30 C
Medan
Thursday, January 29, 2026
Home Blog Page 13910

Lantai Basement Seberang Masjid Raya Kemarin sore.

Oleh: Ramadhan Batubara

Saya memilih menulis lantun ini di lantai basement sebuah pusat perbelanjaan di seberang masjid raya. Tidak bermaksud untuk apa-apa, hanya ingin mencari suasana baru saja. Dan, yang saya dapati ternyata sebuah keasyikan tak terduga.

SEBELUMNYA saya harus mengatakan kalau ada sedikit perubahan pada lantun kali ini dan lantun-lantun mendatang. Saya tak lagi berusaha untuk menerjemahkan sesuatu (seperti lantun-lantun sebelumnya) hingga mencoba memberikan solusi. Mulai saat ini saya hanya ingin bercerita. Bercerita tentang apa? Ya, tentu saja tentang Medan.

Semua ini berawal setelah kritik yang diberikan istri saya tentang lantun pekan lalu. Katanya, saya terlalu beronani; sibuk sendiri, nikmat sendiri, dan sok paten. Katanya, kenapa tidak membuat semacam catatan untuk Kota Medan? Catatan perjalanan, catatan harian, atau apalah yang bisa dinikmati orang lain. Ayolah, kata dia, tidak semua warga Medan bisa menikmati bahkan mengetahui kota ini.

“Berbagilah, ceritakan tentang yang kau alami di Medan. Kau kan baru empat tahun di sini, jadi kau masih bisa melihat mana yang bagus untuk ditulis dan mana yang tidak. Kalau orang yang sudah menahun di kota ini, dia sudah tak tahu lagi mana yang indah di kota ini. Semuanya sudah dianggap biasa,” begitu kata istri saya.

Betul juga. Buktinya, kini saya ada di lantai basement seberang Masjid Raya. Adakah pengarang atau penulis atau jurnalis yang pernah menulis di sini? He he he.

Bercerita soal basement (sebelumnya ingin saya tuliskan lantai bawah tanah, tapi karena yang tertulis di tempat ini adalah basement, ya sudah saya ikut saja) pasti bukan barang baru bagi kota terbesar di Sumatera ini. Nyaris setiap gedung pencakar langit yang ada di kota ini memiliki basement bukan? Biasanya, dijadikan tempat parkir. Lalu, apa menariknya? Itu dia yang ingin saya ceritakan.

Baiklah kita mulai dengan lokasi basement ini. Pertama, Anda harus menjalani Jalan Sisingamangaraja dulu. Lalu, setelah tiba di simpang empat Masjid Raya, perhatikan sebuah pusat perbelanjaan di seberangnya.

Dari pusat perbelanjaan ini ada sebuah jembatan penyeberangan ke Masjid Raya; sudut menarik untuk melihat keindahan masjid.

Pusat perbelanjaan ini tak berbeda dengan tempat lain. Dia menawarkan berbagai barang yang bisa membuat orang tergiur. Jangan peduli kan itu. Anda jalan saja menuju belakang, setelah mendapati barisan ATM, Anda akan melihat tangga ke bawah. Nah, di bawah itulah ruang yang saya maksud. Dan, di sinilah saya menulis untuk Anda. Di sebuah warung internet yang ber-AC dingin, tidak boleh merokok, dan menawarkan musik santai.

Yang menjadi pikiran saya, tempat ini kan bukan kawasan pendidikan atau mungkin perkantoran yang memang membutuhkan warung internet.

Kenapa disediakan warnet? Hm, mungkinkah untuk mendukung pariwisata, mengingat pusat perbelanjaan ini dekat dengan objek wisata Medan seperti Masjid Raya dan Istana Maimoon. Hingga, manajemen pusat perbelanjaan ini berpikir harus menyediakan fasilitas bagi pelancong yang harus segera berhubungan dengan koleganya di luar Medan; misalnya mengirim email dan foto.

Tapi, kan ada telepon genggam.

Dan, bukankah telepon genggam semakin pintar; soal internet bukan masalah lagi bukan? Lalu, jika memang manajemen pusat perbelanjaan ini berpikir harus, kenapa warnet ini diletakkan di lantai basement? Ah, terserahlah. Yang jelas, kini saya mengalami suasana yang berbeda sekali. Biasanya saya menulis lantun di kantor atau di rumah.

Sekian puntung rokok pun habis untuk menulis lantun. Kali ini saya di warnet yang letaknya cukup menggoda; basement. Ruang ber- AC yang tak memperbolehkan saya menyulut rokok. Ruang yang berkaca besar hingga mereka yang berada di barisan ATM bisa melihat jelas tingkah pola saya. Makin menggoda, basement di sebuah pusat perbelanjaan. Makin tambah bergairah, letaknya di seberang masjid raya. Bisa bayangkan kebahagiaan warnet ini ketika saya berhasil menemukannya? Ayolah, warnet (apalagi di basement) harus bersaing dengan masjid yang menjadi ikon kota dan pusat perbelanjaan ramai, bisakah dia menang? Entahlah, ada semangat yang muncul, seperti tak sabar menunggu hari Minggu agar ada ruang untuk saya menulis lagi. Ya, melaporkan pada Anda tentang sesuatu yang saya alami di Medan. Tunggulah…(*)

Enam Kapolres Diganti

Sahala Allagan Bersiap Pensiun

JAKARTA-Jabatan Brigjen Pol Drs Sahala Allagan sebagai Wakil Kapolda Sumut (Wakapoldasu) segera berakhir. Dia akan digantikan Brigjen Pol Drs Cornelis Hutagaol yang sebelumnya menjabat sebagai Analisis Kebijakan Utama Bidang Politik Baintelkam Polri. Sahala Siallagan akan menempati posisi sebagai Pati Yanma Polri dalam rangka persiapan pensiun.

Seperti biasanya, Mabes Polri mengatakan, mutasi ini sebagai hal yang biasa saja, semata untuk penyegaran organisasi.
“Mutasi ini merupakan hal yang biasa dalam rangka penyegaran organisasi,”ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution kepada Sumut Pos di Jakarta, Jumat (27/1) Selain Wakapoldasu, dalam Telegram Rahasia yang ditandatangani Kapolri nomor ST/148/I/2012 tanggal 26 Januari 2012 itu, jabatan Kapoltabes Medan juga kena mutasi.

Kombes Tagam Sinaga akan digantikan oleh Kombes Pol Monang Situmorang SH MSi yang sebelumnya menjabat sebagai Dirpamobvit Polda Riau. Sementara, Tagam Sinaga akan menempati pos baru sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Pidana tertentu Bareskrim Polri dalam rangka persiapan Sespati 2012.

“Kalau saya bisa dibilang sedih meninggalkan Medan, tapi semuanya karena tugas dan saya harus siap,” ucap Tagam melalui telpon selular terkait mutasi tersebu, kemarin malam.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, begitu banyak kesan yang ia terima di Medan, baik itu dalam tugas atau dalam kehidupan bermasyarakat. “Pertama kali saya di Medan, langsung disambut dengan perampokkan CIMB Niaga dan itu sangat sulit saya lupakan,” sebutnya.

Ia sendiri mengaku takkan melupakan Medan karena dia merupakan putra daerah yang pertama kali menjadi Kapolresta Medan. “Mana bisa lupa Medan, saya lahir di Siantar dan dua kali tugas di Medan,” ucapnya.

Siapa sangka yang paling berkesan dan tidak bisa ia lupakan dan akan dirindukannya kuliner di Medan yang mungkin tak akan dijumpainya di tempat tugas baru. “Rindu nasi lembu dan makan belut di Graha Helvetia,” ucapnya
Lalu, bagaimana dengan calon penggantinya Kombes Monang Situmorang? “Saya yakin Kapolresta baru, lebih mampu dari kita apalagi dia pernah menjabat sebagai Kasat Intel Poltabes Medan, kita harap dia lebih mampu karema dia kenal wilayah Medan. Dan pesan terhadap masyarakat Medan saya ucapkan terima kasih atas doa dan kerjasama yang terjalin selama ini, saya juga minta maaf karena masih banyak juga PR yang belum terselesaikan,” ucapnya.

Untuk posisi akan diisi oleh Kombes Pol Drs M Arkan Hamzah menggantikan Kombes Pol Drs Bambang Sukamto SH, MH yang akan menempati pos baru sebagai Widyaiswara Muda Sespimti Sespim Lemdikpol Polri. Selain itu, adalah Kapolres Karo AKBP Drs Ignatius Agung Prasetyoko SH MH. Dia digantikan AKBP Marcelino Sampow SH SIK MT sebelumnya menjabat sebagai Kabag Diklat Pusdik Lantas Lemdikpol. Ignatius Agung Prasetyoko akan menempati pos baru sebagai Wadiresnarkoba Polda Jambi (lainnya lihat grafis).

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Raden Heru Prakoso juga mengamini soal pengalihtugasan tersebut. “Jadi yang diganti Wakapolda, Dir Lantas, Kapolresta Medan, Kapolres Langkat, Karo, Asahan, Nias, dan Dairi,” ujar Heru. Namun, Heru belum tahu pasti kapan serah terima jabatan (sertijab) akan dilaksanakan.

Menurutnya, sertijab dilaksanakan paling lambat 14 hari setelah surat telegram turun.
Terkait dengan itu, Kapolres Langkat AKBP H Mardiyono menegaskan tidak berpikiran negatif apalagi risau tentang pergantian jabatan yang nyaris 3 tahun telah diembannya itru. Sebab, sebagai prajurit dia siap ditugaskan di mana saja sekaligus selalu  mensyukuri keadaan. “Bagi saya, bekerja adalah ibadah,” kata Kapolres di Stabat, Jumat (27/1), mengenai perpindahan tugasnya.

Disinggung tentang keluarnya telegram Kapolri tentang pergantian Kapolres Langkat dari AKBP Mardiyono dan disebut-sebut segera diisi AKBP Leonardus Eric Bhismo, Mardiyono kembali menegaskan hal itu bukan masalah besar. “Tugas harus dilaksanakan dengan baik karena Allah SWT pasti sudah merencanakan semua kehidupan anak manusia,” terangnya.

Beberapa waktu sebelumnya, dihadapan karyawan PTPN2 Kebun Batang Serangan Kecamatan Batang Serangan yang melakukan aksi damai ke Mapolres Langkat, Kapolres mengisyaratkan soal perpindahan jabatan itu. Katanya, sudah cukup panjang di berutgas di Langkat. (sam/gus/mag-4)

Gus, Gatot, dan RE Teratas

Prediksi Jelang Pilgubsu 2013

MEDAN-Telah banyak nama yang muncul jelang Pilgubsu 2013 mendatang. Berbagai prediksi tentang langkah yang akan diambil partai pun telah disajikan. Hasilnya, dari penelusuran Sumut Pos di masyarakat dan pengamat, dua nama diyakini akan bersaing ketat menuju BK 1. Siapa lagi kalau bukan Gus Irawan Pasaribu dan Gatot Pujo Nugroho. Untuk BK2, hanya satu nama RE Nainggolan.

Kemarin, Sumut Pos  bertemu dengan ketua dan sekretaris salah satu partai yang ada di Sumut. Atas nama kepentingan, politisi tersebut tak ingin namanya dikorankan.

Dari perbicangan dengan mereka, sosok Gus dan Gatot memang tidak bisa dipungkiri memimpin dibanding nama-nama lain yang telah muncul untuk Pilgubsu 2013 mendatang.

Selain itu, rivalitas dari keduanya akan berjalan sengit. Karena, baik menurut sang ketua maupun sekretaris partai tersebut, kedua tokoh ini adalah sosok yang paling diminati masyarakat. “Kalau Pilgubsu ini Gatot nggak ikut, macam makan tanpa garam. Nggak seru. Saingannya ini, Gus Irawan. Nah pertanyaannya, apa mungkin nanti orang ini koalisi. Kalau koalisi berat juga, karena dua orang ini sama-sama mau jadi nomor satu,” urai mereka.

Sang sekjen partai tersebut menuturkan, sosok RE Nainggolan juga layak diperhitungkan. Hanya saja, menurutnya, ada satu ketidakmungkinan akan terjadi bila Gatot dipasangkan dengan RE Nainggolan. Namun, sambungnya, cukup ideal bila Gus Irawan bersanding dengan RE Nainggolan “Nggak mungkin dan tidak dibenarkan sama partainya, kalau Gatot sama RE Nainggolan dipasangkan. Gus Irawan kayaknya cukup pas sama RE Nainggolan,” kata sang Sekjen yang dibarengi anggukkan kepala sang ketua partai.

Ucapan mereka dengan melebihkan nama Gus dan Gatot bukan tanpa alasan. Pasalnya, yang berkembang dari prediksi per partai memang lebih banyak mengarah ke Dirut Bank Sumut dan Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu tersebut.

Misalnya, Partai Golkar. Bagi partai bergambar pohon beringin ini sosok yang berpeluang besar akan menjadi jagonya dalam Pilgubsu 2013 mendatang mulai mengerucut pada tiga nama, Gus Irawan Pasaribu, mantan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapoldasu) yang saat ini menjabat sebagai Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian (Kalemdikpol) RI, Komjen Pol Oegroseno, dan Bupati Serdang Bedagai (Sergai), HT Erry Nuradi.

Untuk hal ini, salah seorang anggota Fraksi Golkar DPRD Sumut, Richard Eddy M Lingga yang dikonfirmasi Sumut Pos mengaku, sejauh ini belum ada keputusan DPD Partai Golkar. “Wah, saya tidak tahu soal itu. Karena itu urusan DPD. Sejauh ini belum ada,” jawabnya singkat.

Bagaimana dengan partai lainnya? Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN) serta partai-partai gurem lainnya, kelihatannya akan melabuhkan hatinya ke beberapa sosok. Pertama, Gatot selaku incumbent. Kemudian RE Nainggolan juga disebut-sebut. Gus Irawan pun masuk dalam daftar nominasi.

Untuk yang ini, anggota Fraksi PAN DPRD Sumut, Muslim Simbolon menyatakan, untuk Partai PAN juga belum ada memutuskan siapa yang akan dimajukan pada Pilgubsu 2013 mendatang. Namun, Muslim Simbolon juga sempat menyebut-nyebut nama Ketua DPW PAN Sumut, Syah Afandin alias Ondim.

Menurutnya, setiap partai pasti menginginkan salah seorang kadernya untuk maju, baik untuk orang nomor satu ataupun nomor dua. “ Tidak mungkin mendahulukan orang lain. Misalnya PAN ada Syah Afandin, PPP ada Fadly Nurzal dan lainnya,” terangnya.
Yang sedikit berbeda adalah Partai Demokrat Sumut. Mereka tampaknya masih bertahan dengan tiga nama seperti Rahmat Shah, Mayjend AY Nasution, dan HT Milwan.

Menariknya, informasi yang diperoleh Sumut Pos dari salah seorang fungsionaris partai besar di Sumut, bahwa pada Sabtu (21/1) lalu, RE Nainggolan membuat pertemuan di kediaman fungsionaris Partai Demokrat Sumut, Palar Nainggolan. Agendanya adalah tentang rencana RE Nainggolan maju untuk Sumut 1.

Pada pertemuan tersebut konon kabarnya, sebagian besar yang diundang adalah Pimpinan Partai Demokrat dari kabupaten/kota. Jadi, kemungkinan besar RE Nainggolan akan bersaing dengan Pangkostrad AY Nasution. Mengenai kabar tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjend) Partai Demokrat Sumut, Tahan Manahan Panggabean yang dikonfirmasi hal itu mengaku, tidak tahu. “Saya tidak tahu ada pertemuan itu. Tapi saya pikir tidaklah. Tidak ada pertemuan untuk membahas calon dari Demokrat. Mungkin saja, itu pertemuan atas nama pribadi,” jawabnya.

Lalu, bagaimana dengan PDIP? Seperti diberitakan, partai ini lebih hati-hati memunculkan nama. Selama ini nama yang berada masih sebatas Tri Tamtomo. Nama baru yang muncul adalah nama Sofyan Tan.

Terkait dengan itu, ketua partai yang tak ingin namanya dikorankan tadi mengatakan dua nama dari PDIP tersebut tampaknya akan sulit maju. “Tritamtomo kayaknya nggak mau lagi. Kalau Sofyan Tan, bisa-bisa saja. Politik kan tidak bisa ditebak. Tapi, nanti gampang dimainkan sama yang lain. Isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) itu,” tutur ketua partai tersebut.
Dua Syarat Menjadi Gubsu
Sementara itu dari Jakarta, pengamat politik lokal, Ray Rangkuti mengajukan dua syarat bagi kandidat, sehingga layak memimpin Sumut ke depan. Menurut aktivis asal Mandailing Natal (Natal), publik saat ini secara umum, tidak hanya di Sumut, menghendaki figur yang mampu menjawab dua isu penting. Yakni, isu antikorupsi, dan kedua, isu mengenai kemandirian daerah di era otonomi saat ini.

“Tren yang dikehendaki publik saat ini adalah sosok yang menggambarkan isu antikorupsi, dan sekaligus mampu mengelola sumber daya alam untuk kemandirian ekonomi daerah. Kemandirian ini juga menyangkut bagaimana memberdayakan kelompok ekonomi menengah ke bawah,” urai Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), kemarin.

Menurut mantan Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) itu, dua syarat itulah yang harus melekat pada diri gubernur Sumut ke depan, sebagaimana dikehendaki publik. Karenanya, saran Ray, sejak sekarang publik di Sumut harus mulai melakukan tracking terhadap nama-nama kandidat yang muncul, kiranya siapa sosok yang memenuhi dua kriteria itu.

Untuk melacak isu antikorupsi, menurut aktivis antikorupsi itu, sangatlah mudah. Pasalnya, dari nama-nama yang muncul, sebagian besar merupakan pejabat dan mantan pejabat, termasuk politisi.  Sementara, untuk melacak isu kedua, yakni kemandirian ekonomi, malah sangat mudah. “Sejauh mana kiprahnya selama ini dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan,” ujar Ray.

Terkait dengan syarat kiprah pemberdayaan masyarakat, bagaimana dengan Gus Irawan yang Dirut Bank Sumut? Ray terang-terangan menyebut, Gus Irawan sudah punya poin untuk syarat yang satu ini. “Kalau sejarah sepak terjangnya sudah menunjukkan dia berpihak ke pengusaha kecil menengah ke bawah, itu kredit poin bagi dia. Tinggal bagaimana soal isu antikorupsinya, itu yang harus dilacak, sehingga komplit kriterianya,” kata Ray.

