Home Blog Page 13403

Enam Tahanan di Jajaran Polresta Medan Terifeksi HIV

MEDAN-Enam tahanan di jajaran Mapolresta Medan positif terjangkit penyakit HIV. Keenam tahanan tersebut empat orang di tahanan Mapolresta Medan, sedang dua tahan lagi berada di Mapolsekta Medan Area.

Kasat Tahanan dan Barang Bukti (Tahti) Polresta Medan, Iptu PM Simanjuntak mengatakan, tahan yang positif terjangkit penyakit mematikan itu diketahui berinisial WPL alias A (tahanan Sat Narkoba), DAA (tahanan Sat Narkoba), CS (tahanan Sat Narkoba), AKP L (tahanan Polsekta Medan Baru) “Semuanya sudah dibantarkan ke rumah sakit,” ungkapnya.

Menurutnya, di rumah tahanan Mapolresta Medan sebulan sekali dilakukan pemeriksaan oleh tim Dokkes Polda Sumut untuk mengetahui penyakit yang dialami tahanan termasuk penyakit HIV.

“Kalau ada penyakit akan langsung kita rujuk ke rumah sakit,” ujarnya.
PM Simanjuntak memastikan di rumah tahanan Mapolresta Medan tidak ada lagi tahanan yang terjangkit HIV, karena langsung dibantarkan ke RSU Bayangkara Medan.

Sementara di Mapolsekta Medan Area, ada dua tahanan yang juga positif terjangkit HIV yakni S dan SG belum dilakukan pembantara ke rumah sakit.

Penderita HIV/AIDS Demo
Ratusan penderita HIV/AIDS dan LSM Pendamping Medan Plus dan Koalisi Untuk Penanggulangan HIV/AIDS (KUPAS) melakukan aksi damai di depan Kantor Pemprovsu dan DPRDSU, Rabu (6/6).

Dalam aksinya, pedemo menuntut perhatian para pimpinan daerah Provinsi Sumatera Utara dalam menanggapi tingginya penularan HIV/AIDS di Sumatera Utara.

“Walaupun merupakan tugas bersama untuk menanggulanginya, tetap saja negara mempunyai sistem pemberian mandat kepada seseorang untuk melakukan kepemimpinan dalam upaya meningkatkan taraf hidup rakyatnya,”ujar Ketua Medan Plus Eban Totonta Kaban, saat menyampaikan orasi. Komunitas ODHA hanya ingin bertemu dengan Pak Gatot sebagai Plt Gubsu,” ujarnya.

Ratusan masa diterima bagian protokoler yang berjanji dalam 1-2 minggu ini akan berupaya mempertemukan komunitas ODHA dengan Plt Gubsu Gatot Pudjonugroho.
“Kita akan tunggu. Bila tidak bisa juga bertemu, kita akan tungu sampai Pak Gatot mau menjumpa kita,” tegas Toton.

Masih menurut Toton, pengidap HIV/AIDS terus bertambah dari waktu ke waktu, membuat semakin banyak penerus bangsa harus menjadi korban dan harus segera diselamatkan.
“Hingga saat ini jumlah kasus yang kami peroleh, terdapat sebanyak 422 penderita ODHA di Sumut. Angka ini dipastikan terus bertambah dimana salah satu faktor utama penyebabnya adalah lemahnya respon pemerintah dalam upaya penanggulangannya, baik pemerintah di tingkat pusat maupun daerah,”terangnya.

Dia juga menyebutkan, dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2007, Tentang Pedoman Umum Pembntukan Komisi Penanggulangan AIDS dan pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS di daerah, bahwa mandat kepmimpinan penanggulangan HIV/AIDS ada pada pemimpin bangsa ini.
Dimulai dari presiden, lalu gubernur, dan dilanjutkan oleh bupati ataupun wali kota.

“Penanggulangan HV/AIDS membutuhkan perhatian yang lebih serius dari pimpinan daerah berupa adanya sebuah kebijakan dan ketersediaan anggaran terkait penanggulangan HIV/AIDS. Khusus untuk pemberdayaan ODHA dan keluarganya (OHIDHA) dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pada komunitas tersebut. Maka pemerintah wajib untuk memberikan dukungan dan perhatiannya,” ujar Toton. (uma/gus/jon)

APMS Pakpak Bharat Utamakan Pembeli Jeriken

PAKPAK BHARAT- Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dua pekan terakhir ini dimanfaatkan sejumlah pengusaha nakal untuk meraup keuntungan yang lebih besar. Ulah pengusaha tersebut berdampak kepada masyarakat luas yang sehari-hari membutuhkan BBM untuk kebutuhan rumah tangga dan lainnya.

Misalnya saja, agen premium dan minyak solar (APMS) yang berada di Jalan Runding  Desa Sukaramai, Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat.

Agen penyalur BBM tersebut lebih memprioritaskan kepada pengecer minyak ketengan yang mengisi BBM dengan menggunakan jeriken, karena untuk mengisi BBM satu jeriken dikenakan tarif sekisar Rp10 ribuhingga Rp20 ribu.

Pantauan wartawan koran ini di lapangan, beberapa warga tampak antre membeli BBM di galon APMS Jalan Runding dengan menggunakan jeriken. Seorang pembeli, Selasa (5/6) sore sekira pukul 17.00 WIB mengaku terpaksa membayar uang tambahan yang diminta karyawan galon APMS tersebut agar bisa diisi. Jika tidak, maka jiregen mereka tidak diisi.

Para pembeli itu ternyata bukan warga setempat saja, melainkan dari luar daerah juga berdatangan. Seperti warga yang berdomisili di Kota Sebulusalam, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Hal itu tentu saja telah meresahkan warga khususnya masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat.

Pengusaha APMS Desa Sukaramai, Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat Rosmina Silaban kepada Sumut Pos, Rabu (6/6) mengatakan bahwa pengutipan yang dilakukan karyawannya adalah hal yang biasa dan sudah menjadi budaya yang turun-menurun (tradisi).

“Keberadaan APMS di Kabupaten Pakpak Bharat, bukan semata-mata untuk penyaluran BBM di daerah ini saja, melainkan melayani untuk umum. Walaupun pengutipan itu ada, pastinya hal itu bukan merupakan suatu pelanggaran hukum, namun sudah tradisi”, aku Rosmina. (mag-14)

Sepeda Motor Dibawa Kabur Cewek

TEBING TINGGI- Indra Hakim (29) kuli bangunan warga Jalan Soekarno Hatta,Kelurahan Tambanganhilir, Kecamatan PadangHilir, Kota Tebingtinggi  harus gigit jari. Pasalnya cewek yang baru dikenal lima hari, Ani (24) warga Sei Rampah membawa kabur sepeda motor Suzuki Satria FU BK 3957 NAC miliknya, di Jalan Deblod Sundoro,Kota Tebingtinggi, Selasa malam (5/6) sekira pukul 20.30 WIB.

Kejadian ini bermula ketika Ani (DPO) berkenalan lewat via telepon seluler lima hari yang lalu,karena penasaran ingin berjumpa langsung Indra mengajak bertemu di sebuah warung bakso di Jalan Deblod Sundoro, Kota Tebingtinggi. Tanpa disadari cewek yang ingin berjumpa tersebut adalah jaringan sepesialis pencuri sepeda motor.

“Saya masih lajang,karena ingin kawin dan belum punya pacar aku percaya kepada Ani. Saat jumpa makan bakso tidak ada gelegat mencurigakan darinya,prilaku gadis itupun terlihat ramah dan sopan,” ujar Indra ketika membuat laporan ke Mapolres Tebingtinggi,Rabu sore (6/6) ditemaniorangtuanya.

Singkat cerita kata Indra, Ani bermohon meminjam sepeda motor dengan alasan membeli obat ke Kota Tebingtinggi karena takut tutup kemalaman. Karena tidak merasa curiga,dia (Indra) langsung memberikan kunci sepeda motor dengan mudah. “ Janjinya sebentar pak,saya tunggu hingga malam, sepeda motor dan Ani tak kunjung datang,”ucap Indra. (mag-3)

Bazar Permainan dan Makanan Zaman Dulu

Permainan era tahun 80-an seperti yoyo, gasing, etek-etek palu, etek-etek gerdang, bekel siput, kapal toek-toek, balon tiup, ludo, monopoli, congklak, serta makanan seperti telur cicak, kue gum, permen ting-ting jahe, permen rokok, permen texas, permen pedas atau duplex, kue dollar, cokelat ayam dan harum manis, sudah jarang dijumpai.

Tapi, Diah (55), warga Jalan Suluk Pancing bersama temannya, Yuni mencoba kembali mengembangkan usaha itu dengan nama Cemal Cemil di Jalan Darussalam Medan.

“Permainan-permainan seperti ini sudah tidak ada lagi sekarang ini. Bagi saya kondisi seperti itu memprihatinkan karena anak-anak sekarang hanya tahu gadget yang memberikan dampak negatif bagi cara bersosialisasi dengan teman-temannya,” kata Diah kepada Sumut Pos saat disambangi di bazarnya, kemarin Keduanya berharap masih ada mainan tradisional asal negara ini yang dikenal dan dimainkan oleh anak-anak Indonesia khususnya di kota besar.

“Untuk memperoleh seluruh alat mainan dan makanan tersebut, kami mendatangkan dari daerah Jawa karena tidak ada pengrajin asal daerah ini yang memproduksi mainan dan makanan seperti itu,” ucapnya.
Dia mengenang masa kecilnya lebih banyak dihabiskan dengan bermain di luar rumah bersama teman-teman atau kalau berada di rumah, dia bermain bersama anggota keluarganya yang lain seperti permainan congklak atau monopoli.

Jadi seluruh permainan yang dimainkan itu secara bersama-sama sehingga tercipta kebersamaan dan dia lebih terbuka dengan lingkungan dan teman-teman sekitarnya.
“Selain itu juga mengajarkan strategi baik secara kelompok atau individu. Hal itu yang membuatnya kembali ingin mengenalkan permainan zaman dulu kepada anak-anak sekarang,” ujarnya.

Ketidaktahuan anak-anak khususnya era tahun 90-an dan 2000-an terhadap seluruh permainan dan makanan tersebut, menurut dia, terlihat saat dia menggelar bazar pada salah satu sekolah dasar (SD) di Kota Medan. Umumnya, siswa SD di sekolah itu tidak mengetahui nama-nama permainan dan makanan tersebut.

Hanya orangtua siswa yang mengetahui dan akhirnya membelikan untuk si anak sebagai upaya mengenalkan kembali permainan dan makanan pada eranya. “Akhirnya orangtuanya yang membelikan untuk anaknya. Mungkin ingin bernostalgia juga orangtuanya,” ucapnya.

Selama mengikuti bazar dan pameran, pada umumnya pengunjung antusias. Pengunjung seakan bernostalgia kembali dengan era 80-an. Untuk mainan, banyak juga yang bermain sebentar dengan alat-alat mainan tersebut sedangkan makanannya tidak sedikit membelinya langsung karena rindu dengan rasa makanan itu.

Seperti sekarang ini, dia sedang mengikuti bazar di lantai dasar Palladium. Di sini, stan miliknya tidak hanya didatangi oleh pengunjung mal tetapi juga tamu hotel yang terletak bersebelahan dengan pusat perbelanjaan tersebut.

“Ada pengunjung dari Malaysia yang sedang berbelanja ke mal dan melihat seluruh permainan dan makanan. Mereka antusias dan terkesan dengan seluruh permainan dan makanan asli Indonesia itu dan akhirnya membeli sebagai oleh-oleh,” katanya.

Seluruh permainan dan makanan tersebut dijual dengan harga yang sangat terjangkau mulai dari Rp3.000 hingga Rp65.000. Jadi jika dibandingkan dengan memori atau nostalgia yang bisa diperoleh atau dikenang kembali, tentu harga segitu tidak sebanding.

“Kami akan terus mengikuti berbagai bazar, pameran atau lainnya untuk mengenalkan kembali berbagai permainan dan makanan zaman dulu ini,” pungkasnya.(adl)

8 Guru Ingin jadi Honorer Daerah

PAKPAK BHARAT- Delapan guru honorer komite sekolah SMP Negeri 2 Satu Atap Lae Langge Namuseng, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat berharap kepada pemerintah setempat untuk memperhatikan nasib mereka untuk diangkat menjadi guru honorer daerah.

Kedelapan Guru Honorer dimaksud, yakni Lenny Solin SPd, Rana Yana SPd, Edis Berutu SPd,  Midar Berutu SPd, Banna P Padang Amd, Sofia Berutu, Maria Sinamo dan Appen Berutu.
Harapan itu, diungkap mereka saat menyambut kedatangan Plt Gubernur Provinsi Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho di Desa Lae Langge Namuseng, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat, Selasa (5/6).

Seorang Guru Honorer Komite Sekolah SMP Negeri 2 Satu Atap Lenny Solin mengatakan bahwa dirinya sudah mengabdi sebagai tenaga pengajar di sekolah selama tiga tahun dan berharap Pemkab Pakpak Bharat melalui dinas terkait dapat merealisasikan harapan tersebut.

“Kami sangat mengharapkan Dinas Pendidikan dapat memperhatikan nasib kami. Selama ini, sebagai tenaga honorer  yang menerima gaji melalui komite sekolah untuk segera diusulkan menjadi  tenaga pengajar honorer daerah, sehingga nantinya kami dapat diusulkan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS),” harapnya. (mag-14)

Izin City Check In Butuh Kajian Amdal Lalin

MEDAN-Pemko Medan diminta memenuhi kajian analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) lalulintas (Lalin), terkait pemberian izin bangunan baru city check in. Wakil Ketua Komisi D DPRD Medan, Irwan Sihombing mengatakan Dinas Tata Ruang Tata Bangunan (TRTB) Medan harus benar-benar melakukan kajian Amdal Lalin sesuai UU No 40 tahun 2009, tentang analisis lingkungan serta peruntukan lahan.

“Jika tidak memungkinkan untuk peruntukan umum (terminal) dari jalur hijau, Pemko Medan harus konsisten menegakkan aturan,” katanya.

Apalagi, lanjutnya, bangunan city check in tersebut sampai saat ini belum memiliki Surat Izin Mendirikan Bangunan (SIMB), karena harus mengurus izin perubahan peruntukan dari jalur hijau menjadi bangunan umum terlebih dahulu.

Sedangkan syarat penerbitan izin peruntukan harus melalui persetujuan DPRD Medan lewat rapat paripurna, DPRD Medan akan melakukan kajian dampak Amdal dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. “Tujuannya untuk melihat kelayakan pembangunan city check in jika ditinjau dari kemacetan lalulintas,” ujar Irwan.

Dikatakan Irwan, masalah kajian lalulintas harus dilakukan, sebab saat ini saja kawasan terminal kereta api dan kawasan Lapangan Merdeka apabila satu gerbong kereta api datang sudah terjadi kemacetan.

“Apalagi nanti dijadikan city check in yang jadwalnya hampir setiap sepuluh menit, pasti menimbulkan kemacetan yang luar biasa,” terang Irwan.

Sementara itu, pelaksanaan pembangunan city check in hingga saat ini masih berlangsung, sedangkan hasil rapat dengar pendapat (RDP) Komisi D DPRD Medan bersama TRTB dan pihak PT KAI bulan lalu sudah merekomendasikan agar pengerjaan bangunan dihentikan.

Kabid Amdal BLH Medan, Mulatiur mengaku permohonan analisis dampak lingkungan maupun analisis dampak lalu lintas untuk pembangunan city check in belum ada dilakukan hingga sekarang.

Dikatakan Mulatiur, karena posisi pembangunan city check in berada di pusat kota dan padat bangunan maka sudah seharusnya pembangunan itu membutuhkan Amdal.
Kadis Perhubungan Kota Medan, Syarif Armansyah Lubis mengatakan hingga saat ini PT KAI belum ada memasukkan permohonan pembangunan city check in. (adl)

Pedagang Pasar Kwala Bekala Jaga Kebersihan

MEDAN-Pedagang yang berjualan di Pasar Kwala Bekala mengakus senang kalau Kota Medan mendapat Piala Adipura dalam kategori Kota Metrpolitan yang bersih dan terbebas dari sampah.

Untuk itu, pedagang berjanji akan terus melakukan upaya kebersihan di Pasar Kwala Bekala, Jalan Pintu Air IV, Kecamatan Medan Johor “Selaku padagang kita tetap terus mendukung program bapak Wali Kota Medan, Drs H Rahudman Harahap untuk memperindah Kota Medan. Selain itu juga kita tidak lupa untuk selalu mendukung program Dirut PD  Pasar Medan Beni Sihotang dalam hal kebersihan di pasar dan penataan pasar yang baik,” kata Soraya Sembiring  Pelawi, pedagang Pasar Kwala Bekala, Rabu (6/6).

Diterangkannya, penataan kebersihan dan keindahan yang telah dilakukan di Pasar Kwala Bekala ini adalah melakukan pengaspalan pada jalan yang berlobang dan menata pedang di kios yang telah disediakan PD Pasar Kwala Bekala.

“Kalau dulu ketika banjir datang Pasar Kwala Bekala selalu banjir dan becek. Sehingga, para konsumen enggan hendak berbelanja. Tapi, sekarang tidak lagi. Pasalnya, jalan yang telah berlobang dan rusak telah diaspal,” terangnya.

Pedagang lainnya, Idion Sitepu mengatkan, kalau lokasi Pasar Kwala Bekala saat ini sudah jauh berubah. Dimana, dulu Pasar Kwala tidak rapi. Namun, kini telah tertarta rapi dan bersih. Itu terbukti, setiap pedagang yang berjualan di Pasar Kwala Bekala selalu menyediakan wadah sampah yang diletakkan di dalam plastik. Kemudian, sampah yang kami letakkan di depan kios diangkut oleh petugas kebersihan.

“Pokoknya kebersihan yang ada di Pasar Kwala sudah baik baik. Kami Selaku pedagang gembira atas diraihnya Adipura,”bilang Idion.

Untuk itu, kami akan terus menciptakan kebersihan dan keindahan yang ada di Pasar Kwala Bekala. Serta mendukung penuh program kerja Bapak Wali Kota Medan dan Dirut PD Pasar dalam hal kebersihan di setiap pasar khususnya di Pasar Kwala Bekala.

“Kami berjanji akan menciptakan kebersihan di Pasar Kwala Bekala dengan baik. Sehingga, bila bersih dan tertata rapi, para konsumen berbondong-bondong berbelanja ke Pasar Kwala Bekala,” ujarnya.(omi)

Tebingtinggi Terima Piagam Adipura

TEBINGTINGGI-Wali Kota Tebingtinggi  Umar Zunaedi Hasibuan menerima sertifikat (piagam) Adipura tahun 2012, Selasa malam (5/6) di Puri Agung Hotel Sahid Jakarta. Penyerahan piagam Adipura bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) yang diserahkan Menteri Negara Lingkungan Hidup Prof  Albathsar Kambuaya dalam kategori kota sedang.

Kota Tebingtinggi menerima Piala Adipura terakhir tahun 1994. Delapan tahun kemudian baru mendapat penghargaan bergengsi di bidang lingkungan hidup tersebut. Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan didampingi Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Tebingtinggi Idham Khalid SKM  mengatakan penghargaan tersebut merupakan kebanggan dan menjadi motivasi bagi masyarakat Kota Tebingtinggi untuk tetap hidup bersih, nyaman dan sehat.

“Bukan karena diterimanya penghargaan itu, masyarakat Kota Tebingtinggi baru mentaati perilaku hidup bersih, nyaman dan sehat. Tanpa penghargaan Adipura, kita tetap melaksanakan perilaku hidup bersih, nyaman dan sehat,”tegas Idham Khalid kepada Sumut Pos, Rabu (6/6).

Diharapkannya, Piagam Adipura tersebut dapat dipertahankan Kota Tebingtinggi. Semoga pada tahun mendatang bisa ditingkatkan. Oleh sebab itu, sangat diharapkan seluruh elemen masyarakat mendukung program kebersihan Kota Tebingtinggi dengan memperkuat perilaku hidup bersih, sehat dan nyaman.

“Penilaian tahapan Adipura setiap tahunnya semakin berat dan ketat sebab tidak hanya soal kebersihan dan keindahan kota. Untuk meraih Adipura, harus mampu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungannya, baik air, tanah, dan udara,”ungkap Idham.

Kata Idham lagi, bahwa aspek-aspek dan kawasan yang menjadi objek penilaian diantaranya kebersihan jalan protokol (arteri), pertokoan,  pasar, sekolah, rumah sakit, perkantoran, permukiman,terminal, stasiun kereta api, hutan kota, taman kota, tempat pembuangan akhir (TPA) dan sungai.

