Ketua Komisi A DPRD Sumut, Sarma menyampaikan hal senada. Menurutnya, Darwin Nasution lebih dikenal rekam jejaknya dibandingkan Brigjen (Purn) Nur Azizah. “Kalau dari sisi populer, beliau (Darwin) lebih dikenal,” ujar Sarma.
Politisi PDI-P itu juga mengakui, sejauh ini baru nama Nur Azizah yang masuk ke Pansus Pemilihan Wagubsu. Hanya saja, Pansus belum dapat memproses surat dari Partai Hanura.
“Pansus akan berkonsultasi ke Kemendagri dan KPU RI mengenai mekanisme pengusulan nama calon. Apakah pengusulan masih mengacu UU No 8/2015, atau ada aturan yang terbaru untuk itu,” sebutnya.
Secara pribadi, Sarma berharap nama cawagubsu yang diusulkan oleh partai pengusung nantinya haruslah memiliki kemampuan, mengingat begitu banyak persoalan yang ada di Sumut.
Selain itu, Gubsu dan Wagubsu harus saling bahu-membahu menghadapi masalah atau problematika yang ada. “Kita tidak ingin dengar lagi kepala daerah ribuk dengan wakil nya, habis energi untuk mengurusi itu saja. Maayarakat butuh bukti nyata dari hadirnya pemerintah lewat pembangunan yang dibiayai uang yang bersumber dari pajak kendaraan masyarakat,” bebernya.
Proses bersih-bersih KPK di Sumut, diharapkannya juga dapat menjadi momentum semua pihak memperbaiki diri, sehingga dapat menjalankan roda pemerintahan yang bersih.
Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD Sumut Fraksi PKB, Januari Siregar mengaku belum bisa memberikan pendapat soal dua nama kandidat cawagubsu. “Secara pribadi saya tidak kenal Nur Azizah dan Darwin Nasution,” katanya.
Pemilihan cawagubsu kali ini diakuinya berada penuh dilembaga legislatif. Artinya, setiap anggota dewan berhak menentukan. “Kalau ada dua nama yang diusulkan oleh partai pengusung maka akan dipilih melalui mekanisme voting. Siapa yang akan saya pilih, lihat nanti. CV nya akan dipelajari terlebih dahulu,”akunya.(dik/adz)