25.6 C
Medan
Sunday, June 16, 2024

Bentrok di Lapas, Murni Gerakan Napi

Peristiwa pembakaran Lapas Klas I Tanjung Gusta Medan yang dilakukan narapidana pada Kamis (11/7) petang hingga Jumat (12/7) dini hari dan kaburnya ratusan warga binaan, tentu tak hilang dari ingatan. Insiden itu, menyisakan banyak kerusakan dan jatuhnya korban tewas. Permasalahan di Lapas Klas I Tanjung Gusta Medan layaknya bom waktu yang siap meledak. Benarkah kejadian yang menyentakkan itu dipicu dari matinya listrik dan air hingga penerapan PP 99/2012? Berikut petikan wawancara wartawan Sumut Pos Farida Noris Ritonga dengan Kalapas Klas I Tanjung Gusta Medan, Muji Raharjo.

Ilustrasi//Agung Utomo/Sumut Pos
Ilustrasi//Agung Utomo/Sumut Pos

Bagaimana awal mulanya kejadian itu?

Penyebab kejadiannya Kamis (11/7) subuh, itu sekira pukul 05.00, lampu mati dari PLN. Sehingga mnyebabkan areal Tanjung Gusta mati. Kami masuk kantor, saya panggil petugas untuk menelpon PLN agar segera membetuli listrik. Suplai air kami dibantu penggunaannya oleh listrik untuk menaikkan pompa ke lantai 3. Kami sudah minta tolong supaya listrik ini diperbaiki. Kami juga minta tolong pada PDAM untuk membantu air. Tapi ternyata itu kejadiannya sampai malam, satu harian. Harapan kami malam hari genset itu bisa dipakai sampai pagi. Kemudian, sekitar pukul 16.00 WIB sore, ada laporan dari warga binaan. Mereka menghadap KPLP melapor masalah air. Itu juga sudah diantisipasi, lalu masuk air dari PDAM. Tapi masalahnya penghuni kami kan banyak, ada 2600 orang. Tentu saja tidak mencukupi. Saat itu masuk dua tangki air. Katakan idealnya satu orang sudah 10 liter aja. Makanya tidak cukup.

Narapidana sempat berdemo, apakah, Anda tidak memperhatikan dalam aksi itu ada gejala yang mengarah anarkis?

Saat sore ada perwakilan narapidana menghadap ke KPLP. Memang sekira pukul 17.00 WIB sore kondisinya sudah mulai agak ribut. Kalapas langsung masuk ke Lapas. Karna anak-anak (narapidana) sudah ribut, saya masuk langsung ke blok menenangkan mereka. Kami menenangkan anak-anak di dalam. Memang sempat tenanglah setengah jam.

Apakah aksi ribuan narapidana tersulut karena provokator?

Memang saat itu situasinya mulai memanas. Ada suara di Masjid yang tidak enak didengar. Semacam provokator lah. Ada dibunyikan pengeras suara supaya narapidana masuk. Air sudah hidup, air sudah nyala. Saya belum tau itu suara siapa. Yang jelas saat saya datang, saya tenangkan mereka. Mereka bilang hidup Kalapas, hidup Kalapas. Saya tau, pasti ada nanti suatu masalah. Saya langsung menghubungi polsek-polsek. Saya gunakan hape pribadi, menelpon supaya mereka datang. Tapi itu belum ada kerusuhan, memang sudah filing kami, tapi selang beberapa lama, baru terjadi kerusuhan.

Saat kejadian, berapa orang petugas di dalam Lapas?

Saat kejadian jumlah petugas ada 18 orang. Jumlah keseluruhan petugas ada 160 orang. Jadi tiap hari nya mereka dibagi per shif 18 orang. Memang jumlah itu tidak mencukupi untuk menghadapi 2.600 narapidana di dalam. Apalagi ada sekira 52 titik yang harus di amankan. Seharusnya kami membutuhkan sedikitnya 60 petugas setiap hari.

Info yang diperoleh, narapidana teroris Fadli Sadama membawa senjata dari dalam gudang senjata Lapas, apa benar?

Oh itu tidak ada. Percaya dengan kami, senjata tidak ada hilang. Saat kejadian, Kalapas dan para Kabid langsung di lapangan. Dorong-dorongan dengan ribuan narapidana. Kami dorong-dorongan sampai dipintu luar dengan ribuan narapidana. Bahkan sebagian saya halau supaya masuk lagi ke dalam. Ada yang sudah keluar, balik lagi masuk ke dalam. Malah kita ada tembakan peringatan. Tapi tidak digubris. Pintu satu jebol, pintu dua jebol, pintu tiga jebol. Mereka kita dorong masuk,. Memang ada sebagian anak-anak balik lagi. Mereka masuk karena melihat saya. Ada Kalapas, ada Kalapas, begitu mereka bilang.

Apa saja fasilitas yang mengalami kerusakan?

Kerusakan skalanya 50 persen, kalau kantor 90 persen. Sudah bisa dikatakan lumpuh untuk pelayanan warga binaan. Fasilitas yang rusak diantaranya ruang klinik, dapur, ruang Kalapas, Kabid Kamtin (Keamanan dan Ketertiban), ruang KPLP, registrasi, kantin, koperasi, ruang berkas dokumen tahanan dan lainnya. Bahkan ruang keuangan dimana uang rapel gaji dan makan untuk 176 pegawai yang belum dibayarkan juga turut terbakar. Memang rumah ibadah, dapur tidak ada yang rusak. Blok juga tidak ada rusak. Petugas masih memperbaiki fasilitas di dalam. Kami konsentrasinya perbaikan gedung dulu. Mengenai data ribuan narapidana, petugas dan keuangan, kami akui satupun data tidak ada yang tersisa. Karena komputer serta berkas-berkas kami sudah ludes terbakar. Tapi kami ada data di Jakarta. Itu namanya sistem data base permasyarakatan. Kami sudah hubungi di Jakarta. Jadi sudah tau identitas narapidana yang kabur.

Berapa jumlah kerugian akibat peristiwa ini?

Itu kita taksir sekira Rp9 miliar. Jumlahnya bisa saja bertambah. Itu hitungan kasar kami. Pastinya akan kami koordinasikan lagi. Masalah perbaikan kami serahkan pada pimpinan. Langkah-langkah kita, saat ini fokus pada perbaikan dan pembersihan dulu. Itu melibatkan TNI, warga binaan, dan pegawai Rubasan, Lapas, Rutan. Saya tidak tau berapa lama, secepat mungkin akan diperbaiki.

Kejadian ini juga dipicu dari matinya listrik dan air. Sejak kapan air dan listrik menjadi permasalahan di Lapas?

Saya disini baru dua bulan. Sebelumnya air dan listrik memang sudah sering mati. Hampir tiap hari terjadi. Tapi itu kami antisipasti dengan penggunaan genset. Begitupun kami harus atur penggunaan genset. Tidak mungkin kami pakai 24 jam. Jadi harus diatur supaya tidak meledak genset kami. Kapan digunakan lalu istirahat.

Ada pengakuan narapidana, aksi mereka juga ditenggarai PP 99/2012 yang dimanfaatkan pegawai Lapas untuk pungli (pungutan liar). Apakah benar demikian?

Kalau untuk pungli, kami memng sudah peringatkan. Anggota harus bebas dari korupsi. Apalagi untuk pengurusan remisi dan bebas bersyarat. Memang saat kejadian, anak-anak sudah meneriakkan itu. Pada saat Kalapas masuk, mereka memang sudah teriak-terian soal itu (PP 99/2012). Salah satunya yang buat anak-anak marah itu memang terkait PP 99/2012. Tapi bukan karena pungli, itu tidak benar.

Bagaimana dengan surat terbaru Menkumham terkait PP 99/2012 itu?

Memang dua hari setelah kejadian, ada surat terbaru dari menteri kami. Jadi PP 99/2012 tidak berlaku surut. Dengan begitu, narapidana yang status hukumnya berkekuatan hukum tetap sebelum 12 November 2012, saat PP 99/2012 diundangkan, maka peraturan itu tidak berlaku kepada mereka.

Dengan adanya surat terbaru menteri, anak-anak di dalam senang. Surat menteri segera kami sosialisasikan dan akan menyampaikannya kepada anak-anak. Sosialisasi ini diharapkan dapat menenangkan mereka sehingga kerusuhan tidak lagi terulang. Mungkin sebagian di antara mereka juga sudah tahu soal ini. Kita harapkan jumlah narapidana yang akan mendapat remisi hari besar keagamaan pada Hari Raya Idul Fitri dan remisi umum 17 Agustus mendatang akan bertambah.

Apakah ada pembinaan khusus untuk para narapidana?

Saya lakukan pembinaan melalui pendekatan kemanusiaan. Kadang-kadang saya masuk ke dalam blok meninjau kamar mereka. Saya sering pendekatan supaya bisa menenangkan mereka.

Bagaimana kondisi narapidana di dalam saat ini?

Sudah aman. Tidak ada masalah lagi. Narapidana beragama Islam menjalankan puasa, salat berjamaah, mengaji dan sebagainya. Untuk narapidana beragama Kristen juga sama, mereka tetap beribadah. Untuk pasokan air dan listrik juga sudah lancar.

Bagaimana ke depannya apa langkah antisipasi agar kejadian ini tidak terulang lagi?

Pertama kita harus pulihkan mental petugas. Karena saat kejadian, petugas begitu shock, tetap kita berikan pengertian pada anak-anak di dalam. Ini sudah menjadi rumah mereka. Jadi harus dijaga. Karna kejadian itu merugikan semua pihak. Kepercayaan diri petugas jatuh, Yang penting langkah-langkahnya bagaimana pelayanan kepada warga binaan. (*)

Peristiwa pembakaran Lapas Klas I Tanjung Gusta Medan yang dilakukan narapidana pada Kamis (11/7) petang hingga Jumat (12/7) dini hari dan kaburnya ratusan warga binaan, tentu tak hilang dari ingatan. Insiden itu, menyisakan banyak kerusakan dan jatuhnya korban tewas. Permasalahan di Lapas Klas I Tanjung Gusta Medan layaknya bom waktu yang siap meledak. Benarkah kejadian yang menyentakkan itu dipicu dari matinya listrik dan air hingga penerapan PP 99/2012? Berikut petikan wawancara wartawan Sumut Pos Farida Noris Ritonga dengan Kalapas Klas I Tanjung Gusta Medan, Muji Raharjo.

Ilustrasi//Agung Utomo/Sumut Pos
Ilustrasi//Agung Utomo/Sumut Pos

Bagaimana awal mulanya kejadian itu?

Penyebab kejadiannya Kamis (11/7) subuh, itu sekira pukul 05.00, lampu mati dari PLN. Sehingga mnyebabkan areal Tanjung Gusta mati. Kami masuk kantor, saya panggil petugas untuk menelpon PLN agar segera membetuli listrik. Suplai air kami dibantu penggunaannya oleh listrik untuk menaikkan pompa ke lantai 3. Kami sudah minta tolong supaya listrik ini diperbaiki. Kami juga minta tolong pada PDAM untuk membantu air. Tapi ternyata itu kejadiannya sampai malam, satu harian. Harapan kami malam hari genset itu bisa dipakai sampai pagi. Kemudian, sekitar pukul 16.00 WIB sore, ada laporan dari warga binaan. Mereka menghadap KPLP melapor masalah air. Itu juga sudah diantisipasi, lalu masuk air dari PDAM. Tapi masalahnya penghuni kami kan banyak, ada 2600 orang. Tentu saja tidak mencukupi. Saat itu masuk dua tangki air. Katakan idealnya satu orang sudah 10 liter aja. Makanya tidak cukup.

