29 C
Medan
Friday, July 12, 2024

Pilih Cerai Sebelum Punya Anak

SUMUTPOS.CO – Diberi hati minta jantung. Kondisi itulah yang dihadapi Butet (25) saat harus melayani suaminya Tongat (27). Kelakuannya menjadi-jadi. Semuanya harus terpenuhi.

Tongat tak pernah mau mengerti perasaan istrinya. Dia seenak hatinya memperlakukan Butet. Perlakuannya kasar. Sampai menikah pun, dia selalu meminta ini dan itu dengan cara memaksa maupun membentak.

Kejelekan seseorang terkadang ditutup-tutupi saat pacaran. Tapi pas menikah, maka jelek dan buruknya seakan dibuka habis-habisan. Karena itu, Butet sungguh syok dengan sikap suaminya, yang baru dia nikahi sebulan.

Ia melihat suaminya cenderung otoriter dan semaunya sendiri.

Sebelum langkah berumah tangganya berlangsung lama dan semakin menyesal, Butet pun memutuskan untuk mengakhiri mahligai pernikahannya dengan menggugat cerai.

“Aku bener-bener kayak babu di matanya. Disuruh ini-itu. Iya kalau nyuruhnya sopan, aku ini malah dianggap kayak pembantu,” ungkap Butet di sela-sela pengajuan gugatan cerai.

Bersama pengacaranya, dia mencontohkan dengan detail sikap sok merintah sang suami. “Misalnya, dia suruh aku mengambilkan minuman. Eh, kalau lama dikit aja, aku sudah diumpat gak karuan. Kadang disuruh beli pulsa atau apapun yang dia inginkan, biar pun malam-malam ya tetap disuruh berangkat. Padahal, dia itu lho di rumah juga nggak ngapa-ngapain. Kok teganya, perempuan disuruh keluar malam-malam,” ungkap Butet.

Sebagai istri, Butet mengaku sebenarnya tidak pernah menolak disuruh apapun. Apalagi setelah menikah, dia harus mengalah tinggal di rumah mertuanya mengikuti sang suami yang tidak mau diajak hidup mandiri dengan mengontrak rumah sendiri. Padahal tinggal dengan mertua, justru sakit hatinya kian menjadi-jadi.

Bagaimana tidak, Tongat yang dekat dengan mamanya malah terlalu manja dan sering meminta dengan cara membentak-bentak. Bahkan terakhir yang membuat Butet bulat mengajukan gugatan cerai, ia mendapatkan perlakuan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Aku dilempar gelas dan dipukuli hanya karena nggak mau mengambilkan dia minum. Hayo, apa nggak kurang ajar suami kayak gitu. Mumpung aku belum punya anak, sebaiknya aku pisah saja daripada nanti anakku yang ganti jadi sasaran kegilaan dia,” kata Butet. Sementara itu, Tongat yang tahu jika istrinya mengajukan gugatan cerai menolak berpisah. Sebab sebelum memutuskan menikah, dia sudah pacaran dengan Butet cukup lama saat masih kuliah.

“Pacaranku itu sudah tiga tahun. Kayaknya istri minta cerai bukan karena aku manja atau suka suruh ini-itu, tapi mungkin dia malah ingin menikah lagi,” jelasnya.

Menurutnya, dirinya malah tidak pernah menyuruh-nyuruh sang istri. Karena di rumah juga ada pembantu. Namun, istrinya justru menawarkan untuk membantu atau mengambilkan ini-itu sehingga pembantu tidak lagi diberdayakan.

“Ada istri yang mau disuruh-suruh, buat apalagi pembantu,” kata pegawai bank swasta ini. (jpnn)

SUMUTPOS.CO – Diberi hati minta jantung. Kondisi itulah yang dihadapi Butet (25) saat harus melayani suaminya Tongat (27). Kelakuannya menjadi-jadi. Semuanya harus terpenuhi.

Tongat tak pernah mau mengerti perasaan istrinya. Dia seenak hatinya memperlakukan Butet. Perlakuannya kasar. Sampai menikah pun, dia selalu meminta ini dan itu dengan cara memaksa maupun membentak.

Kejelekan seseorang terkadang ditutup-tutupi saat pacaran. Tapi pas menikah, maka jelek dan buruknya seakan dibuka habis-habisan. Karena itu, Butet sungguh syok dengan sikap suaminya, yang baru dia nikahi sebulan.

Ia melihat suaminya cenderung otoriter dan semaunya sendiri.

Sebelum langkah berumah tangganya berlangsung lama dan semakin menyesal, Butet pun memutuskan untuk mengakhiri mahligai pernikahannya dengan menggugat cerai.

“Aku bener-bener kayak babu di matanya. Disuruh ini-itu. Iya kalau nyuruhnya sopan, aku ini malah dianggap kayak pembantu,” ungkap Butet di sela-sela pengajuan gugatan cerai.

Bersama pengacaranya, dia mencontohkan dengan detail sikap sok merintah sang suami. “Misalnya, dia suruh aku mengambilkan minuman. Eh, kalau lama dikit aja, aku sudah diumpat gak karuan. Kadang disuruh beli pulsa atau apapun yang dia inginkan, biar pun malam-malam ya tetap disuruh berangkat. Padahal, dia itu lho di rumah juga nggak ngapa-ngapain. Kok teganya, perempuan disuruh keluar malam-malam,” ungkap Butet.

Sebagai istri, Butet mengaku sebenarnya tidak pernah menolak disuruh apapun. Apalagi setelah menikah, dia harus mengalah tinggal di rumah mertuanya mengikuti sang suami yang tidak mau diajak hidup mandiri dengan mengontrak rumah sendiri. Padahal tinggal dengan mertua, justru sakit hatinya kian menjadi-jadi.

Bagaimana tidak, Tongat yang dekat dengan mamanya malah terlalu manja dan sering meminta dengan cara membentak-bentak. Bahkan terakhir yang membuat Butet bulat mengajukan gugatan cerai, ia mendapatkan perlakuan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Aku dilempar gelas dan dipukuli hanya karena nggak mau mengambilkan dia minum. Hayo, apa nggak kurang ajar suami kayak gitu. Mumpung aku belum punya anak, sebaiknya aku pisah saja daripada nanti anakku yang ganti jadi sasaran kegilaan dia,” kata Butet. Sementara itu, Tongat yang tahu jika istrinya mengajukan gugatan cerai menolak berpisah. Sebab sebelum memutuskan menikah, dia sudah pacaran dengan Butet cukup lama saat masih kuliah.

“Pacaranku itu sudah tiga tahun. Kayaknya istri minta cerai bukan karena aku manja atau suka suruh ini-itu, tapi mungkin dia malah ingin menikah lagi,” jelasnya.

Menurutnya, dirinya malah tidak pernah menyuruh-nyuruh sang istri. Karena di rumah juga ada pembantu. Namun, istrinya justru menawarkan untuk membantu atau mengambilkan ini-itu sehingga pembantu tidak lagi diberdayakan.

“Ada istri yang mau disuruh-suruh, buat apalagi pembantu,” kata pegawai bank swasta ini. (jpnn)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/