Pemkab Dorong Ketahanan Hadapi Cuaca Ekstrem, 199 Petani Kopi Dairi Kini Terlindungi Asuransi Iklim

DAIRI – Upaya melindungi petani kopi dari ancaman perubahan iklim terus diperkuat di Kabupaten Dairi. Sebanyak 199 petani kopi kini mendapatkan perlindungan melalui program asuransi parametrik indeks cuaca yang dirancang untuk mengantisipasi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem.

Program tersebut diluncurkan Pemerintah Kabupaten Dairi bersama Mercy Corps Indonesia melalui inisiatif Resilience Oriented Solutions for Thriving Smallholders (ROOTS). Selain memperoleh perlindungan asuransi, para petani juga menerima buku tabungan sebagai bagian dari peningkatan akses layanan keuangan dan literasi keuangan di pedesaan.

Peluncuran program dilakukan oleh Bupati Dairi, Vickner Sinaga, di Hotel Beristera Sitinjo. Dalam kesempatan itu, Vickner menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Dairi yang memiliki 15 kecamatan serta 169 desa dan kelurahan dengan jumlah penduduk sekitar 329 ribu jiwa.

Menurutnya, program ROOTS merupakan langkah strategis untuk memperkuat daya tahan petani kopi menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin tidak menentu.

“Melalui produk asuransi ini, diharapkan petani kopi dapat beralih dari pola manajemen krisis yang bersifat reaktif menjadi pembangunan ketahanan yang lebih proaktif, sehingga mata pencaharian mereka dan masa depan pertanian kopi berkelanjutan di Dairi dapat lebih terjamin,” ujar Vickner.

Program ROOTS sendiri menargetkan 1.000 petani kopi yang tersebar di enam desa pada Kecamatan Sumbul dan Parbuluan. Menariknya, program ini juga mendorong keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian dengan komposisi peserta 60 persen petani perempuan dan 40 persen petani laki-laki.

Untuk Kecamatan Sumbul, desa penerima manfaat meliputi Desa Pegagan Julu VI, Pegagan Julu VII, Pegagan Julu VIII, serta Desa Perjuangan. Sedangkan di Kecamatan Parbuluan, program menyasar Desa Parbuluan III dan Desa Parbuluan IV.

Selain memberikan perlindungan asuransi, program ini juga menghadirkan berbagai pelatihan yang bertujuan meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola keuangan dan memahami produk-produk layanan keuangan modern.

Program ROOTS berkolaborasi dengan Bank Sumut dan Zurich Syariah Indonesia dalam memberikan edukasi literasi keuangan, pengenalan asuransi parametrik indeks cuaca, hingga membuka akses yang lebih luas terhadap layanan keuangan formal bagi petani kopi.

Asuransi parametrik indeks cuaca sendiri merupakan model perlindungan yang relatif baru di sektor pertanian. Berbeda dengan asuransi konvensional yang membutuhkan survei lapangan untuk menentukan nilai kerugian, skema ini menggunakan data cuaca sebagai dasar pencairan klaim.

Apabila parameter cuaca tertentu, seperti curah hujan atau kondisi iklim lainnya, mencapai batas yang telah ditetapkan dalam polis, maka klaim dapat diproses secara otomatis. Mekanisme tersebut dinilai lebih cepat, transparan, dan efisien sehingga petani dapat segera memperoleh bantuan saat menghadapi dampak cuaca ekstrem.

Bupati Vickner berharap seluruh pemangku kepentingan di tingkat kecamatan dan desa dapat turut mengawal keberlanjutan program tersebut agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.

Ia juga meminta para camat dan kepala desa untuk aktif memberikan pendampingan serta mendorong petani mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang dijalankan Mercy Corps Indonesia.

Dengan hadirnya perlindungan asuransi berbasis iklim ini, Kabupaten Dairi menjadi salah satu daerah yang mulai mengadopsi pendekatan inovatif dalam menjaga keberlangsungan usaha tani kopi, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi petani di tengah tantangan perubahan iklim global yang semakin nyata. (rud/ila)

DAIRI – Upaya melindungi petani kopi dari ancaman perubahan iklim terus diperkuat di Kabupaten Dairi. Sebanyak 199 petani kopi kini mendapatkan perlindungan melalui program asuransi parametrik indeks cuaca yang dirancang untuk mengantisipasi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem.

Program tersebut diluncurkan Pemerintah Kabupaten Dairi bersama Mercy Corps Indonesia melalui inisiatif Resilience Oriented Solutions for Thriving Smallholders (ROOTS). Selain memperoleh perlindungan asuransi, para petani juga menerima buku tabungan sebagai bagian dari peningkatan akses layanan keuangan dan literasi keuangan di pedesaan.

Peluncuran program dilakukan oleh Bupati Dairi, Vickner Sinaga, di Hotel Beristera Sitinjo. Dalam kesempatan itu, Vickner menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Dairi yang memiliki 15 kecamatan serta 169 desa dan kelurahan dengan jumlah penduduk sekitar 329 ribu jiwa.

Menurutnya, program ROOTS merupakan langkah strategis untuk memperkuat daya tahan petani kopi menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin tidak menentu.

“Melalui produk asuransi ini, diharapkan petani kopi dapat beralih dari pola manajemen krisis yang bersifat reaktif menjadi pembangunan ketahanan yang lebih proaktif, sehingga mata pencaharian mereka dan masa depan pertanian kopi berkelanjutan di Dairi dapat lebih terjamin,” ujar Vickner.

Program ROOTS sendiri menargetkan 1.000 petani kopi yang tersebar di enam desa pada Kecamatan Sumbul dan Parbuluan. Menariknya, program ini juga mendorong keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian dengan komposisi peserta 60 persen petani perempuan dan 40 persen petani laki-laki.

Untuk Kecamatan Sumbul, desa penerima manfaat meliputi Desa Pegagan Julu VI, Pegagan Julu VII, Pegagan Julu VIII, serta Desa Perjuangan. Sedangkan di Kecamatan Parbuluan, program menyasar Desa Parbuluan III dan Desa Parbuluan IV.

Selain memberikan perlindungan asuransi, program ini juga menghadirkan berbagai pelatihan yang bertujuan meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola keuangan dan memahami produk-produk layanan keuangan modern.

Program ROOTS berkolaborasi dengan Bank Sumut dan Zurich Syariah Indonesia dalam memberikan edukasi literasi keuangan, pengenalan asuransi parametrik indeks cuaca, hingga membuka akses yang lebih luas terhadap layanan keuangan formal bagi petani kopi.

Asuransi parametrik indeks cuaca sendiri merupakan model perlindungan yang relatif baru di sektor pertanian. Berbeda dengan asuransi konvensional yang membutuhkan survei lapangan untuk menentukan nilai kerugian, skema ini menggunakan data cuaca sebagai dasar pencairan klaim.

Apabila parameter cuaca tertentu, seperti curah hujan atau kondisi iklim lainnya, mencapai batas yang telah ditetapkan dalam polis, maka klaim dapat diproses secara otomatis. Mekanisme tersebut dinilai lebih cepat, transparan, dan efisien sehingga petani dapat segera memperoleh bantuan saat menghadapi dampak cuaca ekstrem.

Bupati Vickner berharap seluruh pemangku kepentingan di tingkat kecamatan dan desa dapat turut mengawal keberlanjutan program tersebut agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.

Ia juga meminta para camat dan kepala desa untuk aktif memberikan pendampingan serta mendorong petani mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang dijalankan Mercy Corps Indonesia.

Dengan hadirnya perlindungan asuransi berbasis iklim ini, Kabupaten Dairi menjadi salah satu daerah yang mulai mengadopsi pendekatan inovatif dalam menjaga keberlangsungan usaha tani kopi, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi petani di tengah tantangan perubahan iklim global yang semakin nyata. (rud/ila)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru