28 C
Medan
Tuesday, July 23, 2024

Inalum dan Rumah BUMN Samosir Hadirkan Produk Kreatif Bahan Baku Eceng Gondok

SAMOSIR, SUMUTPOS CO – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) kolaborasi dengan Rumah BUMN Samosir menghadirkan produk kreatif Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berbahan baku eceng gondok. Program ini berhasil memberdayakan kelompok masyarakat dari segmen Ibu Rumah Tangga (IRT) sehingga bisa meningkatkan ekonomi keluarganya.

Corporate Secretary Inalum Mahyaruddin Ende menyebut, produk UMKM bahan baku eceng gondok ini merupakan sarana kreatifitas masyarakat sekitar yang berhasil dimonetize sehingga bisa memberikan manfaat yang lebih besar. Ia berharap bisa terus menjadi rekan kolaborasi dari para pelaku UMKM sehingga bisa naik kelas dan mampu lebih kompetitif di pasar modern.

“Produk kreatif dari Eceng Gondok ini harus bisa lebih inovatif dan kompetitif di pasar modern saat ini. Kami dari Inalum berkomitmen untuk menjadi rekan pemerintah dalam menciptakan UMKM naik kelas dengan program-program kreatif. Kami juga berharap bahwa kelompok masyarakat yang terlibat dalam program UMKM eceng gondok ini bisa mendapatkan manfaat yang lebih berkelanjutan,” ujar Mahyaruddin.

Usaha ini berdiri di akhir tahun 2023, beralamat di desa Sitanggang Bau Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Usaha ini diberi nama Koperasi Bank Eceng Gondok. Penggunaan nama Koperasi Bank Eceng Gondok sendiri terinspirasi dari Bank Sampah dan rencananya UMKM ini kedepan akan membuat kelompok seperti Bank Sampah dan akan memberikan edukasi kepada kelompok tersebut.

Eceng gondok merupakan tumbuhan ari yang dimana banyak terdapat di perairan tawar seperti di kawasan Danau Toba. Tumbuhan ini biasanya terlihat mengapung di atas air dan menutupi sinar matahari yang akan masuk ke dalam parairan. Proses pertumbuhan eceng gondok ini sangat cepat sehingga merusak kebersihan di sekitar kawasan Danau Toba.

Pelaku UMKM bernama Sumondang Tabita Nainggolan dan Murni Asima Sitanggang yang merupakan UMKM binaan Rumah BUMN Inalum Samosir membuat sebuah ide dari tanaman ini yang dimana sebelumnya eceng gondok dari Danau Toba ini sudah pernah ditawarkan oleh petani kopi untuk mendapatkan pupuk dari eceng gondok, namun tidak terlaksana karena kurangnya alat dan minimnya edukasi pembuatan pupuk. Maka dari itu UMKM tersebut mengalihkannya menjadi ekonomi kreatif dan muncullah produk sendal hotel eceng gondok, mengingat tingkat hunian hotel meningkat sejak awal tahun 2023.

Seiring berjalannya waktu muncullah turunan dari produk ini yaitu cover book eceng gondok. Dengan visi yang kuat yaitu memperdayakan ibu rumah tangga yang tidak bekerja namun mampu membantu perekonomian keluarga.

Proses pembuatan sendal eceng gondok ini sedikit rumit dibanding pembuatan sendal pada umumnya. Prosesnya dimulai dari memilih batang eceng gondok yang masih bagus, selanjutnya melakukan pengeringan dengan durasi 7-8 hari dimana prosesnya sampai benar–benar kering yang ditandai dengan warna coklat matang, kemudian menghaluskan dengan menggunakan mesin penghalus dan menganyam secara manual membentuk tikar. Setelah proses selesai masuklah ke tahap membentuk pola dan terakhir ke tahap finishing yaitu menjahit pola menggunakan mesin jahit.

Pemasaran yang dilakukan untuk memasarkan produk ini melalui platform media sosial yaitu instagram dan marketplace yaitu Tiktok shop. Selain pemasaran melalui online UMKM ini juga sering mengikuti pameran yang dilakukan di sekitaran kabupaten Samosir. Harga sendal eceng gondok ini mulai dari harga Rp6.000/pcs sampai dengan harga Rp10.000/pcs sedangkan cover book dengan harga Rp35.000/pcs. (rel/tri)

SAMOSIR, SUMUTPOS CO – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) kolaborasi dengan Rumah BUMN Samosir menghadirkan produk kreatif Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berbahan baku eceng gondok. Program ini berhasil memberdayakan kelompok masyarakat dari segmen Ibu Rumah Tangga (IRT) sehingga bisa meningkatkan ekonomi keluarganya.

Corporate Secretary Inalum Mahyaruddin Ende menyebut, produk UMKM bahan baku eceng gondok ini merupakan sarana kreatifitas masyarakat sekitar yang berhasil dimonetize sehingga bisa memberikan manfaat yang lebih besar. Ia berharap bisa terus menjadi rekan kolaborasi dari para pelaku UMKM sehingga bisa naik kelas dan mampu lebih kompetitif di pasar modern.

“Produk kreatif dari Eceng Gondok ini harus bisa lebih inovatif dan kompetitif di pasar modern saat ini. Kami dari Inalum berkomitmen untuk menjadi rekan pemerintah dalam menciptakan UMKM naik kelas dengan program-program kreatif. Kami juga berharap bahwa kelompok masyarakat yang terlibat dalam program UMKM eceng gondok ini bisa mendapatkan manfaat yang lebih berkelanjutan,” ujar Mahyaruddin.

Usaha ini berdiri di akhir tahun 2023, beralamat di desa Sitanggang Bau Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Usaha ini diberi nama Koperasi Bank Eceng Gondok. Penggunaan nama Koperasi Bank Eceng Gondok sendiri terinspirasi dari Bank Sampah dan rencananya UMKM ini kedepan akan membuat kelompok seperti Bank Sampah dan akan memberikan edukasi kepada kelompok tersebut.

Eceng gondok merupakan tumbuhan ari yang dimana banyak terdapat di perairan tawar seperti di kawasan Danau Toba. Tumbuhan ini biasanya terlihat mengapung di atas air dan menutupi sinar matahari yang akan masuk ke dalam parairan. Proses pertumbuhan eceng gondok ini sangat cepat sehingga merusak kebersihan di sekitar kawasan Danau Toba.

Pelaku UMKM bernama Sumondang Tabita Nainggolan dan Murni Asima Sitanggang yang merupakan UMKM binaan Rumah BUMN Inalum Samosir membuat sebuah ide dari tanaman ini yang dimana sebelumnya eceng gondok dari Danau Toba ini sudah pernah ditawarkan oleh petani kopi untuk mendapatkan pupuk dari eceng gondok, namun tidak terlaksana karena kurangnya alat dan minimnya edukasi pembuatan pupuk. Maka dari itu UMKM tersebut mengalihkannya menjadi ekonomi kreatif dan muncullah produk sendal hotel eceng gondok, mengingat tingkat hunian hotel meningkat sejak awal tahun 2023.

Seiring berjalannya waktu muncullah turunan dari produk ini yaitu cover book eceng gondok. Dengan visi yang kuat yaitu memperdayakan ibu rumah tangga yang tidak bekerja namun mampu membantu perekonomian keluarga.

Proses pembuatan sendal eceng gondok ini sedikit rumit dibanding pembuatan sendal pada umumnya. Prosesnya dimulai dari memilih batang eceng gondok yang masih bagus, selanjutnya melakukan pengeringan dengan durasi 7-8 hari dimana prosesnya sampai benar–benar kering yang ditandai dengan warna coklat matang, kemudian menghaluskan dengan menggunakan mesin penghalus dan menganyam secara manual membentuk tikar. Setelah proses selesai masuklah ke tahap membentuk pola dan terakhir ke tahap finishing yaitu menjahit pola menggunakan mesin jahit.

Pemasaran yang dilakukan untuk memasarkan produk ini melalui platform media sosial yaitu instagram dan marketplace yaitu Tiktok shop. Selain pemasaran melalui online UMKM ini juga sering mengikuti pameran yang dilakukan di sekitaran kabupaten Samosir. Harga sendal eceng gondok ini mulai dari harga Rp6.000/pcs sampai dengan harga Rp10.000/pcs sedangkan cover book dengan harga Rp35.000/pcs. (rel/tri)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/