Home Blog Page 13319

800 Peserta Berebut Masuk PPs Unimed

MEDAN-Sebanyak 800 peserta bersaing untuk perebutkan kuota 400 kursi masuk Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Medan (Unimed). Seluruh peserta tersebut telah menjalani tes masuk Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Medan (Unimed), yang berlangsung di aula kampus Unimed, Sabtu (23/6) kemarin.

Hal ini disampaikan Direktur PPs Unimed Prof. Dr Belferik Manulang, didampingi Humas Unimed, Tappil Rambe saat dikonfirmasi, Senin (25/6). “Kuota yang akan diterima yakni untuk 11 program studi dengan rincian 10 untuk Program Strata-2 (S-2) dan satu Program S-3 Manajemen Pendidikan, untuk 400 orang,”sebutnya. Belferik juga mengakui, terjadi peningkatan terhadap minat peserta tahun ini dibanding tahun sebelumnya atau 2011 lalu, dengan jumlah pendaftar sekitar 600 peserta.(uma)

114 Polisi Positif Narkoba, 1 Dipecat

Lidah Seorang Bripka Menjulur saat Dibina

MEDAN-“Siapa di antara kalian yang tidak mau jadi polisi lagi?” tanya Kapoldasu, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, dengan wajah ketat, di hadapan 114 personel polisi yang terbukti positif mengonsumsi narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang), Senin (25/6) kemarin. Pertanyaan itu diulangnya sampai tiga kali.

Sebanyak 114 personel polisi yang menjalani pembinaan di gedung SPN (Sekolah Polisi Negara) Sampali itu, langsung menjawab: “Siap Pak, kami masih mau jadi polisi!”

“Kalau masih mau jadi polisi, tolong kalian berubah. Jangan kalian kotori institusi ini lagi,” kata Wisjnu mengingatkan.

Ke-114 personil polisi yang bertugas di 12 polres di jajaran Polda Sumut itu, terbukti positif mengonsumsi narkoba, lewat tes urine secara acak dan mendadak yang dilakukan Poldasu di 12 Polres di Jajaran Polda Sumut.

“Kami sengaja melakukan tes urine secara acak dan mendadak. Dari 12 Polres, ada 114 personel yang positif menggunakan narkoba,” terang Wisjnu kepada wartawan.

Selain memberi pembinaan, Wisjnu juga siap mengambil langkah tegas jika ada personel yang terbukti menjadi pengedar ataupun bandar narkoba. “Kalau mereka pemakai, akan dibina. Kalau terbukti sebagai bandar ataupun pengedar, akan diproses ke pengadilan,” tegasnya.

Pantauan Sumut Pos, tingkah-tingkah aneh diperlihatkan personel polisi yang terbukti positif menggunakan narkoba itu, saat menjalani serangkaian pembinaan. Bahkan ada satu personel polisi yang ‘salah tingkah’. Lidahnya menjulur saat disuruh menandatangani sejumlah berkas.
Data dihimpun Sumut Pos, dari 12 Polres yang dilakukan tes urine mendadak dan secara acak, Polres Tanjungbalai penyumbang terbanyak. Tercatat 20 personel yang tugas di Polres Tanjungbalai positif mengonsumsi narkoba.

Di urutan kedua Polres Labuhanbatu ada 19 personel, Polres Nias 17 personel, Polres Tapsel 10 personel, Polres Deliserdang, dan Polres Sibolga masing-masing ada 9 personel yang positif menggunakan narkoba.

Kemudian di Polres Binjai dan Polres Langkat, masing-masing ada 8 personel yang positif mengkonsumsi narkoba. Polres Belawan 5 personel, Polres Sergai 4 personel, Polres Siantar 3 personel, dan Polres Tebingtinggi 2 personel.

Kapolda berharap selama pembinaan ini, personel polisi yang positif menggunakan narkoba bisa berubah dan tidak lagi mengonsumsi narkoba. “Mudah-mudahan dengan pembinaan ini, mereka bisa berubah untuk menjalani tugas mereka sebagai pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat,” sebut Wisjnu.

Dikatakan Wisjnu, masalah narkoba bukan hanya masalah kepolisian saja, tapi juga masalah bersama. “Narkoba kini menjadi masalah kita bersama. Bbahkan narkoba saat ini sudah masuk hingga ke desa-desa,” ujarnya.

Personel Polres Sibolga Dipecat

Kabid Humas Poldasu, Kombes Pol Raden Heru Prakoso mengatakan, satu dari 114 polisi yang terlibat bakal dipecat. Dia adalah Bripka Faizal Simamora, yang bertugas di Polres Sibolga. “Faizal sudah divonis 6 bulan, karena kasus narkoba. Kemudian ia juga kedapatan mengantongi sabu-sabu, dan dari dalam rumahnya petugas menemukan bong. Dia akan dipecat,” sebut Heru.

Kepala Biro Sumber Daya Manusia (Karo SDM) Poldasu, Kombes Pol Cahyono Prawoto, sebagai pemateri dalam pembinaan itu mengatakan, dari 114 yang mengikuti pembinaan, ada 16 polisi yang masih memakai narkoba seminggu yang lalu.

“Dari 114, ada 16 Polisi yang seminggu lalu masih mengonsumsi narkoba,” ujar Cahyono.

Pantauan Sumut Pos, Cahyono juga sempat menyuruh seorang polisi untuk push-up, karena ‘menguap’ saat Cahyono memberi materi pembinaan. “Push-up kamu. Saya bicara, kamu menguap,” perintahnya.

Seorang personel polisi berpangkat Briptu yang tugas di Polres Langkat saat ditanya reporter Sumut Pos terus terang mengatakan, dirinya selalu mengonsumsi sabu-sabu. “Biasanya kalau mengonsumsi sabu, saya sendirian,” ujarnya.

Selama di gedung SPN Sampali ini, ke 114 personel akan mengikuti serangkaian pembinaan, termasuk menjalani penggundulan rambut. Personel yang positif mengonsumsi narkoba ini akan mengikuti pembinaan di SPN Sampali hingga 29 Juni mendatang. (mag-12)

Wanita Muda Tewas Terpanggang

38 Rumah Terbakar di Belawan

BELAWAN- Kebakaran besar menghanguskan 38 unit rumah semi permanen (panggung) di Lingkungan III Lorong Proyek  Gang Masjid Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan, Senin (25/6) dini hari sekira pukul 01.30 Wib. Seorang janda muda, Sri Rahayu (25), ditemukan tewas terpanggang di lantai dua rumahnya. Sementara 47 Kepala Keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal, dan 200 jiwa terpaksa tinggal di tenda pengungsian. Dugaan sementara, kebakaran disebabkan hubungan arus pendek listrik.

Keterangan dihimpun Sumut Pos di lokasi kejadian, kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk itu terjadi saat warga setempat sedang beristirahat di rumah masing-masing. Sekitar pukul 01.30, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari bagian depan rumah Abdul Majid alias Majid, kemudian listrik padam dan api langsung berkobar.

“Malam itu kami semua berada di lantai bawah. Cuma dia (Sri Rahayu) yang berada di loteng. Aku sempat mendengar suara ledakan, mungkin dari meteren listrik, karena bersamaan dengan matinya listrik di rumahku,” kata Majid, ayah kandung Sri Rahayu.

Saat membuka pintu untuk melihat keluar rumah, ia melihat api sudah membakar bagian atas teras rumahnya. “Begitu melihat api, kami semua langsung keluar. Hanya anakku yang nomor dua itu tetap berada di atas karena sedang tidur,” ungkap Majid.

Majid bersama keluarganya ramai-ramai keluar rumah. Sementara Sri Rahayu, wanita muda berstatus janda ini, tetap lelap tertidur di lantai dua rumahnya. Korban baru terjaga dari tidurnya setelah mendengar ribut teriakan warga.

Naas baginya, saat hendak menuruni anak tangga menuju ke lantai dasar, kobaran api menjalar ke lantai dua. “Putriku sempat mau turun. Tapi karena api menjalar naik ke atas, dia (korban) tak jadi turun. Dia tidak berani melompat dan cuma berteriak minta tolong. Tapi kami tidak berani naik ke atas untuk menolongnya, karena api semakin membesar,” ungkap Majid, dengan nada sedih.

Kamaluddin Lubis, warga setempat mengatakan, kejadiannya saat pertandingan sepak bola Euro akan ditayangkan di televisi. “Tiba-tiba ada yang berteriak kebakaran. Begitu keluar rumah, kulihat api sudah membesar di depan rumah Pak Majid,” kata Kamaluddin.

Melihat api berkobar dan menjalar ke bagian dalam bangunan rumah, Majid bersama warga setempat beramai-ramai melakukan pemadaman dengan peralatan seadanya. Namun karena bangunan rumah terbuat dari kayu yang mudah terbakar, warga tak mampu melawan amukan ‘si jago merah’.
Hampir setengah jam api berkobar, barulah dua unit mobil pemadam kebakaran milik Pemko Medan yang stand by di kantor Kecamatan Medan Belawan, tiba di lokasi. Kondisi medan yang sulit diterobos karena lorong jalan tak dapat dilintasi mobil pemadam, membuat petugas PMK kesulitan melakukan upaya pemadaman.

Sekitar 20 menit kemudian, 18 unit mobil pemadam dari KIM, Pemko Medan, dan dari kawasan Amplas tiba di lokasi dan membantu melakukan pemadaman. “Karena rumah yang terbakar berada di tengah pemukiman, jadi sulit dipadamkan. Bahkan selang mobil pemadan pun tak sampai menjangkau titik api,” ujar seorang warga.

Untuk mencapai titik api dan menghalau kobaran api tak menjalar ke rumah lainnya, warga dan petugas merobohkan sekitar 10 unit rumah. Menjelang subuh sekira pukul 04.30 Wib, kobaran api berhasil dipadamkan. Barulah warga menemukan Sri Rahayu, tewas dengan tubuh gosong terpanggang. Bagian belakang kepalanya mengelupas.

Mendapati tubuh putri keduanya terpanggang, Aminah alias Emma ibu kandung korban menjerit histeris. “Anakkuuu…. anakkku,” tangisnya memilukan. Selanjutnya, jenazah dibawa ke RSU dr Pirngadi Medan.

Dirikan Posko

Kebakaran tersebut membuat Camat Medan Belawan, Said Chaidir meninjau ke lokasi kebakaran. Sang Camat langsung berkoordinasi  dan melaporkan peristiwa tersebut ke Pemko Medan. “Ini hari pertama saya bertugas, dan surat yang saya tanda tangani pertama kali untuk dilaporkan ke Pemko Medan ya peristiwa ini. Dengan pihak-pihak lain, kita sudah berkoordinasi, termasuk dengan rekanan dari mitra Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB),” kata Said.

Berdasarkan data yang dihimpunnya, 38 rumah yang ludes dihuni 47 KK. Untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal, pihaknya mendirikan beberapa titik posko, seperti di sekitar lokasi kebakaran, di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Bagan Deli, Belawan, dan di SMUN 20 Medan.
“Ada sekitar 200 jiwa ditempatkan di posko pengungsian. Bantuan sudah mulai mengalir, di antaranya pakaian, tikar, tilam, sembako, dan lainnya,” ucapnya.

Selain mendirikan posko pengungsian, Pemko Medan juga telah membuat posko kesehatan untuk para korban. Berbagai fasilitas medis dan obat-obatan telah disiagakan guna mengantisipasi jatuhnya korban sakit akibat dari peristiwa tersebut.

Pantauan Sumut Pos di posko kesehatan, sebahagian besar korban kebakaran yang mengungsi mengalami gangguan suhu tubuh yang meningkat (demam) dan penyakit batuk diduga akibat asap yang terhirup ketika kebakaran terjadi.

Pada Senin siang, korban kebakaran terlihat mengais sisa puing untuk mencari benda berharga yang ikut terbakar. Warga tidak mengindahkan larangan masuk ke lokasi kebakaran, meski petugas telah memasang garis polisi. Adapun kerugian materil diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Belum Diketahui

Kepala Laboratorium Forensik (Kalabfor) Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu), Kombes Pol Kombes Pol Chomsi Syafrian Simin, mengatakan pihaknya belum turun ke lokasi kebakaran di Belawan. “Kami belum turun ke lokasi, karena belum ada permintaan penyidik,” ujar Chomsi, Senin (25/6) petang.

Chomsi mengatakan, jika sampai Senin malam belum ada permintaan penyidik, pihaknya baru turun ke lokasi. “Kalau sampai malam ini, penyidik belum ada meminta, mungkin besok kami akan turun,” sebut Chomsi.  (mag-17/mag-12)

Kuala Namu Gandeng Bandara Terbaik Dunia

Sister Airport dengan Incheon Korsel

MEDAN-Angkasa Pura II selaku pengelola Bandar Udara (bandara) Kuala Namu Medan, menggandeng salahsatu bandara terbaik dunian
yakni Incheon International Airport Corporation (IIAC) Korea Selatan, dalam sejumlah bidang. Kerja sama yang dibangun meliputi bidang teknik, modernisasi, perbaikan, investasi, serta bidang evaluasi pasar.

“Selain sebagai bandara terbesar di Korea Selatan, Incheon adalah salah satu bandara tersibuk di Asia dalam hal pelayanan penumpang, dan tersibuk kedua dalam jalur pelayanan kargo internasional,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko, dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/6).
Adapun kerjasama yang dibangun dalam bidang teknik, yakni IIAC akan menyediakan dukungan dalam pengoperasian, manajemen, pembangunan, pemasaran, strategi pengumpul, serta pendidkan dan pelatihan.

Sedangkan dalam bidang modernisasi, ruang lingkupnya meliputi perbaikan dan investasi, yang diharapkan mendorong kedua belah pihak dapat membagi informasi terkait usaha perbaikan maupun modernisasi, untuk meningkatkan pelayanan terhadap pengguna jasa.

“Tidak menutup kemungkinan, jika tujuan bersama tercapai, kedua belah pihak dapat pula bersama-sama berinvestasi dalam proyek pembangunan bandara baru,” kata Tri.

Dalam bidang evaluasi pasar, kegiatan yang dilakukan adalah melakukan pemasaran bersama, program pertukaran personel, studi banding, maupun kerjasama lain yang tidak hanya berhubungan dengan Bandara Kuala Namu, tetapi juga berhubungan dengan bandara lain yang dikelola oleh Angkasa Pura II. Perjanjian Sister Airport ini berlaku selama 3 tahun, dan dapat diperpanjang sesuai dengan kesepakatan bersama.

“Kerjasama ini akan memberikan banyak keuntungan bagi Angkasa Pura II. Bandara Kuala Namu akan menjadi salah satu bandara pengumpul (hub) yang cukup diperhitungkan di kawasan regional,” kata Tri.

Ia menyakini, kerjasama ini akan memberikan dampak cukup besar bagi Bandara Kuala Namu, yang dijadwalkan beroperasi penuh awal 2013 mendatang.
Penandatanganan perjanjian kerjasama antara Angkasa Pura II dengan Incheon International Airport Corporation (IIAC) dilakukan di Jakarta, Senin, 25 Juni 2012.

Dalam penandatanganan tersebut, PT Angkasa Pura II diwakili Direktur Utama, Tri S Sunoko dan IIAC, diwakili President & CEO Mr. CW Lee. Sementara itu, hadir pula sebagai saksi, Duta Besar Korea Selatan Mr. Young Sun Kim, Gurbernur Sumatera Utara Gatot Pujonugroho, Bupati Deli Serdang Drs. H. Amri Tambunan.

Kuala Namu Siap Layani 8,1 Juta Penumpang

Bandara Kuala Namu yang saat ini dibangun untuk menggantikan Bandara Polonia di Kota Medan, telah cukup lama mengalami kelebihan beban pelayanan (over capacity). Saat ini, Polonia yang berkapasitas 900 ribu penumpang, melayani sekitar 7,1 juta pergerakan penumpang per tahun.
Sementara kapasitas Bandara Kuala Namu yang terletak di atas lahan seluas 1.365 hektare di Kabupaten Deli Serdang, disiapkan untuk melayani hingga 8,1 juta penumpang per tahun, dengan area terminal penumpang seluas 86,000 m2 (tahap I). Bandara tersebut akan terus dikembangkan hingga mencapai kapasitas maksimalnya.

