25.6 C
Medan
Sunday, June 16, 2024

Ada Sindikat di Hutan Mangrove

Kerusakan kawasan pesisir Pantai Labu Kabupaten Deliserdang pada dekade 80-an, melululantahkan ekosistem pantai. Pesisir pantai disulap menjadi tambak udang dan ikan. Namun, hantaman krisis moneter membuat pengusaha tambak kewalahan dalam permodalan hingga sampai terbelit utang ke perbankan. Peninggalan pengusaha tambak inipun menimbulkan masalah baru yaitu kerusakan kawasan hutan pesisir pantai.

MENANAM: Anwar Tambuse alias Ucok Dugol sedang menanam benih tanaman mangrove  Desa Regemuk, Pantai Labu, Deliserdang.//batara/sumut pos
MENANAM: Anwar Tambuse alias Ucok Dugol sedang menanam benih tanaman mangrove di Desa Regemuk, Pantai Labu, Deliserdang.//batara/sumut pos

Seiring waktu berjalan, kerusakan hutan kian mengkhawatirkan sampai nelayan tak lagi mendapatkan tangkapan ikan di seputaran pantai. Prihatin dengan kondisi demikian, muncul niat Anwar Tambuse alias Ucok Dogol (54) untuk merehabilitasi kawasan. Bagaumana dia memulai kegiatan rehabilitasi kawasan? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos Batara Sidik Tampubolon dengan Anwar Tambuse, Minggu (6/10).

Apa kabar Pak Ucok, sudah umur berapa tanaman mangrove yang pertama kali ditanam?

Umur tanaman yang pertama kali saya tanam di wilayah Pantai Labu ini, sekitar enam tahun. Dengan usia tanaman segitu, tinggin tanamanya sekitar empat sampai delapan meter. Memang untuk tanaman mangrove lambat pertumbuhannya. Makanya, bila dilakukan pembabatan di wilayah pantai, maka untuk mengembalikanya seperti semula akan membutuhkan waktu cukup lama.

Wah, bila semua kawasan pantai digundulkan, masa penghijauannya makan waktu cukup lama iya? Apa kendalanya?

Iya, begitu. Penghinjaun untuk wilayah pantai berbeda dengan wilayah pegunungan. Soalnya, di wilayah pantai tantangan yang dihadapi banyak. Selain alam atau gelombang ombak yang merusak bibit tanaman, kemudian masyarakat pesisir kurang peduli dengan kondisi kerusakan itu. Para nelayan hanya berfikir bahwa mereka menangkap ikan di laut bukan ditanaman mangrove. Padahal ikan bertelur diwilayah tanaman mangrove itu. Memang pengetahuan para nelayan untuk itu minim, makanya mereka kurang peduli.

Di wilayah pengunungan atau dataran rendah, kan punya tantangan juga?

Ya, semua ada tantangannya. Namun yang berat itu di pantai. Untuk wilayah pengunungan kita cukup kasih pupuk kandang, dan tanamanya dikasi pagar lalu disiram. Dan bila ada tanaman yang mati tinggal diganti. Kemudian menjaganya dari aksi perusakan, mudah tinggal mengenali wilayah yang hendak ditanami atau dihijaukan. Kalau wilayah pesisir selain masyarakatnya tak peduli, juga gelombang laut semalam saja dapat menghancurkan bibit taman yang baru ditanam.

Lantas apa stategi Bapak, agar tanaman yang baru ditanam selamat dari hantaman gelombang laut?

Cukup berdoa kepada Tuhan agar ketika kita menanam mangrove muda tidak dihantam gelombang tinggi. Selain itu, kita lakukan penanaman kembali. Kemudian menghitung jadwal penanaman, di mana pada musim gelombang tinggi tidak dilakukan penanaman.

Apakah hasil kerja atau upaya Bapak menghinjaukan wilayah Pantai Labu ini mendapat dukungan pemerintah?

Dukungan pemerintah ada, namun tidak sebanding dengan upaya yang kita lakukan. Meski tidak mendapat dukungan, kita tak lantas menyerah. Bahkan beberapa upaya dengan mengembangkan bibit sendiri dibuat. Bila tak ada bantuan pemerintah, kita terus menanam.

Apa ada perlawan dari pemilik lahan, kan yang Bapak tanam itu pemiliknya para pengusaha tambak?

Terkadang perlawanan ada. Namun, setelah dijelaskan tujuan kita hanya menanam bukan menguasai lahan mereka, dan mereka mengerti. Bahkan terkadang diantara mereka ada yang menawarkan bantuan biaya pengadan bibit. Kemudin pemerintah atau kepala desa membuat surat keterangan tentang penanaman tanaman mangrove itu.

Apa Bapak pernah mendapat hadiah atau penghargan atas upaya penghijauan ini?

Tentu ada. Pastilah. Tapi tujuan saya bukan mencari hadiah atau perhatian dari pemerintah atau lembaga pemerhati lingkungan. Saya menanam tanaman mangrove untuk menyelamatkan pesisir pantai yang diancam abrasi dan kerusakan. Kemudian akan membuat hutan bakau atau mangrove yang kelak akan dinikmati anak cucu kita.

Sebenarnya pada tahun 2005 lalu, Badan Perencanan Pembagunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Deliserdang, pernah memberikan bantuan untuk pelatih dan sarana.

Ke depan, upaya apa yang dilakukan agar warga sekitar Pantai Labu peduli dengan lingkunganya?

Pertama, mengajarkan jangan menebang tanaman bila tak mendesak, kemudian mengajarkan menanam mangrove. Upaya itu disertai pembentukan kelompok pencinta tanaman mangrove. Untuk di Pantai Labu ada sekitar 20 kelompok pencinta mangrove. Saya sendiri membetuk kelompok pencinta mangrove dengan Lestari Alam yang terdiri 20 orang anggota. Umumnya para anggota itu para nelayan. Setiap kelompok diberikan tanggung jawab menghinjaukan wilayah pesisir sekitar 20 hektare, bila berhasil dilanjutkan 20 hektare kedua, begitu selanjutnya.

Apa semua itu berhasil ?

Tentu tidak, ada kelompok itu melihat kondisi. Misalnya bila ada bantuan dari Pemerintah maka mereka akan muncul. Dengan tujuan hanya mendapat proyek menanam tanaman. Bila proyek selesai dikerjakan, tanaman tidak dirawat dibiarkan mati. Kemudian tahun depannya demikian. Selalu kelompok yang sama mendapat proyek dari pemerintah. Itu sudah sindikat. Karena mereka bermain dengan dinas terkait, tetapi bila ada pemeriksaan dari pemerintah pusat, selalu yang diperlihatkan hasil kerja kita.

Pernah dilaporkan tindakan kecurangan itu?

Saya telah berulang-ulang membuat laporan ke dinas kehutanan, namun laporan saya dianggap tong kosong, bahkan tindakan pengusaha sawit yang membuldoser kawasan mangrove tidak pernah ditindaklanjuti. Bosan saya, malah saya dibenci, makanya sekarang lebih banyak diam, dan melanjutkan menanam mangrove.(*)

Kerusakan kawasan pesisir Pantai Labu Kabupaten Deliserdang pada dekade 80-an, melululantahkan ekosistem pantai. Pesisir pantai disulap menjadi tambak udang dan ikan. Namun, hantaman krisis moneter membuat pengusaha tambak kewalahan dalam permodalan hingga sampai terbelit utang ke perbankan. Peninggalan pengusaha tambak inipun menimbulkan masalah baru yaitu kerusakan kawasan hutan pesisir pantai.

MENANAM: Anwar Tambuse alias Ucok Dugol sedang menanam benih tanaman mangrove  Desa Regemuk, Pantai Labu, Deliserdang.//batara/sumut pos
MENANAM: Anwar Tambuse alias Ucok Dugol sedang menanam benih tanaman mangrove di Desa Regemuk, Pantai Labu, Deliserdang.//batara/sumut pos

Seiring waktu berjalan, kerusakan hutan kian mengkhawatirkan sampai nelayan tak lagi mendapatkan tangkapan ikan di seputaran pantai. Prihatin dengan kondisi demikian, muncul niat Anwar Tambuse alias Ucok Dogol (54) untuk merehabilitasi kawasan. Bagaumana dia memulai kegiatan rehabilitasi kawasan? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos Batara Sidik Tampubolon dengan Anwar Tambuse, Minggu (6/10).

Apa kabar Pak Ucok, sudah umur berapa tanaman mangrove yang pertama kali ditanam?

Umur tanaman yang pertama kali saya tanam di wilayah Pantai Labu ini, sekitar enam tahun. Dengan usia tanaman segitu, tinggin tanamanya sekitar empat sampai delapan meter. Memang untuk tanaman mangrove lambat pertumbuhannya. Makanya, bila dilakukan pembabatan di wilayah pantai, maka untuk mengembalikanya seperti semula akan membutuhkan waktu cukup lama.

Wah, bila semua kawasan pantai digundulkan, masa penghijauannya makan waktu cukup lama iya? Apa kendalanya?

Iya, begitu. Penghinjaun untuk wilayah pantai berbeda dengan wilayah pegunungan. Soalnya, di wilayah pantai tantangan yang dihadapi banyak. Selain alam atau gelombang ombak yang merusak bibit tanaman, kemudian masyarakat pesisir kurang peduli dengan kondisi kerusakan itu. Para nelayan hanya berfikir bahwa mereka menangkap ikan di laut bukan ditanaman mangrove. Padahal ikan bertelur diwilayah tanaman mangrove itu. Memang pengetahuan para nelayan untuk itu minim, makanya mereka kurang peduli.

Di wilayah pengunungan atau dataran rendah, kan punya tantangan juga?

Ya, semua ada tantangannya. Namun yang berat itu di pantai. Untuk wilayah pengunungan kita cukup kasih pupuk kandang, dan tanamanya dikasi pagar lalu disiram. Dan bila ada tanaman yang mati tinggal diganti. Kemudian menjaganya dari aksi perusakan, mudah tinggal mengenali wilayah yang hendak ditanami atau dihijaukan. Kalau wilayah pesisir selain masyarakatnya tak peduli, juga gelombang laut semalam saja dapat menghancurkan bibit taman yang baru ditanam.

Lantas apa stategi Bapak, agar tanaman yang baru ditanam selamat dari hantaman gelombang laut?

Cukup berdoa kepada Tuhan agar ketika kita menanam mangrove muda tidak dihantam gelombang tinggi. Selain itu, kita lakukan penanaman kembali. Kemudian menghitung jadwal penanaman, di mana pada musim gelombang tinggi tidak dilakukan penanaman.

Apakah hasil kerja atau upaya Bapak menghinjaukan wilayah Pantai Labu ini mendapat dukungan pemerintah?

Dukungan pemerintah ada, namun tidak sebanding dengan upaya yang kita lakukan. Meski tidak mendapat dukungan, kita tak lantas menyerah. Bahkan beberapa upaya dengan mengembangkan bibit sendiri dibuat. Bila tak ada bantuan pemerintah, kita terus menanam.

Apa ada perlawan dari pemilik lahan, kan yang Bapak tanam itu pemiliknya para pengusaha tambak?

Terkadang perlawanan ada. Namun, setelah dijelaskan tujuan kita hanya menanam bukan menguasai lahan mereka, dan mereka mengerti. Bahkan terkadang diantara mereka ada yang menawarkan bantuan biaya pengadan bibit. Kemudin pemerintah atau kepala desa membuat surat keterangan tentang penanaman tanaman mangrove itu.

Apa Bapak pernah mendapat hadiah atau penghargan atas upaya penghijauan ini?

Tentu ada. Pastilah. Tapi tujuan saya bukan mencari hadiah atau perhatian dari pemerintah atau lembaga pemerhati lingkungan. Saya menanam tanaman mangrove untuk menyelamatkan pesisir pantai yang diancam abrasi dan kerusakan. Kemudian akan membuat hutan bakau atau mangrove yang kelak akan dinikmati anak cucu kita.

Sebenarnya pada tahun 2005 lalu, Badan Perencanan Pembagunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Deliserdang, pernah memberikan bantuan untuk pelatih dan sarana.

Ke depan, upaya apa yang dilakukan agar warga sekitar Pantai Labu peduli dengan lingkunganya?

Pertama, mengajarkan jangan menebang tanaman bila tak mendesak, kemudian mengajarkan menanam mangrove. Upaya itu disertai pembentukan kelompok pencinta tanaman mangrove. Untuk di Pantai Labu ada sekitar 20 kelompok pencinta mangrove. Saya sendiri membetuk kelompok pencinta mangrove dengan Lestari Alam yang terdiri 20 orang anggota. Umumnya para anggota itu para nelayan. Setiap kelompok diberikan tanggung jawab menghinjaukan wilayah pesisir sekitar 20 hektare, bila berhasil dilanjutkan 20 hektare kedua, begitu selanjutnya.

Apa semua itu berhasil ?

Tentu tidak, ada kelompok itu melihat kondisi. Misalnya bila ada bantuan dari Pemerintah maka mereka akan muncul. Dengan tujuan hanya mendapat proyek menanam tanaman. Bila proyek selesai dikerjakan, tanaman tidak dirawat dibiarkan mati. Kemudian tahun depannya demikian. Selalu kelompok yang sama mendapat proyek dari pemerintah. Itu sudah sindikat. Karena mereka bermain dengan dinas terkait, tetapi bila ada pemeriksaan dari pemerintah pusat, selalu yang diperlihatkan hasil kerja kita.

Pernah dilaporkan tindakan kecurangan itu?

Saya telah berulang-ulang membuat laporan ke dinas kehutanan, namun laporan saya dianggap tong kosong, bahkan tindakan pengusaha sawit yang membuldoser kawasan mangrove tidak pernah ditindaklanjuti. Bosan saya, malah saya dibenci, makanya sekarang lebih banyak diam, dan melanjutkan menanam mangrove.(*)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/