Home Blog Page 13681

Hanya Satu Poin

PSMS vs PSPS

MEDAN-Laga perdana PSPS Pekanbaru bentrok PSMS di putaran kedua ISL di Stadion Kuantan Singingi Sport Centre, Senin (9/4) sore, harus berakhir seri dengan skor 1-1. Target caretaker coach PSMS Suharto meraih poin penuh pupus. Tim besutannya dinilai bertanding tak maksimal. Dua gol yang tercipta tergolong unik, karena diselesaikan dari titik penalti. PSPS mencetak gol dari kaki Patrice Nzekou di menit ke-35 dan dibalas lima menit kemudian oleh striker PSMS Osas Saha.

Namun, capaian satu poin di kandang Asykar Bertuah, julukan PSPS, tetap patut disyukuri. Pasalnya, sejak menit awal PSPS kerap melakukan tekanan dan mendominasi permainan. Kendala yang tercipta di skuad berjuluk Ayam Kinantan ini adalah sulitnya menciptakan peluang dan kerap kehilangan kendali saat menguasai bola.

“Dengan taktik yang baru saja dikenalkan kepada anak-anak, saya rasa satu poin patut disyukuri. Mereka masih harus lebih banyak berlatih dengan taktik baru ini, dengan menerapkan formasi 4-4-2 dengan pola diamond ke flat,” ungkap Suharto, Senin (9/4).

Menurut pelatih berkepala plontos itu, stoper PSMS yang patut dicungi jempol pada laga itu. “Ya, Sasa Zecevic menjadi man of the match dalam laga ini. Adaptasinya dengan cuaca yang panas sangat bagus. Ia konsisten sepanjang laga dan berhasil mematahkan serangan lawan. Di sisi lain komunikasi di lini pertahanan sangat baik. Ini memberi keuntungan besar bagi kita,” jelas Suharto.

“Pada laga ini, PSPS memperlihatkan pola permainan sama dengan kita, terbuka dan saling serang. Tapi anak-anak memang terlihat belum begitu paham dengan taktik baru ini, menyebabkan performa tim tak maksimal,” tambahnya lagi.

Kedua striker PSPS Zainal Arif maupun Patrice Nzekou kerap menekan lini pertahanan PSMS. Namun, Sasa yang absen di dua laga terakhir putaran pertama, tampak sigap  mengawasi gerak-gerik kedua punggawa PSPS terebut. Performa stoper asal Serbia ini cukup baik, sehingga Edy Kurnia yang menggantikan peran Markus tak terlalu bersusah payah. “PSPS punya kualitas saat menyerang. Hanya mereka tidak terlalu baik saat melakukan penyelesaian akhir. Nzekou yang paling cepat dan cerdik, saya selalu mengawasi pergerakannya. Bukan karena saya berteman dengannya, tapi semua berperan dengan baik serta kompak di lini pertahanan,” kata Sasa.

Sementara itu di pertandingan ini, PSPS langsung mencoba tampil menekan. Tim tuan rumah mendapat beberapa peluang emas hingga pertengahan babak pertama.

Pada menit 21, PSPS Pekanbaru berpeluang unggul atas tamunya andai tendangan bebas Patrice Nzekou dari sisi kiri pertahanan PSMS tak membentur mistar gawang. Sebaliknya, PSMS lebih mengandalkan serangan balik.

Setelah beberapa peluang gagal dikonversikan menjadi gol, PSPS akhirnya mampu unggul 1-0 lewat titik putih pada menit 35. Penalti diberikan setelah Nzekou dijatuhkan Novi Handriawan. Meski tendangan penaltinya sempat diulang, namun Nzekou tetap sukses menjadi algojo.

Namun keunggulan tuan rumah tak berlangsung lama. Pada menit 40, PSMS berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 juga lewat titik penalti. Osas Saha sukses menjadi algojo. Penalti diberikan wasit setelah Saha diganjal Dedi Gusmawan di kotak terlarang. Di babak kedua PSMS cenderung bertahan. Nyaris tidak ada peluang berarti yang diciptakan kedua kubu. Skor 1-1 bertahan hingga laga usai.

Dengan hasil ini, baik PSPS maupun PSMS tak mampu memperbaiki posisi mereka di klasemen sementara. PSPS masih tertahan di peringkat 13 dengan torehan 21 poin dari 18 pertandingan. Sedangkan PSMS di posisi 11 dengan torehan 22 poin dari 18 laga. (saz)

Pengcab PSSI Asahan Sukses Gelar DNC 2012

KISARAN- Pengurus Cabang Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Pengcab PSSI) Asahan yang diketuai HM Wahyudi SST MKes sukses menggelar kualifikasi festival Danon Nation Cup (DNC) tahun 2012 . Dilaksanakan selama dua hari  (6 dan 8 April 2012) pertandingan dilakukan tanpa kendala dan berhasil menjaring 6 untuk berlaga di tingkat provinsi.

Disebutkan HM Wahyudi bahwa  6 tim yang lolos ke tingkat provinsi yakni 3 tim dari Asahan dan 3 tim dari luar Asahan.Adapun 3 tim dari Asahan adalah Bakrie A, Bunut-Asahan, Putra Bakrie,Gurah Batu-Asahan, Salam Perdana, Sei Nangka Kecamatan Sei Kepayang Barat –Asahan dan 3 Tim dari luar Asahan, Tunas Muda Londut dari KabupatenLabuhan Batu Utara  (Labura), Persada Labura dan Garuda Putra Bandar Khalifah, Deli Serdang.

Masih menurutnya, jumlah Tim yang berlaga di Asahan ada 48 Tim berasal dari  delapan kabupaten /kota  di Sumut  yaitu Kabupaten Simalungun, Tapanuli Tengah, Batubara, Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara (Labura), Kota Tebingtinggi , Kota Tanjung Balai dan tuan rumah Asahan.

Dalam kesempatan itu, Wahyudi mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut mendukung suksesnya even tersebut seperti Pemkab Asahan melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Parwisata (Disporabudpar) Asahan. (van/smg)

Pengguna T-Cash Tertinggi di Sumatera

MEDAN- Layanan uang elektronik (e-money) via ponsel pertama di Indonesia, Telkomsel Cash (T-Cash) lebih popular digunakan di Sumatera. Sepanjang tahun 2011, Sumatera merupakan wilayah dengan jumlah transaksi T-Cash terbanyak dengan rata-rata lebih dari 320 transaksi per hari.

Secara nasional hingga kini T-Cash telah memiliki pelanggan sekitar 8,2 juta. Sumatera merupakan wilayah dengan jumlah pelanggan T-Cash terbesar dengan capaian sekitar 32 persen, disusul Sulawesi-Maluku-Papua dengan 14 persen dan  wilayah Jabodetabek dengan pencapaian 12 persen.

Head of Area Sumatera Group, Gilang Prasetya, menyatakan, tingginya animo dan kepercayaan masyarakat di Sumatera terhadap layanan T-Cash menjadikan tantangan tersendiri bagi perusahaannya untuk secara cepat mengembangkan ekosistem layanan T-Cash ke berbagai penjuru daerah. “Dengan demikian, kami berharap semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan T-Cash untuk solusi digital payment sehari-hari,” ujarnya.
Pelanggan Telkomsel Sumatera umumnya memanfaatkan T-Cash untuk beragam transaksi remote payment, di antaranya pengisian ulang pulsa prabayar, pembayaran tagihan listrik, dan transaksi pembayaran lain yang umumnya dilakukan melalui mesin ATM.

T-Cash yang telah hadir sejak 2007, dapat dimanfaatkan oleh pelanggan kartuHALO, simPATI, dan Kartu As untuk beragam transaksi di ponsel, seperti pengiriman uang dan pembayaran tagihan (air, listrik, kartuHALO, telepon rumah, internet, TV kabel) sehingga pembayaran dapat dilakukan tanpa harus membawa uang tunai ataupun berbagai jenis kartu. Telkomsel juga menghadirkan sejumlah program berhadiah langsung bagi pelanggan yang melakukan transaksi belanja dengan menggunakan T-Cash di sejumlah merchant yang bermitra dengan Telkomsel.

Untuk aktivasi T-Cash, pelanggan dapat mengakses *828# langsung dari ponsel. Selanjutnya, pelanggan akan mendapatkan PIN T-Cash (6 digit) yang akan digunakan setiap kali bertransaksi. Pelanggan dapat mengisi saldo (cash in) T-Cash miliknya di GraPARI, GeraiHALO, ATM BNI, Indomaret  dengan nilai nominal hingga Rp5 juta. Pelanggan juga bisa melakukan pengambilan uang tunai (cash out) di Indomaret hingga Rp1 juta.

Telkomsel telah bekerjasama dengan sejumlah mitra potensial untuk layanan T-Cash dengan sektor bisnis retail, webstore, dan juga restoran.
“Kunci utama keberhasilan layanan e-money ditentukan oleh banyaknya customer base dan juga jumlah transaksi yang dapat di-generate oleh alat pembayaran e-money tersebut. Dengan semakin banyaknya mitra yang bekerja sama dengan penyelenggara layanan e-money, maka peluang untuk transaksi yang akan dilakukan pelanggan pun semakin besar,” tandas Gilang. (ram)

Motivasi Tinggi

MEDAN-PSMS U-21 bersiap menghadapi kompetisi U-21 Liga Indonesia 2011/2012 yang dihelat mulai Selasa (10/4) hari ini. Di laga perdana, Ayam Kinantan muda akan ditantang PSAP Sigli di Stadion Teladan Medan pukul 15.30 WIB.

Berbicara kesiapan, Caretaker pelatih PSMS U-21, Jefrizal mengaku siap tempur dan mengamankan poin penuh dari lawan. Apalagi bertindak sebagai tuan rumah. Meskipun tak dipungkirinya ia buta kekuatan lawan. “Kalau PSAP memang kita buta kekuatan lawan. Tapi kami cukup tahu karakteristik tim-tim Aceh. Karena di beberapa laga pramusim kami berujicoba menghadapi beberapa tim Aceh seperti Persati dan PSLS. Bisa dibilang hasilnya cukup memuaskan,” katanya kemarin di Mess Kebun Bunga Medan.

Selain itu tim pelatih yang terdiri dari Zulfitr, Zefrizal dan Pelatih kiper Sahari Gultom mengaku sudah cukup siap dengan pembentukan tim yang sudah sejak lama dilakukan. “Lebih kurang 10 bulan tim ini sudah terbentuk. Bisa dibilang secara tim paling siap walaupun dengan tambal sulam pemain. Tentu saja sebagai tuan rumah kami harus bisa melaju dari babak penyisihan grup,” jelasnya.

PSMS muda semakin optimis dengan tambahan para pemain ISL yang belum melewati batas umur. Tercatat tiga pemain dari skuad senior diperbantukan ke tim ini. Adalah Yoseph Ostanika Malau, Wiganda Pradika dan Ari “Akong” Pratama. Sayangnya tenaga Nico belum bisa digunakan karena tengah ikut tur ISL ke Pekan Baru dan Jakarta.

“Ya ada tambahan pemain dari tim senior. Wiganda dan Akong sudah bergabung. Tapi Nico masih dibutuhkan tim senior. Jadi tidak masalah karena sejak awal kita juga sudah bermain tanpanya. Mungkin dia bisa bergabung di putaran kedua nanti,” tambahnya.

Selain itu kehadiran dua mantan pemain timnas U-19, Supiyanto dan Suherman membuat kekuatan tim kian mewah. “Kita optimislah apalagi anak-anak dalam motivasi tinggi,” lanjut pria berusia 45 tahun itu.

Sebelumnya Ketua Panpel, Safril mengatakan kompetisi U-21 kali ini diikuti 19 klub. “PSMS U-21 bertindak sebagai tuan rumah grup D. Pertandingan kita gelar di Stadion Teladan. Untuk grup lainnya di gelar di kota-kota lain seperti Cilegon, Malang, Tenggarong dan Jayapura,” tandasnya.
19 klub yang berpartisipasi antara lain Persita, Sriwijaya, Pelita Jaya, Persib, Arema, Persela, Detras, Gresik United, Mitra Kukar, Persisam, Persiba, PSMS, PSAP, Persija, PSPS, Persipura, Persiram, Persiwa dan Persidafon. (mag-18)

SSB Dispora Juara

MEDAN-SSB Dispora Sumut menjadi kampiun pada turnamen sepak bola Piala Alumni Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Sumut 2012.
M Zulfadlin dkk meraih gelar juara setelah berhasil mengalahkan SSB Karang Taruna Binjai 1-0 dalam partai final yang digelar di lapangan PPLP Sumut,  Jalan Pembangunan Sekolah, Minggu (8/4). Gol semata  wayang milik SSB Dispora  itu diciptakan oleh Evan Yulio di menit ke 40

SSB Dispora Sumut melaju ke babak final setelah mengalahkan perlawanan sengit melawan SSB Hamparan Permata dengan skor tipis 1-0. Sedangkan SSB Karang Taruna Binjai melangkah ke final setelah menundukkan SSB Sinar Sakti dengan skor meyakinkan, 3-0.

Di babak pertama, pertandingan berjalan dengan tempo sedang. Jual beli serangan pun mewarnai 25 menit pertama. Namun dari beberapa percobaan kedua tim belum tercipta sebiji gol pun.

Di paruh kedua, kedua kesebelasan bermain kian terbuka. Penjaga gawang SSB Karang Taruna Binjai beberapa kali mendapatkan ujian dari penyerang SSB Dispora Sumut. Namun, masih belum merubah kedudukan.

Di menit ke-40, SSB Dispora Sumut membuka asa meraih trofi tertinggi. Berawal dari umpan terobosan pemain tengah,  Evan Yulio yang lolos dari jebakan offside berhasil mengecoh Fajar Bimantoro dan menyarangkan si kulit bundar ke dalam gawang. (mag-10)

Dahlan Iskan Ngamuk Lagi Gratiskan Tol Ancol Barat

JAKARTA-Menteri BUMN Dahlan Iskan kembali beraksi di pintu tol, kemarin (9/4). Kali ini Dahlan turun tangan menggratiskan mobil yang masuk ke ruas tol Ancol Barat, Jakarta. Pasalnya antrean di pintu tol ini sangat panjang.

Sekitar pukul 15.00 WIB, Dahlan dalam perjalanan pulang ke kantornya setelah kunjungan lapangan ke sebuah gudang milik perusahaan BUMN.
Tiba di pintu Tol Ancol Barat, kemacetan terjadi. Antrean panjang terjadi di pintu tol tersebut.

Sejurus kemudian Dahlan turun dari mobilnya. Mantan CEO Jawa Pos Group ini ingin mengetahui kondisi kemacetan. Dia juga sempat berbincang dengan petugas tol. Dari laporan petugas itu, diketahui bahwa pintu tol ini memang macet setiap hari.

Dahlan kemudian membuka paksa pintu tol yang menjadi biang kemacetan tersebut. Sehingga kendaraan yang mengantre di mulut tol bisa masuk ke jalan bebas hambatan tanpa membayar tiket sepeser pun. “Pintu Tol Ancol Barat luar biasa macetnya,”kata Dahlan.

Dengan mengenakan kemeja putih, celana hitam dipadu dengan sepatu kets, Dahlan membiarkan mobil masuk tol tanpa membeli karcis masuk.
Dahlan lantas menginstruksikan Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Infrastruktur dan Logistik Sumaryanto Widayatin untuk membuat terobosan di pintu tol biang macet tersebut. Yakni dengan menempatkan sedikitnya empat orang petugas penarik karcis yang berdiri.

Pasalnya, empat loket di pintu tol itu tidak memadai mengurai kemacetan. “Empat loket yang tersedia di pintu tol tersebut sudah dibuka seluruhnya. Tapi kemacetan masih terjadi. Berarti di pintu tol ini perlu petugas karcis yang berdiri. Tolong langsung dilaksanakan,” pinta Dahlan Iskan.
Rupanya jalan tol ini bukan milik PT Jasa Marga Tbk (JSMR), perusahaan plat merah yang mengelola jalan tol. Tol tersebut milik PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), perusahaan jalan tol yang 70 persen sahamnya beredar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jasa Marga memang punya saham di CMNP, namun jumlahnya tidak signifikan yaitu hanya 4 persen.

Manajer Divisi Pelayanan dan Pemeliharaan PT CMNP, Bagus Medi Suarso mengakui adanya aksi Dahlan Iskan di Tol Ancol Barat. “Tapi hanya beberapa menit. Sekarang sudah normal lagi,”kata Bagus. (dri/jpnn)

Petani Beralih ke Padi Lokal

PANAI TENGAH- Petani di Kecamatan Panai Tengah, Labuhanbatu, mulai meninggalkan varietas kuku balam dan ramos. Alasannya, menanam padi jenis itu kurang menguntungkan. Ini akibat susahnya perawatan kedua jenis padi itu. Kini para petani memilih budidaya padi jenis lainnya seperti Aries, Toras, dan Mandiri.

“Sekarang petani memilih menanam padi jenis lokal, karena perawatannya lebih gampang, dan hasilnya cukup menjanjikan,” kata Nadrik (45) petani di Kecamatan Panai Tengah, Senin (9/4).

Nadrik menambahakan, dalam pola pertanian sawah, mereka hanya menanam dan memanen padi setahun sekali. Selain itu untuk pengairan sawah hanya memanfaatkan air hujan dan air pasang aliran Sungai Barumun.

Persawahan di sana, kata dia, masih cukup luas. Sedikitnya ada ratusan hektar lahan persawahan milik warga yang masih bertahan sebagai penghasil padi. Namun ada juga sebagaian warga yang mengalih fungsikan lahan pertaniannya menjadi perkebunan sawit.
Ditambahkan Nadrik, mereka melepas harga gabah kepada para penampung sekira Rp3.100 hingga Rp3.300 per kilogram.
Dalam per hektar sawah, mampu menghasilkan gabah lima ton. Untuk lahan yang dikelola dengan sistem pinjam pakai, pola sewa dengan barter padi kepada pemilik lahan.

Senada dikatakan Sulaiman (39). Menurutnya, kehidupan para petani di Kecamatan Panai tidak mengetahui cara pemanfaatan lahan dengan baik. Kondisi ini yang membuat para petani sulit untuk mengembangkan hasil pertanian mereka.

“Ya, tiga bulan sesudah panen, lahan tidak dipergunakan. Tidak ada yang menanaminya,” katanya. (cr1/smg)

LP3I Teken MoU dengan Unisel dan XL

MEDAN- Kualitas suatu lembaga pendidikan ditentukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN) dengan kriteria pemenuhan tujuh standar pendidikan di Indonesia. Diantaranya, standar Kurikulum, sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.

Peningkatan kualitas inilah yang kini menjadi konsentrasi Kampus Politeknik LP3I Medan, lewat peningkatan kurikulum di bidang teknologi.

“Keseriusan LP3I dalam peningkatan kurikulum berbasis teknologi dengan melakukan penandatanganan kesepemahaman (MoU) antara Universitas Selangor ( Unisel) Malaysia, dan XL Axiata. Selain berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman di dunia kerja, bentuk kerja sama ini nantinya akan memberikan sinergi antara lembaga pendidikan dengan lembaga industri seperti XL dalam penyediaan lapangan pekerjaan,” ungkap Direktur Politeknik LP3I Medan, Akhwanul Akmal, dalam acara penandatanganan MoU di Gedung XL, Senin (9/4).

Saat ini, kata Akmal, lembaga pendidikan tidak hanya berfikir mengenai proses belajar mengajar, dan menamatkan peserta didik saja, melainkan peningkatan kualitas layanan pendidikan dalam menciptakan SDM yang handal dan siap pakai.

“Untuk itulah kita butuh dukungan informasi yang disediakan XL maupun dari lembaga pendidikan luar seperti Unisel lewat kesempatan belajar di negeri Jiran Malaysia. Ke depannya diharapkan produk-produk unggulan yang diciptakan LP3I bisa berorientasi di bidang teknologi,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Perwakilan Unisel di Indonesia TS Reza SE,MM mengatakan, ada tiga keuntungan yang didapat dari kerja sama yang dilakukan.

Diantaranya, bilang Reza, kuliah beberapa hari di Selangor, kunjungan dosen ke lembaga pendidikan lain sebagai proses belajar mengajar untuk mendapatkan sertifikasi dosen maupun pengakuan BAN.

“Selain itu, ada juga pertukaran aktifis kampus dalam bentuk saling berbagi ilmu pengetahuan dalam menciptakan peningkatan mutu SDM sesuai harapan,” ucapnya.

Sementara GM FMS XL West Region, Bambang Badra menyebutkan, dengan kerja sama ini, nantinya mahasiswa akan lebih mudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan sesuai akses yang diberikan XL.

“Ini juga kita lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan dengan memberikan berbagai kemudahan. Banyak manfaat yang bisa diberikan XL dalam memudahkan para siswa didik diantaranya kartu benefit untuk komunitas di dalam kampus dan akses data yang sangat luas untuk menyelesaikan tugas kuliah,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu juga XL memberikan berbagai akses kemudahan untuk mahasiswa dengan memberikan kartu perdana XL lewat program komunitasnya.

Selain melakukan penandatanganan (MoU), acara itu juga dibarengi dengan Public Lecture, Green Technology dengan tema “Policy & Implementation in Malaysia as part of world strategy” yang diisi oleh, Prof. DR. Mohd. Kushairi Bin Mohd Rajuddin (Dean Faculty of Science & Biotechnology, University Selangor, Malaysia). (uma)

Rumah Tipe 36 Wajib Listrik Tenaga Surya

JAKARTA- Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) berencana mewajibkan para pengembang perumahan untuk menggunakan lampu hemat energi dengan ditunjang panel tenaga surya pada rumah baru tipe 36 ke atas.

Pemerintah berharap dengan pemanfaatan energi alternatif tersebut, konsumsi listrik secara nasional yang dipasok PLN (Perusahaan Listrik Negara) dapat lebih dihemat.

“Kita (Kemenpera-red) akan mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) yang mengatur penghematan energi untuk rumah tipe 36. Jadi pengembang perumahan nantinya diwajibkan untuk menggunakan lampu hemat energi dengan tenaga surya (solar cell),” ujar Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz kemarin.

Dengan begitu kedepan seluruh rumah diatas tipe 36 diharapkan dapat menggunakan solar cell penerangannya lampu. Selain itu, pemanfaatan energi tenaga surya juga bisa dimanfaatkan untuk lampu penerangan jalan.