Bandara Kuala Namu akan dilengkapi 2 runway paralel, apron seluas 30 hektare berkapasitas maksimal 33 pesawat, terminal kargo seluas 13.000 m2 dengan kapasitas 3 pesawat (65.000 ton/ tahun), area parkir berkapasitas sekitar 1.400 kendaraan roda empat taxi.
Untuk aksesibilitas, Bandara Kuala Namu yang dilengkapi 10 gerbang masuk, akan didukung oleh akses jalan tol dan kereta api khusus bandara.  (ari)

Rumah 3 Miliar Dikenai Pajak Rp6,75 Juta

Jatuh Tempo Pembayaran 31 Agustus

MEDAN- Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Perdesaan dan Perkotaan Kota Medan, resmi naik tahun ini. Seluruh fraksi di DPRD Kota Medan telah menyepakati perubahan terbatas atas Perda No 3 tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Perdesaan dan Perkotaan. Kenaikan PBB bervariasi sesuai klasifikasi rumah. Untuk rumah senilai Rp3 miliar misalnya, akan dikenai PBB 0,225 persen atau Rp6,75 juta.

Pengesahan Perda pada rapat paripurna pembahasan perubahan terbatas Perda, di ruang paripurna kantor lama di Jalan Kapten Maulana Lubis, kemarin, dilakukan lewat voting. Pasalnya, dari lima klasifikasi yang disampaikan Badan.

Legislasi (Baleg), hanya 4 yang disetujui. Sementara tarif PBB untuk Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) diatas Rp 4 miliar menuai perbedaan pendapat. Besaran PBB 0,295 yang disampaikan Baleg, dinilai tidak berpihak bagi pengusaha. Padahal mereka juga merupakan warga kota Medan yang seharusnya tidak mendapat perlakuan diskriminatif.

Para ketua fraksi pada umumnya menyampaikan keberatan pada pasal 5 ayat e yang mengatur besaran NJOP di atas Rp 4 miliar. Badan Legislasi (Baleg) DPRD Medan menetapkan persentase pengalian sebesar 0,295%. Lima dari delapan fraksi tidak menyetujui usulan tersebut, karena dinilai terlalu tinggi. Mereka pun mengusulkan besaran persentase bervariasi. Mulai dari 0,250 hingga 0,275. Kelima fraksi tersebut yakni Demokrat, PKS, PDIP, PDS,  dan Medan Bersatu. Fraksi Golkar meminta agar perbedaan pendapat tersebut dimediasi pimpinan dewan. Sedangkan PAN dan PPP dapat menerima hasil pembahasan Baleg.
Karena tidak menemukan jalan keluar, rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Kota Medan, Amiruddin, akhirnya mengambil keputusan dengan cara voting dengan dua opsi, yaitu 0,295% dan 0,275% untuk NJOP di atas Rp 4 miliar.

Terhadap dua opsi itu, 35 anggota dewan menyetujui opsi 0,275%, yang akhirnya ditetapkan menjadi kesepakatan bersama untuk pasal 5 ayat e.
Sesuai hasil akhir rapat antara Badan Legislasi (Baleg) DPRD Medan dengan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Medan dan Bagian Hukum DPRD dan Pemerintah Kota Medan disepakati untuk NJOP Rp0-500 juta, persentase pengaliannya 0,115% sedangkan dari Rp500 juta-Rp1 miliar sebesar 0,125%.
Kemudian untuk NJOP sebesar Rp.1 miliar-2 miliar, persentase pengaliannya 0,215%. Selanjutnya untuk NJOP Rp2 miliar-Rp 4 miliar sebesar 0,225% dan terakhir untuk di atas Rp 4 miliar pengaliannya 0,295%.

Selanjutnya, Dewan DPRD dan Pemko Medan menandatangani persetujuan perubahan terbatas Perda PBB Perdesaan dan Perkotaan. Untuk waktu jatuh tempo pembayaran, Pemko Medan belum melakukan perubahan, dan tetap pada 31 Agustus 2012.

Dengan pengesahan Perda ini, maka contoh besaran PBB Kota Medan antara lain, untuk rumah dengan NJOP Rp150 juta, akan dikenai PBB Rp172.500, untuk rumah senilai Rp250 juta akan dikenai PBB Rp 287.500, rumah Rp750 juta dikenai PBB Rp 937.500, rumah senilai Rp1,5 miliar dikenai PBB Rp 3.225.000, dan seterusnya.

Sebelumnya pada tahun 2011, untuk wilayah Kota Medan, saat terakhir dikelola Ditjen Pajak, NJOPTKP ditetapkan sebesar Rp6 juta, sehingga sebuah rumah yang memiliki NJOP sebesar Rp150 juta, maka PBB-nya adalah Rp144.000. Sedangkan objek pajak dengan NJOP misalnya Rp2,3 miliar, maka PBB nya adalah Rp4,592 juta.

Ketua Baleg DPRD Medan Ilhamsyah mengatakan, keputusan tersebut sudah melalui pembahasan matang dengan seluruh fraksi dan elemen masyarakat termasuk Real Estate Indonesia (REI) selaku pengusaha. Jadi tidak ada golongan yang tidak terakomodir pendapatnya.

“Dengan penetapan lima opsi tersebut, nilai pajak yang harus dibayar masyarakat golongan menengah bawah hanya naik 12 persen. Itu menjadi perhatian utama kami, karena jumlahnya mencapai 95 persen terhadap seluruh wajib pajak (WP),” ucapnya.

Selanjutnya pihaknya akan tetap mengawal proses evaluasi di tingkat provinsi hingga pemerintah pusat dan dikembalikan kembali daerah untuk diimplementasikan. “Sekarang tergantung pada Pemko, kami sudah menyelesaikan tugas. Meski begitu akan kami kawal prosesnya hingga akhirnya diimplementasikan,” ucapnya.

