30 C
Medan
Sunday, October 20, 2024
spot_img

Teh PTPN IV akan Masuk Pasar Ritel

KEBUN TEH: Pekerja saat merawat tanaman teh milik kebun PTPN IV di Sidamanik, Siantar.

MEDAN, SUMUTPOS.CO-PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV semakin semangat menggenjot hasil produksinya. Kali ini, hasil produksi teh dari PTPN IV akan masuk pasar ritel.

 Sebab, dalam tahun ini PTPN IV akan melaunching penjualan teh dalam kemasan. Tercatat, saat ini varian rasa minuman teh dalam kemasan PTPN IV ada 2 macam, yakni Butong Tea dan Tobasari Tea. 

 “Board of Manajemen (BOM) PTPN IV merasa terpanggil untuk membangkitkan kembali keberadaan komoditi teh ini harus menghasilkan laba bagi perusahaan.  “Kebun teh PTPN IV harus bisa mandiri dan dapat melakukan penjualan secara ritel,” ujar Direktur PTPN IV, Sucipto Prayitno, Rabu (9/9/2020).

 Dikatakan Sucipto, added value teh dalam bentuk teh hijau maupun teh hitam pangsa pasar ritelnya cukup tinggi untuk produk teh kemasan (ready to drink).

  “Jenis bubuk atau celup masih diminati oleh masyarakat, sehingga perlu dilakukan terobosan pengembangan ritel teh dengan menjual teh secara eceran yang dikemas lebih menarik,” kata Sucipto optimis penuh semangat.

 Untuk mendongkrak penjualan, kata Sucipto, PTPN IV sudah membidik pasar ritel tradisional. Seperti, keluarga besar PTPN IV yang berjumlah sekitar 76.000 orang, belum termasuk karyawan purna bhakti ada sekitar 44.000 orang, kemudian akan bergerak ke pasar modern.

 Bukan tanpa alasan Sucipto begitu optimis akan perkembangan produksi PTPN IV. Sebab, kata dia, jika kita melirik budaya ‘ngeteh’ di Indonesia, sebenarnya tidak kalah pamor dengan budaya ‘ngopi’. Baik di rumah, di café dan di perkantoran. 

 “Kita bisa dengan mudah menemui masyarakat yang asyik menyeruput teh hangat atau menegak gelas-gelas es teh,” kata Sucipto lagi.

 Bahkan, lanjutnya, budaya ngeteh yang semakin menjadi trend belakangan ini atau istilah bahasa lifestyle, ngeteh deh, selesai masalah loe! “Teh adalah eksotik, teh adalah cantik, teh adalah sejuk dan menenangkan,” bilang Sucipto.

 Ia juga menyebutkan, jika ditelusuri lebih jauh lagi, Provinsi Sumatera Utara memiliki teh khasnya sendiri. Siapa yang tidak mengenal perkebunan teh Sidamanik, Bah Butong dan Tobasari milik PT Perkebunan Nusantara IV.

 Sucipto Prayitno mengatakan, perkebunan teh milik PTPN IV ini dengan luas areal Hak Guna Usaha (HGU) 6.373,29 hektare, yang sekaligus bukan hanya sebagai unit produksi saja.

 Tetapi, sudah sebagai heritage perkebunan dan merupakan kebanggaan masyarakat Provinsi Sumatera Utara, khususnya masyarakat di Kabupaten Simalungun dan menjadi salah satu tujuan objek wisata bagi masyarakat hingga kini.

 Kinerja operasional kebun teh PTPN IV sampai Agustus 2020 ini sudah melampaui 21,55% dibanding tahun lalu yang hanya 5.371 ton teh hitam.  “Hal ini karena kami telah melakukan perbaikan pemeliharaan tanaman dengan seri Gambung yang sudah mencapai 95%,” papar Sucipto.

 “Saat ini harga jual rata-ratanya memang belum menggembirakan, sebaiknya untuk menutupi harga pokok dan mendapat margin, korporasi akan melakukan diversifikasi produk dan penjualan secara ritel,” pungkas Sucipto

 Sementara itu, Kepala Bagian Sekretariat Perusahaan PTPN IV, Riza Fahlevi Naim mengatakan, sebagai pemain baru di tengah persaingan pasar yang ketat, PTPN IV akan fokus mendekat dengan konsumen.

 Bahkan, kata Riza, kebun Teh PTPN IV (Bah Butong, Sidamanik dan Tobasari) terletak di Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, memiliki potensi agrowisata cukup besar. “Bentangan alam tanaman teh yang sangat menarik serta asri untuk menjadi daerah tujuan wisata teh,” kata Riza lagi.

 Destinasi wisata ini juga, lanjut Riza, memiliki air terjun Bah Biak, instalasi pompa air peninggalan Belanda dari sumber mata air. Proses budidaya teh dan proses pengolahan teh, perumahan staf yang dibangun Belanda dapat dijadikan guest house. (ila/ram)

KEBUN TEH: Pekerja saat merawat tanaman teh milik kebun PTPN IV di Sidamanik, Siantar.

