Tidak Sadarkan Diri dan Sempat Kejang, ABK Asal Aceh Timur Meninggal di Tengah Laut 

BANDA ACEH – Duka menyelimuti pelayaran KM Emirates GT 60 setelah seorang anak buah kapal (ABK) bernama Zulkifli Bendeh meninggal dunia saat kapal sedang beroperasi di kawasan penangkapan ikan di perairan Aceh. Respons cepat personel Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Lampulo memastikan proses evakuasi jenazah berjalan lancar hingga akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (22/6/2026) sekitar pukul 15.00 WIB saat KM Emirates GT 60 berada di area tuasan atau rumpon di koordinat 03°02’04” Lintang Utara dan 96°42’45” Bujur Timur. Saat itu, para awak kapal tengah beristirahat setelah melakukan aktivitas penangkapan ikan. Namun suasana di atas kapal mendadak berubah ketika Zulkifli, warga Kabupaten Aceh Timur, tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan.

Kepala Dinas Penerangan Komando Daerah Angkatan Laut I (Kodaeral I) Kolonel Wahyu Kurniawan, mengatakan korban mendadak tidak sadarkan diri dan sempat mengalami kejang.

“Korban diduga mengalami gangguan kesehatan saat kapal sedang beristirahat di area penangkapan ikan. Saat kejadian, korban tiba-tiba tidak sadarkan diri dan sempat mengalami kejang. Rekan sesama ABK segera memberikan pertolongan pertama, namun korban tidak dapat diselamatkan,” ujar Wahyu, Selasa (23/6/2026).

Para ABK berupaya memberikan pertolongan semaksimal mungkin, namun nyawa korban tidak tertolong. Informasi tersebut kemudian disampaikan kepada nahkoda kapal, Irwan, yang segera memutuskan menghentikan aktivitas melaut dan mengarahkan kapal kembali ke Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kuta Raja Lampulo, Banda Aceh.

Pada Senin malam, Posal Lampulo menerima informasi dari masyarakat nelayan mengenai adanya ABK yang meninggal dunia di atas kapal. Menindaklanjuti laporan tersebut, personel Posal Lampulo langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait guna mempersiapkan proses evakuasi.

“Begitu menerima informasi dari masyarakat nelayan, Posal Lampulo langsung berkoordinasi dengan instansi terkait agar proses penanganan dapat dilakukan secara cepat, tertib, dan sesuai prosedur yang berlaku,” kata Wahyu.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dari lokasi penangkapan ikan, KM Emirates GT 60 akhirnya bersandar di Dermaga PPS Kuta Raja Lampulo pada Selasa (23/6/2026) sekitar pukul 10.45 WIB. Personel Posal Lampulo bersama instansi terkait kemudian mengevakuasi jenazah korban sebelum diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Aceh Timur.

Wahyu menegaskan, langkah cepat yang dilakukan Posal Lampulo merupakan bagian dari tugas kemanusiaan TNI Angkatan Laut dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat maritim.

“Tindakan cepat dan terkoordinasi ini merupakan wujud nyata kepedulian TNI AL dalam menjalankan tugas kemanusiaan di wilayah kerja maritim. Kami berupaya memastikan setiap peristiwa di laut dapat ditangani secara profesional, humanis, dan sesuai dengan prosedur yang berlaku,” ujarnya. (san/ila)

BANDA ACEH – Duka menyelimuti pelayaran KM Emirates GT 60 setelah seorang anak buah kapal (ABK) bernama Zulkifli Bendeh meninggal dunia saat kapal sedang beroperasi di kawasan penangkapan ikan di perairan Aceh. Respons cepat personel Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Lampulo memastikan proses evakuasi jenazah berjalan lancar hingga akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (22/6/2026) sekitar pukul 15.00 WIB saat KM Emirates GT 60 berada di area tuasan atau rumpon di koordinat 03°02’04” Lintang Utara dan 96°42’45” Bujur Timur. Saat itu, para awak kapal tengah beristirahat setelah melakukan aktivitas penangkapan ikan. Namun suasana di atas kapal mendadak berubah ketika Zulkifli, warga Kabupaten Aceh Timur, tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan.

Kepala Dinas Penerangan Komando Daerah Angkatan Laut I (Kodaeral I) Kolonel Wahyu Kurniawan, mengatakan korban mendadak tidak sadarkan diri dan sempat mengalami kejang.

“Korban diduga mengalami gangguan kesehatan saat kapal sedang beristirahat di area penangkapan ikan. Saat kejadian, korban tiba-tiba tidak sadarkan diri dan sempat mengalami kejang. Rekan sesama ABK segera memberikan pertolongan pertama, namun korban tidak dapat diselamatkan,” ujar Wahyu, Selasa (23/6/2026).

Para ABK berupaya memberikan pertolongan semaksimal mungkin, namun nyawa korban tidak tertolong. Informasi tersebut kemudian disampaikan kepada nahkoda kapal, Irwan, yang segera memutuskan menghentikan aktivitas melaut dan mengarahkan kapal kembali ke Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kuta Raja Lampulo, Banda Aceh.

Pada Senin malam, Posal Lampulo menerima informasi dari masyarakat nelayan mengenai adanya ABK yang meninggal dunia di atas kapal. Menindaklanjuti laporan tersebut, personel Posal Lampulo langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait guna mempersiapkan proses evakuasi.

“Begitu menerima informasi dari masyarakat nelayan, Posal Lampulo langsung berkoordinasi dengan instansi terkait agar proses penanganan dapat dilakukan secara cepat, tertib, dan sesuai prosedur yang berlaku,” kata Wahyu.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dari lokasi penangkapan ikan, KM Emirates GT 60 akhirnya bersandar di Dermaga PPS Kuta Raja Lampulo pada Selasa (23/6/2026) sekitar pukul 10.45 WIB. Personel Posal Lampulo bersama instansi terkait kemudian mengevakuasi jenazah korban sebelum diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Aceh Timur.

Wahyu menegaskan, langkah cepat yang dilakukan Posal Lampulo merupakan bagian dari tugas kemanusiaan TNI Angkatan Laut dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat maritim.

“Tindakan cepat dan terkoordinasi ini merupakan wujud nyata kepedulian TNI AL dalam menjalankan tugas kemanusiaan di wilayah kerja maritim. Kami berupaya memastikan setiap peristiwa di laut dapat ditangani secara profesional, humanis, dan sesuai dengan prosedur yang berlaku,” ujarnya. (san/ila)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru