Enam Rumah Hangus Dilalap Api, 24 Korban Mengungsi di Posko BPBD Binjai

BINJAI – Musibah kebakaran menghanguskan enam unit rumah di Jalan Raimin, Kelurahan Timbang Langkat, Kecamatan Binjai Timur, Rabu (12/8/2026) petang. Dalam hitungan menit, kobaran api melalap permukiman warga hingga memaksa sembilan kepala keluarga dengan total 24 jiwa kehilangan tempat tinggal dan bermalam di posko darurat yang didirikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Binjai.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka, kebakaran tersebut meninggalkan duka mendalam bagi para korban yang harus menyaksikan rumah beserta harta benda mereka berubah menjadi puing-puing.

Kepala BPBD Kota Binjai Rudi Baros, mengatakan seluruh korban kini ditampung di posko pengungsian yang didirikan sebagai bentuk respons cepat pemerintah terhadap bencana tersebut. “Rumah yang terbakar ada enam unit, sembilan kepala keluarga dengan total 24 jiwa terdampak kebakaran,” ujarnya, Kamis (13/8/2026).

Menurut Rudi, selain menyediakan tempat pengungsian, BPBD juga memastikan kebutuhan dasar para korban terpenuhi. Dinas Kesehatan langsung diterjunkan untuk memeriksa kondisi kesehatan warga, sementara kebutuhan konsumsi selama tiga hari ditanggung pemerintah.

“Dinas Kesehatan juga langsung action untuk memeriksa kesehatan korban. Untuk makan selama tiga hari akan ditanggung dari pagi, siang, dan malam,” katanya.

Rudi menambahkan, proses pemadaman api menghadapi sejumlah kendala. Banyaknya warga yang memadati lokasi membuat akses mobil pemadam kebakaran terhambat. Selain itu, petugas juga harus memutar karena jalur tercepat menuju lokasi tertutup portal.

“Kesulitan petugas damkar saat memadamkan api, pertama karena banyaknya masyarakat yang menumpuk di sekitar lokasi sehingga jalur evakuasi menjadi sulit. Kedua, kami mohon maaf agak terlambat karena jalan terdekat menuju lokasi dipasang portal, sehingga kami harus memutar menggunakan jalur lain,” jelasnya.

Sebanyak enam unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan hingga api akhirnya berhasil dijinakkan dan tidak merembet ke permukiman yang lebih luas.

Sementara itu, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian. BPBD menyerahkan sepenuhnya proses tersebut kepada aparat penegak hukum. “Kami dari Damkar belum menerima laporan dari pihak kepolisian mengenai penyebab kebakaran itu,” ujar Rudi.

Terpisah, Kapolsek Binjai Timur AKP Gusli Effendi mengungkapkan, berdasarkan keterangan sejumlah saksi, api pertama kali terlihat berasal dari salah satu rumah yang mengeluarkan kepulan asap. Warga sempat berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya sebelum kobaran membesar.

Dugaan sementara, kebakaran dipicu korsleting arus listrik yang menyambar dinding rumah berbahan triplek, kemudian merembet ke kasur berbahan busa sehingga api dengan cepat membesar dan menjalar ke rumah-rumah di sekitarnya.

“Berdasarkan keterangan saksi-saksi, kebakaran diduga akibat korsleting arus listrik yang menyambar dinding rumah yang terbuat dari triplek dan menyambar kasur berbahan busa hingga api membesar serta ikut membakar rumah lainnya,” kata Gusli.

Hingga kini, lokasi kebakaran masih dipasang garis polisi untuk kepentingan penyelidikan. Kerugian material akibat musibah tersebut ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, sementara para korban berharap bantuan segera mengalir agar mereka dapat kembali membangun kehidupan yang porak-poranda akibat amukan si jago merah. (ted/ila)

BINJAI – Musibah kebakaran menghanguskan enam unit rumah di Jalan Raimin, Kelurahan Timbang Langkat, Kecamatan Binjai Timur, Rabu (12/8/2026) petang. Dalam hitungan menit, kobaran api melalap permukiman warga hingga memaksa sembilan kepala keluarga dengan total 24 jiwa kehilangan tempat tinggal dan bermalam di posko darurat yang didirikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Binjai.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka, kebakaran tersebut meninggalkan duka mendalam bagi para korban yang harus menyaksikan rumah beserta harta benda mereka berubah menjadi puing-puing.

Kepala BPBD Kota Binjai Rudi Baros, mengatakan seluruh korban kini ditampung di posko pengungsian yang didirikan sebagai bentuk respons cepat pemerintah terhadap bencana tersebut. “Rumah yang terbakar ada enam unit, sembilan kepala keluarga dengan total 24 jiwa terdampak kebakaran,” ujarnya, Kamis (13/8/2026).

Menurut Rudi, selain menyediakan tempat pengungsian, BPBD juga memastikan kebutuhan dasar para korban terpenuhi. Dinas Kesehatan langsung diterjunkan untuk memeriksa kondisi kesehatan warga, sementara kebutuhan konsumsi selama tiga hari ditanggung pemerintah.

“Dinas Kesehatan juga langsung action untuk memeriksa kesehatan korban. Untuk makan selama tiga hari akan ditanggung dari pagi, siang, dan malam,” katanya.

Rudi menambahkan, proses pemadaman api menghadapi sejumlah kendala. Banyaknya warga yang memadati lokasi membuat akses mobil pemadam kebakaran terhambat. Selain itu, petugas juga harus memutar karena jalur tercepat menuju lokasi tertutup portal.

“Kesulitan petugas damkar saat memadamkan api, pertama karena banyaknya masyarakat yang menumpuk di sekitar lokasi sehingga jalur evakuasi menjadi sulit. Kedua, kami mohon maaf agak terlambat karena jalan terdekat menuju lokasi dipasang portal, sehingga kami harus memutar menggunakan jalur lain,” jelasnya.

Sebanyak enam unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan hingga api akhirnya berhasil dijinakkan dan tidak merembet ke permukiman yang lebih luas.

Sementara itu, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian. BPBD menyerahkan sepenuhnya proses tersebut kepada aparat penegak hukum. “Kami dari Damkar belum menerima laporan dari pihak kepolisian mengenai penyebab kebakaran itu,” ujar Rudi.

Terpisah, Kapolsek Binjai Timur AKP Gusli Effendi mengungkapkan, berdasarkan keterangan sejumlah saksi, api pertama kali terlihat berasal dari salah satu rumah yang mengeluarkan kepulan asap. Warga sempat berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya sebelum kobaran membesar.

Dugaan sementara, kebakaran dipicu korsleting arus listrik yang menyambar dinding rumah berbahan triplek, kemudian merembet ke kasur berbahan busa sehingga api dengan cepat membesar dan menjalar ke rumah-rumah di sekitarnya.

“Berdasarkan keterangan saksi-saksi, kebakaran diduga akibat korsleting arus listrik yang menyambar dinding rumah yang terbuat dari triplek dan menyambar kasur berbahan busa hingga api membesar serta ikut membakar rumah lainnya,” kata Gusli.

Hingga kini, lokasi kebakaran masih dipasang garis polisi untuk kepentingan penyelidikan. Kerugian material akibat musibah tersebut ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, sementara para korban berharap bantuan segera mengalir agar mereka dapat kembali membangun kehidupan yang porak-poranda akibat amukan si jago merah. (ted/ila)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru