BINJAI – Wakil Wali Kota Binjai Hasanul Jihadi, melakukan ziarah ke makam para pejuang Perang Tanduk Benua atau Perang Songgal di Masjid Raya Kedatukan Sunggal Serbanyaman, Jalan Sunggal Pekan, Medan, Jumat (22/5/2026). Kegiatan ini dilakukan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Kota Binjai ke-154.
Kedatangan Hasanul Jihadi, yang akrab disapa Jiji, disambut langsung oleh Datuk Bendahara Sunggal Serbanyaman, Aja Muhammad Ikram, sebelum keduanya berdialog mengenai sejarah panjang Perang Songgal yang disebut memiliki keterkaitan erat dengan Kota Binjai.
Dalam dialog tersebut, Jiji mendapatkan penjelasan bahwa Perang Songgal berlangsung pada 15 Mei 1872 hingga 20 Januari 1895, sebagai salah satu perlawanan panjang terhadap kolonial Belanda. Bahkan, disebutkan terdapat lima Datuk yang menjadi panglima perang dan dimakamkan di kawasan tersebut.
Datuk Bendahara Sunggal Serbanyaman, Aja Muhammad Ikram, menegaskan bahwa Perang Songgal merupakan salah satu peristiwa paling heroik di Nusantara karena mampu menyatukan empat suku dalam perlawanan terhadap Belanda.“Perang Songgal ini perang paling heroik se-Nusantara, yang mampu menyatukan empat suku berjuang melawan Belanda,” ujarnya.
Ia juga menyebut Kota Binjai layak disebut sebagai “Kota Pahlawan” karena menjadi salah satu titik penting dalam sejarah perlawanan tersebut.
Usai mendengarkan penjelasan sejarah, Wakil Wali Kota Binjai juga diajak meninjau kondisi Masjid Raya Kedatukan Sunggal yang merupakan salah satu situs bersejarah, dengan bangunan yang masih mempertahankan struktur asli seperti tiang utama dan kusen jendela.
Dalam keterangannya, Jiji menegaskan bahwa ziarah tersebut menjadi pengingat penting akan nilai perjuangan para leluhur yang telah berjuang demi tanah air.“Bukan hanya keringat, tapi darah untuk membela nusantara dan menyatukan nusantara ini,” ujar Jiji.
Ia juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Binjai akan menindaklanjuti sejumlah catatan penting, termasuk rencana penamaan jalan dan fasilitas umum dengan nama para tokoh pejuang daerah. “Hari ini ada banyak catatan, selain kita berziarah dan mengingat, ada juga PR bahwa beberapa nama jalan dan gedung harus segera kita namakan,” katanya.
Jiji menambahkan, tokoh-tokoh seperti Datuk Kecit dan Datuk Soeloeng Barat perlu diabadikan sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan mereka yang memiliki pengaruh hingga wilayah Karo, Medan, dan Langkat.
Ia menegaskan bahwa Kota Binjai tidak hanya dikenal sebagai kota rambutan, tetapi juga memiliki sejarah panjang sebagai “kota para pejuang dan mujahid”. “Binjai bukan hanya nama buah-buahan, tapi Binjai adalah nama pejuang-pejuang,” pungkasnya. (ted/ila)

