25.6 C
Medan
Thursday, June 13, 2024

Barang Bekas Diolah Jadi Barang Bernilai

Evi Amroeni, Kepeduliannya Melatih Ibu-ibu Berkreatifitas

Tak semua orang dapat mengelola limbah sampah menjadi sesuatu bermanfaat dan menghasilkan uang. Lain halnya dengan Evi Amroeni (41). Sejak remaja, wanita serba bisa ini memiliki ketertarikan dan cerdas dalam mengelola barang-barang bekas. Bahkan, Evi tak segan-segan berbagi ilmu dengan para ibu-ibu yang ingin berkreatifitas.

Saat ditemui  di kediamannya di Jalan Pengabdian Gg Pulungan Dusun I Bandar Setia Kecamatan Percut Seituan, Evi terlihat tengah membereskan rumahnya. Terlihat sampah yang tidak terpakai lagi seperti kotak, kaleng susu, botol plastik, kain perca dan lainnya disusun rapi.  Maklum, rumah bercat putih itu akan direnovasi sebagai Yayasan Bait Al-Hikmah Lembaga Pendidikan Keterampilan Hidup (Life Skill) dan Gallery.

“Lagi beres-beres, karena saya ingin memperbesar rumah ini, supaya ibu-ibu yang mau ikut pelatihan lebih mudah belajar. Nantinya, hasil kerajinan tangan yang dibuat mereka akan dipajang di galery ini dan dipasarkan,” kata Evi yang memiliki tiga orang anak itu.

Yayasan Bait Al-Hikmah Lembaga Pendidikan Keterampilan Hidup (Life Skill) sendiri dibentuk oleh Evi atas inisiatifnya dan sang suami Prof.Amroeni Drajat pada 2005 lalu sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dengan dana independent.

‘’Yayasan milik saya ini akan tetap berjalan,” ujar Evi yang juga sebagai Ketua Ikatan Pembuat Hataran Kota Medan.

Evi mengaku, awalnya menyukai keterampilan karena ibunya. Setelah menikah pada 1994, Evi harus ikut suami ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan S2 nya. Di Jakarta kehidupan serba sulit dan mahal. Evi pun mulai berpikir membuka usaha sendiri dengan memanfaatkan skill yang dimilikinya.
“Dulunya ibu saya suka mengumpulkan barang-barang bekas terutama kain perca. Lalu barang-barang itu dibuat menjadi bunga, taplak meja dan barang lainnya. Karena hasilnya bagus kenapa tidak dikembangkan,” jelasnya.

Dari kreatifitas lalu menjadi usaha dan berkembang pesat. “Ternyata ibu-ibu di Jakarta menyukai baju dari kain perca buatan saya. Pesanan mulai banyak bukan dari luar kota saja namun sudah merambah ke negara tetangga,’’ ungkapnya.

Hanya 7 tahun Evi dan suami tinggal di Jakarta. Setelah itu, karena tugas sang suami sebagai dosen, memaksa mereka kembali ke Medan. Di Medan, Ketua Himpunan Perempuan Pendidik Kewirausahaan Deli Serdang ini berharap bisa membantu perekonomian para ibu-ibu yang ekonomi rendah. “Ada kepuasan tersendiri ketika memberi ilmu yang kita punya kepada mereka tanpa berharap balasan dalam bentuk apapun. Saya panggil mereka ke rumah untuk belajar, paling tidak mereka bisa mengatasi ekonomi dalam keluarganya,’’ujarnya.

Dirinya juga membuat pelatihan mengelola limbah sampah mahasiswa dan anak sekolah. “Mereka diajarkan membatik, menjahit, membuat souvenir dari barang bekas,’’sebutnya . (mag- 11)

Evi Amroeni, Kepeduliannya Melatih Ibu-ibu Berkreatifitas

Tak semua orang dapat mengelola limbah sampah menjadi sesuatu bermanfaat dan menghasilkan uang. Lain halnya dengan Evi Amroeni (41). Sejak remaja, wanita serba bisa ini memiliki ketertarikan dan cerdas dalam mengelola barang-barang bekas. Bahkan, Evi tak segan-segan berbagi ilmu dengan para ibu-ibu yang ingin berkreatifitas.

Saat ditemui  di kediamannya di Jalan Pengabdian Gg Pulungan Dusun I Bandar Setia Kecamatan Percut Seituan, Evi terlihat tengah membereskan rumahnya. Terlihat sampah yang tidak terpakai lagi seperti kotak, kaleng susu, botol plastik, kain perca dan lainnya disusun rapi.  Maklum, rumah bercat putih itu akan direnovasi sebagai Yayasan Bait Al-Hikmah Lembaga Pendidikan Keterampilan Hidup (Life Skill) dan Gallery.

“Lagi beres-beres, karena saya ingin memperbesar rumah ini, supaya ibu-ibu yang mau ikut pelatihan lebih mudah belajar. Nantinya, hasil kerajinan tangan yang dibuat mereka akan dipajang di galery ini dan dipasarkan,” kata Evi yang memiliki tiga orang anak itu.

Yayasan Bait Al-Hikmah Lembaga Pendidikan Keterampilan Hidup (Life Skill) sendiri dibentuk oleh Evi atas inisiatifnya dan sang suami Prof.Amroeni Drajat pada 2005 lalu sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dengan dana independent.

‘’Yayasan milik saya ini akan tetap berjalan,” ujar Evi yang juga sebagai Ketua Ikatan Pembuat Hataran Kota Medan.

Evi mengaku, awalnya menyukai keterampilan karena ibunya. Setelah menikah pada 1994, Evi harus ikut suami ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan S2 nya. Di Jakarta kehidupan serba sulit dan mahal. Evi pun mulai berpikir membuka usaha sendiri dengan memanfaatkan skill yang dimilikinya.
“Dulunya ibu saya suka mengumpulkan barang-barang bekas terutama kain perca. Lalu barang-barang itu dibuat menjadi bunga, taplak meja dan barang lainnya. Karena hasilnya bagus kenapa tidak dikembangkan,” jelasnya.

Dari kreatifitas lalu menjadi usaha dan berkembang pesat. “Ternyata ibu-ibu di Jakarta menyukai baju dari kain perca buatan saya. Pesanan mulai banyak bukan dari luar kota saja namun sudah merambah ke negara tetangga,’’ ungkapnya.

Hanya 7 tahun Evi dan suami tinggal di Jakarta. Setelah itu, karena tugas sang suami sebagai dosen, memaksa mereka kembali ke Medan. Di Medan, Ketua Himpunan Perempuan Pendidik Kewirausahaan Deli Serdang ini berharap bisa membantu perekonomian para ibu-ibu yang ekonomi rendah. “Ada kepuasan tersendiri ketika memberi ilmu yang kita punya kepada mereka tanpa berharap balasan dalam bentuk apapun. Saya panggil mereka ke rumah untuk belajar, paling tidak mereka bisa mengatasi ekonomi dalam keluarganya,’’ujarnya.

Dirinya juga membuat pelatihan mengelola limbah sampah mahasiswa dan anak sekolah. “Mereka diajarkan membatik, menjahit, membuat souvenir dari barang bekas,’’sebutnya . (mag- 11)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/