MEDAN, SUMUTPOS.CO-PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV semakin semangat menggenjot hasil produksinya. Kali ini, hasil produksi teh dari PTPN IV akan masuk pasar ritel.

 Sebab, dalam tahun ini PTPN IV akan melaunching penjualan teh dalam kemasan. Tercatat, saat ini varian rasa minuman teh dalam kemasan PTPN IV ada 2 macam, yakni Butong Tea dan Tobasari Tea. 

 “Board of Manajemen (BOM) PTPN IV merasa terpanggil untuk membangkitkan kembali keberadaan komoditi teh ini harus menghasilkan laba bagi perusahaan.  “Kebun teh PTPN IV harus bisa mandiri dan dapat melakukan penjualan secara ritel,” ujar Direktur PTPN IV, Sucipto Prayitno, Rabu (9/9/2020).

 Dikatakan Sucipto, added value teh dalam bentuk teh hijau maupun teh hitam pangsa pasar ritelnya cukup tinggi untuk produk teh kemasan (ready to drink).

  “Jenis bubuk atau celup masih diminati oleh masyarakat, sehingga perlu dilakukan terobosan pengembangan ritel teh dengan menjual teh secara eceran yang dikemas lebih menarik,” kata Sucipto optimis penuh semangat.

 Untuk mendongkrak penjualan, kata Sucipto, PTPN IV sudah membidik pasar ritel tradisional. Seperti, keluarga besar PTPN IV yang berjumlah sekitar 76.000 orang, belum termasuk karyawan purna bhakti ada sekitar 44.000 orang, kemudian akan bergerak ke pasar modern.

 Bukan tanpa alasan Sucipto begitu optimis akan perkembangan produksi PTPN IV. Sebab, kata dia, jika kita melirik budaya ‘ngeteh’ di Indonesia, sebenarnya tidak kalah pamor dengan budaya ‘ngopi’. Baik di rumah, di café dan di perkantoran. 

 “Kita bisa dengan mudah menemui masyarakat yang asyik menyeruput teh hangat atau menegak gelas-gelas es teh,” kata Sucipto lagi.

 Bahkan, lanjutnya, budaya ngeteh yang semakin menjadi trend belakangan ini atau istilah bahasa lifestyle, ngeteh deh, selesai masalah loe! “Teh adalah eksotik, teh adalah cantik, teh adalah sejuk dan menenangkan,” bilang Sucipto.

 Ia juga menyebutkan, jika ditelusuri lebih jauh lagi, Provinsi Sumatera Utara memiliki teh khasnya sendiri. Siapa yang tidak mengenal perkebunan teh Sidamanik, Bah Butong dan Tobasari milik PT Perkebunan Nusantara IV.

 Sucipto Prayitno mengatakan, perkebunan teh milik PTPN IV ini dengan luas areal Hak Guna Usaha (HGU) 6.373,29 hektare, yang sekaligus bukan hanya sebagai unit produksi saja.

 Tetapi, sudah sebagai heritage perkebunan dan merupakan kebanggaan masyarakat Provinsi Sumatera Utara, khususnya masyarakat di Kabupaten Simalungun dan menjadi salah satu tujuan objek wisata bagi masyarakat hingga kini.

 Kinerja operasional kebun teh PTPN IV sampai Agustus 2020 ini sudah melampaui 21,55% dibanding tahun lalu yang hanya 5.371 ton teh hitam.  “Hal ini karena kami telah melakukan perbaikan pemeliharaan tanaman dengan seri Gambung yang sudah mencapai 95%,” papar Sucipto.

 “Saat ini harga jual rata-ratanya memang belum menggembirakan, sebaiknya untuk menutupi harga pokok dan mendapat margin, korporasi akan melakukan diversifikasi produk dan penjualan secara ritel,” pungkas Sucipto

 Sementara itu, Kepala Bagian Sekretariat Perusahaan PTPN IV, Riza Fahlevi Naim mengatakan, sebagai pemain baru di tengah persaingan pasar yang ketat, PTPN IV akan fokus mendekat dengan konsumen.

 Bahkan, kata Riza, kebun Teh PTPN IV (Bah Butong, Sidamanik dan Tobasari) terletak di Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, memiliki potensi agrowisata cukup besar. “Bentangan alam tanaman teh yang sangat menarik serta asri untuk menjadi daerah tujuan wisata teh,” kata Riza lagi.

 Destinasi wisata ini juga, lanjut Riza, memiliki air terjun Bah Biak, instalasi pompa air peninggalan Belanda dari sumber mata air. Proses budidaya teh dan proses pengolahan teh, perumahan staf yang dibangun Belanda dapat dijadikan guest house. (ila/ram)

Artikel Terkait

spot_imgspot_imgspot_img

Terpopuler

Artikel Terbaru

/