Home Blog Page 13463

Bachtiar Bebas

JAKARTA-Bekas Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Jumat, (25/5), bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang, Jakarta Timur. Sebelumnya, Bachtiar menjalani pidana 20 bulan penjara setelah dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi pengadaan sarung, sapi impor, dan mesin jahit.

“Pak Bachtiar bebas, setelah salat Jumat. Beliau telah selesai menjalani masa hukuman yang dibebankan padanya,” kata pengacara Bachtiar,, Djufri Taufik, saat dihubungi wartawan.
Direktorat Jenderal Permasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Akbar Hadi juga mengakui kebebasan Bachtiar.  “Betul, dia bebas,” katanya.

Bachtiar divonis satu tahun delapan bulan penjara dan denda Rp 50 juta oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pimpinan Tjokorda Rae Suamba pada 22 Maret 2011. Ia dinilai terbukti bersalah melakukan korupsi secara bersama-sama dengan sejumlah pejabat Kementerian Sosial pada kurun 2003-2008.

Dalam amar putusannya, hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menyebut Bachtiar selaku Menteri Sosial dan pengguna anggaran terbukti menyalahgunakan wewenang. Alasannya, Bachtiar menyetujui penunjukan langsung terhadap perusahaan rekanan sehingga merugikan negara Rp35,7 miliar. Atas putusan itu, Bachtiar menyatakan banding. Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta juga menyatakan Bachtiar bersalah, dan tidak mengurangi hukuman politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu. Belum puas atas putusan banding, Bachtiar kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

Juru bicara MA Ridwan Mansyur menyebut hakim agung memperkuat putusan pengadilan tinggi. “Dua bulan lalu hakim agung  menyatakan kasasi terdakwa ditolak dan tetap menghukum terdakwa satu tahun enam bulan bui,” ujarnya.
Bachtiar sempat menghirup udara bebas pada 24 Januari lalu karena masa penahanannya habis. Namun setelah Mahkamah menolak kasasinya, Bachtiar kembali ditahan untuk melunasi “utang” pidana selama dua bulan kurungan.”Setelah putusan kasasi yang memutuskan beliau tetap harus menjalani pidana penjara 20 bulan keluar, beliau kembali masuk tahanan. Beliau kooperatif, mendatangi sendiri rutan untuk dieksekusi,” ujar Djufri. (net)

Penjambret Nyaris Dihajar Massa

MEDAN- Baru keluar dari penjara dengan kasus yang sama tak membuat Joko jera. Buktinya warga Binjai KM 12 ini nyaris dibakar massa saat ketangkap tangan saat menjambret Teodora di Jalan Kompos Bersama sahabat sejatinya Musa Simanjuntak (26), kemarin (25/5) .

Teodora dijambret saat warga Jalan Binjai KM 12,5 ini saat hendak mengantar anaknya pergi ke sekolah di Jalan Kompos Gang SD sekitar pukul 7.00 WIB.

Saat itu Teodara mengaku kaget karena tiba-tiba dari belakang seseorang mengendarai sepeda motor kencang dan langsung menyambar kalung yang ada di lehernya.  “Kaget aku bang, kencang kali naik sepeda motor terus disambar langsung kalung saya,”  terang Teodora.

Merasa dijambret Teodora langsung meneriaki pelaku dan mengejarnya. Beruntung jalanan yang macat membuat sempit ruang pelaku untuk bisa kabur.Pelaku melawan arah mendatangi korban namun massa telah menanti di belakang,Sontak pukulan dan hantaman langsung diterima keduanya. Saat kejadian warga telah menyiapkan bensin untuk membakar pelaku. Beruntung aparat Polsek Sunggal yang kala itu sedang patroli langsung mengamankan pelaku. “Kita telah amankan pelaku dari amuk massa,” terang Kanit Reskrim Polsek Medan Sunggal AKP Viktor Ziliwu. (mri/smg)

Kesejahteraan Hakim vs Kesejahteraan Guru

Oleh: Jonson BS Rajagukguk, SSos, SE, MAP

Kalau kita lihat dengan kasat mata, diantara 10 hakim pasti ada 8 orang yang punya mobil sendiri. Sementara diantara 50 guru belum tentu ada yang ada punya mobil sendiri. Dari angka statistik kasar ini dapat kita bayangkan betapa nasib hakim lebih bagus daripada nasib guru.

Sementara peran guru lebih membutuhkan energi dan tanggung jawab yang lebih besar. Bisa kita bayangkan kalau guru yang sudah bersertifikasi harus mengajar minimal 24 les satu minggu. Berarti minimal 4 jam satu hari harus mengajari siswa. Sementara hakim belum tentu bersidang satu minggu. Berarti hakim hanya datang ke kantor kalau ada perkara dan beristrahat kalau tidak ada perkara.

Sementara memvonis perkara bukanlah PR yang sangat sulit. Standard UU sangat jelas. Mencuri hukumannya seperti ini. Korupsi hukumannya seperti ini. Membunuh hukumannya seperti ini. Artinya, ada sebuah catatan yang bisa dipegang dalam mmeutus perkara. Bukannya menyepelekan tugas hakim sebagai sebuah profesi yang sangat terhormat dewasa ini. Karena berkas sudah dilimpahkan oleh Jaksa. Tinggal mengetuk palu dengan bobot hukuman yang diatur oleh UU.
Lantas, apakah guru sakit hati ketika hakim menuntut kesejahteraanya dengan sebuah move bahwa mereka mogok dalam bersidang? Atau, bisakah hakim membayangkan betapa sulitnya mengajari matematika, fisika, kimia kepada anak-anak yang kemampuan otaknya lemah?

Sementara jika guru marah pada anak didiknya orang tua tidak segan-segan menjumpai kepala sekolah dan protes anaknya dimarahi. Bahkan ada juga yang mengadukan pada polisi karena anaknya dipukul oleh guru. Sangat sulit memang menajdi guru. Sementara guru hanya bisa gigit jari ketika dana sertifikasi yang seharusnya sudah menajdi haknya tidak diberikan pada waktunya. Inilah masalah guru kita yang selalu dispelekan oleh pemerintah sekarang ini.

Hakim dan guru adalah dua profesi yang sangat mulia. Hakim bertugas untuk menciptakan keadilan di dunia sebagai wakil Tuhan. Guru bertugas untuk mengajari manusia bagaimana menghadapi dan menjalankan kehidupan dengan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa tersebut. Tugas guru adalah membangun karakter dan watak siswa agar kelak menusia yang punya moral dan integritas yang baik. Dengan punya karakter yang baik maka si anak akan punya masa depan yang bagus. Merekalah sebagai generasi penerus yang diharapkan mempersiapkan bangsa ini kedepan untuk menghadapi arus kemajuan jaman. Dari sini kita lihat betapa beratnya tugas seorang guru. Sebuah tugas yang membutuhkan tenaga dan pikiran yang cukup besar.

Lantas, apakah reward yang diterima oleh guru sebanding dengan tanggung jawab mereka? Kalau boleh menjawab apa yang diterima oleh guru tidak sebanding dengan tugas dan tanggung jawab yang mereka emban. Bayangkan banyak guru swasta yang siap mengajar menarik becak. Banyak guru siap mengajar narik angkot. Banyak guru siap ngajar nyambi pekerjaan yang lain. Semuanya itu tentu dengan satu alasan, gaji yang tidak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya. Memang sudah ada sertifikasi beberapa tahun ini sebagai upaya mensejahterakan kehidupan guru pada taraf yang lebih bagus. Konsep sertifikasi sangat bagus dan ada upaya yang signifikan dalam memperbaiki nasib ”bangsawan pikiran” ini.

Hanya saja praktik yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan harapan. Dana sertifikasi guru seringkali tersendat. Banyak lagi pungutan liar. Bahkan banyak lagi faktor-faktor yang membuat dana sertifikasi itu tidak diberikan tepat waktu. Inilah potret guru kita dewasa ini. Ketika mereka diharapkan mengajar dengan bagus, ketika tuntutan pada mereka sangat tinggi, ternyata perlakuan sama mereka tidak sebanding dengan yang mereka terima.

Terlepas daripada itu, menanggapi aksi protes hakim dari hakim daerah yang menuntut kesejahteraan supaya diperbaiki karena mereka merupakan pejabat negara tentu sangat menyayat hati. Hakim sebagai sebuah profesi yang terhormat sudah menjadi bagian pembicaraan negatif di negara ini.

Banyak hakim yang memvonis perkara tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat dan tidak berdasarkan pada hati nuraninya. Hakim pun diidentikkan dengan uang. Hakim sebelum memvonis seringkali melakukan transaksi dengan terdakwa supaya hukumannya dikurangi. Tidak heran banyak hakim yang ditangkap oleh KPK karena kedapatan duduk bersama dengan terdakwa. Hakim sudah menjadi bagian dari persoalan supremasi hukum di negara ini.
Saat semua masyarakat menginginkan reformasi hukum terjadi, hakim seharusnya ambil bagian dari reformasi hukum dengan memvonis semua perkara berdasarkan prinsip kejujuran dan keadilan. Hati nurani yang dikedepankan dalam menjatuhkan hukuman. Hukuman kepada koruptor harus diperberat karena korupsilah yang merusak negara kita sehingga seperti ini. Hakim sebagai sebuah profesi sudah kehilangan marwahnya sebagai wakil Tuhan di dunia menciptaka keadilan bagi masyarakat.

Bagaimana negara merespon tuntutan hakim ini? Memang tidaklah etis menuntut kesejahteraan disaat bangsa ini mengalami krisis di segala hal, termasuk bahaya laten kemiskinan yang mengancam masyarakat. Tidak terlalu sulit menemukan masyarakat miskin di setiap sudut Kota di semua kota besar di negara kita ini.

Diperempatan lampu merah banyak pengamen dan anak-anak jalanan yang menjadi peminta-minta. Belum lagi yang kekurangan gizi. Kalaulah hakim melihat realitas masyarakat kita ini, tentu tuntutan kenaikan gaji dan perbaikan kesejahteraan tidak datang dan ancaman mogok sidang menjadi sebuah pertunjukan yang ”konyol’.

Saat yang bersamaan guru-guru tidak pernah mau mogok mengajar hanya karena dana sertifikasi. Padahal merelah lebih sakit. Nasib mereka sungguh menyedihkan. Mereka diberikan tugas oleh negara dalam mendidik generasi bangsa ini. Sementara gaji guru kita tahu bersama. Yang pasti gaji hakim lebih tinggi dari gaji guru, terlepas bagaimana penggajiannya. Guru mendapat perlakuan tidak adil. Banyak pungutan liar, tanggung jawab besar. Mereka tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Bagi yang sudah disertifikasi beban mengajar adalah 24 jam satu minggu. Sebuah pekerjaan yang sangat berat. Tetapi guru tetap iklas dan tulus menjalankan tugasnya dengan baik.

Sangat kontras dengan hakim. Energi yang dikeluarkan hakim tidaklah sebesar energi yang dikelaurkan oleh guru dalam menjalankan pekerjannya. Guru butuh persiapan yang matang. Bayangkan mentransformasikan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) dengan berbagai metode bagaimana supaya bisa dipahami oleh siswa. Hakim dalam menjatuhkan vonis tinggal buka KUHP dan KUHAP atau UU lainnya. Semua pasal sudah tersusun. Tinggal sedikit membangun argumentasi bagaimana supaya hukuman itu punya legalitas.

Kita bukan mau mmebenturkan guru dan hakim. Setidaknya hakim bisa instropkesi diri tentang perbaikan kesejahteraan di tengah krisis yang melanda negara ini. Kalaupun ada perbaikan nasib para hakim, maka perbaikan nasib guru yang perlu didahulukan.

Mengapa tidak, bangsa yang unggul, maju, cerdas, sejahtera karena didukung oleh SDM. Kalau sejak dari dulu kita peduli dengan pendidikan mungkin sumber daya alam bangsa ini tidak jatuh kepada asing. Ini tidak, bangsa kita mengalami ketertinggalan pendidikan. Pendidikan makin anjlok karena nasib guru tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah.  Singapura, Malaysia, China, Jepang, Korsel adalah conoth negara yang dibesarkan oleh guru. Tanpa guru mereka tidak akan bisa menajdi sebuah bangsa yang besar. (*)

Penulis adalah: Dosen STIE –STMIK IBBI Medan

AHM Gelar Ekspedisi Nusantara Honda Absolute Revo

MEDAN- PT Astra Honda Motor (AHM) menggelar Ekspedisi Nusantara Honda Absolute Revo untuk menemukan para pejuang kehidupan yang berada di tiga pulau Sumatera-Jawa-Sulawesi.
Touring dengan jarak lebih dari 6.318 KM ini juga bertujuan untuk membuktikan ketangguhan Honda Absolute Revo melalui uji durablitas mesin dengan kondisi nyala sekitar 400 jam nonstop.

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Honda berupaya merekam jejak semangat para pejuang kehidupan yang telah berhasil mengukir prestasi dengan berbekal sepeda motor sebagai sarana transportasi penunjang kehidupan.
Mereka merupakan sosok-sosok sederhana yang tangguh dan bekerja diam-diam untuk mewujudkan impian dan memberi kontribusi bagi lingkungan sekitarnya. Para pejuang tersebut berasal dari beragam profesi di antaranya pendidik dan pekerja sosial.

Direktur Pemasaran AHM Margono Tanuwijaya menyatakan Ekspedisi Nusantara Honda Absolute Revo ini memiliki misi untuk membuktikan bahwa sepeda motor ini memiliki peran dan nilai fungsional yang tinggi dalam mendukung masyarakat mewujudkan mimpi.

Para pejuang kehidupan yang ditemui rombongan nanti membuktikan sendiri bahwa sepeda motor Honda merupakan alat transportasi yang sangat bermanfaat dalam mencapai mimpi hidup serta menunjang pengabdian mereka terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

“Kami sangat menghargai mereka yang sudah menginspirasi banyak orang untuk terus maju seperti para pejuang kehidupan yang dijumpai rombongan Ekspedisi Nusantara Honda Absolute Revo nanti. Kami memiliki kesamaan dengan para pejuang kehidupan ini yaitu ingin bermanfaat bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Untuk wilayah Sumatera Utara, pejuang kehidupan yang terpilih adalah Ruswan. Pria berusia 51 tahun ini merupakan pasangan suami istri guru yang sudah mengajar dari tahun 1982 dengan penghasilan seadanya.
Dengan menggunakan GL PRO/MAX tahun 2002, Ruswan mengajar di SMK Guna Kampung Pajak Jalan Lintas Sumatera, sedangkan istrinya mengajar di SD. Selain menjadi guru sekolah, pada waktu malam hari, mereka juga mengajar mengaji dan membuka les. Dengan penghasilan seadanya, mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai lulus sekolah menengah atas dan D3.

Arifin Posmadi, General Manager CV Indako Trading Co selaku main dealer Honda di Wilayah Sumatera Utara megungkapkan pihaknya sangat menyambut baik digelarnya kegiatan ini. Kemudian dia mengatakan akan menjadi kebanggaan tersendiri karena Kota Medan terpilih menjadi titik start Ekspedisi Nusatara Revo Endurance Touring.(dra)

Usut Tuntas Kasus Korupsi di Labusel

RANTAUPRAPAT-Puluhan mahasiswa yang menamakan diri Ikatan Pelajar, Pemuda, dan Mahasiswa (IPEPMA) Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) berunjukrasa ke kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Rantauprapat, Jumat (25/5). Mereka  menuntut Kejari mengusut tuntas kasus dugaan korupsi, khususnya di Labusel.

Dalam aksinya, mahasiswa yang membawa sejumlah spanduk bertuliskan kecamaman terhadap Kejari Rantauprapat, datang menumpang bus Pinang Indah dari Kotapinang, Labusel. Mereka menilai pengusutan terhadap kasus dugaan korupsi selama ini jalan di tempat.

Dalam tuntutannya, mahasiswa berharap Kejari Rantauprapat menuntaskan dugaan korupsi secepatnya dan mempercepat proses supremasi hukum terkait dugaan korupsi di Labusel. Kemudian, Kejari Rantauprapat juga diminta memanggil serta memeriksa seluruh kepala SKPD di Labusel dan menangkap oknum-oknum pelaku korupsi.

Azlan Syah, salah seorang demonstran dalam orasinya mengatakan, banyak pejabat dan pemimpin di Rantauprapat dan khususnya di Labusel sudah lari kewajibannya sebagai pemimpin.
Setelah menyampikan tuntutan, mahasiswa diterima Kasipidsus Kejari Rantauprapat Hamka Nasution dan Kasi Intel Penielman. Kepada para demonstran, Penielman mengatakan pihak kejaksaan telah menindaklanjuti laporan masyarakat dan masih mengumpulkan bukti-bukti.

Salah satu yang menjadi perhatian kejaksaan, menurut Penielman, adalah kasus pembangunan jalan, dan pembangunan penahan banjir senilai Rp5 miliar di Sungai Barumun Kotapinang.(mhr/smg)

Ubah Image Pencari Kerja Menjadi Pencipta Kerja

MEDAN- Lulusan sarjana yang berminat menjadi wirausahawan, tidak lebih dari 6,12 persen. Dan sisanya sebesar 83,18 persen lebih berminat menjadi pegawai.

Hal itu dikemukakan Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Kemeterian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Neddy Rafinaldy Halim pada acara pembukaan Pameran & Pasar UMKM dalam rangka Dies Natalis ke-60 Universitas Sumatera Utara (USU) dan hari jadi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) ke-64 di Pendopo USU, Jumat (25/5).

Jumlah tersebut, menurutnya, berdasarkan hasil riset yang selama ini dilakukan. Untuk itu,  Neddy berharap, pola pikir sarjana sebagai pencari kerja harus diubah sebagai pencipta kerja.  Agar target program nasional pada 2014 mendatang terpenuhi, minimal 2,5 persen dari jumlah penduduk di Indonesia adalah berwirausaha. “Ini harus dirubah. Maindset mahasiswa harus dirobah dari pencari jadi pencipta kerja,” ujarnya.

Dijelaskannya, dari data yang ada lebih banyak lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berminat untuk menciptakan lapangan kerja barunya sendiri. Sekitar 20 persen dari tamatan SMA lebih memilih berwirausaha. Sebenarnya, lanjut Neddy, tidak perlu khawatir memilih jalan hidup sebagai wirausahawan. Sebab 240 juta jiwa penduduk Indonesia merupakan potensi pasar yang sangat besar bagi produk hasil karya generasi muda.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Gatot Pujo Nugroho pada kesempatan itu, sempat bercanda dengan mengatakan, kepada para orang tua jangan lagi memilih calon menantu yang berstatus pegawai.  Harus punya kriteria sebagai wirausahawan agar semakin terpacu semangat generasi muda.(ari)

Plaza Millennium Undi Sensasi Point Reward Tahap III

MEDAN- Atas permintaan pengunjung,  Plaza Millennium kembali melakukan penarikan Undian Sensasi Point Reward Tahap III yang sudah berjalan selama tiga bulan.

Penarikan undian yang digelar  di depan pintu masuk utama Plaza Millennium, (25/5)  ini dilakukan secara transparan. Dihadiri saksi dari kepolisian, dinas sosial, notaris dan Building Manager Plaza Millennium Drs Herry Zulkarnain  MSi.
Undian ini sendiri dimulai 24 Februari 2012 sampai 23 Mei 2012. Adalah Subandi warga Jalan Yos Sudarso gang Perwira Medan yang berhasil memenangkan hadiah grand prize satu unit Honda Spacy.
Sedangkan hadiah lainnya tiga BB Curve 9300 diraih pelanggan atas nama Syahriani, Erna dan Hermanto. Selain itu ada 12 pemenang handphone Nokia dan 16 pemenang handphone Qwerty.

Indra Wirawan, Loyalty & Program Manager  Plaza Millennium didampingi Manager Marketing Machruzar mengatakan,  undian ini merupakan agenda rutin  Plaza Millennium  yang digelar dua kali dalam setahun.
Plaza Millennium, ujarnya, rutin mengadakan undian-undian seperti ini setiap tahunnya khusus kepada konsumen yang sudah bergabung ke dalam Mille Card Plaza Millennium Family.  Ini sebagai bentuk loyalitas Plaza Millennium kepada konsumen. Dikatakannya, saat ini member Mille Card Plaza Millennium kurang lebih berjumlah 16.000 orang yang berasal dari berbagai daerah di dalam dan di luar Sumut. “Mille Card akan semaksimal mungkin memanjakan membernya dengan undian-undian berhadiah dan benefit special atau diskon di berbagai tempat seperti hotel, resto, rumah akit, entertainment,  toko handphone dan Time Zone di Plaza Millennium serta banyak tempat lainnya,” ujar Indra.
Sensasi Point Reward kali ini masih bekerjasama dengan CV Indaco selaku sponsor yang memberikan hadiah grand prize.(sih)

Jeruk Manis Komoditas Menjanjikan di Pakpak Bharat

PAKPAK BHARAT-  Dari beberapa komoditas pertanian yang kini giat dikembangkan petani di Pakpak Bharat seperti  gambir, nenas dan kopi, jeruk manis masih kategori komoditi yang diunggulkan.
Komoditas ini sudah dibudidayakan petani  sejak tahun 2005, mengingat prospek tanaman tersebut sangat menjanjikan, sehingga beberapa petani banyak yang mengalihkan tanamannya.
Seperti yang diungkapkan Jojor Tindaon salah seorang petani jeruk asal Medan, yang kini tinggal di Jambu Mbelang, Kecamatan Siempat Rube, Kabupaten Pakpak Bharat. Kata dia saat ini dia telah menanam jeruk manis seluas dua hektar, dengan jumlah 1.000 batang.

“Jeruk manis ini sangat cocok dikembangkan di Kabupaten Pakpak Bharat, mengingat alam serta lahan yang ada masih sangat produktif, sehingga biaya perawatannya tidak terlalu mahal, tidak seperti jeruk di Tanah Karo yang kini telah banyak mengalami kegagalan akibat banyaknya hama yang harus dibasmi’’, ungkap Jojor petani yang dulunya berprofesi sebagai tukang pangkas di Medan.
Lebih jauh Jojor menjelaskan, saat ini produksi jeruk manis Pakpak Bharat telah berkembang pesat dalam sepekan mereka dapat memasarkan hasil panen jeruk dari Desa Jambu sebanayak satu truk colt diesel yang mereka kirim ke Medan. Hampir setiap desa di Pakpak Bharat telah mempunyai tanaman jeruk. (mag-14)

Garuda di Dada Orang Asing

Oleh: Faliruddin Lubis
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Laga Indonesian Selection melawan klub papan atas dunia Inter Milan yang disiarkan langsung melalui televisi sangat menyesakkan dada. Sudahlah kalah, perjuangan itu ternyata bukan sepenuhnya perjuangan putra bangsa. Pasalnya, ada pemain asing yang ikut di lapangan hijau.

Saya sebelumnya sempat tak ngeh juga dengan kondisi itu.

Tapi, setelah saya tonton ternyata betul juga. Ada lima pemain asing yang membela tim Indonesia Selection.

Sebut saja David Pagbe, Mario Karlovic, Kwon Jun. Eduard Wilson Junior. Bahkan kapten yang memimpin tim Indonesia Selection itu juga orang asing, Otavio Dutra. Ditambah lagi pemain naturalisasi Diego Michels.
Tak berapa lama saya mencatat nama-nama itu. Teman saya membuat status di BBM-nya. Statusnya begini, “Sedih lihat Garuda di dada orang asing.”
Kemudian saya balas BBM-nya, “Betul kau kawan, jeli kali kau.”

Kawan saya tadi pun balik membalas,” Lembaga negara, suatu yang sakral, tapi dipakai orang asing.”

Setelah itu saya iseng-iseng buka facebook. Akun facebook dengan nama Indonesia Selection pun saya buka. Banyak komentar di akun itu. Salah satunya komentarnya, “Timnas Indonesia Selection nggak pede nih. Pake narik pemain asing segala, mending itu pemain asingnya bagus. Ah apa ini PSSI.”

Kawan saya sekantor pun nyeletuk. “Pemain asing apa itu namanya saja saya tak kenal,” kata kawan saya itu.

Sudahlah pertandingan sudah bergulir, Indonesia Selection pun sudah kalah 0-3. Uang pun sudah banyak diguyurkan panitia untuk mendatangkan pemain Inter Milan. Semuanya sudah berlalu. Kini hanya tinggal malu.
Malunya, masak dengan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan sudah mencapai 245 juta jiwa tak bisa mengorbitkan 11 pemain berbakat yang asli orang Indonesia.

Atau memang pemain itu sebenarnya banyak, namun karena PSSI kita lagi berkelahi masing-masing adu gengsi. Akibatnya, untuk menetapkan pemain hasil seleksi saja suka-suka hati.
Atau memang PSSI kita yang sudah terpecah dua itu takut tak ada perlawanan, sehingga tak pede memakai pemain warga negara Indonesia. Atau, atau, atau, masih banyak lagi agaknya penyebabnya. Hanya PSSI yang berantam itu ajalah yang tahu.

Yang pasti saya sebagai warga negara Indonesia tak setuju lambang Garuda ada di dada orang asing. Kalaupun mau pakai pemain asing di acara eksebisi sebaiknya jangan pakai lambang negara. Pakai saja lambang yang lain, sehingga semboyan suporter Timnas Indonesia ‘Garuda di Dadaku’ itu tetap di dada warga Indonesia, Merdeka! (*)

Niat Melayat Berujung Maut Mini Bus Masuk Jurang 6 Tewas, 16 Luka-luka

TABUSIRA- Niat melayat berujung maut. Rombongan Minibus Colt Diesel 100 PS dengan nomor polisi BA 3843 D terjun bebas ke jurang sedalam 40 meter. Akibatnya, 6 orang tewas dan 16 luka-luka.
Minibus yang dikemudikan Makmur Siagian (35) ini, terjun bebas ke jurang di Tano Gombung, Desa Sanggapati, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Jumat (25/5) sekitar pukul 09.00 WIB. Dalam peristiwa ini, enam penumpang tewas, termasuk bocah satu tahun. Dan, 16 penumpang lainnya luka-luka.

Informasi dihimpun Metro Tabagsel (grup Sumut Pos), minibus tersebut berangkat dari Tiangaras, Kelurahan Batang Tura Sirumambe, Kecamatan Angkola Timur. Tujuannya, melayat Basa Pulungan di Desa Silinggom-Linggom yang berjarak sekitar empat kilometer dari desa mereka.

Namun, baru sekitar 1 km meninggalkan Lingkungan Tiangaras dan Tabusira, tepatnya di Tano Gombung, Desa Sanggapati, minibus dengan 22 penumpang itu, masuk ke jurang yang ditumbuhi ilalang. Diduga, minibus berwarna putih ini mengalami rem blong, sehingga tidak bisa mengendalikan kendaraan di jalan turunan dan menikung.

Berhubung lokasi kejadian dekat dengan pemukiman dan areal pertanian, warga spontan berdatangan begitu mendengar suara tabrakan. Mereka langsung memberi pertolongan. Sekaligus berusaha membalikkan minibus yang posisi rodanya berada di atas, kaca pecah dan bodi ringsek.

Warga juga berusaha menolong penumpang yang terjepit. Saat evakuasi, lima penumpang ditemukan tewas di tempat dan 16 lainnya dibawa menuju Puskesmas Pargarutan untuk mendapat pertolongan pertama. Namun, empat di antaranya harus dirujuk ke RSUD Kota Padangsidimpuan (Psp) karena mengalami luka parah. Naas bagi Khairani (45), korban meninggal dalam perjalan menuju RSUD Psp.

“Rata-rata penumpang masih kerabat dekat. Meraka hendak melayat keluarga yang meninggal di desa tetangga. Sesampai di Tano Gombung itu, kendaraan yang mereka tumpangi masuk jurang. Lima meninggal di tempat, satu meninggal di perjalanan. Untuk korban tewas, sudah kita siapkan penggalian kubur. Dan, insya Allah akan dikebumikan hari ini (kemarin) juga, sedangkan jasad yang satu lagi belum kita terima. Sebab, masih harus dirundingkan dengan keluarga,” ucap Lurah Batangtura Sirumambe, Dahron Siregar (55), kemarin.

Pantauan di lokasi, minibus mengalami rusak berat, seluruh kaca pecah, bodi ringsek, tampak darah ceceran, dan belasan pasang sendal berserakan. Di samping itu, di badan jalan tidak ada tanda-tanda bekas roda mengerem sehingga dipastikan sebelum terjun ke dalam jurang pengemudi gugup akibat kendaraan tak memiliki rem. Padahal, kondisi jalan menurun dan menikung tajam.

Sementara itu, di Puskesmas Pargarutan beberapa penumpang yang luka-luka mendapat perawatan dan sebagian ada yang bisa langsung pulang, dan sebagian lagi harus dirujuk ke RSUD Kota Padangsidimpuan.
Sedangkan di beberapa rumah duka di Lingkungan Tabusira dan Tiangaras, beberapa pihak keluarga silih berganti mengucapkan kata-kata sabar pada setiap keluarga korban dan di setiap rumah tangis pecah karena tak menyangka kejadian yang begitu cepat merenggut nyawa sanak saudara mereka. Bahkan di antara mereka ada yang sempat tak sadarkan diri menghadapi kejadian itu, seperti istri Adianto Harahap.

Beberapa warga setempat Harahap (56) dan Siregar (43) mengatakan, memang kondisi jalan di wilayah itu penuh dengan turunan dan tikungan curam, namun baru pertama kali ini di Tano Gombung terjadi kecelakaan maut.
“Sepengetahuan saya baru kali ini, dan TKP itu tidaklah seram (tidak ada penunggunya), si supir juga kami ketahui mahir mengemudi selama ini. Dan, dia sangat paham lokasi di sini, namun hal ini memang sudah takdir,” kata warga tersebut.
Kapolres Tapsel AKBP Subandriya melalui Kasat Lantas AKP SL Widodo yang turun ke TKP mengatakan, berdasarkan analisa di lapangan, kecelakaan terjadi akibat rem blong, sehingga pengendara tak bisa mengendalikan kendaraan di jalan yang menurun dan menikung.”Ini merupakan kecelakaan murni, kendaraan ringsek di dalam jurang. Lima penumpang meninggal di tempat, 1 lagi meninggal menuju perjalanan ke Rumah Sakit, sopir selamat dan telah kita amankan,” terang Kasat Lantas. (ran/smg)