Home Blog Page 13209

MPW PP Sumut Bagikan Daging Sapi

SAKSIKAN: Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Sumatera Utara Anuar Shah SE menyaksikan pemotongan sapi.//mpw pp sumut for sumut pos
SAKSIKAN: Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Sumatera Utara Anuar Shah SE menyaksikan pemotongan sapi.//mpw pp sumut for sumut pos

MEDAN- Semangat menyambut bulan suci Ramadan harus dimiliki seluruh umat Muslim. Momen Ramadan dapat menjadi momentum untuk saling berbagi rezeki kepada orang-orang yang kurang memiliki keberuntungan dari segi ekonomi.

Hal tersebut dikatakan Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Sumatera Utara Anuar Shah SE didampingi Sekjen H Firdaus Nasution dan Bendahara, H Ali Madhy, Wakil Ketua Taufik Edi Zulkarnaini SE dan H Hardi Mulyono SE MAP dan Koordinator Pokja Humas H Idrus Djunaidi saat menghadiri pemotongan korban sapi di Kantor MPW PP Sumut, Jalan Thamrin, Kamis (19/7) lalu.

“Dengan kurban ini kita berharap dapat membantu saudara-saudara kader Pemuda Pancasila yang kurang mampu. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan ini dapat diikuti organisasi kepemudaan lainnya agar beban yang dihadapi saudara kita menjadi lebih ringan,” ujar Anuar Shah yang akrab disapa Aweng.

Sekjen MPW PP Sumut H Firdaus Nasution mengatakan, kegiatan pemotongan hewan kurban ini sudah menjadi agenda tahunan MPW PP Sumut sejak kepemimpinan Anuar Shah ‘Aweng’ yaitu saat jelang Ramadan, jelang Idul Fitri dan jelang Idul Adha.
Anuar Shah juga dalam kesempatan itu meminta para pengurus MPW PP Sumut khususnya yang beragama Islam dapat memanfaatkan bulan Ramadan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah lalu.

Pada waktu yang sama, pengurus MPW PP Sumut juga, melakukan donor darah ke PMI Sumut, seluruh kader Pemuda Pancasila mendonor darahnya ke PMI. Tampak Ketua MPW PP Sumut, Anuar Shah mengawali donor darah lalu diikuti kader PP lainnya.(ade)

Melek Internet di Yayasan Nur Hasanah

Binter Terbatas Infolahta Kodam I/BB

FOTO BERSAMA: Mewakili Yayasan SMP Nur Hasanah Drs Ishahuddin Sitorus MM diabadikan bersama Danramil 08/MJ-A Kapten Kav Azwar  jajaran Infolahta) Kodam I/BB usai acara.//istimewa/sumutpos
FOTO BERSAMA: Mewakili Yayasan SMP Nur Hasanah Drs Ishahuddin Sitorus MM diabadikan bersama Danramil 08/MJ-A Kapten Kav Azwar dan jajaran Infolahta) Kodam I/BB usai acara.//istimewa/sumutpos

INFORMASI dan Pengolahan Data (Infolahta) Kodam I/BB bersama Koramil 08/Medan JohorAmplas mengelar acara bertajuk Melek Internet di Yayasan Nur Hasanah Jalan Garu I, Kecamatan Medan Amplas, Kamis (12/7).
Mobil Pusat Pelayanan Internet Kecamatan (M-PLIK) yang hadir dalam acara ini membuat siswa SMP Nur Hasanah nampak gembira dan senang apalagi pelayanan yang diberikan juga memuaskan.

Penanggung Jawab Kepala Infolahtadam I/BB Kolonel Kav. Bambang Supardi SiP MM diwakili Kordinator Pelaksana Mayor Caj. Nani Nuraini  SE (K) bersama Tutor Kapten Chb Mariadi mengatakan, pelajaran internet bagi siswa SMP agar dapat mengenal fungsi internet. ‘’Tidak saja mengetahui game dan facebook saja. Namun banyak yang positif antara lain bisa mengakses mata pelajaran dan ilmu pengetahuan,’’ ujarnya.

Danramil 08/MJ-A Kapten Kav Azwar mengatakan, program Infolahtadam I/BB dapat membantu pemerintah dalam memperkenalkan tehnologi internet kepada siswa SMP. Menurut dia, kegiatan melek internet memperluas ilmu pengetahuan dan wawasan apalagi melalui program ini dapat menambahan pengetahuan yang diperoleh siswa di sekolahnya.

Drs Ishahuddin Sitorus MM, mewakili pengurus Yayasan Nur Hasanah mengucapkan terima kasih kepada Pangdam I/BB Mayjen TNI Lodewijk F Paulus, Infolahta Kodam I/BB dan Koramil 08/Medan Johor Amplas. Ia menyebut kegiatan ini membantu memperkenalkan layanan internet kepada 160 siswa Yayasan SMP Nur Hasanah
“Semoga harapan kita bersama terwujud dengan kegiatan ini. Juga memberikan peluang agar dengan menggunakan internet, banyak yang dapat diambil sebagai sumber ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan,” ujarnya. (*/dmp)

Selama Ramadan Uang Palsu Marak Lagi

TERSANGKA UPAL: Tiga orang tersangka pelaku pengedar uang palsu ditangkap petugas Polres Deliserdang, saat berusaha mengedarkan uang palsu,  masyarakat  modus membelanjakannya  pasar-pasar tradisional.//Batara/sumut os
TERSANGKA UPAL: Tiga orang tersangka pelaku pengedar uang palsu ditangkap petugas Polres Deliserdang, saat berusaha mengedarkan uang palsu, pada masyarakat dengan modus membelanjakannya di pasar-pasar tradisional.//Batara/sumut os

JAKARTA-Tradisi kejahatan tahunan di bulan Ramadan jelang lebaran kambuh lagi. Sindikat pengedar uang palsu mulai beraksi. Tiga diantaranya sudah tertangkap di Temanggung Jawa Tengah Senin lalu. Polri mengingatkan warga waspada.

“Kita adakan operasi terpadu bersama dengan Bank Indonesia,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar di kantornya kemarin (23/07). Biasanya, uang palsu beredar di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan tradisional yang tidak dilengkapi alat deteksi yang canggih.

Polri meminta pedagang melengkapi tokonya dengan scanner atau alat pengecek sejenis. “Jika tak memungkinkan bisa dideteksi dengan cara tradisional seperti dilihat, dipegang, dan diterawang,” kata mantan Kapolres Pasuruan Jawa Timur itu.
Beberapa modus yang sering digunakan misalnya  menawarkan menukar uang palsu dengan uang asli ditambah imbalan tertentu. Misalnya uang palsu senilai Rp1 juta cukup dibeli dengan Rp500 ribu. “Itu harus ditolak tegas,”katanya.

Selain itu ada juga modus menitipkan uang di depan mesin ATM dan meminta bantuan transfer dengan alasan darurat. “Jika tidak yakin ditolak saja, karena bisa jadi uang cash yang diberikan sebagai pengganti itu palsu,” tambah Boy. Pelaku bisa dijerat Pasal 254 KUHP tentang pengedaran uang palsu dan diancam hukuman 15 tahun penjara.

Secara terpisah, Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya Kombes Agung Budi Maryoto menjelaskan anggotanya sudah bergerak ke pasar-pasar tradisional di seluruh DKI Jakarta. “Kita beri sosialisasi, terutama pada pedagang-pedagang yang tidak punya alat canggih,” katanya.

Selain uang palsu, di Jakarta setiap jelang lebaran selalu marak pencurian dengan sasaran rumah kosong. “Ini yang harus diingat warga yang hendak pulang kampung atau menjalankan ibadah di luar rumah pada malam hari,” katanya.
Berdasarkan catatan Polda Metro Jaya, ada 47 lokasi rawan kejahatan selama bulan Ramadan. Di antaranya lima lokasi di Kota Tangerang, 10 lokasi di wilayah Polres Jakarta Barat, lima lokasi di Jakarta Selatan, dan tiga lokasi di Depok.

Selain itu, terdapat enam lokasi di Jakarta Pusat, dua lokasi di Kabupaten Bekasi, satu lokasi di Kota Bekasi, tujuh lokasi di Jakarta Timur, dan delapan lokasi di Jakarta Utara.(rdl/jpnn)

SMP Negeri di Jalan Platina V Terjorok dan Paling Jelek

082165267xxx
Kepada Yth Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan. Saya orangtua siswa SMP Negeri di Jalan Platina V Kelurahan Titi Papan Kecamatan Medan Deli. Saya lihat sudah hampir dua tahun ini gedung sekolahnya tidak pernah dicat. Apakah Dana BOS tidak dapat dipergunakan untuk itu? Saya malu melihatnya, karena sekolah ini merupakan sekolah paling jelek dan paling jorok di Kota Medan.

Tolong jelaskan Pak, apakah ini kerakusan Kasek atau pihak dinas yang tak pernah memantaunya? Selain itu, siswa baru juga diwajibkan membayar Rp125 ribu per siswa, katanya untuk penambahan mobiler. Tolong ditanggapi Pak. Kalau tidak, kami orangtua siswa sudah sepakat untuk unjuk rasa ke Kantor Wali Kota Medan. Terima kasih.

Dana BOS untuk Kebutuhan Mendesak
Terima kasih atas laporannya. Untuk hal ini saya jelaskan, Dana BOS tidak boleh digunakan untuk mengecat gedung sekolah. Kecuali, kebutuhan tersebut sangat mendesak. Sebaiknya hal ini dapat dibicarakan di tingkat komite sekolah dengan orangtua siswa. Mengenai pungutan Rp125 ribu tersebut, apakah sudah ada persetujuan dari pihak sekolah dalam hal ini komite sekolah dan orangtua siswa? Sebaiknya orangtua siswa menanyakan hal tersebut ke pihak sekolah.

M Rajab Lubis
Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan

Kasus Luna-Tari Cukup Bukti

Penilaian Hakim Ariel

JAKARTA – Pro kontra penanganan kasus Cut Tari dan Luna Maya terus berlanjut. Syahrul Mahmud, salah satu majelis hakim yang memvonis Ariel  angkat bicara terkait kasus yang masih membelit Luna Maya dan Cut Tari. Syahrul tak sepakat dengan penyidik Mabes Polri yang mengaku sulit menemukan bukti untuk melengkapi kasus ini. ”Bisa merujuk pada persidangan Ariel, bukti video saja sudah cukup,” katanya pada Jawa Pos kemarin.

Apalagi, dalam persidangan Ariel pada 2010 lalu juga sudah melakukan uji materiil terhadap keabsahan video porno yang dibuatnya. Hasilnya, video yang beredar luas pada Juni 2010 itu benar dan bukan rekayasa. Oleh sebab itu, cukup beralasan bagi Syahrul Mahmud Cs saat itu untuk menjatuhkan hukuman 3 tahun 6 bulan dengan denda Rp 250 juta pada Ariel.

Meski mengaku yakin kalau bukti video cukup untuk mengganjar Cut Tari dan Luna Maya, dia mengatakan tidak punya wewenang untuk mencampuri aparat. Apalagi, kalau sampai menyebut siapa yang layak duduk dikursi pesakitan pengadilan.”Ya itu pendapat pribadi saja, silahkan polisi yang menangani,” katanya.

Secara terpisah, Jaksa Agung Basrif Arief menjelaskan jaksa tak kunjung meneruskan kasus ini ke pengadilan karena kurang alat bukti. “Kalau cukup buktinya kita siap, yang penting itu,” katanya.
Jaksa peneliti telah memberikan petunjuk-petunjuk pada penyidik Polri yang menangani kasus ini.”Silahkan tanyakan ke mereka,” kata Basrif.

Polisi sendiri masih berusaha melengkapi petunjuk jaksa.”Saat ini masih diupayakan terus menerus,” ujar Karopenmas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar kemarin. Boy membenarkan salah satu kesulitan penyidik adalah menemukan lokasi pembuatan video. Sebab, para tersangka mengaku lupa. “Ini yang menjadi fokus, karena untuk rangkaian tuntutan,” jelasnya.
Dia menambahkan dalam waktu dekat penyidik Bareskrim akan melakukan gelar perkara untuk kasus ini.  (dim/rdl/jpnn)

Proyek Drainase tak Ada Plang Proyek

085361311xxx
Mohon perhatian dari semua pihak terkait. Ada proyek siluman di Jalan Selamat Pulau Lingkungan 6 Kelurahan Sitirejo 3 Kecamatan Medan Amplas. Soalnya proyek pemerataan drainase yang sedang berjalan tidak dilengkapi dengan plang proyek.
Selain itu pengerjaannya juga terkesan asal-asalan. Ada beberapa titik yang terlihat sengaja dilewati dan tidak dilakukan penggalian.

Hal ini terjadi akibat kurangnya pengawasan dari pihak mandor terhadap pekerja. Hal yang paling mendasar adalah karena tidak adanya plang proyek yang terpasang di kawasan tempat berlangsungnya proyek tersebut.
Akibatnya, proyek ini hanya akan jadi ajang pesta dan kepentingan sekelompok orang saja dan jadinya hanya mubazir tanpa ada manfaatnya bagi masyarakat sekitar. Terima kasih.

Dikoordinasikan ke Dinas PU Kota Medan
Terima kasih atas laporannya. Untuk masalah ini kami akan mengkoordinasikannya terhadap dinas terkait dalam hal ini Dinas PU Kota Medan.
Kita juga akan melakukan pantauan terkait laporan warga mengenai hal ini.

Emir mahbob Lubis
Camat Medan Amplas

Perempuan dan Logika Androgini

Oleh:Misbahul Ulum

Kemunculan sederet nama politisi perempuan yang belakangan disebut-sebut bakal meramaikan bursa calon presiden 2014 tentu memberikan tanda-tanda yang cukup menggembirakan. Dunia politik yang selama ini dianggap tak pantas bagi kaum perempuan ternyata telah memberikan ruang bagi perempuan untuk melakukan aktualisasi diri.

Namun, ditengah upaya penyetaraan perempuan dalam wilayah publik ini, ternyata masih ada anggapan sebagian besar masyarakat yang menilai bahwa perempuan hanyalah “Kanca Wingking” semata.

Bahkan, ungkapan “Suwarga Nunut, Neraka Katut” (ke surga menumpang, ke neraka ikut) juga masih tertanam kuat di masyarakat. Akibatnya, muncul relasi yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan. Baik dalam wilayah domestik maupun wilyah publik, baik sewaktu masih kanak-kanak maupun ketika menginjak dewasa.

Relasi yang timpang ini terjadi misalnya saat seseorang memiliki anak laki-laki atu perempuan. Biasanya anak laki-laki akan diberikan permainan yang bersifat mekanik, seperti pistol-pistolan atau mobil-mobilan. Sedangkan anak perempuan diberikan permainan yang bersifat kerumahtanggaan, seperti boneka, alat-alat dapur dan alat-alat rumah tangga lainnya.

Ketika menginjak dewasa, anak laki-laki juga cenderung memiliki kebebasan berekspresi yang jauh lebih luas. Anak perempuan hanya diberikan kebebasan berekspresi dalam dunia rumah tangga saja. Tidak hanya itu, dikotomi antara perempuan dan laki-laki ini juga terjadi dalam ranah dunia kerja dan bidang sosial lainnya.

Pemahaman Parsial
Dalam kultur masyarakat patriarki (dominasi laki-laki), aktivitas perempuan yang keluar dari kebiasaan masyarakat memang selalu menuai pertentangan. Keterlibatan perempuan dalam wilayah publik seolah adalah hal yang tabu. Mereka  hanya diterima dalam ruang domestik saja. Seolah perempuan yang ikut andil dalam wilayah publik adalah sosok perempuan yang “kurang nerima” atau perempuan penentang ideologi familialisme.

Penolakan sebagian masyarakat atas keterlibatan perempuan dalam wilayah publik ini, umunya disebabkan oleh pemahaman tentang maskulinitas dan feminitas yang sangat parsial. Perempuan selalu dituntut untuk menonjolkan sisi feminitasnya secara mutlak dan sempurna, ia harus memiliki sifat merawat, memelihara, serta bertanggung jawab terhadap rumah tangga dan keluarga.
Laki-laki juga demikian. Ia dituntut untuk menonjolkan sifat maskulin secara sempurna. Ia harus mandiri, tidak boleh cengeng dan harus menjadi penentu segala keputusan dalam rumah tangga.

Bukan bermaksud menyalahkan, akan tetapi pemahaman seperti ini lambat laun tentu hanya akan mengakibatkan jurang pemisah yang kian tajam antara laki-laki dan perempuan. Kehadiran perempuan dalam wilayah publik selamanya akan ditentang oleh masyarakat.
Perempuan selalu diidentikkan dengan urusan kerumahtanggaan dengan sifat khas feminitasnya saja, semisal memasak, mencuci, mengurus anak dan bersih-bersih rumah.

Dalam konteks yang lebih luas, pemahaman ini juga akan berdampak pada relasi antara perempuan dan laki-laki dalam struktur sosial. Akhirnya, muncul anggapan yang pantas menjadi pemimpin (kepala negara, kepala daerah serta pimpinan organisasi) adalah kaum laki-laki. Sebab laki-laki-lah yang dianggap mampu mengemban tugas sebagai pemimpin. Perempuan tidak memiliki kesempatan untuk duduk bersama laki-laki dalam ruang publik.

Namun, jika melihat tuntutan dunia yang kian beragam, tentu logika semacam ini tidak relevan lagi untuk selalu dipertahankan. Terlebih dengan munculnya berbagai wacana penyetaraan gender serta lahirnya perempuan-perempuan tangguh dan memiliki prestasi cemerlang dalam wilayah publik. Untuk itu, perlu dilakukan pembangunan logika yang seimbang antara laki-laki dan perempuan (androgini).

Logika Androgini
Androgini adalah istilah yang sering digunakan untuk menunjuk pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin pada saat yang bersamaan. Yakni sebuah sifat dimana feminitas dan maskulinitas menonjol secara baik pada diri seseorang. Seorang individu disebut memiliki sifat androgini manakala dalam dirinya terdapat sifat feminin dan maskulin sekaligus.

Kaplan dan Bean (1976) mengatakan, androgini mampu melakukan integrasi sifat-sifat feminin dan maskulin secara bersamaan. Misalnya, tegas dan menyerah, dependen dan independen, ekspresif dan instrumental.

Semuanya berjalan secara beriringan. Penerapan logika androgini dalam konteks kekinian tentu menjadi penting, mengingat tuntutan kerja dan kebutuhan manusia yang selalu berkembang. Disamping itu, logika androgini juga mampu menyeimbangkan sifat pada diri seseorang. Sebab, jika seseorang memiliki sifat feminim terlalu tinggi, maka akan menyebabkan dependensi (ketergantungan) yang tinggi dan cenderung tidak punya kepercayaan diri. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang memiliki sifat maskulin terlalu tinggi, dapat menyebabkan kesombongan dan eksploitasi terhadap orang lain.

Pada titik inilah androgini menjadi penting. Androgini akan menghasilkan sikap-sikap yang positif. Yakni melahirkan sosok manusia yang tidak hanya rasional, tetapi juga pengertian terhadap orang lain. Bukan hanya pintar dalam menciptakan sesuatu yang baru (inovasi), tetapi juga pintar memelihara dan merawatnya.

Androgini berusaha memberikan jembatan agar feminitas dan maskulinitas pada diri seseorang dapat berfungsi secara sehat, efektif dan berjalan dalam keadaan seimbang. Logika ini menghendaki terbukanya sisi-sisi maskulinitas dan feminitas pada diri seseorang dalam waktu yang bersamaan.

Tentu tidak menjadi suatu masalah apabila laki-laki mengerjakaan urusan domestik seperti memasak, mencuci pakian dan melakukan aktivitas rumah tangga lainnya. Dan perempuan melakukan aktualisasi diri dalam wilayah publik.

Saat ini, yang paling penting adalah bimbingan dan pengertian, bahwa berbagai pekerjaan dan peran yang melekat pada laki-laki maupun perempuan adalah sarana untuk melatih sifat kemandirian mereka secara wajar dan seimbang. Bukan untuk mengaburkan kenyataan akan jenis kelamin mereka yang berbeda.

Sudah saatnya perempuan terbebas dari belenggu dan paradigma kolot yang hanya membuat perempuan semakin “minder” dengan laki-laki. Pada gilirannya nanti, kemunculan perempuan dalam wilayah publik tak lagi menulai pertentangan. Perempuan juga memiliki peluang sama dengan laki-laki, baik dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan dan bidang-bidang lainnya. Wallahu a’lam bi al-shawab

Penulis : Ketua GPN Cabang Rembang, Pegiat Kajian Islam dan Feminisme IAIN Walisongo Semarang Jawa Tengah.

Kenapa tak Ada Tong Sampah di Jalan Kompos?

081265989xxx
Pak Wali Kota Medan Yth. Kami warga Medan tepatnya di Jalan Kompos Km 12, mulai dari Pasar Kampung Lalang sampai Km 16 tidak ada tong sampah. Sampah jadi berserakan di pinggir jalan. Dulu ada tong sampah tapi sebentar saja, tidak ada lagi. Tolong Pak disediakan tempat sampah biar Medan jadi kota yang bebas sampah. Makasih.

Akan Segera Ditindaklanjuti
Terima kasih atas informasinya. Laporan ini akan segera kami koordinasikan ke dinas terkait, dalam hal ini Dinas Kebersihan Kota Medan. Kami juga akan meneruskan pemberitahuan ini ke pihak Muspika setempat agar ada tindak lanjutnya.