Narapidana sempat berdemo, apakah, Anda tidak memperhatikan dalam aksi itu ada gejala yang mengarah anarkis?

Saat sore ada perwakilan narapidana menghadap ke KPLP. Memang sekira pukul 17.00 WIB sore kondisinya sudah mulai agak ribut. Kalapas langsung masuk ke Lapas. Karna anak-anak (narapidana) sudah ribut, saya masuk langsung ke blok menenangkan mereka. Kami menenangkan anak-anak di dalam. Memang sempat tenanglah setengah jam.

Apakah aksi ribuan narapidana tersulut karena provokator?

Memang saat itu situasinya mulai memanas. Ada suara di Masjid yang tidak enak didengar. Semacam provokator lah. Ada dibunyikan pengeras suara supaya narapidana masuk. Air sudah hidup, air sudah nyala. Saya belum tau itu suara siapa. Yang jelas saat saya datang, saya tenangkan mereka. Mereka bilang hidup Kalapas, hidup Kalapas. Saya tau, pasti ada nanti suatu masalah. Saya langsung menghubungi polsek-polsek. Saya gunakan hape pribadi, menelpon supaya mereka datang. Tapi itu belum ada kerusuhan, memang sudah filing kami, tapi selang beberapa lama, baru terjadi kerusuhan.

Saat kejadian, berapa orang petugas di dalam Lapas?

Saat kejadian jumlah petugas ada 18 orang. Jumlah keseluruhan petugas ada 160 orang. Jadi tiap hari nya mereka dibagi per shif 18 orang. Memang jumlah itu tidak mencukupi untuk menghadapi 2.600 narapidana di dalam. Apalagi ada sekira 52 titik yang harus di amankan. Seharusnya kami membutuhkan sedikitnya 60 petugas setiap hari.

Info yang diperoleh, narapidana teroris Fadli Sadama membawa senjata dari dalam gudang senjata Lapas, apa benar?

Oh itu tidak ada. Percaya dengan kami, senjata tidak ada hilang. Saat kejadian, Kalapas dan para Kabid langsung di lapangan. Dorong-dorongan dengan ribuan narapidana. Kami dorong-dorongan sampai dipintu luar dengan ribuan narapidana. Bahkan sebagian saya halau supaya masuk lagi ke dalam. Ada yang sudah keluar, balik lagi masuk ke dalam. Malah kita ada tembakan peringatan. Tapi tidak digubris. Pintu satu jebol, pintu dua jebol, pintu tiga jebol. Mereka kita dorong masuk,. Memang ada sebagian anak-anak balik lagi. Mereka masuk karena melihat saya. Ada Kalapas, ada Kalapas, begitu mereka bilang.

Apa saja fasilitas yang mengalami kerusakan?

Kerusakan skalanya 50 persen, kalau kantor 90 persen. Sudah bisa dikatakan lumpuh untuk pelayanan warga binaan. Fasilitas yang rusak diantaranya ruang klinik, dapur, ruang Kalapas, Kabid Kamtin (Keamanan dan Ketertiban), ruang KPLP, registrasi, kantin, koperasi, ruang berkas dokumen tahanan dan lainnya. Bahkan ruang keuangan dimana uang rapel gaji dan makan untuk 176 pegawai yang belum dibayarkan juga turut terbakar. Memang rumah ibadah, dapur tidak ada yang rusak. Blok juga tidak ada rusak. Petugas masih memperbaiki fasilitas di dalam. Kami konsentrasinya perbaikan gedung dulu. Mengenai data ribuan narapidana, petugas dan keuangan, kami akui satupun data tidak ada yang tersisa. Karena komputer serta berkas-berkas kami sudah ludes terbakar. Tapi kami ada data di Jakarta. Itu namanya sistem data base permasyarakatan. Kami sudah hubungi di Jakarta. Jadi sudah tau identitas narapidana yang kabur.

Berapa jumlah kerugian akibat peristiwa ini?

Itu kita taksir sekira Rp9 miliar. Jumlahnya bisa saja bertambah. Itu hitungan kasar kami. Pastinya akan kami koordinasikan lagi. Masalah perbaikan kami serahkan pada pimpinan. Langkah-langkah kita, saat ini fokus pada perbaikan dan pembersihan dulu. Itu melibatkan TNI, warga binaan, dan pegawai Rubasan, Lapas, Rutan. Saya tidak tau berapa lama, secepat mungkin akan diperbaiki.

Kejadian ini juga dipicu dari matinya listrik dan air. Sejak kapan air dan listrik menjadi permasalahan di Lapas?

Saya disini baru dua bulan. Sebelumnya air dan listrik memang sudah sering mati. Hampir tiap hari terjadi. Tapi itu kami antisipasti dengan penggunaan genset. Begitupun kami harus atur penggunaan genset. Tidak mungkin kami pakai 24 jam. Jadi harus diatur supaya tidak meledak genset kami. Kapan digunakan lalu istirahat.

Ada pengakuan narapidana, aksi mereka juga ditenggarai PP 99/2012 yang dimanfaatkan pegawai Lapas untuk pungli (pungutan liar). Apakah benar demikian?

Kalau untuk pungli, kami memng sudah peringatkan. Anggota harus bebas dari korupsi. Apalagi untuk pengurusan remisi dan bebas bersyarat. Memang saat kejadian, anak-anak sudah meneriakkan itu. Pada saat Kalapas masuk, mereka memang sudah teriak-terian soal itu (PP 99/2012). Salah satunya yang buat anak-anak marah itu memang terkait PP 99/2012. Tapi bukan karena pungli, itu tidak benar.

Bagaimana dengan surat terbaru Menkumham terkait PP 99/2012 itu?

Memang dua hari setelah kejadian, ada surat terbaru dari menteri kami. Jadi PP 99/2012 tidak berlaku surut. Dengan begitu, narapidana yang status hukumnya berkekuatan hukum tetap sebelum 12 November 2012, saat PP 99/2012 diundangkan, maka peraturan itu tidak berlaku kepada mereka.

Dengan adanya surat terbaru menteri, anak-anak di dalam senang. Surat menteri segera kami sosialisasikan dan akan menyampaikannya kepada anak-anak. Sosialisasi ini diharapkan dapat menenangkan mereka sehingga kerusuhan tidak lagi terulang. Mungkin sebagian di antara mereka juga sudah tahu soal ini. Kita harapkan jumlah narapidana yang akan mendapat remisi hari besar keagamaan pada Hari Raya Idul Fitri dan remisi umum 17 Agustus mendatang akan bertambah.

Apakah ada pembinaan khusus untuk para narapidana?

Saya lakukan pembinaan melalui pendekatan kemanusiaan. Kadang-kadang saya masuk ke dalam blok meninjau kamar mereka. Saya sering pendekatan supaya bisa menenangkan mereka.

Bagaimana kondisi narapidana di dalam saat ini?

Sudah aman. Tidak ada masalah lagi. Narapidana beragama Islam menjalankan puasa, salat berjamaah, mengaji dan sebagainya. Untuk narapidana beragama Kristen juga sama, mereka tetap beribadah. Untuk pasokan air dan listrik juga sudah lancar.

Bagaimana ke depannya apa langkah antisipasi agar kejadian ini tidak terulang lagi?

Pertama kita harus pulihkan mental petugas. Karena saat kejadian, petugas begitu shock, tetap kita berikan pengertian pada anak-anak di dalam. Ini sudah menjadi rumah mereka. Jadi harus dijaga. Karna kejadian itu merugikan semua pihak. Kepercayaan diri petugas jatuh, Yang penting langkah-langkahnya bagaimana pelayanan kepada warga binaan. (*)

Artikel Terkait

Bubarkan Pengurus Lama

Ada Sindikat di Hutan Mangrove

Selesaikan Konflik SMPN 14

Terpopuler

Artikel Terbaru

/