25.6 C
Medan
Thursday, June 13, 2024

Amin Modal Basis Massa yang Merata, Gibran Dinilnai Rangkul Pemilih Muda

Ganjar-Mahfud Sosok yang Komplet

SUMUTPOS.CO – Pasangan calon presiden dan wakil presiden (Capres–Cawapres) 2024 mempunyai sejumlah kelebihan yang akan menjadi modal dalam perkompetisi. Namun, mereka juga memiliki kelemahan yang bisa menjadi kendala dalam meraup suara. Para paslon berusaha memaksimalkan kekuatan dan berupaya menutupi kekurangan mereka.

Sosok paslon Ganjar Pranowo–Mahfud MD misalnya, mempunya banyak kelebihan. Jubir Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Sunanto mengatakan, keduanya merupakan pasangan yang komplet. Nasionalis-religius dan religius-nasionalis. Keduanya adalah tokoh yang berpengalaman. Mereka mempunyai segudang pengalaman, baik di eksekutif maupun legislatif. Bahkan, Mahfud juga berpengalaman di bidang yudikatif, karena pernah menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).

Cak Nanto, sapaan akrab, Sunanto mengatakan, Ganjar-Mahfud juga sosok yang bersih dan antikorupsi. “Keduanya mempunyai track record yang jelas. Sosok seperti ini yang dibutuhkan bangsa ke depan. Memimpin bangsa tidak boleh main-main, harus diserahkan ke sosok yang tepat,” paparnya.

Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu mengatakan, keduanya bisa melakukan gerak cepat untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Sebab, Ganjar-Mahfud merupakan tokoh yang berpengalaman dan sudah teruji. Pengalaman keduanya menjadi bekal dalam memimpin bangsa di masa mendatang.

Terkait sisi kelemahan, kata Cak Nanto, sulit mencari kelemahan keduanya. Lawan politik akan sulit untuk menyerang mereka berdua. Jadi, dari segi sosok, tidak ada yang bisa diserang. Misalnya, soal kasus, keluarga, semuanya akan terbantahkan sendiri. “Kecuali yang diserang adalah partai politik pengusung,” urainya.

Sedangkan terkait kelebihan dan kekurangan berdasarkan basis pemilih, Cak Nanto mengatakan, pasangan Ganjar-Mahfud mempunyai basis pemilih yang kuat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurutnya, di Jawa Tengah, mungkin akan terjadi pembelahan antara pemilih Ganjar dan Gibran. Namun, dari sisi partai, PDI Perjuangan akan tetap solid mendukung Ganjar.

Untuk di Jawa Timur, pemilih tradisional mungkin akan menjadi rebutan antara Ganjar – Mahfud dengan Anies -Muhaimin. Namun, kekuatan politik PDIP akan menjadi modal kuat untuk meraup suara di Jawa Timur. Bagaimana dengan Jawa Barat dan DKI Jakarta? Cak Nanto mengatakan, Ganjar-Mahfud memiliki modal politik dari PDIP dan PPP.

Begitu juga di DKI Jakarta. Walaupun menjadi basis pemilih Anies, tapi PDIP memiliki pendukung yang kuat. Tentu, itu menjadi modal besar untuk meraih suara. Sementara untuk pemilih di luar Jawa, lanjut Caleg DPR RI PDIP Itu, partai politik pendukung Ganjar-Mahfud akan berusaha keras menarik hati masyarakat. “Di Sumbar dan Aceh, secara modal politik lemah, tapi PPP yang memiliki basis pemilih Islam bisa menjadi kekuatan. Kami yakin Ganjar-Mahfud akan memenangkan pilpres,” tandasnya.

Dari Koalisi Indonesia Maju (KIM), Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Hasjim Djojohadikusumo menilai, pasangan Prabowo-Gibran memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pasangan lain. Keunggulan itu, dinilai Hasjim bisa dimanfaatkan mendulang suara.

Keunggulan yang dimaksud adalah kombinasi pasangan dari sosok senior dan muda. “Kombinasi yang top,” ujarnya kemarin. Gibran sebagai representasi anak muda, diyakini bisa menggaet pemilih muda. Dengan kombinasi bersama Prabowo, maka keduanya akan bisa menjangkau berbegai segmentasi pemilih.

Dari sisi kinerja, Hasjim meyakini kombinasi senior-muda bisa memberi warna yang dapat ditawarkan pada pemilih. “Generasi lebih berpengalaman, bekerja sama dengan generasi baru dengan inovasi dan pemikiran baru, saya kira ini luar biasa ini,” jelasnya.

Keputusan Prabowo memilih Gibran sendiri, banyak disebut bisa meninggalkan persoalan pada basis pemilih Nahdlatul Ulama dan Jawa Timur. Juru Bicara Prabowo Dahnil Anzar Simanjuntak mengakui, pilihan pada Gibran menimbulkan celah. Khsususnya dalam menggaet pemilih NU dan Jawa Timur.

Namun, Dahnil optimis, lobang itu bisa ditambal dengan cara lain. Yakni dengan memobilisasi tokoh atau tim yang bisa menggaet pemilih NU dan Jatim. Terlebih, di sumber daya koalisi ada banyak representasi NU. “Toh di kita itu teman-teman NU banyak sekali,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjut dia, suara dasar Prabowo di basis masa NU juga relatif sudah cukup baik. Dengan demikian, stabilitas bisa terjaga. Itu juga diklaim Dahnil terekam dalam berbagai lembaga survei. “Pemilih NU banyak memilih Prabowo dan Prabowo menang di Jatim berdasarkan survei,” imbuhnya.

Bagaimana dengan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Amin)? Jubir PKB Abdul Rochim yakin pasangan Amin akan keluar sebagai pemenang pilpres 2024 mendatang. Alasannya, tiga partai pengusung Amin masing-masing memiliki kekuatan basis massa yang tidak saling tumpang tindih. PKB, misalnya, memiliki basis pemilih yang kuat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung dan Kalimantan. Sementara PKS, memiliki basis massa yang kuat di Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

“Sedangkan kekuatan NasDem menyebar di sejumlah wilayah di luar Jawa, salah satunya Sulawesi,” kata Rochim. Dengan kekuatan tersebut, Rochim meyakini kekuatan tiga partai pengusung itu akan memaksimalkan perolehan suara Amin dalam pilpres 2024 mendatang. “Apalagi tiga partai itu punya basis massa dengan loyalitas tinggi dan militan,” terang politisi PKB tersebut.

Meski begitu, Rochim mengakui bahwa pasangan Amin juga punya kelemahan dari sisi basis pemilih. Terutama di beberapa daerah di luar Jawa. Salah satunya Bali. Namun, lanjut Rochim, kelemahan tersebut tidak menjadi soal bagi pasangan Amin. “Karena kita punya kekuatan besar di Jawa, dan kita tahu bahwa pemilih di Jawa adalah mayoritas,” terangnya

Sementara Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs Ahmad Khoirul Umam menuturkan, sebenarnya perlu dipahami bahwa ada rasa inferioritas yang dirasakan Prabowo Subianto sehingga membutuhkan sosok Gibran. Bisa jadi inferioritas itu akibat dua kali dikalahkan oleh Jokowi. “Karena itu memerlukan sosok simbol dari Jokowi,” jelasnya.

Perebutan suara pasca Gibran menjadi Cawapres tentunya akan terjadi di sejumlah provinsi di Jawa. Untuk Jawa Tengah, memang menjadi terbelah karena pertarungan Ganjar dan Gibran. “Pertarungan ini bisa jadi memperebutkan swing voter,” terangnya.

Pertarungan akan menjadi sangat panas karena ada potensi Presiden Jokowi akan mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk memenangkan Gibran di Jawa Tengah. Apalagi, ada indikasi penggunaan bansos mendekati pemilu. “Berbeda dengan di Jawa Barat,” paparnya.

Dia mengatakan, Prabowo Subianto dalam dua kali pilpres 2014 dan 2019 memang kuat di Jawa Barat dan Banten. Ganjar dan Mahfud tidak memiliki kesempatan di dua provinsi ini. “Tapi, Anies bisa jadi malah punya kans di Jabar dan Banten, karena ada PKS,” urainya.

Berbeda lagi dengan di Jawa Timur. Untuk Ganjar-Mahfud memang sangat potensial memenangi suara di Madura dan daerah tapal kuda. “Saya kira jarangan orang Madura memiliki kesempatan menjadi pemimpin akan bisa menyatukan mereka,” tuturnya.

Sedangkan Anies-Muhaimin memang memiliki potensi mendulang suara di Jatim. Walau masih ada potensi tidak tersambungnya para ulama Jatim dengan Anies yang selama ini dekat dengan Habib Rizieq Syihab. “Muhaimin sebagai representasi Jatim juga tidak kuat,” urainya.

Dia mengatakan, untuk Prabowo dan Gibran sama sekali tidak memiliki representasi dari Jatim. Bisa jadi mengharuskan pasangan ini untuk menunjuk Tim Pemenangan yang merepresentasikan Jatim.”Dengan itu, Jatim memang pertarungan suaranya lebih cair,” paparnya.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menyampaikan, masuknya Gibran dalam kontestasi pilpres tahun depan membuat persaingan semakin sengit. Namun demikian, hal itu tidak serta-merta langsung mereduksi suara PDIP yang mencalonkan Ganjar – Mahfud. “Tinggal waktu dan kerja politik yang bisa menjawab segala-galanya,” ungkap dia.

Adi menyebut, selama ini Jawa Tengah adalah ’Kandang Banteng’. Artinya di sana PDIP sangat besar. Bahkan, Solo yang menjadi daerah asal Gibran juga merupakan salah satu kekuatan PDIP. Karena itu, bukan tidak mungkin bergabungnya Gibran ke kubu Prabowo malah membuat mesin politik PDIP di Jawa Tengah, khususnya Solo, semakin solid. “Karena merasa tersakiti dan merasa dizalimi,” imbuhnya.

Dia menambahkan, sentimen negatif pasca putusan MK dibacakan bisa menjadi titik balik. Bukan tidak mungkin keunggulan Prabowo di Jawa Barat direbut calon lain. “Karena dua penantangnya, pastinya juga akan menjadikan Jawa Barat sebagai target suara,” imbuhnya. (lum/far/tyo/syn/idr/jpg)

SUMUTPOS.CO – Pasangan calon presiden dan wakil presiden (Capres–Cawapres) 2024 mempunyai sejumlah kelebihan yang akan menjadi modal dalam perkompetisi. Namun, mereka juga memiliki kelemahan yang bisa menjadi kendala dalam meraup suara. Para paslon berusaha memaksimalkan kekuatan dan berupaya menutupi kekurangan mereka.

Sosok paslon Ganjar Pranowo–Mahfud MD misalnya, mempunya banyak kelebihan. Jubir Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Sunanto mengatakan, keduanya merupakan pasangan yang komplet. Nasionalis-religius dan religius-nasionalis. Keduanya adalah tokoh yang berpengalaman. Mereka mempunyai segudang pengalaman, baik di eksekutif maupun legislatif. Bahkan, Mahfud juga berpengalaman di bidang yudikatif, karena pernah menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).

Cak Nanto, sapaan akrab, Sunanto mengatakan, Ganjar-Mahfud juga sosok yang bersih dan antikorupsi. “Keduanya mempunyai track record yang jelas. Sosok seperti ini yang dibutuhkan bangsa ke depan. Memimpin bangsa tidak boleh main-main, harus diserahkan ke sosok yang tepat,” paparnya.

Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu mengatakan, keduanya bisa melakukan gerak cepat untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Sebab, Ganjar-Mahfud merupakan tokoh yang berpengalaman dan sudah teruji. Pengalaman keduanya menjadi bekal dalam memimpin bangsa di masa mendatang.

Terkait sisi kelemahan, kata Cak Nanto, sulit mencari kelemahan keduanya. Lawan politik akan sulit untuk menyerang mereka berdua. Jadi, dari segi sosok, tidak ada yang bisa diserang. Misalnya, soal kasus, keluarga, semuanya akan terbantahkan sendiri. “Kecuali yang diserang adalah partai politik pengusung,” urainya.

Sedangkan terkait kelebihan dan kekurangan berdasarkan basis pemilih, Cak Nanto mengatakan, pasangan Ganjar-Mahfud mempunyai basis pemilih yang kuat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurutnya, di Jawa Tengah, mungkin akan terjadi pembelahan antara pemilih Ganjar dan Gibran. Namun, dari sisi partai, PDI Perjuangan akan tetap solid mendukung Ganjar.

Untuk di Jawa Timur, pemilih tradisional mungkin akan menjadi rebutan antara Ganjar – Mahfud dengan Anies -Muhaimin. Namun, kekuatan politik PDIP akan menjadi modal kuat untuk meraup suara di Jawa Timur. Bagaimana dengan Jawa Barat dan DKI Jakarta? Cak Nanto mengatakan, Ganjar-Mahfud memiliki modal politik dari PDIP dan PPP.

Begitu juga di DKI Jakarta. Walaupun menjadi basis pemilih Anies, tapi PDIP memiliki pendukung yang kuat. Tentu, itu menjadi modal besar untuk meraih suara. Sementara untuk pemilih di luar Jawa, lanjut Caleg DPR RI PDIP Itu, partai politik pendukung Ganjar-Mahfud akan berusaha keras menarik hati masyarakat. “Di Sumbar dan Aceh, secara modal politik lemah, tapi PPP yang memiliki basis pemilih Islam bisa menjadi kekuatan. Kami yakin Ganjar-Mahfud akan memenangkan pilpres,” tandasnya.

Dari Koalisi Indonesia Maju (KIM), Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Hasjim Djojohadikusumo menilai, pasangan Prabowo-Gibran memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pasangan lain. Keunggulan itu, dinilai Hasjim bisa dimanfaatkan mendulang suara.

Keunggulan yang dimaksud adalah kombinasi pasangan dari sosok senior dan muda. “Kombinasi yang top,” ujarnya kemarin. Gibran sebagai representasi anak muda, diyakini bisa menggaet pemilih muda. Dengan kombinasi bersama Prabowo, maka keduanya akan bisa menjangkau berbegai segmentasi pemilih.

Dari sisi kinerja, Hasjim meyakini kombinasi senior-muda bisa memberi warna yang dapat ditawarkan pada pemilih. “Generasi lebih berpengalaman, bekerja sama dengan generasi baru dengan inovasi dan pemikiran baru, saya kira ini luar biasa ini,” jelasnya.

Keputusan Prabowo memilih Gibran sendiri, banyak disebut bisa meninggalkan persoalan pada basis pemilih Nahdlatul Ulama dan Jawa Timur. Juru Bicara Prabowo Dahnil Anzar Simanjuntak mengakui, pilihan pada Gibran menimbulkan celah. Khsususnya dalam menggaet pemilih NU dan Jawa Timur.

Namun, Dahnil optimis, lobang itu bisa ditambal dengan cara lain. Yakni dengan memobilisasi tokoh atau tim yang bisa menggaet pemilih NU dan Jatim. Terlebih, di sumber daya koalisi ada banyak representasi NU. “Toh di kita itu teman-teman NU banyak sekali,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjut dia, suara dasar Prabowo di basis masa NU juga relatif sudah cukup baik. Dengan demikian, stabilitas bisa terjaga. Itu juga diklaim Dahnil terekam dalam berbagai lembaga survei. “Pemilih NU banyak memilih Prabowo dan Prabowo menang di Jatim berdasarkan survei,” imbuhnya.

Bagaimana dengan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Amin)? Jubir PKB Abdul Rochim yakin pasangan Amin akan keluar sebagai pemenang pilpres 2024 mendatang. Alasannya, tiga partai pengusung Amin masing-masing memiliki kekuatan basis massa yang tidak saling tumpang tindih. PKB, misalnya, memiliki basis pemilih yang kuat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung dan Kalimantan. Sementara PKS, memiliki basis massa yang kuat di Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

“Sedangkan kekuatan NasDem menyebar di sejumlah wilayah di luar Jawa, salah satunya Sulawesi,” kata Rochim. Dengan kekuatan tersebut, Rochim meyakini kekuatan tiga partai pengusung itu akan memaksimalkan perolehan suara Amin dalam pilpres 2024 mendatang. “Apalagi tiga partai itu punya basis massa dengan loyalitas tinggi dan militan,” terang politisi PKB tersebut.

Meski begitu, Rochim mengakui bahwa pasangan Amin juga punya kelemahan dari sisi basis pemilih. Terutama di beberapa daerah di luar Jawa. Salah satunya Bali. Namun, lanjut Rochim, kelemahan tersebut tidak menjadi soal bagi pasangan Amin. “Karena kita punya kekuatan besar di Jawa, dan kita tahu bahwa pemilih di Jawa adalah mayoritas,” terangnya

Sementara Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs Ahmad Khoirul Umam menuturkan, sebenarnya perlu dipahami bahwa ada rasa inferioritas yang dirasakan Prabowo Subianto sehingga membutuhkan sosok Gibran. Bisa jadi inferioritas itu akibat dua kali dikalahkan oleh Jokowi. “Karena itu memerlukan sosok simbol dari Jokowi,” jelasnya.

Perebutan suara pasca Gibran menjadi Cawapres tentunya akan terjadi di sejumlah provinsi di Jawa. Untuk Jawa Tengah, memang menjadi terbelah karena pertarungan Ganjar dan Gibran. “Pertarungan ini bisa jadi memperebutkan swing voter,” terangnya.

Pertarungan akan menjadi sangat panas karena ada potensi Presiden Jokowi akan mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk memenangkan Gibran di Jawa Tengah. Apalagi, ada indikasi penggunaan bansos mendekati pemilu. “Berbeda dengan di Jawa Barat,” paparnya.

Dia mengatakan, Prabowo Subianto dalam dua kali pilpres 2014 dan 2019 memang kuat di Jawa Barat dan Banten. Ganjar dan Mahfud tidak memiliki kesempatan di dua provinsi ini. “Tapi, Anies bisa jadi malah punya kans di Jabar dan Banten, karena ada PKS,” urainya.

Berbeda lagi dengan di Jawa Timur. Untuk Ganjar-Mahfud memang sangat potensial memenangi suara di Madura dan daerah tapal kuda. “Saya kira jarangan orang Madura memiliki kesempatan menjadi pemimpin akan bisa menyatukan mereka,” tuturnya.

Sedangkan Anies-Muhaimin memang memiliki potensi mendulang suara di Jatim. Walau masih ada potensi tidak tersambungnya para ulama Jatim dengan Anies yang selama ini dekat dengan Habib Rizieq Syihab. “Muhaimin sebagai representasi Jatim juga tidak kuat,” urainya.

Dia mengatakan, untuk Prabowo dan Gibran sama sekali tidak memiliki representasi dari Jatim. Bisa jadi mengharuskan pasangan ini untuk menunjuk Tim Pemenangan yang merepresentasikan Jatim.”Dengan itu, Jatim memang pertarungan suaranya lebih cair,” paparnya.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menyampaikan, masuknya Gibran dalam kontestasi pilpres tahun depan membuat persaingan semakin sengit. Namun demikian, hal itu tidak serta-merta langsung mereduksi suara PDIP yang mencalonkan Ganjar – Mahfud. “Tinggal waktu dan kerja politik yang bisa menjawab segala-galanya,” ungkap dia.

Adi menyebut, selama ini Jawa Tengah adalah ’Kandang Banteng’. Artinya di sana PDIP sangat besar. Bahkan, Solo yang menjadi daerah asal Gibran juga merupakan salah satu kekuatan PDIP. Karena itu, bukan tidak mungkin bergabungnya Gibran ke kubu Prabowo malah membuat mesin politik PDIP di Jawa Tengah, khususnya Solo, semakin solid. “Karena merasa tersakiti dan merasa dizalimi,” imbuhnya.

Dia menambahkan, sentimen negatif pasca putusan MK dibacakan bisa menjadi titik balik. Bukan tidak mungkin keunggulan Prabowo di Jawa Barat direbut calon lain. “Karena dua penantangnya, pastinya juga akan menjadikan Jawa Barat sebagai target suara,” imbuhnya. (lum/far/tyo/syn/idr/jpg)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/