Home Blog Page 13542

Langsung Duduk di Bangku SMP

Murid SD Tekad Mulia Tetap UN meski Sekolah Dihantam Puting Beliung

Ada yang berbeda di SMP di Desa Pujimulyo Kecamatan Sunggal Kabupaten Deliserdang. Kemarin, tak ada pelajar berseragam putih biru. Yang ada di gedung sekolah itu adalah murid berseragam merah putih alias anak SD.

Apa sebab?

Seandainya tak ada puting beliung pada Minggu (6/7) yang menerpa kawasan tersebut, mungkin pemandangan tersebut benar-benar aneh. Bagaimana tidak, murid SD sudah langsung duduk di SMP meski UN baru hari pertama dilaksanakan.

Tapi begitulah, bencana puting beliung telah menghancurkan SD Tekad Mulya. Muridnya yang harus menjalanin
UN kemarin pun harus dialihkan ke SMP yang dimaksud. Sedangkan pelajar SMP, terpaksa diliburkan.

Kepala Sekolah SD Tekad Mulya, Drs Parno Kartawi, mengatakan sejatinya murid berjumlah 561 orang. Dan, yang harus mengikuti ada 85 murid. Nah, karena sebagian gedung rusak maka murid UN harus dipindahkan ke ruang kelas SMP yang berlokasi tak jauh dari SD. “Sedangkan ruang untuk pengawas SD, kita gunakan ruang perpustakaan,” terangnya, kemarin.

Beruntung, perpindahan sekolah sebelum waktunya itu tak membuat murid bingung. Meski belum saatnya duduk di bangku SMP, mereka tampak tak canggung untuk ujian di sana. Ujian hari pertama pun berlangsung dengan tertib dan lancar.

Tambah berbahagia, ujian yang mereka laksanakan juga langsung dipantau oleh Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Syaiful Syafri. “Alhamdulillah Dinas Pendidikan sudah memindahkan para siswa ke ruangan SMP, jadi anak-anak yang berjumlah 85 siswa ini sudah mengikuti ujian dengan baik,” kata Syaiful Safri.

Pada kesempatan itu Gatot meminta kepada kepala sekolah agar siswa tetap ujian dan dijaga ketenangannya. Atas rasa simpatinya, Plt Gubsu menyerahkan bantuan uang tunai tanggap darurat terhadap keteguhan dan ketanggapan para guru yang turut mencari solusi terhadap ujian tersebut.
“Terus semangatkan anak-anak agar mereka dapat lebih giat belajar walau dalam kondisi seperti ini,” pesan Gatot kepada para guru.

Sementara, Camat Sunggal Sariguna Tanjung menjelaskan, pada bencana itu selain SD Tekad Mulia, rumah milik warga pun menjadi korban. Sedikitnya bencana puting beliung menghantam dua desa di wilayah Kecamatan Sunggal Deliserdang. Pertama Desa Pujimulyo dan kedua Desa Medan Krio.
Di Desa Medan Krio, saat disambangi Sumut Pos, terlihat sebagian warga yang menjadi korban keganasan angin puting beliung membersihkan rumahnya, mengumpulkan apa yang tersisa dan layak untuk digunakan kembali. “Memang kejadian ini baru pertama kali. Selama ini, tidak pernah terdengar sebelumnya kawasan ini diterpa angin puting beliung. Ngeri bila diingat kembali kejadian malam itu,” kata Sri Wartini (33) salah seorang warga yang mengatakan angin puting beliung pertama kali mengamuk pada pukul sekira 17.00 WIB.

Bukan itu saja, dia beserta warga lainnya mengalami kerugian besar. “Atap rumah kami terbang. Sebagian dindingnya retak. Lemari dan tempat tidur anjlok akibat tertimpa batu, televisi juga rusak terkena hujan. Bukan itu saja, baju sekolah dan buku-buku anak saya habis beterbangan dibuat angin puting beliung,” ungkapnya.

Menurutnya, kejadian begitu cepat. Seketika angin berputar sangat kencang dan mendekati rumah mereka. Tanpa pikir panjang lagi, Wartini langsung berlari keluar rumah dengan membawa kedua anaknya yang masih kecil meskipun saat itu hujan turun sangat deras disertai petir.

“Suaranya menderu. Saya lihat dari jendela ternyata ada seperti gulungan angin yang sangat besar mendekat ke rumah kami. Saya sangat takut, apalagi suami belum juga pulang. Anak saya yang paling kecil, Agung (3) demam panas, dia menangis ketakutan. Nggak tau lagi saya harus bagaimana. Yang saya pikirkan hanyalah anak saya. Saya langsung lari keluar dan mendekap kedua anak saya. Dari jauh saya lihat atap rumah kami sudah terbang entah kemana,” ujarnya mengingat kembali kejadian itu.

Setelah itu, Wartini mencoba berlindung ke rumah adiknya Sri Winih (31) yang tidak jauh dari kawasan itu. Ternyata di sana sebagian keluarganya juga telah berkumpul. Merasa tidak aman, mereka memutuskan untuk pindah ke rumah tetangga yang jaraknya agak jauh dari rumah Winih. Ternyata angin puting beliung tak pandang bulu. Rumah Winih juga mengalami hal yang sama. Angin kencang menerbangkan atap rumah beserta isinya.
Sambung Wartini, sepulang dari menjual ikan keliling, suaminya, Zulnaidi langsung memeluk mereka. “Melihat atap rumah kami hilang, suami saya langsung ngebut dengan sepedanya. Dia juga nggak begitu mempedulikan ikan dagangannya jatuh, sepedanya rusak dan ditinggalin begitu aja dijalan. Suami saya bilang, dia sudah merasa tak enak selama di jalan, perasaannya lain,” terangnya lagi.

Namun, sekitar pukul 19.30 WIB, angin kencang kembali menerjang. “Setelah maghrib, saya lihat ke jendela, ada angin kencang lagi. Tapi nggak begitu lama, sekitar 20 menit. Lebih kencang angin yang pertama. Saat itu, kami hanya bisa menangis dan berdoa. Semoga tidak terjadi apa-apa, dan malam itu cepat berlalu,” urainya.

Kini, dirinya beserta keluarganya terpaksa menumpang tinggal dirumah mertua mereka. Sebab, rumah mereka sudah tak layak huni. “Untuk merenovasi rumah ini kembali membutuhkan biaya yang besar. Mau kemana dicari uangnya. Tadi pagi, Camat di sini sudah meninjau kerusakan dirumah kami. Mereka juga ngasi bantuan seadanya seperti mie instant, gula, dan beras,” sebutnya.

Selain di Kecamatan Sunggal, bencana akibat angin dan hujan deras juga terjadi di Tanjungmorawa dan Patumbak. Di perumahan Cendana Asri di Dusun 9 Desa Medan Sinembah Kecamatan Tanjungmorawa ada sekitar 22 rumah rusak berat, rusak ringan 125 unit rumah, sedangkan di Patumbak rusak ringan 5 unit rumah dan rusak berat 11 unit rumah.

Pemkab Deliserdang telah melakukan pendataan kepada rumah warga yang terkena banjir dan angin puting beliung. Pemkab pun telah mendirikan tenda tenda posko kesehatan dan bencana.  Selain itu, telah diberikan bantuan berupa sembako yang terdiri mie instan, minyak goreng, beras, lauk pauk.
Bagi warga yang rumahnya rusak ringan diberikan bantuan Rp1,2 juta dan bagi rusak berat Rp4 juta. “Penyerahan bantuan langsung dilakukan Bupati Deliserdang Amri Tambunan,”bilang Kepala Infokom Pemkab Deli Serdang Nekan Taringan. (uma/mag-11/btr)

Pemimpin Itu Dilahirkan atau Dibentuk?

Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Pemimpin itu dilahirkan (alami) atau dibentuk (diproses)? Itu pertanyaan yang sudah sejak lama diperdebatkan.

Yang pertama mengatakan: leader are born, not made. Pemimpin itu dilahirkan, bukan dibentuk. Yang kedua menolak dan berkata: leader are made, and not born.

Pemimpin itu dibentuk, bukan dilahirkan. Yang ketiga menengahi dengan mengatakan, leader are born and made. Pemimpin itu dilahirkan dan juga dibentuk oleh faktor luar yang mengasahnya.

Mana yang benar?
Semua benar.

Pemimpin itu dilahirkan, itu benar adanya. Kita bisa lihat kisah hidup pemimpin-pemimpin hebat yang mampu membentuk sejarah, yang memang dilahirkan untuk itu.

Tipe pemimpin yang dilahirkan ini biasanya dari kalangan nabi/tokoh agama. Sebelum lahir pun, mereka sudah dinubuatkan akan menjadi ‘seseorang’. Dan hingga sekarang, mereka tetap memiliki pengikut.

Namun argumentasi bahwa pemimpin itu dibentuk, juga benar adanya. Pernah kenal dengan temanmu yang di masa kanak-kanak dan remajanya bukan sosok yang menonjol, tetapi belakangan berhasil menjadi sosok pemimpin di komunitasnya? Nah, ini pasti tipe pemimpin yang dibentuk. Mereka menjadi pemimpin karena mendapat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman. Pemimpin ini umumnya tipikal manager perusahaan, kepala dinas, perwira, dan sebagainya.

Yang terakhir, pemimpin yang dilahirkan dan juga didukung faktor luar yang mengasahnya. Ini adalah tipe pemimpin yang lebih menonjol dibanding tipe pemimpin yang dibentuk. Tipe ini mampu membentuk sejarah sendiri, mampu membangkitkan rasa kagum alami dari yang dipimpinnya, dan mampu menggerakkan massa dalam jumlah besar.

Mereka mampu mencetak sejarah dan diingat hingga sekarang. Sebut saja nama John F Kennedy, Nelson Mandela, Napoleon Bonaparte, dan banyak lagi. Di negara kita, ada nama presiden pertama RI, Soekarno.

Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pernah mengatakan, orang yang percaya pemimpin itu dilahirkan, itu ada benarnya. Tetapi, kata Kalla lagi, sosok pemimpin yang dilahirkan itu juga harus didukung faktor eksternal lain seperti pendidikan, latihan, dan pengalaman. Kombinasi ketiga hal itulah yang menjadikan seseorang mampu menjadi pemimpin nasional.

Bercermin pada peta kepemimpinan di negeri ini, tampaknya pemimpin yang berkuasa saat ini masih pemimpin yang dibentuk. Mereka berkesempatan menjadi pemimpin, karena dilahirkan di lingkungan yang tepat, mendapat pendidikan yang tepat, didukung oleh keberuntungan yang tepat, dan lain-lain yang tepat.

Ini tentu tidak salah. Jika kita hanya menunggu pemimpin yang dilahirkan, bisa-bisa kita tidak punya pemimpin. Untunglah, pemimpin bisa dibentuk, meski kualitasnya (mungkin) tak sebaik pemimpin yang dilahirkan dan dibentuk.
Tetapi, kita tentu boleh bermimpi memiliki tokoh pemimpin nasional yang memiliki kualitas born and made. Di manakah seseorang yang seperti itu? (*)

Sumut-Aceh Disapu Puting Beliung

Rumah di Tiga Desa dan Kecamatan Luluh Lantah

LANGKAT-Dua provinsi, Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh disapu angin puting beliung sejak Minggu (6/5) kemarin. Dari dua provinsi yang bedekatan itu rumah dan gedung di beberapa kecamatan dan desa rusak.

Di Langkat, Sumut, sebelumnya Kecamatan Teluk Aru Kabupaten disapu puting beliung. Kini giliran puluhan rumah di tiga kecamatan yakni Babalan, Sei Lepan dan Brandan Barat-Langkat luluh lantak. Kendati tidak ada korban jiwa namun kerugian material mencapai ratusan juta rupiah.
“Sesuai data awal sementara diterima, pemukiman warga di tiga kecamatan tersebut mengalami kerusakan lumayan parah disebabkan puting beliung,” kata Kabag Humas Pemkab Langkat, H Syahrizal.

Rizal kepada wartawan di Stabat, Senin (7/5) menjelaskan, peristiwa terjadi Minggu (6/5) malam, spontan disahuti Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu dengan menginstruksikan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait yakni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Kesbangpol Linmas, Kantor Sosial dan camat seputar wilayah bencana berkoordinasi memberikan bantuan tanggap darurat sekaligus pendataan kerusakan.
Selain itu, urai dia, Pemkab Langkat pun menyalurkan sejumlah sembako dan menyiapkan bahan bangunan sebagai upaya pembangunan kembali rumah korban musibah melalui validitas pendataan.

Data dan informasi terangkum, jelas dia, Kecamatan Babalan bencana terjadi di Desa Securai Utara, Securai Selatan, Teluk Meku, Pelawi Selatan, Kelurahan Brandan Barat dan Kelurahan Brandan Timur dengan total 22 rusak berat (rb), 74 rusak ringan (rr) dan 1 loods pasar rb di Desa Securai Utara.
Kecamatan Sei Lepan terjadi di Kelurahan Alur Dua, Kelurahan Alur Dua Baru, Kelurahan Sei Bilah dan Kelurahan Sei Bilah Timur dengan perincian 30 rb dan 77 rr. Kecamatan Brandan Barat persisnya Desa Klantan 1 rumah rb dan 20 rr. “Ini data awal sementara, data yang valid masih akan kita tunggu paling lama besok (Selasa,8/5),” tutup Rizal.

Tidak kalah hebat terjadi di Aceh. Kalau kemarin, badai puting beliung menghajar Kecamatan Langsa Timur, kini giliran Kecatan Idi Tunang Aceh Timur yang dikunjungi badai ini, Minggu kemarin (6/5). Akibatnya, puluhan rumah warga hancur diobrak abrik.

Pantauan Rakyat Aceh (Group Sumut Pos), Senin (7/5) pagi, ada tiga desa di kecamatan yang porak poranda dilanda puting beliung, yakni rumah  Muhammad Idris Kades Desa Kemuneng, dengan kondisi atap rumahnya hancur, Keudai milik Ismail atapnya hancur, Doorsmer milik Anto ditimpa pohon bambu, sementara rumah milik Alamrhum Hasbi Idris warga Desa Kemuneng  ditimpa pohon rambutan dan pohon pinang dan rumah milik Khaidir juga atapnya rusak.

Sedangkan di Desa Seunubuk Buya,  rumah milik Sofyan Yusuf, rumah Rasyid Sarong, rumah Banta Cut Muhammad dan rumah Asnawi Rani,  semuanya mengalami kerusakan atap rumah.

Sedangkan di Desa Seunubok Drien hanya dua rumah yang rusak yakni rumah Basri dan rumah Nurjannah (50) seorang janda.
Menurut Muhammad Idris Kades Kemuneng, yang terjun ke lokasi menyebutkan kejadian tersebut terjadi saat hujan dan angin kencang melanda kawasan itu.”Kita belum melakukan pendataan berapa kerugian warga yang rumahnya rusak diterjang puting beliung. Namun musibah ini telah kita laporkan ke pihak kecamatan,” ujar Ibnu Sakdan.

Sementara daerah Sumatera Utara lainnya, Kabupaten Batubara, puluhan pohon besar tumbang di pinggir jalan lintas Sumatera (Jalinsum)  dan menimpa baliho, Minggu (6/5) malam. Pohon-pohon besar itu tumbang akibat terpaan angin kencang disertai hujan deras . Akibatnya,  jalur lalulinta s terganggu oleh pohon tumbang dan baliho yang rubuh.

Hingga berita ini diturunkan,baleho yang terletak di persimpangan Jalan PT Inalum belum juga diangkut.
Pantauan Metro (Group Sumut Pos) ,senin (7/5),beberapa titik pohon tumbang antara lain lintasan jalan menuju Inalum, Jalinsum Indrapura dan simpang Inalum.

Menurut warga, MMarbun, angin kencang dan hujan deras Minggu malam itu menumbangkan pohon dan baliho.(mag-4/smg/jpnn)
mengakayang sangat lebat,banyak pepohonan di wilayah kami ini tumbang,kami sangat khawatir apabila kembali terjadi seperti ini sangat menggangu pengguna jalan,kami mohon kepada pemerintah kabupaten dinas  lingkungan hidup agar memangkas pohon ini agar tidak nantinya menimpa pengguna jalan,katanya kemetro.

Sementara,di indrapura,akibat dari kencangnya angin yang menumbangkan pohon dimana akhirnya menimpa jalur kabel telepon yang menghalangi jalinsum dan nyaris menimpa gubuk warga sudah dapat di bersihkan oleh warga.ck/1.

Sementara itu, puluhan rumah penduduk di Dusun Calok Geulima Gampong Jawa kawasan Kota Idi Rayeuk Aceh Timur, terendam air laut pasang purnama.  Ketinggian air rata-rata antara 10-30 centimeter  dalam rumah warga. Kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun dan dua kali setiap bulan selalu terjadi.

Pantauan Rakyat Aceh, Senin (7/5) siang, di kawasan Calok Geulima persisnya di belakang pusat pasar Kota Idi, terlihat sepanjang lorong III Dusun Calok Geulima dan di dalam rumah penduduk dikepung air asin yang bersumber dari sungai Idi. Meluapnya sungai Idi tak hanya berimbas terhadap puluhan rumah di Lorong III Calok Geulima, tetapi lebih dari tiga hektar areal pertambakan budidaya bandeng di desa itu ikut karam. (mag4/yas)
Sehingga ikan peliharaan warga kembali ke laut.

Menurut, M. Hasyem (68) warga setempat, saat ditemui Rakyat Aceh, menyebutkan, kawasan rumahnya bahkan dalam rumah miliknya, sudah sering direndam air pasang purnama. Dia mengaku rumahnya karam akibat pasang purnama,kemarin sejak pukul 10.00 wib.
“Kondisi seperti ini telah bertahun kami rasakan. Air yang masuk ke kawasan ini karena meluapnya sungai Idi Rayeuk yang tidak mempunyai tanggul,” ujar M. Hasyem.

LMP Ancam Sweeping Warga Malaysia

MEDAN-Seratusan massa yang mengatasnamakan organisasi massa Laskar Merah Putih (LMP) Sumut melakukan aksi unjukrasa di depan Konsulat Jendral Malaysia Jalan Diponogoro Medan, Senin (75) siang.

Kedatangan massa LMP ini untuk melakukan aksi orasi dan unjukrasa terkait tewasnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ditembak mati oleh polisi Diraja Malaysia beberapa hari yang lalu.

Dengan dikawal puluhan aparat kepolisian, massa LPM dengan mengendarai sepeda motor dan kendaraaan roda empat, dengan membawa pengeras suara, Anjar Siregar koordinator lapangan LPM Sumut menegaskan mereka sangat mengecam keras tindakan pemerintahan Malaysia terhadap tewasnya sejumlah TKI dan meminta mengusut tuntas kasus tersebut.

“LPM menuntut  pemerintahan Malaysia agar jangan lagi melakukan penembakan kepada anak Bangsa Indonesia, usut tuntas kasus tewasnya tiga orang TKI dan pemerintahan Malaysia agar memintah maaf dengan terjadinya kasus itu,” teriak Anjar.

Anjar juga mengatakan bahwa kedatangan LPM ke Konjen Malaysia untuk meminta agar polisi Malaysia jangan sampai melakukan penembakan hingga tewas. “Kalau memang salah ya dihukumlah,” imbuhnya.

Dalam menanggapi hal tersebut, beberapa perwakilan dari massa diminta masuk ke dalam kantor Konsulat Jendral Malaysia untuk membicarakan kasus tersebut. Sayangnya sejumlah wartawan yang ingin meliput tidak diijinkan ikut masuk.

Terlihat ratusan polisi melakukan penjagaan yang ketat guna menghindari hal yang tidak diinginkan. Bahkan LMP juga mengancam akan menurunkan massa yang lebih besar lagi apabila aksi kesemena-menaan Malaysia terus terjadi pada warga negera Malaysia.

“Kami menegaskan, kalau ini terjadi lagi maka kami akan melakukan aksi sweeping terhadap warga negera Malaysia di Medan.Kami juga akan mengambil alih seluruh aset Malaysia yang ada di Sumatera Utara ini,” tegas Andjar.(rud)

Massa SP3SB Minta Bebaskan Suyatno

Kasus Sengketa Lahan TNGL

MEDAN – Massa yang tergabung dalam Solidaritas Pembela Petani Pengungsi Sei Lapan dan Besitang (SP3 SB) mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut. Massa menuntut agar rekan mereka, Suyanto dibebaskan, karena pengkapannya tidak berdasarkan hukum atas kasus tanah di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Suyanto merupakan salah seorang kepala keluarga dari 1500-an keluarga petani atau pengungsi asal Aceh yang mendiami lahan di Desa Harapan Maju Kecamatan Seilapan.

Pada Kamis (5/4) lalu, tanpa dasar hukum yang jelas dan surat penangkapan, Suyatno diculik di tengah jalan oleh oknum Polisi Kehutanan. Penangkapan itu kemudian dikaitkan pihak kehutanan dengan sengketa areal pertanian petani atau pengungsi dengan Balai Besar TNGL (BBTNGL) .

Padahal sesuai kesepakatan rapat pada 10 Januari 2012 antara warga petani, BBTNGL, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Komisi A DPRD Sumut di ruang sidang Komisi A DPRD Sumut  disepakati tidak boleh ada tindakan apapun terhadap warga petani di Seilapan dan Besitang yang lahannya diklaim oleh BBTNGL karena masalah tersebut masih dalam proses penyelesaian oleh pihak Kementrian Kehutanan dan Badan Pertanahan Negara (BPN) Pusat. “Kami minta segera bebaskan Suyatno dari tahanan Tanjung Gusta,” kata, pendemo Darwin.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Sumut, Chaidir Ritonga sudah menyurati instansi terkait dengan ketentuan yang berlaku. (adl)
“Surat rekomendasi melepaskan Suyatno seharusnya jalan, kalau tidak jalan saya bersama anggota dewan lainnya akan menandatangani rekomendasi pembebasan Suyatno,” janji Chaidir.(adl)

Malaysia Haramkan Unjukrasa

KUALA LUMPUR- Majelis Ulama Malaysia mengeluarkan fatwa haram terhadap aksi unjuk rasa yang dilakukan warga melawan pemerintah. Terlebih, apabila unjuk rasa tersebut berujung pada kerusuhan dan perusakan fasilitas publik.

Fatwa ini dikeluarkan menindaklanjuti aksi unjuk rasa melawan pemerintah yang dilakukan oleh puluhan ribu warga di Kuala Lumpur pada 28 April lalu. Saat itu, para pendemo mengambil alih jalanan dan menerobos barikade polisi, hingga berujung pada bentrokan yang diwarnai gas air mata dan pelemparan air keras. Sebanyak 513 pendemo ditangkap oleh polisi.

“Membuat rusuh, mengganggu keamanan publik dan merusak fasilitas publik dilarang oleh Islam,” ujar Kepala Komite Fatwa Nasional Malaysia, Abdul Shukor Husin kepada media setempat dan dilansir oleh AFP, Senin (7/5).

“Fatwa ini juga berlaku bagi setiap upaya penggulingan pemerintah melalui aksi unjuk rasa yang terorganisir,” imbuhnya.

Sebelumnya, Perdana Menteri Najib Razak menyebut aksi unjuk rasa besar-besaran yang menuntut pemilu bersih di Malaysia tersebut, sengaja dilakukan untuk menggulingkan pemerintahannya. Meskipun banyak rekaman video di internet yang menunjukkan bahwa para pendemo dilawan oleh polisi bersenjata lengkap, PM Najib tetap meyakini bahwa unjuk rasa tersebut memiliki niat terselubung selain menuntut pemilu yang bersih.(net)

30 Persen Pelajar Tebingtingggi Terlibat Prostitusi Terselubung

TEBING TINGGI- Sebanyak 30 persen pelajar setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Tebingtinggi terlibat prostitusi terselubung. Hal ini disampaikan Ketua Lembaga Pemantau Aids dan Narkoba (Lapan) Kota Tebingtinggi Aliyustono didampingi oleh Prayudi Syahputera, Senin (7/5) kepada Sumut Pos.

Protitusi terselubung dikalangan pelajar ini terkesan rapi dan tidak diketahui oleh teman-teman kelasnya. Kendati begitu ada yang membedakan antara pelajar pelaku prostitusi dengan pelajar biasa. Itu bisa dilihat dari penampilan serta gaya hidupnya yang gelamor. “Sepintas tidak bisa dibedakan, tetapi untuk kebutuhan hidupnya lebih dari cukup, seperti memilik HP mahal dan memakai pakain mengikuti model terbaru,” jelas Prayudi Syahputera.

Di Tebingtinggi kata Prayudi, pelajar yang terlibat prostitusi itu berasal dari luar yang tinggal kos di Kota Tebingtinggi. Ada juga yang asli penduduk  Tebingtinggi asli. “ Mereka (pelajar) awalnya tergoda dengan gaya dan penampilan temannya tergolong hidup dalam kemampuan membeli semua barang keperluan dengan mudah, itu yang membuat penarik temannya menjadi ikut masuk prostitusi ini,” ungkapnya.

Untuk mengetahui ciri-ciri pelajar yang sudah masuk kedalam jaringan prostitusi pelajar menurut Lapan dikatakan penampilan mereka menarik, wajah berkmekap dan menggunakan teleoon seluler yang mahal, kebanyakan mereka dari kalangan keluarga pra sejahtera (kurang mampu), karena tidak mendapat kebutuhan ari orang taunya untuk memenuhi kebutuhan itu, mereka palajar banyak terjerat ke lembah hitam.

“Di sekolah, biasanya pelajar perempuan yang masuk kedalam jaringan prostitusi itu tidak masuk pada hari Sabtu dan ada juga pada hari Seninya mereka juga tidak masuk sekolah. Itu dikarenakan anak ayam diboking oleh om-om untuk waktu yang panjang,” ungkapnya.