Sedangkan PLN, imbuhnya, nanti hanya dijadikan pendukung kalau ada masalah dengan solar cell. Misalkan jika baterai lampu hemat energi tersebut habis maka masyarakat bisa tetap memakai listrik.

“Lampu hemat energi tenaga surya ini kan sebenarnya sangat mudah diaplikasikan. Alatnya tinggal diletakkan di atap rumah sehingga dapat menyerap energi matahari. Setelah itu disambung ke baterai yang dimasukkan di atas plafon. Jika siang hari selama ada cahaya matahari energi akan masuk ke baterei dan malam hari bisa menyalakan lampu hemat energi,” terangnya.
Djan menambahkan, lampu hemat energi ini sebenarnya sudah ada banyak tersedia di pasaran. Akan tetapi penggunaannya belum banyak disosialisasikan secara nasional. Jika program lampu hemat energi berhasil tentunya akan sangat membantu pemerintah dalam upaya penghematan energi listrik.

“Beberapa keuntungan bagi masyarakat jika memanfaatkan lampu hemat energi antara lain dapat menghemat biaya bulanan sehingga mereka tidak perlu membayar listrik secara bulanan. Sedangkan bagi pengembang tidak susah payah memungut biaya listrik dari penghuni perumahan,” lanjutnya.
Perpindahan dari lampu listrik ke lampu hemat enegi ini, kata Djan, akan sangat mengehemat biaya sebab tenaga surya kan gratis.

“Jika satu bulan masyarakat bisa menghemat biaya listrik tentunya uangnya bisa digunakan untuk mengangsur rumah. Biaya yang dikeluarkan hanya untuk investasi lampu serta biaya pemeliharaan untuk mengganti baterai serta peralatan sesuai umur ekonomis lampu yakni sekitar 5-10 tahun. Nah ini merupakan bagian pengehematan energi dari Kemenpera secara nasional,” sambungnya.

Dia menuturkan, untuk mensukseskan program penghematan energi ini pihak Kemenpera juga akan menjalin kerjasama dengan Kementerian ESDM dan Kementerian Dalam Negeri. Dengan demikian, ada dukungan dari kementerian terkait serta peraturan daerah yang bisa mendukung terlaksananya program ini.

“Program penghematan energi ini nantinya tidak hanya terbatas pada rumah tapak melainkan juga dilaksanakan di rumah susun serta apartemen. Kita berharap pengelola Rusun serta apartemen juga dapat memanfaatkan teknologi ini untuk lampu penerangan yang ada di dalam fasilitas umum serta taman-taman,” tuturnya.

Dia menyatakan, program lampu hemat energi dan solar cell ini tidak akan berdampak banyak terhadap harga rumah sebab sudah banyak yang produksi dalam negeri. “Kami juga sedang melakukan studi tentang harga paket hemat energi ini dan akan berusaha agar tidak terlalu mahal dan semurah mungkin serta terjangkau bagi masyarakat. Tidak mungkin saya memberikan rekomendasi untuk harga yang tidak terjangkau,” tandasnya.

Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), Eddy Ganefo  menganggap ketentuan seperti itu hanya cocok untuk perumahan mewah saja. Hal itu beralasan sebab harga solar cell cukup mahal yaitu berkisar Rp 5-15 juta per unit sehingga justru akan membebani tambahan bagi pengembangan rumah kelas menengah ke bawah. Ia berharap ketentuan ini cocok diterapkan di kawasan-kawasan perumahan papan atas saja.

“Saya setuju tapi jangan memberatkan masyarakat, dan itu untuk masyarakat menengah ke atas saja,” jelasnya (wir/jpnn)

Buru Aroma Khas Sampai Pelosok Desa

Melirik Geliat Usaha Budidaya Gaharu di Sumut

Tanaman gaharu terus menjadi incaran sebagian pengusaha untuk memenuhi pundi-pundi uang mereka dari aroma gaharu yang khas. Tak ayal, perburuan akan tanaman hutan bukan kayu ini terus dilakukan pengusaha hingga ke berbagai pelosok desa. Salah satunya di Desa Timbang Jaya, Kecamatan Bahorok, Langkat.

Demi mendapatkan produk kelas dunia ini, PT Gaharu Sejati rela mengikat kerja sama dengan Asosiasi Penangkar Tanaman (Aspenta) di daerah tersebut.
Kerja sama ini bertujuan untuk membudidayakan gaharu berkualitas tinggi. “Ini tanaman langka, dan banyak yang mengaku berhasil membudidayakan gaharu. Padahal hasilnya nihil,” ujar Direktur PT Gaharu Sejati, Dodi Hariyanto, kemarin.

Dirinya menjelaskan, saat ini sangat sulit menemukan gumpalan-gumpalan gaharu asli dan memiliki kualitas. Walau banyak yang mengaku telah berhasil, tetapi bila ditelusuri malah tidak berkualitas. Untuk mengetahui tanaman itu berhasil dibudidayakan, lanjut Dodi, cukup dengan cara mengopek sedikit bagian kulit tanaman gaharu dan membakarnya. “Jika mengeluarkan aroma wangi, berarti gaharu tersebut berhasil,” sebutnya.
Lebih jauh Dodi memaparkan, tanaman gaharu ini pertama kali dikenal dalam bentuk gubal (bongkahan), yang ditemukan di Assam, India dari tanaman jenis Aquilaria Agaloccha  Rottb pada abad ke-7.

Di Indonesia, dikenal mulai abad ke-12 melalui perdagangan dengan pedagang Kwang Tung, Cina. (ram)
Gaharu dalam bentuk gubal semula dipungut dari pohon penghasilnya di dalam hutan dengan cara menebang pohon dan mencacahnya untuk mendapatkan bagian yang berkualitas.

Dodi mengatakan, komoditas gaharu telah cukup lama dikenal masyarakat umum. Beberapa jenis tanaman gaharu yang dikenal antara lain Aquilaria Malaccensis, A Filaria, A Hirta, A Agalloccha, A Macrophylum dan beberapa puluh jenis lainnya.

Dari puluhan jenis tanaman tersebut, Aquilaria Malaccensis adalah tanaman penghasil gaharu berkualitas terbaik dengan nilai jual tinggi. Jenis ini termasuk dalam family Thymelleaceae, tumbuh di dataran rendah hingga pegunungan, 0-750 meter diatas permukaan laut (dpl), suhu rata-rata 32°C dengan kelembaban rata-rata 70 persen, curah hujan sekitar 2.000 mm.

Dikatakannya, tanaman ini memiliki potensi cukup tinggi dan penyebarannya terbesar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di Pulau Bangka, tanaman ini sering disebut Mengkaras, sedangkan di Belitung disebut Kepang.

Di kedua pulau ini, diameter pohon dapat mencapai 40 – 80 cm. Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu daerah sebaran pohon atau jenis-jenis penghasil gaharu, terutama Aquilaria Malaccensis.

Untuk itulah, sambung Dodi, saat ini dirinya mencoba melakukan budidaya jenis pohon gaharu di Desa Timbang Jaya, Bahorok, Kabupaten Langkat. Bekerja sama dengan Sofian Lubis, salah seorang petani yang tergabung dalam Aspenta.  Dodi mulai menanamai jenis bibit Aquilaria Malaccensis dan Cressna.

“Seharusnya Sabtu (7/4) kemarin kita sudah panen, tapi kita tunda karena minimnya waktu yang dimiliki. Kebetulan, investor asal Cina yang ingin melihat langsung tanaman kita, ada kesibukan lain. Makanya saya harus mendapangi dan panen gaharu di Bahorok ditunda,” terang Dodi.
Dia berharap, nantinya masyarakat petani gaharu di Baharok memperoleh hasil tanaman seperti yang diinginkan. (ram)