Home Blog Page 13324

Buronan Kejatisu Ditangkap di Surabaya

Dugaan Korupsi Proyek Pembangunan Jalan Raya Simalungun

SURABAYA – Satu lagi buronan ditangkap oleh tim Intel Kejaksaan Agung (Kejagung). Setelah Rasyidi Ishom, buronan Kejaksaan Tinggi Sumatra Utara (Kejatisu) ditangkap di Hotel Tunjungan Kamar 827 Surabaya, Minggu (18/6) sekitar pukul 18.45 WIB. Kardius adalah tersangka kasus korupsi proyek pembangunan jalan raya di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut).

Kardius sendiri menjabat sebagai direktur dalam proyek pembangunan jalan dengan nilai proyek sebesar Rp5,6 miliar. Namun dalam pengerjaannya tidak sesuai dengan spesifikasi kontrak dan mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp1,7 miliar.

Wajah Kardius tampak tegang ketika digelandang keluar mobil oleh petugas. Mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana kain warna hitam. Dia berulang kali menutupi muka dan menghindar ketika berusaha untuk dipotret. “Kenapa ini pakai foto-foto segala,” ungkapnya.

Tiga petugas kejaksaan yang mengapit Kardius langsung menggelandangnya masuk ke terminal keberangkatan pesawat Garuda pada pukul 20.00 WIB. Rencananya Kardius akan langsung diterbangkan ke Jakarta. Di Jakarta, Kardius akan menikmati satu hari bermalam di rutan Kejagung. Setelah itu, dia akan langsung diterbangkan ke Sumatra Utara.

Ketika ditanya, Kardius enggan menjawab. Dia hanya mengatakan bahwa selama ini tidak bersalah. “Saya tidak tahu kalau dijadikan DPO,” jelasnya. Pria bertinggi sekitar 170 cm itu mengatakan akan segera menghubungi kuasa hukumnya.

Terpisah, Kasi III Asintel Kejati Sumut, Ronald Bakara yang ikut menangkap Kardius mengatakan tahun 2010 dilakukan penyidikan atas dugaan korupsi tersebut. Kemudian dari hasil penyidikan dtemukan adanya kerugian negara sebesar Rp1,7 miliar. Tahun 2011, Kardius ditetapkan sebagai tersangka. Dia tidak pernah hadir saat dilakukan pemanggilan dan kemudian menghilang. “Sejak itu dia dijadikan daftar pencarian orang (DPO),” jelasnya. Beberapa bulan ini, keberadaan Kardius memang sulit untuk dideteksi oleh petugas.

Ronald menambahkan jika, selama satu bulan akhir ini, Kardius terlacak keberadaanya di Jakarta dan Surabaya. “Sehingga kami meminta bantuan dari Intel Kejagung dan Kejati untuk menangkapnya,” ujarnya.

Sementara, Kasi Penkum Kejatisu, Marcos Simaremare SH mengatakan, Senin (25/6) akan dibawa ke Kejatisu.(far/aph/jpnn/mag -12)

Bandara Kualanamu: Dari Masalah ke Masalah

Terhambatnya operasional Bandara Internasional Kualanamu tidak hanya soal rumitnya pemberian izin IMB City Check-in Kereta Api. Tarik ulur Tirtanadi dan Tirtauli soal siapa yang berhak menyuplai air justru menuai masalah baru. Paling klasik adalah kendala pembebasan lahan jalan utama (non-tol/arteri) menuju bandara. Ini malah kian rumit saja ujungnya. Oh… Kualanamu sepertinya tak pernah berhenti bermasalah.

SECARA khusus anggota DPR RI asal Sumut, Ali Wongso Sinaga berjanji akan membicarakan permasalahan tersebut di Komisi V. “Saya akan bicarakan dengan rekan-rekan di Komisi V. Bila perlu kita akan undang semua pihak yang terkait. Baik itu gubernur, walikota, bupati dan pihak-pihak lainnya. Karena bandara tersebut kan milik kita bersama. Jangan sampai terkendala. Karena kalau ini sampai terkendala, yang dirugikan kan masyarakat Sumut,” katanya.

Sebagai langkah awal terkait kemungkinan adanya kendala dalam pemberian IMB City Check-In KA, anggota dewan ini mengaku akan menanyakannya terlebih dahulu secara langsung kepada Walikota Medan dan pihak Kereta api Indonesia. Langkah ini semata-mata untuk menggali terlebih dahulu. Sebab demi terwujudnya pembangunan yang sangat diharapkan dan sangat membantu Sumut tersebut, semua pihak berkompeten harus sama-sama saling jemput bola untuk menyelesaikan masalah.

Apalagi, menurut Ali Wongso, dirinya secara pribadi juga masih menemukan adanya kendala di lapangan. Salah satunya terkait pembebasan lahan yang akan dipergunakan sebagai jalan utama menuju ke bandara tersebut.

“Jadi harus ada langkah-langkah efektif. Minggu lalu kebetulan saya dari Sumut dan saya melihat lahan arteri itu tiga kilometer belum beres. Ini ada apa sebenarnya?” Padahal secara garis besar menurutnya, pemerintah pusat telah mengucurkan dana. Baik terkait pembangunan maupun pembebasan lahan.

“Jadi pembangunan jangan terhambat hanya karena ketidaksiapan daerah. Jangan kita ini terkesan mau tidak mau. Karena sebenarnya banyak daerah lain di Indonesia sangat mendambakan memiliki bandara internasional. Saat masyarakat Sumut diberi kesempatan, mari dimanfaatkan sebaik-baiknya,” tukasnya.

Dalam konsteks ini, peran gubernur menurut Ali Wongso, amat dibutuhkan. “Kalau tidak, Kualanamu kapan selesainya?” Tapi ia mengingatkan, kebijakan apapun yang diambil jangan sampai merugikan masyarakat.

“Jadi di sinilah gubernur mengambil peran. Setiap saat dimonitor. Begitu ada masalah segera panggil pihak-pihak terkait. Gubernur kan kepala daerah. Bandara itu nantinya  bandara internasional di Sumut. Jadi gubernur harus turun tangan,” ujarnya.
Satu hal yang perlu diingat, katanya, pembangunan tidak asal kejar target tanpa memperhatikan kualitas. Sebagai contoh tahun lalu Presiden meresmikan bandara di Lombok, namun ternyata jalan ke arah bandara tak dibenahi. ‘’Sumut jangan seperti itu,’’ katanya.

City Chek-In

Meski sudah dilarang melanjutkan proses pembangunan City Chek-In milik PT Kereta Api Drive I Sumatera Utara di Jalan Kereta Api, Medan karena tidak mengantongi perijinan. Perusahaan milik negara tersebut tetap saja melakukan pembangunan, dan kini pembangunan sudah sampai pada proses pengecoran atap bangunan.

Pantauan wartawan Koran ini di lapangan, para pekerja tetap saja melanjutkan pembangunan gedung yang nantinya akan digunakan sebagai tempat warga kota ini melakukan Chek in saat akan berangkat dengan menggunakan pesawat terbang di bandara Kualanamu Kabupaten Deliserdang. Padahal, jelas terlihat kalau bangunan itu belum memiliki perijinan sebagaimana mestinya yang dikeluarkan oleh Dinas TRTB Kota Medan.

“Bangunan itu memang program nasional dan milik pemerintah. Namun dalam aturannya, setiap akan melakukan pembangunan, harus disertakan dengan perijinan sebagaimana mestinya. Sehingga selain memberikan contoh pada warga kota ini untuk taat aturan, pembangunan itu nantinya juga tidak berdampak negatif di sektor lainnya,” kata Ketua Komisi D DRPD Medan, Muslim Maksum, kemarin.

Anggota lainnya, Juliandi mengatakan Dinas TRTB jangan hanya bisa bicara lantang dan sok jagoan. Namun pada kenyataannya tidak bisa menegakkan peraturan sebagaimana mestinya. “Kalau pada saat rapat, kepala Dinas TRTB Sampurno Pohan sangat vokal dan berjanji menegakkan peraturan yang ada. Namun mengapa pada persoalan ini, Sampurno tidak bisa bertindak apa-apa. Jadi jangan hanya cakap. Tolong buktikan kinerjanya,” ucapnya.
Ditegaskannya, kalau memang tidak mampu menegakkan aturan sebagaimana mestinya, lebih baik Sampurno Pohan mundur dari jabatannya. Karena jabatan itu adalah amanah yang harus dilaksanaan. Kepala Dinas TRTB sendiri.

“Sampurno Pohan pernah berjanji akan  melakukan tindakan tegas, jika PT KAI masih melanjutkan pembangunan sebelum memiliki izin sebagaimana mestinya. Namun faktanya, hingga kini belum ada tindakan tegas sekaitan persoalan ini,” jelasnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, PT KA sendiri sudah mengajukan permohonan pembangunan gedung tersebut. Hanya saja, hingga kini permohonan dimaksudkan tidak kunjung dikeluarkan Dinas TRTB. Kabarnya, salah satu penyebab tidak dikeluarkannya perjinan dimaksud, karena tidak dilampirkan dengan ijin analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) lalu lintas, sesuai UU No 40 tahun 2009 tentang analisis lingkungan serta peruntukan lahan.

“Jika tidak memungkinkan untuk peruntukan umum (terminal) dari jalur hijau, Pemko Medan harus konsisten menegakkan aturan,” ungkap Wakil Ketua Komisi D DPRD Medan, Irwan Sihombing.

Suplai Air Bandara

Untuk menyediakan air bersih ke Bandara Kualanamu, Pemkab Deliserdang sudah siap gelontorkan anggaran Rp 28 miliar, dana itu untuk pendanaan pembangunan reservoir (bak penampungan) air dan pemasangan pipa sepanjang 60 kilometer (Km). Sumber dananya Rp20 Miliar berasal dari APBN ditambah Rp5 Miliar BDB dan Rp3 Miliar APBD.

Demikian ditegaskan Asisten II Pemkab Deliserdang bidang perekonomian, Agus Ginting, akhir pekan silam, saat ditemui di ruang kerjanya.
Lanjutnya, sumber air berasal dari kecamatan Gunung Meriah itu rencananya akan dialirkan ke Bandara Kualanamu, kemudian sebagian akan dialirkan ke wilayah Tanjung Morawa. Olehkarenanya, kini sedang disiapkan pembangunan reservoir air Gunung Meriah dan Desa Petumbukan Kecamatan Galang. Dari Petumbukan selanjutnya dialirkan kembali ke Kualanamu serta Tanjung Morawa.

System yang dipakai untuk mengalirkan air menggunakan tenaga di gravitasi dengan debit air 60 liter per detik, mengingat posisi Gunung Meriah dan Desa Petumbukan lebih tinggi dari Bandara Kualana yang termasuk kedalam wilayah Kecamatan Beringin. ”Tentu jumlah ini jauh dari kebutuhan yang diminta Bandara Kualanamu 15 liter per detik,” tambahnya.

Tentu PDAM Tirta Deli sebagai perusahan milik daerah Kabupaten Deliserdang yang akan berperan dalam pelaksanaan pembangunan serta penyaluran suplai air tersebut. Untuk sementara itu, saat ini telah tersedia bak penampungan air di Desa Karang Anyar Kecamatan Beringin dengan volume debit air 25 liter per detik.

Selain itu PDAM Tirta Deli juga akan mengalokasikan masing masing tiga kecamatan lainnya, Pantai Labu, Hamparan Perak dan Tanjung Morawa, sudah disiapkan masing-masing dana sebesar Rp.7,5 Miliar dari APBN, Rp.1,5 Miliar dari APBD. Untuk perbaikan reservoir yang ada (up-grade) disiapkan dana Rp 600 juta.

Sesuai dengan UU 32/2004 tentang Pemerintah Daerah beserta perubahannya, disebutkan, setiap daerah diberikan hak untuk mengelola sumber daya alamnya  untuk pencapaian Pendapatan Asli Daerah (PAD). PDAM Tirta Deli sebagai perusahan milik Kabupaten Deliserdang sudah selayaknya mendapat tugas tersebut. Selain itu, antara PDAM Tirta Deli dengan Tirtanadi  ada MoU tentang penyediaan air bersih, meliputi Tembung (bukan Percut Sei Tuan), Batangkuis, Tanjungmorawa, Lubukpakam. Durasi MoU itu sekitar 25 tahun.

Sementara itu, Bandara Kualanamu di wilayah Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu tidak termasuk wilayah kerjasama antara PDAM Tirta Deli dengan Tirta Nadi. ”Tirta Deli berhak mengsuplai air bersih ke Bandara. Bandara merupakan pangsa pasar bagi Tirta Deli bukan perusahan lain,” tegas Ketua Komisi C, Mikail TP Purba.

Untuk mengwujudkan itu, pada 19 Desember tahun 2011 silam, Pemkab Deliserdang diwakili Bupati Deli Serdang, H Amri Tambunan melakukan kerjasama (AP II) Angkasa Pura II diwakili Dirut AP II serta disaksikan Menteri Kehutanan RI Zulkipli Hasan. MoU dijelaskan bahwa penyuplaian air bersih ke Bandara Baru Kualanamu adalah Pemkab Deliserdang (PDAM Tirta Deli) .

Masalah Jalan Arteri

Hingga saat ini jalan arteri (non-tol) mulai Simpang Kayu Besar ke Kuala Namu masih terkendala pembebasan lahan. Jalan arteri sepanjang 13,5 km itu masih terbangun 10 km. Sedangkan 3 km lagi masih terkendala pembebasan lahan. Sehingga, kondisi jalan tidak bisa lurus, melainkan zig-zag.

Apabila dipaksakan pada akhir tahun 2012 ini, Bandara Internasional Kuala Namu terpaksa memakai akses jalan Bakaran Batu. Sampai saat ini, progres pembangunan Bandara Kuala Namu sudah 80 persen yang terdiri dari sisi darat dan udara. Sisi darat kini mencapai 90 persen.

”Tinggal finishing saja seperti pemasangan counter atau alat-alat elektronik, berupa eskalator dan lift,” ungkap Kepala Projekct Implementation Unit (PIU) Angkasa Pura (AP) II, Joko Waskito.

Masalahan lainnya, untuk akses jalan, areal lahan yang digunakan  untuk jalan arteri belum terbebas seluruhnya. Sampai kini masih menunggu pembebasan lahan selesai hingga April 2012. Bila sampai April, belum selesai dibebaskan pembangunan jalan tetap dilanjutkan dengan resiko kondisi tidak akan lurus karena ada bottleneck di bagian tengah.

Pelaksanan pembangunan jalan arteri dikerjakan secara multiyears pada tahun 2008-2010 sekitar 7 km oleh PT Bangun Cipta. Namun, karena pembebasan lahan belum selesai, maka dilakukan lelang lagi pada tahun 2010 untuk pengerjaan 3 km jalan dan dimenangkan oleh PT Utama Karya. Sisa 3,5 km lagi akan dikerjakan pada tahun ini seiring selesainya pembebasan lahan.

Berdasarkan data Bappeda Sumut beberapa waktu lalu, akses road non tol menjadi satu-satunya akses menuju Bandara Kuala Namu. Sebab, sejumlah akses lainnya baru akan dikerjakan dan akan rampung beberapa tahun lagi. Seperti pembangunan jalan tol Medan-Kualanamu-Tebingtinggi dengan pagu sebesar Rp6,7 triliun diproyeksikan selesai pada tahun 2016.

Akses lainnya, seperti pengembangan jalan akses Kualanamu tahap II sepanjang 14 kilometer dan fly over tahap I dan II diproyeksikan selesai pada tahun 2014. (gir/dya/btr)

Mendiang Raja Inal Siregar Pernah Janji Adam Malik Jadi Bandara Kuala Namu

Nama Adam Malik, ternyata sudah pernah dijanjikan mantan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Almarhum Raja Inal Siregar, sebagai nama pengganti Bandar Udara (Bandara) Kualanamu.

Itu berdasarkan pengakuan Ketua Pengurus Daerah Wanita Satya Praja (WSP) Sumut, Dorimah Siregar saat bertemu dengan Sumut Pos, seusai menyerahkan berkas pengajuan nama Adam Malik sebagai pengganti nama Bandara Kualanamu, di Ruang Fraksi PKS DPRD Sumut, lantai III, Gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol No.5 Medan, Senin (11/6).

Menurut perempuan yang mengenakan busana muslim warna putih tersebut, janji yang dikemukakan Almarhum Raja Inal Siregar tersebut, ketika dirinya bersama istri Adam Malik, almarhumah Nelly Adam Malik beserta pengurus Eksponen 66 Sumut, diantaranya Abdul Hakim Harahap, Drajat Hasibuan. Nurhayati Siregar, Salfida Efrida (waktu itu sekretaris Wanita Satya Praja, red), beraudiensi dengan almarhum Raja Inal Siregar di Kantor Gubsu, pada sekira tahun 1992.

“Waktu itu, Almarhum Ibu Nelly Adam Malik dating ke Sumut dalam rangka HUT WSP. Kemudian kami beraudiensi dengan almarhum Pak Raja Inal Siregar. Kami mengusulkan kepada Almarhum Pak Raja Inal, jika nama Adam Malik dijadikan nama bandara untuk Bandara Polonia Medan.

Namun, saat itu almarhum Pak Raja Inal mengatakan, nanti saja. Soalnya bandara mau pindah ke Kualanamu. Kalau sudah siap (Kualanamu, red), baru nama Adam Malik untuk nama bandara (Kualanamu, red) itu. Memang saat itu, masih secara lisan. Dan usulan nama Adam Malik, sudah ada pada tim verifikasi nama bandara yang dibentuk Pemprovsu,” terangnya.

Mengenai kehadirannya ke Fraksi PKS DPRD Sumut, Dorimah Siregar mengungkapkan, jika dirinya mengantarkan surat pengusulan nama Adam Malik sebagai nama pengganti Bandara Kualanamu. “Saya mengantarkan surat itu ke Panitia Khusus (Pansus) nama Bandara Kua lanamu, ditujukan untuk anggota Pansus dan Ketua DPRD Sumut,” cetusnya.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho seusai Rapat Paripurna LKPj 2011 Sumut di Gedung Rapat Paripurna baru DPRD Sumut menyatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan anggota DPRD Sumut terkait nama untuk Bandara Kualanamu tersebut.

“Kita akan berkoordinasi dengan DPRD Sumut. Yang jelas ini menjadi win-win solution, perekat kebersamaan di Sumut. Nama bandara jadi nilai kompetitif. Positioning bandara kedepannya, bandara ini menjadi hak internasional. Menuju eropa lebih efisien dari Bandara Kuala Lumpur dan Changi Singapura. Ini menjadi perjuangan, untuk nanti hak internasional. Jadi nama menjadi sangat penting. insyaAllah kita terakhir konsolidasi dengan seluruh stakeholder, paling lambat Maret 2013. Kita baru bertemu deputi staf ahli Kemenhub,” terangnya.

Diketahui, tim inventarisasi nama Bandara Kualanamu sudah mengantongi lima nama, yakni Bandara Sultan Serdang, Bandara Kualanamu, Bandara Raja Sisingamangaraja XII, Bandara Haji Adam Malik dan Bandara Tengku Amir Hamzah. (ari)

DPR Sampai Ingatkan Bappenas

Proyek pembangunan Bandara Kualanamu dinilai masih lelet. Karenanya, Badan Anggaran (Banggar) DPR akan mengingatkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk serius menyikapi pembangunan bandara baru pengganti Polonia Medan itu.

Anggota Banggar DPR asal Sumut, Iskan Qolba Lubis menyatakan, secara makro, konsep pembangunan Bandara Kualanamu ditangani Bappenas. Lembaga itu pula yang menyusun Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Dalam MP3EI itu pula disebutkan bahwa Sumut akan dijadikan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam rangka itu pula, Bandara Polonia lantas dipindahkan ke Kualanamu.

“Nah, jika serius ingin menjadikan Sumut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, ya Bandara Kualanamu harus dipercepat pembangunannya. Ini akan saya sampaikan saat Banggar rapat dengan Bappenas dalam waktu dekat ini,” ujar Iskan Lubis kepada koran ini di Jakarta, kemarin.

Politisi asal PKS itu merasa heran, mengapa pembangunan Bandara Kualanamu sangat lambat. “Kualanamu sangat lambat dibanding misalnya bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Pemerintah perlu didorong,” ujarnya.

Dikatakan, pemerintah perlu diingatkan terus. Alasannya, menurut Iskan yang juga duduk di Komisi VIII DPR itu, koordinasi antarlembaga di pemerintah, sangat lemah. Seringkali, lanjutnya, apa yang menjadi kebijakan makro, tidak dilaksanakan secara baik oleh instansi-instansi teknis terkait.
Dia memberi contoh soal kebijakan ingin menciptakan ketahanan pangan, yang tidak dibarengi dengan pembangunan irigasi. “Apa yang dilakukan menteri pertanian, tidak maching,” kritiknya kepada Mentan Suswono, yang juga dari PKS itu.

Masih terkait dengan konsep MP3EI yang ingin menjadikan Sumut sebagai pusat pertumbuhan, menurutnya, mestinya tak hanya bandara saja yang dibangun. “Mestinya pelabuhan juga dikembangkan. Ini yang Bappenas akan kita getok,” tegasnya.

Humas Angkasa Pura-II, Ferry Utama, membantah adanya persoalan yang menghambat proses pembangunan Bandara Internasional Kuala Namu. Oleh sebab itu ia memastikan, target bandara kebanggaan orang Sumut dapat dipergunakan tahun depan, masih tetap dalam koridor.

Demikian diungkapkannya secara khusus kepada koran ini di Jakarta, kemarin. “Kalau disebut banyak masalah, kita di AP-II tidak ada masalah. Tapi memang sebagaimana sebuah pembangunan, tentunya selalu ada prosesnya. Baik itu mulai dari tender, pengadaan barang maupun proses pembangunan itu sendiri,” ungkapnya. Sehingga karena panjangnya rangkaian yang ada, banyak pihak menilai proses pembangunan tersebut terkesan berjalan sangat lamban dan terkendala karena disebabkan adanya masalah.

Namun menariknya saat ditanya seputar informasi dugaan adanya kendala terkait IMB City Check-In Kereta Api, Ferry tidak mau berkomentar banyak. Ia hanya mengatakan, sebaiknya hal tersebut dikonfirmasi langsung ke Walikota Medan atau pejabat Pemda yang berwenang lainnya.
‘’Saya harus menghargai instansi-instansi yang ada. Apalagi dalam hal ini kan ada yang menjadi tanggungjawab daerah. Mereka juga punya wewenang, jadi lebih bagus jika itu ditanyakan langsung kepada mereka,” ungkapnya.

Artinya, menurut  Ferry, perlu diketahui jika dalam proyek pembangunan Bandara Kuala Namu, ada pembagian batas kewenangan antara pusat dan daerah. Hanya saja secara menyeluruh, apa yang menjadi tanggungjawab AP-II terkait proses pembangunannya masih berjalan sebagaimana semestinya.

“Pemerintah berkeinginan agar tahun depan bandara tersebut telah dapat beroperasi. Kita di AP-II tentunya sangat mendukung hal tersebut,” katanya.
Kendati tak ingin mengomentari adanya masalah di tingkat daerah, Ferry dalam kesempatan kali ini tetap mengingatkan. Bahwa pengerjaan proyek secara keseluruhan tetaplah merupakan satu kesatuan. Sehingga jika memang masih ada masalah-masalah kecil yang mengganggu, sebaiknya dapat cepat diselesaikan. Namun tentunya sesuai batas dan kewenangan dari pihak-pihak yang ada.

“Nah, kalau di kita AP-II, itu Insya Allah bisa selesai akhir tahun ini. Jadi tahun 2013 sudah operasional,” ungkapnya. (sam/gir)

4 Persoalan Krusial Bandara Kualanamu

  • Masalah pembebasan lahan untuk akses jalan menuju bandara yang berlokasi sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Medan itu, balik akses jalan tol maupun non-tol.
  • Pembebasaan lahan di lokasi bandara itu sendiri, dimana saat ini masih ada sebanyak 34 kepala keluarga (KK) yang belum bersedia meninggalkan lokasi tersebut karena ganti rugi yang dinilai belum memadai. (sudah selesai)
  • Pembangunan landasan pacu yang beru dimulai Januai 2011 dan direncanakan selesai dalam waktu 18 bulan.
  • Ketersediaan pasokan listrik dan air bersih. Khusus pasijab listrik, sejauh ini pihak PT PLN (Persero) baru mampu menyediakan sekitar 5 Mega Watt (MW) dari total kebutuhan yang diperkirakan sedikitnya mencapai 20 MW.

Baca juga: Dahlan Iskan ‘Amankan’ Tol Kualanamu

Dahlan Iskan ‘Amankan’ Tol Kualanamu

MEDAN- Target optimistis Angkasa Pura II sudah ditetapkan. Bandara Internasional Kualanamu sebagai pengganti bandara Polonia dijadwalkan beroperasi pada 2013 mendatang.

Angkasa Pura II sebagai pengelola Kualanamu, boleh saja optimis. Meski di lapangan terjadi berbagai kendala teknis. Diantaranya, penyediaan air bersih yang jadi rebutan antara PDAM Tirtanadi dan PDAM Tirtadeli, pelaksanaan jalan arteri yang masih terbentur pembebasan lahan serta belum terbangunnya akses jalan tol.

Satu dari setidaknya tiga kendala teknis tersebut, nampaknya akan segera dituntaskan. Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mengungkapkan programnya mendorong percepatan pembangunan infrastruktur jalan tol dari dan ke Bandara Kualanamu.

Salah satu komitmennya, dalam tahun ini juga, Sumatera Utara (Sumut) sudah memiliki Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT). Badan usaha ini akan mengurusi jalan tol dari dan ke Kualanamu serta fasilitas tol lain di provinsi ini.

“BPJT ini nantinya yang akan menginventarisir masalah-masalah jalan tol, apa kendala dan lain sebagainya,” kata Dahlan Iskan di sela-sela kuliah umum di Auditorium USU, kemarin (23/6).

Rencana jalan tol interkoneksi Pulau Sumatera juga akan menjadi tanggung jawab BPJT. Serta BPJT juga akan hadir di seluruh provinsi di Indonesia. “Mudah-mudahan tidak ada masalah lagi dan semua BPJT akan terbentuk,” ungkap Dahlan Iskan. Dia mengharapkan agar Bandara Kualanamu sebagai pengganti Bandara Polonia Medan secepatnya terbentuk, apalagi saat ini proyek pembangunan di lokasi Bandara Kualanamu terus berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Saat ini pengerjaan Bandara Kualanamu tersebut masih terus berjalan. Selain pengerjaan di lokasi bandara, pembangunan jalan tol dan pembangunan jalan alteleri menuju Kualanamu juga menjadi fasilitas bandara ke depan.

Joko Warsito, Kepala Proyek Bandara Kualanamu mengatakan saat pihaknya sedang merampungkan pembangunan di lokasi bandara. Diantara adanya adalah pembangunan landasan. Landasan yang akan dibangun sambung Warsito panjangnya 3.750 meter persegi. Dari panjang ini baru sekitar 1 kilo meter yang baru rampung. Artinya mulai dari tahap penimbunan hingga pengaspalan landasan. Sisanya terus dikerjalan sesuai dengan jadwal proyek.
Selain itu kata Warsito pihaknya juga sedang melengkapi fasilitas interior dan eksterior bandara, semisal pemasangan karpet bandara, marka-marka jalan dan lain sebagainya. Intinya tegas Warsito kalau dipersentasekan sudah rampung lebih dari 85 persen.

Hal ini sambung Warsito sesuai dengan jadwal beroperasinya bandara Kualanamu Maret 2013. Untuk proyek pembangunan jalan alteleri menuju Bandara Kualanamu, Warsito  menyinggung sepenuhnya ditangani oleh Kementerian PU dalam hal pembangunan fisiknya, sementara pembebasan tahan dibebankan kepada pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Sedangkan pembangunan jalan tol diserahkan kepada BPJT.

