lembaga Hubungan Kerjasama Internasional Pimpinan Pusat (LHKI PP) Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menggelar pelatihan diplomasi Islam berkemajuan pada 22-24 September di Auditorium Kampus UMSU Medan.
Pelatihan diisi dengan Dialog Pra-Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah bertajuk Diplomasi untuk Kemanusiaan dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI): Perspektif Pemerintah dan Parlemen.
Dialog menghadirkan narasumber kunci Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Syafiq Mughni, M.A dengan materi: Internasionalisasi Muhammadiyah dan Islam Berkemajuan. Dilaksanakan juga stadium general dipandu Dbs. Bunyan Saptomo yang menghadirkan tiga narasumber.
Pemateri stadium general yakni Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia Danang Waskito, Wakil Ketua Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Dr. Ahmad Doli Kurnia Tandjung dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) K.H. Muhammad Nuh, M.S.P.
Sementara pemateri dalam pelatihan antara lain Prof. Dr. Din Syamsuddin, Dr. Imam Addaruqutni, Prof. Dr. Muhammad Qorib, MA, Dbs. Bunyan Saptomo, Agung R. Hidayat, SH, MH, Dra. Yayah Khisbiyah M.A dan Subhan Setowara, M.A.
Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd menyampaikan bahwa UMSU membuka peluang memperluas peran dalam penyiapan PMI dengan pelatihan bagi calon pekerja sebelum diberangkatkan ke luar negeri.
Perguruan tinggi, menurut rektor, memiliki potensi besar untuk mengambil bagian dalam menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi, termasuk kemampuan bahasa dan keahlian sesuai kebutuhan negara tujuan. “Kita mungkin akan menyediakan tempat pelatihan pekerja di UMSU sebelum berangkat ke luar negeri. Nantinya kita bisa berkolaborasi dengan LHKI untuk memfasilitasi,” ujar Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd.
UMSU berharap dapat terlibat lebih jauh dalam penyaluran tenaga kerja Indonesia ke luar negeri melalui kerja sama dengan pemerintah dan LHKI PP Muhammadiyah.
“Kalau diperbolehkan, UMSU menjadi salah satu penyalur tenaga kerja Indonesia ke luar negeri,” harapnya.
Peluang tersebut cukup terbuka karena perusahaan dari Malaysia telah meminta tenaga kerja kepada UMSU. Kebutuhan tersebut antara lain berasal dari sektor makanan dan minuman serta bidang kesehatan.
Rektor menyampaikan bahwa UMSU baru saja mendampingi perusahaan asal Malaysia, Hasani Group, dalam proses perekrutan 17 pekerja dari Medan. “Perusahaan-perusahaan dari Malaysia pun senantiasa sudah meminta pekerja ke UMSU. Kita sudah mulai mencari tenaga kerja, khususnya yang saat ini paling banyak dibutuhkan di bidang F&B atau restoran, dan termasuk juga di bidang kesehatan,” katanya.
Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd menilai peluang penempatan PMI tidak hanya terbuka di Malaysia, tetapi juga negara-negara lain. UMSU akan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, termasuk program studi kedokteran, keperawatan, farmasi dan kebidanan.
Tantangan utama, lanjutnya, terutama terkait kemampuan komunikasi dan bahasa. Hal ini menjadi perhatian khusus apabila tenaga kerja akan ditempatkan di negara-negara Timur Tengah dan Eropa.
“Ini tugasnya UMSU untuk mempersiapkan tenaga kerja yang siap digunakan, yang siap pakai, khususnya dari sisi kebahasaan,” kata rektor.
UMSU telah memperkuat pusat bahasa yang dinilai siap memberikan pelatihan kepada calon pekerja migran. Pembekalan tersebut diharapkan membuat PMI tidak hanya memiliki keterampilan kerja, tetapi juga kemampuan berkomunikasi sesuai kebutuhan negara tujuan.
Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd juga menekankan bahwa penyiapan PMI tidak dapat dilepaskan dari aspek perlindungan. Ia menegaskan bahwa pemerintah, Muhammadiyah, perguruan tinggi dan komunitas perlu membangun kolaborasi agar pekerja Indonesia yang berangkat ke luar negeri memiliki bekal dan perlindungan yang lebih baik.
“Pemerintah punya kebijakan dan kewenangan, Muhammadiyah memiliki jaringan gerakan, perguruan tinggi punya sumber daya dan pengetahuan dan komunitas punya pengalaman. Disinilah perlunya kita berkolaborasi,” ujarnya.
UMSU sendiri selama tiga tahun terakhir telah menjalankan kegiatan pengabdian masyarakat di Malaysia. Termasuk membina anak-anak pekerja migran Indonesia melalui sekira 50 sanggar. Program tersebut dilakukan bersama Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia.
Rektor menuturkan, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan peran UMSU dalam isu pekerja migran, sekaligus mempererat jaringan Muhammadiyah di luar negeri.
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Syafiq Mughni, M.A menyampaikan materi berjudul: Internasionalisasi Muhammadiyah dan Islam Berkemajuan. Muhammadiyah telah berkembang menjadi organisasi internasional yang memiliki jaringan dan mitra di berbagai negara.
Prof. Dr. Syafiq Mughni, M.A menyebutkan bahwa saat ini terdapat Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) pada 30 negara yang menjadi bagian penting dalam memperluas gerakan Muhammadiyah di luar negeri.
Muhammadiyah juga memiliki sejumlah sister organization di berbagai negara. Organisasi-organisasi tersebut memiliki kesamaan visi dan gerakan dalam bidang dakwah, pendidikan maupun amal sosial yang berdiri sebagai badan hukum masing-masing negara. Pelatihan diplomasi yang digelar di UMSU menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat kapasitas kader Muhammadiyah dalam menjalankan amanah kemanusiaan dan membangun jejaring internasional.
Hadir dalam kegiatan ini Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedubes RI di Kuala Lumpur Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt, M.Sc, Ph.D., Ketua LHKI PP Muhammadiyah Dr. Imam Addaruqutni, MA, Sekretaris LHKI PP Muhammadiyah Dra. Yayah Khisbiyah, MA dan Bendahara LHKI PP Muhammadiyah Puti Hasanatu Syadiah, M.IKom.
Turut hadir Ketua BPH UMSU Prof.Dr. Agussani, MAP, Wakil Rektor UMSU Bidang Sumber Daya dan Keuangan Prof. Dr. Muhammad Qorib, MA, Wakil Rektor UMSU Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian dan Internasionalisasi, Dr.Rudianto, MSi serta pimpinan fakultas se UMSU.

