Home Blog Page 13407

Listrik Pintar Pilihan Orang Pintar

Inilah inovasi terkini dari layanan PLN yang lebih menjanjikan Kemudahan, Kebebasan dan Kenyamanan bagi pelanggannya : Listrik Pintar – Solusi isi ulang dari PLN ! Dengan listrik pintar, setiap pelanggan bisa mengendalikan sendiri penggunaan listriknya sesuai kebutuhan dan kemampuannya.

Seperti halnya pulsa isi ulang pada telepon seluler, maka pada sistem listrik pintar, pelanggan juga terlebih dahulu membeli pulsa (voucher/token listrik isi ulang) yang terdiri dari 20 digit nomor yang bisa diperoleh melalui gerai ATM sejumlah bank atau melalui loket-loket pembayaran tagihan listrik online.

Lalu, 20 digit nomor token tadi dimasukkan (diinput) ke dalam kWh Meter khusus yang disebut dengan Meter Prabayar (MPB) dengan bantuan keypad yang sudah tersedia di MPB.
Nantinya, lewat layar yang ada di MPB akan tersajikan sejumlah informasi penting yang langsung bisa diketahui dan dibaca oleh pelanggan terkait dengan penggunaan listriknya, seperti :

Informasi jumlah energi listrik (kWH) yang dimasukkan (diinput).
• Jumlah energi listrik (kWH)) yang sudah terpakai selama ini
• Jumlah energi listrik yang sedang terpakai saat ini (real time).
• Jumlah energi listrik yang masih tersisa. Jika energi listrik yang tersimpan di MPB sudah hampir habis, maka MPB akan memberikan sinyal awal agar segera dilakukan pengisian ulang.

Keuntungannya:

*Pelanggan lebih mudah mengendalikan pemakaian listrik.
Melalui meter elektronik prabayar pelanggan dapat memantau pemakaian listrik sehari-hari dan setiap saat. Di meter tersebut tertera angka sisa pemakaian kWh terakhir. Bila dirasa boros, pelanggan dapat mengerem pemakaian listriknya.

*Pemakaian listrik dapat disesuaikan dengan anggaran belanja.
Dengan nilai Pulsa Listrik (voucher) bervariasi mulai Rp 20.000,0 s.d. Rp 1.000.000,- memberikan keleluasaan bagi pelanggan dalam membeli listrik sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan (lebih terkontrol dalam mengatur anggaran belanja keluarga).

*Tidak akan terkena biaya keterlambatan
Tidak ada lagi biaya tambahan bayar listrik dikarenakan terbebani biaya keterlambatan akibat lupa bayar tagihan listrik.

*Privasi lebih terjaga
Untuk pelanggan yang menginginkan kenyamanan lebih, dengan menggunakan Listrik Pintar tidak perlu menunggu dan membukakan pintu untuk petugas pencatatan meter karena meter prabayar secara otomatis mencatat pemakaian listrik anda (akurat dan tidak ada kesalahan pencatatan meter).

*Jaringan luas pembelian listrik isi ulang
Saat ini pembelian Pulsa Listrik (voucher) Pintar sudah bisa didapatkan di lebih dari 30.000 ATM di seluruh Indonesia. Selain itu bisa juga didapatkan di loket pembayaran listrik online.
*Tepat digunakan bagi Anda yang memiliki usaha rumah kontrakan atau kamar sewa (kos).

Sebagai pemilik rumah atau kamar sewa, Anda tidak perlu khawatir lagi dengan tagihan listrik yang tidak dibayar oleh penghuni rumah kontrakan karena pemakaian listrik sudah menjadi tanggung jawab dan sudah disesuaikan dengan kebutuhan penyewa.

Dengan demikian, pelanggan secara real time, setiap saat, kapan saja dapat mengetahui secara persis penggunaan listrik di rumah. Jadi, kendali penggunaan listrik sungguh ditangan Anda! (*)

16 Tewas Diterpa Gelombang Panas di India

NEW DELHI- Gelombang panas yang melanda sejumlah wilayah India menewaskan 16 orang.  Dalam 3 hari terakhir, suhu udara di sejumlah wilayah India berada di kisaran 45 derajat Celcius, bahkan lebih.

Untuk wilayah ibukota New Delhi saja dilaporkan suhu udara maksimal mencapai 42,2 derajat Celcius dan minimal mencapai 29,7 derajat Celcius.

Wilayah-wilayah dengan suhu tertinggi, yakni Allahabad yang mencapai 46,9 derajat Celcius, kemudian disusul wilayah Hamirpur yang mencapai 46,2 derajat Celcius, lalu wilayah Varanasi yang mencapai 45,8 derajat Celcius dan wilayah Banda yang mencapai 45,6 derajat Celcius.

Gelombang panas ini memakan korban jiwa sebanyak 16 orang warga di wilayah Benggala Barat yang ada di sebelah timur India. Sebanyak 9 korban tewas berasal dari distrik Burdwan, sedangkan 3 korban tewas dari distrik Kalkuta dan Purulia, dan sisanya tersebar di sejumlah distrik lainnya.

Sebagian besar korban tewas akibat terkena sengatan matahari parah atau biasa disebut kondisi sunstroke. Suhu di wilayah tersebut dilaporkan berkisar pada 45 derajat Celcius. Demikian seperti diberitakan oleh Press Trust of India dan dilansir oleh Channel News Asia, Selasa (5/6).
Meskipun sejumlah wilayah sempat dilanda hujan, tetap tidak mampu menghindarkan gelombang panas. (net)

Sering Gunakan Bahasa Indonesia

Barack Obama

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Barack Obama ternyata masih menggunakan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-harinya. Itu diakui saudara perempuannya, Maya Soetoro Ng.

“Obama sesekali masih berbicara dalam Bahasa Indonesia, khususnya ketika terkait dengan makanan atau misalnya ketika dia mengeluh sakit dipunggungnya dia akan bilang, ‘Aduh, sakit mau dipijat’,” ujar Maya kepada sejumlah media ketika menghadiri Discussion Education for Global Competence yang berlangsung di @america, Pasific Place, Jakarta, Selasa, (5/6).

Maya menjelaskan, meski tidak sefasih dirinya dalam menggunakan Bahasa Indonesia, namun Presiden Obama masih mengingat beberapa kata yang secara lancar dapat dilafalkannya.
“Kadang dia (Obama) mengatakan kepada anak Saya ‘Oh kuat ya’. Dia bisa mengucapkan kata meski tidak selalu sempurna, seperti ketika memakan sesuatu yang dia rasa lezat, dia akan berkata ‘enak ya’,” jelas Maya.

Menurut Maya, Obama dapat memahami Bahasa Indonesia lebih daripada melafalkannya.
“Jadi jika Anda berbicara dengan Obama dalam Bahasa Indonesia dia akan mengerti,” tutur Maya.
Perempuan yang juga berprofesi sebagai pendidik itu menceritakan suatu momen lucu ketika Presiden Obama tengah berkunjung ke Bali.

“Obama mengatakan, ‘Saya mau bakso tapi mereka memberikan Saya makanan bule’.

Obama sangat ekspresif terkait dengan segala sesuatu yang berbau makanan,” ujar Maya diselingi gelak tawa dari sejumlah media yang hadir. Kunjungan Maya Soetoro Ng kali ini kabarnya untuk mempromosikan sekolah-sekolah di AS serta berbagi perspektif terkait dengan perkembangan pendidikan. (net)

Dovi Tercepat Tes Catalunya

BARCELONA-Setelah menempati podium ketiga dalam balapan MotoGP Catalunya, Andrea Dovizioso melanjutkan tren positifnya. Pebalap Yamaha Tech 3 ini mengukir waktu terbaik dalam sesi tes di tempat yang sama.

Di Sirkuit Catalunya, Senin (4/6), Dovizioso melahap total 42 lap dengan catatan waktu terbaik 1 menit 41,997 detik. Dovizioso mengungguli pebalap Yamaha, Ben Spies, yang ada di tempat kedua. Catatan waktu Spies lebih lambat 0,146 detik daripada milik Andrea Dovizioso.
Hector Barbera mengisi posisi ketiga dengan waktu 1 menit 42,186 detik. Di belakangnya ada rider Honda Gresini, Alvaro Bautista.

Duo Honda, Dani Pedrosa dan Casey Stoner, masing-masing menempati urutan kelima dan keenam. Mereka ada di depan Cal Crutchlow, Jorge Lorenzo, Stefan Bradl, dan Nicky Hayden.
Sementara itu, Valentino Rossi menghuni posisi ke-11. Catatan waktunya lebih lambat 1,255 detik di belakang Dovizioso. Tes MotoGP berikutnya akan digelar di Aragon, Rabu (6/6/2012).
Meski Andrea Dovizioso menggunakan paket baru, tapi performa motornya tidak meningkat.

Bahkan, Dovizioso mengakui motor Jorge Lorenzo masih lebih cepat ketimbang miliknya.
Dovi menilai paket elektronik dan mesin baru yang digunakan memang berfungsi dengan baik, sehingga dirinya berhasil menjadi pembalap tercepat disesi terakhir tes MotoGP kali ini. Namun, Dovi merasa kecepatan motornya masih terlalu lambat.

“Peningkatan performa motor hanya sedikit, tapi ini sesuatu yang pernah dialami Lorenzo dan anda selalu berharap mendapatkan peningkatan yang lebih besar. Sebab, ketika saya melihatnya membalap, Lorenzo sangat cepat sekali,” jelas Dovi. (bbs/jpnn)

Senyum Rahudman

Oleh: Ramadhan Batubara
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Rahudman Harahap tersenyum di Istana Negara di Jakarta. Berpakaian batik berwarna lembut, kokoh dia pegang piala Adipura yang baru diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ini prestasi dan harus dibanggakan, mungkin itu yang ada dalam otak Rahudman.

Soal isi otak memang sesuatu yang sangat pribadi. Bisa saja seseorang tersenyum, tapi isi kepalanya memaki. Tapi, kalau melihat senyum Rahudman saat difoto sambil memegang piala Adipura, tampaknya saya yakin kalau semua orang sepakat, senyum itu tulus Pertanyaannya, sebegitu hebatkah Adipura hingga seorang Rahudman Harahap bisa bersikap begitu? Sejarah mencatat, program Adipura telah dilaksanakan setiap tahun sejak 1986, kemudian terhenti pada 1998. Dalam lima tahun pertama, program Adipura difokuskan untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi ‘Kota Bersih dan Teduh’.

Program Adipura kembali dicanangkan di Denpasar, Bali pada tanggal 5 Juni 2002, dan berlanjut hingga sekarang. Pengertian kota dalam penilaian Adipura bukanlah kota otonom, namun bisa juga bagian dari wilayah kabupaten yang memiliki karakteristik sebagai daerah perkotaan dengan batas-batas wilayah tertentu.

Nah, untuk meraih hal itu bukan gampang bukan? Medan memang pernah meraih Adipura. Tidak tanggung-tanggung, Adipura malah bak tradisi bagi Kota Medan. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Medan Bachtiar Djafar saat itu, Medan sampai lima kali berturut memperolehnya.

Tradisi meraih Adipura kemudian berlanjut sampai kepemimpinan Wali Kota Medan Abdillah. Kemudian terhenti, saat kota ini dilanda ‘prahara’ dengan berbagai problema.
Nah, kini setelah tujuh tahun, Adipura kembali ke Kota Medan. Dan tentunya, menambah jumlah pajangan piala Adipura di Jalan Adam Malik.

Senyum Rahudman pun makin mengembang karena dia memang memasang target mengembalikan Adipura ke Kota Medan. “Insya Allah bisa kita peroleh Tahun 2012. Kita sedang persiapkan tim dan sudah terus kita lakukan pertemuan dan langkah-langkah yang melibatkan lurah dan camat.  Harapan kita masyarakat mendukung,” kata Rahudman pada Maret lalu.

Secara pribadi saya sangat bangga dengan keberhasilan itu. Maka, saya pun begitu semangat menulis hingga beberapa paragraf dalam catatan ini. Tapi, di sisi lain, saya teringat keluhan Bu Selo warga Jalan Panglima Denai. Ya, dia merasa dianaktirikan oleh Pemerintah Kota Medan.

Pasalnya, di beberapa jalan di Kota Medan disediakan tempat sampah, tapi di Jalan Panglima Denai yang panjang itu, tak ada satu pun tong sampah berwarna oranye milik Pemko.

Bu Togar warga Jalan Bahagia By Pass lain lagi. Dia marah pada Pemko karena ‘merusak’ beberapa taman yang ada di tengah jalan; yang sebelumnya menjadi penghias jalan seperti di perempatan Jalan Juanda-Jalan Sisingamangaraja-Jalan Halat. “Masak garar-gara macet, taman dihancuri. Kan jadi gak cantik lagi Medan,” begitu katanya.

Dua keluhan di atas tentunya berbanding terbalik dengan senyum Rahudman bukan? Ayolah, Rahudman tersenyum kan karena Medan diakui Indonesia sebagai kota metropolitan yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Nah, kenapa masih ada beberapa poin yang belum sesuai? Apalagi, ketika Medan sudah menjadi kota yang langganan banjir.

Tapi, sekali lagi, ketika merlihat senyum Rahudman lagi, saya ikut tersenyum. Hati saya berkata, ini tetap sebuah prestasi dan tetap harus dibanggakan. Ya, masalah Adipura sebagai pujian atau ujian, itu kan urusan belakang. (*)

Hamilton Mulai Diunggulkan

MONTREAL – Sejauh ini, Lewis Hamilton belum pernah meraih kemenangan di Formula One (F1) 2012. Kendati demikian, pasar taruhan masih mengunggulkan Hamilton untuk berjaya di Grand Prix Kanada, pekan ini.

Setelah melewati tantangan di sirkuit unik Grand Prix Monaco, para pembalap kembali akan ditantang untuk melahap balapan di Kanada. Namun, pasar taruhan mengunggulkan Hamilton untuk menjadi pemenang di Sirkuit Gilles Villeneuve, pekan ini.

Hamilton merupakan satu-satunya pembalap di klasemen lima besar yang belum pernah meraih kemenangan di balapan tahun ini. Kendati demikian, rumah judi BetVictor.com masih mengunggulkan Hamilton untuk jadi juara di Kanda.

Bukan tanpa alasan pembalap asal Inggris itu diunggulkan oleh rumah judi BetVictor.com. Sebab, McLaren memiliki catatan gemilang, meraih dua kemenangan beruntun pada dua balapan sebelumnya. (bbs/jpnn)

Tujuh Lokal Dibangun Berlantai Dua

Gotong Royong Pembersihan Lahan Lokal Baru Sekolah Yayasan Masjid Al-Hikmah

KELUARGA besar Masjid Al-Hikmah di Jalan Sapta Pasar VII Desa Mariendal-I, Kecamatan Patumbak menggelar gotong royong membersihkan pertapakan pembangunan lokal baru sekolah yang dikelola Yayasan Masjid Al-Hikmah, Minggu (3/6).

Gotong royong  ini dipimpin Ketua Panitia Pembangunan Ir H Erpi Hasibuan MSi bersama Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid Al-Hikmah H Sanggup Purba, Ketua Yayasan Masjid Al-Hikmah Rivai Sirait.

Gotong royong juga dihadiri sejumlah tokoh masyarakat setempat. Diantaranya Drs H Usman Serawi Lc MA, H Djasman RS, H Rahman Lubis, anggota Peryas Al-Hikmah, pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Al-Hikmah beserta jamaah masjid Al-Hikmah.
Rencananya pada pertapakan tanah seluas 15×40 m2 akan dibangun tujuh lokal sekolah bertingkat dua yang akan dimulai sebelum puasa bulan Ramadan. ‘’Secepatnya pembangunan lokal baru sekolah Yayasan Masjid Al-Hikmah akan dibangun.

Saat ini kita sedang melaksanakan pembersihan lahan yang akan berlangsung selama sepekan. Nantinya lokal baru ini akan melengkapi dua lokal sekolah yang sudah lebih dulu dibangun. Dua lokal yang sudah ada ini dipakai sebagai lokal sekolah TK/RA Yayasan Masjid Al-Hikmah,’’ ata Erpi di Mariendal, Selasa (5/6).

Menurut alumni S1 Pertanian USU dan S2 Magister USU ini, pembangunan lokal baru sudah lama dinantikan masyarakat. Apalagi, lanjut dia, keberadaan dua lokal yang ada dirasakan belum mencukupi seiring dengan semakin banyaknya anak-anak yang bersekolah di sekolah yang dikelola Yayasan Masjid Al-Hikmah. ‘’Seiring dengan rencana pembangunan lokal baru ini, kita juga akan melaksanakan rapat panitia pembangunan di kediaman Bapak Djasman RS, Rabu (6/6) malam guna menentukan tanggal pengecoran
fondasi dilanjutkan dengan pembangunan lokal baru bertingkat dua,’’ terangnya.

Erpi yang juga Kabid PH Dinas Kehutanan Sumut ini berharap dukungan umat Islam di Sumut agar pembangunan sekolah yang dikelola Yayasan Masjid Al-Hikmah dapat segera diselesaikan. ‘’Bantuan dapat diberikan dalam bentuk dana maupun material  pembangunan lokal baru. bantuan dapat disalurkan melalui poanitia di Masjid Al-Hikmah Jalan Sapta Pasar VII Desa Mariendal-I,’’ rincinya.

Dukungan terhadap pembangunan lokal baru sekolah Yayasan Al-Hikmah juga disampaikan Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid Al-Hikmah H Sanggup Purba. ‘’Melalui kerjasama semua pihak, diharapkan pembangunan lokal baru dapat segera diselesaikan. Pertapakan bangunan lokal baru dimiliki bersamaan dengan pembangunan Masjid Al-Hikmah. Kita harap tahun ini dapat diselesaikan sehingga akan lebih banyak generasi muda Islam dapat belajar di sekolah tersebut,’’  imbuhnya.

Ketua Yayasan Prestasi Lansia Sumut yang juga Purnawirawan Polda sumut ini juga mengatakan, Masjid Al-Hikmah yang didirikan lebih 23 tahun lalu juga dibangun atas dukungan umat Islam yang memberi bantuan dalam berbagai bentuk. ‘’Masjid Al-Hikmah dibangun atras dukungan umat Islam dan pembangunan lokal baru juga diharapkan mendapat dukungan luas dari umat Islam di Sumut dan daerah lain,’’ harapnya. (*)

Dua Sopir Tewas, 16 Penumpang Luka

 Truk Tangki, Barumun, & Mobil Boks Tabrakan di Aek Natas

AEK NATAS-Amsyah Nasution (50), warga Tanjungmorawa Pasar VII Deliserdang tewas terbakar di dalam mobil boks yang dikendarainya di kawasan Aek Natas Labuhanbatu Utara (Labura). Dia terpanggang saat mobilnya terbakar setelah terlibat tabrakan beruntun yang melibatkan tiga mobil.

Tabrakan beruntun terjadi di Km 247-248 Simpang Suka Maju, Kelurahan Bandar Durian, Kecamatan Aek Natas Kabupaten Labura, Selasa (5/6) dini hari, tepatnya pukul 00.30 WIB.

Dalam peristiwa ini, sebuah truk tangki BK 9742 EB bertabrakan dengan Bus Barumun BB 7009 LK yang berpenumpang 35 orang. Di saat bersamaa,n bus juga menabrak mobil boks jenis L-300 BK 9384 LK. Akibat tabrakan beruntun ini, 16 orang penumpang bus Barumun luka-luka, sedangkan 2 orang lainnya tewas.

Selain Amsyah, korban tewas lainnya adalah sopir Bus Barumun, Sarben Nasution (45) warga Dolok Merangir, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun. Ia tewas setelah sempat dirawat di Kilinik Rangkuti, Kampung Pajak. Sedangkan, 16 korban luka-luka sebagian dirawat di Puskesmas Aek Natas dan sebagian lagi dirawat di Klinik Rangkuti Kampung Pajak. Sementara itu, pengemudi truk tangki BK 9742 EB yang tidak diketahui identitasnya melarikan diri.

Informasi yang dihimpun dari lokasi kejadian, kejadian ini bermula saat truk tangki sedang mundur dari Rumah Makan (RM) Sempurna di Simpang Suka Maju. Bersamaan dengan itu, Bus Barumun yang dikemudikan Sarben Nasution datang dari arah Rantauprapat menuju arah Medan.

Sang sopir truk tangki tidak melihat kehadiran Bus Barumun di belakangnya. Akibatnya, Bus Barumun yang melaju dalam kecepatan tinggi menabrak bagian belakang sebelah kiri truk tangki yang tengah mundur tadi. Sontak bus oleng ke kanan jalan. Namun pada saat bersamaan, sebuah mobil boks yang dikendarai Amsyah datang dari arah berlawanan, yaitu dari arah Medan menuju arah Rantauprapat. Tabrakan beruntun pun akhirnya terjadi.

Saat tabrakan antara Bus Barumun dan mobil boks tersebut, tiba-tiba mobil yang dikendarai Amsyah mengeluarkan api. “Pengemudi sempat berteriak minta tolong,” ungkap Rudi (40), saksi mata yang berada di lokasi kejadian.

Namun, api terlalu cepat membesar. Warga sekitar sempat mengambil air dan coba memadamkan api. “Kudengar pengemudi mobil itu minta tolong. Api berhasil dipadamkan. Tapi korban telanjur terpanggang di dalam mobil boksnya sehingga meninggal dunia karena luka bakar seluruh tubuh,” kata Sukur (46), saksi mata lainnya di TKP.

Saat itu warga yang di TKP langsung bergegas menghubungi polisi. Polisi yang datang ke TKP langsung mengevakuasi korban, termasuk 16 korban yang merupakan penumpang bus. Sedangkan sisa penumpang bus lainnya yang selamat berjumlah 19 penumpang dioper ke bus lain untuk melanjutkan perjalanan.

Kapolsek Aek Natas IPTU Herry S melalui Kanit Lantas Aiptu Hamid Darwin mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan pengembangan penyelidikan penyebab tabrakan beruntun. “Truk tangkinya sudah kami amankan di Mapolsek Aek Natas, tapi sopirnya melarikan diri. Kami terus melakukan pengejaran,” kata Darwin. (st/smg)

Tak Ada Anggaran untuk Titi Kuning

MEDAN-Harapan agar Titi Kuning dibangun lagi mulai menemukan jalan buntu. Psalanya, setelah pihak Pemko Medan lepas tangan, Pemprovsu juga tidak menyediakan anggaran untuk jembatan yang baru-baru ini ambruk.

Setidaknya, dalam alokasi Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) Sumatera Utara (Sumut) tahun 2012, tidak ditemukan adanya alokasi anggaran pembangunan atau rehabilitasi jembatan Titi Kuning, yang rubuh beberapa waktu lalu.

Untuk Kota Medan, hanya ada satu alokasi anggaran pembangunan jembatan permanen yang terletak di Sei Deli (Penghubung antara Kecamatan Marelan dan Kecamatan Medan Labuhan di Kelurahan Rengas Pulau dan Kelurahan Besar, Red) dengan lebar enam meter dan panjang 35 meter.

Alokasi anggaran tersebut masuk dalam bagian Belanja Bantuan Keuangan Kepada Kota Medan, dengan nomor kode 1.20.03.00.000.5.1.7.02.01. Pada alokasi anggaran tersebut, nominalnya sebesar Rp4 miliar dan masuk dalam item Bantuan Dana Bawahan (BDB) Medan.

“Pengalokasiannya itu oleh kami di DPRD Sumut dan eksekusi atau pengerjaannya oleh daerah yang dituju. Dalam BDB Kota Medan, ada satu alokasi anggaran untuk pembuatan jembatan.

Namun, ini belum terealisasi. Harusnya ini jadi perhatian dari Pemko Medan, terutama Dinas Bina Marga Kota Medan,” tegas anggota DPRD Sumut dari Daerah Pemilihan (Dapil) I Medan, M Nasir, Selasa (5/6).

Terkait jembatan Titi Kuning yang rubuh tersebut, politisi yang duduk di Komisi C DPRD Sumut itu, menyesalkan dan merasa kecewa terhadap sikap Pemerintah Kota (Pemko) Medan, melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan, Syaiful Bahri yang menyatakan Pemko Medan tidak punya peran dalam persoalan tersebut dan pembangnan jembatan Titi Kuning yang dianggap sebagai pemborosan.

“Ini adalah persoalan urgen atau penting. Jembatan itu menjadi jalur penghubung atau alternatif. Jika dikatakan membangun jembatan itu adalah pemborosan, kenapa dia (Sekda Kota Medan, Red) sibuk. Yang untuk membangun itu kan uang dari rakyat. Memang beginilah pejabat-pejabat kita,” kata M Nasir.

Apa yang diungkapkan Nasir senada dengan sikap Pemko Medan. Bagaimana tidak, Pemko Medan beralasan tidak menyediakan anggaran perawatan jembatan lantaran rehabilitasi atau pemeliharan jembatan di Kota Medan sudah dianggarkan sebesar Rp13.750.000.000 dari APBD 2012.

Dari dana itu, tak ada yang dialokasikan untuk perbaikan atau perwatan Titi Kuning. (ari/adl)

Lahan Sengketa jadi Kuburan

Penggarap Nyaris Bentrok dengan PTPN 2

LABUHAN DELI-Pihak PTPN 2 kembali nyaris bentrok dengan petani penggarap. Kali ini, ketegangan itu berasal dari kuburan yang berada di lahan sengketa.

Peritiwa ini melibatkan puluhan warga yang mengatasnamakan petani penggarap di Pasar VIII Jalan Perjuangan Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deliserdang. Mereka nyaris bentrok dengan petugas keamanan PTPN 2 Kebun Helvetia.

Pasalnya, pihak perusahaan menuding kelompok penggarap tidak meminta izin terkait dijadikannya lahan berstatus sengketa tersebut sebagai kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU), Selasa (5/6) kemarin.

Informasi diperoleh Sumut Pos di sekitar lokasi kejadian menyebutkan, peristiwa keributan dan nyaris terjadi bentrok fisik itu bermula ketika warga penggarap bermaksud akan mengebumikan, Tugiman bin Tugino (24) warga Pasar X Dusun 8 Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli di lahan sengketa tersebut.

Pihak PTPN 2 yang menerima laporan dari petugas keamanan kebun sekitar pukul 09.30 WIB, langsung menuju lokasi lahan dimaksud guna melarang warga penggarap untuk menggali tanah untuk dijadikan kuburan. Warga penggarap yang kesal sempat adu mulut dengan B Simamora selaku Papam PTPN 2 Kebun Helvetia.

“Ini lahan eks HGU, jadi bukan milik PTPN 2. Kami warga penggarap di sini sudah bertahun-tahun menggarap lahan tanah di sekitar tempat ini,” kata Kliwon (62), pemimpin petani penggarap di daerah tersebut.

Pria mantan petugas keamanan kebun PTPN ini menilai pihak perkebunan tidak mempunyai hak untuk melarang penggarap. Apalagi lahan eks HGU tersebut untuk lokasi pemakaman masyarakat setempat. “PTPN jangan memaksakan kehendaknya karena pelepasan lahan eks HGU ini untuk kepentingan rakyat,” ungkapnya.

“Lahan ini masih milik PTPN 2 dan masih berstatus HGU. Kami minta warga penggarap untuk tidak menjadikan lahan ini sebagai wakaf kuburan, apalagi izin dari perusahan perkebunan tidak ada dan ini jelas ilegal,” timpal B Simamora, pria yang mengaku pernah bertugas di Kodam I/BB ini.

Aparat kepolisian dari Polsekta Medan Labuhan yang turun ke lokasi setelah menerima informasi berusaha mengamankan situasi. Guna mengantisipasi terjadinya bentrokan fisik, Kanit Binmas Polsekta Medan Labuhan AKP S Simanjuntak didampingi Kanit Intel, AKP P Parangi-angin langsung menengahi keributan.

“Kenapa warga yang akan memanfaatkan lahan ini sebagai wakaf pemakaman masyarakat dan pertanian dilarang, sementara PTPN 2 tidak berani melarang dan mengokupasi bangunan kafe-kafe yang banyak berdiri di lahan ini,” teriak warga penggarap lainnya.

Menurut mereka, sebelumnya penggarap pernah mengajukan permohonan ke pemerintah desa agar lahan dimaksud dimanfaatkan warga penggarap sebagai TPU. Namun, tak kunjung mendapat jawaban. “Bukannya warga penggarap di daerah ini tidak mau berkoordinasi dengan PTPN 2. Tapi sudah tiga kali kami mengajukan permohonan memalui surat ke kepala desa (Kades) untuk diteruskan ke PTPN, tapi tetap tak dijawab dan soal ini sudah dari tiga tahun lalu kami perjuangkan,” ungkap para penggarap.

Para petani penggarap menilai lemahnya pemerintah, dalam hal ini pihak Badan Pertanahan Nasional yang tak mampu menentukan batas-batas perkebunan dengan lahan pertanian masyarakat banyak dimanfaatkan pihak-pihak tertentu.

Pantauan di sekitar lokasi karena tak memperoleh kata sepakat, akhirnya petugas PTPN 2 Kebun Helvetia meninggalkan lokasi. Sementara, puluhan warga penggarap tetap melakukan prosesi pemakaman di lahan dimaksud dengan pengamanan dari aparat kepolisian.

Setwapres Gandeng LIPI
Dari Jakarta, Kantor Sekretariat Wakil Presiden  (Setwapres) terus berupaya mencari solusi permanen terkait konflik lahan eks HGU PTPN 2. Guna menyerap masukan dari pihak-pihak terkait, kemarin Setwapres menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menggelar workshop di gedung LIPI, Jakarta Selatan.

Selain kasus Sumut, dibahas juga kasus konflik lahan di Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Timur. Masyarakat korban juga hadir di acara tersebut.

Dari Sumut, perwakilan masyarakat yang hadir dan diundang adalah Harun Nuh,  Ketua Umum Barisan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI). Dia mewakili  masyarakat yang bersengketa dengan PTPN II di Langkat, Binjai, Deli Serdang.

Di acara tersebut, Harun Nuh, mengatakan, konflik agraria yang terjadi antara BPRPI dengan PTPN II harus segera diselesaikan. “Sebab telah banyak menimbulkan korban. Jika tak segera diselesaikan, konflik yang memakan korban bisa terjadi lagi,” ujar Harun.
Dikatakan juga, penyelesaian yang berlarut-larut juga telah menarik kalangan calo, mafia tanah, preman dan oknum aparat.  “Mereka semua terlibat dengan beragam kepentingannya sehingga proses penyelesaian menjadi semakin sulit,” cetusnya.

Dia mengatakan, sebenarnya persoalannya tidak rumit. Pasalnya, menurut Harun Nuh, sudah ada keputusan Gubernur EWP Tambunan pada 24 Mei 1980.  Bahkan sudah ada putusan MA yang sudah berkekuatan hukum tetap tentang pengakuan dan perlindungan kampung-kampung BPRPI.
“Namun tidak pernah dijalankan dan dihormati. Bahkan, dari 61 kampung sekarang hanya tersisa 21 kampung karena diusir oleh PTPN dan aparat,” sambungnya.

Harun juga menyoroti sikap Pemprov Sumut dan BPN dalam menangani kasus lahan ini, menurutnya lamban. “Ini membuktikan bahwa banyak aktor kepentingan yang terlibat dalam mempersulit, sehingga persoalan menjadi terkatung-katung,” cetus Harun.

Forum workshop juga menyoroti kinerja aparat keamanan.  Keterlibatan kepolisian dalam konflik agraria saat ini justru dinilai banyak membuat keadaan semakin buruk.  Menurut Harun, penangkapan, penahanan banyak dilakukan kepolisian jika petani dan masyarakat adat memperjuangkan hak atas tanahnya.

“Bahkan, dalam penanganan kerapkali kepolisian melakukan penembakan kepada petani,” ujarnya, seraya menyebut kasus di Labuhan Batu yang dikabarkan ada tiga petani yang ditembak.
Iwan Nurdin, Deputi Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) yang menjadi salah satu fasilitator dalam workshop tersebut menjelaskan, tujuan workshop tersebut  untuk mendapatkan gambaran utuh tentang konflik agraria dan pilihan-pilihan penyelesaian yang mungkin dilakukan agar konflik agraria tidak berlarut-larut dan dapat segera diselesaikan di daerah.

“Rekomendasi workshop harapannya tidak hanya dapat dipakai oleh pemerintah untuk membuka kanal penyelesaian namun juga kerangka kebijakan dalam penyelesaiankonflik agraria,” pungkas Iwan.(mag-17/sam)