25 C
Medan
Monday, July 15, 2024

Ancaman Stop Paksa Menyeruak

Pelabuhan Belawan.

BELAWAN, SUMUTPOS.COProyek reklamasi BICT Pelabuhan Belawan yang dilakoni PT. Pelindo I Medan, terus disoal. Sebab selain pengusaha kapal, nelayan tradisional juga merasakan imbasnya.

Ini dinilai tak lepas dari lemahnya sosialisasi yang dilakukan pihak PT. Pelindo I. “Kami memang nggak pernah diajak duduk bersama, agar kami tau alur baru yang harus dilalui,” ungkap Sahlan, nelayan tradisional di Belawan, Rabu (5/7) siang.

Para nelayan yang tergabung dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Medan ini, menegaskan jika mereka sama sekali tidak diberi tahu tentang alur laut yang baru.

“Kami tak pernah diberitahu alur laut yang baru. Mungkin kelompok nelayan lain atau pengusaha ikan yang diberi tahu. Karena kami gak tahu, makanya para nelayan tetap saja mencari ikan di sekitaran alur laut yang biasa mereka mencari nafkah,” papar Rusli, Wakil Ketua HNSI Kota Medan.

Ketidaktahuan ini berakibat fatal bagi kelangsungan hidup para nelayan tradisional. Persis pada April 2017, 3 kapal berukuran 20 kaki dengan bobot 10 Gt milik nelayan yang sedang menabur jala disekitaran proyek reklamasi, di tabrak kapal keruk milik proyek reklamasi.

“Saat itu kami sedang menabur jala. Ada beberapa kapal disitu yang melakukan aktifitas yang sama. Tak lama kemudian, kapal keruk melintas tepat di aliran jala kami. Kami berusaha memperingatkan dengan menggunakan lampu emergency, namun kapal keruk itu tetap saja berlayar. Kami kemudian memberikan isarat dengan senter sambil berteriak untuk berhenti sejenak agar kami dapat mengangkat jala kami. Tapi mereka tidak memperdulikan dan terus saja melaju. Dan tak lama kemudian, 3 alat tangkap kapal ditabrak hingga karam. Sungguh terlalu mereka, gak memperdulikan nasib nelayan kecil,” ungkap Zul (40), salah seorang yang jadi korban kapal keruk proyek pemerintah tersebut.

Akibat peristiwa itu, alat tangkap pada masing masing kapal sebanyak 5 bal putus dan tenggelam kedasar laut. Kerugian para nelayan yang alat tangkapnya karam diperkirakan mencapai Rp30 jutaan.

“Kami bingung bang, mau nuntut kemana. Ke PT. Pelindo kata mereka itu tanggung jawab PT. Wijaya Karya. Kata orang Wika, itu masih tanggung jawab PT. Pelindo. Mereka saling buang badan. Kami gak tau harus bagaimana. Karena gak ada uang beli alat tangkap, terpaksa kami menumpang kapal kawan kawan untuk menyambung hidup. Kejam kali orang itu,” ujar Zul diamini rekan rekannya yang jadi korban.

Selain menenggelamkan alat tangkap, kapal keruk proyek reklamasi juga menenggelamkan 1 unit kapal berukuran 14 berbobot 5 GT milik nelayan Bagan Deli.

Pelabuhan Belawan.

BELAWAN, SUMUTPOS.COProyek reklamasi BICT Pelabuhan Belawan yang dilakoni PT. Pelindo I Medan, terus disoal. Sebab selain pengusaha kapal, nelayan tradisional juga merasakan imbasnya.

Ini dinilai tak lepas dari lemahnya sosialisasi yang dilakukan pihak PT. Pelindo I. “Kami memang nggak pernah diajak duduk bersama, agar kami tau alur baru yang harus dilalui,” ungkap Sahlan, nelayan tradisional di Belawan, Rabu (5/7) siang.

Para nelayan yang tergabung dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Medan ini, menegaskan jika mereka sama sekali tidak diberi tahu tentang alur laut yang baru.

“Kami tak pernah diberitahu alur laut yang baru. Mungkin kelompok nelayan lain atau pengusaha ikan yang diberi tahu. Karena kami gak tahu, makanya para nelayan tetap saja mencari ikan di sekitaran alur laut yang biasa mereka mencari nafkah,” papar Rusli, Wakil Ketua HNSI Kota Medan.

Ketidaktahuan ini berakibat fatal bagi kelangsungan hidup para nelayan tradisional. Persis pada April 2017, 3 kapal berukuran 20 kaki dengan bobot 10 Gt milik nelayan yang sedang menabur jala disekitaran proyek reklamasi, di tabrak kapal keruk milik proyek reklamasi.

“Saat itu kami sedang menabur jala. Ada beberapa kapal disitu yang melakukan aktifitas yang sama. Tak lama kemudian, kapal keruk melintas tepat di aliran jala kami. Kami berusaha memperingatkan dengan menggunakan lampu emergency, namun kapal keruk itu tetap saja berlayar. Kami kemudian memberikan isarat dengan senter sambil berteriak untuk berhenti sejenak agar kami dapat mengangkat jala kami. Tapi mereka tidak memperdulikan dan terus saja melaju. Dan tak lama kemudian, 3 alat tangkap kapal ditabrak hingga karam. Sungguh terlalu mereka, gak memperdulikan nasib nelayan kecil,” ungkap Zul (40), salah seorang yang jadi korban kapal keruk proyek pemerintah tersebut.

Akibat peristiwa itu, alat tangkap pada masing masing kapal sebanyak 5 bal putus dan tenggelam kedasar laut. Kerugian para nelayan yang alat tangkapnya karam diperkirakan mencapai Rp30 jutaan.

“Kami bingung bang, mau nuntut kemana. Ke PT. Pelindo kata mereka itu tanggung jawab PT. Wijaya Karya. Kata orang Wika, itu masih tanggung jawab PT. Pelindo. Mereka saling buang badan. Kami gak tau harus bagaimana. Karena gak ada uang beli alat tangkap, terpaksa kami menumpang kapal kawan kawan untuk menyambung hidup. Kejam kali orang itu,” ujar Zul diamini rekan rekannya yang jadi korban.

Selain menenggelamkan alat tangkap, kapal keruk proyek reklamasi juga menenggelamkan 1 unit kapal berukuran 14 berbobot 5 GT milik nelayan Bagan Deli.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/