30 C
Medan
Friday, April 17, 2026

Fasilitas RS Bachtiar Djafar Memprihatinkan, Minim Dokter Spesialis

Kondisi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bachtiar Djafar kembali menjadi sorotan tajam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan. Dalam rapat evaluasi triwulan I yang digelar di gedung DPRD Medan, Selasa (24/4/2026), sejumlah anggota dewan mempertanyakan kinerja manajemen rumah sakit yang dinilai belum mampu memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat.

Sorotan keras disampaikan anggota Komisi II DPRD Medan, Ade Taufiq, yang mengaku prihatin setelah mendengar langsung paparan dari Direktur Utama RSUD Bachtiar Djafar Muklis.

Ia menyebut kondisi rumah sakit milik Pemerintah Kota Medan tersebut sangat memprihatinkan, terutama karena tidak adanya dokter spesialis serta minimnya sarana dan prasarana pendukung. “Ini bagaimana sebenarnya RS Bachtiar Djafar. Hingga saat ini belum mampu memberikan pelayanan optimal, khususnya bagi masyarakat Medan Utara,” tegasnya.

Menurut dr Ade, kinerja manajemen rumah sakit jauh dari harapan. Lemahnya sumber daya manusia di bidang kesehatan serta terbatasnya alat medis yang menjadi faktor utama rendahnya kualitas pelayanan.

Dalam forum tersebut, dr Ade juga secara langsung mempertanyakan kemampuan Dirut dalam mengelola rumah sakit. :Kepemimpinan yang kuat dan inovatif sangat dibutuhkan untuk membenahi kondisi yang ada. “Di sini kemampuan pimpinan diuji. Harus ada inovasi dalam pengelolaan manajemen yang profesional,” ujarnya.

Ia menambahkan, langkah awal yang harus dilakukan manajemen adalah memetakan secara jelas kekuatan dan kelemahan rumah sakit. Dengan begitu, solusi yang diambil bisa tepat sasaran. “Dirut harus tahu apa yang menjadi masalah utama. Saya dengar tenaga medis minim, kamar operasi tidak berfungsi, bahkan listrik sering padam. Ini persoalan serius,” tegasnya.

Kritikan serupa juga datang dari anggota dewan lainnya yang menilai manajemen RS kurang menunjukkan semangat dalam melakukan pembenahan. Bahkan dalam rapat, sempat muncul teguran agar pihak direksi lebih serius dan berkomitmen dalam meningkatkan kualitas layanan. “Semangat, Pak. Mari kita benahi bersama agar rumah sakit ini bisa bersaing dengan RS swasta di Medan Utara,” ujar salah satu anggota dewan.

Menanggapi berbagai kritik tersebut, Dirut RSUD Bachtiar Djafar, Muklis, mengakui bahwa kondisi rumah sakit saat ini masih jauh dari ideal. Tingkat hunian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) masih rendah, hanya sekitar 40 persen dari total 100 tempat tidur yang tersedia.

Selain itu, klaim layanan melalui BPJS Kesehatan juga tergolong kecil, yakni sekitar Rp5 miliar sepanjang tahun lalu. Hal ini menunjukkan rendahnya tingkat pemanfaatan layanan rumah sakit oleh masyarakat.

Meski demikian, Muklis menyatakan pihaknya akan terus berupaya melakukan pembenahan secara maksimal. Ia juga berharap dukungan dan masukan dari DPRD Medan untuk memperbaiki kondisi rumah sakit ke depan.

Rapat evaluasi tersebut dipimpin Ketua Komisi II DPRD Medan, Kasman Bin Marasakti, didampingi Wakil Ketua Modesta Marpaung, serta anggota lainnya seperti Henry Jhon Hutagalung dan Binsar Simarmata. Turut hadir dalam rapat tersebut perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemko Medan, termasuk Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Medan, Henny Lubis. (map/ila)

Kondisi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bachtiar Djafar kembali menjadi sorotan tajam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan. Dalam rapat evaluasi triwulan I yang digelar di gedung DPRD Medan, Selasa (24/4/2026), sejumlah anggota dewan mempertanyakan kinerja manajemen rumah sakit yang dinilai belum mampu memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat.

Sorotan keras disampaikan anggota Komisi II DPRD Medan, Ade Taufiq, yang mengaku prihatin setelah mendengar langsung paparan dari Direktur Utama RSUD Bachtiar Djafar Muklis.

Ia menyebut kondisi rumah sakit milik Pemerintah Kota Medan tersebut sangat memprihatinkan, terutama karena tidak adanya dokter spesialis serta minimnya sarana dan prasarana pendukung. “Ini bagaimana sebenarnya RS Bachtiar Djafar. Hingga saat ini belum mampu memberikan pelayanan optimal, khususnya bagi masyarakat Medan Utara,” tegasnya.

Menurut dr Ade, kinerja manajemen rumah sakit jauh dari harapan. Lemahnya sumber daya manusia di bidang kesehatan serta terbatasnya alat medis yang menjadi faktor utama rendahnya kualitas pelayanan.

Dalam forum tersebut, dr Ade juga secara langsung mempertanyakan kemampuan Dirut dalam mengelola rumah sakit. :Kepemimpinan yang kuat dan inovatif sangat dibutuhkan untuk membenahi kondisi yang ada. “Di sini kemampuan pimpinan diuji. Harus ada inovasi dalam pengelolaan manajemen yang profesional,” ujarnya.

Ia menambahkan, langkah awal yang harus dilakukan manajemen adalah memetakan secara jelas kekuatan dan kelemahan rumah sakit. Dengan begitu, solusi yang diambil bisa tepat sasaran. “Dirut harus tahu apa yang menjadi masalah utama. Saya dengar tenaga medis minim, kamar operasi tidak berfungsi, bahkan listrik sering padam. Ini persoalan serius,” tegasnya.

Kritikan serupa juga datang dari anggota dewan lainnya yang menilai manajemen RS kurang menunjukkan semangat dalam melakukan pembenahan. Bahkan dalam rapat, sempat muncul teguran agar pihak direksi lebih serius dan berkomitmen dalam meningkatkan kualitas layanan. “Semangat, Pak. Mari kita benahi bersama agar rumah sakit ini bisa bersaing dengan RS swasta di Medan Utara,” ujar salah satu anggota dewan.

Menanggapi berbagai kritik tersebut, Dirut RSUD Bachtiar Djafar, Muklis, mengakui bahwa kondisi rumah sakit saat ini masih jauh dari ideal. Tingkat hunian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) masih rendah, hanya sekitar 40 persen dari total 100 tempat tidur yang tersedia.

Selain itu, klaim layanan melalui BPJS Kesehatan juga tergolong kecil, yakni sekitar Rp5 miliar sepanjang tahun lalu. Hal ini menunjukkan rendahnya tingkat pemanfaatan layanan rumah sakit oleh masyarakat.

Meski demikian, Muklis menyatakan pihaknya akan terus berupaya melakukan pembenahan secara maksimal. Ia juga berharap dukungan dan masukan dari DPRD Medan untuk memperbaiki kondisi rumah sakit ke depan.

Rapat evaluasi tersebut dipimpin Ketua Komisi II DPRD Medan, Kasman Bin Marasakti, didampingi Wakil Ketua Modesta Marpaung, serta anggota lainnya seperti Henry Jhon Hutagalung dan Binsar Simarmata. Turut hadir dalam rapat tersebut perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemko Medan, termasuk Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Medan, Henny Lubis. (map/ila)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru