31 C
Medan
Saturday, January 17, 2026
Home Blog Page 13840

Mau Dikubur Harus Ada Uang Rp15 Juta

MEDAN-Lahan untuk kuburan di Kota Medan semakin minim. Persoalaan ini mengundang  perhatian anggota DP RD Kota Medan dari Fraksi Golkar,  Ferdinan L Tobing.

Menurutnya, tidak hanya lahan perkuburan yang sulit, akan tetapi mahalnya ahli musibah untuk membayar lahan tempat keluarganya dikuburkan.
Ferdinan mencontohkan, pekuburan di daerah Simalingkar B, khususnya perkuburan untuk umat kristiani  yang notabenenya milik Pemerintahan Kota (Pemko) Medan. Di pekuburan tersebut, jenazah yang akan dikuburkan oleh pihak keluarganya dikenakan biaya sekitar Rp14-15 juta per lahan per paket.
“Masak orang yang mau dikuburkan saja harus dikenakan biaya sebesar itu. Bagaimana bagi yang tidak mampu. Padahal itu milik Pemko Medan, ada apa ini,” ungkapnya.

Sementara, katanya, penerimaan retribusi setahun  dari pelayanan pemakaman hanya sebesar Rp175 juta.
Nominal tersebut, tidak sebanding dengan kenyataannya.

“Di Medan ini saja ada delapan perkuburan nasrani di antarnya perkuburan Jalan Gajah Mada, Gajah Mada Simpang Jalan Sei Wampu, Simalingkar B, Sei Batu Gingging, Medan Permai, jalan Jamin Ginting ada dua dan  Helvetia. Hitung saja kalau satu hari saja satu orang meninggal, berapa yang bisa dihasilkan untuk ke PAD,” ucapnya.

Yang anehnya, lanjut Tobing, khsususnya di pekuburan Simalingkar B, pihak keluarga orang yang meninggal diwajibkan mengikuti paket, kalau tidak, tidak dibenarkan dikubur disana dan yang membangun juga harus mereka.

“Menjadi pertanyaan kita, apa ada aturan yang mengatur harus mengikuti paket dan harus mereka pengelola yang membangun” ucapnya  Untuk itu, sebaiknya Wali Kota Medan Rahudman Harahap  meninjau kembali Peraturan Daerah  (Perda) No 32 Tahun 2002 untuk dilakukan revisi. Karena, dinilai tidak layak lagi dengan kondisi sekarang ini.(ari)

Masuk Kolam Ikan

Fernando Siburian alias Ucok (9), warga Jalan Pembangunan, Dusun I Desa Purwodadi, Kecamatan Medan Sunggal, ditemukan tewas di kolam ikan milik Legi (52), tak jauh dari rumahnya, Sabtu (3/3) malam.

Informasi yang dihimpun, Ucok pergi dari rumahnya Sabtu petang sekitar pukul 17.00 WIB, berniat bermain-main bersama temannya ke kolam pancing yang tak jauh dari rumahnya.

Namun, menjelang malam Ucok tak kunjung pulang. Opungnya bersama warga sekitar pun mencari Ucok di sekitar kampung.
Warga mencari ke kolam ikan. Saat dilakukan pencarian, warga melihat dua sendal terletak di pinggir kolam. Warga pun mengobok-obok kolam tersebut. Tak lama kemudian, warga berhasil menemukan jasad Ucok yang sudah terbujur kaku dari dasar kolam.

Mayat bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas III itu pun diangkat dari dalam kolam sedalam 1 meter.

“Pertamanya opungnya yang sibuk, karena khawatir kenapa cucunya si Ucok sudah pukul 19.00 WIB belum juga pulang ke rumah. Habis itu kami bersama-sama dengan warga mencarinya. Sudah keliling-keliling kami cari-cari, namun tak jumpa juga. Terakhir kami mencari ke kolam ikan itu. Si Ucok sudah tak bernyawa di dalam dasar kolam itu,” kata Ayu, tetangganya.

Setelah mayat dibersihkan lalu disemayamkan di rumah duka. Keluarga pun berdatangan. “Boasama songon on tu pahopuku on (Kenapa lah begini cucuku ini),” teriak opungnya.

Kanit Reskrim Polsekta Medan Sunggal, AKP Viktor Ziliwu mengatakan, korban ditemukan tak bernyawa di dalam kolam. (jon)

Wali Kota: Tunggu Proses Hukum

Pembangunan Kembali Masjid Al Ikhlas

MEDAN- Pemko Medan segera akan membangun Masjid Al-Iklas di Jalan Timor Medan setelah sengketa lahan tersebut selesai di jalur hukum.
“Kita masih menempuh jalur hukum. Kan hingga sekarang belum ada lagi proses hukumnya,” kata Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, ketika disinggung soal tuntan dari Forum Umat Islam yang menuntut janji Pemko Medan membangun Masjid Al Ikhlas, di Jalan Timor.

Sebelumnya, panitia pembangunan kembali Masjid Al Ikhlas Jalan Timor mendesak Wali  Kota Medan agar melakukan revisi terhadap susunan pengurus kepanitiaan. Tujuannya, untuk  mengefektifkan dan mensinergikan program kerja secara profesional.

“Sebelum surat keputusan (SK) Panitia Pembangunan Kembali Masjid Al Ikhlas ditandatangani Wali  Kota Medan Rahudman Harahap, kami mengusulkan agar dilakukan revisi,” tegas Rafdinal, selaku Humas Panitia Pembangunan Kembali Masjid Al Ikhlas.

Menurut Rafdinal, revisi tersebut sangat mendesak karena peletakan batu pertama pembangunan  Masjid Al Ikhlas dilakukan paling lambat 1 Maret 2012. Surat pengajuan revisi sudah diberikan  kepada Wali Kota Medan dan mudah-mudahan disetujui.

Rafdinal mengharapkan Wali Kota Medan segera menandatangani SK panitia pembangunan kembali  Masjid Al Ikhlas agar seluruh pengurus yang tergabung dalam kepanitiaan tersebut bisa bekerja secara maksimal dan profesional. Sebab, hasil pertemuan dengan muspida plus di Hotel Madani  yang dihadiri Wali Kota Medan  disebutkan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al Ikhlas  paling lambat 1 Maret mendatang.
Rafdinal juga berharap agar pemerintah tidak lagi mengabaikan pembangunan kembali Masjid Al  Ikhlas dan tidak ada lagi alasan ketiadaan dana atau alasan lainnya.

“Terkait dana pembangunan, bila muspida plus dan Pemko Medan kesulitan mengalokasikannya, umat  Islam bisa mencari dana pembangunannya,” ujar Rafdinal.

Pantauan wartawan koran ini di lokasi bekas reruntuhan Masjid Al Ikhlas masih dikelilingi tembok bercat hijau. Meski peletakan batu pertama pembangunan  kembali  dijadwalkan 1 Maret 2012, belum terlihat bagian tembok tersebut dibongkar untuk akses  ke lokasi. (adl)

Rahudman Dipuji Mendagri Soal e-KTP

MEDAN- Mendagri Gamawan Fauzi memuji-muji Rahudman Harahap. Wali Kota Medan ini dinilai Gamawan sebagai sosok kepala daerah yang mampu menggerakkan jajarannya hingga mampu bekerja secara baik.

Gamawan bukan tanpa alasan. Dia mengatakan, tanpa kemampuan kepemimpinan yang baik, tidak mungkin Kota Medan masuk dalam kategori daerah yang cepat memberikan pelayanan pengurusan pembuatan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP).

“Padahal Medan itu wajib e-KTP-nya banyak. Jutaan itu. Ini karena wali kotanya serius dan mampu menggerakkan anak buahnya,” ujar Gamawan Fauzi, saat bicara di ruang wartawan Kemendagri, akhir pekan lalu.

Mantan gubernur Sumbar itu lantas menduga, kemampuan Rahudman ini tidak lepas dari latar belakangnya sebagai birokrat. “Pernah sekda, pernah plt wali kota,” ujarnya.

Pada 12 Maret mendatang, Gamawan punya agenda kerja ke Medan untuk memberikan arahan dalam acara rakor pemkab/pemko se-Sumut. Jika memungkinkan waktunya, Gamawan akan menyempatkan untuk melakukan kunjungan ke lokasi pelayanan pembuatan e-KTP di Kota Medan. Ini untuk memberikan semangat kepada para petugas yang memberikan pelayanan.

Sebelumnya, pada 19 Februari 2012 lalu, Rahudman telah menerima penghargaan sebagai salah satu dari sejumlah pimpinan daerah yang tergolong tercepat mengurus pembuatan e-KTP, dari Mendagri Gamawan Fauzi.  Rahudman menyebut ada sekitar 2,2 juta wajib e-KTP di Kota Medan. Hingga saat penyerahan penghargaan itu, 900 ribuan wajib e-KTP di Kota Medan sudah melakukan perekaman.

Secara umum, lanjut Gamawan, program e-KTP ini berjalan lancar. Untuk 197 kabupaten/kota yang mulai pembuatan e-KTP pada 2011 dan diharapkan tuntas April 2012, Kemendagri membentuk tim koordinator yang disebar ke daerah-daerah. Bagi daerah-daerah yang lambat melakukan pelayanan pembuatan e-KTP, kepala daerahnya akan ditegur.

“Koordinator di daerah-daerah itu untuk memacu, mengontrol, dan mengevaluasi capaian-capaian. Mulai minggu depan, bagi daerah yang lambat akan ditelepon kepala daerahnya,” papar Gamawan.

Dia menjelaskan, pelayanan e-KTP untuk masing-masing daerah waktunya sudah dibuat ekstra ketat. Bagi yang belum banyak melakukan perekaman, pelayanan dilakukan hingga 12 jam. “Ada yang 8 jam, ada 10 jam, ada juga yang 12 jam. Kalau ini tak jalan, akan kita telepon,” imbuhnya.
Dia menyebut, hingga akhir pekan lalu diperkirakan sudah terekam 48 juta wajib e-KTP. Total semua daerah sudah merekam hingga akhir 2012, dengan total 172 juta e-KTP. (sam)

Wali Kota Perintahkan Camat Kerja Sampai Pukul 22.00 WIB

MEDAN-Wali Kota Medan Rahudman Harahap memerintahkan kepada seluruh camat di jajaran Pemko Medan, untuk membuat komitmen kesepakatan siap menyelesaikan sisa pelayanan kartu tanda penduduk eletronik (e-KTP) paling lambat 30 April 2012.

“Saya ingin seluruh camat membuat komitmen kesepakatan dalam pernyataan yang langsung ditandatangani camat, agar dapat dipertanggungjawabkan menyelesaikan sisa pelayanan e-KTP paling lambat 15 hari sebelum tanggal 30 April 2012,” kata Rahudman dalam rapat evaluasi pelaksanaan penerapan e-KTP tahun 2012 , pekan lalu.

Dengan begitu, lanjut Rahudman, Camat harus bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar masyarakat bisa hadir mengurus e-KTP di kantor Camat.

“Masyarakat jangan dipersulit. Berikan layanan yang cepat agar mereka selalu datang, sedangkan untuk operator juga harus bisa memberikan pelayanan dengan baik agar cepat selesai pelaksanaan e-KTP,” ujarnya.

Dijelaskan Rahudman, Pemko Medan mengakui selama ini kurang memberikan sosialiasi kepada masyarakat. Dengan begitu, sarana yang dimiliki Pemko Medan akan dikerahkan dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat.

“Perjuangan kita masih banyak manfaatkan sarana dari Dinas Kominfo Medan untuk mensosisalisasikan batas waktu e-KTP sampai 15 April 2012, jangan dikatakan paling lambat 30 April 2012 agar masyarakat yang wajib e-KTP segera datang ke kantor Camat,” pintanya.
Dikatakannya, upaya yang dilakukan Pemko Medan agar dapat menyelesaikan sisa pelayanan e-KTP dengan wajib memberikan pelayanan minimal 14 jam sehari.

“Berarti setiap kecamatan harus selesai pada pukul 22.00 WIB. Untuk itu harus membuat posko memaksimalkan sosialisasi dan mobilisasi wajib KTP agar antusias masyarakat untuk membuat e-KTP tinggi,” jelasnya.

Sedangkan Kadisducapil Medan, Darusalam Pohan harus terus melakukan monitoring setiap hari ke kantor Camat.
“Jadi saya tidak mau lagi mendengar lagi ada alat yang rusak, karena di sini tidak ada tempat yang bisa memperbaiki alat tersebut. Saya minta tugas Kadisdukcapil untuk terus melakukan monitoring ke seluruh kecamatan dan segera melaporkannya setiap hari kepada saya. Paling lama jam 22.00 WIB, laporan harus sudah masuk ke saya melalui asisten pemerintahan,” cetusnya.

Sampai saat ini, penerapan e-KTP diakui Rahudman baru 50 persen.
“Dengan waktu yang tersisa selama 2 bulan, masih ada kesempatan kita untuk bisa menyelesaikan sisa pelayanan e-KTP. Sedangkan perangkat yang rusak akan terus dikroscek dengan cara dipindahkan pemakaiannya,” jelasnya. Kadisdukcapil Medan, Darusalam Pohan menjelaskan sudah melayani  200  orang wajib e-KTP per hari dengan 10 jam kerja selama 4 menit per orang.
“Untuk jumlah wajib e-KTP yang sudah dilayani sampai Kamis (29/2) sudah mencapai 41,99 persen dengan  sebanyak  911.267 orang wajib e-KTP dari jumlah wajib e-KTP sebanyak 2.170.400 orang wajib e-KTP dengan jumlah perangkat sebanyak 80 unit,” jelasnya.
Dijelaskannya, dengan waktu yang tersisa selama 61 hari terhitung dari tanggal 29 Februari-30 April dengan menggunakan 80 alat. Hasil yang dapat dicapai sampai 30 April adalah 80x280x61 hari=1.366.400 orang.
“Untuk alat yang diterima adari pusat sampai 24 Januari 2012 sebanyak 93 set, tetapi yang dapat difungsikan hanya 80 set. Sedangkan 13 set lagi merupakan alat yang sudah kekurangan dan kerusakan,” jelasnya.
Perangkat alat yang rusak, lanjut Darusalam, perangkat jenis aris mata, pemindai tandatangan dan server. Namun, pihaknya terus melakukan kordinasi dengan pemerintah pusat untuk memperbaiki alat tersebut.
“Kalau untuk Kecamatan yang sama sekali tidak bisa menggunakan perangkat e-KTP adalah Kecamatan Medan Baru. Untuk itu, kita akan melakukan peminjaman alat dari kecamatan lain menyelesaikan wajib e-KTP di kecamatan tersebut,” bebernya.(adl)

Gerobak Rokok di Depan RSUP dr Pirngadi

081908098xxx

Yth Bapak Drs H Rahudman Harahap MM (Kabag Humas Pemko Medan) kalau benar-benar kinerja yang Bapak terapkan itu mampu, tolong tertibkan/amankan gerobak rokok yang sudah bertahun-tahun terletak di depan RSUP Dr Pirngadi. Tapi kalau Bapak mau tertibkan gerobak itu jangan beritahu lurah/Kepling karena mereka itulah beckingnya. Dari masyarakat Medan Timur. Terima kasih sebelumnya, wassalam.

Segera Ditertibkan

Terima kasih atas informasinya dan dari konfirmasi dengan Camat Medan Timur Drs Parulian Pasaribu, akan segera dilaksanakan penertiban.

Budi Haryono
Kabag Humas Pemko Medan

Konfirmasi Kebenarannya

Pemko Medan harus segera mengkonfirmasi kebenaran laporan warga ini. Kalau terbukti agar menindak tegas oknum lurah atau Kepling yang terlibat. Begitu juga dengan keberadaan pedagang yang menggunakan ge-robak rokok agar ditata ulang. Kalau memang sudah mengganggu kenyamanan warga, coba lihat lagi keberadaan kios pedagang itu. Sesuai dengan izinnya atau tidak. Kalau tidak sesuai harus segera ditertibkan, jangan ada pilih kasih. Terima kasih

Jumadi
Ketua Komisi C DPRD Kota Medan

Mata Penakluk

Cerpen  Riza Multazam Luthfy

Bagai angin, berita kesaktian Mbah Urip berseliweran dari satu loka ke loka yang lain.  Bahkan, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Serata warga desa Sugihwaras mafhum akan kesaktiannya. Kesaktian yang acap mengoyak hati teman-temannya, tetangga,  bahkan saudara sendiri. Kesaktian yang sanggup melumpuhkan cinta Markonah, Sari, Paijah, Surti, Kumala, dan ratusan betina lainnya. Kesaktian yang suatu kali menjadi berkah, dan pada kali lain menjelma malapetaka.

Telah jamak diketahui, kesaktian yang berpangkal di indra penglihat Mbah Urip mengantarkannya sebagai manusia yang musykil dipandang remeh. Meski tak berharta, ia mampu dengan enteng menumbangkan makhluk tercongah sekalipun. Tentu, ini terkhusus dalam hal percintaan. Dan ia pirsa, bahwa kesaktian itu yang menyeretnya bergelar manusia dua rupa. Sebab, di mata sebagian lelaki ia dibenci. Sedang di hadapan para wanita ia dipuja-puja.

Seusai mereguk kenikmatan sesaat kala mudanya, barangkali, kini, Mbah Urip insaf. Usianya tengah menginjak angka tujuh puluh. Kalau ditafakuri, beruntung juga si tua bangka itu. Tiadalah kesembilan istrinya lenyap sejalan dengan punahnya kesaktian. Dan naga-naganya, tumor yang menggerogoti tubuhnya itu yang menerapnya mengalihkan kesaktian yang disandang. Ya, siapa lagi kalau bukan kepada Suryo. Kan cuma dia yang bisa menyerap kesaktian tersebut.

“Kurang ajar benar si Suryo. Enak sekali dia. Cuma ongkang-ongkang kaki, tetapi ia yang malah mendapatkan kesaktian kakeknya.”
Sebiji warta yang menyebut bahwa Suryo tiba-tiba bermata sakti itu sudah dipungut kuping para warga. Mereka tak habis pikir, mengapa anak kemarin sore itu yang sekonyong-konyong beroleh anugerah luar biasa. Padahal, berbondong-bondong orang berhasrat berguru pada Mbah Urip, namun tak satu pun lulus.
***
Dari buah obrolan warga, tersimpul bahwa Suryo merupakan satu-satunya cucu yang berhak mewarisi kesaktian Mbah Urip. Kenapa? Sebab ia lahir pada tengah bulan Syura di malam Jum’at Kliwon. Usut punya usut, ternyata ia juga menggenapkan syarat lain. Yakni sebagai putra kedua dari laki-laki sulung kakek bergelang bulu kera itu.

Terang saja. Banyak dara yang tergila-gila. Saban hari, tak kurang empat gadis digandengnya. Mana nilai wajah mereka berkisar antara 8 sampai 9. Alamak. Hebat nian itu manusia. Arum saja klepek-klepek. Padahal, ratusan jejantan ditolaknya.
Pemuda-pemuda desa Sugihwaras menaruh hasad kepada Suryo. Bagaimana tidak. Dalam riwayat, belum pernah ada lelaki yang berjaya mengikat janji dengan 36 perawan dalam sebulan. (Tentu dalam hal ini, mau tidak mau, kita kudu mengecualikan Mbah Urip yang berjuluk bajul ireng itu). Untuk bulan berikutnya, pasti sudah nongol nama-nama lain. Dan hebatnya, semua masih prawan. Ting-ting lagi. Edan. Dulu sempat masyhur sih, yang namanya Bahrun. Ia sukses menggancu 7 perempuan. Masuk akallah. Lha wong, ia berwajah cahaya. Berambut malam. Tinggi badannya pas. Otot-ototnya menyembul keluar. Kalau tersenyum, gigi putihnya berderet rapi. Perempuan mana yang tidak tersetrum tiap kali bertembung. Ibu-ibu, bila direstui suami, pasti mereka mau juga dinikahi. Tetapi ini berbeda. Semua orang tahu, kalau Suryo berburuk rupa. Kerdil. Berambut keriting. Giginya naik-turun. Ditambah lagi, bulu-bulu sebesar kelingking bertunas di mana-mana.
Ya, di dunia ini, apa sih yang musykil. Gara-gara mata yang dipunyai itu, Suryo bisa kayak begini. Kemarin Sukran mencerap sendiri, kalau mata Suryo memang parak. Bagian tengahnya berona biru beraduk merah tua. Terus di selingkarnya tersua bintik-bintik hitam yang merias huruf. Ia kurang mafhum huruf apa gerangan.
***
Sebetulnya, kesaktian Mbah Urip boleh diraih oleh orang lain selain Suryo. Sayangnya, sampai detik ini belum muncul segelintir pun yang berhasil memenuhi beberapa butir syarat yang diajukan. Semisal, bergadang tujuh hari tujuh malam. Bertudung badan hanya dengan selembar daun pisang. Selalu menjauhkan diri dari cahaya. Serta menghindar dari memamah daging kambing yang ditusuk.

Untuk yang terakhir, terbilang pelengkap. Artinya, syarat ini dilakukan ketika sudah makbul mengantongi kesaktian. Untuk syarat terakhir pula, Kusmin kena getahnya. Pernah dua hari ia memiliki mata sakti itu. Tetapi ia sedang buntung. Sewaktu menghadiri undangan Kang Sadik, ia melahap sate kambing. Benar-benar celaka. Dikiranya itu daging sapi. Terpaksa ia harus menderita selamanya. Ya, selamanya. Sebab, seketika itu pula ia langsung buta.
Setelah peristiwa itu, pemuda yang berhajat mengejar kesaktian Mbah Urip malah kian bertambah. Mereka merasa tertantang untuk memperoleh kesaktian itu. Namun, untuk mewujudkannya, bukanlah perkara mudah. Ada yang rela dicuaikan istri. Ada yang badannya tinggal tengkorak. Ada yang sesat akal. Ada yang terdesak bermukim di kolong tanah. Sungguh, mereka tak meraih apa-apa kecuali kegagalan belaka.
***
Belum genap 3 bulan, Suryo sudah nekat bikin ulah. Partini, istri Pak Lurah digait. Memang agak janggal saat mendengar Suryo terpincut dengan perempuan yang bersuami. Apalagi perempuan itu berhidung pesek, berimbun bisul di muka, beranak tiga pula. Selama ini ia kan hanya mau merekrut puan lajang. Suryo punya alasan mengapa ia embat istri Pak Lurah. Suryo muak melihat Pak Lurah memperalat ayahnya. Ya, Suparman; Kusir delman yang saban yaum mengantar Pak Lurah ke balai desa itulah ayah Suryo.

Jaka pelalap wanita itu mulai berang ketika mengetahui tanah dan beberapa ekor kambing ayahnya berpindah ke tangan Pak Lurah. Ia baru paham kala ditakrifkan sang ibu, bahwa pengabdian ayahnya itu gratis, alias tak dibayar. Sedang tanah dan kambing-kambingnya itu dirampas. Tidak seperti apa yang digembor-gemborkan Pak Lurah, bahwa ia telah menebusnya. Dari cerita ibu, Suryo juga baru menyadari bahwa sekian tahun silam, ayahnya pernah berhutang pada Pak Lurah, yang kala itu masyhur sebagai orang terkaya di desa Sugihwaras. Pak Lurah tak ubahnya lintah darat yang mengikhlaskan pertolongan sekaligus mencekik leher pelan-pelan. Bunga yang digantungkan dari hutang itu melebihi batas. Hingga pada akhirnya Suparman hanya sanggup mencicil bunga, tanpa tahu kapan hutangnya lunas.

Orang seperti Pak Lurah tak akan tinggal diam, bila harga dirinya diinjak-injak. Apalagi hanya oleh cacing merah itu. Ia tidak terima dengan tingkah-polah Suryo. Pak Lurah naik darah. Mukanya merah padam. Kemudian Pak Lurah mengajak warga desa Sugihwaras menggerebek Suryo yang sedang asyik ngopi di warung Mak Minah. Para pemuda merasa diuntungkan. Pasalnya, sudah lama mereka bernafsu menghakimi Suryo. Walakin, apalah daya. Rupanya mereka belum bertemu jalan. Dalam batin mereka, inilah saat yang tepat untuk memuntahkan kedengkian yang merasuki tubuh mereka selama ini.

Eit, jangan salah kira. Tiadalah Suryo menyerah tanpa menerbitkan perlawanan. Ia bukanlah anjing yang disedekahi tulang langsung diam. Meski diimingi-imingi sawah dua hektar dan dua puluh ekor kerbau (dengan syarat: bersedia melenyapkan kesaktian matanya dan mengembalikan istri Pak Lurah), Suryo tak bergeming. Ia juga tak gentar secuil pun beradu kening dengan jejantan yang jumlahnya sekitar seratus orang.
Pada mulanya, orang-orang menduga bahwa kesaktian Suryo hanya bersarang di dua mata. Ternyata mereka salah kaprah. Ada satu hal yang belum mereka ketahui. Kesaktian yang diturunkan Mbah Urip ini akan berlipat-lipat dan menjalar ke seluruh tubuh, tatkala empunya mata berhasil menundukkan 100 wanita dalam 75 hari.

Dalam benak Pak Lurah:

“Ini bocah, paling mata saja yang sakti. Disuruh berkelahi pasti keder”.

Setelah gagal berdamai, akhirnya Pak Lurah menitahkan tiga orang yang dipercaya untuk meremukkan tulang-belulang Suryo. Mata sakti itu tenang saja mengamati lawannya. Seakan-akan ia memberi kesempatan kepada tiga musuhnya untuk mengambil kuda-kuda.
“Ciyaaaaat…”

Belum sempat mengalirkan pukulan ke arah Suryo, ketiganya dibuat gelagapan. Hanya dengan sentilan telunjuk kirinya, Sapri, Darminto, dan Yamin, terpelanting beberapa meter dari tempat semula dan membuat tubuh mereka terjengkang. Mereka mengucek mata masing-masing, berharap itu hanya sepotong mimpi. Dan mereka sadar bahwa apa yang dialami benar-benar nyata. Ya, Suryo yang kian sakti adalah sebuah kenyataan yang tak diharapkan sama sekali.

Pak Lurah dan sisa warga yang lain gemetar. Menyaksikan kesaktian Suryo, satu persatu warga mengurungkan niat. Mereka kabur. Mereka khawatir terjadi apa-apa jika menuruti kemauan Pak Lurah.

Akhirnya, tinggal Suryo dan Pak Lurah yang tersua di depan tempat tongkrongan itu. Keduanya bersitatap. Otak Pak Lurah memadat. Lehernya kaku. Bulunya menggeriap. Ia bersoal dalam batin: “adakah lusa aku masih bisa bertemu dengan anak-anak?”
Yogyakarta, 2011

Jalan di Medan Berbuah-buah

Oleh: Ramadhan Batubara

Jalan Bahagia By Pass Medan pukul tiga sore, tiga hari lalu. Panas. Lalu lintas tak istimewa, tetap menawarkan becak motor dan klakson mobil pribadi yang bercat mulus. Saya, bercelana pendek dan berjaket, berhenti tepat di depan warung buah yang ada di sana.

Alpukat sekilo lima belas ribu. Tanpa ditawar, sang penjual mengurangi harga itu seribu rupiah. “Udah pas itu, Lae. Modalnya cuma tiga belas ribu…,” kata si penjual.

Saya bingung. Seingat saya, begitu memarkirkan sepeda motor, saya langsung menuju tumpukan alpukat dan mengatakan, “Sekilo Bang.” Itu saja.
Tapi sudahlah, saya hargai pikiran dia yang merasa dagangannya itu saya tawar harganya. Sebagai bonusnya, saya melirik beberapa buah melon. Katanya, sekilo melon dihargai lima ribu rupiah. Saya pilih satu, besarnya seperti bola basket balon milik anak-anak. Saya timbang dan ukurannya nyaris dua setengah kilogram . “Tujuh ribu sajalah, Lae” kata si penjual lagi.

Bah, hari ini serasa saya dihujani diskon oleh si penjual. Benar-benar luar biasa, saya bangga dikerjainnya. Karena sok bangga, saya pun mencoba peruntungan. Ya, namanya kalau sudah dikasih hati, kenapa tidak minta jantung kan? “Berarti dua puluh ribu semuanya kan Bang,” pancing saya.
Si penjual tersenyum. “Kan tadi udah dikurangi, Lae…” jawabnya.

Sekali lagi, luar biasa. Saya bangga dikerjainya. Dengan perasaan ikhlas yang tertahan, saya berikan padanya selembar uang seribu dan selembar uang dua puluh ribu rupiah. Selesai.

Saya berbalik, memutar arah sepeda motor, penjual itu sama sekali tidak peduli. Dia sibuk menghitung uangnya. Sedikit pun tidak ada senyum untuk melepas kepergian pembelinya dengan senyuman. Ayolah, seandainya dia ingin menjaga pelanggan, harusnya dia pura-pura peduli kan? Ah…, saya nyalakan mesin, dia malah nyalakan rokok; seperti tidak ada ikatan perbincangan menarik yang telah kami lewati.

Tapi sudahlah, urusan jual beli kan sudah selesai. Saya berjanji, tidak akan datang ke warung buah itu lagi. Bukan karena merasa tak dipedulikan atau merasa tertipu dengan cara trik dagangnya itu, saya hanya merasa warung buah bukan di tempat itu saja. Tak percaya? Baiklah, katakan pada saya, di ruas jalan mana di Medan ini yang tak ada penjual buahnya? Dengan catatan, buah asli atau buah olahan seperti es buah dan rujak. Bingungkan?

Hebatnya Medan lagi, di beberapa jalan malah identik dengan buah tertentu. Misalnya ketika melintasi Jalan Sunggal yang berada di kawasan Seisikambing B, dekat Tomang Indah. Di jalan itu, sejak dulu kala dikenal sebagai jalan penjual jagung muda. Para penjual dengan tempat pajang berupa papan bertingkat berjejer di bawah pohon-pohon besar yang ada di sana. Jagung muda yang mereka tawarkan pun telah dikupas dan dikemas dalam plastik transparan. Menariknya, setelah matahari terbenam, dagangan itu berubah menjadi durian. Maka, selain jagung muda, jalan ini pun dikenal sebagai kawasan durian juga; untuk durian memang baru berkembang beberapa tahun ke belakang saja.

Jalan lain yang identik dengan buah tertentu adalah Jalan Menteng VII. Di jalan ini akan ditemui beberapa penjual yang memiliki tempat mangkal di pinggir jalan dengan pajangan buah duku yang tergantung. Duku itu juga berplastik. Kalau sedang tidak musim duku, jalan ini bisa dipastikan tetap menjual duku. Maka tak heran, untuk satu plastik duku yang ukuran beratnya kurang lebih satu kilogram itu dihargai hingga lima belas ribu rupiah.
Ada juga jalan pepaya alias kates. Pergilah ke Jalan Perintis Kemerdekaan. Sebelum sampai kampus Universitas HKBP Nommensen, di sisi kiri jalan Anda pasti menemukan barisan penjual pepaya. Mereka bersepeda. Dan, mereka berjualan tanpa mengenal musim sejak dulu kala di sana.

Kalau soal durian, wah pasti banyak jalan yang menawarkannya. Kita bisa menyebut Jalan Iskandar Muda, Brigjen Katamso, atau Jalan Sunggal tadi. Tapi, ada dua jalan yang diincar penggila durian. Jalan yang dimaksud adalah Jalan Jamin Ginting, tepatnya di kawasan Simalingkar, dan Jalan Gatot Subroto, tepatnya di Kampunglalang.

Dengan fasilitas yang dimiliki Medan soal buah ini, tentu saya tak mau diteken oleh satu penjual buah saja kan? Untuk mencari buah yang lengkap, sumpah cukup banyak warung buah seperti itu. Sebut saja di persimpangan Jalan Halat dengan AR Hakim, tepatnya dekat lampu merah. Lalu, di kawasan Simpang Limun, di Brigjen Katamso dekat Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Jalan Karya Wisata dan Karya Jasa Medan Johor, serta berpuluh-puluh jalan lain yang ada di Medan.

Tapi sekali lagi, sudahlah. Kini saya menuju rumah saya yang ada di Medan Amplas. Alpukat dan melon telah ada dalam plastik yang saya gantungkan di sepeda motor. Matahari masih saja garang. Terbayang dalam otak saya, segelas jus alpukat dengan es batu yang banyak. Segar.
Begitu sampai persimpangan Jalan Selamat Ujung, saya lihat di sisi kiri ada sebuah warung buah. Langsung saja saya pukul kepala, kenapa tidak di warung buah itu saja saya membeli buah tadi. Fiuh.

Eit, beberapa meter dari situ, sebelum jembatan tepatnya di sisi kanan, ada juga warung buah. Sudahlah… (*)

Mengalir seperti Air

Pahala PS Napitupulu, Aktivis Buruh dan Kaum Marjinal

agi sebagian orang, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menjadi pekerjaan yang paling dicari diantara pekerjaan-pekerjaan lainnya. Selain jaminan masa depan, status sosial di masyarakat diharapkan ikut terangkat. Apalagi bila diterima di BUMN, kesejahteraan dan berbagai fasilitas penunjang lain sudah pasti didapatkan.

Tetapi bagi Pahala Napitupulu, dua pekerjaan itu bukan menjadi pilihan. Pada 1984, ia sudah tercatat sebagai honorer di Kanwil Kehutanan Sumut. Sebulan sebelum diangkat menjadi PNS, dia malah mengundurkan diri. Setahun kemudian, dia melamar pekerjaan di PTPN V. “Waktu itu, mencari kerja tidak sesulit sekarang. Apalagi bagi alumni USU, selalu ada pertimbangan khusus,” ungkap pria 53 tahun ini.

Saat lamaran diterima pihak perkebunan, seorang petinggi di PTP V memberikan nota di atas lamaran Pahala. Isinya kira-kira berbunyi demikian: “Saudara ini alumni USU. Tolong Ditempatkan sesuai keahliannya”. Tak lama kemudian Pahala diterima menjadi staf pembukuan di PTPN V dan ditempatkan di Kebun Sei Garo di Provinsi Riau.

Sebagai staf perusahaan perkebunan, Pahala yang waktu itu masih melajang, dijejali dengan berbagai fasilitas. Selain rumah dinas dan beberapa orang pembantu, upah yang diterimanya lebih dari cukup.

“Gaji saya Rp375 ribu. Bandingkan dengan gaji PNS golongan IIIA waktu itu yang cuma Rp95 ribu,” sebut Pahala menggambarkan kondisinya saat itu.
Puaskan Pahala? “Tidak. Dari awal-awal, suasana dan sistem kerja di kebun sangat feodalis, luar biasa. Bertentangan dengan batin saya. Ingin keluar, orangtua melarang dan menyarankan bertahan,” ujarnya.

Pahala bertahan dan mencoba memaklumi keadaan di kebun. Hingga pada 18 Juni 1987, ia menikahi Dra Yuliawati Maduwu, gadis pujaan yang dia kenal ketika menjadi aktivis semasa mahasiswa. Yuliawati yang kala itu mengajar di IKIP Nias di Gunung Sitoli, diboyong ke perkebunan.
Setahun kemudian, anak pertama mereka lahir. Oleh Pahala, putranya diberi nama Bani Praseto. “Bani artinya Batak Nias, perpaduan ayah dan ibunya. Kalau Praseto, putra Riau aseli Toba. Ha ha ha ha…,” Pahala tergelak.

Ternyata dia ingin agar putranya kelak tidak melupakan tanah kelahiran serta akar budayanya.
Memiliki pekerjaan dengan upah dan fasilitas yang terbilang lumayan, serta istri dan seorang anak, belum membuat Pahala tenang. Batinnya tertekan dengan sistem feodal di perkebunan. Pemimpin berbicara sesuka hati dengan menyebut si kebun binatang, sementara di depan mata, karyawan hidup dengan kemiskinan. “Tak sanggup saya lihat itu. Semua serba penzoliman,” sebutnya.

Pahala juga risau karena tidak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki kondisi di sekitarnya. Sebagai pengurus Persatuan Karyawan perkebunan Negara (PERKAPPEN), sistem membuatnya tidak mampu berbuat banyak. “Saya terkungkung, tidak bisa menyalurkan pikiran dan menuangkan ide kreatif,” katanya berargumen.

Pada 17 Juli 1989, sebuah keputusan besar diambilnya. Perabotan dan barang-barang dijualnya. Dia dan sang istri dan anak hanya menyisakan pakaian, surat-surat dan barang-barang berharga yang bentuknya kecil. Menumpang truk Mitsubishi Colt Diesel, Pahala membawa Dra Yuliawati Maduwu dan putranya yang baru berusia setahun, dibawa pulang ke rumah orangtuanya di Medan. Mereka tiba Minggu pagi dan sangat mengagetkan orangtuanya.
“Hanya orang gila yang keluar dari pekerjaanya di PTP.” Demikian ungkapan kekecewaan ayahnya , Gr Saidin Napitupulu, kepada Pahala. Bukannya menyesal, Pahala malah membalas ucapan orangtuanya. “Hanya orang gila yang mau bekerja di PTP dengan kondisi seperti itu,” kembali Pahala tertawa menceritakan pengalamannya tersebut.

Hidup harus berlanjut. Anak dan isteri harus makan. Pahala mulai bergerilya mencari pekerjaan. Keahlian dan pengalamannya sebagai akunting di PTP V menjadi bekal berharga baginya. Mujur, hanya tiga hari setibanya di Medan, dia diterima sebagai akunting di PT Mesary Trading Co yang bergerak di bidang kontraktor dan transportasi CPO (minyak sawit). Setahun kemudian, 27 November 1990, pasangan Pahala-Yuliawati dikaruniai seorang putri dan diberi nama Melati Elisabet.

Di sisi lain, sejak kembali ke Medan, Pahala bertemu dengan rekan-rekannya sesama aktivis mahasiswa dulu. Pertemuan itu membawanya kembali ke dunia aktivis.

Sibuk memperjuangkan hak buruh dan kaum marjinal lainnya menghantarkan Pahala menjadi pengurus di sejumlah organisasi, khususnya yang memperjuangkan kaum marjinal.

Di PT Mesary, Pahala tidak bertahan lama. Di penghujung 1991, ia kembali memutuskan untuk mencari tantangan di perusahaan lain. Awal 1992, ayah dua anak ini sudah menjadi akunting di PT Healty Corporation.

Bertahan selama 3 tahun, ia membuka jasa konsultasi administrasi dan manajemen dengan bendera Pahala & Partner pada 1995. Hingga sekarang Pahala praktis hanya berkegiatan di organisasi perburuhan sebagai Ketua DPD Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) 1992 Sumatera Utara dan menjalankan usaha jasa konsultasinya.

Tak betah menjadi PNS, pekerja BUMN dan swasta, lantas apa yang dicari? Pahala mengaku tak punya target khusus dalam menjalani hidupnya. “Saya mencari kepuasan batin. Saya puas kalau bisa menolong orang lain,” katanya dengan yakin.

Uniknya, sekitar 50 persen dari penghasilannya dialirkan kepada kaum marjinal atau untuk memperjuangkan hak-hak buruh. Dan itu masih terjadi hingga saat ini.

Keyakinan dan perjuangan itu pula yang membuat Pahala sampai lebih dari 30 kali keluar masuk penjara di masa Orde Baru dan sekali di masa reformasi. Pahala dan beberapa aktivis di Medan pun pernah dikenal dan sangat dicari-cari petugas keamanan dan tercatat sebagai anggota OTB (organisasi tanpa bentuk).

Bersama sesama aktivis lain yang sering disebut OTB, Pahala juga menjadi motor gerakan 14 April 1994. Gerakan ini terjadi di 32 kota di Indonesia. “Aksi paling besar terjadi di Medan,” aku Pahala.

Gerakan ini kelak menjadi cikal bakal standarisasi upah (upah minimum regional/UMR) serta standarisasi tunjangan hari besar (tunjangan hari raya/THR).

Pahala tidak tahu sampai kapan ia mejalani hidup seperti keadaannya sekarang. “Mengalir saja, seperti air,” ujarnya berpilosofi.
Pahala kemudian teringat pesan para mentor dan pembimbingnya. “Almarhum Profesor Toga Tobing, guru besar di Fakultas Ekonomi USU pernah bilang ke saya, ‘Apa yang kamu perjuangkan hari ini belum tentu kamu nikmati. Berjuanglah untuk anak cucu kita’. Ucapan itu selalu saya ingat,” kata Pahala sambil mengenang sejumlah nama yang selama ini mempengaruhi cara perpikirnya.

Diantaranya, ia menyebut nama Jhon Tafbu Ritonga yang saat ini menjadi Dekan Fakultas Ekonomi USU serta Profesor Bahtiar Hassan Miraja. “Pandangan dan peran ketiganya sangat mempengaruhi pandangan dan jalan hidup saya,” ujarnya. (tms)

Balon Independen Pilgubsu 2008

Pahala telah mengukirkan namanya sebagai satu-satunya bakal calon independen untuk pemilihan gubernur pada 1998. Hal itu dicatatkannya saat dia diamanatkan oleh kongres buruh (SBSI 1992) se Sumut untuk menjadi calon gubernur dari jalur independen. Amanah ini diperkuat lagi dengan dukungan Buruh Bersatu, gabungan organisasi para buruh, petani dan nelayan se Sumut.

Dukungan dituangkan dalam sebuah surat yang ditandatangani Dewan Presidium GSBBuP (Gabungan Suara Buruh Bersatu untuk Perseorangan) dan ditandatangani 9 perwakilan organisasi paling berpengaruh di Sumut ketika itu.

Pendaftaran pasangan Pahala Napitupulu dan Job Rahmad Purba pada Pilgub dari jalur independen ini dianggap sebagai kebangkitan kaum buruh. Sejumlah media massa nasional menurunkan laporan khusus tentang pencalonan ini. Kepada sebuah media nasional, Pahala menuturkan apa yang menjadi tujuannya serta kaum buruh, hingga mau dicalonkan.

“Tujuan utama kami sebenarnya bukan kemenangan, tetapi kami ingin menunjukkan jika buruh mempunyai kekuatan politik. Buruh bisa juga mencalonkan diri sebagai gubernur. Apalagi peluang itu sekarang terbuka lebar,” ujarnya ketika deklarasi tokoh buruh sebagai calon gubernur dari jalur independen pada Agustus 2008.

Ketika itu, pasangan Pahala-Job didukung para buruh se Sumut, petani dan nelayan serta kaum marjinal lainnya. “Bayangkan, suara yang mendukung kami,” sebut Pahala.

Nama mereka memang dicoret dari pendaftaran dengan alasan pencalonan tidak dapat diproses KPU Provinsi karena belum ada petunjuk dari pusat.
Tidak jera berjuang lewat jalur politik? “Tidak. Supaya efektif, memang harus ada orang yang berjuang dari jalur politik Siapapun itu, kalau memperjuangkan hak buruh dan kaum marjinal, pasti kita dukung,” ujar Pahala.

Ketika ditanya niatnya untuk meramaikan Pilgubsu 2013, Pahala hanya tersenyum. “Butuh dana besar untuk kampanye. Sebagai gambaran, pada 2008 lalu, dana kampanye kami yang didukung buruh mencapai Rp900 juta lebih,” ujarnya berdiplomasi. (tms)

Ketika Buku Dahlan Iskan Cetak Ulang 6 Kali

Buku-buku karya Dahlan Iskan diminati karena dinilai inspiratif. Ganti Hati yang kali pertama diterbitkan lima tahun silam pun masih dicari.

BUKAN obat-obatan yang dibawa M. Alwi sebagai kado bagi saudaranya yang tengah sakit liver di Bogor. Melainkan buku ‘’Ganti Hati’’ karya Dahlan Iskan yang dibelinya di Gramedia Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, Selasa (28/2).

Alwi percaya, inspirasi dari Ganti Hati yang bercerita tentang masa-masa kritis Dahlan gara-gara kanker hati hingga saat dia sukses menjalani transplantasi di Tiongkok bakal memberikan kekuatan kepada sang saudara. ’’Lewat buku ini, saya ingin menghibur dan memberikan kekuatan kepada saudara saya,’’ katanya kepada Jawa Pos (grup Sumut Pos).

‘’Ganti Hati’’ sebenarnya diterbitkan kali pertama pada 2007 oleh JP Books dan sukses besar. Kalau kemudian buku yang ditulis Dahlan dengan gaya bahasa jurnalistik yang cair tersebut hadir lagi di rak berbagai toko buku tanah air hari-hari ini, itu tak lepas dari larisnya buku terbaru mantan CEO Jawa Pos itu, ‘’Dua Tangis dan Ribuan Tawa’’.

Pertama diluncurkan November 2011, ‘’Dua Tangis’’ yang merupakan kumpulan tulisan Dahlan selama menjabat Dirut PLN itu mampu menembus angka penjualan 25 ribu eksemplar hingga Januari lalu. Buku itu pun dinobatkan sebagai best seller nasional bulan Januari.

Memasuki Februari, catatan di jaringan Toko Buku Gramedia menunjukkan bahwa ‘’Dua Tangis’’ terus diminati pembeli serta meraup penjualan hingga 11 ribu eksemplar dan terus naik. ’’Posisinya masih bersaing di top ten buku laris selama Februari. Penjualannya masih mantap,’’ tegas Assistant Marketing Communication Manager Penerbit Gramedia Budiyana.

Saking larisnya, penerbit sampai harus mencetak ulang lima kali. ’’Sekarang sudah siap-siap mau cetak ulang keenam,’’ tutur Budi. Jika cetak ulang dilakukan hingga enam kali dalam tiga bulan, berarti rata-rata tiap bulan buku ‘’Dua Tangis’’ dicetak ulang dua kali. Standarnya, penerbit memproduksi 3 ribu eksemplar untuk sekali cetak. Tetapi, khusus untuk buku karya mantan wartawan Tempo tersebut, penerbit sampai harus menggenjot hingga 10 ribu eksemplar tiap cetak. Tujuannya, stok buku tetap tersedia demi memenuhi permintaan pembeli yang gila-gilaan.

’’Stok menipis saja tidak boleh, apalagi habis. Saya order khusus, setiap cetak harus 10 ribu. Tidak boleh kurang,’’ tegas Budi. Karena itu, setiap hari Budi sampai harus berkeliling Toko Buku Gramedia di kawasan Jabodetabek buat memastikan stok tersedia. Sebab, jangan sampai permintaan masyarakat tak terpenuhi. Hal tersebut, jelas Budi, bisa mengakibatkan lost opportunity!

Toko Buku Gramedia juga memperlakukan buku-buku karya menteri BUMN itu secara spesial. Di Toko Buku Gramedia Pondok Indah Mall (PIM), misalnya, buku-buku pria kelahiran Magetan tersebut dipajang rapi tepat di depan pintu masuk toko. Tata letak pintu depan didesain sedemikian rupa untuk mengantarkan pengunjung langsung melintas di rak khusus yang memajang buku-buku itu.

Karenanya, hampir semua pengunjung yang baru masuk mampir sejenak di booth tersebut. Mereka membolak-balik cover depan-belakang dan berlanjut ke daftar isi. Beberapa orang menyempatkan diri membaca tuntas kata pengantar buku tersebut sebelum akhirnya menjinjingnya ke kasir.
Berdasar pengamatan wartawan yang berkunjung pada pukul 12.00 awal bulan ini, selama setengah jam saja ada 23 orang yang berhenti di booth itu. Sebanyak 12 orang di antara mereka membolak-balik buku dan 7 orang membawa karya tersebut ke kasir. Kebanyakan membeli ‘’Dua Tangis’’ dan ‘’Ganti Hati’’ yang diterbitkan PT Elex Media Komputindo.

Kebanyakan yang penasaran dengan buku-buku karya Dahlan adalah ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak muda yang menjelang usia 30 tahun. ’’Yang suka dengan buku Pak Dahlan memang orang-orang dewasa. Bukan anak-anak gaul atau anak alay,” kata Budi di toko buku.

Dia mengakui buku Steve Jobs terbitan Mizan hanya mampu terjual 5 ribu-6 ribu pada Desember 2011. Padahal, Gramedia sudah melakukan active selling. Caranya, merekomendasikan buku-buku itu saat pengunjung di kasir. Untuk buku Dahlan berjudul ‘’Dua Tangis’’ dan ‘’Ribuan Tawa’’, papar Budi, juga dilakukan active selling. Tetapi, respons terhadapnya jauh lebih gila. Hasil active selling Dua Tangis mencapai 10 ribu eksemplar. Dua kali lipat jika dibandingkan dengan buku mendiang pendiri Apple Inc. itu.

Active selling merupakan model penjualan yang dilakukan Toko Buku Gramedia. Teknisnya, merekomendasikan buku di kasir, mengerahkan pegawai toko buku untuk berpromosi langsung kepada pengunjung, serta memajangnya di pilar dan rak best seller.

Tidak sembarang buku dimasukkan ke program active selling. Gramedia, jelas Budi, harus memastikan bahwa isi buku sangat menginspirasi. Selain itu, potensi buku untuk menjadi laris harus bagus. ’’Kami yakin dengan ketokohan beliau dan konten tulisan, dukungan active selling membuat buku-bukunya laris,’’ imbuh dia.

Budi yakin bahwa buku-buku Dahlan juga akan menyalip kesuksesan ‘’Laskar Pelangi’’ karya Andrea Hirata dan ‘’Harry Potter’’ karya J.K. Rowling. Dua buku tersebut, papar dia, memerlukan waktu cukup lama untuk bisa laris. ‘’Laskar Pelangi’’, contohnya, butuh waktu lebih dari setahun untuk bisa mencapai penjualan 500 ribu eksemplar. ’’Kalau saja setiap tampil di televisi Pak Dahlan mau sedikit saja membahas bukunya, pasti lebih laris lagi,’’ ungkap dia sembari tersenyum.

Tetapi, seperti diketahui selama ini, Dahlan tak pernah mau melakukan itu. Setiap tampil di televisi, dia berkonsentrasi membicarakan upaya pembenahan terhadap perusahaan-perusahaan milik pemerintah yang sedang sekarat sesuai tugasnya sebagai menteri BUMN. ’’Seandainya Pak Dahlan mau bikin acara talkshow soal bukunya, lebih gila lagi penjualannya,’’ ucap Budi.

Antusiasme serupa bisa ditemui di Toko Buku Gramedia Gandaria City. Di toko buku yang bertempat di mal anyar itu, buku Dahlan diletakkan di pilar-pilar bertulisan best seller tujuh rak. Bahkan, di Toko Buku Gramedia Bintaro, terdapat rak dan booth khusus. (c1/ary/jpnn)

Tiga Buku di Bursa Best Seller

DAHLAN Iskan terus mencatatkan namanya dalam daftar penulis buku best seller di Indonesia. Kali ini, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu siap menggebrak dengan tiga buku sekaligus.

Pada Rabu (29/2) Dahlan hadir dalam acara launching buku terbarunya, ‘’Tidak Ada Yang Tidak Bisa’’ serta relaunching dua bukunya ‘’Ganti Hati’’, ‘’Tantangan Menjadi Menteri’’, dan ‘’Dua Tangis dan Ribuan Tawa’’, di acara Kompas Gramedia Fair di Istora Senayan, Jakarta.
’’Agustus tahun ini genap lima tahun saya ganti hati. Periode lima tahun pertama ini merupakan tahap kritis bagi orang yang melakukan transplantasi. Mohon doanya agar saya bisa tetap sehat,’’ ujarnya di awal acara.

Acara yang dihadiri ratusan pengunjung itu kemarin juga turut dihadiri mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pimpinan Kompas Gramedia Raden Pardede, dan wartawan senior Budiarto Shambazy. Tak ketinggalan, Bos Kompas Gramedia Jacob Oetama.

Mengenai tiga bukunya, Dahlan mengatakan ada ceritanya sendiri. Untuk ‘’Ganti Hati’’ serta ‘’Dua Tangis dan Ribuan Tawa’’, sebenarnya tidak ada niat untuk menjadikan itu sebagai buku. Tulisan tentang kisah dia dalam menjalani transplantasi hati di Tiongkok itu dipicu kekhawatirannya atas kemungkinan perubahan setelah ganti hati.

’’Saat itu saya khawatir, jangan-jangan setelah ganti hati kemampuan menulis saya hilang. Maka, beberapa hari setelah operasi saya minta laptop ke istri, kemudian nulis. Eh, ternyata kok masih bisa nulis seperti dulu,’’ katanya. Tulisan itu selanjutnya dimuat secara bersambung di Jawa Pos, kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku.

Mengenai buku ‘’Dua Tangis dan Ribuan Tawa’’, awalnya itu merupakan CEO Note yang ditulis Dahlan ketika menjadi Dirut PT PLN. CEO Note itu ditulis sebagai jembatan komunikasi antara pimpinan PLN dan puluhan ribu karyawannya. ’’Awalnya, CEO Note itu beredar di lingkup internal PLN, tapi akhirnya menyebar keluar dan kini diterbitkan menjadi buku,’’ tuturnya.

Nah, buku ketigalah yang benar-benar dipersiapkan Dahlan untuk menjadi sebuah buku. ‘’Tidak Ada Yang Tidak Bisa’’ merupakan tulisan Dahlan tentang kisah Karmaka Surjaudaja, pendiri Bank NISP (kini OCBC NISP) yang juga bernasib sama dengan Dahlan, menjalani transplantasi hati. ’’Bahkan, Pak Karmaka ini lebih dramatis karena beliau menjalani dobel transplantasi. Yakni, ganti hati dan ganti ginjal,’’ katanya. (owi/c4/nw/jpnn)