Home Blog Page 13427

Siapkah AS Dipimpin Presiden Mormon?

Mitt Romney menjadi pemenang dan menjadi calon yang diunggulkan oleh Partai Republik, dia pun dengan jujur mengatakan bahwa dia seorang Mormon. Dia merupakan calon presiden pertama yang memenangkan politik besar dari orang lain yang sama aliran kepercayaannya. Pertanyaannya sekarang apakah rakyat Amerika siap mendapatkan presiden seorang Mormon?

Menurut laman the daily sun, Romney dapat menjadi kesempatan emas bagi gereja untuk memperluas dasar-dasar agama di Amerika dan internasional, tapi juga kesempatan yang berbahaya. Hal ini dikarenakan Romney tidak setuju akan pernikahan sesama jenis namun Mormon pun dipandangan banyak orang bukan sebagai salah satu aliran Kristen namun bentuk pemujaan.

“Akan ada sedikit orang yang tidak setuju dengan iman Mormon-nya Romney, namun kebanyakan pemakai hak pilih akan bertoleransi padanya,” kata Brandon Rottinghaus dari University of Houston. Mengenai hal ini, The Church of Jesus Christ of Latter-day yang beraliran Mormon pun tidak berkomentar apa-apa.

Mormon sendiri sebenarnya adalah aliran kepercayaan yang percaya kepada Yesus, tapi selain Alkitab mereka mempunyai kitab suci lainnya yang bernama Kitab Mormon. Mereka memandang diri sebagai bangsa pilihan Allah dan memandang benua Amerika sebagai tanah perjanjian atau Yerusalem baru.

Menurut mereka juga, Kerajaan seribu tahun yang disebutkan dalam Alkitab saat ini sudah berlangsung dan Yesus akan datang untuk kedua kalinya pada akhir masa seribu tahun itu. Hal ini dan hal-hal lainnyalah yang membuat perbedaan besar antara Mormon dengan aliran kepercayaan Kristen yang lain.(jc)

Seringai Bala, di 17

Azam Tanjalil Anfal

betapa sempurna diriku jadi
tumpukan reja
saat anak-anak membuat busur dari
daun kelapa, luruh di dadaku
ada gemuruh yang mendinginkan
kridaku, menahan gerus pada telatah
hidup yang masih dini
mega telah berlalu
sementara malam bersimbat dengan
sinarnya yang bakir
16 Des 2011

Menyisihkan Sampai
di beranda ini tak kukenal lagi
wajahmu, rumah ini pun kosong
oleh kepergianmu sore itu
daun-daun melambai
menyisihkan sampai
namun para pemacul
bersimbah keringat:
menunggunya di tempat itu
20 Des 2011

Tangis
aku melihat orang-orang miskin
bersekolah tanpa syarat
mereka kerjakan soal di luar kelas, dan hasil ujiannya melayas bersama angin
hingga pada suatu ketka,
mereka lintuh, karena kenaikan
kelas yang mereka harapkan
tak jua mendiris
20 Des 2011

Antara
siang hari yang mendung
pawana membawa gerimis
membasahi tanah liat ini
jejak yang telah kuabaikan
kini meretih menjadi ilusi
hingga semua yang kulihat
adalah tuas yang akan menuilku
bumi ini terasa asing
hanya salammu Tuhan
yang aku tunggu
3 Des 2011

Bercakap Pada Diam
kembali kau meretih mengusik
kesepianku pada cermin
yang retak ini
entah
aku tidak bisa memaknai
keberadaanmu di
hatiku
semua begitu saja
bercakap pada diam
dalam sepi yang memanjang
5 Des 2011

Nuah Tarigan Perjuangan Panjang Mandirikan Penderita Kusta

Nuah Pardamean Tarigan selama kurang lebih dua puluh tahun telah setia memperjuangkan hak para mantan penderita kusta. Kepeduliannya berawal dari suatu peristiwa di tahun 1987, ketika Nuah sedang mengadakan studi riset arsitektur di desa Lau Simomo, Sumatera Utara.

“Disana saya melihat banyak sekali orang mengalami kusta, mengalami yang dinamakan pemisahan atau mungkin tidak diterima secara baik oleh masyarakat di sekitarnya. Mereka adalah orang-orang yang mungkin dikatakan orang-orang terbuang dan saya tersentuh pada saat itu.

Saya melihat bahwa visi saya ke depan saya bisa membantu rekan-rekan di mana saja yang mungkin berhubungan dengan masalah kusta ini”
Stigma masyarakat yang tetap tidak mau untuk menerima para penderita kusta kembali ke masyarakat, membuat Nuah mulai terbeban untuk aktif menyuarakan hak para penderita kusta semenjak masih duduk di bangku kuliah.

“Ada kelompok-kelompok, orang-orang yang menderita kusta menyerah karena mereka menilai tidak ada satu pun kemampuan yang mereka miliki lagi. Mereka pun kemudian akhirnya menjadi peminta-minta di jalan. Untuk beberapa saat, langkah ini sangatlah menguntungkan, tetapi lama kelamaan ini dapat membawa efek buruk khususnya untuk generasi mereka selanjutnya”

“Terpisahnya mereka dengan masyarakat membuat mereka tidak ada tempat. Mereka menjadi sulit untuk mengabdikan dirinya kepada suatu company atau lembaga tertentu di pemerintahan. Nah inilah menjadi hal yang penting – bagaimana kita membangun kualitas kehidupannya menjadi lebih baik”
Kepedulian Nuah terhadap para penderita Lepra diwujudkan melalui ‘Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia’ yang dibentuk bersama beberapa rekannya. “Jadi kami percaya dengan mendidik orang-orang yang kami fasilitasi di kampung kusta, itu adalah suatu cara untuk membuat perubahan yang mendasar di kehidupan orang-orang kusta itu sendiri.

Dengan kami didik apalagi khususnya generasi muda maka mereka juga tidak akan berpikir bahwa hidup mereka itu bergantung kepada orang lain. Yang kami buat disitu adalah bagaimana mereka fokus pada masa depan mereka, bukan kepada masalah”
Walau sekarang tidak terlalu terlihat apa yang Nuah dan rekan-rekan lakukan, tetapi ia yakin bahwa suatu saat hal yang positif itu akan datang ke dalam hidup orang-orang kusta yang mereka pedulikan.

“Suatu ketika, waktu mereka bertemu dengan saya, mereka akan mengatakan ‘Terima kasih karena saya sudah diberikan kesempatan untuk melihat sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya’,  dan itu adalah sesuatu yang mengharukan bagi saya – bagaimana supaya kita bisa menerima mereka dengan tulus dan otentik. Bagaimana kita menyatakan kasih Kristus kepada orang-orang yang mungkin selama ini adalah orang-orang yang tidak kita pikirkan”

“Dengan kasih Kristus yang kita nyatakan kepada mereka, kita akan melihat ada banyak orang yang merasa terhibur. Mereka tidak mementingkan apa yang harus mereka berikan secara materi kepada mereka. Bentuk perhatian kita saja, kesadaran kita tentang diri mereka itu saja sudah cukup.”(jc)

Ragam Menu Ragam Perangai

Ramadhan Batubara

Sambal udang cuma tiga ribu perak. Sop ceker tiga ribu perak. Sambal ikan asin dua ribu perak. Sambal teri kacang dua ribu perak. Total sepuluh ribu perak. Menu makan sehari pun aman. Empat plastik dibawa pulang.

Senyum mengembang. Menu di atas dipesan tetangga saya kemarin pagi jelang siang. Tepatnya, di warung yang berada di pojok sebuah jalan bernama Tuar, Medan Amplas. Kenapa saya letakkan menu itu di lead, jawabnya karena saya terkejut. Ya, bukankah harga itu cukup terjangkau?

Saking terkejutnya, kemarin saya pun ikuti menu tetangga tadi. Tentunya dengan harga yang sama. Dan, saya pun tersenyum sambil membawa empat bungkus menu itu. Lucunya, ketika tersenyum, saya merasa senyum itu pun sama dengan tetangga. Bagaimana tidak, pelayanan dari dua orang di warung itu cukup memuaskan. Mereka cukup cekatan menyendokan menu yang dipesan hingga membungkusnya dalam plastik.

Praktis, cukup lima menit semua menu siap dibawa pulang. Hal ini sangat menolong pembeli yang mengular mengantre. Sayangnya, ketika sampai di rumah, senyum saya langsung hilang. Tadi saya diminta tolong oleh istri untuk membeli lontong. Fiuh. Tapi sudahlah, yang jelas, ketika menjamurnya warung cepat saji dan aneka ayam penyet hingga maraknya warung Padang, warung kecil itu benar-benar membuat saya lega. Bagaimana tidak, biasanya saya terbiasa dengan menu dengan harga yang sudah dipatok.

Di warung kecil di Jalan Tuar itu, harga benar-benar bisa dinegoisasikan. Misalnya, ketika saya latah untuk membeli sambal udang tadi. Ketika saya sampaikan pesanan pada penjual, dia malah balik bertanya: berapa? Tergagap, saya jawab tiga ribu; persis dengan tetangga tadi.

Nah, angka tiga ribu membuat otak saya bekerja. Maksud saya begini, jika memang bisa beli seharga tiga ribu, berarti bisa beli dengan harga dua ribu atau seribu rupiah bukan? Pun, bisa beli sambal udang itu sepuluh ribu rupiah kan? Tentu, kenyataan ini cukup menyenangkan. Pasalnya, sebagai keluarga kecil, yang terdiri dari dua orang, kita kan tak harus membeli sambal udang itu sampai sepuluh ribu rupiah. Cukup disesuaikan dengan kebutuhan.

Lucunya, kehebatan warung kecil di Medan Amplas itu makin tampak beberapa jam kemudian. Tepatnya, sehabis saya dan rekan-rekan bermain futsal di kawasan STM Medan. Jadi, usai main futsal – kali ini formasi pemain bisa dikatakan lengkap -kami sepakat untuk makan di sebuah warung ayam penyet di kawasan itu juga.

Label warung ini cukup pas mengingat ayam penyet cenderung berasal dari Pulau Jawa: nama warung ini adalah nama komunitas putra Jawa di Sumatera. Nah, ketika baru duduk, kami langsung didatangi pelayan; perempuan. Dia tersenyum ramah layaknya pelayan di mana saja. Kami pun senang sambil memperhatikan daftar menu lengkap dengan harganya. Meski tidak semurah warung di Jalan Tuar (hehehehehe), saya melihat harga itu masih sangat wajar. Maka, satu persatu dari kami mulai ribut memesan.

Saat memesan inilah terjadi sesuatu yang tak menyenangkan. Pelayanan itu menghilangkan senyumnya. Malah, dia terlihat marah. Dia tak ramah lagi menunggu kami memesan. Kesannya, dia ingin buru-buru kami memesan. Hal ini bagi saya lucu. Pasalnya, kami berjumlah belasan orang, menu yang ditawarkan juga banyak, mengapa dia tidak sabar.

Melihat itu, saya jadi batal memesan. Entahlah, mungkin karena masih terbayang kenikmatan belanja di warung kecil tadi, saya jadi malas memesan di ayam penyet ini. Pelayannya kurang menyenangkan. Padahal, kami tidak menggodanya, kami hanya lama memilih. Eh, kok marah. Ya sudah, saya saja yang marah.

Kawan-kawan tetap memilih. Saya bertahan tidak. Parahnya, ketika pesanan datang, si pelayan tadi malah menghilangkan keramahan. Dia letakkan pesanan begitu saja.

Tanpa senyum, seakan kami ke warung itu bukan untuk membeli. Tapi sudahlah, mungkin kami dilihatnya tak menyenangkan; meski hal ini tak boleh dilakukan pelayan bukan?

Belum lagi kesal saya hilang, eh, si pelayan malah buat kesalahan lagi. Minuman pesanan seorang kawan malah salah. Fiuh. Beruntung sang kawan tetap menerima. Nah, ketika sudah begitu, si pelayan tetap tak tersenyum! Bukankah seharusnya dia bersyukur dengan sikap kawan saya tadi hingga dia tak harus menanggung kesalahan itu?

Tapi, sekali lagi, sudahlah. Dua ratus dua belas ribu berpindah ke warung itu. Tak masalah. Makanan di warung itu memang sudah ada harga standar. Tidak bisa ditawar. Tidak bisa dibeli setengah-setangah. Dan, kalau anak kecil yang belanja, ya jumlah makanan dan harga pun tidak bisa disesuaikan: tetap ikut porsi orang dewasa.

Begitulah, soal makanan memang tak hanya sekadar soal rasa dan harga. Ada bahasa lain terkait hal itu, yakni kenyamanan. Dan, mungkin hal ini yang dilupakan pelayan tadi. Namun, sudahlah …. (*)

Promotor Dunia Ribet Urus Izin

Terry Putri 

Presenter olahraga yang baru menjanda ini berharap berita penolakan Gaga oleh Indonesia tidak meluas. Perlu ada langkah kampanye bahwa Indonesia itu ramah terhadap dunia luar.

“Orang pengen liat karya seni, plus prestasinya. Kalau Gaga aja gagal, orang beranggap aneh. Kok artis sekaliber dia nggak bisa konser,” ujar Terry Putri.
Dia berpendapat, negatifnya banyak kerugian finansial, terus tidak bisa dapat pelajaran dari artis itu. Masyarakat sudah pintar memilah-milah. Khusus anak muda, jangan disamain seperti dulu, cuma mengikutin alur. Bila artisnya dicekal, mereka bisa beranggapan dikekang belajar kembangkan diri ke seni.

Selain itu, Terry pernah mendengar beberapa keluhan dari promotor dunia. Kata mereka, Indonesia pasar musik potensial tapi prosedur perizinannya buruk.

“Indonesia itu bahan jualan lho, bagi semua tidak cuma Gaga. Itu dari aku sharing sama banyak promotor. Tapi mereka juga sudah satu not (suara) untuk Indonesia, banyak warning dan aturan kalau mau buat tur dunia. Ini bukan promosi bagus, kita yang datangkan promotor dan manajemen artis luar,” tuturnya.

Solusi kesemrawutan izin konser, lanjut Terry, ada di tangan pemerintah. Industri musik lagi berkembang, harus didukung otoritas pusat.
“PR pemerintah, buat lah Undang-Undang gimana musisi dunia gelar konser di sini. Kayak datangkan artis, hingga hal pendukung. Ajak promotor, musisi, manajemen artis berunding. Pokoknya cari kesepakatan. Indonesia negara musyawarah mufakat, semua harus dimediasi, tentu tak kesampingkan request si artis,” saran Terry.

Diingatkan lagi, batalnya Gaga ke Indonesia berefek dahsyat. Apalagi penolakan diwarnai tekanan ormas dan lembaga lain yang dinilai diskriminatif.
“Gampang bilang Gaga penyembah setan. Kita nggak tau gimana dia. Bila sudah gagal, promosi kita nggak bisa gelar konser artis sefenomenal dia,” tuturnya.

Baginya, stigma penyembah setan tak hanya Gaga. Ada Beyonce, dan Marilyn Manson. (ins/jpnn)

Asing Ancam Boikot

Gaga Batal Konser

Lady Gaga batal konser di Indonesia. Analis dan pelaku industri musik tanah air menyebut jadi preseden buruk di dunia hiburan internasional. Kemungkinan ada efek domino, sejumlah artis boikot masuk Indonesia. Warning ini ditanggapi beragam oleh selebriti yang diwawancarai Rakyat Merdeka (Gurp Sumut Pos). Satu hal, mereka bilang Indonesia rugi besar melarang Gaga. (*)

Utamakan Masyarakat Luas

Vicky Shu  

Kabar artis luar negeri boikot Indonesia pasca batalnya konser Lady Gaga dianggap berlebihan oleh Vicky Shu. Alasannya, jumlah penduduk dan pasar musik di tanah air terlalu menggiurkan untuk diabaikan pihak asing.

“Indonesia itu pasar besar, Bisa saja ada pemboikotan, tapi kayaknya nggak mungkin terjadi,” kata Vicky. Saking optimisnya, pelantun Pacar Kamu ini yakin batalnya konser Lady Gaga tak memengaruhi kunjungan wisatawan asing.

“Pihak Lady Gaga juga memaklumi kenapa di Indonesia terjadi penolakan, bahkan aku sempat nonton di televisi soal pendapat masyarakat Amerika. Mereka juga berpikir Gaga terlalu seksi,” urainya.

Gaga batal datang. Vicky bersikap biasa saja. Yang ia sayangkan cuma keputusan menolak justru datang dari tekanan sejumlah ormas.   “Kadang beberapa pihak tidak berpikir jangka panjang kalau melakukan suatu hal. Hanya memikirkan untuk satu kepentingan tertentu dan tidak memikirkan masyarakat yang lebih luas,” keluh Vicky.
Ormas dan pihak penentang Gaga pun dirasanya terlalu berlebihan dalam beragumentasi.

“Konser beberapa jam nggak mungkin merusak moral. Justru yang menolak itu mungkin gampang terpengaruh. Aku pikir penolakan itu pasti ada apa-apanya,” tutur penyanyi asal Cilacap, Jawa Tengah ini.

Padahal, kata Vicky, artis lebih seksi dari Gaga bisa juga menggelar konser di Indonesia. (bcg/jpnn)

Singapura yang Untung

Julia Perez  

Julia Perez (Jupe) yakin, batalnya konser Lady Gaga tak akan mengurangi minat musisi dunia gelar show di tanah air. Alasannya, penduduk kita itu sudah musicaholic. Dari data, pasar penjualan album di kawasan Asia Tenggara, Indonesia masih ada di posisi puncak.

“Ya gagal satu, bisa tumbuh seribu. Kalau Backstreet Boys dan NKOTB bisa ke sini, itu tandanya mereka masih percaya Indonesia. Orang Indonesia kan ngelakuin sesuatu, nggak bisa lepas dari musik. Saya yakin, kalau mereka manggung, stadion cenderung penuh,” tutur Jupe.

Berbeda dengan kebanyakan orang, pelantun Belah Duren ini tak mau langsung menunjuk ormas di balik gagalnya konser Gaga. Dia netral saja karena merasa tindakan ormas itu terselip maksud baik juga.

“Ya, nggak bisa disalahin lah. Saya nggak mau nyalahin pihak mana pun. Emang Gaga agak seronok, perlu ada yang ingetin, tapi kan nggak perlu cara anarkis. Negara kita kan pluralisme, perlu juga mengakomodir keperluan kalangan lain,” pintanya.

Saat konser Gaga resmi diumumkan batal, Jupe langsung kecewa.
Pasalnya, dia sudah membeli tiket dan siap dengan segala atribut unik. “Saya kecewa sekali ya. Susah saya ngomongnya kalau lagi kecewa begini,” ujarnya. Enak Singapura bisa lihat langsung Gaga?

“Yang diuntungkan, pastinya negara tetangga. Berapa banyak orang ke Singapura ,” katanya. (ins/jpnn)

Tentang Sakit (Gigi)

Oleh Rezi Gustiadi

Entah ikut merasakan, entah ingin tahu atau sekedar penasaran. Belum pernah kurasakan sakit yang benar-benar luar biasa seperti dialami olehnya. bergulinjang, teriak-teriak, memaki-maki, ‘hipersupersensitif’, tidak mau makan, ingin tidur tapi tidak bisa dan segala ‘tetekbengek’nya. Dilanda perhatian, kutanya ia baik-baik. Ia bungkam, menyendiri di sudut ruangan. Tangannya menopang Pipi sebelah kanan dengan sangat kuat, bahkan jarang ia lepaskan.

Sedikit tertawa kunikmati caranya ‘menikmati’ sakit. sakit yang menurut sebagian orang merupakan sebuah sign perlindungan bila tubuh mengalami kerusakan. Sakit yang menurut sebagian orang merupakan suatu rasa atau pengalaman emosional yang orang tersebut akan berusaha untuk menghilangkannya. Sakit yang dirasa semakin parah jika mendapat rangsangan dari luar, dari lingkungan, akibat kelelahan, kesendirian, tumpukan masalah dan rasa yang pernah dialami sebelumnya, dan ada yang mengganggap bahwa sakit adalah kutukan.

Entah sekedar penasaran, entah ingin tahu, ikut merasakan, atau salah persepsi. ‘Menurut sebagian orang’ adalah juru kunci yang kadang tidak berlaku untuknya. Aku belum pernah melihatnya bergulinjang, teriak-teriak, memaki-maki, ‘hipersupersensitif’, tidak mau makan, dan segala tetekbengeknya ketika telapak kakinya berdarah dan berlubang dalam saat ia berkelana ke hutan dan ditusuk tiga buah duri besar. Padahal salah satu tubuhnya mengalami kerusakan. ia seperti tidak bereaksi untuk menghilangkannya. untuk pengalaman emosionil sekalian pun, ia -menurut pandanganku –  tidak merasakan.  Saat mengetahui kekasihnya berselingkuh dengan suami orang.

Padahal saat itu ia sendiri. Padahal saat itu ia kelelahan menerima interfensi dan gossip panas dari lingkungan sekitarnya. bahkan ada yang mengganggap itu adalah kutukan untuknya. Padahal ia belum pernah mengalami hal tersebut sebelumnya.

***
Mengendap-endap, kubuka pintu ruangan seperti maling yang takut tertangkap basah. Sedikit tertawaku mengandung keanehan yang dahsyat. Aku melongok. Kebungkamannya kadang mendadak padam atau kumat. Sesekali berdiri, melepaskan tangan di pipi kanan namun tetap di sudut ruangan. Matanya kadang melebar lalu menyempit. Aku berjalan mendekat hingga pandangannya berubah. Kuraih lengan tangan kanannya yang masih menyiku pipi. Sedikit tawaku padam. Kunikmati caranya menggambarkan dan bereaksi terhadap rasa hingga menimbulkan gejala.

Terdengar dan terasa olehku hembusan dan bau nafasnya. Caranya mendesah seperi sehabis makan cabe. Cepat, namun lembut terdengar.
“Bang…”, lembut ia beringsut. Nafasnya menghilang. Tanganku merenggang. Aku mematung sekian menit di ruangan. Mendadak ia kumat. Desahannya memanjang. Pipinya tertekan kuat. Matanya menyipit dengan puncak hidung yang mengkerut. Seperti Merasa tidak tahan, ia menghentakkan kakinya sesekali. Oh…wajahnya, kuyu dan sangat kentara.

penasaran menyandarkanku ke dinding ruangan karena aku hampir kehilangan keseimbangan, seolah-olah aku yang mengalami sakit. seolah-olah tubuhku yang rusak. Seolah-olah sakitnya membuatku berusaha untuk menghilangkannya. Seratus persen aku yakin ini bukan kutukan.
Penasaran lebih menghantuiku dari sekedar ingin tahu atau ikut merasakan. Kutelusuri kata ‘sakit’ di Google. Kudapati milyaran hasil dalam sekian milidetik. Tidak mungkin ku ketahui seluruh hasil itu.

Penasaran menghantarkanku ke sebuah situs tentang sejarah sakit. Defenisi, macam-macam, batas ambang dan lain sebagainya. Ternyata toleransi terhadap sakit dan usaha mengatasinya meningkat sesuai dengan bertambahnya umur dan lebih besar pada pria dibanding wanita.

***
Sarung hitamku menyambar lantai. Dengan tangan di pinggang aku mematung di depan sebuah cermin besar. Kuperhatikan wajahku dari leher hingga ujung kepala. Karena kelimpungan, senyumku melebar. Kudekatkan wajahku ke depan cermin. Masih tetap seperti biasa, sudut bibirku masih di depan gigi yang sama dan gusi depan yang tetap muncul ketika aku senyum. Gumy’s smile. Penasaran, rahang bawah kuturunkan. Terlihat lidah, anak lidah, langit-langit, jaringan mulut, dan yang teristimewa dan membuatku penasaran. Gigi!

Sambil beringsut, mulutku katup dan berfikir. Kenapa mesti gigi? Apa istimewanya gigi?
Karena Gigi yang membuatnya menggulinjang, gigi yang membuatnya tidak mau makan, gigi yang membuatnya tetap tidak mau bercerita sedikit pun denganku. Karena dia hipersupersensitif. Gigi yang membuat tangannya tetap bersandar di pipi kanannya, sambil mendesah pendek-panjang, tidak tergesa-gesa karena ia tidak makan cabe. Gigi membuatnya merasakan sakit. Rasa yang seharusnya ada ketika ia ditinggal kawin pacarnya. Ketika ditusuk tiga duri besar.

Sedikit tertawaku padam tanpa sisa, caraku menikmatinya menikmati sakit berubah sesuai dengan frekuensi kumatnya. Di depan cermin aku bergumam sendiri. apakah kakinya kurang bersaraf untuk merasakan sign kerusakan? Atau telapak kakinya terlalu tebal? Tidak merasa tersiksa dengan emosionilnya? Kekasihnya? Interfensi lingkungan ? Kesendirian ?

Abang…, entah ikut merasakan atau sekedar ingin mencari solusi sakitmu. Aku tertawa melihatmu diserang sakit, walau sedikit. Karena baru kali ini aku melihatmu mendapati rasa yang seharusnya muncul ketika dirimu butuh perlindungan. Tapi  dirimu menetap untuk bungkam. Bagiku kamu tidak pernah merasakannya, atau bersembunyi dariku? Atau sakit memberengus mulutmu  sehingga kamu tidak mau bicara denganku? Aku ingin bilang, aku sakit melihat kamu sakit. Aku tidak tahan melihatmu merangkul badanmu sendiri, mengatupkan mulut sesekali dengan kuat dan saling mengadu gigi dengan kekuatan rahang. Tapi apa daya.

***
Dokter gigi itu sedikit prihatin ketika aku dan abang yang terkesan berwibawa dan menarik masuk ke ruang prakteknya. Setelah ia periksa giginya, aku dipersilahkan menunggu di luar. Tidak berapa lama, ia mengajakku bicara.

Baru sadar betapa pentingnya gigi sebagai aset dalam jajaran elemen tubuh. Kali ini memang tidak mengganggu penampilan karena hanya gigi belakangnya yang terlibat, tapi berpengaruh besar pada kualitas hidupnya. Rutinitas ke dokter gigi tidak hanya sekedar melakukan pembersihan, tapi juga memberikan gambaran menyeluruh tentang gigi. kunikmati cara dokter itu memberikan nasehat pada abang di depanku. Keanggunannya, ketenangannya menghadapi abang, dan caranya berkonsultasi dengannya.

***
Di pinggir tempat tidur, aku merayap hati-hati. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Senyap
***

Tentang sakit. Tentang aku.  Abang. Bingung.  Tidak jelas. Perjodohan. Ketidakpedulian.  Bertepuk sebelah tangan. Disangka cinta. Kelimpungan. Sabar. Kasihan. Serta segala tetek bengeknya yang  ber ‘kongkalingkong’ dengan mesra. Tentang aku, abang dan beberapa orang lain, termasuk mantan pacarnya pergi berkelana ke hutan. Mencari sesuatu di balik ketenangan. Mengharapkan suatu rasa meledak ketika ia benar-benar harus ada. ketika tiga duri besar yang menerjam sepatu tipisnya hingga menancap telapak kaki yang keratinnya tidak terlalu tebal. Darah tak menjadi sign baginya. Tidak melakukan perlindungan. Tertutup dengan sensasi alam bebas. Tidak berasa sampai kaus kakinya membusuk luar biasa ketika sampai di rumah. Sebatang rokok habis dilumatnya. Kopi. Coklat. Tidur. Tidak gosok gigi!

Tentang sakit. Tentang abang. Kadang bingung. Kadang tidak jelas. Tidak dianggap. Sering membungkam. Terpaksa menerima. Tentang aku. Tinggal bersama. Yang belum mengikat resmi dengannya. Terpasung dengan seluruh rasa dan tetekbengeknya yang berkongkalingkong mesra.  Tentang aku. Abang. Yang mendapatinya pulang dengan muka datar. Tenang. Tanpa rasa. Tiga batang rokok habis dilumatnya. Whiskey. Kopi. Coklat. Tidur. Tidak gosok gigi!

Esok. Aku. abang. Yang mendapatinya pulang dengan muka datar. Tetap tenang. Tanpa rasa. Menambah satu batang rokok dilumatnya. Whiskey. Kopi. Coklat. Sensasi. Tidur. Tidak gosok gigi!

Esoknya lagi. Aku. Abang. Yang mendapatinya pulang dengan muka datar. Tetap tenang. Tidak terasa sakit. Menambah satu batang rokok dilumatnya.  Whiskey. Kopi. Coklat. Sensasi. Tanpa ecstasy. Tidur. Tidak gosok gigi!

Esok dan esoknya lagi. Hingga beberapa hari.  Aku. Abang. Yang mendapatinya pulang dengan muka penuh ekspresi yang saling berkongkalingkong. Tenang. Tanpa terlihat sakit. Menambah satu batang rokok dilumatnya. Whiskey. Tanpa kopi. Coklat. Sensasi. Tanpa ecstasy. Tidur. Tidak gosok gigi!
Tetangga seolah-olah bersilaturahmi. Membawa bingkisan khas Jambi. Yang notabene ingin mendapatkan informasi. Justru sebaliknya. Aku yang mendapat informasi. Karena selama ini abang membungkam. Membuatku bingung. Tidak jelas. Disangka cinta. Kelimpungan. Eh ternyata bertepuk sebelah tangan. Tidak dianggap. Sabar. Dan tetangga merasa kasihan.

Tetangga yang memergokinya sekali bergumul dengan mantan kekasihnya di dalam mobil sebelum ia masuk ke rumah. Tetangga yang mendapat gossip dari tetangga tentang mereka yang bertengkar hebat karena mendapati kekasihnya yang berselingkuh dengan suami orang. Tetangga yang merasa kehadiranku yang membuat mereka bergumul. Merayap mobil masuk pagar yang sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, seperti maling yang takut tertangkap basah.

Aku yang baru mengetahi semua. Tentang suatu rasa atau pengalaman emosionil yang orang tersebut akan berusaha untuk menghilangkannya. Namun tidak baginya. Karena ‘menurut sebagian orang’ sama sekali tidak berlaku baginya.

Entah sekedar penasaran, entah ingin tahu, ikut merasakan, atau salah persepsi. Aku yang menemaninya menunggu suatu rasa yang seharusnya meledak saat kakinya ditusuk tiga duri besar. Aku -yang belum tahu- menemaninya menghabiskan sebatang rokok. Menambah sebatang tiap hari. Kopi. Coklat. Beranjak ke whiskey. Seolah-olah mendapat sensasi. Tanpa pernah menyinggung ecstacy. Aku yang mendapatinya pulang dengan wajah datar. Sesekali dengan macam ekspresi yang berkonkalingkong.

Entah aku yang salah persepsi. Seolah-olah ia tidak merasakan sakit. sakit yang seharusnya ada dan dirasa semakin parah karena rangsangan lingkungan. Karena tetangga yang sering datang seolah-olah bersilaturahmi -dengan atau tanpa bingkisan khas Jambi- berkerumun satu-satu dengan sengaja mendatangkan tukang sayur keliling di depan pagar rumah.  Rasa yang seharusnya semakin parah karena ia sendiri. Tidak pernah berbagi cerita denganku. Karena aku dianggap tiada. Karena semua perjodohan. Karena aku semua. Orang tuanya. Kekasihnya. Selingkuhannya. Rokok. Kopi. coklat. Whiskey. Ecstacy. Semua. Semua. Semuaaa.

***
Entah ikut merasakan, entah ingin tahu atau sekedar penasaran. Sering kudapati abang sedang menggulung diri. Sesekali ia bergulinjang, teriak-teriak, memaki-maki, hipersupersensitif, tidak mau makan, ingin tidur tapi tidak bisa dan segala tetekbengeknya. Dilanda perhatian, kutanya ia baik-baik. Ia tetap membungkam, menyendiri di sudut ruangan. Tangannya menopang Pipi sebelah kanan dengan sangat kuat, bahkan jarang ia lepaskan.

Walau tersiksa, sedikit tertawa kunikmati caranya menikmati rasa yang seharusnya ada ketika kakinya ditusuk tiga duri besar walau tertutup dengan sensasi alam bebas. Rasa yang entah ada atau tidak ketika memergoki kekasihnya berselingkuh dengan suami orang. yang seharusnya diperparah dengan kesendiriannya dan Terjaman gossip tetangga, melalui silaturahmi basi dan tukang sayur keliling.

Dimulai dari penasaran, yang menyandarkanku ke dinding ruangan karena aku hampir kehilangan keseimbangan, seolah-olah aku yang mengalami sakit hingga menghantarkanku ke sebuah cermin besar, memperhatikan gumy’s smile. Sudut mulut. Lidah dan anaknya. langit-langit. Jaringan mulut. Gusi. Dan Gigi. yang membuatnya menggulinjang. yang membuatnya tidak mau makan. Tetap tidak mau bercerita sedikit pun. Membuatnya hipersupersensitif. Tangannya tetap bersandar di pipi kanannya, sambil mendesah pendek-panjang.

***
Sedikit tawaku padam tanpa sisa ketika kami datang ke dokter gigi atas perintah orang tuanya.  Kunikmati cara dokter itu memberikan nasehat pada abang di depanku. Keanggunannya, ketenangannya menghadapi abang, dan caranya berkonsultasi dengannya.
Penasaran yang menghantarkanku ke sebuah situs tentang sejarah sakit. defenisi, macam-macam, batas ambang dan lain sebagainya yang ternyata berkorelasi dengan konsultasiku dengan dokter gigi.

Bahwa  persepsi sakit bersifat individual. Toleransi terhadap sakit dan usaha mengatasinya meningkat sesuai dengan bertambahnya umur dan lebih besar pada pria dibanding wanita.

Aku yakin didalam hati pasti ia menjerit ketika ditusuk kakinya oleh tiga duri besar. Hanya karena malu merintih kesakitan di depan pacar dan kerabatnya seolah-olah sakitnya tertutupi oleh sensasi alam bebas. Di dalam hati ia pasti merintih karena kekasihnya, karena ia selalu membungkam. Selalu melampiaskan dengan sebatang rokok. Kopi. Coklat. Whiskey. Tanpa ecstasy. Sampai akhirnya, semua dialami gigi.
Percaya atau tidak, sensasi sakit gigi luar biasa dashyatnya daripada sakit hati. Dan abang, dapat menunggingkan lagu dangdut yang cukup fenomenal itu. Biar tak mengapa.

***
Di pinggir tempat tidurnya, aku merayap hati-hati. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Membawa segelas air, analgesic, antibiotik dan vitamin.

Medan, 23-03-2012

Bikin Satu Atap Perizinan Manggung

Happy Salma 

Happy Salma tak mau ada penyanyi atau artis asing lain yang bernasib sama dengan Lady Gaga. Indonesia itu dikenal negara bermartabat, makanya dihindari aksi penolakan dengan bumbu tekanan apalagi kekerasan.

“Kalau kemarin Gaga tetap nyanyi, stadion Gelora Bung Karno mau direbut paksa. Itu maksudnya apa. Kayak kurang kerjaan aja saling boikot. Kita kan negara hukum. Semua masalah diselesaikan sesuai prosedur hukum lah,” pinta Happy.

Istri bangsawan Bali Tjokorda Bagus Dwi Santana ini menyindir ribetnya prosedur izin penyanyi luar negeri untuk manggung di Indonesia. Ke depan, Happy berharap pemerintah bikin lembaga yang mengkoordinir perizinan acara hiburan di satu tempat seperti pelayanan investasi.

“Udah nggak jaman bikin izin di banyak tempat, nggak efektif. Bikin satu pintu, dikoordinir pemerintah. Tapi tetap rangkul promotor, manajemen artis, sponsor, media partner, hingga si artis. Mudah, simple dan nggak bikin pusing mereka. Artis kayak Gaga kan tamu. Sebagai tuan rumah baik, kita harus pintar layani mereka,” terang bintang film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita ini.
Daripada muter-muter di Lady Gaga, Happy mendorong semua pihak serius mengenalkan kesenian tanah air di ajang internasional.

“Kita sering dicekoki band luar negeri. Sekali-kali kek budaya dikemas wah, dipromosikan ke luar. Nggak rugi kok, malah untung,” ucap Happy.
Secara pribadi, ia tak peduli sang Mother Monster batal datang. Satu-satunya empati Happy ditujukan kepada Little Monster (fans Gaga). “Datang atau tidak, nggak peduli sih. Tapi kalau di posisi fans, saya pasti sedih banget,” tukasnya.

Bicara idola, Happy lebih suka Alanis Morissette. Baginya, diva asal Kanada itu jauh lebih komplit dari Gaga. Pemilik 10 album musik kelas dunia itu juga mahir menulis, jadi produser dan pemilik salah satu production house di Hollywood.

“Gaga kayaknya baru booming dua tahun terakhir, beda sama Morissette. Bahkan lagunya selalu saya dengar di mobil. Lagunya menginspirasi, itu yang belum saya dapat dari lagu Gaga,” ucapnya. (ins/jpnn)