27 C
Medan
Thursday, January 15, 2026
Home Blog Page 13867

Cok Bongak, Wajah Medan dari Pinggiran

Oleh:
Hidayat Banjar

Tak gampang memotret Medan yang begitu heterogen. Beragam etnis berbaur di Medan. Secara umum, Medan dapat dilihat dari dua perspektif: elit dan pinggiran. Keduanya memiliki khas tersendiri. Kalau orang-orang elit bergunjing di lobi-lobi hotel, kafe-kafe mewah. Sedangkan orang-orang pinggiran bergunjing dari warung ke warung, rumah ke rumah dan kafe-kafe murahan.

Dari perspektif yang kedua inilah agaknya Cok Bongak ‘dilahirkan’ oleh Dayon Arora dan kawan-kawan. Ya, Dafi Film Medan yang berdiri sejak 2011 menggarap film serial komedi bertajuk Cok Bongak melalui kacamata orang-orang Medan pinggiran.

Menurut Budaya Makmur alias Dayon Arora, Direktur Dafi Film, ketika bertemu dengan penulis, baru-baru ini di kantornya, Jalan Brigjen Katamso, Gang Darul Aman Medan, film ini merupakan produksi pertama mereka.

Kata Dayon, awalnya bincang-bincang santai, Abdul Azis Lubis menyarankan agar menggarap cerita khas Medan. Lalu, Budaya Makmur alias Dayon Arora pun sebagai produser mempercayakan penggarapan naskah sekaligus penulis skenario kepada Yan Amarni Lubis.

Selain yang menggagas, Azis juga dipercaya sebagai penata kamera sekaligus cameraman dan editor bersama Puli Ansari Lubis dan Ismail Hasibuan. Sedangkan penata art audio dipercayakan kepada Udjang D’jai.

Cok Bongak ini keseluruhannya ada 14 episode. Yang telah tergarap tiga episode. Pada episode Menggunjing dalam Lipatan mengisahkan tentang Sanana (Eva Gusmala Yanti) bermaksud mengadu nasib di kota. Sebagai batu loncatan, ia bermukim dan menimba pengalaman dulu di sebuah desa pinggiran kota.

Sutradara film ini dipercayakan kepada Yan Amarni Lubis, salah seorang tokoh Teater Nasional (Tena). Menurut Yan Amarni Lubis, ini merupakan pengalaman pertamanya menyutradari film.

Seting cerita di desa yang dikenal sangat damai, sejuk, dan nyaman. Tenteram, adem, anyem. Karena itulah barangkali desanya diberi nama Desa Suka Terendem.

Namun apa yang terjadi? Kehadiran Sanana di desa itu belakangan dicibir banyak kaum ibu. Gaya dandanan kota yang coba-coba disandangnya, berbuntut gunjingan. Ibu-ibu warga desa menuduh dia mau TePe, alias tebar pesona.

Korban Gunjingan
Tok Dayon (Dayon Arora), warga ‘karatan’ desa setempat tak luput jadi korban gunjingan. Karena, beberapa hari belakangan itu Sanana selalu mampir dan ngobrol dengan Tok Dayon, di gubuk kopi milik lelaki parobaya itu. Dan di gubuk kopi itu pulalah si Ucok, alias Cok Bongak selalu nongkrong, lengkap dengan sejuta khayalnya.

Cok Bongak (Andy Mukly juga dari Tena), pun warga asli desa setempat. Mengaku pada semua orang kalau dia itu wartawan. Kadang lajang karam itu tak segan berlagak dirinya sebagai seorang pengusaha. Eh, belakangan baru ketahuan, yang dimaksud dengan pengusaha itu rupanya akronim dari pengangguran suka berleha. Tak heran kalau warga desa memberi embel Bongak di belakang namanya. Bongak, sudah barang tentu bermakna dengan hal-hal tak sedap. Belagak, sok, besar cakap, lantam, mentiko.

Akibat ulah Cok Bongak, yang menyebarluaskan rekayasa foto mesra Tok Dayon dan Sanana, bahtera rumah tangga Tok Dayon sempat oleng. Suasana itu, diperparah lagi dengan gunjingan ibu-ibu warga desa, dimotori Mak Gontar (Cici  Saja) dan Murkana (Duma Sari Nasution). Tok Dayon difitnah ada ‘maen serong’ dengan Sanana. Untung Biyah (Linda Djalal), salah satu ibu warga desa,  tak mau ikut campur urusan rumah tangga orang, hingga ia luput dari datangnya ganjaran.

Akhirnya, siapa yang menabur angin, dialah yang menuai badai.

Film Komedi Serial, yang cerita dan skenarionya ini ditulis oleh Yan Amarni Lubis, dan mengambil keseluruhan lokasi  di seputar Marindal, Patumbak, Deli Serdang. Sebahagian besar di sebuah lahan milik seorang aktivis pemuda daerah setempat yang akrab dipanggil Bang Jonjok.
Seperti diketahui, Yan Amarni Lubis adalah seorang aktor teater, sinetron dan film yang sudah sangat dikenal di Medan maupun Indonesia. Dengan pengalaman puluhan tahun sebagai pelakon di pentas teater maupun layar kaca, kali ini ia ingin merambah ke dunia penulisan cerita atau skenario dan penyutradaan film.

Menurutnya, belajar kan jauh lebih banyak bagusnya, ketimbang cakap-cakap saja. Dan, keputusan yang diambil Yan ini pun, didukung oleh kawan-kawan, terutama yang terlibat langsung dalam pembuatan film.

Selama puluhan tahun ini dia hanya sebagai pemain, baik di teater mau pun di sinetron, serta beberapa layar lebar. Ternyata, menurutnya, asyik juga menjadi sutradara.

Diperkirakan, dari pra produksi, hingga selesainya film ini dalam bentuk hasil jadi, memakan waktu lebih dari setengah bulan.

Patungan

Film yang digarap teman-teman ini, biaya didapat dari patungan dan bantuan orang-orang yang peduli. Mereka mau bersusah payah menggarap film karena film memberi multi efek proyek. Sebuah survey mengatakan banyak orang Indonesia tertarik ke Thailand karena menonton film James Bond yang lokasi shootingnya di pantai Pukhet. Untuk Indonesia, kita ramai-ramai ke Belitung, tidak lain karena buku dan film “Laskar Pelangi”. Pariwisata Belitung meningkat 800 persen.
Dalam pada itu, pengakuan Yan Amarni Lubis dalam suasana kerja pembuatan film inilah, pihaknya betul-betul dapat merasakan, film tidak hanya sebagai media ekspresi seni atau budaya semata, tapi merasuk menjadi pembentukan karekter diri. Di dalam proses pembuatannya, warga-warga desa sekitar begitu antusias memberikan kontribusinya dengan ikhlas dan penuh kekeluargaan, hingga mereka terkonsentrasi untuk memperoleh peningkatan pengetahuan tentang perfilman.
Bravo insan film Medan. Semoga langkah yang baik ini, jadi tonggak awal kebangkitan film Sumut (Medan) seperti tahun-tahun 70-an ke bawah. Amin.(*)

*Penulis adalah Peminat Masalah Sosial Budaya Menetap di Medan

Tekuni Bisnis Aksesoris

Raisa Fitri, Pilihannya untuk Berwirausaha

MEDAN – Untuk memulai bisnis tidak harus dengan modal besar. Asal ada kemauan dan kreatifitas yang tinggi, maka usaha kecil-kecilan dapat menghasilkan untung yang besar.  Berawal dari ketidakinginannya menjadi karyawan maka Raisa Fitri atau yang kerap disapa dengan Icha kelahiran, Lhokseumawe, 30 April 1988 ini mulai berfikir untuk membuka bisnis aksesoris wanita.

Aksesoris yang dihasilkan alumni 2010 Komunikasi Fisip USU ini beragam,. Mulai dari cincin, kalung, gelang, kerabu serta bross jilbab. Bahkan bahan yang digunakan untuk merangkainya tidak sembarangan, yang terpenting kepuasan konsumen diatas segalanya.

“Bahan-bahannya didatangkan dari Jakarta karena kualitasnya lebih bagus. Seperti kristal, mutiara, sintetik, batu, kawat, motte, swarovski crystal, dan sebagainya. “Lalu tinggal merangkainya saja dengan alat-alat seperti tang kecil dan gunting yang dibentuk sedemikian rupa,” ujar Icha saat ditemui di Mini Galeri Lovely Beads miliknya di Komplek Bumi Asri Blok E-69 Jalan Asrama Medan, belum lama ini.

Bahkan, kata Icha, konsumen dapat menentukan langsung model seperti apa yang disuka serta memilih bahannya. Untuk itu, konsumen juga terhindar dari pemakaian barang yang sama. “Jadi bisa dipesan, seperti kalung, konsumen mau bahannya apa aja, modelnya seperti apa, nanti saya yang merangkainya. Jadi, konsumen tidak perlu takut, kalau kalung yang dipakainya sama dengan milik orang lain,” ujarnya.

Untuk promosi, Icha memanfaatkan dunia facebook. Bahkan promosi melalui jejaring sosial ini tidak main-main, Lovely Beads sudah dikenal hingga Aceh dan Surabaya. Tak jarang warga negeri seberang juga memesan aksesoris buatan Icha.

“Awal merintisnya pada Oktober 2010. Setelah menamatkan kuliah, saya berfikir bisnis apa yang bisa dijalankan dengan modal sedikit.  Lalu saya lihat mama suka mengoleksi aksesoris wanita. Terus  saya belajar di Jakarta gimana cara membuatnya. Ternyata saya bisa, ‘’ terangnya.
Dengan modal pinjaman dari orangtua, Icha pun nekat membuka usaha mini galery nya. Dalam perharinya, Icha bisa membuat 5 sampai 10 aksesoris tergantung bahan dan kerumitan aksesoris yang akan dibuat.

“Soal model aksesoris, biasanya di searching melalui internet lalu dimodifikasi dengan unik. Bahkan tak jarang saya terinspirasi dengan pelanggan yang datang. Kalau harga aksesoris masih terjangkau dari Rp 3 ribu hingga Rp 200 ribu,” urainya lagi.
Seiring perkembangan usa hanya, Icha, mulai belajar untuk memanajemen  usahanya agar lebih baik.  (mag-11)

Sosialisasikan Sistem Pendidikan

MPPB Al Washliyah Gelar Rakernas I di Jakarta

MEDAN-Majelis Pendidikan Pengurus Besar (MPPB) Al Jam’iyatul Washliyah akan melaksanakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I dan Sosialisasi Sistem Pendidikan Al Washliyah selama tiga hari, yakni Jumat (2/3) sampai Minggu (4/3) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.
Rakernas dan sosialisasi tersebut rencana dibuka oleh Menteri Agama RI Suryadharma Ali.

Ketua MPPB Al Washliyah Drs H Ismail Effendi, M.Si kepada wartawan mengatakan, Rakernas dan sosialisasi yang diselenggarakan MPPB Al Washliyah ini adalah hasil keputusan Rakernas I Al Washliyah tanggal 14 – 15 Oktober 2011 lalu.

“Rakernas MPPB Al Washliyah ini akan diikuti 500 peserta yang terdiri dari ketua, sekretaris, serta ketua-ketua bidang MPPB Al Washliyah dari tingkat provinsi dan daerah. Ikut juga para rektor dan wakil serta kepala-kepala sekolah,” kata Ismail Effendi kepada wartawan, pekan lalu di Medan.
Rakernas yang bertemakan ‘Mewujudkan Kemandirian Lembaga Pendidikan Al Washliyah yang Profesional dan Modern’ ini, lanjut Ismail, adalah bukti MPPB Al Washliyah untuk kemajuan pendidikan yang bernaung di bawah Organisasi Al Washliyah. “Ini merupakan partisipasi Al Washliyah dalam
memajukan bangsa melalui pendidikan,” katanya didampingi Ketua Panitia Prof Dr Ilmi Abdullah, MSc, Sekretaris panitia Drs Akmal Samosir dan Bendahara H Khairuddin Syah.

Saat ini, lanjutnya, MPPB Al Washliyah adalah satu-satunya lembaga dalam organisasi Al Washliyah yang berwenang untuk mengelola dan melaksanakan segala kebijakan tentang pendidikan Al Washliyah. “Pada Rakernas I Al Washliyah Oktober 2011 lalu sepakat bahwa, badan hukum penyelenggara pendidikan Al Washliyah adalah organisasi Al Washliyah, dalam hal ini adalah MPPB Al Washliyah sesuai No Keputusan 070/PB-AW/XX/XII/2011,” imbuhnya.

Menurutnya, apa yang dikelola Al Washliyah ini adalah aset umat. Dalam mengelola aset ummat ini, katanya lagi, perlu memiliki hubungan yang struktural yang jelas dan tegas dengan seluruh lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi di seluruh jajaran Al Washliyah.
“Makanya perlu dibentuk sistem yang mengkoordinir usaha-usaha organisasi ini yaitu MPPB Al Washliyah. Ini semua aset umat yang dikelola oleh Al Washliyah, jadi mari kita bersama-sama menjaga aset umat ini. Jangan aset ummat ini diarahkan atau dijadikan aset pribadi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Rakernas I dan Sosialisasi Sistem Pendidikan Al Washliyah Prof Dr Ilmi Abdullah, MSc menambahkan, dengan Rakernas ini diharapkan agar kedepan sistem pendidikan Al Washliyah bisa berjalan dengan baik, sesuai dengan visi dan misi Mendikbud dan sesuai dengan karakter Al Washliyah yakni menuntu keprofesionalan dan modern, namun tetap pada berakhlakul karimah.  (*/ila)

Sampah di Pasar Sukaramai

MEDAN-Sampah di Pasar Sukaramai Kelurahan Sukaramai Kecamatan Medan Area ditangani khusus dari pagi hingga malam hari. Itu diberlakukan mengingat banyaknya sampah di Pasar Sukaramai.  “Pagi kita mengangkut sampah mulai pukul 07.00 WIB, kemudiaan siang hari pukul 13.000 WIB, serta malam hari mulai pukul 20.00 WIB,” kata Camat Medan Area, Khoiruddin Rangkuti SE, S.Sos kepada wartawan Sumut Pos di ruang kerjanya Jalan Rahmadsyah Medan, Selasa (28/2).

Mobil Dinas Kebersihan digunakan sebagai sarana transportasi untuk mengangkut sampah dan untuk patroli kebersihan. Dinas Kebersihan ini dibantu petugas kebersihan dari Pasukan Melati. “Untuk Pasukan Melati bekerja mulai pukul 06.00 WIB membersihkan Pasar Sukaramai,” terangnya.
Disamping tumpukan yang ada di Pasar Sukaramai, kata Khoiruddin,  juga memberikan perlakuan khusus bagi Kelurahan Sukaramai dengan cara mengangkut sampah yang ada di Gang Langgar.

“ Kalau untuk Gang Langgar telah dilakukan sebelumnya pada tanggal 4 Februari 2012 lalu, di mana kita melakukan pengangkatan sampah dari selokan drainesa, sehingga drainase berjalan lancar dan tidak banjir,” jelasnya.

Khoiruddin juga berharap kepada warganya agar tidak membuang sampah sembarangan, seperti membuang sampah ke lahan kosong atau drainase.
“Mari kita menjaga kelestarian dan keindahan Kecamatan Medan Area ini, dengan tidak membuang sampah sembarangan,” serunya.(omi)

Polisi Sebar Foto Penikam Pengusaha Perabot

Berangkat Usai Ajak Anak dan Istri Jalan-jalan

MEDAN-Sudah sepekan polisi belum juga behasil menciduk pelaku penikam pengusaha perabot Ahok alias Alex alias Petrus (70), yang tewas dengan luka tikam di rumahnya Jalan Dahlia, Komplek Cemara Asri Medan.

Untuk menangkap pelaku berinisial G (35), warga Jalan Kawat II Medan Deli, polisi mengerahkan seluruh anggota dan membentuk tim khusus. Polisi juga menyebarkan foto pelaku saat menikah dengan istrinya.

Polisi sudah melakukan pengejaran di kawasan Medan Utara seperti Tajung Mulia, Kota Bangun hingga ke Belawan, namun petugas belum juga bisa membekuk pelaku.

Kapolsekta Percut Seituan Kompol Maringan Simanjuntak mengatakan, terus melakukan pengejaran terhadap ayah bapak satu anak itu.
Maringan mengimbau masyarakat yang mengenal atau mengetahui keberadaan pelaku untuk segera melaporkan ke polisi terdekat agar ditangkap.
Selain melapor ke polisi warga yang melihat keberadaan pelaku bisa menghubungi nomor Kapolsekta Percut Seituan 08126086669. Sebelumnya polisi sudah melakukan pemeriksaan terhadap 9 orang saksi termasuk Fani (28), istri pelaku.

Dalam keteranganya Fani sampai saat ini tidak mengetahui keberadaan suaminya itu. Sampai semua keluarga sudah mencari namun tak ketemu.
Fani mengataakan terakhir berjumpa dengan suaminya, Sabtu (18/2) malam, saat itu suaminya mengajak Fani bersama anak mereka jalan-jalan, namun setelah pulang jalan-jalan suaminya langsung memulangkan istrinya, kemudian pergi tanpa pamit kepada sang istri.

“Saya nggak tahu dimana sekarang suami saya, sudah semua keluarga mencari tak ada satu pun yang mengetahui,” ujarnya.
Wanita berkacamata itu sempat bertanya kepada teman-teman suaminya namun tak ada yang mengetahui. Fani memang mengetahui suaminya bekerja di Komplek Cemara Asri, namun tidak mengetahui kalau bekerja di rumah Alex.

Fani selalu berdoa supaya suaminya cepat pulang dan menyerakan diri supaya jangan dicari-cari oleh polisi lagi. (gus)

Penculik Balita Diupah Rp500 Ribu

LUBUKPAKAM- Muhammad Ramadhan (2,5), balita yang diculik oleh teman bapaknya Darwin Lubis alias Kiwin (33), warga Jalan Rahayu, Dusun Tembung, Desa Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan, akhirnya ditemukan personel Polres Deliserdang, Minggu (26/2). Muhammad Ramadhan alias Madan ditemukan di rumah Halimatussadiah Lubis (40), kakak kandung Darwin alias Kiwin di Jalan Bunga Rampai, Simalingkar B, Medan Tuntungan.
Penemuan itu berdasarkan keterangan Kiwin, yang terlebih dahulu ditangkap petugas Mapolsek Batangkuis. Kapolres Deliserdang AKBP Wawan Munawar Sik, menerangkan motif penculikan yang dilakukan Kiwin.

“Kiwin hendak membantu kakaknya Halimahtussadiah untuk memperoleh anak laki-laki. Kiwin menerima imbalan sekira Rp500 ribu dari Halimatussadiah,” kata Wawan Munawar.

Menurut Wawan, selama ini tersangka Kiwin memiliki catatan kriminal dua kali terlibat kasus penganiayaan dan sekali terjerat kasus penggunaan narkotika. Polisi menyita barang bukti berupa satu unit sepeda motor Yamaha Mio hitam BK 2638 MAG kendaraan yang dipakai tersangka Kiwin dan temannya Ade saat menculik korban dari rumah orangtuanya di Dusun 5, Desa Baru, Kecamatan Batangkuis pada Kamis (16/2) lalu. Kedua tersangka diancam Pasal 83 UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Dijelaskan Wawan, sebelum menculik Madan, Kiwin sempat mengambil foto balita malang ini lewat ponsel genggamnya untuk ditunjukkan kepada Halimah. Hal itu dibenarkan Halimah yang duduk di samping Kiwin saat diintrogasi di Sat Reskrim Polres Deliserdang.

“Saya suka anak itu, saat pertama kali melihat fotonya,” sebut Halimah. Dijelaskannya, dirinya dituntut untuk memiliki anak laki-laki oleh suami keduanya Leo Peranginangin (25). Padahal, dari pernikahannya pertama, Halimah sudah dikaruniai 4 orang anak dan sudah memiliki 3 orang cucu.(btr)
Atas keberhasilan penemuan itu membuat hati kedua orangtua korban, Ibnu Hajar dan Halidah Hasanah bersyukur. Saat ditemui di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Deliserdang, Senin, (27/2). Bahkan, pelukan serta ciuman tak mau mereka lepaskan dari anak ke lima dari enam bersaudara ini.

“Alhamdulillah dia sehat, sudah hampir dua minggu kami nggak jumpa sama dia,” ujar Halidah dengan rasa terharu.
Halidah tak bisa memaafkan kedua pelaku yang telah tega melakukan penculikan kepada anaknya. Halidah berharap kepolisian dapat menghukum berat pelaku dengan seberat beratnya.(btr)

Tikus-tikus Pendidikan

Oleh:
Suhrawardi K Lubis

Divisi investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) beberapa waktu lalu melansir hasil temuan mereka tentang carut-marut penggunaan anggaran negara. Temuan itu intinya mengemukakan bahwa pencurian uang negara sepanjang tahun 2011, paling banyak terjadi di sektor pendidikan. Pencurian di sektor pendidikan bahkan mengalahkan pencurian uang negara di sektor keuangan dan sosial kemasyarakatan.

ICW dalam pemaparannya menegaskan, ada tiga sektor yang paling mencolok dari sepuluh besar sektor yang paling banyak uang negara dicuri. Pertama, sektor inevestasi pemerintah, kedua, sektor keungan daerah dan ketiga, sektor sosial kemasyarakatan. Sektor investasi pemerintah potensi kerugian negara mencapai Rp439 miliar, sektor keuangan daerah mencapai Rp417,4 miliar, sedangkan di sektor sosial kemasyarakatan potensi kerugian negara diperkirakan mencapai Rp229 miliar.

ICW juga melansir, tingginya tingkat pencurian uang negara di sektor investasi pemerintah sebahagian besar disumbang oleh sektor pendidikan. Tingginya pencurian uang negara di sektor pendidikan disebabkan oleh meningkatnya jumlah anggaran pendidikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Agus Sunaryanto (Kordinator divisi Investigasi ICW) mengemukakan bahwa koruptor itu seperti gula dan semut, di mana ada gula di situ ada semut yang berkumpul, di mana ada uang di situ ada koruptor yang menggerogoti.

Tingginya pencurian uang di sektor pendidikan ini terbukti dengan banyaknya kasus korupsi yang sedang diusut oleh aparat penegak hukum, yaitu sebanyak 54 kasus, sedangkan sektor keuangan daerah dan sektor sosial kemasyarakatan kasus yang sedang di usut hanya sebanyak 51 dan 42 kasus. Artinya kasus korupsi di sektor pendidikan melebihi sektor-sektor lainnya.

Namun sangat disayangkan, penindakan hukum terhadap pencuri-pencuri di sektor pendidikan tersebut semakin menurun. Menurut evaluasi kinerja pemberantasan penegakan hukum terhadap pencuri uang negara di sektor pendidikan yang dilakukan ICW selama tahun 1999-2011 bahwa 80 persen dari seluruh kasus korupsi di bidang pendidikan yang ditangani Kepolisan dan Kejaksaan tidak jelas tindak lanjutnya, padahal kasus-kasus tersebut sudah sampai ke tahap penyidikan. Dari tahun-tahun ke tahun penindakan hukum terhadap kasus-kasus pencurian uang negara di sektor pendidikan semakin menurun. Bahkan diduga kasus-kasus pencurian uang negara di sektor pendidikan tersebut sudah banyak yang disulap oleh aparat penegak hukum menjadi beras.

Tikus Pendidikan Merajalela

Hama tikus (korupsi) pendidikan pada masa belakangan ini semakin merajalela. Merajalelanya pencurian di sektor pendidikan disebabkan karena penindakan terhadap kasus-kasus pencurian uang negara di sektor pendidikan kurang (tidak) ditegakkan. Buktinya, dari 239 kasus korupsi yang diusut oleh kepolisian dan kerjaksaan, hanya 20 kasus korupsi yang sampai ke Pengadilan. Sisanya ke mana? Tentulah menguap begitu saja.
Siapa saja aktor pencuri di sektor pendidikan ini? Menurut temuan ICW pencuri utama di sektor pendidikan itu ialah kepala sekolah atau pimpinan lembaga pendidikan (seperti rektor, ketua dan direktur) dan pejabat struktural di lembaga yang memayungi bidang pendidikan.

Pimpinan atau manajer lembaga pendidikan yang mencuri uang negara sangat banyak, misalnya kepala sekolah mencuri sebahagin uang bantuan operasional sekolah (BOS). Rektor, direktur atau ketua yang memanipulasi bantuan yang diterima. BOS dan bantuan yang diterima.

Beragam macam modus pencurian yang dilakukan oleh pimpinan atau manajer lembaga pendidikan. Antara lain, bantuan pendidikan yang diterima dari pemerintah tidak dimasukkan ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah maupun Kampus. Bantuan dikelola secara tersendiri, dilaporkan secara tersendiri. Akibatnya, penggunaan bantuan pemerintah tersebut tanpa kontrol sama sekali, bahkan boleh jadi laporan penggunaan dana bantuan pemerintah yang dilaporkan itu dibiayai juga dari Anggaran Sekolah/Kampus. Artinya terjadi tumpang tindih anggaran.

Contoh kasus, berdasarkan temuan ICW bahwa salah satu sekolah berstandar Internasional di Jakarta tidak memasukkan dan BOS sebagai pendapatan sekolah. Di salah satu Kabupaten di Sumatera Utara, siswa-siswa dari berbagai kelas yang berbeda digabung dalam satu kelas, sehingga menjadi kelas besar dan bantuan BOS yang mengalirpun semakin besar. Modus lain, dana bantuan yang diperoleh dimasukkan dalam anggaran sebagai biaya pembelian barang-barang habis dan gaji guru dan dan karyawan honorer, padahal biaya tersebut tidak ada dikeluarkan sama sekali, atau sudah dikeluarkan dari Anggaran Sekolah/Kampus.

Bagaimana membasmi tikus-tikus pencuri uang negara di sektor pendidikan ini? Harapan tentunya tertumpu kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama. Karena kedua-dua kementerian inilah yang selama ini memayungi bidang pendidikan di Indonesia. Kedua-dua kementerian ini jangan hanya melakukan pencitraan belaka, tapi lakukan aksi nyata untuk membasmi tikus-tikus yang menngerogoti dana pendidikan. Apabila ini dapat dilakukan, tentulah dana bantuan yang diberikan dapat digunakan sesuai dengan peruntukannnya, dan pada gilirannya pembangunan di bidang pendidikan dapat berkembang sesuai dengan kemajuan zaman.

Selain itu, untuk membasmi tikus-tikus di sektor pendidikan ini juga diperlukan peran serta masyarakat untuk memberikan pengawasan terhadap penggunaan dana-dana bantuan pendidikan yang diberikan oleh pemerintah, baik bantuan pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah kota/kabupaten.

Masyarakat harus peduli terhadap penggunaan anggaran pendidikan, jangan berdiam diri saja kalau melihat terjadi penyimpangan. Selain itu, media pers maupun elektronik tentu diharapkan partisipasinya untuk melakukan pengawasan penggunaan anggaran pendidikan, demikian juga LSM-LSM.
Apabila semua pihak pro aktif melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan, mudah-mudahan tikus-tikus pencuri uang negara di sektor pendidikan akan dapat di minimalisir. Dengan itu diharapkan dana pendidikan akan dapat dipergunakan secara tepat guna. Amin!. (*)

Penulis adalah Dosen Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan

Minus Luis Pena

PERSELA vs PSMS

MEDAN- Bertandang ke Stadion Surajaya guna sua Persela petang ini menjadi pekerjaan berat bagi PSMS. Bagaimana tidak, pada laga yang disiarkan ANTV pada 15.30 WIB itu, Ayam Kinantan minus Luis Pena yang terkena akumulasi kartu dan Novi Handriawan yang terkena hukuman kartu merah.
Selain itu, lapangan di stadion Surajaya juga kurang bersahabat. Pasalnya, 60 persen dari lapangannya masih ditimbuni pasir. Dan stadion ini dianggap masih belum layak untuk dilaksanakan pertandingan.

Hal ini juga terucap dari pelatih PSMS Suharto AD. Ia mengaku, Stadion Surajaya kurang baik. “Kondisi lapangan 60 persen ditimbuni pasir yang tingginya mencapai 20 cm. Dengan keadaan seperti ini, akan menjadi pertandingan berat buat kita. Karena Markus dkk bakal sulit mengembangkan permainan,” ungkapnya didampingi asisten pelatih Roekinoy, usai memimpin sesi latihan sekaligus uji coba lapangan, Senin (27/2).
Namun, menghadapi tim berjuluk Laskar Joko Tingkir, yang notabene hingga pertandingan ke-12 belum pernah kalah di kandang, Suharto tetap yakin skuad asuhannya bisa mencuri poin.

Suharto juga bertarget mengukir sejarah dengan mengalahkan Persela di kandangnya. “Selain kita ingin memutus rekor Persela yang tak pernah kalah di kandang, kita juga ingin memperbaiki track record kita pada pertandingan away,” ujar pelatih berkepala plontos itu.

Pada empat laga tandang terakhir, PSMS hanya bisa mengoleksi satu poin, hasil seri saat bertandang ke Pelita Jaya dengan skor 2-2. Selebihnya, PSMS harus mengakui keunggulan tim tuan rumah. Seperti saat bertandang ke Persib Bandung, PSMS kalah dengan hasil akhir 3-1. Dijamu Arema Indonesia, PSMS ditekuk 2-1. Dan meladeni PSAP Sigli, PSMS juga harus menyerah dengan skor 2-1.

Pada laga tandang kali ini, meski tak diperkuat dua punggawa PSMS, Novi Handriawan yang terkena hukuman kartu merah dan Luis Pena karena akumulasi kartu kuning, Suharto yakin bisa mengangkat posisi PSMS di klasemen sementara ISL. “Kita harus bisa memanfaatkan laga tandang ini untuk mendongkrak posisi PSMS,” katanya.

Namun, tim besutan Miroslav Janu bukanlah lawan yang mudah ditaklukkan. “Persela tim kuat, tapi kita optimis bisa menampilkan yang terbaik. Meski lapangan memang masih tak layak. Mudah-mudahan kita bisa menang, dan ini juga tak terlepas dari dukungan masyarakat Kota Medan yang sangat kita butuhkan,” tutur Suharto.

Pengganti Novi Handriawan, Suharto sudah menyiapkan Ledi Utomo dan mengisi posisi Luis Pena, ia akan mengandalkan Alamsyah Nasution. Kedua pemain pengganti ini dipastikan Suharto setelah melihat performa yang semakin baik pada tiga kali latihan di Surabaya dan Lamongan. Dan keduanya diberikan pelatihan khusus oleh Suharto dan Roekinoy.

Sementara, pelatih Persela Miroslav Janu menuturkan, menghadapi PSMS timnya menargetkan poin penuh. “Persela turun full team, termasuk gelandang terbaik Persela asal Argentina Gustavo Lopez,” ungkapnya.

Menurut Miroslav, Lopez merupakan kreator ulung yang tak tergantikan. Namun, Sukadana yang kerap membangun tempo permainan, menerima akumulasi kartu kuning sehingga tak bisa memperkuat tim. “Lopez memiliki skill yang lengkap. Begitu juga pemain asing Persela lainnya Roman Golian dengan tandukan yang kerap menyulitkan kiper lawan. Ia juga akan kita memanfaatkan untuk membobol gawang Markus. Golian telah mengkoleksi tiga gol dari tandukannya,” paparnya.

Ia berharap, anak-anak asuhannya harus bisa meredam permainan anak-anak Medan, termasuk kecepatan gelandang PSMS Anton Samba. “Terutama disiplin. Pengawalan terhadap pemain tamu wajib dilakukan, khususnya yang berpotensi membahayakan gawang Persela. Mengalahkan PSMS merupakan target Persela dalam laga ini,” tandasnya. (saz)

Anakku Mati Dibakar Orang…

Kejadian tragis di Kutalimbaru, Deliserdang, Minggu (26/2) malam, menyisakan cukup banyak pertanyaan. Duka keluarga dua korban tewas dibakar massa, Ricardo Sitorus dan Marco Siregar, seakan tiada henti. Apalagi, ketika keduanya pamit sebelum tewas untuk ke gereja.  

MEDAN- Saat rumah duka Ricardo Sitorus disambangi koran ini, suasana duka kental terasa di rumah bercat putih itu. Rekan dan kerabat korban tampak sudah memadati rumah duka di Jalan Perkutut, Gang Setuju, Kecamatan Helvetia.

Pada Posmetro Medan (grup Sumut Pos), S Sitorus (50) ayah korban mengaku, Minggu (26/2) sekira pukul 16.00 WIB Ricardo pamit untuk pergi ke gereja. Itulah pertemuan terakhir Sitorus dengan putra tercintanya sebelum meregang nyawa dibakar massa.
“Mau gereja di GBI Medan Plaza katanya, sudah mau diantarnya pun saya partamiangan tapi saya bilang tak usah karena saya takut mengganggu ibadahnya,” ujar Sitorus dengan wajah sembab dan berlinang air mata.

Setengah termangu, Sitorus mengaku malam harinya sekira pukul 20.00 WIB ia menelepon handphone Ricardo namun tak ada jawaban. Sekira pukul 04.00 WIB subuh, Effendi Hutasoit personel Reskrim Polresta Medan yang juga teman korban datang ke rumah Ricardo. “Katanya anak saya sudah mati dibakar orang,” urainya sambil berlinang air mata.

Sitorus meminta kepada kepolisian agar segera menangkap pelaku yang menyebabkan anaknya sampai tewas tak wajar. Menurutnya, ia tahu benar anaknya bukan seorang pencuri apalagi sampai nekat mencuri ternak. “Itu anak saya, saya tahu dia. Nggak mungkin dia mencuri lembu, dia bukan pencuri lembu. Anak saya usaha rental mobil,” tuturnya.

Selama ini Ricardo bekerja sebagai honorer di PD Pasar Simalungun. Namun, Ricardo juga menjalankan bisnis rental mobilnya. “Waktu pergi pakai kemeja lengan pendek, celana jeans. Pakai kalung mas putih 10 gram, cincin 10 gram, di tangan kanan ada cincin permata merah 3 gram,” urai pegawai Dinas Pendidikan ini.

Pengakuan yang sama juga terlontar di rumah duka Marco di Jalan Perkut Gang Gereja Kecamatan Helvetia. Sore itu pada waktu yang sama Marko pamit untuk pergi ke gereja.

“Katanya mau gereja, Bang,” ujar Putra (17) adik Marco saat disambangi di rumahnya.

Putra juga mengaku sore itu tak berfirasat buruk soal abangnya. “Perginya rapi, pakai kemeja dan pakai jeans,” tutur Siswa ST Thomas II itu sambil mengaku orangtuanya belum dapat ditanyai karena masih dalam keadaan berduka.

Pada kejatian Minggu (26/2) malam lalu, sejatinya Kepala Desa Lau Bakeri sempat mengamankan Brigadir Albertus Zebua dan meminta bantuan kepada Polsek Kutalimbaru. Tapi, banyaknya massa membuat nyali personel Reserse Polsek Kutalimbaru ‘ciut’ (lihat grafis). “Karena personel Polsek minim membuat warga terus menganiaya Ricardo dan Marco. Massa kemudian menyeret keduanya ke bawah kendaraan yang sudah dibalikkan,” jelas Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Raden Heru Prakoso. Setelah berada di samping mobil yang sudah terbalik, mobil yang dikendarai korban kemudian dibalikkan kembali sehingga posisinya kembali seperti semula. Lalu, massa membakar mobil tersebut hingga menewaskan Ricardo dan Marco.

“Keduanya tewas di TKP akibat luka bakar yang cukup parah, setelah itu kita mengamankan jasad korban untuk di autopsi di RS Adam Malik. Mobil korban juga sudah diamankan di Polresta Medan, berikut tiga orang yang selamat. Jadi itu bukan pencuri lembu,” ungkap Heru.

Heru mengaku saat ini polisi sedang memburu Kelana yang memancing warga bertindak anarkis hingga menyebabkan Ricardo dan Marco tewas diamuk massa. Ditanya soal SOP tindakan warga yang anarkis, Heru mengatakan anggotanya tak ada yang melakukan tembakan peringatan. “Massa sudah terlalu anarkis,” sebutnya.

Bentuk Frustasi Kolektif

Penasihat Kapolri Kastorius Sinaga, sangat menyesalkan sikap main hakim sendiri yang diperlihatkan massa di Desa Lau Bekeri, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten DeliSerdang, Sumatera Utara. Pasalnya hanya karena diteriaki maling, massa langsung membakar dua orang hidup-hidup hingga tewas.
Namun meski menyesalkan hal tersebut, menurut sosiolog Universitas Indonesia ini secara khusus kepada Sumut Pos mengatakan tingginya aksi main hakim yang dilakukan masyarakat, merupakan bentuk frustasi kolektif karena kekecewaan yang berkepanjangan. Sehingga masyarakat gampang dihasut untuk melakukan tindakan anarkis.  “Jadi dalam hal ini, aparat kepolisian tidak dapat berbuat banyak. Polisi hanya menjadi petugas pemadam kebakaran yang hanya memadamkan sesaat dan menjaga aksi tersebut tidak meluas. Seharusnya kan mengatasi hal ini itu dilakukan oleh instansi-instansi yang ada,”ungkapnya.

“Jadi tingginya aksi kekerasan jika dilihat dari angka kuantitatif yang dilakukan masyarakat, memperlihatkan kalau Pemda di Sumut sangat belum bekerja dengan maksimal. Bahkan dari segi persentase, kenaikan aksi main hakim ditengah masyarakat Sumut, mencapai 15-20 persen setiap tahunnya. Sering kita lihat Pemda tidak berbuat apa-apa menyikapi apa yang terjadi,”ungkap Kastorius yang menyatakan Sumut dalam analisa kerawanan konflik di Indonesia, termasuk daerah kerawanan dalam kategori hotspot,” timpalnya lagi..

Menurut Kasto, Sumut urutan teratas peta kerawanan konflik, disebabkan beberapa hal. Kekecewaan yang berlarut-larut akibat persoalan tanah ini, begitu banyak terjadi. Belum lagi akibat kesulitan ekonomi dan hal-hal sosial lain. “Makanya saya sebut kalau ditanya mekanisme penanganan, itu tidak bisa ditangani kepolisian sendiri. Tapi Pemda, termasuk Badan Pertanahan Nasional dan tokoh-tokoh masyarakat yang ada. Jadi harus diselesaikan secara konfrehensif. Pemda harus bijak menyikapi isu-isu pembebasan lahan perkebunan, tambang dan lain-lain. Kalau persoalan yang terjadi dapat diminimalisir, maka saya pikir masyarakat tidak akan gampang lagi terpicu hanya karena hasutan,”ungkapnya.(ala/smg/gir)

Mabes Polri dan Poldasu tak Kompak

Korban Tewas di Kutalimbaru Diyakini Anggota BIN

Identitas kedua korban yang dibakar hidup-hidup oleh warga karena diduga maling lembu masih menjadi perdebatan. Bahkan, ada yang mengatakan salah satu korban adalah anggota Badan Intelejen Negara (BIN).

Identitas korban sebagai anggota BIN malah dinyatakan pertama kali oleh Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Raden Heru Prakoso, pada wartawan di ruang kerjanya Senin (27/2) siang. “Salah satu korban yakni RJS merupakan anggota BIN, keterangan ini kita peroleh dari hasil pemeriksaan beberapa teman korban yang berhasil melarikan diri ke dalam hutan,” ujar Heru kemarin siang.

Selang beberapa jam, Heru malah meralat keterangannya. RJS alias Ricardo Jeferson Sitorus adalah warga Jalan Perkutut Gang Setuju Medan. Sedangkan seorang lagi – yang tewas dibakar juga – bernama Cristian Marko Siregar warga  Jalan Perkutut, Medan.

“Ricardo bukan anggota BIN ataupun anggota polisi, namun ia sering mengaku anggota BIN. Begitu juga M Siregar. Dia bukan anggota polisi. Kalau anggota polisi pasti kita bilang polisi,” kata Heru, tadi malam.

Senada dengan Heru, keterangan yang didapat dari Kapolresta Medan Kombes Monang Situmorang. “Tau dari mana informasi itu, kan tidak bisa dipertanggungjawabkan, keduanya diketahui sipil!” tegasnya.

Menariknya, keterangan Heru dan Monang berlawanan dengan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution. Dia membenarkan bahwa dua korban tewas akibat amuk massa di Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumatra Utara, adalah anggota polisi. Keduanya adalah Brigadir Ricardo Sitorus dan Brigadir Siregar, anggota Direskrim Polda Sumut. “Anggota yang meninggal ialah Brigadir Ricardo Sitorus dan Brigadir Siregar. Mereka dianiaya warga dan kemudian dimasukkan ke dalam mobil dan dibakar,” ungkap Saud dalam keterangan persnya di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.
Saud Usman menjelaskan, saat itu kedua orang  korban bersama dengan tiga orang rekannya yakni Albertus Zebua, Moses Mindo Purba, dan Bambang Irwanto hendak melakukan penangkapan terhadap seorang bandar Togel berinisial K.

“Namun saat anggota kita hendak menangkap K, mereka diteriaki maling. Massa lalu mengejar anggota kita. Tiga berhasil melarikan diri. Tapi dua anggota kita tertangkap, dianiaya, dimasukkan ke mobil, dan dibakar,” kata Saud Usman.

Ketika keterangan Saud Usman diadu ke Heru, Kabid Humas ini pun langsung meralat. “Ya yang saya paparkan sama kamu tadi ya itu lah yang saya laporkan ke Mabes Polri. Salah itu, mungkin beliau sedang terburu-buru,” tegas Heru saat ditanya ada tidak membuat laporan ke Mabes Polri.
Selain soal identitas, motif kejadian tragis itu juga belum jelas. Pasalnya, banyak cerita yang berkembang dan semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Pertama, soal menciduk Kelana (lihat grafis), seorang bandar toto gelap (Togel).  “Kita belum bisa pastikan mau menggerebek atau apa, keterangan sementara kelimanya menjumpai bandar judi itu dan kasus ini kita masih melakukan pengumpulan bahan keterangan,” terang Kombes Monang Situmorang.

Apa yang diungkapkan Monang memberi cela berkembanganya isu kalau kedatangan korban dan rekan ke Kelana untuk mengambil ‘upeti’.
Selain soal bandar togel, motif lain adalah tentang sewa-menyewa mobil alias mobil rental. “Kepergian Marko dan temannya ke Kutalimbaru untuk menjemput mobil mereka karena mereka itu usaha rental mobil. Mereka mendengar mobil mereka berada di Kutalimbaru, lalu mereka pun ke sana untuk menjemput mobil. Tak benar keponakan saya itu melakukan perbuatan kriminal karena dia itu anaknya baik-baik dan sopan,” kata Wilmar Sihombing (37), paman Marko Siregar (salah korban tewas lainnya) saat berada di instalasi jenazah RSUP H Adam Malik, Senin (27/2) siang.

Ucapan sang paman juga didukung oleh teman-teman korban. “Mobil itu punya Pak Haji, katanya dirental nggak dibalik-balikkan. Jadi mereka mau nyari itu ke sana,” ujar teman korban, Franky.

Dulu, lanjut Franky, Ricardo memang honorer di PD Pasar Simalungun. Namun, Ricardo lebih memilih menjalankan bisnis rental mobilnya. “Memang dulu dia di Siantar, tapi seminggu dua kali saja dia ke sana. Nggak tahu sekarang entah masih aktif di sana atau nggak. Dia nggak tinggal disana, nginap-nginap saja di rumah kawannya di sana,” jelas Franky yang tinggal tak jauh dari rumah Ricardo.

Hal yang sama juga diakui beberapa teman Marko, mereka mengatakan sore itu Marko berniat menemani Ricardo untuk menjemput mobil yang disewa orang dan tak kunjung dikembalikan. “Dia cuma mau ngawani si Jeff (Ricardo), mereka memang join itu,” tutur Jhon Paul Siringo-ringo (29), teman Marko.

Terlepas dari itu, kejadian ini mungkin tidak akan terjadi jika warga bisa menahan emosi. Tapi, warga memang sudah geram atas dengan aksi pencurian yang sering terjadi daerah tersebut. “Kami sering kehilangan Bang, makanya kami geram dengan aksi pencurian, makanya kami dengar orang teriak maling, langsung mengajarnya,” kata seorang warga, R Pasaribu (40), kemarin.(mag-5/gus/uma/sam/ala/roy/eza/smg)

Kronologis Malam Mencekam di Kutalimbaru

Minggu (29/2)

Sekitar pukul 17.00 WIB

  1. Brigadir Albertus Zebua, Moses Minardo Purba, Cristian Marco Siregar, Rikardo Sitorus, dan Bambang Irwanto merental mobil Kijang Innova warna hitam (BK 1020 HK) di kawasan Jalan Rajawali Medan. Pemiliknya bernama Hj Nelima SH warga Jalan Terompet No 2 Kelurahan Titi Rantai Medan.
  2. Rombongan menelepon Koptu Suroso (anggota Koramil Pancurbatu). Koptu Suroso memberi info tentang adanya perjudian jenis toto gelap (Togel) di daerah Kampung Merdeka Desa Gelugur Rimbun Kecamatan Pancurbatu. Disebutkan bandar tersebut bernama Kelana.
  3. Rombongan bertemu dengan Koptu Suroso di sebuah rumah makan belut di kawasan Desa Sukaraya Kecamatan Pancurbatu. Mereka mengatur siasat untuk menangkap Kelana.
  4. Koptu Suroso bersama dengan Bambang Irwanto mengendarai sepeda motor matik meluncur ke lokasi penulisan judi togel yang mereka incar itu.
  5. Begitu sasaran target terlihat, keduanya pun kembali menemui rekannya yang lain itu di sebuah lahan kosong di kawasan Tanjung Anom.

Sekira pukul 19.00 WIB

  1. Rombongan kembali bergerak menuju Kolam Samsul di Desa Sukaraya Kecamatan Pancurbatu. Namun, Koptu Suroso tidak ikut lagi dalam rombongan tersebut.
  2. Bambang Irwanto menelepon Kelana untuk bertemu di depan kolam Samsul.
  3. Kelana tiba di Kolam Samsul tersebut.
  4. Cristian dan Brigadir Albertus Zebua langsung membekuk Kelana. Kelana pun berteriak “maling!” sambil melarikan diri ke arah ilalang dekat kolam tersebut.
  5. Warga yang mendengar teriak Kelana warga langsung mencari sumber suara.
  6. Rombongan dikejar massa yang mulai tak terkontrol emosinya.
  7. Rikardo Sitorus mengajak empat rekannya melarikan diri ke arah Desa Lau Bakeri Kecamatan Kutalimbaru dengan mengendarai mobil yang mereka rental.
  8. Warga yang sudah emosi mengejar dengan menggunakan sepeda motor dan meneriakinya maling. Sepanjang jalan, rombongan dilempari warga dengan menggunakan batu.

Sekira pukul 22.30 WIB

  1. Rombongan dikepung warga tepatnya di Glugur Rimbun Simpang Lonceng Blok H Perumahan Bumi Tuntungan Sejahtera Desa Lau Bekeri Kecamatan Kutalimbaru.
  2. Kelima orang dalam mobil ditarik warga keluar mobil dan menghujaminya dengan pukulan dan tendangan. Kelimanya pun dituduh sebagai komplotan maling lembu.
  3. Brigadir Albertus Zebua pun mengatakan kalau dirinya polisi, namun warga yang sudah emosi tidak lagi peduli.
  4. Rikardo Sitorus mengeluarkan kartu identitas serta diduga mengeluarkan senjata api jenis revolver.
  5. Moses Minarto Purba dan Bambang Irwanto diselamatkan oleh salah satu warga sekitar saat mereka mengaku kalau mereka merupakan warga sipil. Begitu keluar dari kerumunan massa Moses Minarto Purba dan Bambang Irwanto pun langsung melarikan diri ke hutan yang tak jauh dari lokasi mereka ditangkap warga.
  6. Brigadir Albertus Zebua dibawa masyarakat ke rumah kepala desa sedangkan Ricardo Sitorus dan Cristian Siregar terus dihajar warga.
  7. Keduanya diseret-seret sejauh 50 meter dan terus dipukuli. Begitu sampai di mobil yang mereka gunakan sebelumnya. Warga pun langsung menindih dengan pukulan bertubi-tubi di dalam mobil tersebut. Selanjutnya keduanya yang berada didalam mobil langsung dibakar hingga tewas.
  8. Kepala Desa Lau Bakeri menghubungi polisi dan menyerahkan Brigadir Albertus Zebua ke Polsek Kutalimbaru.

Sumber: Kapolresta Medan Kombes Pol Monang Situmorang