Home Blog Page 13671

Menyusui Saat Hamil, tak Masalah

Belum lama melahirkan dan sedang memberikan ASI ekslusif pada bayi, tiba-tiba Anda dinyatakan postif hamil lagi.  Apa yang akan Anda lakukan ? Kebanyakan ibu pasti akan berhenti menyusui buah hati karena takut terjadi sesuatu atas kandungannya.

Padahal tidak harus demikian.  Jika kehamilan Anda dinyatakan sehat oleh dokter,  dapat terus  menyusui. Sebab, secara alami tubuh akan memprioritaskan pemberian zat gizi kepada janin yang sedang tumbuh, tanpa mengurangi porsi yang dibutuhkan untuk membentuk ASI.

Sebagian ibu malah terus menyusui si kakak  sampai si adik lahir.  Jadi secara bersamaan bunda  tetap menyusui si kakak dan juga si adik . Istilahnya disebut Tandem Nursing.  ASI ibu tentunya akan cukup untuk si adik ketika lahir, karena kinerja hormon di dalam tubuh kita akan mulai mengaktifkan hormon-hormon yang terkait dengan menyusui yakni prolaktin dan oksitosin.

‘’Ibu hamil bisa sekaligus menyusui bayinya. Asalkan tidak memiliki riwayat keguguran atau susah memiliki anak. Seperti di AIMI Sumut sendiri, ada juga anggotanya yang mengalami seperti ini. Tapi tidak ada masalah, mereka tetap melanjutkan ASI nya,” kata Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Sumut, Nina Miranda Amalia, Kamis (5/4).

Menurutnya, kondisi ibu saat hamil dan menyusui memang mudah lelah, apalagi jika keduanya djalani secara bersamaan. Jika seorang ibu menyusui merasa kelelahan, maka hal ini dapat mengurangi jumlah ASI yang dikeluarkannya. Jadi dianjurkan untuk banyak istirahat dan cukup mengonsumsi makanan bergizi.

Disebutkannya ada beberapa literatur mengenai hal tersebut. Proses menyusui sendiri, akan melibatkan hormon oksitosin yang menyebabkan kontraksi pada payudara dan rahim. Tingkat kontraksi dari hormon oksitosin ini tidak memiliki dampak yang terlalu besar pada rahim selama hamil.  ‘’Namun begitu, alangkah baiknya, konsultasi langsung dengan dokter laktasi,” bebernya. (mag- 11)

Pemain Futsal Sumut Meningkat

MEDAN -Penggenjotan fisik pada Pelatihan Daerah (Pelatda) tim futsal Sumut menghadapi PON 2012 pada September mendatang mulai menunjukkan hasil. Badan Futsal Daerah (BFD) melihat kemajuan yang signifikan dalam upaya mencapai target emas pada PON nanti.

Sesuai standar yang menyebutkan penggenjotan fisik mencapai 70 persen, Ketua BFD Sumut, Rafriandi Nasution melihat 15 atletnya sudah menunjukkan kemajuan drastis. Itu terlihat dari hasil tes VO2 Max Syahidansyah cs terbaru.
“Tes pencapaian umum untuk fisik atlit mulai meningkat. Tes fisik bleep atau VO 2 Max  (volume to maksimal) pemain sudah tercapai,” ujar Rafriandi, Rabu (11/4) kemarin.

Menurut Rafriandi dari hasil VO2 Max itu, para pemain telah mencapai 13 hingga 14 bleep. Sementara untuk kiper mencapai  10 dan 11 bleep.

“Dibandingkan periode lalu, untuk pemain hanya mampu 9 dan 10. Sedangkan kiper dulu 9 dan 10. Jadi sekarang ini lebih baik peningkatan dari yang lalu. Ini harus kita akui,” jelasnya.

Di bawah komando pelatih Alpinus, dengan asisten Darma Sucipto dan pelatih kiper Surianto Iskak para atlit digencot menuju pencapaian tersebut setiap Senin-Jumat di lapangan Futsal Dispora Sumut, Jalan Pancing dan dilengkapi dengan Fitnes di KONI Medan setiap akhir pekan.

Kondisi fisik yang meningkat tentu berpengaruh pada performa pemain di lapangan. Terbukti dua laga ujicoba terakhir menghadapi ISORI dan Ligasu, Syahidansyah cs berpesta gol.  “Tentu ini pencapaian yang bagus. Namun saya tidak ingin mereka berpuas diri. Saya ingatkan kepada atlit, agar pencapaian ini harus dipertahankan dan ditingkatkan lagin” imbaunya.

Apalagi saingan merebut medali emas tidaklah ringan. Tim-tim futsal DKI Jakarta,  Sumsel,  Jabar,  Jateng, Kalimantan Tengah dan Sumatera Barat  siap menggagalkan ambisi tim Sumut untuk meraih medali perdananya. (mag-18)

Pendidikan tanpa Tekanan

Oleh: Rindu Rumapea

Ketika saya melakukan praktek mengajar sebagai guru di suatu sekolah, saya menyaksikan bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menempuh pendidikannya.

Alhasil, banyak siswa yang mendapat hukuman dari gurunya gurunya. Entah mengapa sering kali siswa yang kena hukuman tersebut adalah siswa yang sama. Hari-harinya pun di sekolah hanya ia nikmati ketika jam istirahat. Hanya pada saat itulah ia merasa tidak ada hal yang menakutinya.

Selain itu, ia merasa seperti baru keluar dari “tahanan”. Mungkin ada lebih banyak lagi siswa yang pada hari ini merasa tertekan ketika mengikuti pendidikannya, tidak menikmati pendidikannya, bahkan minder menjadi seorang siswa di sekolah tersebut.

Tekanan sistem
Tanpa kita sadari, sistem pendidikan yang kita bangun saat ini merupakan tekanan-tekanan kepada siswa. Komponen sekolah (guru, kepala sekolah, pegawai) lebih sering membeberkan hal-hal apa saja yang harus ditaati siswa ketika berada di sekolah ketimbang menjelaskan hal-hal apa saja yang bebas dilakukan oleh siswa. Kurikulum yang dibuat pemerintah juga hanya membeberkan hal-hal apa saja yang harus dimiliki oleh siswa. Siswa tidak bisa memilih untuk mengerjakan hal yang mana dan untuk tidak mengerjakan hal yang mana. Siswa hanya punya kewajiban untuk mentaati semua itu dan memiliki hak untuk menuntut diberikan semua itu. Sama saja, apa yang menjadi hak dan kewajiban siswa adalah tekanan (keharusan).

Entah darimana datangnya aturan bahwa siswa yang tidak mengerjakan tugas akan dihukum di dalam kelas, siswa terlambat akan tidak diperbolehkan masuk ke dalam kelas? Dan aturan ketika seorang siswa tidak membawa buku pelajarannya akan dikeluarkan dari kelas? Mungkin banyak lagi bentuk-bentuk keharusan yang diperuntukkan bagi siswa namun malah merusak selera siswa untuk belajar.

Harapannya adalah siswa tidak akan mengulangi kesalahannya yang sama, siswa akan semakin disiplin. Padahal, kita selalu katakan bahwa manusia tidak luput dari kesalahan, pendidikan untuk membebaskan seorang manusia dari belenggu kebodohan.

Akan tetapi, semua komponen pendidikan acuh tak acuh terhadap keinginan siswa. Bukankah kesalahan itu merupakan progres dari suatu pendidikan? Siswa pun tidak senang ketika ia telah melakukan kesalahan, namun sepertinya pendidikan telah terkikis kesabarannya. Selalu saja menuntut suatu perubahan yang konkret tanpa melihat proses kesadaran siswa.

Kebiasaan pendidikan yang dilakukan dengan tekanan berdampak hingga saat ini. Siswa tidak lagi tunduk pada guru atau aturan apabila tidak dibarengi adanya hukuman. Dan menjadi efektiflah menggunakan tekanan dalam mendidik siswa karena siswa pun tanpa menyadari sudah menikmati hal tersebut.

Semua komponen pendidikan telah berpikir bahwa pendidikan dengan tekanan akan lebih efektif. Paradigma ini hanya semata-mata untuk mempermudah pelaku-pelaku pendidikan dalam melakukan kewajibannya tanpa melihat objek pendidikan yaitu siswa, suka atau tidak dengan cara tersebut, dengan jujur mengatakan dari hatinya.

Lepas dari tekanan
Akhirnya, cara terbaik yang dilakukan siswa untuk menikmati pendidikan adalah keluar dari tekanan. Segala usaha pun dikerjakan, mulai dengan cara-cara benar maupun cara salah. Apakah kita hanya berharapan para siswa akan menemukan cara-cara benar untuk lepas dari tekanan tersebut? Tidak semua bisa berpikir seperti itu. Pendidikan telah meletakkan racun dan madu kedalam tangan siswa.

Jika siswa bisa lepas dari tekanan dengan benar (belajar keras) maka ia akan menikmati madu, dan apabila siswa lepas dari tekanan dengan cara yang salah maka ia akan menikmati racun. Pendidikan telah meletakkan pilihan yang membuat hancur peserta didiknya. Dan apa yang kita saksikan saat ini—kemiskinan, pengangguran, kejahatan, dll—tidak lain adalah siswa-siswa yang dulu memilih lepas dari tekanan dengan cara-cara yang tidak benar.

Pendidikan bertahun-tahun lamanya yang dijalani seorang siswa membuatnya merasa senang—sangat senang—ketika ia telah lulus dari pendidikan tersebut. Ia merasa bangga telah melewati semua pendidikan (tekanan) tersebut. Karena selama pendidikan hanya berusaha lepas dari tekanan, ia pun bingung apa selanjutnya yang dikerjkan setelah lulus sehingga butuh waktu untuk menemukan jawaban tersebut—itu pun kalau ia temukan. Hal inilah yang menambah daftar pengangguran di negeri ini.

Tidak semua siswa lebih memilih membeli buku dari pada bermain game, membaca buku dari pada nonton tv. Tida semua juga siswa lebih menyukai penambahan perlengkapan laboratorium dari pada penambahan kantin sekolah. Dan tidak semua siswa lebih meminta diajari dengan cara-cara yang menyenangkan dibandingkan penambahan jam istirahat. Seharusnya pendidikan bisa mengakomodir tekanan-tekanan tersebut dengan memfasilitasi keinginan siswa, setidaknya mendengar keinginan mereka.

Kita perlu belajar dari film Taare Zameen Par yang memberikan pendidikan kepada anak sesuai dengan kemampuannya tanpa memberikannya tekanan. Dalam film tersebut, guru menjadi fasilitator yang baik bagi siswanya tanpa harus menghakiminya terlebih dahulu tetapi memberikan apa yang disukai siswanya.

Komponen sekolah, aturan, dan kurikulum seharusnya memberikan ruang kosong kepada siswa untuk menjelaskan dan mengerjakan keinginannya. Sudah saatnya juga pendidikan dilakukan tanpa adanya hukuman atau penghakiman kepada siswa melainkan yang ada yaitu kesabaran.

Pendidikan harus bertanggung jawab bahwa setiap siswanya menjadi manusia yang mampu berjalan diperadabannya. Bukan harus dengan memiliki kompetensi yang ada dalam kurikulum, melainkan dengan kemampuannya sendiri. Ini bukanlah kegagalan kurikulum, tetapi mengenai bagaimana kurikulum/system bisa menerima kemampuan siswa apa adanya.

Secara sederhana, pendidikan harus mampu membuat siswa lebih menyukai jam-jam belajarnya ketika di sekolah daripada waktu istirahatnya. Jika tidak demikian, maka pendidikan kita tidak lagi mencerdaskan siswa-siswanya. (*)

Penulis Aktif di Perkamen

Digelar, AMPI Cup 2012

MEDAN- Even sepak bola bertajuk AMPI Cup I 2012, bakal digelar Sabtu (25/2) mendatang. Namun urusan Technical Meeting sudah digelar Sabtu (18/2) kemarin di Lapangan Sepak Bola Martubung Pasar Enam. Seperti biasa, agendanya sosialisasi peraturan dan undian pembagian pool.

AMPI Cup 2012 akan mempertandingkan dua kelompok umur yakni tahun kelahiran 1997 dan 2000. Even antar SSB ini akan mulai digelar Sabtu (25/2) mendatang. Untuk itu, Koordinator Pelaksana, Ruslan, dalam kesempatan ini meminta kepada seluruh peserta untuk hadir dalam acara pembukaan.

“Pembukaan akan kita lakukan Sabtu mendatang. Jadi, kami harap seluruh peserta yang ambil bagian bisa datang menghadiri acara pembukaan,” ucap Ruslan.

Adapun aturan yang disosialisasi antara lain, tidak dibenarkannya pemain yang sudah duduk di bangku SMP turun di tahun kelahiran 2000. Pengecualian dilakukan untuk posisi kiper. “Untuk kiper, kita batasi hingga kelas 1 SMP,” terang Ruslan.

Sementara itu, hasil undian grup adalah sebagai berikut, di tahun kelahiran 1997, Pool A diisi AMPI A, Kenari Utama, Damar FC dan Bulu Cina. Pool B, Medan Utara Merah, Kebun Bunga, Patriot. Pool C, Bangun Jaya, Bina Satria, Scorpions. Pool D, Albatros, Manunggal, Karisma. Pool E, Tunas Muda Berastagi, OP Ladon 89, Surya Putra Marendal. Pool F, AMPI 2, Generasi Kosek, Hamparan Permata. Pool G, Medan Jaya Remaja, Generasi Medan, Karsima Kuala. Pool H, PTP Wilayah. Gumarang, dan Putra Melati.

Dan untuk kelahiran 2000, Pool A ditempat AMPI, Generasi Medan A, Budi Agung. Pool B, Sejati Pratama, PTP Wilayah I, Op Ladon 89. Pool C, Putra Jaya B, Tunas Bangsa A, Bina Satria A. Pool D, Scorpion, Kebun Bunga, Mayang Putra dan Pool E.(ful)

Kembangkan Pendidikan Islam Lewat Dekolonisasi Pendidikan

UMSU Gandeng USM Gelar Seminar Antar Bangsa

Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) kembali melakukan kerjasama dengan Pusat Kajian Pengurusan Pembangunan Islam (ISDEV) University Sains Malaysia, dengan mengadakan Seminar Antar Bangsa yang mengambil tema Dekolonisasi Pendidikan.

Selain sebagai upaya membangun silaturahmi antara UMSU,ISDEV-USM, dan bebrapa Universitas lainnya, kegiatan seminar antar bangsa yang telah terlaksana untuk kelima kalinya itu, juga dilaksanakan sebagai bentuk pengembangan sebuah lembaga pendidikan lewat ilmu pengetahuan.
“Tema Dekolonisasi Pendidikan sengaja dipilih dalam seminar kali ini.

Bertujuan memberikan pemahaman bagaimana umat Islam diharapkan mampu membangun pendidikan lewat potensi yang ada pada dirinya dan terlepas dari penjajahan pihak-pihak luar. Untuk itu dengan seminar ini juga kedepannya UMSU dan USM bisa berdiri dan membangun kekuatan sendiri dengan pendidikan yang menganut sistem Islami dan tidak lagi menerapkan sistem pendidikan yang dibawa pihak asing,” terang Rektor UMSU, Drs Agussani MAP saat memberikan sambutan pada seminart itu di Aula kampus UMSU, Rabu  (11/4).

Masih menurut Agussani, Dekolonisasi tidak terlepas dari kemajuan teknologi. Sehingga, dalam kegiatan ini bilang Agussani, UMSU, USM serta  sejumlah Universitas dari luar Provinsi seperti Aceh, Riau dan  Provinsi lainnnya yang turut hadir dalam seminar diharapkan mampu menggali jati diri.

“Ketika lembaga pendidikan telah memiliki jati diri, dan mampu berdiri sendiri akan mampu menyaingi perkembangan pendidikan dari dunia Barat,”tegasnya.
Hal senada juga disampaikan ketua panitia pelaksana yang juga menjabat sebagai Pembantu Rektor IV Sukhrawardi K Lubis SH SpN.

“Kita berharap sebagai wacana pendidikan, bisa terwujud dalam pembangunan dengan menularkan kepada masyarakat dan lembaga pendidikan lewat pembanguna Islami,” harapnya.

Untuk mewujudkannya bilang Sukhawardi, maka akan terus disosialisasikan kepada masyarakat bahwa pembangunan secara Islami akan menciptakan iklim kesejahteraan.

Seminar tersebut diisi tujuh narasumber, yakni Muhammad Syukri Salleh dari ISDEV-USM dengan tema “Dekolonisasi Pendidikan Satu Keniscayaan” Dosen Pasca Sarjana UPI Bandung Prof Dr Hj Mulyani, MSc dengan tema “Dekolonisasi Pendidikan Dalam Perspektif Ilmu Pendidikan” Dosen UMSU, Hj Siti Mujiatun SE MM, dengan tema “Dekolonisasi Sistem Pendidikan dalam Perspektif Gender” Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN SU, Dr Sukiman MSi dengan tema “Dekolonisasi Sistem Pendidikan dan Langkah-Langkah Aksi” DR Zakaria bahari, dari ISDEV, dengan tema “Dekolonisasi Pendidikan dalam Disiplin Ekonomi Islam” DR Muhammad Tahir dari USM dengan tema “Dekolonisasi Pendidikan dalam Perspektif Tazkiyah Al-Nafs”, dan Ketua PW Muhammadiyah Sumut, Prof Dr Asmuni MA.

Selain melaksanakan seminar, sehari sebelumnya, UMSU dan ISDEV-USM juga melaksanakan workshop tentang Pembangunan Islam dari Berbagai Dimensi yang berlangsung di kampus Pasca Sarjana UMSU.

Workshop tersebut diikuti sekitar 70 pemakalah yang berasal dari luar negeri dan beberapa Universitas dari Aceh, Riau, serta sejumlah Universitas Kota Medan lainnnya. (*)

Panitia Distribusikan Naskah Soal ke Nias

MEDAN-Panitia  Ujian Nasional (UN) Sumut sudah mendistribusikan naskah soal Ujian Nasional (UN) jenjang SMA / MA / SMALB dan SMK di empat kabupaten/kota di Sumut, Rabu dinihari (11/4) sekitar pukul 02.00 WIB.

Adapun pendistribusian naskah soal UN di empat daerah tersebut dilakukan dengan menggunakan transportasi laut.
Keempat kabupaten/kota itu diantaranya, Nias Selatan, Nias Barat, Nias Utara dan Kota Gunung Sitoli.

“Pendistribusian soal kita lakukan sejak pagi dinihari, atau sekitar pukul 02.00 WIB. Kita mendistribusikan lebih awal karena keempat daerah tersebut harus menggunakan transportasi laut yang memakan waktu lebih panjang,”ujar Ketua Panitia Pelaksana Ujian Nasional (UN) Dinas Pendidikan(Disdik) Sumut, Hendri Siregar, Rabu (11/4).

Untuk proses pendistribusiannya, bilang Hendri, dilakukan sesuai dengan SK yang telah ditetapkan. Yakni soal yang didistribusikan provinsi akan diambil oleh disdik kabupaten dari keempat daerah tersebut, dan tetap mendapatkan pengawalan dari  perguruan tinggi serta petugas kepolisian.

“Rencana pendistribusian ini sudah direncanakan secara matang sejak beberapa hari lalu. Untuk daerah terjauh merupakan prioritas pendistribusian karena selain ketepatan waktu, kemananan soal juga harus diperhatikan. Hal ini untuk menghilangkan isu mengenai adanya kebocoran soal,” ucapnya.
Sedangkan pendistribusian soal ke kabupaten/kota lainnya, sambungnya, akan terus dilakukan hingga tanggal 14 April mendatang.
Distribusi di dearah lainnya, menurut Hendri, dilakukan melalui jalur darat yang tetap didampingi pengawas dan petugas kepolisian.

Sejauh ini, jumlah pengawas di tingkat satuan pendidikan akan melibatkan sekitar 1.837 orang, yang terdiri atas dosen Unimed, Universitas Sumatera Utara (USU), Politeknik Medan, Kementerian Agama, dan Kopertis.

“Dengan sistem pengamanan yang melibatkan aparat kepolisian kami berharap, isu kecurangan berupa kebocoran soal pada tahun ini tidak ada, dan kemungkinan indikasi kebocoran naskah pada pelaksanaan UN 2012 ini akan kecil kemungkinannya,”sebutnya.

Masih menurut Hendri, target kejujuran itu juga sesuai dengan MoU Fakta Integritas Kejujuran yang ditandatanagani oleh Kepala Dispendik se-Sumut beberapa waktu lalu.

Sementara Kepala Disdiksu, Drs Syaifu Syafri, MM mengakui, jika pihaknya sudah menyiapkan segala kemungkinan untuk mengantisipasi tindak kecurangan dalam pelaksanaan UN tahun ajaran 2011-2012. “Segala keperluan yang berkaitan dengan UN, sudah tersosialisasi mulai dari siswa sampai pada pengawas ujian.

Selain itu, Disdiksu juga telah berkoordinasi dengan kepala SMA/MA dan SMK se-Sumut untuk menekankan kejujuran dalam menyelenggarakan UN. Diharapkan, seluruh pengawas ruang dan pengawas independen UN bisa menciptakan suasana yang nyaman dalam pelaksanaan UN nantinya,” ujar Syaiful. (uma)

11 Resmi jadi Tersangka Judi Game Online

MEDAN-Polda Sumut menetapkan 11 tersangka dari 32 yang diamankan di Warung Internet (Warnet) Supernet, Jalan Komplek Asia Mega Mas Blok EE No 20, Medan Area, Senin (9/4) sekitar pukul 22.00 WIB.

Kasubdit III/ Umum Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Poldasu, AKBP Andri Setiawan melalui Kanit Judi Kompol Saptono kepada wartawan menyebutkan, 11 orang yang ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan yakni, AN (36), warga Jalan AR Hakim Medan Area, MN D (24), warga Jalan Sisingamangaraja, DA (22), warga Asrama TNI AD Jalan Durian, KWS (37), warga Jalan Sakti Lubis, BS (38), warga Jalan AR Hakim, EA (39) warga Jalan AR Hakim, HA (30) warga Jalan Selam, HNO (30) warga Jalan Bandar Baru, HPP (25) warga Tanjung Morawa, MZ (29) warga Jalan Menteng Gang Buntu, dan ELS (47) warga Jalan Asia Komplek Asia Mega Mas.

“Ke-11 tersangka satu orang kasir, tiga karyawan/operator dan tujuh pemain judi game online poker,” katanya. Pengakuan tersangka sistemnya ada dua yakni, bisa dibeli dengan voucher dan bisa dibeli atau ditukar dengan uang melalui transfer dari acount poker pembeli dan penjual. Omset yang diperoleh mencapai Rp 5 juta per hari.(gus)

Ganja 30 Kg Dimusnahkan

MEDAN-Sat Narkoba Polresta Medan memusnahkan 30 kg barang bukti daun ganja kering, di halaman Mapolresta Medan, Rabu (11/4) siang.

Kasat  Narkoba Polresta Medan, Kompol Juli Agung Pramono SH, Sik MHum langsung mempimpin pemusnahan ayng disita dari tersangka Sel (40), warga Jalan Kong Bur Vinta Maju Desa Kok, Kecamatan Belang, Kabupaten Gayo Luwes, NAD, yang diamankan petugas di kawasan Jalan Banteng, Desa Mekar Sari Kecamatan Delitua, Rabu (14/3) malam.

Juli mengatakan, pemusnahan barang bukti dilakukan untuk melengkapi berkas dan juga menghindari penyalahgunaan, serta menghindari penyusutan.  Pemusnahan barang bukti dihadiri tersangka dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Medan.(gus)

Truk Trailer Terjun ke Laut, Sopir Tewas

BELAWAN- Truk pengangkut kontainer (trailer) BK 8412 BA terjun ke laut saat memuat barang di Dermaga Terminal Penumpang Pelabuhan Ujung Baru Belawan, Rabu (11/4) pukul 01.00 WIB. Dalam kejadian tersebut, Riswan Simangunsong (35), sopir truk tewas terjepit di dalam truk yang dikemudikannya.

Informasi dihimpun Sumut Pos di Pelabuhan Belawan menyebutkan, truk trailer milik perusahan transportasi pengangkutan PT Belawan Indah (BI) itu berawal ketika truk dikemudikan Riswan masuk ke areal dermaga pelabuhan untuk memuat bongkaran barang kontainer dari kapal kargo. Diduga karena Riswan mengantuk, truk trailer yang dikemudikannya terus melaju ke pinggir dermaga hingga akhirnya terjun ke laut.

“Tadinya kami sempat berteriak supaya berhenti, tapi nggak didengarnya dan truknya tetap terus jalan lalu masuk tercebur ke laut,” kata Rendi, pegawai honor di PT (Persero) Pelabuhan I Cabang Belawan.

Salah seorang staf PT Belawan Indah, Arman mengatakan, pihak perusahaan belum mengetahui secara pasti penyebab terjadinya kecelakaan truk trailer yang dikemudikan, Risman. Namun menurut dia, truk trailer buatan tahun 1990-an itu masih layak untuk dioperasikan. “Saya belum tahu penyebabnya, hingga terjadi seperti ini. Kalau untuk kondisi truk masih baik dan selalu mendapatkan perawatan (diservice),” tandas, Arman.(mag-17)

Minta Jatah Inalum Harus Tegas

Gatot Janji Segera Bahas Konsorsium Inalum

JAKARTA- Hingga saat ini belum juga ada progres penting terkait model pengelolaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) pasca 2013. Keinginan Pemprov Sumut dan 10 kabupaten/kota di sekitar Danau Toba untuk mendapatkan jatah saham, juga belum ditindaklanjuti secara konkrit.

Dalam hal pembentukan Konsorsium Daerah misalnya, baru akan dibahas. Juru Bicara bupati/walikota 10 daerah di sekitar Danau Toba, Mangindar Simbolon, hanya menyebutkan bahwa Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho akan segera mengundang 10 bupati/walikota dimaksud, untuk membahas pembentukan Konsorsium, dalam waktu dekat.

Mangindar menyebutkan, rencana pembahasan pembentukan Konsorsium itu setelah 10 bupati/walikota menyurati Gatot, agar masalah ini mendapat prioritas. Agar bukan sekedar rencana, agenda pembahasan pembentukan Konsorsium itu menjadi salah satu butir kesepakatan yang dituangkan dalam poin-poin penting hasil Rapat Manajemen Kawasan Danau Toba yang digelar di Medan, Selasa (10/11).

“Di salah satu butir kesepakatan, agar segera ada langkah-langkah konkrit untuk persiapan pembentukan Konsorsium Daerah,” ujar Mangindar Simbolon saat dihubungi koran ini, kemarin (11/4).

Gatot, sebagai Ketua Manajemen Kawasan Danau Toba, menyetujui butir dimaksud, termasuk Sekdaprov Sumut Nurdin Lubis. Bupati Samosir itu mengatakan, rapat tersebut juga dihadiri Ketua Otorita Asahan, Effendi Sirait.

Dijelaskan Mangindar, Effendi Sirait juga memberikan masukan penting ke pemda. Effendi minta agar Pemprov dan 10 kabupaten/kota, bersikap tegas. “Beliau (Effendi Sirait, red) mengatakan, tanpa ada konsep dan permintaan yang tegas dari daerah, sulit pemda mendapatkan saham,” kata Mangindar, menirukan saran Effendi.

Lantas, apa langkah pemda agar bisa mendapat jatah saham Inalum? Mangindar menjelaskan tahapan-tahapan yang akan dikerjakan. Pertama, Pemprov dan 10 kabupaten/kota harus menyepakati dulu bisa tidaknya menggandeng perusahaan swasta yang punya pengalaman di bidang energi dan punya dana yang akan digunakan untuk membeli saham.

“Ini harus ada kesepakatan dulu,” ujar satu-satunya bupati di wilayah Sumut yang dikirim pusat ikut studi singkat di Harvard University, AS, beberapa waktu lalu, itu.

Nah, kalau sudah disepakati, lanjutnya, barulah dibentuk Konsorsium Daerah. Begitu sudah terbentuk, konsorsium ini barulah mengirim delegasi ke pusat untuk melakukan negosiasi.

Namun diakui, upaya pertama proses nego ke pusat adalah minta golden share. Tapi jika tawaran pertama ini gagal, maka model Konsorsium yang akan diperjuangkan.  Mangindar mengatakan, sebelum kontrak perusahaan Jepang atas Inalum habis Oktober 2013, masalah angka-angka persentase saham harus sudah ada kepastian.(sam)