Datok Yan Djuna: Budaya Melayu Kaya Adab dan Marwah, Tercermin dalam Film Puteri Gunung Ledang

Konsulat Jenderal Malaysia di Medan menggelar Wacana Budaya dan Bahasa di Hotel JW Marriott Medan, pada 21 Mei lalu. Dalam kegiatan tersebut digelar penayangan film eksklusif berjudul Puteri Gunung Ledang atau Princess of Mount Ledang yang mengangkat legenda rakyat Melayu terkenal dari Johor, Malaysia.

Acara berlangsung hangat dan dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Melayu, pejabat Pemprovsu, budayawan, jurnalis, influencer hingga tokoh pemuda Melayu.

Kegiatan budaya itu dibuka Konsul Jenderal Malaysia di Medan Shahril Nizam Abdul Malek.

Para undangan sebagian besar memakai busana Melayu diajak menikmati karya perfilman yang sarat nilai sejarah, adat, budaya dan bahasa Melayu klasik. Penayangan film sendiri menjadi salah satu upaya mempererat hubungan budaya antara Indonesia dan Malaysia yang memiliki akar sejarah serumpun.

Turut hadir Tokoh Pemuda Melayu Datok Yan Djuna bersama pengurus Rumpun Budaya Melayu. Datok Yan Djuna yang juga dikenal sebagai penyiar Program Resam Melayu di RRI Pro4 FM serta dosen tamu pengampu Etika Budaya Melayu di sejumlah kampus mengaku sangat mengapresiasi penayangan film tersebut.

Menurutnya, Puteri Gunung Ledang merupakan film Melayu terbaik yang kaya akan nilai adab, etika dan marwah budaya Melayu. “Film ini sesungguhnya sudah lama tetapi tidak bosan diputar berulang kali. Saya sangat suka dengan dialognya yang penuh pepatah petitih Melayu yang tersusun indah,” kata Datok Yan Djuna kepada Sumut Pos di Medan, Senin (1/6).

Ia pun salut kepada penulis skenario dan para pemainnya karena begitu fasih melafalkan dialog Melayu yang kaya makna. Film ini menjadi referensi terbaik bagi masyarakat dunia yang ingin mengenal budaya Melayu lebih dekat meski juga menghadirkan tradisi Jawa yang juga bicara tentang adatnya sangat tinggi.

Film memadupadankan dua kebudayaan berbeda tapi satu dalam hal harga diri.

Bedanya dalam tradisi budaya Melayu dalam urusan tata krama yang tinggi dan penuh kelembutan. “Bahkan dalam menyindir maupun menyampaikan kemarahan menggunakan pantun serta pepatah yang santun,” sebutnya.

Datok Yan Djuna memuji akting para pemeran seperti Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Cok Simbara, Tiara Jacquelina sebagai Gusti Putri Gunung Ledang, M. Nasir sebagai Hang Tuah dan Adlin Aman Ramlie sebagai Sultan Mahmud Syah Malaka yang dinilai berhasil menghidupkan suasana Melayu klasik berpadu dengan tradisi Jawa dengan sangat kuat.

Film Puteri Gunung Ledang berkisah tentang legenda puteri sakti penghuni Gunung Ledang di Johor yang dipinang Sultan Melaka melalui Hang Tuah. Sang puteri kemudian mengajukan tujuh syarat mustahil sebagai bentuk penolakan.

Datok Yan Djuna menambahkan bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia sejatinya tidak hanya terjalin melalui perdagangan dan politik. Tetapi juga melalui ikatan bahasa, budaya dan persaudaraan Melayu yang telah ada sejak masa Kesultanan Malaka sejak masih disebut nusantara tanpa perlu passport.

Hingga kini, lanjutnya, hubungan dua negara tetap hidup di tengah masyarakat serumpun khususnya di sepanjang pantai timur pulau Sumatera. Termasuk Kota Medan yang akar budayanya Melayu. (dmp)

Konsulat Jenderal Malaysia di Medan menggelar Wacana Budaya dan Bahasa di Hotel JW Marriott Medan, pada 21 Mei lalu. Dalam kegiatan tersebut digelar penayangan film eksklusif berjudul Puteri Gunung Ledang atau Princess of Mount Ledang yang mengangkat legenda rakyat Melayu terkenal dari Johor, Malaysia.

Acara berlangsung hangat dan dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Melayu, pejabat Pemprovsu, budayawan, jurnalis, influencer hingga tokoh pemuda Melayu.

Kegiatan budaya itu dibuka Konsul Jenderal Malaysia di Medan Shahril Nizam Abdul Malek.

Para undangan sebagian besar memakai busana Melayu diajak menikmati karya perfilman yang sarat nilai sejarah, adat, budaya dan bahasa Melayu klasik. Penayangan film sendiri menjadi salah satu upaya mempererat hubungan budaya antara Indonesia dan Malaysia yang memiliki akar sejarah serumpun.

Turut hadir Tokoh Pemuda Melayu Datok Yan Djuna bersama pengurus Rumpun Budaya Melayu. Datok Yan Djuna yang juga dikenal sebagai penyiar Program Resam Melayu di RRI Pro4 FM serta dosen tamu pengampu Etika Budaya Melayu di sejumlah kampus mengaku sangat mengapresiasi penayangan film tersebut.

Menurutnya, Puteri Gunung Ledang merupakan film Melayu terbaik yang kaya akan nilai adab, etika dan marwah budaya Melayu. “Film ini sesungguhnya sudah lama tetapi tidak bosan diputar berulang kali. Saya sangat suka dengan dialognya yang penuh pepatah petitih Melayu yang tersusun indah,” kata Datok Yan Djuna kepada Sumut Pos di Medan, Senin (1/6).

Ia pun salut kepada penulis skenario dan para pemainnya karena begitu fasih melafalkan dialog Melayu yang kaya makna. Film ini menjadi referensi terbaik bagi masyarakat dunia yang ingin mengenal budaya Melayu lebih dekat meski juga menghadirkan tradisi Jawa yang juga bicara tentang adatnya sangat tinggi.

Film memadupadankan dua kebudayaan berbeda tapi satu dalam hal harga diri.

Bedanya dalam tradisi budaya Melayu dalam urusan tata krama yang tinggi dan penuh kelembutan. “Bahkan dalam menyindir maupun menyampaikan kemarahan menggunakan pantun serta pepatah yang santun,” sebutnya.

Datok Yan Djuna memuji akting para pemeran seperti Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Cok Simbara, Tiara Jacquelina sebagai Gusti Putri Gunung Ledang, M. Nasir sebagai Hang Tuah dan Adlin Aman Ramlie sebagai Sultan Mahmud Syah Malaka yang dinilai berhasil menghidupkan suasana Melayu klasik berpadu dengan tradisi Jawa dengan sangat kuat.

Film Puteri Gunung Ledang berkisah tentang legenda puteri sakti penghuni Gunung Ledang di Johor yang dipinang Sultan Melaka melalui Hang Tuah. Sang puteri kemudian mengajukan tujuh syarat mustahil sebagai bentuk penolakan.

Datok Yan Djuna menambahkan bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia sejatinya tidak hanya terjalin melalui perdagangan dan politik. Tetapi juga melalui ikatan bahasa, budaya dan persaudaraan Melayu yang telah ada sejak masa Kesultanan Malaka sejak masih disebut nusantara tanpa perlu passport.

Hingga kini, lanjutnya, hubungan dua negara tetap hidup di tengah masyarakat serumpun khususnya di sepanjang pantai timur pulau Sumatera. Termasuk Kota Medan yang akar budayanya Melayu. (dmp)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru