Home Blog Page 13547

Persaingan Langsung Ketat

Turnamen Basket Wahidin Cup

MEDAN- Persaingan ketat terjadi pada penyisihan Turnamen Basket Wahidin Cup 2012 di GOR Pradipa Wahidin, Rabu (9/5) kemarin. Meskipun tim unggulan masih cukup tangguh untuk ditundukkan. Tak jarang kejutan juga mewarnai laga-laga awal.

Di Pool B, Tuan rumah SMP Wahidin menundukkan Tri Murni 65-47. Sementara saingannya Sutomo 1 melalui duel ketat dengan Harapan Mandiri dengan kemenangan 50-44. Sementara di Grup A, Wiyata Dharma meraih kemenangan keduanya atas Sutomo 2 63-37. Sebelumnya Wiyata juga mencatat kemenangan atas Methodist Binjai di laga pembuka, Selasa (8/5).

Persaingan ketat juga terjadi di kategori putri. SMAN 5 Medan terlalu dominan atas SMAN 3 Medan dengan kemenangan 48-6. Sementara SMK Putra Anda Binjai secara mengejutkan menundukkan runner up Libala 2012, Methodist 2 42-28.

Sebelumnya di laga pembuka kejutan terjadi saat Methodist 2 takluk dari Prime One School dengan skor tipis 35-33. Sementara pertarungan dua tim luar Medan, SMP Juanda Tebing Tinggi dipaksa menyerah SMP Pangeran Diponegoro Kisaran, 44-52. Dari Di Grup B, SMP Sisingamangaraja Tanjung Balai membuka peluang dengan menundukkan SMP Sultan Agung Siantar 39-17.

Turnamen basket tingkat SMP putra dan SMA putri Wahidin Cup kembali digelar di GOR Pradipa Wahidin, sejak Selasa (8/5) lalu. Sebanyak 13 tim basket putra SMP dan 10 tim putri SMA dipastikan bertarung ketat memperebutkan predikat terbaik. Ini merupakan penyelenggaraan kali kedua.

Ke-13 tim basket putra terbagi dalam dua pool. Pool A dihuni SMP Wiyata Dharma, SMP Methodist Binjai, SMP Pangeran Diponegoro Kisaran, SMP Methodist 2, SMP Juanda Tebingtinggi, SMP Sutomo 2 dan SMP Prime One School. Sementara pool B bersaing ketat tuan rumah SMP Wahidin, SMP Sultan Agung Pematangsiantar, SMP Sutomo 1, SMP Sisingamangaraja Tanjungbalai, SMP Tri Murni Medan, dan SMP Harapan Mandiri.

Sementara untuk putri, juga dibagi dalam dua pool. Pool A dihuni SMK Putra Anda Binjai, Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah, SMA Methodist 2, SMA Wahidin dan SMA Wiyata Dharma. Sementara Pool B dihuni SMAN 5 Medan, SMAN 3 Medan, SMAN 1 Medan, SMA Methodist Binjai dan SMA Sutomo 1.

“Tidak hanya tim-tim dari Medan, Wahidin Cup kali ini juga diikuti peserta dari luar Medan. Kisaran, Tebingtinggi, Tanjungbalai, Kisaran dan Binjai ikut ambil bagian,” ujar perwakilan panpel, Herijanto.(mag-18)

Polresta Medan Janji Lanjuti Kasus Judi Palar

MEDAN-Unit Judi/Sila Satuan Reskrim Polresta Medan tetap memproses kasus judi leng yang melibatkan anggota DPRD Sumut dari Fraksi Demokrat Palar Nainggolan Anggota beserta tiga rekannya. Seluruh berkas acara pemeriksaan (BAP) kasus KHUPidana 303 Bis seluruh tersangka kini sedang dipersiapkan untuk dilimpahkan ke Kejari Medan.

“SPDP (surat pemberitahuan diawalinya penyidikan-Red) sudah dikirim ke Kejari Medan, namun berkasnya belum,” kata Kanit Judi/Sila Satuan Reskrim Polresta Medan AKP Edi Safari saat ditanya wartawan, Rabu (9/5) Sore.

Menurut Edi, kendati Palar dan ketiga rekannya kini dibebaskan bukan berarti, perjudian yang dilakukan tersangka di Lapangan Golf Martabe, Medan Tuntungan pada Sabtu (5/5) kemarin dihentikan polisi. “Enggak, perkaranya tetap lanjut itu,” katanya.
Edi pun memastikan, dalam waktu dekat ini, berkas pemeriksaan terhadap keempat tersangka akan diserahkan ke jaksa untuk proses hukum selanjutnya.

Sementara, Palar Nainggolan saat dihubungi wartawan melalui telepon genggam membantah dirinya bermain judi. Dia menyebutkan kalau persoalan itu terlalu dibesar-besarkan. “Itu tidak betul. Itulah terkadang, masalah yang seperti itu jadi besar,” kata.

Rencana Palar sepulang dari luar kota akan mengklarifikasi terkait kasus judi yang menimpanya itu. “Saya lagi di Jakarta, nanti kalau sudah pulang akan saya klarifikasi,” katanya lagi.

Sedangkan kolega Palar Nainggolan di DPRD Sumut, Biller Pasaribu yang dimintai tanggapannya oleh Sumut Pos tentang kasus judi Palar itu enggan memberikan komentar. “Saya tidak ikut-ikutan masalah ini lah,” tandasnya usai mengikuti acara konfrensi pers di Kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sumut di Jalan KH Wahid Hasyim Medan. (ari/gus)

23 Napi LP Meulaboh Ditangkap, 19 Buron

42 Tahanan Kabur Usai Menerobos Pintu Penjaga

MEULABOH -42 orang dari 304 narapidana, di Lembaga Permasyarakatan (LP) kelas dua Meulaboh, Aceh kemarin sore berhasil kabur dari tahanan. Untuk meringkus kawanan bandit tersebut, sebanyak 200-an gabungan TNI/Polri terpaksa terjun. Akhirnya kembali meringkus 23 napi dan dijebloskan lagi ke penjara.

Kepala Lapas Kelas dua Meulaboh, M Sulthon, membenarkan kejadian. Diutarakannya, larinya napi itu dilakukan saat kegiatan pembersihan lapas sedang digelar. Dengan cara menerobos penjaga pintu utama, 42 Napi ini berhasil melarikan diri.

Saat itu, di Lapas Meulaboh hanya ada empat orang petugas piket, dan satu orang piket stanby penjagaan di Pintu Utama. Ternyata, melihat jumlah petugas penjagaan yang sedikit ini, membuat 42 Napi menyusun rencana untuk melarikan diri, dengan cara menerobos penjagaan petugas.

Sendok dan sejumlah peralatan pembersihan dimanfaatkan napi untuk melukai penjaga.
“Bukan hanya penjaga, empat orang napi yang berusaha menahan pelarian teman-teman mereka, juga menjadi korban pemukulan. Bahkan empat tahanan mengalami memar dan luka disekujur tubuh,” tambah Sulthon.

Hingga Rabu (9/5), sekira Pukul 15.00 WIB, terdata sebanyak 23 napi berhasil ditangkap dari 42 napi yang kabur. “Jadi masih ada 19 napi lagi yang harus diburu di area kebun karet Desa Paya Penaga, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat,” urainya.

Sebanyak 23 napi yang berhasil ditangkap ini, dikatakan M Sulthon, dibekuk di sekitar dua hektar area kebun karet Desa Paya Peunaga, Kecamatan Meureubo. Kini, sebanyak 200 an petugas gabungan TNI Polri telah diturunkan untuk menyisir lokasi pelarian.

M Sulton menilai 19 Napi yang belum tertangkap, masih berada di dalam hutan karet di belakang lapas. Sementara napi yang berhasil diamankan terbagi dua bagian. Sebagian digelandang ke Malpolres Aceh Barat, dan sebagian lagi dimasukan kembali kedalam Rutan kelas dua Meulaboh.
Dipastikan M Sulthon, 42 napi yang kabur itu, melanggar kode etik LP Kelas II Meulaboh, sehingga hak-hak mereka akan dibatasi secara tegas, seperti tidak akan mendapatkan remisi dan hak jenguk dari keluarga, penekanannya.

Kapolres Aceh Barat AKBP Artanto SIK,  menyakatakan personilnya telah melakukan penyisiran di kawasan hutan belakang lapas tersebut. Dan penyisiran ini, ditegaskan Artanto akan terus berlanjut sampai para napi kembali tertangkap. Bagi masyarakat yang melihat napi yang kabur diharapkan dapat melaporkan kepada Petugas, harapnya.

Dandim Aceh Barat 0105, Letkol Inf Andi Sirajuddin SE, melalui Kadim Mayor Roby Bulan, mengaku telah memback up penyisiran untuk mencari napi yang kabur. Dengan menurunkan puluhan personil dan juga mendapat bantuan dari Batalyon. “Kita juga ikut memback up kepolisian untuk menyisir area hutan di belakang LP itu,” ucapnya.
Agam Prayuda, satu dari 23 napi yang berhasil ditangkap menuturkan niat keluar tahanan untuk meminta temannya agar jangan kabur dari lapas. Secara tegas, ia membantah kalau dirinya ikutan kabur dari LP.”Saya juga jadi korban kekerasan napi yang lari itu, dan saya keluar juga karena ingin membujuk mereka supaya tidak kabur,” kata Agam Prayuda. (jpnn)

China Selidiki Kapsul Berisi Bubuk Daging Bayi

BEIJING- Pemerintah China berjanji akan menyelidiki dugaan kapsul-kapsul yang mengandung bubuk daging bayi diproduksi di negeri itu dan diselundupkan ke Korea Selatan (Korsel). Sejauh ini otoritas China belum menemukan keberadaan kapsul-kapsul tersebut di China.

“Kami belum menemukan kapsul-kapsul terkait di China,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hong Lei seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (9/5).

“Kementerian Kesehatan akan menyelidiki lebih jauh hal ini bersama-sama dengan departemen keamanan publik terkait, industri dan perdagangan serta bea cukai,” imbuhnya.

Isu mengerikan ini terangkat pada Minggu, 6 Mei lalu ketika pihak Bea Cukai Korea menyatakan telah menemukan berbagai upaya untuk mengimpor secara ilegal total 17.000 lebih kapsul dalam bagasi penumpang pesawat ataupun dengan pengiriman lewat udara.

Obat-obat tersebut kabarnya diisi dengan daging janin atau bayi yang meninggal, yang kemudian dikeringkan dan dijadikan serbuk. Obat tersebut kemudian digunakan sebagai penyembuh penyakit atau untuk meningkatkan gairah seks. (net)

Pegulat Sumut Incar Dua Emas

MEDAN- Menghadapi kejuaraan nasional (kejurnas) gulat yang digelar di Jambi, 11 hingga 15 Juni mendatang, atlet gulat Sumut secara rutin menggelar latihan di GOR Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Sumut. Dalam kejurnas ini, atlet gulat Sumut ditargetkan meraih dua medali emas.

“Kita mengadakan pembinaan yang lebih intensif lagi, mengingat pada ajang yang sama prestasi kita cukup memprihatinkan,” kata pelatih gulat PPLP Sumut Anggi didampingi rekannya Mangasi Simangunsong, Rabu (9/5).

Disebutkannya, pada kejurnas tahun lalu tim gulat Sumut hanya meraih satu medali perak di Kelas 42 kg bebas oleh Alma Rio dan dan satu perunggu di Kelas greco 50 kg  oleh M Husaini Barus.

Anggi mengatakan, adapun pegulat PPLP Sumut yang akan ikut ke Kejurnas di Jambi yakni Almario C Naibaho kelas 42 kg bebas, M Husaini Barus kelas Greco 50 kg, Iqbal Surya Budi kelas bebas 46 kg, Pebrianto Sembiring kelas bebas 58 kg, Oktavianus Tarigan kelas bebas 50 kg, Eperaim Ginting kelas Greco 50 kg, Feny Pratama kelas bebas 85 kg serta M Muqsit Redha kelas Greco 58 kg. (mag-10)

Raih Penghargaan Tokoh Kontroversial

Dahlan Iskan

ANUGERAH Seputar Indonesia (ASI) 2012, telah memberikan beberapa penghargaan kepada tokoh yang telah terseleksi masuk sebagai nominasi.

Salah satu nomine untuk kategori Tokoh Kontroversial, jatuh ke tangan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan. Yang telah melewatkan para calon-calon lainnya seperti Anas Urbaningrum, Denny Indrayana, Marzuki Alie dan Wa Ode Nurhayati.

“Sebenarya beda, antara tokoh tidak kontroversial dan kontroversial. Yaitu  semua hal itu dilarang, semua hal dibolehkan kecuali dilarang. Seperti halnya viagra, tidak ada efek sampingnya,” ucap Dahlan dengan singkat disambut ketawa para hadirin di Studio 8 RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (9/5). (net)

Dituduh Kriminal, akan Mengadu ke Kapolri dan Komnas HAM

Saksi untuk Sidang Praperadilan Kapolres Tebingtinggi Ditangkap

TEBINGTINGGI-Polres Tebingtinggi kembali asal main tangkap. Usai dipraperadilkan (prapid) di Pengadilan Negeri Tebingtinggi karena menangkap orang tak bersalah, Adianson Saragih (37) alias Jibeng warga Dusun VII Karyatani Desa Bahsumbu Kecamatan Tebingtinggi dalam kasus pencurian 50 tandan biji kelapa sawit, kali ini, Polres Tebingtinggi kembali menangkap rekan Jibeng, Soliadi (50) warga Tebingtinggi dalam kasus yang sama.

Ironisnya, Soliadi yang akan menjadi saksi dalam sidang prapid Kapolres Tebingtinggi, AKBP Andi Rian R Djajadi SIk itu, ditangkap saat di Pengadilan Negeri Tebingtinggi, Rabu (9/5) pagi.

“Mengapa Soliadi ditangkap saat akan menjadi saksi bagi Jibeng dalam sidang prapid Kapolres Tebingtinggi Rabu pagi tadi, ini menandakan Polres Tebingtinggi sudah kehilangan akal dan takut kalah sehingga menggunakan kekuasaannya, polisi seperti ini sangat berbahaya sekali,” kata kuasa hukum, Andri Hasibuan SH kepada wartawan koran ini.

Menurut Andri, kasus ini berawal pengaduan Kepala Desa Bahsumbu Tebing tinggi Suhartoyo di Polres Tebingtinggi November 2011 lalu, yang menuduh Jibeng mencuri 50 tandan buah kelapa sawit di lahan 21 ribu hektar di Desa Bahsumbu Kecamatan Tebingtinggi Serdang Bedagai yang diklaim miliknya.

”Padahal lahan itu milik abang Jibeng, Sugianto Saragih warga Jalan Helvetia Medan yang dibeli dari Sawiyah Hasibuan warga Bandar Bajambu Tebing tinggi. Buktinya lengkap semua,” papar Andri.

Sedangkan peran Soliadi saat itu dipercaya abang Jibeng mengawasi sawit itu. Artinya, Soliadi dan Jibeng pun bersama-sama mengurus lahan Sugianto itu.

Enam bulan kemudian, Jibeng ditangkap pada 6 Maret 2012. Dan Soliadi ditetapkan sebagai daftar pencarian orang (DPO). “Polisi begitu gampang menerima pengaduan Hartoyo dan menangkap Jibeng tanpa mengkaji kasusnya dulu . Selain ituSoliadi ditetapkan sebagai DPO.

Anehnya, Soliadi yang di DPO  tidak ditangkap saat itu,” imbuh Andri. Berdasarkan kasus itu lah, Jibeng memprapidkan Kapolres Tebingtinggi, Selasa (24/4) lalu, dengan nomor reg No.05/pid/prapid/2012.

Soliadi yang mengetahui dirinya menjadi DPO, langsung menemukan Kapolres Tebingtinggi AKBP Andi Rian di ruang kerjanya, Senin (23/4) lalu.

Dalam pertemuan itu, Soliadi mempertanyakan penetapan status DPO nya kepada Kapolres Tebingtinggi. ”Kalau saya jadi DPO,kenapa  tidak ada pemanggilan bagi saya, dan seharusnya dari dulu saya ditangkap” kata Soliadi kepada Kapolres didampingi Andri SH dan wartawan.

Mendapat pertanyaan itu, Kapolres terdiam sejenak. Kemudian berkata, “bahwa polisi sudah mengirim surat pemanggilan Soliadi sebanyak tiga kali”. Singkat cerita, dalam pertemuan itu juga, Soliadi mempertanyakan dasar penangkapan Jibeng.

AKBP Andi Rian tetap ngotot bahwa penangkapan itu sesuai dengan prosedur. “Yang penting kami menangani kasus itu adanya laporan pencurian, kalau ada yang salah dalam penangan ini, ya silahkan tempuh jalur hukum,” kata Kapolres.

Dua minggu kemudian, sidang pertama prapid Kapolres Tebingtinggi berlangsung di Pengadilan Negeri Tebingtinggi, Selasa (8/5). Soliadi hadir  bersama Andri SH , sedangkan dari pihak Polres Tebingtinggi diwakili Briptu Erwin Tarigan SH. Sidang prapid ini diketuai oleh Hakim Rahardhini SH.

“Saya siap akan menjadi saksi dalam kasus ini karena saya melihat kejadian ini yang sebenarnya, apalagi lagi  saya disebut DPO ,” kata Soliadi sebelum ditangkap kepada wartawan koran ini.
Keesokan harinya, Rabu (9/5), Soliadi saat akan mengikuti sidang praperadilan sebagai saksi ditangkap anggota Polres tebingtinggi.”Ini tindakan kriminal, saya akan mengadukan penangkapan ini ke Kapoldasu, Kapolri dan Komnas HAM,” kata Andri. (azw)

Menyelamatkan Pendidikan Indonesia

Oleh:Jhon Rivel Purba

Meskipun era reformasi sudah berjalan hampir 14 tahun, namun perahu bangsa Indonesia tetap terombang-ambing di atas gelombang persoalan. Mulai dari persoalan korupsi, kemiskinan, pengangguran, tindak kekerasan, kerusakan lingkungan, dan ketergantungan pada asing.

Sesungguhnya persoalan itu semakin berkembang biak ketika negara tidak memiliki visi yang jelas, pemimpin yang tegas, dan masyarakat yang cerdas. Sehingga bangsa ini dikendalikan oleh arus globalisasi.

Perlu ditekankan, hanya Indonesia-lah yang bisa menyelamatkan dirinya. Bukan Amerika Serikat, Jepang, China, Singapura, atau bangsa mana pun. Agar Indonesia bisa menyelamatkan dirinya, maka mau tak mau bangsa ini harus berkualitas, mandiri, beradab, dan berdaya saing tinggi. Untuk bisa mencapai itu, maka pendidikan adalah satu-satunya jurus selamat.

Bercermin dari negara seperti Jepang dan Malaysia, mereka menempatkan pendidikan sebagai fondasi membangun bangsa. Kita lihat, Jepang yang dulunya pada perang dunia II mengalami kehancuran akhirnya bisa bangkit menjadi macan Asia karena komitmennya membangun pendidikan. Atau Malaysia, negara tetangga, yang pada 1980-an belajar dari Indonesia kini lebih maju dari pada Indonesia. Bagaimana dengan kita?

Di dalam pembukaan UUD 1945, ditegaskan bahwa salah satu tujuan kemerdekaan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Supaya cerdas, maka negara menjamin hak seluruh warganya untuk mengecap pendidikan tanpa memandang bulu atau pun status.
Dan untuk membiayai semua itu maka negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional (Pasal 31 ayat 4 UUD 1945).

Kenyataannya, dari data Depdiknas 2009,  sekitar 2,2 juta anak yang berusia 7-15 tahun tak bisa mengecap pendidikan di negeri ini. Sekitar 5,5 juta orang tak bersekolah untuk usia 16-18 tahun, dan sekitar 20,7 juta orang tak bisa mengecap pendidikan tinggi untuk usia 19-25 tahun. Dengan demikian, negara telah lalai memberikan hak-hak dasar (pendidikan) bagi warganya.

Tingginya jumlah anak yang tidak bisa mengecap pendidikan ini pada umumnya disebabkan oleh kemiskinan dan mahalnya biaya pendidikan. Meskipun menurut badan pusat statistik (BPS) jumlah penduduk miskin di Indonesia pada 2011 adalah sekitar 30,02 juta orang, namun jumlah orang yang rentan dengan kemiskinan jauh lebih banyak lagi.

Jika mengacu pada Bank Dunia yang menetapkan batas garis kemiskinan adalah penduduk yang berpenghasilan di bawah 2 dolar AS per hari atau sekitar Rp 20.000, maka separuh penduduk Indonesia terbelenggu dalam kemiskinan. Mereka inilah yang kesulitan dalam mengecap pendidikan di tengah-tengah biaya yang semakin mahal.

Bagaimana tidak, sekolah-sekolah seakan-akan telah berubah menjadi lembaga penagih utang. Berbagai kutipan-kutipan dibebankan kepada masyarakat. Mulai dari iuran bulanan, uang masuk, uang pembangunan, uang buku, uang seragam, uang praktik, dan kutipan lainnya. Kutipan-kutipan ini biasanya menjadi-jadi menjelang tahun ajaran baru.

Di sisi lain, terjadi kastanisasi dan diskriminasi pendidikan. Dimana hadir sekolah-sekolah elite seperti sekolah bertaraf internasional (SBI) dan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) sebagai kasta istimewa dengan biaya pendidikan yang sangat mahal. Secara otomatis, orang miskin tak akan bisa menanggung biaya sebesar ini.

Dengan mengatasnamakan demi kualitas dan mencerdaskan bangsa, pemerintah memberi dukungan penuh terhadap RSBI dan SBI. Pasal 50 ayat 3 UU Sisdiknas yang mengatur bahwa pemerintah ataupun pemerintah daerah dapat menyelenggarakan satuan pendidikan di semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional, dijadikan sebagai kran pembuka RSBI dan SBI.

Namun dalam praktiknya, kehadiran sekolah kasta atas ini menghadirkan persoalan baru, yakni: menutup ruang bagi si miskin karena biaya pendidikannya  tinggi, penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar berpotensi menghilangkan jati diri bangsa, dan membuka ruang bagi pemilik modal asing untuk memasarkan jasanya dalam pendidikan Indonesia.

Lembaga pendidikan tinggi lebih parah lagi. Hal ini ditandai dengan adanya upaya pelepasan tanggung jawab pemerintah dalam lembaga pendidikan tinggi khususnya pergurun tinggi negeri (PTN) yang dibungkus dalam otonomi pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan diserahkan pada pasar.

Proses otonomi pendidikan di lembaga pendidikan tinggi dimulai dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum Pendidikan. Dilanjutkan lagi dengan PP Nomor 152-155 Tahun 2000 tentang pembentukan perguruan tinggi badan hukum milik negara (PT BHMN) yakni Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Institut Teknik Bandung (ITB), Univeritas Airlangga (Unair), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Sumatera Utara (USU).

Dalam menyelenggarakan pendidikan, ketujuh PT BHMN ini mencari dana dengan mendirikan badan usaha, kerja sama dengan pemilik modal, membuka jalur penerimaan mahasisa dengan pungutan mahal, menaikkan uang kuliah, dan komersialisasi fasilitas kampus. Otonomi pendidikan ini kemudian diikuti oleh PTN lainnya dengan dasar Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) yang disahkan pada 17 Desember 2008.

Meskipun pada akhirnya UU ini dicabut pada 31 Maret 2010 lalu oleh Mahkamah Konstitusi (MK), namun semangat otonomi pendidikan tetap berlanjut hingga sekarang. Bahkan kini Rancangan Undang-Undang Pendidikan Tinggi (RUU PT) dikhawatirkan tetap melanjutkan roh UU BHP.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa arah pembangunan pendidikan kita tidak jelas atau bertentangan dengan semangat konstitusi. Ketika pendidikan diserahkan pada pasar dengan logika laba, maka arah pendidikan berubah menjadi demi kepentingan pasar, dan yang miskin akan tergilas oleh pasar.

Anggaran pendidikan selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya, tetapi biaya pendidikan justru semakin mahal. Tahun 2012 ini saja anggaran pendidikan sebesar Rp. 64,35 triliun. Saya pikir jika anggaran itu digunakan secara tepat guna, tepat sasaran, dan tepat waktu, maka anak Indonesia bisa mengecapkan pendidikan minimal 12 tahun. Persoalannya di lapangan, anggaran ini sering “disunat” dari pusat hingga ke sekolah-sekolah, dan penggunaannya tidak tepat sasaran.

Kita prihatin di saat anggaran pendidikan mengalami kenaikan, tetapi masih banyak sekolah-sekolah di daerah pinggiran dan daerah pedalaman yang kurang mendapat perhatian. Di daerah-daerah terpencil, angka kekurangan guru mencapai 60 persen. Di daerah perbatasan, pembangunan pendidikan belum menjadi fondasi membangun (nasionalisme) masyarakat.

Menyelamatkan Indonesia
Untuk menyelamatkan Indonesia, pendidikan yang membebaskan merupakan jalan satu-satunya. Agar bangsa ini bisa menjadi bangsa berkualitas, mandiri, bermartabat, dan berdaya saing tinggi, maka arah penyelenggaraan pendidikan harus berorientasi pada kepentingan bangsa. Harapan Ki Hadjar Dewantara agar pendidikan bisa menumbuhkan kesadaran bahwa bangsa ini memiliki martabat dan harapan untuk menjadi manusia merdeka, harus dilanjutkan. Supaya Indonesia merdeka dari belenggu penjajahan, korupsi, kekerasan, kemiskinan, pengangguran, kebodohan, dan ketidakberdayaan.

Oleh sebab itu, pemerintah (pusat dan daerah) dan semua pihak hendaknya kembali pada semangat awal kemerdekaan yang tertuang dalam konstitusi. Pendidikan adalah alat untuk menjawab persoalan bangsa. Pendidikan merupakan media pembebasan untuk memanusiakan manusia. Dan semua warga negara Indonesia berhak mengecap pendidikan yang bermutu dan membebaskan. Kiranya semangat ini bisa dituangkan dalam kebijakan pendidikan yang jelas, terarah, dan strategis demi kepentingan bangsa. (*)

Penulis adalah alumni ilmu sejarah USU, dan aktif di Komunitas Payung Intelektual

Awasi Striker Kabau Sirah

Semen Padang v Pro Duta

MEDAN- Dua tim beda kasta akan bentrok di babak III Piala Indonesia 2012, Kamis (10/5) sore ini. Kali ini, Pro Duta FC dihadapkan pada lawan yang tidak ringan. Kuda Pegasus akan menghadapi pemuncak klasemen Indonesian Premier League (IPL) Semen Padang di Stadion Agus Salim Padang. Gentarkah Pro Duta?

Pelatih Pro Duta, Roberto Bianchi mengakui lawannya kali ini berbeda dari tim-tim yang pernah dihadapi sebelumnya. Semen Padang merupakan pemuncak klasemen di IPL dengan koleksi 30 angka. “Semen Padang tim yang bagus. Mereka punya banyak pemain berpengalaman dan senior. Ini pasti tantangan bagi tim menghadapi mereka. Tapi kami harus meraih hasil bagus,” ungkapnya didampingi asisten pelatih Deca Dos Santos usai latihan terakhir jelang keberangkatan, Rabu (9/5).

Beto sadar betul kualitas Semen Padang. Terutama duo striker andalan Kabau Sirah, Edward Wilson Junior dan Ferdinand Sinaga. Keduanya telah mengoleksi total 21 gol dari 29 gol yang dikoleksi Semen Padang. Jelas betapa tajamnya keduanya. “Mereka punya pemain yang tajam seperti Edward dan Ferdinand. Ini harus kami waspadai,” lanjut Beto.

Sayangnya Pro Duta kembali tampil tidak komplit. Jika sebelumnya karena cedera, kali ini Beto dipusingkan dengan tiga pemainnya yang dipanggil seleksi timnas U-22. Adalah Ghozali Muharram Siregar, Rahmad Hidayat dan Safrial Irfandi yang tengah dipanggil timnas.

“Kita memang kehilangan pemain penting. Tapi saya selalu tekankan di tim ini tidak ada pemain inti maupun pelapis. Sewaktu-waktu siapapun bisa menjadi pilihan utama tergantung kondisinya,” jelasnya.

Opsi untuk Ghozali bisa ada pada diri Heri Irwansyah maupun Muhammad Nur Adli. Keduanya masih berusia muda. Namun demikian Arif Sajali maupun Abdelhadi Laakkad yang akan diandalkan untuk membombardir gawang lawan. “Siapapun yang akan tampil nanti tergantung pada kesiapan terakhir mereka. Apalagi bukan kali saja saya melakukan rotasi pemain,” beber pria berkebangsaan Spanyol itu.

Sementara di kubu lawan, Semen Padang masih dibayangi kelelahan. Dalam sepekan Kabau Sirah harus menjalani tiga laga di kompetisi IPL maupun Piala Indonesia. Kondisi ini membuat Semen Padang melakukan rotasi pemain. “Ini pertandingan yang sulit bagi tim, jadi kami akan melakukan beberapa rotasi pemain untuk melawan Pro Duta. Meskipun Pro Duta berasal dari Divisi Satu bukan berarti mereka bisa meremehkan. Semua pemain harus mewaspadai kekuatan setiap pemain lawan,” pungkas Caretaker Semen Padang, Suhatman Imam.

amun Suhatman memastikan akan menurunkan Edward Wilson. Sebelumnya ia absen saat menjamu PSMS Junior. Suksesor Nil Maizar itu sadar ia butuh Edward Wilson untuk menuntaskan kemenangan di kandang. “Edward tetap akan kita pasang meskipun kita melakukan rotasi. Apalagi laga ini berat bagi kita,” pungkasnya. (mag-18)

Gus Irawan Ajak Generasi Muda Berbisnis

MEDAN- Gerakan penciptaan wirausahawan baru merupakan satu solusi penting menekan pengangguran dan mengentaskan kemiskinan. Sudah saatnya Sumatera Utara menjadi satu provinsi yang mendorong percepatan gerakan penciptaan wirausahan baru, khususnya kaum muda dan perempuan.

Demikian diutarakan Direktur Utama PT Bank Sumut Gus Irawan dalam rangkaian dialog interaktif dengan ratusan mahasiswa di dua tempat terpisah di Kampus Unimed, Medan, akhir pekan lalu. Menurut Gus, sebelum semua upaya disiapkan memberdayakan calon wirausahawan baru yang tangguh dan sukses, terutama entrepreneur muda, hal terpenting  adalah mengubah mindset anak muda.

“Kebanyakan mahasiswa setelah tamat kuliah berbondong ingin jadi PNS. Sekarang pemerintah melakukan moratorium penerimaan PNS. Dunia tidak kiamat karena anda tidak menjadi PNS.Jadilah wirausahawan, dengan begitu justru anda menciptakan lapangan kerja baru bagi banyak orang,” katanya memotivasi ratusan anak-anak muda para pencari lowongan kerja di sela-sela acara Job Fair, di Gedung Serbaguna Unimed Medan.  Untuk menjadi wirausahawan muda, katanya, modal utama bukanlah ketersediaan dana, melainkan tekad dan keberanian mengambil risiko. Dana bisa dicari secara kreatif.

Mendapatkan pembiayaan dari bank hanyalah satu cara. “Banyak solusi bisa dicari, misalnya menjalin kemitraan dengan orang lain yang memiliki dana melalui penawaran konsep usaha yang inovatif  dan prospektif. Yang terpenting bukan modalnya, melainkan kemauan mencoba, berani gagal dan tidak mudah menyerah,” ujarnya.

Sementara dalam dialog yang digelar Korps HMI-wati (Kohati) di aula Fakultas Sosial Unimed Gus Irawan mengatakan gerakan menciptakan wirausahawan, khususnya kaum perempuan adalah kebijakan yang selayaknya diprioritaskan.  “Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, pemberdayaan perempuan menjadi entrepreneur sesungguhnya pilar  ekonomi keluarga. Saya menaruh perhatian soal ini” sebutnya.

Dia mengungkapkan Bank Sumut sudah memberdayakan lebih 72 ribu perempuan pelaku usaha mikro melalui skim kredit Sumut Sejahtera. (ril)