“Kita terus berkoordinasi tentang percepatan  pembangunan Bandara Kualanamu ini. Bahkan kita pun dari sisi proyek setiap minggunya melaporkan progres pembangunan kepada pimpinan kami PT Angkasa Pura II,” jelas Warsito.

Tak Tahu Penjualan Aset PTPN II

Terkait penjualan Aset PTPN II yakni RS Tembakau Deli dan Lahan HGU di Kabupaten Langkat, Dahlan Iskan menyarankan agar hal itu dibawa ke ranah hukum. “Bawa keranah hukum saja, karena saya belum tahu sah atau tidak penjualan itu,” ucap Dahlan Iskan menjawab Sumut Pos, kemarin pagi.
Soal sejumlah aset PTPN yang dijual, dirinya perlu memintai keterangan langsung ke pihak direksi. “Saya akan tanya yang tahu lah, sah atau tidak akan saya cek ulang, karena sudah kewajiban saya untuk mengetahui penjual itu,” ungkapnya.

Saat disinggung kedatangan petugas KPK ke Kantor PTPN II untuk menyidik dugaan penjualan aset tersebut, Dahlan mempersilakan penyidik untuk memprosesnya secara hukum. Dahlan mengakui, sudah melakukan pertemuan dengan penyidik KPK terkait indikasi korupsi di sejumlah BUMN. “Saya sudah melakukan pertemuan dengan pihak KPK, untuk mengawasi. Kalau indikasi yang lain, silakan melakukan penyeledikan,” tegasnya.
Sedangkan terkait nasib ribuan karyawan PTPN II yang di pecat, Dahlan menyatakan kalau itu kewenangan direksi. .”Wah, itu (kewenangan, red)  manajen, sepenuhnya urusan manajemen, saya  tidak mencampurinya,” ucapnya menutup pembicaraan.(dra/gus)

Baca juga: Bandara Kualanamu: Dari Masalah ke Masalah

Buang Kepuasan Pribadi demi Orang Banyak

Hasbullah Hadi, Ketua DPW Al Washliyah Sumatera Utara

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tak membuat Drs H Hasbullah Hadi SH MKn puas. Dua kali dia berhenti dengan hormat: pertama di Depdikbud RI (1977-1981) dan kedua di Departemen Agama RI (1984-1998). Kini, dia menikmati hidup dengan berorganisasi. Tercatat berbagai organisasi kemasyarakatan dan politik yang dia ikuti. Berikut hasil wawancara Ketua Pimpinan Wilayah Al Washliyah Provinsi Sumatera itu dengan Sumut Pos, beberapa hari lalu.

Meninggalkan dunia PNS yang dianggap ‘nyaman’ tentu dengan pemikiran panjang. Dasar apa yang membuat bapak mengambil keputusan meninggalkan posisi itu? Padahal, cukup banyak warga Indonesia yang menginginkan posisi sebagai PNS.

(Tertawa). Saya berhenti menjadi pegawai negeri karena saya tidak berbakat ‘menjilat’ ke atas dan ‘memijak’ ke bawah. Saya tak pandai yang begitu.

Dua periode dan selama 18 tahun, apakah tidak sayang?

Saya berkesimpulan, saya tidak punya bakat jadi pegawai. Mengusahakan eselon IV atau eselon V pun saya tak mampu. Bukannya saya terlalu bodoh, tapi saya memang tidak berbakat di bidang birokrat.

Ada situasi ketika tidak lagi diposisi yang sama seseorang akan mengalami guncangan jika tidak menemukan kesibukan yang seimbang. Nah, tidak lagi menjadi PNS, apa yang Anda rasakan?

Saya berwiraswasta dan akhirnya saya diangkat jadi notaris. Lalu, saya terjun ke dunia politik.

Politik?

Saya berorganisasi malah sejak kecil. Saya sudah berorganisasi sejak kelas III SMP. Jadi saya menghimpun teman-teman sebaya saya. Kalau ada tetangga yang mengadakan pesta, kami bantu.

Semacam geng atau kelompok anak muda sekarang begitu?

Ya. Kalau dibilang memulai organisasi resmi sejak di Medan. Kalau di kampung tadi, masih terbilang organisasi-organisasian. Setelah tamat, saya masuk ke IAIN dan bergabung dengan perhimpunan mahasiswa Alwasliyah selama satu tahun. Saat rapat anggota komisaris, saya terpilih menjadi ketua komisariat. Selama dua periode saya tetap terpilih. Saat duduk di tingkat III (semester VI) dalam konferensi mahasiswa Alwasliyah se-Kota Medan di Belawan, saat itu yang saya ingat, saya pun diangkat menjadi ketua pimpinan cabang. Pada konferensi wilayah ke V, saya terpilih menjadi ketua pimpinan wilayah V Sumut. Saat menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Mahasiswa, saya dikejar-kejar pada masa itu. Saat itu ketua Dewan Mahasiswa, Norman Siregar ditangkap, saat itu saya sempat lari hingga ke Banda Aceh.

Setelah terjun ke dunia politik, apa yang telah Anda raih?

Jangan gunakan kata raih, seakan hal itu sebagai tujuan saja, mngkin lebih tepatnya pengabdian. Di dunia politik saya sempat menjadi anggota DPRD Sumut dua periode. Sempat pula menjadi wakil ketua DPRD Sumut.

Tentunya berhubungan dengan dunia kepartaian?

Ya. Saya sempat terlibat di MPC-DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Lalu, ketua umum DPW Partai Umat Islam (PUI) dan terakhir beberapa posisi di Partai Demokrat hingga sekarang.

Hasbullah pun bercerita tentang masa kecilnya. Dia dilahirkan dari keluarga Melayu-Jawa. Ibunya suku Jawa tapi lahir di Langkat dan dilahirkan di Pangkalansusu. Sedangkan sang ayah merupakan asli Melayu Langkat, dari Pangkalanbrandan.

Di Pangkalansusu ayah saya bertemu dengan ibu saya, pada 1952; zaman pemberontakan. Saya masih ingat karena ayah saya seorang polisi. Saya lahir di Pematangsiantar pada 1952, waktu ayah saya bertugas di sana. Masa kecil saya yang saya ingat, biasanya kala malam hari kalau ada suara tembakan, saya tidur di bawah kolong dan ayah pergi operasi.

Seberapa besar peran ayah dalam kehidupan Anda?

Ayah menanamkan kepada saya, hidup ini jangan untuk kepentingan diri sendiri. Kita juga harus bisa memikirkan orang lain. Jadi itulah yang menyebabkan saya aktif berorganisasi sejak kecil karena saya merasa dengan berorganisasi kita bisa berbuat untuk orang banyak.

Apakah pesan sang ayah yang mengakar hingga Anda menjadi pemimpin?

Ya. Seperti itulah.

Pilgubsu?

(Tersenyum) Sebetulnya ini tidak bermula datang dari saya. Datang dari elemen-elemen masyarakat. Setiap kali saya turun (ke daerah, Red) mereka mengatakan, mengapa bapak tidak mencalonkan diri jadi gubernur. Lantas saya berpikir, apakah ini bukan mimpi? Dan mereka mengatakan, semua hidup bermula dari mimpi.

Lalu?

Waktu dibahas, dipanggilah pakar-pakar, ada doktor komunikasi, doktor hukum dan lain sebagainya. Apakah ini mungkin? Kesimpulannya Alwasliyah harus maju, dengan kondisi sekarang. Latar belakang masyarakat, latar belakang perkembangan partai, korupsi dan lain-lain. Kita harus maju. Akhirnya Alwasliyah memutuskan untuk maju. Tapi siapa orangnya? Maka, ditunjuklah ketuanya yang berarti saya.

Selama ini Anda dikenal sebagai kader partai, apakah ini tidak bermasalah dengan maju sebagai calon independen?

Saya tidak mau berandai-andai, tapi saya yakin bahwa partai akan bersikap arif bila melihat kader-kadernya maju.

Baiklah, seperti apa Anda melihat Sumut setelah 2013?

Sumut ke depan, yang ada di dalam mimpi kita, rakyatnya memiliki kesejahteraan. Rakyat yang sejahtera itu pasti tidak miskin, tapi rakyat yang tidak miskin belum tentu sejahtera. Menciptakan masyarakat yang cerdas karena masyarakat yang cerdas pasti tidak bodoh. Sedangkan masyarakat yang tidak bodoh, belum tentu cerdas. Di samping itu kita juga menciptakan masyarakat yang sehat jasmani rohani. Masyarakat yang sehat jasmani dan rohani pasti tidak sakit, sedangkan masyarakat yang tidak sakit belum tentu sehat jasmani dan rohani. Satu hal lagi, yakni kembalikan hak-hak tanah rakyat. (*)

Biarkan Anak Berkembang Sesuai Minat

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Larik syair Khalil Gibran pada sajak On Children atau Anak-anakmu tampaknya terserap indah dalam hidup Hasbullah Hadi. Bagaimana tidak, sebagai bapak dari tiga anak, Hasbullah Hadi membebaskan pilihan hidup anaknya itu sesuai minat masing-masing.

Sejarah mencatat Hasbullah tidak bias lepas dari kehidupan berorganisasi dan politik. Namun, dia tidak sekalipun mengajak atau memaksa tiga anaknya untuk mengikuti langkahnya.

“Saya termasuk demokratis di dalam keluarga,” akunya.

Pun soal pendidikan, Hasbullah mengaku memberi kebebasan pada anaknya untuk memilih pendidikan tingkat lanjut. Bak busur, seperti kata khalil, dia membiarkan dirinya menjadi pijakan ketika anak panah itu melesat. Sebagai pijakan anak panah, Hasbullah hanya menetapkan dasar. “Hanya saja sampai SMA saya wajibkan mereka masuk madrasah sanawiyah dan aliyah,” tambahnya.

Selanjutnya Nurhimmi Falahiyati, Hasanul Jihadi, dan Ummi Rizki Hadiyati bebas memilih tempat kuliah. Ada yang di USU dan ada juga yang di UMA. Pilihan ilmu pun beragam, ada yang hukum hingga kedokteran. “Semuanya masuk perguruan tinggi melalui tes (SNMPTN, Red). Saya tidak pernah menggunakan jabatan saya agar anak saya lapang jalannya,” jelas Hasbullah.

Menariknya, ketika ada anaknya yang ingin menjadi PNS, Hasbullah pun tidak turun tangan. Sang anak akhirnya diterima sebagai PNS setelah mengikuti ujian tujuh kali. “Orang-orang sempat protes, tapi saya mempersilahkan anak saya untuk berkembang sendiri,” tutupnya. (*)
Begitulah, engkaulah busur asal anakmu//anak panah hidup, melesat pergi. Ya, seperti kata sang Khalil Gibran. (*)

[table caption=”Data diri”]
Nama   , :    Drs H Hasbullah Hadi SH MKn
Lahir   , :     P. Siantar 7 Agustus 1952
Alamat   ,” :     Jalan Kasuari II, Kenangan Baru, Percut Seituan”
Istri    ,:     Dra Hj Nurhanum Sitorus
Anak  ,”  :1. Nurhimmi Falahiyati SH Mkn, 2. Hasanul Jihadi,3. Ummi Rizki Hadiyati”

[/table]

Pendidikan

  • SD Pangkalanbrandan
  • PGAP Al Ma’arif NU Pangkalanbrandan
  • PGAA Negeri Medan
  • Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara
  • Fakultas Hukum UNIVA Medan
  • Fakultas Hukum USU,
  • Pendidikan Kenotariatan
  • Magister Kenotariatan USU

Pengalaman Kerja

  1. PNS Depdikbud RI (1977-1981); berhenti dengan hormat
  2. PNS Departemen Agama RI (1984-1998); berhenti dengan hormat; dengan hak pensiun.
  3. Dosen tetap UNIVA Medan
  4. Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Al Washliyah Medan
  5. Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Al Washliyah Medan
  6. Rektor Universitas Al Washliyah Medan
  7. Notaris di Kabupaten Deliserdang
  8. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) di Kabupaten Deliserdang
  9. Konsultan Hukum pada beberapa bank swasta di Medan dan         Deliserdang
  10. Komisaris Utama Bank BPRS Al Washliyah
  11. Dewan Pengawas BMT Al Huda Medan
  12. dll

Pengalaman Legislatif

  • Anggota DPRD Sumut 2004-2009 dan 2009-2014
  • Wakil Ketua DPRD Sumut 2004-2009
  • Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Sumut 2010-sekarang
  • dll

Pengalaman Organisasi

a. Kemasyarakatan

  1. Ketua Umum Ikatan Pelajar Pendidikan Guru Agama Islam  Negeri Medan
  2. Ketua Pimpinan Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Fakultas  Tarbiyah IAIN Sumut
  3. Ketua Pimpinan Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Sumut
  4. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Al Jami’yatul Washliyah Sumut
  5. Wakil Ketua Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia Deliserdang
  6. Ketua Pimpinan Wilayah Al Washliyah Sumut
  7. Dll

b. Politik

  1. MPC-DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
  2. Ketua Umum Pimpinan Wilayah Partai Umat Islam (PUI)
  3. Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sumut
  4. Wakil Sekretaris DPD Partai Demokrat Sumut
  5. Sekretaris Dewan Kehormatan DPD Partai Demokrat Sumut

 

Jejak Espana

Inggris vs Italia

DALAM sepuluh tahun terakhir timnas Spanyol menjelma menjadi kekuatan yang ditakuti. Tidak saja di tigkat Eropa, tim berjuluk La Furia Roja ini pun menjadi raja di pentas dunia pada tahun 2010.

Kendati begitu, dua pelatih yang sukses mengatarkan tim ini menjadi yang terbaik di Euro 2008 dan World Cup 2010, Luis Aragones dan Vicente del Bosque tak lantas popularitasnya terdongkrak ke permukaan.

Itu karena banyaknya pendapat yang mengatakan bahwa sukses La Furia Roja tak terlepas dari kehebatan Barcelona dalam sepuluh tahun terakhir. Ya, di awali dengan bergabungnya Louis van Gaal pada 1997-2000 dan 2002–2003, warna sepak bola tim asal Katalan itu berubah drastis. Total football yang dibawa van Gaal mulai mewarnai tim berjuluk Los Blaugranas itu.

Kondisi tak berubah ketika Frank Rijkraad menggantikan van Gaal pada 2003 untuk selanjutnya hengkang pada 2008. Lima tahun menangani Los Blaugranas membuat warna total football semakin kental di tim tersebut.

Praktis tak banyak yang berubah saat Josep Guardiola menangani tim ini menggantikan Rijkraad, hingga akhirnya pria yang pernah memperkuat AS Roma dan Brescia itu sukses merengkuh 14 tropi bersama Blaugranas.

Prestasi tim yang fenomenal ini berimbas terhadap pencapaian timnas Spanyol, karena sebagian besar pemain pilar La Furia Roja merupakan pilar di Barcelona.

Tak ayal, karakter serta permainan yang peragakan oleh timnas Spanyol pun nyaris tak berbeda dengan Barcelona, hingga akhirnya di ajang World Cup 2010, pola permainan yang kini beken dengan sebutan tiki taka itu mengalahkan pola total football yang sesungguhnya merupakan cikal bakal dari terlahirnya pola permainan tim Spanyol.

Apa yang dialami Spanyol bukan tak mungkin diikuti oleh Inggris yang sejak tahun 2008 ditangani pelatih asal Italia, Fabio Capello.

Meski Don Fabio (panggilan akrab Fabio Capello) tak lagi menukangi The Three Lions, namun Roy Hodgson yang menjadi suksesornya sejak 22 Mei lalu belum berani melakukan perubahan. Pola permainan serta karakter tim yang tampil pada tiga laga di fase grup Euro 2012 lalu seutuhnya bentukan Don Fabio.

Pelatih yang sukses saat menukangi AC Milan, AS Roma, Juventus dan Real Madrid itu mampu membuat pasukan Three Lions bermain lebih sabar dan tak terkesan asal sepak, sebagaimana karakter kick and rush yang selama berpuluh tahun identik dengan permainan Inggris.

Nah, pada babak perempat final yang berlangsung Olympic Stadium, Kyiv, dini hari nanti Inggris berpeluang mengikuti jejak Spanyol jika Steven Gerrard mampu mengalahkan Italia, Negara tempat Fabio Capello dilahirkan.

Empat tahun menukangi Inggris, sesungguhnya Capello telah membuka rahasia strategi   sepak bola Italia kepada para pemain Inggris. Padahal, dengan strategi  itu  Italia  meraih empat tropi World Cup (1934, 1938, 1982 dan 2006) serta satu tropi Euro (1968).

“Aku ingin tim ini meraih kemenangan. Tak peduli apakah diwaktu normal atau lewat adu tendangan penalti. Tapi jika boleh memilih, aku menginginkan kemenangan di waktu normal,” bilang Roy Hodgson, pelatih Inggris.

Terpisah, pelatih Italia Cesare Prandelli mengatakan bahwa kemenangan atas Inggris penting untuk memulihkan nama baik Italia setelah merebaknya kasus Scommessopoli.

“Aku pikir laga nanti akan berjalan ketat dan seimbang.  Apalagi dua tim ini sama-sama berusaha ingin menang demi mengembalikan prestise yang sudah mulai pudar,” bilang Prandelli. (*)

Indonesia Bakal jadi Macan Asia

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan memperkirakan 10-15 tahun kedepan perekonomian Indonesia akan mengalami peningkatan dan Indonesia akan menjadi negara yang modern.

Bahkan menurutnya, Indonesia akan menjadin macan baru Asia dan perekonomian kita akan sangat dominan di Asia Tenggara. “10 sampai 15 tahun kedepan, ekonomi Indonesia akan berubah total dengan percepatan yang tidak diperkirakan,” ujar Dahlan Iskan saat menyampaikan Kuliah Umum Internalisasi Kewirausahaan, di ruang Auditorium USU, Sabtu (23/6).

Namun untuk mewujudkan hal itu perlu peran aktif para generasi muda yang andal untuk melahirkan SDM yang selama ini lahir dari sebuah perguruan tinggi. Beberapa langkah dalam upaya percepatan ekonomi yakni upaya penyediaan pengangkutan kapal dengan sistem kontainer yang besar dan murah sebagai upaya efisiensi pengeluaran dan menjadikan harga barang lebih murah.

Dahlan juga mengaku kemajuan ekonomi melalui pengembangan BUMN ini bilang Dahlan, merupakan tugas mahasiswa sebagai SDM lulusan perguruan tinggi yang memiliki potensi dan pengetahuan.

“Anda (mahasiswa) yang paling berkompeten untuk memajukan perekonomian di Indonesia. Untuk maju Anda harus mampu menghindari jebakan birokrasi, kepentingan infrastruktur serta sistem penerintahan serta konflik. Jika masalah itu tidak bisa diatasi, maka Indonesia akan gagal jadi negara modern,” sebutnya.

Dalam kesempatan itu, Dahlan menganalogikan, 10 tahun ke depan mahasiswa yang saat ini berusia sekitar 20 tahun dan akan menyelesaikan kuliahnya dua tahun mendatang, diyakini akan sangat matang untuk menjadi pengusaha.

Karena dalam rentan waktu tersebut para mahasiswa memiliki minimal pengalaman kerja 7 tahun.

Pada 10 tahun mendatang, bagi para pengusaha, kelasnya akan meningkat hingga pencapaian income miliaran yang didorong pertumbuhan ekonomi tersebut.

Dahlan juga mengakui jika  anak-anak muda akan lebih cepat berkembang untuk meraih kesuksesan, karena memiliki fisik yang kuat untuk mendukung ambisinya.

Namun bilang Dahlan, kalau  generasi muda sudah terbiasa dengan pesimisme, maka diragukan akan bisa meraih kedewasaan pada usia itu.
“Dulu ketika saya umur 30 saya sudah matang, sudah menjadi direktur di Jawa Pos, saya bisa tidak tidur 2 hari 2malam. Tetapi saya tidak memiliki apa yang Anda sudah punya nantinya, yakni skala ekonomi,” ujar Dahlan mencontohkan.(uma)

Doakan Mahasiswa Cepat Tertipu

Dari Kuliah Umum Meneg BUMN Dahlan Iskan di USU

Layaknya dosen, Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan, memberikan kuliah umum di depan ratusan mahasiswa di Auditorium Universitas Sumatera Utara (USU), Sabtu (23/6).

Laporan: Juli Rambe

DENGAN gayanya yang khas, menteri yang akrab disapa dengan sebutan pak Dis ini memberikan ragam ‘pelajaran’ baru bagi  mahasiswa. Mengangkat tema kewirausahaan atau entrepreneurship, kuliah umum ini dibanjiri pertanyaan, juga pujian bagi pak Dis.

Antusiasme mahasiwa di acara yang digagas Forum Pimpinan Pengusaha Perguruan Tinggi Sumatera Utara dari berbagai perguruan tinggi di Sumut itu, terpaksa ditambah waktunya hingga lebih dari setengah jam. Lebih dari 10 mahasiswa yang langsung bertanya soal kewirausahaan begitu pak Dis selesai memberikan pencerahan. Selain menceritakan pengalamannya sebagai menteri yang mengurusi perusahaan negara, pak Dis juga mengisahkan pahit-getir dirinya membangun perusahaan media yakni Jawa Pos yang sudah melahirkan ratusan media lokal di seluruh Indonesia.

Yang uniknya lagi, mahasiswa yang mengajukan pertanyaan di kuliah umum itu dipersilakan berdiri di samping pak Dis. Mahasiswa yang bertanya pun semakin terlihat percaya diri.

Dalam kuliah umum itu salah satu topik yang diangkat Pak Dis yakni rasa pesimistis di kalangan masyarakat saat berbicara nasib Indonesia ke depan. Ini cukup dimaklumi mengingat berbagai masalah korupsi dan instabilitas politik yang mendera bangsa belakangan ini. “Saya ingatkan tak ada negara miskin atau negara kaya. Kaya atau miskin negara itu tergantung manajemen yang dijalankan pemerintahnya. Karena itu, mari kita ciptakan dan jalankan manajemen yang baik agar negara ini tidak salah kelola dan bisa menjadi lebih kaya lagi,” ujarnya.

Mengenakan kemeja putih, celana kain , dan sepatu kets, yang menjadi ciri khasny, kuliah umum yang disampaikan mantan Dirut PLN ini menyedot perhatian mahasiswa karena disampaikan dengan gaya bertutur sederhana dan diselingi canda. Pak Dis berulangkali mengingatkan mahasiswa bahwa pesimisme akan merusak kepercayaan diri. ‘’Jangan biarkan perasaan itu melekat pada diri Anda. Itu seperti racun yang menghancurkan masa depan,’’ ujarnya.

Selain pesimisme, dia mengatakan, prasyarat dasar yang mesti dimiliki setiap calon pengusaha adalah tidak pantang menyerah dan jangan cengeng. “Kalau minta bantuan atau dukungan boleh-boleh saja, tapi jangan pula ketergantungan,” tukasnya. Apalagi, saat ini cukup banyak Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang fokus mengurusi Usaha Kecil Mikro (UKM) yang bisa saja kelak justru membuat pelaku usaha mengalami ketergantungan. “Kalau minta bantuan dengan saya, Anda salah alamat. Saya tak akan mau. Saya doakan Anda cepat bangkrut dan tertipu, tapi cepat pula bangkit lagi,” ungkap pak Dis yang disambut derai tawa para mahasiswa. “Saya yakin ke depannya Anda pasti sukses bila berjalan dengan optimisme. Anda sendiri yang membuat Anda berhasil lewat jenis usaha yang Anda pilih dan jalani,” dia menambahkan. Pak Dis menambahkan, selain optimisme, syarat dasar yang harus dimiliki calon pengusaha adalah kemandirian dan senantiasa percaya diri.

Pak Dis mengatakan, bagi pengusaha kata-kata ‘bangkrut’ dan ‘tertipu’ adalah momok paling ditakuti dan harus dijauhi. Sebaliknya, menurut dia, bangkrut dan tertipu justru akan membuat si pengusaha bertambah kuat menghadapi rintangan selanjutnya. “Jangan takut dengan cobaan seperti itu. Jalani saja, tak usah takut berteman masalah. Kalau tak ingin tertipu dalam usaha ya, jangan mau tergoda dengan rayuan untung berlimpah dalam waktu sekejap. Itu sama saja menanamkan modal di dunia khayalan,” lanjutnya.

Justru paling sulit sebetulnya adalah berwirausaha sembari kuliah. Kuliah itu bukan jaminan mendapatkan pekerjaan yang bagus dan bergaji besar. Hanya saja kuliah punya peran penting untuk mendorong pekerjaan di bidang manapun karena di ruang kuliah pula seseorang terlatih berpikir terstruktur, sistematika, dan logis. ‘’Hal-hal seperti itu bekal yang tak ternilai dalam menghadapi masyarakat,” lanjutnya.

Saran lain yang diberikannya adalah tidak mencampur-adukkan    antara politik dan usaha. Karena itu tak sehat. Saat ini para pengusaha berusaha menjauhi dunia politik agar mereka tetap berada di jalur aman.

Dalam kesempatan itu pula, pak Dis sempat ‘curhat’ betapa sedihnya dirinya saat diangkat menjadi Menteri BUMN. Itu karena tugasnya sebagai Dirut PLN belum tuntas. “Saya menangis karena saat mengabdi di PLN, saya targetkan tiga tahun masalah kelistrikan di Indonesia selesai seluruhnya. Di Jawa sudah berhasil, tetapi Sumatera belum semuanya,” ungkapnya.

Obsesi pak Dis Dahlan di bidang kelistrikan sebetulnya sederhana saja. Satu saat Indonesia mampu mengalahkan kelistrikan di Malaysia. Oleh sebab itu, pada masa kepemimpinannya pak Dis menunda pembangunan pipa bawah laut untuk penyaluran listrik dari Palembang ke Jawa, dan dari Sumut ke Malaysia. “Masak saya ekspor listrik, padahal kita saja masih kurang?” ujarnya. Saat ini dia sudah meneken izin pembangunan jaringan pipa tersebut, dan direncanakan enam tahun ke depan bisa berfungsi. “Untuk Sumut tolong bersabar. Satu tahun ke depan, masalahnya mudah-mudahan selesai. Pembangkit di Meulaboh dalam tahap penyelesaian, begitu juga di Lhokseumawe, Padang, Riau, dan daerah lainnya,” timpalnya.

Dalam kuliah umum itu, para mahasiswa tak hanya berdiskusi dengan pak Dis, melainkan juag melontarkan berbagai pujian kepada dirinya. Seorang mahasiswa bernama Rudi misalnya. Dia tak bertanya tapi hanya ingin berdiri di sebelah pak Dis. “Saya naik ke mimbar ini tak ada pertanyaan. Saya hanya ingin bertemu langsung dan berdiri di sebelah orang yang saya kagumi,” ujarnya yang disambut dengan tawa dan tepukan tangan  para hadirin.

Ada pula mahasiswa yang bertanya apakah nantinya ada pemimpin yang akan seperti dirinya memimpin negeri ini. Dengan tenang pak Dis berkata, ‘’Saya tak memilih untuk menjadi seperti ini, tapi memang seperti inilah saya.”

Setelah diberikan cenderamata dan kain ulos, pak Dis tak bisa langsung pamit. Puluhan mahasiswa mengerubungi mobilnya dan minta berfoto bersama. Pak Dis telanjur memikat hati para  mahasiswa itu. (*

Diguncang Gempa, Warga Medan Panik

Di Aceh, 7 Rumah dan Masjid Rusak

MEDAN- Getaran gempa yang hebat membuat panik  warga Medan,  Sabtu (23/6) siang. Warga berhamburan dari gedung-gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan, serta dari rumah-rumah penduduk.

“Kami berlarian, takut gedungnya runtuh,” ujar Riana, pengunjung Sun Plaza di halaman depan pusat perbelanjaan itu.

Selain panik, getaran yang hanya berlangsung sekitar satu menit itu menimbulkan rasa pusing bagi sejumlah orang. “Getarannya sebetar, peningnya masih terasa sampai sekarang,” sebut Julianda, karyawan sebuah bank di Jalan Imam Bonjol, Medan, sekitar 30 menit setelah gempa.

Sejumlah pesan singkat lantas beredar luas dari ponsel maupun jejaring sosial. Berdasarkan info dari situs BMKG, gempa berkekuatan 6,6 Skala Richter terjadi pada pukul 11:34 WIB. Titik gempa 24 Km Barat laut, Kota Subulussalam, 40 kilometer Barat Laut Kabupaten Aceh Singkil, 42 kilometer Tenggara Kabupaten Aceh Selatan, 127 kilometer barat daya Medan.

Kepanikan warga sangat terasa di kawasan pantai barat Aceh. Di wilayah itu, tujuh rumah dan satu masjid dilaporkan rusak parah digoyang gempa. Seorang pegawai di instansi pemerintah nekat loncat karena panik.

Camat Trumon Tengah Kabupaten Aceh Selatan, Abdul Munir, melaporkan tujuh unit rumah berikut satu unit Masjid rusak diguncang gempa. Selain itu, seorang pemilik dari tujuh rumah yang rusak terpaksa dilarikan ke Puskesmas. Kepalanya tertipa dinding beton rumahnya dan mengalami luka serius.
Korban atas nama Hj Jainun (65), warga Gampong Ladang Rimba. “Saat ini korban dirawat di Puskesmas Trumon Tengah,” ujarnya.

M Ali, warga Subulussalam mengatakan, seorang pegawai di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Subulussalam karena panik melompat dari lantai II kantornya. “Namun kondisinya hanya terkilir saja dan yang kami lihat kondisinya tidak parah,” tukas kepada Rakyat Aceh (Grup Sumut Pos) melalui telpon selulernya.

Gempa 6,6 skala richter dirasakan oleh sebagian warga Aceh. Namun gempa tersebut tidak mengganggu aktivitas warga. “Aktivitas warga normal aman terkendali, cuaca Aceh saat dikonfirmasi cerah,” kata Humas Kepala Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) Sutopo.
Sutopo mengatakan, gempa tersebut juga tidak menimbulkan terjadinya tsunami. Gempa juga dirasakan tidak terlalu kuat. Tidak ada laporan korban jiwa atau pun kerusakan bangunan akibat gempa tersebut.

Disebutkannya, ada dua kali gelombang gempa terjadi. Gempa pertama itu selama 7 detik dan goncangan kedua yang kencang itu sekitar 13 detik. Namun kondisi kembali stabil setelah goncangan melanda kota Subulussalam. (mag-41/ria/dir/jpnn)

Amak Sujut

Cerpen Budi Afandi

Andaikata bukan Amak Sujut yang berulah, hari itu pasti terjadi perang besar antar kampung seperti belasan tahun silam. Jika saja warga tidak segera mengetahui kejadian di surau adalah ulah Amak Sujut, bisa jadi warga akan mempersalahkan kampung tetangga, tindakan yang pasti menyulut perang.
agaimana tidak? Warga terkejut dan marah saat melihat lantai surau dipenuhi jejak kaki manusia, jejak hitam kekuningan yang membuat seluruh surau dipenuhi bau kotoran manusia. Untungnya warga langsung bisa memastikan Amak Sujut lah si pembuat onar, terlihat jelas dari kerak hitam kekuningan yang memenuhi kedua telapak kaki Amak Sujut, kotoran manusia yang mengering. Tapi tentu Amak Sujut tidak mungkin dipersalahkan, sebab ia orang gila, maka jadilah marbot surau yang kena damprat habis-habisan karena dianggap lalai.

Jika kuingat-ingat, tidak sekali itu Amak Sujut membuat geger penduduk kampung. Pernah pada satu tengah malam, Amak Sujut memukul kentungan sambil berteriak keliling kampung. Membuat warga berhamburan membawa pedang, tombak, busur dan anak panah, karena menduga ada maling yang menyatroni rumah warga. Dan begitu mengetahui Amak Sujut yang berulah warga malah saling menertawakan.

Ada lagi cerita ketika pada satu dini hari, Amak Sujut tiba-tiba memukul bedug di surau seraya mengumandangkan takbir, padahal lebaran masih teramat jauh. Dan dia menari sambil bernyanyi ketika warga berusaha menangkapnya. Kejadian yang pada akhirnya membuat Kepala Kampung mendamprat marbot surau yang berkali-kali minta diganti.

Kegilaan Amak Sujut memang tidak ada duanya, mungkin kegilaannya itu sudah mencapai batas paling tinggi dari yang mungkin ada. Siapa lagi selain Amak Sujut yang berani berlarian di antara warga yang tengah khusuk menjalankan sembahyang berjamaah di surau.  Berlari sambil mencubiti satu per satu warga yang sembahyang, sambil mencibiri dan mengejek mereka.

Apa yang dilakukan Amak Sujut memang sudah tidak bisa lagi dilihat dalam batasan kesopanan. Hanya saja aku sempat merasa aneh melihat perlakuan warga yang selalu sabar menghadapinya. Sangat berbeda dengan nasib beberapa orang gila yang pernah kutemui di kampung tetangga, orang gila yang dipasung seperti binatang liar. Sementara Amak Sujut, jangankan dipasung, warga malahan rutin meletakkan makanan di bawah pohon beringin yang telah jadi rumahnya di samping surau. Tidak hanya itu tindakan warga yang menunjukkan betapa mereka menghargai Amak Sujut. Tak jarang warga rela bersusah payah menjaganya sampai larut malam, jika Amak Sujut sudah kedapatan hendak menggantung diri di pohon beringin.

Tindakan Amak Sujut yang satu itu tidak kalah menghebohkannya dari semua tindakan gila lainnya. Dan memang hanya Amak Sujut yang cukup gila, mencoba bunuh diri dengan cara yang sama di tempat yang sama pula. Sampai akhirnya warga hapal hari dan tanggal saat dia akan melakukan gantung diri, yakni sehari sebelum bulan purnama.

Tapi aku pernah merasa aneh, apa perlunya menyelamatkan orang gila yang ingin mati? “Biarkan saja, toh kerjanya hanya membuat onar dan meresahkan warga,” begitu ucapku saat berbincang pada satu malam bersama Kepala Kampung dan beberapa warga.

“Amak Sujut itu bukan orang sembarangan,” kata Kepala Kampung menanggapi kalimatku. Malam itu, di pelataran surau aku mulai mengerti mengapa warga begitu memaklumi semua tindakan Amak Sujut, dan aku juga jadi malu jika ingat apa yang dulu sering kulakukan semasa kacil.

Kepala Kampung menuturkan, belasan tahun silam Amak Sujut adalah tokoh paling berpengaruh di kampung kami. Dia dikenal dengan sebagai orang yang bijak dan paling menentukan dalam tiap pengambilan keputusan di kampung. Hingga datang perang kampung yang menyebabkan tewasnya Aji Takzim, anak satu-satunya dari mendiang istrinya.

“Kala itu perang tidak bisa dihindari, kampung tetangga mengaku tanah pekuburan yang kita pakai sebagai hak mereka. Hal yang membuat semua warga kita merasa kepalanya diinjak-injak, dan terjadilah perang selama lebih dari sepekan.”

“Pada masa itu Amak Sujut masih waras, dia dan anaknya selalu menjadi pimpinan warga kita jika sudah berhadap-hadapan dengan warga kampung tetangga. Dia dan Aji Takzim memang sakti, tidak mempan berbagai jenis senjata tajam. Saya melihat sendiri bagaimana sabetan pedang, tajamnya anak panah juga tusukan tombak hanya menjadi seperti gigitan semut bagi keduanya.”

“Hingga tiba masa ketika korban di kedua pihak sudah semakin banyak dan warga kedua kampung bersepakat mengakhiri perang dengan sebuah pertarungan tunggal.”

“Maka sehari sebelum bulan mencapai purnama, dengan bangga Aji Takzim maju sebagai wakil kita. Namun tak dinyana perisai raganya tembus juga oleh tombak pusaka Kepala Kampung tetangga, dan sejak itulah Amak Sujut berubah jadi gila.”

Mendengar penuturan Kepala Kampung aku langsung bergidik membayangkan sosok Amak Sujut di masa lalu. Aku semakin bergidik jika teringat apa yang dulu suka kulakukan bersama kanak-kanak kampung. Aku dan kanak-kanak lain yang suka mengusili Amak Sujut, melemparinya dengan batu kumbung, menyembunyikan benda-benda yang dia kumpulkan dari berbagai tempat, hingga menyembunyikan dan mencuri makanannya.

Sekarang, ketika melihat Amak Sujut berulah aku tidak terlalu ambil pusing dan memilih tertawa bersama warga lainnya. Termasuk ketika semua warga dikerahkan membersihkan lantai surau yang penuh kotoran manusia, kami tertawa membayangkan Amak Sujut menari di surau saat semua warga lelap. Hanya si marbot yang terus merengut sambil memelas meminta diganti.

Hari itu kami meninggalkan surau setelah yakin tidak ada satu butir kotoran pun yang tersisa. Warga meninggalkan surau setelah sempat menoleh dan menggeleng ke arah beringin, melihat sejenak Amak Sujut yang terbaring bersama kotorannya.

Malam harinya aku lelap lebih cepat setelah lelah menahan tawa membayangkan semua kegilaan Amak Sujut. Tapi lelapku terusik ketika sebuah teriakan nyaring menghantam telinga, teriakan yang membuatku sekelebat membayangkan Amak Sujut berlari membawa kentungan, bayangan yang hilang begitu pintu depan rumah digedor.

Malam itu menegangkan, tidak ada warga yang berani lelap. Di masing-masing rumah ditugaskan satu orang lelaki berjaga, di gerbang kampung sekitar sepuluh lelaki bersenjata lengkap sudah berjaga. Sementara Kepala Kampung dan puluhan lelaki termasuk aku berumpul di dalam surau, memersiapkan langkah menghadapi perang kampung yang bisa datang kapan saja.

Kali ini bukan tanah pekuburan masalahnya, malah masalahnya lebih kecil dari itu. Berawal saat  beberapa pemuda kampung kami melintas di kampung tetangga dan terjadilah saling ejek. Perkataan yang berbuntut perkelahian dan luka-luka beberapa pemuda. Namun kemarahan telah membuat kenangan akan perang kampung dahulu diungkit kembali, menjadi penyebab baru yang lebih membakar semangat warga untuk berperang.
Semua warga meninggalkan surau dengan ketegangan yang sama, kecuali mungkin marbot yang ditinggalkan dengan ketegangan membayangkan dirinya belum juga akan diganti. Malam itu aku sempat melihat Kepala Kampung dan marbot melangkah menuju beringin, saat kami semua menuju rumah masing-masing. Entah apa yang mereka lakukan pada Amak Sujut? Tidak sempat kupikirkan kemungkinannya, karena kemungkinan terjadinya perang lebih menguasai pikiranku.

Paginya semua warga bergerak menuju lapangan yang memisahkan  kampung kami dan kampung tetangga. Rupanya warga kampung tetangga sudah bersiap di sisi lain lapangan, lengkap dengan persenjataan seperti dalam peperangan yang kerap kudengar.

Suara saling ejek, saling sumpahi mulai terdengar ketika jarak dua rombongan sudah dalam bidikan anak panah. Dan ketika hari meninggi, tidak lagi hanya perkataan yang melayang, tapi juga batu-batuan. Suara semakin hiruk, ejekan, sumpah serapah semakin tidak jelas bentuknya, hingga tiba-tiba sebuah anak panah melesat menuju rombongan kami. Jantungku berdetak kencang tak beraturan, entah mengapa bayangan Amak Sujut tiba-tiba berkelebat di benakku? Sementara dua rombongan warga terus saling mendekat.

Dan tiba-tiba bayangan Amak Sujut dalam otakku tidak lagi menjadi bayangan, sosok Amak Sujut terlihat melesat ke tengah lapangan, tepat di antara dua rombongan warga. Dan sekejap kemudian, sebuah teriakan keras dari tengah lapangan menelan semua teriakan lain. Teriakan yang langsung membuat seluruh warga menutup telinga, berlutut menahan sakit, sakit yang juga terasa menusuk jantung. Tidak sempat aku berpikir, tidak sempat aku menelaah teriakan itu, aku kesakitan dan jatuh pingsan.

Saat membuka mata, aku melihat ibu dan beberapa warga masih pingsan di sampingku di dalam surau. Ibu tersenyum saat aku mencoba duduk. Darinya aku mengetahui perang berakhir setelah Amak Sujut datang dan mengeluarkan surak siu. Tidak ada satu pun korban tewas di kedua pihak dan dua kampung menarik warga masing-masing dengan suka rela.

Apa yang diceritakan ibu terdengar seperti dongeng yang biasa dituturkannya semasa aku kecil dulu. Aku tidak segera percaya dan sangat ingin mendapat kepastian, meski yang pasti perang sudah selesai. Segera kutinggalkan surau mencari warga lainnya. “Amak Sujut, surak isu? Amak Sujut, surak siu?” terus mengiang di benakku.

Dan baru saja aku melangkah keluar dari gerbang surau, kulihat segerombolan warga, termasuk Kepala Kampung juga marbot tengah berlarian tak tentu arah di jalanan kampung. Kepala Kampung tampak aneh karena hanya mengenakan celana pendek, hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka semua berlari mengejar Amak Sujut yang berlari melompat-lompat, menghindari sergapan seperti kanak-kanak tengah bermain kejar-kejaran.
“Dasar gila,” ucapku sambil berlari hendak membantu warga merebut sarung Kepala Kampung dari tangan Amak Sujut. (*)

Mataram, 2011
Keterangan;
Amak : bapak atau kerap juga digunakan memanggil orang yang sudah tua (bahasa Sasak di Pulau Lombok); batu kumbung : batu apung; surak siu : seribu teriakan

Brankas ATM Ditemukan di Kawasan Sibiru-biru

Densus 88 Geledah Rumah Rizky di Tanahkaro

KABANJAHE- Tim Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Densus 88 Mabes Polri dan personel Polres tanah Karo akhirnya menggeledah sebuah rumah di Jalan Sudirman, No 33 Kelurahan Gung Leto, Kabanjahe. Rumah itu disinyalir milik terduga teroris, Rizky Gunawan yang sebelumnya telah diamankan.

Penggeledahan itu dilakukan setelah sejumlah wartawan yang mendengar rencanan tersebut menanti selama sehari semalam.

Langkah Tim Anti Terorisme tu mulai terlihat Sabtu (23/6) sekira pukul 10.00 WIB. Puluhan personel polisi yang sebahagian diantaranya memakai sebo telah menyebar di rumah berbentuk rumah toko (Ruko) yang berada tepat disamping Kantor DPC Partai Demokrat Kabupaten Karo itu. Petugas baru memasuki areal rumah pada pukul 16.00 WIB.

Masyarakat pun sempat dilanda kehebohan dan tanda tanya. Rasa ingin tahu warga membuat peristiwa penggeledahan itu menjadi tontonan.
Hingga usai penggeledahan rumah di seberang Plaza Kabanjahe itu, tidak ada pihak keamanan yang berkenan memberikan keterangan. Kapolres Tanah Karo AKBP Marcelino Sampow SH Sik MT dan Kasat Reskrim Polres Karo, AKP Harry Azhar yang sempat ikut masuk ke rumah juga enggan berkomentar banyak.

“Saya hanya mendapat perintah dari Kapolres agar segera menuju lokasi Ruko di Jalan Sudirman Kabanjahe,” ujar AKP Harry Azhar.
Demikian juga dengan hasil penggledahan yang disaksikan ratusan warga tersebut. Tetapi, dari pantauan wartawan saat berlangsungnya penggeledahan, dari ruko petugas terlihat tidak membawa sesuatu benda. Sedangkan ruko langsung disegel petugas dengan memasang garis polisi (police line).

Sementara itu, menurut Lurah Gung Leto, Frans Leonardo Surbakti didapat informasi, rumah tersebut pernah ditempati pria berinisial BAS. Siapa sosok BAS ini tak banyak yang tahu. Namun dari pengamanan atas beberapa laki laki di seputaran Gedung Johor Medan, terselip nama Rizky Gunawan yang dari informasi merupakan pemilik rumah di Jalan Sudirman No 33 Kabanjahe. Rizky sendiri ditangkap BNPT di Jakarta. Penyidikan yang dilakukan oleh aparat lantas menemukan adanya beberapa asset dari Rizky Gunawan di Medan dan Kabanjahe yang orang tuanya berasal dari Kisaran.

Saat mencari tahu asset yang berada di Eka Warni Medan itu, empat orang diamankan Tim BNPT, darisana pula pengembangan atas asset Rizky pada sebuah rumah di jalan Sudirman Kabanjahe yang sesuai keterangan dibeli Rizky setahun lalu.

Menurut beberapa sumber, tim yang turun mengambil dokumentasi isi rumah tersebut. Rumah itu diketahui sempat dikontrakkan Rizky kepada seorang pengusaha rumah makan yang tak laman kemudian menutup usahanya. Bila tidak tertangkap, Rizky rencananya akan membuka usaha pencucian pakaian di ruko itu.

Rp500 Juta Raib

Sementara itu, mesin ATM BCA yang dilarikan kawanan maling dari Oke Supermarket di Jalan Gaperta Ujung, Jumat subuh lalu, ditemukan warga di kawasan perkebunan kelapa sawit di daerah Deliserdang. Di mesin yang sebelumnya diduga berisi uang tunai senilai Rp500 juta, ditemukan dalam keadaan kosong.

“Mesin ATM ditemukan tadi pagi di areal sawit sekitar kurang lebih 10 km dari Polsekta Sibiru-biru. Isi mesin ATM sudah tak ada lagi,” kata Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol Moch Yoris Marzuki SIK, diruang kerjanya, kemarin.

Disinggung mengenai langkah selanjutnya, Moch Yoris Marzuki menjawab sambil tersenyum. “Langkah selanjutnya, polisi tidurlah,” bebernya dengan singkat.

Kapolresta Medan, Kombes Pol Monang Situmorang SIK menyebutkan hal berbeda. Pihaknya belum bisa menetapkan dan belum bisa mengetahui siapa pelaku-pelakunya. “Namun, ciri-ciri pelaku sudah kita ketahui dan kita sudah membentuk tim,” ujarnya.

Disinggung apakah para pelaku ada hubungannya dengan pelaku terorisme, Monang belum bisa memastikannya. “Masih kita telusuri. Langkah selanjutnya, Polresta Medan yang setiap harinya diback up Polda Sumut akan tetap melakukan pengawasan,” jelasnya sambil berlalu masuk kedalam mobil dinasnya.

Para pelaku yang mencuri mesin ATM milik Bank BCA itu berjumlah empat orang dan satu wanita serta membawa senjata api dan senjata tajam. Saat beraksi mereka menyekap tiga security yang sedang jaga malam. (smg/jon)

Berita sebelumnya: Sekuriti Ditodong Senpi, Mesin ATM Dibawa Lari