Bahkan dari mereka akan menipu keluarga serta orang taunya dengan alasan menginap dirumah teman untuk melakukan tugas sekolah, ada juga mereka setiap hari Sabtu membawa perlengkapan pakain rumah untuk ganti baju usai pulang sekolah. “30 persen pelajar setingkat SMA dan SMK yang ada di Kota Tebingtinggi terlibat didalam jaringan prostitusi dikalangan pelajar untuk memuaskan om-om lelaki hidung belang,” kata Lapan.

Kedepan untuk mengatasi permasalahan sosial tentang prostitusi di kalangan pelajar itu Lapan akan membuat sosialisai disekolah-sekolah untuk menghindarkan agar jangan banyak lagi pelajar yang terjerumus kedalam jaringan prostitusi terselubung dan bahaya penyakit Aids yang datang selalu mengintai generasi muda karena bahaya melakukan hubungan sex dengan lawan jenis tanpa hubungan yang resmi.

Hasil penelusuran Sumut Pos yang dilakukan, malam Minggu lalu (5/5) sekira pukul 12.30 WIB disebuah tempat mangkal minum di Jalan Sudirman Kota Tebingtinggi yang berhasil menemui agen (germo) dari para mucikari, IR (25) warga Tebingtinggi seorang Waria mengatakan bahwa untuk memesan cewek masih pelajar harus merogoh kocek banyak, untuk pelajar sekolah berumur 16 tahun atau kelas II SMA harus mengeluarkan uang sebesar Rp1 juta hingga Rp2 juta.

“Itupun hanya untuk kelas short time,” kata IR.

Masih menurut IR, katanya kalau untuk kelas hingga boking satu malam bisa mencapai Rp2,5 juta, itupun dengan garansi pihak germo harus ikut mengawal agar tidak terjadi apa-apa dengan pelajar tersebut. Peraturan dan perjanjian yang dibuat pelaku prostitusi ini kepada pelanggan sex itu harus memakai alat pelindung seperti kondom.

“Itu untuk menghindari supaya tidak terjadi kehamilan pada sang pelajar, kami tetap selalu memberitahunya agar jangan keblabasan,” ungkap IR.
IR kembali menceritakan bahwa untuk pelajar yang masih perawan juga disediakannya, pemesan atau laki-laki hidung belang harus membayar hingga mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta sekali pakai.Itupun tidak gampang untuk mendapatkannya harus butuh waktu sekira 2 bulan untuk dapat yang masih perawan. “ Kebanyakan om-om yang pesan perawan dan masih pelajar dari Kota Medan, mereka menelpon dan meminta pesanan dengan istilah ‘Anak Ayam’, apabila stok ada kami menelpon balik agar menunggu disebuah tempat untuk menjemputnya,” ujar IR.

Masalah komisi yang didapat para Germo ini berkisar Rp1 juta untuk sekali pemesanan anak ayam, itupun kebanyakan yang memesan adalah om-om mata sipit yang berdomisili di Kota Medan.

“Kebanyakan om-om mata sipit itu adalah pengusaha, setelah terjadi tawar menawar diel, langsung masuk kedalam mobil. Hotel yang dipergunakan biasanya tidak di Kota Tebingtinggi melainkan di Kota Pematang Siantar,” bebernya.

Untuk menjerat para pelajar baru agar mau masuk kedalam jaringan prostitusi pelajar ini, IR mengaku harus merayunya dengan berbagai cara untuk bisa menarik hatinya, modusnya berawal dari mengajak untuk makan minum bersama teman-teman anak ayam lainnya hingga beberapa bulan, begitupun juga dengan memberi baju baru dan telephon seluler model terbaru secara cuma-cuma, setelah tertarik dan korban mulai bertanya kepada teman-teman anak ayam, baru ajakan dan bisikan untuk menjual diri di perkenalkan.

“Awalnya sih, mereka pertama menolak, tetapi setelah kita beri pengertian dan  bujukan mereka akan mengikut dan menurut. Apalagi kita memberi doktrin dengan kehidupan yang gelamor serta berkecukupan, pasti mereka akan tertarik dan masuk kedalam prostitusi kalangan pelajar,” ujar IR.
Untuk pengahsilan anak ayam ini biasanya tergantung pesanan dari para lelaki hidung belang, terkadang mereka dalam seminggu bisa mengumpulkan uang mencapai Rp4 juta, tetapi masalah kemana uang dipergunakan oleh anak ayam kita tidak bisa melarang, tetapi menurut IR kebanyakan kehidupan anak ayam ini selalu berpoya-poya dengan membeli berbagai keperluan mereka. “ Kita tidak bisa melarangnya, selalu kita peringatkan agar uang tersebut ditabung,” katanya.

Anak ayam (penyedia sex)  dikalangan pelajar tingkat SMA ini mengaku terpaksa masuk dalam jaringang protitusi terselubung dikarekan oleh berbagai sebab, seperti karena merasa kecewa setelah putus dengan pacarnya melakukan hubungan intim, karena brokem home di keluarga dan karena terpengaruh kehidupan gelamor serba kecukupan.

Salah seorang pelajar SMA Negeri di Kota Tebingtinggi sebagai anak ayam, RS (16) warga Kota Tebingtinggi mengatakan dirinya masuk kedalam jaringan prostitusi terselubung ini dikarenakan bujuk rayu dari teman-temannya yang sudah jadi anak ayam, mereka berpenampilan menarik, hidup gelamor, pakaiannya trend terbaru, handphon terbaru serta bisa memenuhi kebutuhan lainnya. “ Tertarik aja om, awalnya coba-coba terakhir jadi ketagihan,” aku RS dengan polos kepada Sumut Pos malam itu.

Sementara itu Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tebingtinggi Ir OKi Doni Siregar ketika dikonfirmasi mengatakan sangat menyangkan para pelajar setingkat SMA banyak terjerebak masuk kedalam prostitusi di kalangan pelajar, mereka adalah generasi penerus bangsa, bagaimana nasib bangasa ini kedepan kalau generasi muda wanitanya telah hancur? apalagi perbuatan itu sangat dilarang agama dan menjadi dosa besar yang tak terampuni.
“Kita minta kepada para orang tua untuk lebih sering berkomunikasi dengan anaknya, lihatlah anaknya tanya apabila ada perubahan dratis pada diri anak. Kepada Pemerintah setempat dan pihak Kepolisian untuk terus memberikan penyuluhan kepada para pelajar tanpa dengan rasa bosan atas bahayanya berhubungan badan tanpa hubungan resmi (nikah), Begitu juga dengan NU akan memberikan penyuluhan agama kepada orang tua dan para pelajar,” Oki Doni.  (mag-3)

Pengrajin Oles Tenun Pakpak Bharat Hadirkan Desainer Internasional

PAKPAK BHARAT-Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) bekerja sama dengan Dinas Peridustrian, Perdagangan dan Koprasi (Disperinagkop) Kabupaten Pakpak Bharat melaksanakan pelatihan tenun lanjutan dengan menghadirkan desainer professional, Merdi Sihombing.

Kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya peningkatan kemampuan dan kapasitas para penenun khususnya menyangkut motif, kwalitas dan kwantitas bahan tenunan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dekranasda Pakpak Bharat Made Tirta Kusuma Dewi SSos, di depan puluhan peserta penenun yang akan mengikuti pelatihan selama 14 hari yang ditempatkan di Workshop Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) tepatnya di Desa Teraju Kecamatan Siempat Rube, Senin (7/5).

Dengan melibatkan penenun remaja putus sekolah dan kaum ibu yang belum memiliki pekerjaan tetap, kedepan Dekreanasda dapat membuka ruang pendapatan bagi keluarga dan pengurangan pengangguran, sehingga target memunculkan Kabupaten Pakpak Bharat dari brand oles bermotif seni budaya Pakpak dapat lebih realistis.

“Apalagi kita sudah buktikan pada saat Pameran HUT Aceh Singkil beberapa waktu yang lalu, oles Pakpak habis terjual bahkan kurang” terang Dewi.
Selanjutnya menurut Ketua Dekranasda yang juga merupakan Ketua PKK Pakpak Bharat itu dengan menggunakan zat pewarna dari bahan gambir yang merupakan salah satu target produk unggulan kabupaten (Prukab) dapat bersinergi. “Waktu dekat ini hasil tenun binaan kita akan kita pasarkan,” katanya. (mag-14)

Serampang Duabelas, Tarian Daerah yang Mendunia

Patota Putra Tambunan

Masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang berbudaya lisan. Itulah salah satu penyebab banyaknya muncul jenis–jenis perayaan, ritual, pemujaan, maupun tarian yang menggambarkan situasi masyarakat pada masa yang bersangkutan maupun perayaan atau ritual untuk tujuan tertentu.
Seperti yang dilakukan di daerah Serdang Bedagai, Sumatera Utara, tempat asal tarian Serampang Duabelas, tarian daerah tersebut yang telah terkenal ke berbagai negara di seluruh dunia.

Tarian yang merupakan penggambaran kisah perjalanan sepasang cinta kasih ini lahir dan berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian yang diciptakan pada tahun 1940-an ini oleh Sauti ini kembali digubah oleh penciptanya pada tahun 1950 – 1960. Tarian ini awalnya bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari.

Menurut Tengku Mira Sinar yang merupakan Pimpinan Sanggar Sinar Budaya Group dan adalah Putri Kesultanan Serdang, sedikitnya terdapat dua alasan mengapa nama tarian ini diganti. Pertama adalah karena tarian ini bertempo cepat, sedangkan untuk tarian dengan nama awalan ‘pulau’ biasanya bertempo rumba. Kedua, penamaan tari merujuk pada tahap tariannya yang menggambarkan 12 tahap hubungan kasih antara sepasang pemuda Melayu.
Tarian ini menggambarkan sejak pertemuan pertama kedua pemuda Melayu. Tahap selanjutnya dari tarian kemudian menggambarkan awal dari meresapnya cinta dari kedua belah pihak, namun keduanya masih memendam rasa cinta itu dalam dirinya masing– masing.

Setelah memendam rasa itu, kemudian mereka berdua mulai mabuk kepayang oleh cinta yang mereka pendam sendiri. Untuk mengakhiri hal itu, kemudian kedua sejoli mulai memberikan isyarat tanda cinta kepada lawan jenisnya, dan menerima balasan isyarat sesuai yang diharapkan.
Walau demikian setelah menerima isyarat balasan, sang biduan masih sedikit menduga – duga apa maksud sebenarnya dari isyarat yang bersangkutan dan masih belum percaya terhadap kesungguhan si pemuda.

Kepastian hubungan keduanya datang saat si pemudi memberikan jawaban terhadap isyarat yang diberikan dan sang pemuda mengajukan lamaran. Tahap selanjutnya adalah pemuda mengantar mempelai pengantinnya menuju pelaminan dan diakhiri dengan pertemuan cinta kasih antara kedua sejoli yang dilambangkan dengan selendang yang saling bertautan.

Kiprah di Luar Kesultanan Serdang

Walaupun Tari Serampang Duabelas diciptakan dan berkembang pertama kali di daerah Sumatera Utara, tepatnya Kesultanan Serdang di daerah Serdang Bedagai, namun kini tarian tersebut telah dapat dikatakan terkenal di berbagai kota di Indonesia bahkan di dunia. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya pertunjukkan Tari Serampang Duabelas yang telah dilaksanakan di luar daerah Sumatra Utara.

Salah satu pementasan Tari Serampang Duabelas yang baru – baru ini dilaksanakan adalah yang dibawakan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Amerika Serikat (Permias) di negara bagian Ohio, Amerika Serikat. Tarian Serampang Duabelas dibawakan sebagai salah satu tarian asal Sumatera dalam suatu perhelatan yang bertajuk “Indonesian Night”.

Selain di luar negeri, baru – baru ini Tarian Serampang Duabelas juga sempat 3 kali dibawakan oleh sekelompok mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung yang tergabung dalam Unit Kesenian Sumatera Utara Institut Teknologi Bandung (UKSU ITB). Penampilan Tarian Serampang Duabelas yang pertama kali ditampilkan oleh UKSU ITB adalah pada pagelaran peringatan ulang tahun UKSU ITB yang ke 30 pada akhir tahun 2009 yang lalu yang dihadiri oleh Rektor ITB, Ketua Umum UKSU ITB, serta beberapa orang pendiri UKSU ITB.

Selain penampilan di Bandung, UKSU ITB juga sempat membawakan Tarian Serampang Duabelas sebanyak 2 kali pada gelaran Sumut Expo yang diadakan di Balai Kartini, Jakarta. Penampilan di Sumut Expo ini dihadiri oleh beberapa orang alumni dari UKSU ITB itu sendiri, Wakil Gubernur Sumatra Utara, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Utara, serta Duta Besar Bangladesh untuk Indonesia.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Utara turut memuji penampilan para mahasiswa asal Bandung yang telah peduli terhadap tarian daerah Sumatra Utara dan turut melestarikannya dengan cara membawakannya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumut yang juga merupakan alumni UKSU ITB dan juga merupakan salah satu penari saat masih berkuliah di ITB, berharap agar semakin banyak mahasiswa yang peduli terhadap seni dan kebudayaan tradisional Indonesia. Selain dengan menampilkannya secara langsung, beliau juga berharap agar dokumentasi sejarah dan penampilan juga disimpan dengan baik agar dapat menjadi arsip mengenai kesenian dan kebudayaan tradisional Indonesia.

Tarian Serampang Duabelas ini kini hendak dipatenkan sebagai tarian asli dari daerah Serdang Bedagai. Hal ini ditujukan untuk menghindari kemungkinan klaim dari pihak lain di kemudian hari. (*)

Penulis adalah Anggota Unit Kesenian Sumatra Utara Institut Teknologi Bandung.

Cekal Spanduk dan Bendera Besar

KIEV – Senjata tajam, alkohol, narkoba, petasan, hand flare atau suar, dan kembang api memang benda-benda yang secara umum tidak boleh dibawa masuk penonton ke dalam stadion. Tapi, selain itu, Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) juga mencekal sederet item lainnya selama Euro 2012 mengacu rilis kemarin.
Yang menarik perhatian adalah banner atau spanduk maupun bendera. UEFA membuat aturan mengenai ukuran dua item yang boleh dibawa penonton. Yakni, panjangnya tidak boleh melebihi 2 meter dan lebarnya maksimal hanya 1,5 meter.

“Spanduk maupun bendera kecil pun juga tidak bisa sembarangan karena harus terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar. Tiang bendera yang diperbolehkan juga harus memiliki panjang maksimal satu meter dan diameter satu sentimeter”. Demikian rilis UEFA seperti dilansir Kyiv Post.
Regulasi itu memang sempat menuai kritik dari beberapa organisasi suporter kontestan Euro yang terbiasa membawa spanduk besar. Tapi, UEFA tidak bersikap kaku. Bagi fans atau penonton yang ngotot ingin membawa spanduk atau bendera besar masih memiliki kesempatan asalkan mampu melobi UEFA lewat permohonan izin sehari sebelum laga.

Selain spanduk dan bendera, ada pula beberapa benda yang dibatasi ukurannya. Helm, tangga, bangku, kursi lipat, kotak, tas, ransel boleh dibawa masuk ke dalam stadion asalkan dimensinya tidak melebihi 25 sentimeter x 25 sentimeter x 25 sentimeter.
Piranti suara seperti megaphone, klakson, sampai vuvuzela juga dicekal selama Euro. Begitu pula piranti elektronik seperti kamera profesional, kamera video, dan sejenisnya. (dns/jpnn)