25.6 C
Medan
Thursday, June 13, 2024

Putri Angkat: Bapak Kasar, Sering Tampar Mamak

Foto : EKO HENDRIAWAN/METROSIANTAR/JPNN Keluarga almarhum Resna br Nainggolan, menangis sewaktu menyambut jenazah korban di rumah duka, Huta Ginjang, Kecamatan Hatonduhan, Simalungun, Sumut, Selasa (20/10).
Foto : EKO HENDRIAWAN/METROSIANTAR/JPNN
Keluarga almarhum Resna br Nainggolan, menangis sewaktu menyambut jenazah korban di rumah duka, Huta Ginjang, Kecamatan Hatonduhan, Simalungun, Sumut, Selasa (20/10).

SIMALUNGUN, SUMUTPOS.CO – Bripka ST Simanjuntak, yang menembak mati istrinya, Resna br Nainggolan, di bagian perut, pinggang, dan kepala, selama ini dikenal temperamental. Pengakuan anak angkatnya, Elin Suryani br Tampubolon (18), selama tinggal bersama ibu-bapaknya di Kecamatan Kepenuhan, Riau, ayahnya kerap menampar sang istri.

Elin menuturkan, sejak usianya satu tahun, dia diangkat pasangan ST Simanjuntak-Resna Nainggolan menjadi anak. Maklum, pasangan ini tidak dikaruniai anak.

”Namun sejak saya duduk di kelas 1 SMA, saya tinggal bersama mamak tuadi Huta Ginjang, Nagori Jawa Tonga 2, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun. Soalnya, selama ikut bapak dan ibu di Rohul, bapak sering emosi dan main tangan kepada ibu. Saya tak tahan,” kata gadis yang saat ini duduk di kursi kelas 3 SMA Negeri 1 Tanah Jawa.

Selama tinggal di kampung, biaya sekolahnya ditanggung mamak tuanya. Sesekali orangtua angkatnya mengirim sedikit uang untuk biaya keperluan lain-lain.

Saat keluarga mendengar kabar ibunya meninggal ditembak bapaknya, mereka sempat ingin berangkat ke Pekanbaru. Namun setelah diberitahu bahwa jenazah akan dikirim ke kampung, mereka pun memilih menunggu di rumah oppungnya di Huta Ginjang.

“Yang ngasih kabar itu bapak kandungku Bang. Kebetulan orang itu tinggal di Pekanbaru juga,” ungkap Elin sambil menitikkan air mata.

Elin mengatakan, komunikasi terakhir dengan ibunya terjadi pada Sabtu kemarin. Waktu itu, korban menanyakan kabar Elin sambil bercerita canda tawa. Kata Elin, setelah tamat sekolah nanti dia ingin menjadi seoarang pengusaha sukses, agar bisa membahagiakan ibunya.

“Selama hidupnya, mamak sayang sama aku. Tekadku bulat kalau tamat sekolah nanti aku akan membahagiakan ibu. Tapi itu semua tinggal kenangan,” sedihnya.

Foto : EKO HENDRIAWAN/METROSIANTAR/JPNN Keluarga almarhum Resna br Nainggolan, menangis sewaktu menyambut jenazah korban di rumah duka, Huta Ginjang, Kecamatan Hatonduhan, Simalungun, Sumut, Selasa (20/10).
Foto : EKO HENDRIAWAN/METROSIANTAR/JPNN
Keluarga almarhum Resna br Nainggolan, menangis sewaktu menyambut jenazah korban di rumah duka, Huta Ginjang, Kecamatan Hatonduhan, Simalungun, Sumut, Selasa (20/10).

SIMALUNGUN, SUMUTPOS.CO – Bripka ST Simanjuntak, yang menembak mati istrinya, Resna br Nainggolan, di bagian perut, pinggang, dan kepala, selama ini dikenal temperamental. Pengakuan anak angkatnya, Elin Suryani br Tampubolon (18), selama tinggal bersama ibu-bapaknya di Kecamatan Kepenuhan, Riau, ayahnya kerap menampar sang istri.

Elin menuturkan, sejak usianya satu tahun, dia diangkat pasangan ST Simanjuntak-Resna Nainggolan menjadi anak. Maklum, pasangan ini tidak dikaruniai anak.

”Namun sejak saya duduk di kelas 1 SMA, saya tinggal bersama mamak tuadi Huta Ginjang, Nagori Jawa Tonga 2, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun. Soalnya, selama ikut bapak dan ibu di Rohul, bapak sering emosi dan main tangan kepada ibu. Saya tak tahan,” kata gadis yang saat ini duduk di kursi kelas 3 SMA Negeri 1 Tanah Jawa.

Selama tinggal di kampung, biaya sekolahnya ditanggung mamak tuanya. Sesekali orangtua angkatnya mengirim sedikit uang untuk biaya keperluan lain-lain.

Saat keluarga mendengar kabar ibunya meninggal ditembak bapaknya, mereka sempat ingin berangkat ke Pekanbaru. Namun setelah diberitahu bahwa jenazah akan dikirim ke kampung, mereka pun memilih menunggu di rumah oppungnya di Huta Ginjang.

“Yang ngasih kabar itu bapak kandungku Bang. Kebetulan orang itu tinggal di Pekanbaru juga,” ungkap Elin sambil menitikkan air mata.

Elin mengatakan, komunikasi terakhir dengan ibunya terjadi pada Sabtu kemarin. Waktu itu, korban menanyakan kabar Elin sambil bercerita canda tawa. Kata Elin, setelah tamat sekolah nanti dia ingin menjadi seoarang pengusaha sukses, agar bisa membahagiakan ibunya.

“Selama hidupnya, mamak sayang sama aku. Tekadku bulat kalau tamat sekolah nanti aku akan membahagiakan ibu. Tapi itu semua tinggal kenangan,” sedihnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/