Wali Kota Medan Rahudman Harahap mengatakan menerima keputusan tersebut untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Terhadap pendapatan asli daerah (PAD) yang kemungkinan berkurang karena penurunan persentase pengalian tersebut, dia mengaku tidak masalah. Selanjutnya, Pemko akan melakukan mapping atau pemetaan ulang terhadap seluruh WP yang ada di kota ini sehingga potensi PAD meningkat.

“Kita akan lakukan ekstensifikasi dan intensifikasi, agar potensi pajak yang ada bisa tergarap dengan baik. Dengan begitu akan lebih banyak lagi WP yang terdata sehingga PAD bisa meningkat lebih tinggi,” ujarnya.

Ditanya soal jatuh tempo pembayaran PBB, dia mengaku belum ada menetapkan perubahan apapun terhadap tanggal. Sejauh ini dia menegaskan masih tetap pada 31 Agustus mendatang. “Usulan diundurkan sampai November nanti, akan dibicarakan lagi. Sekarang masih tetap pada Agustus nanti,” ungkapnya.
Saat disinggung kemungkinan tidak tercapainya realisasi PAD yang mencapai Rp300 an miliar, menurut Rahudman ini yang terpenting dilakukan dan ekstensifikasi. Karena masih banyak data-data PBB yang belum terdata.  “Harus melakukan mapping ulang. Sehingga lebih dari yang hilang itu akan bisa dicapai, bukan harus memaksakan persentase pada wajib PBB, Sekarang kita yang mengelola. Dengan revisi ini akan kita tinjau ulang. Bagaimana kita buat,” pungkasnya. (gus)

Dokter Sombong Picu Pasien Lari ke Luar Negeri

JAKARTA- Tren warga yang punya kantong tebal lebih memilih berobat ke luar negeri, bukan hanya fenomena di Medan. Namun, sudah menjadi fenomena nasional.

“Saya kira bukan hanya di Medan, tapi secara nasional seperti itu. Orang kaya lebih memilih berobat ke Penang dan Singapura,” ujar Sekjen Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin), Dr Latre Buntaran, Sp-MK, kepada koran ini di Jakarta, kemarin (25/6).

Dokter yang juga menjabat Kepala Departemen Mikrobiologi RSAB Harapan Kita, Jakarta, itu menyebut sejumlah penyebab warga Indonesia barkantong tebal lebih suka berobat ke luar negeri.

Pertama, menyangkut karakter dokter di Indonesia secara umum. Menurut Latre, kebanyakan dokter di Indonesia sombong, merasa dibutuhkan, dan sangat sedikit yang punya jiwa melayani.

“Hambatan utamanya pada manusianya. Egonya yang super, merasa paling pintar, merasa diperlukan, sehingga pasien merasa hanya menjadi obyek saja,” ujar Latre, yang juga  Ketua Komite Pengendalian Infeksi RS Siloam Graha Medika ini.

Menurut Latre, seorang yang sedang sakit mestinya dihadapi dengan rasa kasih, penih empati.  “Kebanyakan (dokter Indonesia, red) tidak punya empati, hanya mempertonjolkan soal biaya, tak bisa masuk ke sisi penyakit yang diderita pasien. Padahal masalah empati ini sangat penting,” kritik tajam Latre.
Kedua menyangkut soal service. Pemicu kedua ini juga berkaitan dengan pemicu yang pertama. Tatkala sudah tak ada empati, maka service dipastikan akan buruk. “Service makin parah jika fasilitas tak memadai,” ujarnya.

Sudah fasilitas buruk, dokternya pun sombong, disebutnya sebagai faktor utama pemicu pasien berkantong tebal malas berobat di RS yang ada di dalam negeri. “Ketika service tak manusiawi, tak ramah, maka pasien lebih suka ke luar negeri. Kalau soal kepintaran, dokter di dalam negeri tak kalah pintar,” cetusnya.

Ketiga, masih kata Latre, adalah soal kepastian tarif berobat. Dia mengatakan, pengobatan di RS di Indonesia sulit diprediksi berapa besarannya. Seringkali, pasien menjadi terkaget-kaget mendapat tagihan pembayaran.

Sementara, menurut Latre, RS-RS di Penang dan Singapura, pelayanannya bagus dan biaya sudah bisa diestimasi sejak awal. “Dari awal sudah bisa diperkirakan costnya kalau di Penang dan Singapura. Kalau di kita tak bisa diperkirakan,” imbuh Latre.

Terakhir, keempat, adalah soal ketepatan waktu dan ketepatan diagnosa. Sudah sering dikeluhkan pasien di RS dalam negeri, terutama RS plat merah, pasien bisa hingga berhari-hari tak disentuh dokter. Ini berbeda dengan RS di Penang dan Singapura, yang menurut Latre, penanganan pasien dilakukan secara tepat waktu, sebagai bagian dari service.

Dia yakin, jika sejumlah hal tersebut bisa dibenahi, secara lamban laun pasien berduit akan merasa nyaman berobat di RS dalam negeri. “Benahi service, empati, estimasi cost, ketepatan waktu dan diagnosa, pastilah (pasien, red) tak lari ke mana,” kata Latre.

Diakui, masalah ini sudah menjadi bahan perbincangan di kalangan dokter di Indonesia. Dia pun yakin, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sudah mencari solusi persoalan ini. “Karena ini sudah menjadi pembahasan di Indonesia,” ujarnya.