Budi Haryono
Kabag Humas Pemko Medan

Ketabahan Tempe

Ramadhan Batubara

Kata Sapardi Djoko Damono: Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Ya, sebuah lirik sajak yang bermakna dalam bukan?

Terserahla, soal tabah, mengingatkan saya dengan perajin tempe beberapa waktu belakangan ini. Bagaimana tidak, harga bahan baku tempe, kedelai, sudah tak terkendali. perajin tempe dan tahu menjerit, margin antara modal dan harga jual cukup tipis. Mereka pun terancam gulung tikar.

Tapi, demi konsumen, mereka rela berpikir ulang. Mereka pun berusaha mencari solusi agar warga tetap bisa menikmati tempe hasil buatan mereka tanpa kenaikan harga. Hasilnya, harga tetap standar. Mereka hanya mengurangi produksi hingga mengurangi ukuran tempenya. Fiuh.

Kenyataan ini membuat saya berpikir, benarkah hukum ekonomi tidak berlangsung pada kehidupan ‘pertempean’ dan ‘pertahuan’? Harusnya, ketika harga bahan baku naik, mereka sudah harus menaikan harga kan? Setidaknya, seperti kata hukum ekonomi, turunnya penawaran akan menaikan harga jual. Nah, kenapa mereka tidak menaikan harga? bukankah dengan mengurangi produksi akan membuat stok tempe juga akan berkurang. Maksudnya, ketika satu perajin tempe mengurangi produksi sebanyak 250 kg per harinya, maka pasar akan kekurangan stok seperti biasanya. Dengan begitu, tempe akan langka sementara permintaan tetap. Nah, bukankah itu kesempatan menaikan harga?

“Tidak mungkin menaikkan harga jual di pasar karena itu sama saja ‘bunuh diri’ mengingat pembuatan tempe pekerjaan tetap. Mau makan apa keluarga, apalagi mau Hari Raya,” begitu kata seorang perajin tempe di Medan.

Jawaban perajin ini sempat membuat saya miris. Saya merasa perajin tempe begitu tertekan. Satu sisi mereka harus melawan harga bahan baku yang meningkat, di sisi lain mereka dibayangi ketakutan akan kehilangan konsumen. Di dua sisi itu, para perajin sama sekati tidak punya peran; mereka adalah korban. Soal harga bahan baku, tentunya perajin hanya berharap pada pemerintah sebagai pengontrol harga bukan? Soal konsumen lari, apa yang bisa perajin lakukan?

Ada apa? Apakah perajin tidak yakin kalau tempe sudah menjadi makanan penting? Lihatlah, harga daging yang melonjak tajam saja konsumen tidak peduli; tetap saja membeli.

Kata seorang kawan, daging bisa tertolong dalam memainkan harga karena terkait dengan momen tertentu. Misalnya saat ini warga di hadapkan pada Ramadan dan Lebaran yang identik dengan daging. Nah, bagaimana dengan tempe? Adakah momen yang bisa membuat harga tempe ‘sesuka hati’? Selama ini tempe hanya dianggap sebagai makanan pelengkap. Dengan kata lain, meski banyak yang suka, tempe belum mencapai tataran sangat dibutuhkan. Jadi, ketika harganya naik, ya, tinggalkan saja. Bah!
Nasibmu tempe…. (*)

Pengerjaan Parit di Jalan Pintu Air 4 Asal-asalan

081375413xxx
Wali Kota Medan Yth. Kami warga Jalan Pintu Air 4 Gang Kolam Jaka sangat terganggu dengan pengerjaan parit yang tak kunjung selesai dan pengerjaan terkesan asal-asalan. Sehingga kalau hujan turun jalan tidak bisa dilewati. Tolong pemborong diberikan teguran keras dan agar tanah galian yang di jalan diangkat. Mohon direspon segera, atas perhatian dari Pak Wali Kota Medan, kami ucapkan terima kasih.

Akan Diteruskan
Terima kasih atas informasinya. Kami akan teruskan hal ini ke pihak terkait, dalam hal ini Dinas PU atau Perkim Kota Medan. Untuk tindakan awal, kami akan melakukan pengecekan, apakah hal ini harus ditindaklanjuti oleh pihak Dinas PU Kota Medan atau Dinas Perkim Kota Medan.

Budi Haryono, Kabag Humas Pemko Medan