Home Blog Page 13325

Rumah Horti dan Kulit Kayu Akway jadi Incaran

Dari Pekan Flori dan Flora Nasional (PF2N)

MEDAN- Salah satu yang menarik dalam pameran Pekan Flori dan Flora Nasional (PF2N) yang diselenggarakan di Jalan Gatot Subroto Medan, adalah Rumah Horti.

Arena ini menjadi lokasi favorit yang dibanyak dikunjungi karena memiliki desain unik yang terbuat dari tiang-tiang bambu, bertingkat dua dengan atap daun nipah kering, mencerminkan nuansa tradisional pedesaan.

Apalagi, dinikmati langsung dari dalam rumah. Nuansa pedesaan begitu kental dengan beragam hiasan dari berbagai tanaman dan ranting kayu di halaman rumah.

Di bagian dalam, terdapat berbagai jenis buah-buahan seperti  mangga, alpukat, jambu, pisang, kuini, melon, pepaya, belimbing, nenas, sawo, jeruk dan markisa. Selain itu, berbagai jenis sayur-sayuran segar juga ada, seperti terong, kacang panjang, cabai merah, paprika, kol, tomat, kentang dan lain sebagainya.

Tanaman jenis jamu-jamuan juga tersedia di dalam rumah, seperti jahe, kunyit, kencur dan lainnya. Uniknya lagi, di rumah Horti ini, ada hiasan berbentuk rangkaian bunga yang terbuat dari berbagai jenis buah, sehingga mengundang pengunjung untuk mengabadikan moment penting itu melalui beragam kamera yang dimiliki. ‘’Untuk kenang-kenangan, karena even ini baru pertama kali digelar. Jadi kapan lagi bisa menyaksikan dan mengabadikannya, kalau tidak di PF2N ini,’ ‘ujar Ria (30), salah seorang pengunjung dari Kecamatan Sunggal.

Selain Rumah Horti, stan yang juga paling ramai dikunjungi masyarakat adalah stand Papua. Pihak Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat, juga tampak antusias memamerkan komoditi unggulan daerahnya kepada pengunjung PF2N.  Salah satu komoditi ungggulan yang menarik pengunjung yakni kulit  kayu akway  kering.

Menurut Tonci, petugas stan Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat mengatakan, bagi masyarakat Papua, kulit kayu akway kering sangat berguna untuk menambah daya tahan tubuh atau stamina tubuh.

“Kulit kayu akway kering memiliki banyak khasiat. Terutama untuk menambah daya tahan tubuh atau stamina tubuh agar tidak lelah,” katanya.
Tonci menjelaskan, suku-suku di Papua mengenal kulit kayu akway kering sebagai tanaman obat-obatan dan juga memiliki khasiat untuk mencegah rasa kantuk. Selain itu, obat organik ini aman untuk dikonsumsi oleh siapa pun dan dalam keadaan apapun. (ram)

Kapal Nelayan Tenggelam di Pulau Berhala

BELAWAN- Kapal nelayan pancing bertangkahan di sekitar perairan Sei Nonang, Belawan Lama, Kecamatan Medan Belawan, tenggelam di kawasan perairan Pulau Berhala, Serdang Bedagai (Sergai), Sabtu (23/6) dinihari,  setelah ditabrak kapal penangkapap ikan jenis PI (pukat ikan). Dalam peristiwa tersebut, diketahui tidak ada korban jiwa. Para nelayan berhasil diselamatkan kapal penangkap ikan lainnya.

Keterangan yang dihimpun Sumut Pos di Belawan menyebutkan, peristiwa tersebut berawal ketika kapal nelayan pancing diawaki lima orang itu melakukan aktivitas memancing di sekitar perairan Pulau Berhala, Sergai atau sekitar 40 mil laut dari Pelabuhan Belawan.

Dalam kondisi gelap, tiba-tiba kapal yang di nakhodai, Amir (47), ditabrak kapal penangkap ikan jenis PI sehingga mengalami kerusakan parah dan akhirnya tenggelam.

“Kapal PI yang menabrak datang dari arah barat, akibat tabrakan itu kapal yang kami naiki bocor dan tak berapa lama tenggelam,” kata Amir, salah seorang korban.

Mengetahui kejadian itu, kapal PI yang menabrak ke lima nelayan ini langsung melarikan diri. Sementara, para korban yang sempat terkatung-katung di laut lepas akhirnya berhasil diselamatkan oleh nelayan lainnya, yang ketika itu kebetulan melintas disekitar perairan dimaksud.

“Untung ada boat (kapal) nelayan lewat dan menolong kami, kalau tidak mungkin entah bagaimana nasib kami,” ungkapnya.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Medan, Zulfahri Siagian SE, ketika dikonfirmasi melalui Wakil Ketuanya, Abdul Rahman membenarkan adanya kapal nelayan kecil jenis pancing yang tenggelam setelah ditabrak.

“Kelima nelayan yang menjadi korban semuanya selamat, sedangkan kapal ikan yang tenggelam sudah dapat ditarik ke kawasan dok di Belawan Lama,” kata Abdul Rahman. (mag-17)

Berdiri di Tangga-tangga Masjid Raya Medan

Ramadhan Batubara

Terlambat. Masjid itu telah penuh. Saya tak mendapat tempat. Saya harus berdiri di tangga, menanti Salat Jumat dimulai.
Begitulah, Jumat lalu saya tiba di Masjid Raya Medan pukul satu lebih sepuluh menit. Ceramah sudah memasuki sesi akhir. Ya, sudahlah daripada sama sekali tidak ke masjid itu seperti janji saya pekan lalu, saya harus bertahan.

Begitu sampai — tentunya setelah mengambil air wudhu — saya langsung menuju pintu masjid yang segaris dengan gerbang masuk. Di situ sudah ada empat sampai enam orang yang berdiri. Penuh. Saya pun memilih pintu masuk yang lain; yang sebelah dalam dan menghadap Jalan Sisingamangaraja; menghadap pagar yang berdampingan dengan halte. Hasilnya, tetap sama. Di pintu itu ada sekitar tiga orang yang berdiri. Ya sudah, saya pilih pintu itu.
Sambil berdiri, saya berusaha mengintip ke dalam masjid. Wah, terlihat masih ada ruang. Berarti, ketika salat nanti, saya bisa sembayang di dalam. Jadi, saya tak harus salat di halaman seperti beberapa tahun lalu saat berada di Masjid Raya Banda Aceh; beberapa tahun sebelum tsunami. Saat itu, persis dengan Jumat lalu, saya juga terlambat. Tak pelak, saya salat beratap matahari dan berlantai conblock. Parahnya lagi, saya tidak membawa sajadah! Bisa bayangkan itu? Siapa bilang beribadah itu gampang?

Nah, kenangan di Banda Aceh langsung mengemuka ketika saya berdiri di tangga-tangga Masjid Raya Medan; saya juga tidak membawa sajadah. Beruntung, seperti yang saya katakan tadi, setelah mengintip ternyata masih ada ruang.

Harus disadari, posisi salat dan mendengar ceramah memang beda. Ketika mendengar ceramah, jamaah pastinya duduk. Namanya, duduk, tentu jamaah membutuhkan tempat yang lebih banyak. Nah, ketika berdiri untuk salat, ada ruang yang tersisa bukan? Apalagi, saat salat posisi berdiri memang harus rapat.

Sembari menunggu saatnya salat, saya sempat melihat tempat penitipan sandal dan sepatu. Di berada di sisi tangga, sementara di anak tangga berjejer sepatu dan sandal lainnya. Cukup beragam jenis alas kaki itu.

Saya tersenyum-senyum sendiri, terbayang oleh saya Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada di Menteng – sebelumnya pernah saya tulis dengan judul ‘Sepatuku Buatan Menteng, Sepatumu?’ – apakah semua sepatu itu buatan para pekerja sana? Dan, saya menjawab, tentu tidak. Lihat saja, ada berbagai jenis dan berbagai merek. Saya prediksi, kebanyakan alas kaki yang saya lihat adalah barang impor. Ya, bisa saja dari China dan bisa juga dari Bandung.
Tapi sudahlah, kehadiran saya di Masjid Raya ini bukan untuk memperhatikan sepatu. Saya ingin salat dan saya ingin menulis tentang masjid yang sejatinya bernama Masjid Al Mashun. Menurut  laman Wikimapia.org, masjid ini mulai dibangun tanggal 1 Rajab 1324H atau 21 Agustus 1906 dan selesai 10 September 1909 oleh Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Beberapa bahan dekorasi dibuat dari Italia dan Jerman serta konon menjadi satu bagian dengan komplek Istana Maimun yang berjarak hanya dua ratus meter.

Masjid yang dirancang oleh Dingemans dari Amsterdam (dengan bentuk yang simetris jika dilihat dari keempat sisinya) memiliki gaya yang diambil dari budaya Timur Tengah, India, dan Spanyol. Masjid dibangun dengan bentuk segi 8 (oktagonal) dan memiliki 4 sayap di setiap bagian selatan timur utara dan barat yang berbentuk seperti bangunan utama namun berukuran lebih kecil. Luas keseluruhan bangunan adalah 5.000 meter.

Masih menurut sumber itu, konsep bangunan utama beserta bangunan sayap katanya merupakan konsep bangunan masjid kuno di Timur Tengah; di sana masjid dibangun dengan ruang tengah sebagai ruang utama (disebut sahn) dan empat sayap berupa gang beratap untuk berteduh (disebut mugatha/suntuh).

Beruntung saya berdiri di tangga-tangga masjid itu tidak terlalu lama. Jika lama, mungkin pikiran saya entah ke mana melayang. Iqamat berkumandang. Saya pun merobos masuk ke dalam. Ternyata, selain kami yang berdiri di tangga, ada juga beberapa jamaah lain yang berdiri di sisi dinding sebelah dalam. Berebutan posisi pun terjadi. Tapi, jangan anggap berbutan posisi seperti di dunia politik, di masjid tidak ada saling sikut. Semuanya berbeut dengan nyaman; ketika seseorang sudah berada di saf atau barisan, maka orang lain akan mencari tempat yang lain. Ada sebuah pengertian yang tercipta.
Jadi, kalau di jalanan, perebutan ini persis dengan lalu lintas yang berada di Bundaran Majestik Medan atau Bundaran HI Jakarta atau juga Bundaran UGM Jogjakarta. Ya, di sebuah bundaran para pengendara memang tampak lebih manusia dibanding perempatan yang diatur dengan lampu aba-aba; seperti robot yang menggunakan remote control.

Dan, setelah melewati beberapa menit pencarian, saya mendapat posisi di saf nomor dua dari belakang. Lumayan. Suasana dalam masjid begitu sejuk. Fiuh…, jauh berbeda saat berdiri di tangga tadi.

Usai salat, saya berkesempatan keluar masjid lebih cepat dibanding jamaah lainnya. Perut mulai terasa lapar. Saya melirik ke luar pagar masjid, begitu banyak jajanan yang ditawarkan. Sayang saya tidak selera. Saya malah memperhatikan rujak yang berada di seputaran Taman Sri Deli, tepat di seberang masjid. Hm, menyenangkan makan buah saat panas seperti ini.

Saya ingin melangkah ke sana. Tapi, saya sadar, sejak pagi perut belum terisi. Bisa repot jika hari saya awali dengan rujak bukan? Apalagi, saya pernah dengar, selain enak rujak di Taman Sri Deli juga terkenal karena mahalnya. Hm, bahan menarik untuk dilantunkan bukan?

Tapi, sudahlah. Saya tak mau ambil risiko sakit perut. Saya urungkan niat ke Taman Sri Deli itu. Nanti sajalah, suatu saat jika saya sudah sarapan, saya akan kunjungi rujak itu dan menuliskan untuk Anda. Sabar ya…. (*)

Mandor Pabrik Cabuli Buruh

BELAWAN- Mandor pabrik PT Gipsum, Ulah Muko (27) warga Kota Bangun, Kecamatan Medan Deli, terpaksa berurusan dengan aparat berwajib. Pasalnya, dia telah mencabuli seorang buruh wanita berinisial Sr (17), Sabtu (23/6). Akibat perbuatannya itu, pihak keluarga korban tak terima dan melaporkannya ke Mapolres Pelabuhan Belawan.

Informasi diperoleh Sumut Pos di Mapolres Pelabuhan Belawan, perbuatan tak senonoh dialami korban terjadi ketika dirinya sedang melakukan pekerjaannya sebagai buruh cetak di pabrik tersebut, Jumat (22/6) lalu. Tersangka yang diduga tergiur melihat tubuh montok korban lantas menggerayanginya di depan buruh lainnya. Aksi cabul sang mandor membuat Sr malu.

“Malu kali aku dibuatnya, bahkan aku sempat menangis karena disoraki sama pekerja lainnya,” ungkap korban saat buat pengaduan.
Sambil menangis, korban siang itu juga langsung berlari meninggalkan lokasi pabrik menuju rumahnya. Setibanya di rumah, Sr langsung masuk kamar. Melihat tingkah aneh anaknya, orangtua korban lalu  mendatangi putrinya menanyakan apa yang terjadi. “Saat aku tanyai, sambil menangis dia (korban) bilang kalau tadi di pabrik dia dipeluk dan diciumi sama mandor,” ujar orangtua korban saat membuat laporan. (mag-17)

Lorenzo Masih Belum Puas

BARCELONA-Pembalap tim Yamaha Jorge Lorenzo untuk sementara memuncaki klasemen pebalap MotoGP dengan keunggulan poin yang cukup banyak atas Casey Stoner. Namun, karena masih banyak banyak balapan tersisa, Lorenzo tak mau jemawa.

Lorenzo memenangi empat dari enam seri yang sudah digelar musim ini. Pebalap Yamaha ini bahkan berjaya di tiga balapan terakhir, yakni di Le Mans, Catalunya, dan Silverstone.

Hasil tersebut menempatkan Lorenzo di puncak klasemen dengan 140 poin. Dia unggul 25 poin atas rival beratnya, Casey Stoner.
“Melihat klasemen dan tiga balapan terakhir, itu tampaknya mudah. Tapi, bagi saya, tidak begitu,” aku Lorenzo di Autosport.

“Memang lebih baik punya keunggulan daripada tidak, tentu saja. Namun, itu belum tentu pasti (berarti) kemenangan,” tambah rider berkebangsaan Spanyol ini.

“Ini baru enam seri. Masih ada 12 seri lagi yang harus kami jalani. Sedikit demi sedikit dan balapan demi balapan,” tegasnya.
Ditambahkan Lorenzo, motor Yamaha YZR-M1 andalannya masih perlu pengembangan, khususnya di bagian mesin. “Kami masih perlu memperbaiki beberapa hal, khususnya di bagian mesin yang masih belum begitu kencang,” ungkapnya.

“Namun, kecepatan di tikungan sudah cukup bagus dan itulah kenapa kami bisa bersaing dengan Honda,” kata Lorenzo.(bbs/jpnn)

Warga Demo Pembangunan Sekolah

MEDAN- Sebanyak 30 warga komplek perumahan Graha Indah Kelapa Gading di Jalan Kelambir V, Desa Tanjung Gusta, Medan Helvetia, melakukan aksi unjuk rasa, Sabtu (23/6) siang.

Warga menuntut pembangunan gedung yang dijadikan sebagai sekolah playgroup untuk segera ditutup karena sudah tak sesuai dengan perjanjian. Seharusnya, sekolah playgroup itu dibangun taman bermain di dalam kompleks.

Informasi yang dihimpun Sumut Pos, aksi warga komplek perumahan itu bermula saat warga mengetahui jika bangunan yang semula dibangun untuk membuat taman bermain anak sekitar komplek, dijadikan sebuah gedung sekolah playgroup oleh pengembang. Warga yang mengetahui hal itu, langsung bereaksi meminta pembangunan gedung sekolah tersebut dihentikan, karena warga sekitar komplek tak pernah menyetujui pembangunan sekolah dikomplek perumahan tersebut.

Koordinator Aksi, Boby mengatakan, bangunan tersebut telah menyalahi izin, semula pihak pengembang berjanji membangun taman rekreasi bermain anak, tapi yang dibangun malah gedung berlantai 3 untuk sekolah taman kanak-kanak. (jon)

Gus Irawan Kembalikan Formulir, Kamaluddin Mendaftar

MEDAN- Mantan Direktur Utama (Dirut) Bank Sumut, H Gus Irawan Pasaribu SE Ak MM, mengembalikan formulir pendaftaran ke DPD Partai Golkar Sumut, Sabtu (23/6) pukul 14.00 WIB.

Penyerahan formulir pendaftaran ini, diikuti ribuan pendukung Gus Irawan. Mereka melakukan pawai dari UNIMED ke Gelanggang Remaja Medan dengan menggunakan sepeda motor menuju kantor DPD Partai Golkar Sumut.

Dalam penyerahan formulir itu, seluruh fungsionaris Partai Golkar hadir untuk menyambut Gus Irawan. Seluruh organisasi atau kelompok pemuda seperti Pendawa, nelayan, dan petani, ikut memeriahkan penyerahan berkas tersebut. Pada kesempatan itu, Gus hadir bersama istri dan sejumlah saudaranya.

Wakil Ketua Bidang Organisasi Amru Daulay mengatakan, Partai Golkar akan melayani seluruh tokoh masyarakat yang ingin mendaftarkan diri, karena yang memilih nantinya masyarakat sendiri.

“Atas nama Partai Golkar, kami menerima baik kehadiran Gus dan rombongan, ini dapat dilihat begitu lengkapnya seluruh pengurus Golkar yang hadir,” katanya, sembari memuji Gus Irawan sebagai sosok yang telah terbukti mengangkat harkat Bank Sumut dengan baik dan sosok administrasi yang baik pula.

Sementara itu, Gus Irawan mengaku, tersanjung dengan kedatangan seluruh senior dan fungsionaris Partai Golkar “Mudah-mudahan, ini menjadi pertanda baik,” ceplosnya.

Gus Irawan juga mengaku, siap bersaing dengan balon gubsu lainnya yang sudah mendaftar di Partai Golkar maupun partai lainnya. “Saya siap maju biarpun banyak saingan,” tegasnya.

Saat diminta tanggapannya mengenai pendampingnya sebagai balon wakil Gebsu, dirinya menunggu survei terpercaya dari Jakarta.
“Saya nunggu survei dari Jakarta, mana yang pas dan memberikan kontribusi suara lebih banyak,” ungkapnya.

Sedangkan, Sumut Cemerlang, bertekad mengajak dan meyakinkan masyarakat Sumut untuk mengusung Gus Irawan Pasaribu pada Pilkada 2013 mendatang. Hal ini diungkapkan Ketua Umum Cemerlang Sumut Daudsyah, dalam deklarasi tokoh Sumut cemerlang H. Gus Irawan di Gelanggang Remaja Medan.

Sementara itu, dengan diiringi Gordang Sambilan, alat musik tradisional Mandailing yang sempat diklaim Malaysia, Wakil Ketua DPRD Sumut Kamaluddin Harahap, mendaftar sebagai bakal calon (balon) Gubsu ke Partai Golkar di Kantor Sekretariat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Sumut, Jalan Wahid Hasyim Medan, Sabtu (23/6) kemarin.

Pria yang juga Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) ini, seusai menyerahkan formulir dan berkas pendaftaran kepada sejumlah fungsionaris DPD I Golkar Sumut di ruang rapat kantor PG, kepada wartawan menyatakan, keseriusannya untuk membangun Sumut jika dipercaya rakyat untuk menjadi Gubsu periode 2013-2018. (jon/omi/gus/ari)

Kalah Kelas

PSMS vs Pelita Jaya

MEDAN- PSMS harus menelan pil pahit di depan publiknya sendiri. Sabtu (23/6) kemarin di Stadion Teladan, PSMS dipecundangi Pelita Jaya 1-2. Satu gol Osas Saha di menit 54 tak cukup untuk menyelamatkan PSMS dari kekalahan. Dua gol dari Greg Nwakolo dan Safee Sali menunjukkan kelas Pelita Jaya di Teladan.

Duel berlangsung dalam cuaca ekstrim dengan hukan lebat diiringi angin kencang. PSMS mengawali laga seperti kehilangan percaya diri dan semangat. Jauh menurun dari saat menghajar Persib. Dengan kondisi seperti itu, Pelita Jaya unggul kelas. Duet Greg Nwakolo dan Safee Sali yang didukung Joko Sasongko sebagai penyuplai bola The Young Guns mengobrak abrik pertahanan tuan rumah.

Benar saja, di menit 9, gawang PSMS sudah bergetar. Menerima umpan terukur Joko Sasongko, Greg lolos dari perangkap offside. Pemain naturalisasi asal Nigeria itu melepaskan tendangan yang membentur kaki Novi. Edi yang sudah mati langkah tertegun.

PSMS meski mendominasi penguasaan bola kesulitan menembus Pelita. Umpan-umpan terobosan kepada Saha mudah dibaca Viktor Igbonefo. Hal itu membuat PSMS berupaya memaksimalkan bola mati. Tendangan bebas Ceh hanya menghasilkan corner kick di menit 13. Bahaya berlanjut bagi PSMS. Edi salah menyentuh bola back pass dari Sasa dengan tangannya sehingga wasit menunjuk tendangan bebas di dalam kotak penalti untuk Pelita. Tendangan Safee melenceng.

Edi Kurnia lagi-lagi harus memungut bola dari gawangnya di menit 32. Skema serangan Pelita yang hampir mirip, Joko-Greg dan Safee kembali menjadi aktor berduel dengan Sasa yang kerap ditinggal sendirian di belakang. Edi turut andil dengan keragu-raguannya apakah ingin menangkap atau menendang bola yang bergulir pelan memasuki kotak.

Tendangannya malah jatuh di kaki Joko yang langsung menyodorkan umpan kepada Safee. Striker Malaysia itu mencocor bola dengan mudah. Skor 2-0 bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, PSMS mulai menemukan kembali kepercayaan dirinya. Tiga menit babak kedua berjalan Saha mengancam lewat tendangan yang sedikit menyamping.Momen itu mengawali kebangkitan tuan rumah. Di menit 54, PSMS memperkecil ketertinggalan. Sepak pojok Ceh ditanduk Saha dan gagal diantisipasi Kadek Wardana.

Gantian Pelita yang kesulitan menembus pertahanan PSMS tanpa Greg yang terpaksa keluar karena cedera dan sering terperangkap offside. Beberapa kali perangkap offside itu gagal. Di menit 65, Safee lolos. Tendangannya masih mampu dihalau Edi Kurnia. Edkur kembali menemukan kepercayaan dirinya dan menghalau peluang emas lainnya dari Dedi Kusnandar.

Di menit 84, ekspektasi kepada Ceh demikian tinggi saat PSMS mendapat tendangan bebas di sisi kiri pertahanan lawan. Ceh melesakkan bola langsung ke gawang namun Kadek Wardana meninju bola. Bola mentah dan menciptakan kemelut yang berujung tendangan Shin yang melenceng. Di penghujung waktu normal, tendangan bebas Ceh membentur mistar. Sontekan Shin  yang gagal menutup laga dengan pil pahit bagi PSMS. PSMS mengakui terlambat start di awal sehingga harus menuai hasil buruk.

“Memang kita terlambat start sehingga permainan baru efektif di babak kedua. Selain itu kita juga kurang beruntung dengan beberapa peluang yang seharusnya menjadi gol,” kata Sugiar, Pelatih kiper PSMS.

Sementara Pelatih Pelita Jaya, Rahmad Darmawan mengatakan cukup puas  dengan kemenangan skuadnya yang berarti memperpanjang rekor enam laga tanpa kalah.

“Saya pikir ini satu pencapaian yg baik. Ada progres yang baik dalam enam laga terakhir sehingga kami tidak pernah kalah. Kali ini kita bermain efektif,” katanya.

RD mengakui pasca ditariknyaa Greg, serangan Pelita memang kendur. “Selalu akan ada satu transisi. Karena mereka memang beda karakter. Dengan Safee dan Greg mereka bisa mengisi ruang sebelah kanan dan kiri. Sementara Bajevski bukan sprinter. Setelah itu kembali lagi normal saat dia tahu posisi dengan menempatkan diri di belakang Safee,” pungkas RD. (mag-18)

[table caption=”STATISTIK PERTANDINGAN”]

PSMS ,v ,Pelita Jaya

1   ,  Gol   ,  2
4     ,Tendangan Melenceng   ,  2
5     ,Tendangan ke Gawang   ,  4
6    , Tendangan Sudut    , 2
11   ,  Pelanggaran  ,   16
3    , Penyelamatan  ,   3
2   ,  Offside  ,   2
3   ,  Kartu Kuning    , 1
0   ,  Kartu Merah  ,   0
50    , Ball Posession   ,  50

[/table]

Kembalilah ke Buah Lokal

Beberapa hari lalu, Kantor Kementerian Pertanian merilis data yang mencengangkan. Ternyata banyak buah impor yang mengandungkimia berbahaya, diantaranya mengandung formalin dan pewarna pakaian. Pemberian  formalin umum dilakukan pada anggur, jeruk, apel, dan ikan impor. Pewarnaan biasanya dilakukan terhadap pir, mangga, belimbing, pisang, jeruk dan semangka impor.

Lebih mencengangkan, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan Kementerian Pertanian (Kementan), Arifin Tasrif, menyebut Indonesia menjadi keranjang sampah bagi produk pertanian dari negara lain.  Ironisnya, produk tersebut berkualitas rendah dan sering tidak laku di negara lain.

Ternyata itulah yang banyak dikonsumsi masyarakat pecinta buah impor. Ini menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang masih tetap ingin sehat dengan mengkonsumsi buah.

Sebenarnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi buah mengandung formalin. Diantaranya, menggunakan test kit formalin yang bisa didapatkan di toko kimia. Harganya rata-rata di kisaran Rp150 ribu hingga Rp1 juta.

Caranya buah yang akan diuji potong kecil-kecil, ambil sedikit saja kurang lebih 10 gram. Rendam dengan air hangat sekitar 10 ml. Ambil air rendaman sebanyak 5ml, kemudian teteskan test kit formalin kurang lebih 1 tetes.

Biarkan kurang lebih 10 menit, jika dalam waktu tersebut air berubah warna menjadi ungu, berarti buah tersebut mengandung formalin.

Tetapi bila tak waktu atau duit sebanyak itu hanya untuk menentukan kadar formalin buah, rasanya membeli buah lokal menjadi solusi paling paten. Tersedia beraneka buah dengan kansungan gizi tinggi. Coba saja pisang barangan yang terkenal itu. Atau pepaya manis dari ladang petani di Delitua.
Kalau mau buah apel, ada apel malang. Meski rasanya sedikit masam, unsur nutrisinya tak kalah dari apel washington dipanen entah kapan-kapan dari ladang yang jauh di sana. Anggur lokal juga kita punya.

Selain menjaga tubuh tetap sehat, membeli buah lokal memberi jaminan penguatan ekonomi kita. Uangnya beredar di sekitar kita, tidak menguap dan hanya mensejahterakan petani luar dan pelaku ekonomi nakal.

Kita punya beragam sayur dan buah lokal berkualitas prima. Bila punya waktu luang, silakan buktikan sendiri di Pekan Flori dan Flora Nasional di Jalan Gatot Subroto. Mumpung even langka ini masih dibuka hingga hari ini, 24 Juni 2012.(*)

Senam Medan Butuh Peralatan Latihan

MEDAN-Animo para generasi muda Medan menggeluti cabang olahraga senam terus meningkat. Hal itu tidak lepas dari keseriusan dilakukan Pengcab Persani Kota dan KONI Medan dalam melakukan pembinaan serta pemasalan.

Animo tersebut bisa dilihat pada hari-hari latihan, Gedung Senam Prof Jepta Hutabarat yang terletak di kawasan Stadion Teladan, Medan, selalu dipenuhi anak-anak usia dini dan remaja melakukan latihan. Sayangnya, para pesenam harus berlatih dengan peralatan yang minim. Peralatan yang digunakan untuk berlatih terlihat lapuk dan sudah usang. Bahkan sudah tidak layak lagi bagi atlet pemula.

Saat Ketua Umum KONI Medan, Drs Zulhifzi Lubis yang didampingi pengurus lainnya berkunjung ke tempat latihan di Gedung Prof Jepta Hutabarat, Selasa (19/6) lalu, para atlet harus berlatih dengan peralatan yang tidak memenuhi standar kelayakan. Bahkan mereka harus rela menunggu cukup lama, untuk bergiliran menggunakan salah satu alat.

“Sekarang kami memaksimalkan apa yang dimiliki saat ini. Padahal para atlet ini, enam diantaranya merupakan atlet Sumut yang diandalkan merebut medali pada PON XVIII di Pekanbaru nanti,” kata pelatih senam artistik, Syafrizal.

Sementara itu Ketua Umum KONI Medan, Drs Zulhifzi “Opunk” Lubis mengatakan, karena keterbatasan peralatan latihan, janganlah membuat semangat para atlet Medan kendor dalam berlatih.

“Kita jangan patah semangat. Para pesenam Medan harus menunjukkan prestasi pada PON XVIII nanti, sehingga akan membuka mata semua pihak bahwa cabang olahraga senam memang perlu dibina secara profesional,” ujar Opunk yang didampingi Kabid Binpres KONI Medan, Drs Bambang Riyanto dan bidang antar lembaga Syafrudin Lubis. (jun)