“Dengan diperolehnya Piagam Adipura tersebut, Wali Kota Tebingtinggi mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada masyarakat atas partisipasi dan sumbangsihnya dalam meningkat kualitas lingkungan hidup,”cetusnya. (mag-3 )

Bajing Loncat Terkapar Ditembak, 4 Kabur

AEKKANOPAN: Aliansyah Hasibuan (27) warga Dusun Sinar Pagi Desa Siamporik Kecamatan Kualuh Selatan Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) ditembak polisi, Rabu (6/6) pukul 03.30 WIB. Tersangka pelaku pencuriaan muatan truk (bajing loncat) itu berusaha kabur, saat polisi menggelar operasi rutin di Jalinsum Simaporik Kualuh Selatan.  Selain Aliansyah, seorang pelaku lagi Hanafi Siagian  alias Nafi (22) warga Desa Siamporik Kualuh Selatan turut ditangkap. Sedangkan empat rekan Aliansyah berhasil kabur dalam operasi itu.

Kanit Reskrim Ipda Eri Prasetiyo kepada METRO (Group Sumut Pos) mengatakan, Aliansyah beserta rekan lainnya merupakan pelaku pencuri sepatu yang diangkut truk dari pulau Jawa. Dalam penyergapan yang dilakukan Polres Labuhanbatu, Aliansya Cs berupaya kabur. Tiga kali tembakan peringatan yang diletuskan polisi  ke atas.”Ia terus kabur akhirnya tembakan mengarah ke kakinya,” bilang Eri.

Melihat Aliansyah terkapar, Hanafi Siagian langsung menyerahkan diri, sedangkan empat pelaku lainnya berhasil kabur. Dalam pemeriksaan polisi Hanafi membeberkan barang hasil jarahan mereka. Hasil informasi itu, polisi mengamankan lima kardus sepatu hasil jarahan.
Ternyata kejahatan yang dilakukan Aliansyah  bukan itu saja. Sebelum dia pernah ditangkap   dalam kasus 363 pencurian.

Tahun 2008 Aliansyah terlibat kasus perampokan dengan nomor laporan /471/XI/2008  di Jalinsum Kualuh Selatan. Korbannya, Boken Nasution dengan kerugian korban Rp53 juta .

Aliansyah termasuk juga daftar pencarian orang (DPO) atas kasus perampokan truk getah dengan nomor laporan /14/III/2012 di Polsek Aek Natas  korbanya, Zulkifli Lubis dengan kerugian 1 unit truk beserta getah sebanyak 5 ton.K erugian korbanya saat itu Rp150 juta dan hingga kini truk itu belum ditemukan. (put/smg)

Makanan Ringan Dipaket dengan Ganja 2 Kg

MEDAN-Sekuriti Avsec Unit Bisnis dan Gudang Kargo (UBGK) Bandara Polonia Medan berhasil menggagalkan penyelundupuan ganja seberat 2 kg, saat pemeriksaan di X-Ray, Rabu (6/6) sore.
Rencananya ganja itu akan dikirim ke Jakarta dengan menggunakan jasa titipan barang PT Tiki, dengan menumpang maskapai Garuda GA-191.

Sekuriti yang kebetulan jaga curiga dengan kotak berwarna cokelat. Petugas kemudian melakukan pemeriksaan ulang karena merasa curiga dengan isi dalam kotak setelah dilakukan pemeriksaan X-Ray. Namun, saat diperiksa dan dibuka, petugas X-Ray menemukan tiga bal daun ganja seberat 2 kg yang dipaketkan bersamaan dengan makanan ringan berupa kerupuk, sirup dan sparepart.

Paket yang akan dikirim oleh PT Tiki tersebut tertera alamat pengirim Sarina, Jalan Maharaj, Gang Maharani, Banda Sakti Mongeudong, Aceh dan dikirim kepada A Anggun Assesoris, Jalan Raya Cilandak KKO, RT 12/02, Ragunan, Jakarta Selatan.
Kepala UBGK Bandara Polonia Medan, M Nur Ali Rosjid mengaku, paket ganja tersebut dikirim oleh PT Tiki dengan tujuan Medan-Jakarta.

Dijelaskannya, karena curiga lalu dilakukan pemeriksaan dan ternyata isinya daun ganja seberat 2 kg yang dipaketkan dalam 3 bal. Kapos Polisi Bandara Polonia Medan, Aiptu S Sihombing menjelaskan, ganja tersebut ditangani Direktorat Narkoba Polda Sumut. (jon)