Akankah upaya perbaikan akan mencapai hasil? Latre pesimistis bisa tercapai dalam waktu dekat. “Karena hambatan utama ada di faktor manusianya (dokternya, red),” pungkas Latre.

Pernyataan Latre menanggapi DR dr Umar Zein DTM&H SpPd KPTI, yang menyebut banyak warga Mefan lebih nyaman untuk berobat ke Malaysia ataupun Singapura.

Menurut mantan Direktur Utama dr Pirngadi tersebut, apa yang membuat dokter di Medan melakukan hal itu disebabkan oleh beberapa faktor. Selain tidak mampu membentuk tim ahli untuk penanganan medis seorang pasien, tim medis di Indonesia khususnya Medan pun lebih banyak teori dalam pengambilan langkah medis.

Selain itu, kata Umar, peralatan medis juga serba tanggung serta tidak didukung oleh pemerintah meskipun memiliki dana adalah beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya kepercayaan masyarakat untuk berobat di negaranya.

Pemicu lain,  bilang Umar, rumah sakit di Medan, hanya berkutat untuk mengobati orang miskin saja, namun itupun belum bisa optimal. Hal itulah yang menyebabkan banyak dokter di Medan tidak percaya dengan rumah sakitnya. Bahkan ada yang menganjurkan pasiennya untuk ke luar negeri saja.

Medan Perlu RS Unggulan

Terkait tren warga berobat ke luar negeri, anggota komisi B DPRD Medan yang membidangi kesehatan, Bahrumsah, meminta agar para pimpinan rumah sakit —baik swasta maupun milik pemerintah— untuk berbenah dan memperbaiki diri. Khususnya persoalan pelayanan yang selama ini masih jauh dari harapan masyarakat.

“Jika kita tidak ingin tertinggal, kita harus segera berbenah baik dari segi sarana dan prasarana dalam upaya peningkatan kualitas,” ucap Bahrumsah, Senin (25/6).

Salah satu langkah yang bisa dilakukan, menurutnya, dengan membangun sebuah rumah sakit unggulan, kerja sama pemerintah dan swasta.
“RS swasta dan RS pemerintah perlu  memiliki vis dan link (hubungan) yang baik untuk membangun rumah sakit unggulan. Kita bisa dorong APBD agar rumah sakit unggulan dengan alat-alat medis yang mengikuti teknologi dan tim ahli profesional bisa terpenuhi ,”sebutnya.
Selain ketersediaan teknologi medis, menurut Bahrumsah, tenaga ahli profesional juga harus tersedia.

Menanggapi ide Bahrumsah, pimpinan RS swasta Sari Mutiara Medan, dr Tuahman Purba, mengatakan, impian membangun sebuah rumah sakit unggulan di Medan masih terlalu jauh. Apalagi harus melibatkan rumah sakit swasta dan milik pemerintah.

“Banyak faktor pendukung kenapa masyarakat memilih berobat ke luar negeri. Di antaranya ada kepastian hukum dan kenyamanan oleh pengelola rumah sakit luar negeri. Pemerintah Malaysia misalny,a memberikan kontribusi dengan membangun sistem kepercayaan terhadap masyarakat. Setelah itu, mereka melakukan promosi dengan janji tinggi dibarengi dengan tanggungjawab dan sebuah pembuktian. Ini yang tidak bisa kita lakukan,” ujarnya
Sebenarnya, kata Tuahman, pelayanan rumah sakit swasta di Medan sudah maksimal dan baik. Adapun jumlah pasien yang berobat ke luar negeri hanya segelintir dibanding jumlah pasien lokal yang berobat di rumah sakit swasta lokal. “Bahkan pasien yang berobat ke luar negeri terkadang tidak memahami jenis penyakit yang dialaminya, dan hanya dimanfaatkan sebagai praktik bisnis saja,” tuturnya.

Saat ini bilang Tuahman, yang perlu dilakukan para pengelola rumah sakit, yakni tinggal membangun kepercayaan masyarakat saja. “Kini perlu ada sosialisasi yang berkelanjutan untuk membangun sistem kepercayaan ini. Karena kita akui, untuk penyakit tertentu kita masih kurang pemahaman dalam mendiagnosa. Hal-hal seperti inilah yang harusnya dibenahi,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Direktur RSUD dr Pirngadi Medan, dr Amran Lubis. Menurutnya, kepercayaan merupakan hal utama dalam membangun sistem pelayanan sebuah rumah sakit,  . “Jika anda menjual produk, anda harus bisa membuktikan jika produk anda baik. Ini disebut konsep pelayanan nyata berbasis bukti,”sebutnya.

Menurutnya, sebuah rumah sakit akan bisa bersaing jika mendapatkan dukungan eksternal. Apalagi dukungan dari pihak swasta, dengan konsep bisnis yang jelas atau memiliki konsep private hospital.

Sementara rumah sakit pemerintah, meskipun menggunakan konsep bisnis, lewat Badan Layanan Umumnya (BLU) dengan pengelolaan keuangan sendiri di bawah sebuah pengawasan, namun tetap bersifat nirlaba atau tidak mencari keuntungan. “Saat ini sasaran bisnis rumah sakit pemerintah adalah masyrakat ekonomi menengah ke bawah, untuk mengarah kepada ekonomi menengah ke atas inilah yang tengah dipersiapkan oleh RS Pirngadi kedepannya,”sebut Amran.

