31 C
Medan
Saturday, April 4, 2026
Home Blog Page 13678

SSB Dispora Juara

MEDAN-SSB Dispora Sumut menjadi kampiun pada turnamen sepak bola Piala Alumni Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Sumut 2012.
M Zulfadlin dkk meraih gelar juara setelah berhasil mengalahkan SSB Karang Taruna Binjai 1-0 dalam partai final yang digelar di lapangan PPLP Sumut,  Jalan Pembangunan Sekolah, Minggu (8/4). Gol semata  wayang milik SSB Dispora  itu diciptakan oleh Evan Yulio di menit ke 40

SSB Dispora Sumut melaju ke babak final setelah mengalahkan perlawanan sengit melawan SSB Hamparan Permata dengan skor tipis 1-0. Sedangkan SSB Karang Taruna Binjai melangkah ke final setelah menundukkan SSB Sinar Sakti dengan skor meyakinkan, 3-0.

Di babak pertama, pertandingan berjalan dengan tempo sedang. Jual beli serangan pun mewarnai 25 menit pertama. Namun dari beberapa percobaan kedua tim belum tercipta sebiji gol pun.

Di paruh kedua, kedua kesebelasan bermain kian terbuka. Penjaga gawang SSB Karang Taruna Binjai beberapa kali mendapatkan ujian dari penyerang SSB Dispora Sumut. Namun, masih belum merubah kedudukan.

Di menit ke-40, SSB Dispora Sumut membuka asa meraih trofi tertinggi. Berawal dari umpan terobosan pemain tengah,  Evan Yulio yang lolos dari jebakan offside berhasil mengecoh Fajar Bimantoro dan menyarangkan si kulit bundar ke dalam gawang. (mag-10)

Dahlan Iskan Ngamuk Lagi Gratiskan Tol Ancol Barat

JAKARTA-Menteri BUMN Dahlan Iskan kembali beraksi di pintu tol, kemarin (9/4). Kali ini Dahlan turun tangan menggratiskan mobil yang masuk ke ruas tol Ancol Barat, Jakarta. Pasalnya antrean di pintu tol ini sangat panjang.

Sekitar pukul 15.00 WIB, Dahlan dalam perjalanan pulang ke kantornya setelah kunjungan lapangan ke sebuah gudang milik perusahaan BUMN.
Tiba di pintu Tol Ancol Barat, kemacetan terjadi. Antrean panjang terjadi di pintu tol tersebut.

Sejurus kemudian Dahlan turun dari mobilnya. Mantan CEO Jawa Pos Group ini ingin mengetahui kondisi kemacetan. Dia juga sempat berbincang dengan petugas tol. Dari laporan petugas itu, diketahui bahwa pintu tol ini memang macet setiap hari.

Dahlan kemudian membuka paksa pintu tol yang menjadi biang kemacetan tersebut. Sehingga kendaraan yang mengantre di mulut tol bisa masuk ke jalan bebas hambatan tanpa membayar tiket sepeser pun. “Pintu Tol Ancol Barat luar biasa macetnya,”kata Dahlan.

Dengan mengenakan kemeja putih, celana hitam dipadu dengan sepatu kets, Dahlan membiarkan mobil masuk tol tanpa membeli karcis masuk.
Dahlan lantas menginstruksikan Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Infrastruktur dan Logistik Sumaryanto Widayatin untuk membuat terobosan di pintu tol biang macet tersebut. Yakni dengan menempatkan sedikitnya empat orang petugas penarik karcis yang berdiri.

Pasalnya, empat loket di pintu tol itu tidak memadai mengurai kemacetan. “Empat loket yang tersedia di pintu tol tersebut sudah dibuka seluruhnya. Tapi kemacetan masih terjadi. Berarti di pintu tol ini perlu petugas karcis yang berdiri. Tolong langsung dilaksanakan,” pinta Dahlan Iskan.
Rupanya jalan tol ini bukan milik PT Jasa Marga Tbk (JSMR), perusahaan plat merah yang mengelola jalan tol. Tol tersebut milik PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), perusahaan jalan tol yang 70 persen sahamnya beredar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jasa Marga memang punya saham di CMNP, namun jumlahnya tidak signifikan yaitu hanya 4 persen.

Manajer Divisi Pelayanan dan Pemeliharaan PT CMNP, Bagus Medi Suarso mengakui adanya aksi Dahlan Iskan di Tol Ancol Barat. “Tapi hanya beberapa menit. Sekarang sudah normal lagi,”kata Bagus. (dri/jpnn)

Petani Beralih ke Padi Lokal

PANAI TENGAH- Petani di Kecamatan Panai Tengah, Labuhanbatu, mulai meninggalkan varietas kuku balam dan ramos. Alasannya, menanam padi jenis itu kurang menguntungkan. Ini akibat susahnya perawatan kedua jenis padi itu. Kini para petani memilih budidaya padi jenis lainnya seperti Aries, Toras, dan Mandiri.

“Sekarang petani memilih menanam padi jenis lokal, karena perawatannya lebih gampang, dan hasilnya cukup menjanjikan,” kata Nadrik (45) petani di Kecamatan Panai Tengah, Senin (9/4).

Nadrik menambahakan, dalam pola pertanian sawah, mereka hanya menanam dan memanen padi setahun sekali. Selain itu untuk pengairan sawah hanya memanfaatkan air hujan dan air pasang aliran Sungai Barumun.

Persawahan di sana, kata dia, masih cukup luas. Sedikitnya ada ratusan hektar lahan persawahan milik warga yang masih bertahan sebagai penghasil padi. Namun ada juga sebagaian warga yang mengalih fungsikan lahan pertaniannya menjadi perkebunan sawit.
Ditambahkan Nadrik, mereka melepas harga gabah kepada para penampung sekira Rp3.100 hingga Rp3.300 per kilogram.
Dalam per hektar sawah, mampu menghasilkan gabah lima ton. Untuk lahan yang dikelola dengan sistem pinjam pakai, pola sewa dengan barter padi kepada pemilik lahan.

Senada dikatakan Sulaiman (39). Menurutnya, kehidupan para petani di Kecamatan Panai tidak mengetahui cara pemanfaatan lahan dengan baik. Kondisi ini yang membuat para petani sulit untuk mengembangkan hasil pertanian mereka.

“Ya, tiga bulan sesudah panen, lahan tidak dipergunakan. Tidak ada yang menanaminya,” katanya. (cr1/smg)

LP3I Teken MoU dengan Unisel dan XL

MEDAN- Kualitas suatu lembaga pendidikan ditentukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN) dengan kriteria pemenuhan tujuh standar pendidikan di Indonesia. Diantaranya, standar Kurikulum, sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.

Peningkatan kualitas inilah yang kini menjadi konsentrasi Kampus Politeknik LP3I Medan, lewat peningkatan kurikulum di bidang teknologi.

“Keseriusan LP3I dalam peningkatan kurikulum berbasis teknologi dengan melakukan penandatanganan kesepemahaman (MoU) antara Universitas Selangor ( Unisel) Malaysia, dan XL Axiata. Selain berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman di dunia kerja, bentuk kerja sama ini nantinya akan memberikan sinergi antara lembaga pendidikan dengan lembaga industri seperti XL dalam penyediaan lapangan pekerjaan,” ungkap Direktur Politeknik LP3I Medan, Akhwanul Akmal, dalam acara penandatanganan MoU di Gedung XL, Senin (9/4).

Saat ini, kata Akmal, lembaga pendidikan tidak hanya berfikir mengenai proses belajar mengajar, dan menamatkan peserta didik saja, melainkan peningkatan kualitas layanan pendidikan dalam menciptakan SDM yang handal dan siap pakai.

“Untuk itulah kita butuh dukungan informasi yang disediakan XL maupun dari lembaga pendidikan luar seperti Unisel lewat kesempatan belajar di negeri Jiran Malaysia. Ke depannya diharapkan produk-produk unggulan yang diciptakan LP3I bisa berorientasi di bidang teknologi,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Perwakilan Unisel di Indonesia TS Reza SE,MM mengatakan, ada tiga keuntungan yang didapat dari kerja sama yang dilakukan.

Diantaranya, bilang Reza, kuliah beberapa hari di Selangor, kunjungan dosen ke lembaga pendidikan lain sebagai proses belajar mengajar untuk mendapatkan sertifikasi dosen maupun pengakuan BAN.

“Selain itu, ada juga pertukaran aktifis kampus dalam bentuk saling berbagi ilmu pengetahuan dalam menciptakan peningkatan mutu SDM sesuai harapan,” ucapnya.

Sementara GM FMS XL West Region, Bambang Badra menyebutkan, dengan kerja sama ini, nantinya mahasiswa akan lebih mudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan sesuai akses yang diberikan XL.

“Ini juga kita lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan dengan memberikan berbagai kemudahan. Banyak manfaat yang bisa diberikan XL dalam memudahkan para siswa didik diantaranya kartu benefit untuk komunitas di dalam kampus dan akses data yang sangat luas untuk menyelesaikan tugas kuliah,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu juga XL memberikan berbagai akses kemudahan untuk mahasiswa dengan memberikan kartu perdana XL lewat program komunitasnya.

Selain melakukan penandatanganan (MoU), acara itu juga dibarengi dengan Public Lecture, Green Technology dengan tema “Policy & Implementation in Malaysia as part of world strategy” yang diisi oleh, Prof. DR. Mohd. Kushairi Bin Mohd Rajuddin (Dean Faculty of Science & Biotechnology, University Selangor, Malaysia). (uma)

Rumah Tipe 36 Wajib Listrik Tenaga Surya

JAKARTA- Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) berencana mewajibkan para pengembang perumahan untuk menggunakan lampu hemat energi dengan ditunjang panel tenaga surya pada rumah baru tipe 36 ke atas.

Pemerintah berharap dengan pemanfaatan energi alternatif tersebut, konsumsi listrik secara nasional yang dipasok PLN (Perusahaan Listrik Negara) dapat lebih dihemat.

“Kita (Kemenpera-red) akan mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) yang mengatur penghematan energi untuk rumah tipe 36. Jadi pengembang perumahan nantinya diwajibkan untuk menggunakan lampu hemat energi dengan tenaga surya (solar cell),” ujar Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz kemarin.

Dengan begitu kedepan seluruh rumah diatas tipe 36 diharapkan dapat menggunakan solar cell penerangannya lampu. Selain itu, pemanfaatan energi tenaga surya juga bisa dimanfaatkan untuk lampu penerangan jalan.

Sedangkan PLN, imbuhnya, nanti hanya dijadikan pendukung kalau ada masalah dengan solar cell. Misalkan jika baterai lampu hemat energi tersebut habis maka masyarakat bisa tetap memakai listrik.

“Lampu hemat energi tenaga surya ini kan sebenarnya sangat mudah diaplikasikan. Alatnya tinggal diletakkan di atap rumah sehingga dapat menyerap energi matahari. Setelah itu disambung ke baterai yang dimasukkan di atas plafon. Jika siang hari selama ada cahaya matahari energi akan masuk ke baterei dan malam hari bisa menyalakan lampu hemat energi,” terangnya.
Djan menambahkan, lampu hemat energi ini sebenarnya sudah ada banyak tersedia di pasaran. Akan tetapi penggunaannya belum banyak disosialisasikan secara nasional. Jika program lampu hemat energi berhasil tentunya akan sangat membantu pemerintah dalam upaya penghematan energi listrik.

“Beberapa keuntungan bagi masyarakat jika memanfaatkan lampu hemat energi antara lain dapat menghemat biaya bulanan sehingga mereka tidak perlu membayar listrik secara bulanan. Sedangkan bagi pengembang tidak susah payah memungut biaya listrik dari penghuni perumahan,” lanjutnya.
Perpindahan dari lampu listrik ke lampu hemat enegi ini, kata Djan, akan sangat mengehemat biaya sebab tenaga surya kan gratis.

“Jika satu bulan masyarakat bisa menghemat biaya listrik tentunya uangnya bisa digunakan untuk mengangsur rumah. Biaya yang dikeluarkan hanya untuk investasi lampu serta biaya pemeliharaan untuk mengganti baterai serta peralatan sesuai umur ekonomis lampu yakni sekitar 5-10 tahun. Nah ini merupakan bagian pengehematan energi dari Kemenpera secara nasional,” sambungnya.

Dia menuturkan, untuk mensukseskan program penghematan energi ini pihak Kemenpera juga akan menjalin kerjasama dengan Kementerian ESDM dan Kementerian Dalam Negeri. Dengan demikian, ada dukungan dari kementerian terkait serta peraturan daerah yang bisa mendukung terlaksananya program ini.

“Program penghematan energi ini nantinya tidak hanya terbatas pada rumah tapak melainkan juga dilaksanakan di rumah susun serta apartemen. Kita berharap pengelola Rusun serta apartemen juga dapat memanfaatkan teknologi ini untuk lampu penerangan yang ada di dalam fasilitas umum serta taman-taman,” tuturnya.

Dia menyatakan, program lampu hemat energi dan solar cell ini tidak akan berdampak banyak terhadap harga rumah sebab sudah banyak yang produksi dalam negeri. “Kami juga sedang melakukan studi tentang harga paket hemat energi ini dan akan berusaha agar tidak terlalu mahal dan semurah mungkin serta terjangkau bagi masyarakat. Tidak mungkin saya memberikan rekomendasi untuk harga yang tidak terjangkau,” tandasnya.

Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), Eddy Ganefo  menganggap ketentuan seperti itu hanya cocok untuk perumahan mewah saja. Hal itu beralasan sebab harga solar cell cukup mahal yaitu berkisar Rp 5-15 juta per unit sehingga justru akan membebani tambahan bagi pengembangan rumah kelas menengah ke bawah. Ia berharap ketentuan ini cocok diterapkan di kawasan-kawasan perumahan papan atas saja.

“Saya setuju tapi jangan memberatkan masyarakat, dan itu untuk masyarakat menengah ke atas saja,” jelasnya (wir/jpnn)

Buru Aroma Khas Sampai Pelosok Desa

Melirik Geliat Usaha Budidaya Gaharu di Sumut

Tanaman gaharu terus menjadi incaran sebagian pengusaha untuk memenuhi pundi-pundi uang mereka dari aroma gaharu yang khas. Tak ayal, perburuan akan tanaman hutan bukan kayu ini terus dilakukan pengusaha hingga ke berbagai pelosok desa. Salah satunya di Desa Timbang Jaya, Kecamatan Bahorok, Langkat.

Demi mendapatkan produk kelas dunia ini, PT Gaharu Sejati rela mengikat kerja sama dengan Asosiasi Penangkar Tanaman (Aspenta) di daerah tersebut.
Kerja sama ini bertujuan untuk membudidayakan gaharu berkualitas tinggi. “Ini tanaman langka, dan banyak yang mengaku berhasil membudidayakan gaharu. Padahal hasilnya nihil,” ujar Direktur PT Gaharu Sejati, Dodi Hariyanto, kemarin.

Dirinya menjelaskan, saat ini sangat sulit menemukan gumpalan-gumpalan gaharu asli dan memiliki kualitas. Walau banyak yang mengaku telah berhasil, tetapi bila ditelusuri malah tidak berkualitas. Untuk mengetahui tanaman itu berhasil dibudidayakan, lanjut Dodi, cukup dengan cara mengopek sedikit bagian kulit tanaman gaharu dan membakarnya. “Jika mengeluarkan aroma wangi, berarti gaharu tersebut berhasil,” sebutnya.
Lebih jauh Dodi memaparkan, tanaman gaharu ini pertama kali dikenal dalam bentuk gubal (bongkahan), yang ditemukan di Assam, India dari tanaman jenis Aquilaria Agaloccha  Rottb pada abad ke-7.

Di Indonesia, dikenal mulai abad ke-12 melalui perdagangan dengan pedagang Kwang Tung, Cina. (ram)
Gaharu dalam bentuk gubal semula dipungut dari pohon penghasilnya di dalam hutan dengan cara menebang pohon dan mencacahnya untuk mendapatkan bagian yang berkualitas.

Dodi mengatakan, komoditas gaharu telah cukup lama dikenal masyarakat umum. Beberapa jenis tanaman gaharu yang dikenal antara lain Aquilaria Malaccensis, A Filaria, A Hirta, A Agalloccha, A Macrophylum dan beberapa puluh jenis lainnya.

Dari puluhan jenis tanaman tersebut, Aquilaria Malaccensis adalah tanaman penghasil gaharu berkualitas terbaik dengan nilai jual tinggi. Jenis ini termasuk dalam family Thymelleaceae, tumbuh di dataran rendah hingga pegunungan, 0-750 meter diatas permukaan laut (dpl), suhu rata-rata 32°C dengan kelembaban rata-rata 70 persen, curah hujan sekitar 2.000 mm.

Dikatakannya, tanaman ini memiliki potensi cukup tinggi dan penyebarannya terbesar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di Pulau Bangka, tanaman ini sering disebut Mengkaras, sedangkan di Belitung disebut Kepang.

Di kedua pulau ini, diameter pohon dapat mencapai 40 – 80 cm. Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu daerah sebaran pohon atau jenis-jenis penghasil gaharu, terutama Aquilaria Malaccensis.

Untuk itulah, sambung Dodi, saat ini dirinya mencoba melakukan budidaya jenis pohon gaharu di Desa Timbang Jaya, Bahorok, Kabupaten Langkat. Bekerja sama dengan Sofian Lubis, salah seorang petani yang tergabung dalam Aspenta.  Dodi mulai menanamai jenis bibit Aquilaria Malaccensis dan Cressna.

“Seharusnya Sabtu (7/4) kemarin kita sudah panen, tapi kita tunda karena minimnya waktu yang dimiliki. Kebetulan, investor asal Cina yang ingin melihat langsung tanaman kita, ada kesibukan lain. Makanya saya harus mendapangi dan panen gaharu di Bahorok ditunda,” terang Dodi.
Dia berharap, nantinya masyarakat petani gaharu di Baharok memperoleh hasil tanaman seperti yang diinginkan. (ram)

Nyalakan Lampu Jalan di Jalan Syahruddin

085373930xxx

Copot saja Kadis Pertamanan kalau hanya datang duduk dan nerima gaji karena sudah berapa tahun lampu penerangan jalan yang di Jalan Syahruddin Kelurahan Siti Rejo III Kecamatan Medan Amplas depan SMP Negeri 15 mati hingga sekarang.

Kita Teruskan ke Dinas Pertamanan

Terima kasih atas informasinya, akan kita teruskan ke dinas terkait dalam hal ini Dinas Pertamanan Kota Medan agar ditindaklanjuti.

Emir Mahbob Lubis
Camat Medan Amplas

Olah Sampah jadi Uang

Sampah adalah zat kimia, energi atau makhluk hidup yang tidak mempunyai nilai guna dan cenderung merusak. tapi dengan kretifitas yang dimiliki sampah bisa dimanfaatkan untuk ikut serta dalam program pemanasan global, bahkan menghasilkan uang.

Berikut cara pengurangan sampah yang lebih baik dan mudah yang dikenal dengan nama 4R

  1. Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin melakukan minimalisasi barang atau material yang dipergunakan. Semakin banyak menggunakan material, semakin banyak  pula sampah yang dihasilkan.
  2. Reuse (Memakai kembali); Nah, sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Coba hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
  3. Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang, Tentunya dengan kreatifitas dan imajinasi. Walaupun tidak semua barang bisa didaurulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain. Alias bisa menghasilkan uang.
  4. Replace (Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekali saja dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, misalnya, ganti kantong keresek dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami. (net)

Kaji Kenaikan PBB dan Fasilitas Publik

DPD PPP Kota Medan Gelar Konferensi Pers

MEDAN- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Medan berharap kepada pihak Dewan Pimpinan Rakyat Daerah (DPRD) Medan dan pemerintahan Kota Medan meninjau ulang tentang kenaikan Pajak Bumi Bangunan (PBB). Pasalnya, kenaikan PBB yang hampir seratus persen itu, sangat memberatkan masyarakat Medan khususnya yang memiliki perekonomian lemah.

“Sesuai dengan Perda Nomor 3 tahun 2011 tentang kenaikan PBB, DPC PPP Kota Medan menginginkan ditinjau kembali pemberlakuannya. Kalau bisa, jangan PBB yang dinaikkan,” bilang Ketua DPC PPP Kota Medan, Aja Syahri didampingi Wakil Ketua, Ir Hamdan Sukrawi dan Ahmad Fauzi Nasution serta Wakil Sekretaris, Marswan saat menggelar konferensi pers yang berlangsung di Sekretariat DPC PPP Kota Medan Jalan Sekip Baru No. 44 Medan, Sabtu (7/4) pukul 17.30 WIB.

Selain itu PPP Kota Medan juga menyoroti beberapa fasilitas publik yang ada di Kota Medan. Seperti fungsi taman di Kota Medan yang banyak dijadikan lokasi untuk berdagang. “Kita lihat bersama, taman yang ada di Kota Medan tepatnya ada di trotaor banyak yang memanfaatkan sebagai tempat jualan, sehingga menggangu pejalan kaki yang melintasi trotoar,”cetus Aja.

Kemudian, lokasi parkir yang ada di depan sekolah sangat mengganggu kelancaran lalulintas. Menurut mereka banyak mobil parkir seenaknya di badan jalan sehingga pengguna jalan lainnya terganggu.

Seharusnya, pemerintahan dan Dinas Perhubungan serta pihak kepolisian lalulintas dapat menertibkan lokasi parkir yang menumpuk di bahu jalan depan sekolah.

“Bila pemerintah mengeluarkan peraturan daerah (Perda) larangan parkir di bahu jalan depan sekolah, tentunya pengguna jalan lainnya merasa nyaman dan tidak terganggu,” ujarnya.

Menindaklanjuti permasalahan tersebut, DPC PPP Kota Medan dalam waktu dekat akan melayangkan surat kepada Dinas Perhubungan Kota Medan serta satuan lalulintas Medan agar menertibkan parkir di depan sekolah yang selalu menghambat para pengguna jalan lainnya.
“Pokokya dalam waktu dekat ini kita akan melayangkan surat,” tegasnya. (*/omi)

Modernisasi Kain Tenun Terbaik

Torang Sitorus, nama pria kelahiran Tarutung  ini telah menjadi ikon fashion di Medan dan Sumut. Kecintaannya pada dunia fashion dan budaya, menginspirasikannya untuk membuat pakaian dengan nuansa budaya, tetapi tidak ketinggalan  dimodernisasi untuk menarik minat masyarakat.

H asil kreasi tersebut pun mendapat penghargaan, tepatnya saat   Ulang Tahun Dekranas yang ke 32. Torang Sitorus dengan kain ulos Toba nya mendapat penghargaan sebagai tenun terbaik se Indonesia, juga tekstil terbaik. Dan penghargaan tersebut diberikan langsung oleh ibu Boediono, sebagai ketua umum dekranas.

“Ini merupakan kain khas Toba, dengan corak Pusukrobung. Tetapi, bukan semua perlengkapan kain merupakan khas Toba, tetapi, semua etnis yang ada di Sumut yang kita padukan. Jadi, tidak monoton,” ujar Torang.

Terbuat dari bahan katun, sehingga sangat nyaman untuk digunakan, pakaian ini memodifikasi berbagai etnis yang ada di Sumut. Dengan aksesoris asal Toba, yang bermotif Gorga, dan Godungporhu. “Motif ini sambung menyambung, yang menyatakan kesatuan dalam adat,”ungkapnya. Sebagian aksesoris juga mengambil tema Karo, “Aksesoris budaya Karo masuk kalau dipadupadankan dengan aksesoris dari etnis lain. Karena itu, kita berinisiatif untuk menggabungkannya,” tambah Torang.

Pemberian penghargaan sebagia kain tenun terbaik ini, diserahkan di Jakarta, tepatnya pada tanggal 22 Maret 2012 yang lalu.

Dengan kemewahan yang diberikan, kain ulos yang dipadukan dengan atasan yang bergaya Melayu ini sangat cocok digunakan untuk pakaian pengantin wanita ataupun untuk menghadiri acara formal. “Pakaian juga dilengkapi dengan kain selempang, yang bisa digunakan untuk pemanis dalam penampilan, selain itu tentu saja untuk menambah kesan formal bagi pakaian dan pemakainya,” tambah Torang.

Selain kain ulos dan coraknya, yang memperkuat kesan budaya pada pakaian ini dapat dilihat dari hiasan kepala yang digunakan. Ikat kepala dengan paduan warna merah, putih, dan hitam, menjadikan ikat kepala ini sangat identik dengan warna kebesaran suku Batak. Warna pakaian juga yang didominasi warna hitam, menjadikan warna emas, dan warna pendukung lainnya dalam kain ulos lebih hidup.

“Dominasi warna coklat, emas, dan warna lainnya  tetap ada, malah semakin hidup. Karena warna dasar dari pakaian ini menggunakan warna hitam.” tambahnya.

Bagi yang berminat dengan pakaian dan kain tenun asli Sumut ini, dapat dilihat di Kantor Dekranas Sumatera Utara yang terletak di Jalan Iskandar Muda Medan. ‘’Bila ingin memiliki kain tenun asli Sumut ini, silahkan berkonsultasi dengan kami,” ungkap Torang. (ram)