Home Blog Page 13550

Turnamen Piala SSB Karisma Digelar

MEDAN- Pengurus Sekolah Sepak Bola (SSB) Karisma tetap eksis dalam pembinaan sepak bola di Sumut. Salahsatunya, dengan mengadakan program tahunan turnamen Piala Karisma Kelompok Umur (KU) 11 se-Sumut, yang digelar 17 hingga 20 Mei mendatang di Lapangan SSB Karisma, Jalan Veteran Pasar VII, Medan Helvetia.

Hal itu disampaikan ketua pelaksana turnamen Sumitro yang juga Kepala Sekolah SSB Karisma kepada wartawan ketika dijumpai di lapangan SSB Karisma usai latihan, Selasa(8/5).

“Kita selalu mendukung perkembangan anak-anak di SSB ini dengan menambah jam terbang yang berguna untuk menambah wawasan setiap siswa dalam bermain bola,” tutur Sumitro.

Selanjutnya, Sumitro mengatakan, peserta yang akan mengikuti sebanyak 40 tim, seperti pelaksanaan turnamen pada umumnya, turnamen itu tetap mengikuti aturan PSSI yang mana apabila peserta terbukti melanggar peraturan, peserta yang bersangkutan akan ditindak sesuai aturan PSSI.

Panitia pelaksana masih membuka pendaftaran hingga 12 Mei mendatang. Untuk tim yang berminat bisa menghubungi panitia pelaksana ke nomor kontak Sumitro 081376756653 dengan biaya administrasi pendaftaran sebesar Rp250.000. Adapun peserta yang sudah mendaftar ke ajang ini sebanyak 25 tim.
Sumitro berharap kepada anak-anak asuhnya di SSB Karisma, kelak bisa mengikuti jejak siswa SSB Karisma yang sudah memperkuat klub-klub terkenal di tanah air.

Diantaranya adalah Antoni, Wiganda di PSMS Liga Super Indonesia, Hardian Tono yang masih memperkuat tim Sumut ke Pekan Olahraga Nasional (PON), Mawardi di PSMS U- 21, Heri Swandana PSMS IPL, Johan di PSSA, Ganda di PSLS serta masih banyak lagi.(mag-10)

Mantan Pengurus Golkar Sumut Merasa Dizalimi

MEDAN- Dua belas mantan pengurus DPD I PG Sumut, menggelar konfrensi pers di Desa-Desa Resto, Jalan Setia Budi Tanjung Rejo, Medan, Selasa (8/5). Mereka kembali menegaskan menolak revitalisasi yang tidak sesuai dengan mekanisme di Partai Golkar tersebut. Mereka pun merasa dizalimi.

Ada yang menarik di lokasi konfrensi pers itu. Mantan Sekretaris DPD Golkar Sumut Hardy Mulyono terlihat hanya di bagian belakang resto. Sementara yang memberikan keterangan pers kepada wartawan adalah Mahmuddin Lubis, Syafruddin Basyir, Syamsul Komar, Rajamin Sirait, Tadjuddin Nur Sikumbang, Riza Fahrumi Taher.

“Saya lagi ada tamu. Kan sama saja dengan kawan-kawan lainnya,” elaknya ketika dijumpai Sumut Pos.

Kehadiran Hardy dalam konfrensi pers itu sejatinya sangat penting. Setidaknya, keterangan dari dialah yang ditunggu wartawan. Tapi, pria berkepala plontos tersebut malah menyatakan, akan memberikan keterangan lebih lanjut di lain waktu. “Nanti kita wawancara lagi,” akunya.

Sementara itu, dalam keterangan pers tersebut, para mantan pengurus DPD I PG Sumut, menyatakan dan mengisyaratkan perlawanan terhadap keputusan revitalisasi yang belum lama ini dilakukan.

“Mekanisme pemecatan yang berlaku dalam partai Golkar tidak ada yang instan seperti itu, dan ini baru kejadian pertama semenjak saya bergabung di Golkar 30 tahun yang lalu. Aday ini tidak paham dengan itu. Jadi ada orang-orang yang di dekat Aday (Plt Ketua DPD PG Sumut, Andi Achmad Dara, Red),” kata mantan Wakil Ketua DPD I PG Sumut, Mahmudin Lubis.

Maka dari itu, 12 mantan pengurus PG Sumut yang dipecat tersebut, secara tegas menolak revitalisasi yang tidak sesuai dengan mekanisme di Partai Golkar tersebut. Untuk itu, mereka berencana akan mempertanyakan secara langsung terkait terbitnya SK Nomor 170/DPP/Golkar/V/2012 tentang Susunan Kepengurusan DPD Partai Golkar Sumut Hasil Revitalisasi.
“Saya sedih mendengar ini, meskipun sampai saat ini kami belum ada yang menerima SK pemecatan. Saya berani garansi mereka-meraka ini adalah yang loyal, bahkan jika dibandingkan kepengurusan baru yang kami tahu dari pemberitaan media. Saya pribadi menegaskan, saya bukan ingin minta jabatan lagi, tapi buatlah kebijakan yang sesuai mekanisme partai dengan parameter yang jelas,” tegas Mahmuddin Lubis.

Ditambahkannya, dirinya dan yang lainnya pernah berupaya berdiskusi dengan Ketum DPP PG, Abu Rizal Bakrie. “Saya ajak Ketum diskusi. Nah, kalau seorang ketua yang mau jadi Calon Presiden (capres) seperti ini, mau bagaimana negara ini? Kita meminta Ketum dan Sekjend berdialog. Jangan hanya orang-orang yang tak paham, yang diajak berdialog,” tegasnya.

Sedangkan Mantan Wakil Ketua DPD I PG Sumut lainnya, Rajamin Sirait pada kesempatan itu menyatakan, pemecatan tersebut sarat kepentingan kelompok tertentu dan dapat merusak citra Golkar yang saat ini sudah kembali bangkit. “Peristiwa ini akan membawa kehancuran bagi Golkar, karena akan terpecah kesolidan yang sudah terbangun selama ini,” tegasnya.

Riza Fahruni Taher, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Sekretaris DPD I PG Sumut menambahkan, mereka saat ini sedang menyiapkan konsep tertulis terkait penolakan mereka terhadap terbitnya SK yang ditandatangani Ketum DPP Aburizal Bakri dan Idrus Marham tersebut.  “Kami sudah menyiapkan konsepnya dan dalam waktu dekat akan kami sampaikan langsung kepada ketum,” katanya.

“Ini penzaliman, pembodohan dan pelecehan. Ini belum pernah terjadi,” timpal Tadjuddin Nur Sikumbang.

Bahkan, Tadjuddin Nur sempat menyatakan, banyak orang-orang yang saat ini duduk di kepengurusan Golkar, merasa tidak nyaman dengan keberadaan dirinya dan 11 rekannya yang sama-sama dicopot dari kepengurusan Golkar Sumut. “Loyal itu kepada partai, bukan kepada Aday. Ini ada orang-orang yang tak nyaman dengan kami,” tegasnya lagi.

Menyikapi pernyataan itu, Sumut Pos menyinggung tentang rumor, 12 pengurus DPD I Golkar Sumut yang dipecat, juga bukan merupakan orang yang loyal dengan Partai Golkar, tapi lebih loyal dengan sosok Syamsul Arifin. “Itu bohong. Saya lebih lama dari Datuk (Syamsul Arifin, Red). Dia malah setiap ketemu saya manggil ketua. Karena saya lebih lama di Golkar ketimbang dia. Saya sudah 30 tahun di Golkar,” akunya.
Lalu, bagaimana dengan wacana menggelar Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub), terlebih sudah ada vonis incracht dari Mahkamah Agung (MA) kepada Syamsul Arifin selama enam tahun kurungan?

Menyikapi hal itu, Tadjuddin Nur langsung menegaskan, harusnya prosesi Musdalub di tubuh Golkar dilakukan. “Musdalub sudah keharusan partai. Dan selayaknya ada Musdalub,” katanya.(ari)

KPK Periksa Dua Pengusaha Sumut

Diduga Terlibat Kasus Cek Pelawat

MEDAN- Tiga penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara mendadak mendatangi Mapoldasu, Selasa (8/5), pagi. Kedatangan ini berkaitan dengan upaya pemeriksaan terhadap dua orang pengusaha di Sumut terkait kasus cek pelawat (traveller cheque) pemilihan Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Swaray Goeltom.

Ketiga penyidik KPK tersebut melakukan pemeriksaan selama lebih dari dua jam di Ruang Dit Reskrimsus Poldasu, sejak pukul 11.00  hingga Pukul 13.45 WIB.

Informasi yang dihimpun Sumut Pos di Mapoldasu menyebutkan kedatangan ketiga  penyidik KPK itu berkaitan kuat dengan upaya meminta penjelasan dua pengusaha Sumut tersebut soal riwayat pembelian 5.000 lahan kelapa sawit di Tapanuli Selatan milik seseorang bernama Ferry Yen pada 2004 silam.

Hasil pembelian lahan sawit inilah yang dikonversi ke dalam bentuk cek jenis cek pelawat (traveller cheque) yang disinyalir kuat berlabuh hingga ke tangan sejumlah anggota DPR RI di Senayan.

Hanya saja petugas KPK yang terdiri atas dua laki-laki dan seorang perempuan itu sedikitpun tidak bersedia memberikan keterangan. Saat di Mapoldasu, ketiga penyidik yang sempat terlihat wartawan ini tidak mengenakan pakaian dinas bertuliskan ‘KPK’ sebagaimana biasa dikenakan penyidik KPK. Namun, keragu-raguan apakah yang datang pagi itu petugas dari institusi super-bodi itu atau bukan, menjadi terang saat Direktur Reskrimsus Poldasu Kombes Sadono Budi Nugroho membenarkan soal kehadiran penyidik KPK ke Mapoldasu.

“Ada tiga penyidik KPK datang memeriksa, namun saya tak tahu siapa yang diperiksa. Saya ada rapat seharian. Memang informasinya soal dana cek pelawat,” katanya. Begitupun, Sadono mengakui, pihaknya memang menjalin kerjasama dengan KPK. Kerjasama itu menyangkut penyelidikan dan penyidikan korupsi. Bahkan, menurut Sadono, pihaknya menyiapkan satu ruang khusus untuk KPK bila ada pemeriksaan di Medan.

Juru Bicara KPK, Johan Budi, saat dikonfirmasi, Selasa (8/5) malam, membenarkan adanya tiga tim penyidik KPK datang ke Mapoldasu untuk memeriksa saksi-saksi dari pihak swasta. Pemeriksaan itu terkait kasus Miranda Gultom. “Maaf saya tak hafal nama saksi-saksi yang diperiksa,” jawabnya.

Sebagaimana diketahui, KPK menetapkan Miranda Swaray Goeltom sebagai tersangka dalam kasus ini. Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu diduga kuat berperan menyuap politikus Senayan periode 1999-2004. Suap itu berupa 480 lembar cek pelawat senilai Rp24 miliar, yang disebarkan Nunun Nurbaetie (yang sudah ditetapkan sebagai tersangka) melalui orang dekatnya, Arie Malangjudo. Pemberian cek diduga untuk meloloskan Miranda sebagai Deputi Gubernur Senior BI 2004-2009.

Cek itu awalnya dikeluarkan Bank Artha Graha dari Bank Internasional Indonesia. Pencairan berbentuk cek itu dilakukan atas permintaan debitor bank yakni PT First Mujur Plantation and Industry. First Mujur menyerahkan seluruh cek tersebut kepada Ferry Yen untuk membeli lahan kelapa sawit di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada awal 2004.

Entah bagaimana, cek-cek itu lantas berpindah tangan ke PT Wahana Esa Sejati, perusahaan Nunun, lalu mengalir ke Senayan. Ferry Yen, yang mengetahui hal ini, meninggal dunia pada 2007. Diduga kuat, pemeriksaan dua pengusaha Sumut oleh tiga anggota KPK di Mapoldasu, Selasa (8/5), berkaitan dengan pembelian lahan kelapa sawit di Tapanuli Selatan tersebut. (adl/gus/sam)

Homo Homini Lupus

Ramadhan Batubara
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Aksi koboy bukan lagi dalam film ala pejuang Amerika Serikat mengejar kaum Indian. Dia telah hadir di Indonesia. Di jalanan protokol. Tanpa malu dan takut, seseorang bisa langsung mengeluarkan pistolnya; menodongkan senjata api (senpi) itu pada lawan.

Tidak itu saja, ada juga yang berlagak santai saat berdebatn.

Tapi, dia keluarkan pistolnya dan diletakkan agar lawan debat terdiam. Entah apa yang terjadi, yang jelas penggunaan pistol telah begitu bebas. Dan di Sumut, diperkirakan ada 15.000 senpi ilegal yang beredar. Luar biasa.

Tanpa berusaha mengulas soal keberadaan pistol, penggunaan senpi itu dianggap oleh beberapa kalangan sebagai tindakan gagah-gagahan. Istilah kerennya, overacting. Benarkah sebatas itu? Tampaknya tidak. Pasalnya, soal keberanian dan kenekatan orang menggunakan pistol sebagai senjata tidak sekadar untuk menakut-nakuti lawan; apalagi membela diri alias pertahanan. Senpi adalah senjata untuk menyerang. Dan, atas nama menyerang maka nalurinya adalah melumpuhkan lawan.

Pertanyaannya, kenapa seseorang harus melumpuhkan orang lain? Tentu jawabannya karena dia merasa terancam alias tak aman. Pistol dia gunakan sebagai tameng sekaligus senjata mematikan. Maka, ketika mereka merasa tak nyaman, beli saja pistol.

Nah, kecenderungan di atas sangat riskan. Pola pandang manusia yang homo homini socius – manusia sahabat bagi manusia – bisa tergeser. Unsur kehidupan manusia Indonesia yang ramah tamah, gotong royong, hingga toleransi bisa rawan. Bagaimana tidak, ketika manusia tidak lagi jadi sahabat bagi manusia lain, maka manusia akan berubah menjadi homo homini lupus; manusia adalah serigala bagi sesama. Seperti yang ditekankan oleh filsuf Plautus Asinaria (495 M) dengan kalimat lupus est homo homini yang artinya manusia adalah serigala (nya) manusia.  Maksudnya, manusia bukan hanya serigala (yang buas) bagi manusia lain, tetapi juga jati diri serigala menjadi milik manusia satu terhadap lainnya.

Tak ingin berlebihan, tapi sisi kemanusiaan di Indonesia memang cenderung menuju trend tersebut. Tidak hanya soal penggunaan senpi. Berbagai persoalan di negara ini cenderung diselesaikan dengan gaya rimba tersebut. Lihat saja tawuran anak sekolah hingga antarkampung, perebutan tanah, bahkan persaingan kerja dan usaha.

Lucunya, hal ini makin diperparah dengan apa yang dicontohkan kaum elite politik. Mereka terus saja menyajikan adegan perburuan kekuasaan, kepentingan, uang, dan pengaruh. Tambah menarik, dalam kepartaian ada juga yang tidak sekadar untuk melumpuhkan partai lawan. Dalam satu partai pun ada yang sibuk mencari kekuasaan. Sesama kader saling memangsa seakan lupa dengan arti perjuangan partai mereka sendiri.

Itulah, jika tidak segera ada tindakan bijak, Indonesia secara keseluruhan akan mengagungkan hidup ‘siapa kuat dia menang, siapa lemah mati’.
Menurut, filsuf dari  Inggris, Thomas Hobbes (1588-1679), dalam keadaan seperti ini dibutuhkan kekuatan. Yang dimaksudnya adalah negara. Ya, sebuah lembaga yang mampu mencegah kesewenang-wenangan pihak yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan terhadap rakyat yang lemah.
Nah, di Indonesia telah ada negara seperti yang dimaksud Hobbes, tapi kenapa kecenderungan homo homini lupus makin tampak? (*)

Pemain Gabung Timnas, Beto Uring-uringan

MEDAN- Pro Duta FC akan menghadapi laga berat melawan Semen Padang pada babak III Piala Indonesia 2012, besok, Kamis (10/5). Namun di saat krusial itu, Pro Duta justru kehilangan tiga pemain pilarnya. Ghozali Muharram, Rahmat Hidayat, dan Safrial Irfandi memutuskan bergabung ke Yogyakarta untuk mengikuti seleksi timnas U-22.

Tak ayal, Pelatih Pro Duta Roberto Bianchi pun uring-uringan. Apalagi lawan yang dihadapi kali ini tim papan atas di IPL. “Sekarang bukan waktu yang ideal untuk PSSI memanggil pemain saya. Ketika menyelesaikan kompetisi yang baik, saya mengirim semua pemain Pro Duta untuk timnas,” ujarnya, Selasa (8/5).

Idealnya menurut Beto, PSSI harusnya memanggil para pemain dari klub pasca kompetisi. Apalagi Kuda Pegasus saat ini harus menjalani dua kompetisi yakni Divisi Utama dan Piala Indonesia.

“Jika PSSI adalah seorang profesional mengirimkan pemain untuk saya. Kami bermain menjadi juara dan saya membutuhkan pemain ini kerja bermain satu tim ketika mengirim pemain untuk timnas,” tegasnya.

Ghozali selama ini menjadi andalan di lini depan. Sudah enam gol diceploskannya. Begitupun Rahmat Hidayat dan Safrial Irfandi di lini tengah. Keduanya merupakan pemasok umpan-umpan ke barisan depan.

Lampu hijau ketiganya bergabung dengan seleksi timnas memang datang dari manajemen. Meski mengaku terlambat mengirimkan pemain, Pro Duta sudah mendapat izin dari tim pelatih Widodo C Putro dan Liestiadi. Apalagi Pro Duta tak ingin dicap tidak mendukung timnas.
“Keterlambatan pemain ke timnas sudah dikomunikasikan ke pelatih, dan pelatih timnas memaklumi karena padatnya kompetisi yang dijalani,” tutur Asisten Manajer, Amin.(mag-18)

Pertama atau Kedua

Atletico Madrid vs Athletic Bilbao

LUAR BIASA pencapaian dua tim asal Spanyol Atletico Madrid dan Athletic Bilbao di ajang Europa League, tahun ini.
Status finalis yang disandang kedua tim ini kian menegaskan kehebatan sepak bola Spanyol di pentas Eropa.

Hanya saja, jika kita lebih fokus melihat potensi yang dimiliki kedua tim tadi,  tak dapat disanggah jika Atletico Madrid sepintas terlihat lebih hebat dibanding Athletic Bilbao.

Bayangkan, ketika Bilbao hanya mampu berprestasi di ajang domestic lewat torehan delapan kali juara Liga, 24 kali jawara Copa del Rey serta sekali kampiun Supercopa Espana, tim asal ibu kota Atletico Madrid justru telah menancapkan kukunya di tanah Eropa.

Ini bisa dilihat dari seabrek prestasi yang dimiliki tim berjuluk Los Rojiblancos itu yang sukses merengkuh tropi Cup Winners Cup (1962), Europa League (2010) dan Super Cup Eropa (2010).

Artinya, dini hari nanti Atletico mencoba untuk mengincar gelar keduanya di ajang Europa League. Jika mampu mengulang sukses, maka Atletico akan bersanding dengan Sevilla dan Real Madrid sebagai klub Spanyol yang mampu meraih dua trofi Liga Europa.
“Tim ini layak bermain di partai final meski sebelumnya sempat mengalami berbagai masalah. Tapi saat ini kami sudah membuktikan  kemampuan terbaik  yang kami miliki dengan meraih 16 kemenangan dari 18 laga agar dapat menuju Bucharest. Kami sangat senang bisa tampil di partai final,” bilang Diego Godin, bek senior Atletico Madrid.

Perlu diingat jika Godin merupakan salah seorang pemain yang turut mengantarkan Atletico Madrid menjadi jawara Europa League dua tahun lalu. Jelas ini menjadi modal penting sekaligus membuat motivasi Rojiblancos kian membubung saat menghadapi Bilbao.

Lantas, bagaimana kesiapan Bilbao menatap laga ini? Gelandang tim berjuluk Los Leones itu Oscar de Marcos mengatakan bahwa timnya akan tampil habis-habisan untuk memetik kemenangan atas Atletico Madrid. “Kami akan bertarung hingga ‘mati’ untuk memenangan laga final. Kami tidak terbiasa bermain di final, tetapi tahun ini kami terbiasa bermain di pertandingan-pertandingan besar,” ujar Marcos kepada Radio Intermediate.

“Sekarang kami mendapatkan pertandingan luar biasa dan kami akan mencoba untuk tidak melewatkan peluang karena anda tidak ingin terus merasakan hampa gelar juara,” tadasnya lagi.

Dalam dua pertemuan di ajang La Liga kedua tim saling mengalahkan. Hanya saja, jika acuannya bertanding di tempat netral, maka Athletic Bilbao pantas untuk dijagokan. Setidaknya ini merujuk pada rekor pertemuan pada partai final Copa del Rey yang berlangsung 24 Juni 1956. Pada pertandingan itu Los Leones mengalahkan Los Rojiblancos dengan skor 2-1.

Catatan lain dari partai final Europa League kali ini adalah bahwa pertandingan ini mengulang sukses Spanyol lima tahun yang lalu, tatkala Sevilla bertemu Espanyol pada partai final Piala UEFA 2006-2007. Saat itu Sevilla sukses menjadi jawara untuk kedua kali beruntun setelah menang adu pinalti.
Pertanyaannya, siapakah yang akan menjadi pemenang partai final Europa League tahun ini? Apakah Atletico Madrid, sehingga tim ibu kota ini mampu menyamai prestasi Sevilla yang dua kali memenangi Europa League, atau justru Bilbao yang meraih tropi pertamanya di kompetisi Eropa? (*)

Peluang Berat di Grup B

JAKARTA- Harapan berat dipikul timnas untuk lolos ke semifinal Turnamen An Nakbah di Palestina pada 13-23 Mei mendatang. Pasalnya, mereka tergabung dalam grup berat bersama Iraq, Uzbekistan, dan Kurdistan.

Manajer timnas Ramadhan Pohan yang dihubungi wartawan kemarin, terdengar pesimistis dengan peluang timnas. Dia menilai mayoritas lawan yang bakal dihadapi oleh Indonesia kemampuannya berada di atas Indonesia.

“Lawan yang kami hadapi cukup berat. Apalagi jika harus ke semifinal, kita harus juara grup pula,” ujarnya.

Kekuatan yang paling diwaspadai timnas adalah Iraq dan Uzbekistan. Bagi Ramadhan, dua negara tersebut di atas kertas berada di atas Indonesia.
“Tapi kami tidak menyerah begitu saja. Timnas akan mati-matian menghadapi mereka. Peluang tetap ada,” tutur anggota Komisi III DPR RI tersebut.
Seandainya bisa lolos pun, lanjut politisi asal partai Demokrat itu, lawan yang akan dihadapi oleh Indonesia di semifinal tidaklah enteng. Dari hasil drawing, juara grup B harus menghadapi juara grup A, yang dihuni tim tuan rumah, Vietnam tim U-22, Pakistan, dan Srilanka.

Dengan Persiapan timnas yang kurang maksimal dan minimnya uji coba, akan membuat perjuangan timnas semakin berat. Sampai saat ini, timnas baru melakoni satu pertandingan dan akan melakukan uji coba terakhir dengan tim Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).(aam/jpnn)

ISSI Medan Tekad Lahirkan Pembalap Sepeda Berbakat

MEDAN-Pengurus Cabang Ikatan Sport Sepeda Indonesia (Pengcab ISSI) Medan periode 2012-2016 bertekad untuk melahirkan pembalap-pembalap berbakat, yang bisa mengharumkan nama Kota Medan di tingkat nasional maupun internasional.

“Kami berharap olahraga balap sepeda di Medan semakin berkembang dan bertekad untuk menjadikan Kota Medan menjadi barometer sepada di Sumatera Utara dan Indonesia,” ujar Ketua Pengcab ISSI Medan Akbar Buchari usai dilantik di Hotel Santika Medan, kemarin (7/5).
Menurut Akbar, olahraga sepada sangat digemari masyarakat Kota Medan. Namun, pembinaan selama ini dinilai kurang serius. Karena itu, bersama pengurus lainnya, Akbar bertekad untuk mengembangkan olahraga tersebut. “Kami berharap agar Walikota Medan menyediakan sarana jalur sepada, sehingga olahraga ini kian memasyarakat,” harapnya.

Sedangkan, Ketua Pengprov ISSI Sumatera Utara Ivan Iskandar Batubara sangat yakin dengan kemampuan pengurus yang baru tersebut untuk mengembangkan olahraga balap sepada di Kota Medan. “Mereka merupakan orang-orang muda yang terbaik. Saya yakin mereka mampu memajukan olahraga sepada di Kota Medan,” ucap Ivan.

Ivan berharap agar para pengurus ISSI Medan tersebut bisa melakukan terobosan-terobosan dalam memajukan balap sepada Kota Medan. “Pengurus-pengurus baru ini diharapkan mampu menghasilkan atlet-atlet berprestasi yang akan mengharumkan nama Kota Medan di tingkat nasional,” harap Ivan.
Ivan menilai, olahraga sepada sudah menjadi bagian masyarakat sebagai budaya sehat. Karena itu, Pemko Medan diharapkan bisa terus mendukung program-program ISSI Medan. “Kita berharap agar Walikota Medan bisa menyediakan fasilitas untuk olehraga balap sepeda di Kota Medan,” katanya.
Hal senada juga dikatakan Ketua Umum KONI Medan Drs H Zulhifzi Lubis. Pria yang akrab dipanggil ‘Opunk’ tersebut berharap agar pengurus ISSI Medan yang baru mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi dari Kota Medan. “Kita berharap agar pengurus ISSI Medan melakukan koordinasi sehingga atlet Medan yang telah lolos ke PON bisa berprestasi,” ungkap Opunk.

Sementara itu, Walikota Medan Drs H Rahudman Harahap MM berharap agar semua pihak mendukung program-program ISSI Medan. “Kita menyambut baik pelantikan pengurus ini dan berharap ada terobosan-terobosan dalam memajukan balap sepada di Kota Medan,” papar Walikota.
Sebelum pelantikan, Pengurus ISSI Medan yang baru ini juga memberikan penghargaan kepada dua mantan pembalap sepada asal Kota Medan, yakni M Sanusi dan Sutiono. Turut hadir, Wakil Walikota Medan Drs H Dzulmi Eldin, Anggota DPRD Medan, Ketua Harian KONI Sumut John Lubis dan para undangan lannya. (jun)

Waspadai Motivasi QPR

LONDON- Akhir pekan ini Manchester City dijagokan merengkuh titel Premier League karena lawannya hanya Queens Park Rangers. Tapi itu bisa jadi batu sandungan karena motivasi berlipat QPR menghindari degradasi serta sosok Mark Hughes.

Dengan 86 poin yang dimiliki dan produktivitas gol yang lebih tinggi dari Manchester United, City jelas lebih diunggulkan untuk jadi juara musim ini. Bermain di Etihad Stadium sedangkan United harus melawat ke kandang Sunderland adalah faktor lainnya.
Apalagi lawan City nanti “cuma” QPR yang secara kualitas tim berbeda jauh dan rekor kandang mereka sangat bagus musim ini, dengan hanya baru satu kali kehilangan angka saat diimbangi 3-3 oleh Sunderland.

Maka bisa jadi pesta akan digelar di kota Manchester akhir pekan ini, tapi bukan di Greater Manchester melainkan di pusat kota. Meski kini berada di atas angin, City tetap harus mewaspadai QPR yang bisa saja memberi kejutan.

Faktor pertama adalah QPR sedang berusaha menghindari zona degradasi. Saat ini posisi The Hoops di urutan ke-17 dengan 37 poin. Mereka hanya unggul dua poin dari Bolton Wanderers serta selisih satu dari Aston Villa yang berada setingkat di atas mereka.
Apapun yang terjadi dengan dua pesaingnya itu, kemenangan tentu akan membuat QPR tak sekadar “numpang lewat” musim ini.
Faktor lainnya adalah Hughes yang kini menjadi manajer QPR. Pria asal Wales itu boleh jadi masih kesal dengan perlakuan City yang memecatnya dengan tidak hormat pada Desember 2009 dan digantikan Roberto Mancini.

Jika Hughes ingin melampiaskan ‘dendamnya’ tersebut maka mengalahkan City sekaligus mengagalkan mereka jadi juara adalah cara terbaik. Plus ia pun bisa dikatakan “membantu” eks bos-nya di MU, Sir Alex Ferguson.

“Kami belum membahagiakan diri kami sendiri musim ini, tapi kapan waktu yang lebih baik untuk melakukannya,” tukas Hughes di Sky Sports.
“Ekspetasi akan membeasr di laga itu dengan mereka (City) memburu titel juara, tapi kami akan memberi perlawanan terbaik. Sulit dipercaya apa yang muncul dari liga ini waktu ke waktu. Tapi semuanya kini ada di tangan kami dan hanya itu yang kami bisa lakukan,” lanjutnya.

“Jelas hasil partai lain akan membantu kami (lolos dari degradasi), tapi kami ingin ke sana dan menentukan nasib kami sendiri. Fokus saya adalah pada apa yang akan kami lakukan — saya punya feeling kami akan lebih baik dari saat melawan Chelsea pekan lalu,” tandas Hughes.(bbs/jpnn)

Dari Persiapan UN hingga jadi Paranormal Dadakan

Pengabdian Sarjana Sumut di Kepulauan Simeulue (1)

Kesuma Ramadhan, Kepulauan Simeuleu

Kesabaran dan keteguhan para sarjana Sumatera Utara (Sumut) mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal seakan teruji dengan beragam masalah. Mereka harus siap menjadi apa saja yang dibutuhkan.

Keadaan inilah setidaknya yang dialami 244 sarjana asal Sumut yang terlibat dalam program Sarjana Mendidik di daerah 3T yakni terluar, terdepan dan tertinggal atau SM-3T. Mereka melakukan pengabdian di Kepulauan Simeulue, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Tugas di Kepulauan Simelue jelas membuat mereka ngeri-ngeri sedap. Bagaimana tidak, kepulauan itu berada di daerah patahan gempa. Dan, hingga kini gempa masih terus terjadi. Tentu hal itu menjadi sesuatu yang menakutkan. Apalagi sejarah mencatat soal gempa dan tsunami dahsyat yang terjadi di kawasan tersebut pada 2004 lalu.

Kekhawatiran itu dirasakan langsung oleh Tomi Firmansah, seorang guru SM-3T yang ditugaskan mengajar di SMAN 3 Simeuleu Tengah. “Awalnya kami memang sering merasakan gempa-gempa kecil, namun karena sudah sering, jadinya kami terbiasa,”ujar Tomi yang mulai bertugas sejak Januari 2012 lalu.

Dalam proses pengabdiannya, Tomi bersama ketiga temannya yang lain yakni Rizki, Azzadin, dan Safriyadi harus memanfaatkan ruang kelas kosong untuk mereka tempati.

Selain dimanfaatkan sebagai tempat beristirahat, ruang kelas yang kosong itu juga dimanfaatkan sebagai dapur dan ruang tamu bagi keempat pengabdi yang telah mendeklarasikan sebagai keluarga kecil di perantauan.

Banyak ragam dan kisah yang telah mereka lalui selama empat bulan masa pengabdian.
Satu hal yang paling mengejutkan adalah para sarjana muda ini ternyata memiliki tugas ekstraberat dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah itu.

Pasalnya SMAN 3 Simeuleu Tengah memiliki nilai hasil UN 2011 yang sangat buruk. Yakni, kegagalan 100 persen atau tidak ada satupun dari 27 siswa didiknya yang lulus dalam ujian tersebut.

Ketiganya pun diharapkan mampu membantu peningkatan kualitas pendidikan di sekolah tersebut. Sayang, langkah itu tak langsung mulus. Pasalnya, dari pengakuan guru SM-3T lainnya, Safriyadi, beberapa bulan sebelum pelaksanaan UN atau tepatnya pertengahan Maret lalu, para guru pengabdi SM-3T harus mengalami insiden aneh.

Di sekolah itu terjadi kesurupan massal yang dialami siswa didik dalam rentan waktu seminggu berturut-turut. Tak pelak, guru SM-3T pun mengalihkan konsentrasi ilmu kependidikannnya. Mau tak mau mereka harus beralih menjadi paranormal dadakan untuk membantu penanganan masalah kerasukan yang menghantui seluruh penghuni sekolah.

“Akibat kerasukan itu, kepala sekolah terpaksa mengambil kebijakan dengan meliburkan siswa untuk mensterilkan sekolah dengan memanggil orang pintar. Sehingga awal kehadiran kita di sini jadi kurang efektif mengajar karena ikut membantu siswa yang kesurupan,” paparnya.
Tidak hanya itu saja, masih menurut Safriyadi, jauhnya tempat tinggal para siswa didik serta ketiadaan transportasi menjadi alasan lain terhambatnya perkembangan pendidikan di sekolah tersebut.

Pengakuan itu diperkuat oleh Sunardi, siswa kelas I SMAN 3 Simeuleu Tengah. Untuk tiba di sekolah, Sunardi mengaku harus menempuh jarak sekitar 4 km dan menghabiskan waktu satu jam berjalan kaki untuk bisa tiba di sekolahnya. Tak jarang dia harus berangkat mulai pukul 06.00 pagi agar tiba di sekolah sebelum jam pelajaran pertama dimulai.

“Apalagi pulangnya, selain panas juga harus menahan haus lapar setiap harinya,” ucapnya.

Fenomena yang terjadi di sekolah itu adalah sepercik gambaran yang dihadapi para pengabdi SM-3T. Sejumlah pengakuan yang memprihatinkan itu didapat, Sumut Pos ketika melakukan kunjungan dan penelusuran, di Pulau Simeuleu, 26-29 April lalu.

Masih banyak kisah unik lainnya. Sumut Pos memang beruntung mendapat kesempatan mengikuti mengikuti tim monitoring Direktorat Tinggi (Dikti) Pusat dan petugas (LPTK) Universitas Negeri Medan (Unimed) ke NAD.

Program SM-3t ini sejatinya ditelurkan pemerintah pusat melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) agar terjadi pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia. Melalui proses seleksi yang ketat, pemerintah setidaknya telah menyeleksi dan membekali 3000 sarjana berpotensi dari seluruh Indonesia, untuk mengabdi dan mengaplikasikan ilmunya di empat provinsi sasaran 3T, yakni NAD, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Papua.

Dalam praktinya, Kemdikbud menggandeng Dikti sebagai penyelenggara pusat, serta melibatkan seluruh Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) yang tersebar di seluruh Indonesia sebagai penyelenggara daerah.

Program yang telah berjalan sejak awal Januari 2011 lalu itu sudah sampai pada tahapan monitoring evaluasi (monev). Alasan Monev dilakukan, tak lain untuk mengetahui sejauh mana efektivitas program yang akan berakhir pada Desember 2012 mendatang.

Untuk mengetahui perkembangan itulah dibentuk tim yang memantau langsung ke lokasi. Kesempatan inilah yang membawa Sumut Pos ke Kepulauan Simelue.

Nah, untuk dapat mencapai kepulauan penghasil cengkeh itu, rombongan harus berangkat mengendarai pesawat terbang Merpati dengan kapasitas 56 penumpang. Keberangkatan dimulai pada Kamis pagi (26/4) lalu, tepatnya sekitar pukul 11.00 WIB.

Butuh waktu sekitar 60 menit untuk tiba di Kabupaten Simeulue Kecamatan Simelue Timur, yakni Bandar Udara Lasikin yang berada di tengah Kota Sinabang. Sesampainya di lokasi yang dituju atau sekitar pukul 12.30 WIB, rombongan langsung bertemu Kadisdik Kabupaten Simeuleu drs Arsin Rustam dan Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Simeuleu Drs Naskah Bin Kamar di Kantor Bupati Simeuleu yang berlokasi sekitar 5 km dari pusat kota.
Lalu, rombongan bertolak ke lokasi penginapan Losmen Baroqah yang berada di kawasan Jalan Pahlawan Nomor 178 Kota Sinabang yang memiliki jarak sekitar 10 km dari Bandara Lasikin. Dari losmen itulah, Sumut Pos akan memulai perjalanan. Termasuk penelusuran ke Simeluae bagian barat yang terkenal dengan minimnya persediaan air bersih dan bahan makanan. (Bersambung)