Hal ini bisa direalisasikan sesuai dengan implementasi dari sistem jaringan sosial nasional (SJSN). “Sehingga ke depannya kita akan berupaya membangun private wing atau subsidi silang. Sehingga dengan langkah ini kita tidak hanya fokus untuk pasien menengah ke bawah saja namun sudah mulai mengarah ke menengah ke atas juga,”ucap Amran. (sam/uma)

Seribuan Tenda Biru Berdiri di Areal Perbukitan

Foto: dame ambarita/SUMUT POS TENDA BIRU: Ratusan tenda biru terlihat di areal perbukitan hijau Hutabargot, Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal.
Foto: dame ambarita/SUMUT POS
TENDA BIRU: Ratusan tenda biru terlihat di areal perbukitan hijau Hutabargot, Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal.

Tenda–tenda plastik berwarna biru itu terlihat jelas di areal perbukitan hijau Hutabargot, Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal. Jumlahnya diperkirakan mencapai 1.000-an tenda. Tenda-tenda itu adalah tempat tinggal para penambang emas liar dan para portirnya, selama mereka berburu bijih emas di areal hutan.

Dame Ambarita, Panyabungan

Menumpang helikopter yang dikemudikan pilot asal Selandia Baru, Philip Bell, Sumut Pos bersama empat wartawan lainnya berkesempatan mengintip aktivitas penambangan emas liar di wilayah Hutabargot, Madina, hari Minggu (24/6) dua hari lalu. Dari atas pebukitan dengan ketinggian sekitar 1-2 km, tenda-tenda plastik biru itu benar-benar mencolok mata.

Posisi tenda-tenda biru itu di tersebar di beberapa titik. Banyak yang berdiri di areal dengan kemiringan hingga 75 derajat. Ada beberapa kelompok besar hingga 100- an tenda  di satu lokasi, sebagian lainnya tersebar dalam jumlah 4-10 tenda.

Informasi dihimpun dari pilot heli dan dibenarkan oleh sejumlah pengamat penambangan liar di Madina, sedikitnya 2.000-an orang terlibat dalam penambangan emas liar di areal pegunungan Panyabungan. Mereka tersebar di Kecamatan Hutabargot dan Nagajuang.

“Dalam satu tenda sekitar 10-15 orang. Mereka bekerja sebagai penambang, portir (tenaga pelangsir batu), dan pengecek material batu. Ada juga pengurus logistik,” kata Pak Nur, pengamat penambangan liar di Panyabungan.

Para pelaksana tambang, yakni orang yang masuk ke tanah dan menggali bijih mas, umumnya datang dari Pulau Jawa. Ada dari Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor, Lebak, Bengkulu, dan lain-lain. Mereka adalah para mantan penambang di daerahnya, sebagian mantan karyawan Antam (Anek tambang, BUMN), mantan karyawan Inalum, dan lainnya.

“Orang lokal umumnya pemilik lubang (lubang tambang), atau sebagai portir (tenaga pelangsir) dan urusan logistik,” katanya.

Para penambang biasanya naik gunung pada Senin subuh, dan turun ke kota pada Jumat sore. Dari kaki bukit ke atas gunung, mereka harus jalan kaki mendaki sambil membawa perbekalan. Jaraknya diperkirakan 10-20 kilometer ke lokasi penambangan liar.

Berbekal peralatan seadanya, mereka masuk ke perut bumi, hingga kedalaman 100 meter. Jika beruntung, di kedalaman 10 meter pun mereka sudah memperoleh biji emas. Namun ada yang harus menggali puluhan meter, tidak juga memperoleh apa yang dicari.

“Modal untuk membuka satu lubang bisa mencapai Rp60 juta hingga Rp100 juta. Tak semua pemilik lubang beruntung. Ada yang bangkrut, karena sudah membiayai penggalian selama berminggu-berminggu, tak juga memperoleh apa-apa,” cetus Pak Nur.

Penggali yang sudah berpengalaman, bisa mengenal jalur bijih emas di dalam tanah. Karena alur bebatuan yang mengandung bijih mas memang biasanya ada alurnya seperti akar. “Dan bisa dilihat secara kasat mata,” kata Pak Nur yang cukup ahli di bidang pertambangan ini.

Namanya penggalian liar dan tradisional, para penambang umumnya tidak dibekali pengamanan yang cukup. Berbekal penyangga lubang seadanya, mereka masuk ke perut bumi melakukan penggalian. Tak heran, kebanyakan di antara mereka memasukkan unsur mistik dalam penggalian.

“Para penambang biasanya menyediakan sesajen yang dimasukkan ke dalam lubang. Bisa apel jin, kemenyan, darah ayam, dan sebagainya,” kata F Rangkuti, warga Panyabungan yang sejak awal mengamati kegiatan  penambangan liar di Hutabargot.

Jika lubang tak menghasilkan apa-apa, ’orang pintar’ bicara. Hasilnya, sesajen masuk lubang.

“Kalau ’penghuni’ lubang minta darah manusia, tidak pernah dikasih. Tapi dipercaya, para penggali sering menjadi tumbal. Diperkirakan, penambang yang tewas tertimbun mencapai 100-an orang selama dua tahun terakhir. Namun selalu ditutupi para pemilik lubang dan penambang itu sendiri. Karena jika dipublikasi, akan merugikan mereka sendiri. Aktivitas mereka pasti akan ditertibkan,” kata Rangkuti. (bersambung)

Pesawat Latih Tempur Mendarat di Medan

MEDAN- Sebanyak 7 pesawat latih tempur dan latih lanjut milik TNI-AU yang akan mengikuti acara 100 Tahun Aviasi Dunia di Thailand tiba di Bandara TNI-AU Soewondo, Jalan Adi Sucipto Medan, Senin (25/6) siang.

Tujuh pesawat jenis KT 1B Wong Bee dengan jumlah 14 penerbang TNI-AU disambut oleh Danlaud Kol Pnb A Rasyid Jauhari, Kadispora Medan, Hanas Hasibuan, Camat Medan Polonia, perwakilan Kodam I/BB, perwakilan Lantamal Belawan, perwakilan Polda Sumut, dan perwira di jajaran TNI-AU Medan.
Begitu turun dari pesawat, Kadispora Medan, Hanas Hasibuan, mewakili Wali Kota Medan langsung menyerahkan ulos kepada Komandan Tim Jupiter Indonesia Airforce TNI-AU yang diterima oleh Letkol Pnb Dedy Susanto, yang juga Komandan Skuadron Pendidikan 102 Lanud Adi Sucipto Yogyakarta.
Kedatangan ke-14 penerbang TNI-AU tersebut juga disambut dengan lagu-lagu yang dipersembahkan marching band siswa taruna-taruni ATKP Medan.
Keempat belas penerbang tersebut disambut dengan 5 buah lagu.

Warga juga antusias datang ke lokasi Lanud TNI-AU Soewondo Medan menyambut kedatangan 14 penerbang tersebut. Sebelum turun, terlebih dahulu 7 pesawat yang masing-masing dikemudikan 2 orang di dalam pesawat itu melakukan manuver ringan di hadapan para tamu dan masyarakat yang ada di Lanud Soewondo TNI-AU Medan.

Danlanud Soewondo Medan, Kol Pnb A Rasyid Jauhari mengatakan, ketujuh pesawat ini singgah di Medan dan akan dilanjutkan berangkat Selasa hari ini dalam rangka mengikuti acara 100 Tahun Aviasi Dunia di Thailand.

Menurutnya, ini merupakan jenis pesawat spesifikasi latih tempur dan latih lanjut yang wajib dipergunakan oleh para siswa-siswi penerbang seperti Taruna Akademi TNI AU.

“Pesawat ini dilengkapi dengan 1 baling-baling dan pesawat dilengkapi dengan 1 awak di depan dan 1 awak di belakang,” sebutnya. Leader Tim Jupiter Indonesia Airforce TNI-AU, Letkol Pnb Dedy Susanto yang juga Komandan Skuadron Pen didikan 102 Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta mengaku, jenis pesawat KT 1B Wong Bee ini bisa melakukan full manuver ringan dan sedang. (jon)

Korupsi Bansos Aminuddin Diperiksa 5 Jam

MEDAN- Terduga kasus korupsi di Biro Umum Setda Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), Aminuddin, diperiksa selama 5 jam oleh penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), Senin (25/6) siang. Bendahara di Biro Umum TA 2011 ini diperiksa mulai pukul 12.30 hingga pukul 17.30 Wib, di ruang penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Ditreskrimsus Poldasu.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Poldasu, Kombes Pol Sadono Budi Nugroho membenarkan adanya pemeriksaan tersebut. “Aminuddin sedang diperiksa oleh kejaksaan. Tapi saya tidak tahu soal apa,” ujarnya singkat.

Kasi Pemkum Kejatisu, Marcos Simaremare menyebutkan, pemeriksaan Aminuddin terkait dugaan korupsi di Bansos Setda Provsu yang bersumber dari APBD 2009, 2010, dan tahun 2011 senilai Rp 1,2 triliun. “Aminuddin diperiksa dalam dugaan korupsi dana Bansos Provsu,” ujar Marcos.
Dikatakan Marcos, selain Aminuddin, tersangka kasus korupsi bansos lainnya yakni Sakhira Zandi selaku Karo Binkemsos 2011, Oloan Bangun Harahap selaku Karo Perekonomian 2011, Syawaluddin selaku Bendahara Bansos Biro Binkemsos 2009, Ahmad Faisal Nasution selaku bendahara Bansos Biro Binkemsos 2011, Ummi Kalsum selaku Bendahara Bansos Biro Perekonomian 2011, Subandi selaku bendahara Bansos biro Umum 2011, Adi Sucipto selaku penerima dan calo Bansos 2009, dan Lisanuddin selaku bendahara pembantu 2010.

“Pemeriksaan Aminuddin terkait seputaran aliran dana Bansos. Untuk pemeriksaannya kita menumpang di Poldasu, karena Aminuddin terlibat kasus korupsi yang ditangani Poldasu,” sebut Marcos.

Saat digiring menuju sel tahanan titipan Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dit Tahti)Poldasu usai pemeriksaan, Aminuddin enggan berkomentar.
Mengenakan baju tahanan warna merah dan celana pendek dengan memakai sendal jepit, Aminuddin hanya melambaikan tangan kepada sejumlah wartawan, yang berusaha mewawancarainya. (mag-12)

Kadispenda Medan Ternyata Juga Dicopot

MEDAN- Mutasi sejumlah pejabat eselon II, III dan IV  di Pemko) Medan semula tidak terdapat nama Kepala Dinas Pendapatan (Kadispenda) Medan, Syahrul Harahap. Namun, informasi yang diperoleh, Syahrul Harahap ternyata juga ikut dicopot. Jabatannya dipegang oleh Sekda Kota Medan, Syaiful Bahri Lubis.

Kabag Humas Pemko Medan, Budi Haryono yang dikonfirmasi, mengaku tak tahu.

Sementara, Syahrul Harahap juga enggan berkomentar. Tapi, Sekda Kota Medan, Syaiful Bahri Lubis membenarkan. “Iya, ini untuk sementara,” katanya.
Anggota DPRD Medan, Ilhamsyah juga membenarkannya.  “Tapi kenapa harus dibeda-bedakan,” tuturnya.(ari)