Ditanya mengenai komposisi cagub-cawagub yang ideal dari latar belakanga kandidat, Ray mengatakan, siapa pun dan bagaimana pun kombinasi cagub-cawagub, tetap harus memenuhi dua syarat itu.  Namun, ada catatan khusus dari Ray, yang nampak antipati dengan kandidat yang berlatar belakang politisi.  “Karena partai tak pernah menciptakan orang-orang yang ideal, tapi menciptakan orang-orang yang kemaruk (rakus kekayaan, red),” dalih Ray. (ari/sam)

Setengah Dukun

Maudy Koesnaedi

Maudy Koesnaedi selalu terlihat cantik meski sudah berusia 36 tahun. Kulit wajahnya terlihat kencang. Kecantikannya pun tampak alami. Tanpa make-up pun, wajahnya tetap cantik. Ternyata, itu merupakan buah keteguhannya pilih-pilih
kosmetik.

Dia termasuk perempuan yang punya prinsip teguh, tidak mau jadi korban produk kosmetik yang banyak membanjiri pasaran. “Saya itu termasuk orang yang sangat berusaha keras untuk kembali ke alam. Saya tidak mau melakukan sesuatu yang menyakiti kulit,” tegasnya saat ditemui dalam acara peluncuran Loreal Youth Code Pre-essence kemarin (27/1).

Tapi, tak dimungkiri, seratus persen alami adalah hal yang sulit sekarang ini. Apalagi dengan profesinya sebagai public figure. Dia sering harus berurusan dengan make-up maupun produk perawatan lain yang mengandung bahan kimia.

“Memang, itu tidak bisa dihindari. Tapi, selagi masih bisa pakai yang alami, akan saya usahakan pakai itu. Kalaupun terpaksa harus pakai produk yang bukan alami, biasanya saya cari dulu track record-nya. Itu produk dari mana, kandungannya apa saja. Saya nggak berani pakai yang drastis. Takut sama efeknya,” ceritanya.

Karena itu, ibu satu anak tersebut tidak punya langganan dokter kulit untuk merawat kecantikan. Kalaupun mendatangi dokter kulit, itu hanya untuk alasan medis. “Misalnya, ada bekas luka yang mengganggu dan tidak bisa hilang. Atau, kulit saya belang karena terlalu banyak terkena matahari. Kalau hanya untuk perawatan atau menghilangkan kerutan sih, saya nggak pernah,” lanjutnya.

Maudy menceritakan, di rumah, dirinya masih suka menggunakan sayuran dan buah-buahan untuk merawat tubuh. Bahkan, kalau anaknya demam, dia masih suka mengobatinya dengan bawang merah. “Sampai-sampai, teman saya bilang, saya ini setengah dukun. Soalnya, ya begitu, saya masih suka pakai bubuk pala untuk obat juga,” ungkapnya. (jan/c5/any/jpnn)

Plt Gubsu Terjebak Skema Komisaris Utama

Buntut Keputusan RUPS-LB Bank Sumut

MEDAN- Pengamat Ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU), John Tafbu Ritonga kembali meributi hasil Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham-Luar Biasa (RUPS-LB) PT Bank Sumut. Menurutnya, keputusan RUPS-LB itu pada prinsipnya menunjukkan kalau Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho terjebak pada skema yang dimainkan Komisaris Utama PT Bank Sumut, yang juga Asissten II Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), DJaili Azwar.

“Gatot ini terjebak sama assistennya itu yang Komisaris Utama Bank Sumut (Djaili Azwar, Red). Awalnya persoalan ini hanya ada satu direktur yang meninggal, kemudian eksesnya hingga pemberhentian komisaris independen Harusnya komisaris utama itu yang menyelesaikan masalah. Tidak perlu sampai pemegang saham terbesar. Plt Gubsu kan punya Sekda, punya assisten. Ternyata, assistennya (Djaili Azwar, Red) ini tidak mampu menyelesaikan persoalan itu,” terangnya, Jumat (27/1).

Persoalan ini, sambung pria yang juga Dekan Fakultas Ekonomi USU ini, pada persoalan ini sebenarnya yang tidak terungkap adalah kenapa Komisaris Utama PT Bank Sumut tidak bersedia menandatangani notulen rapat. “Saya melihat, keputusan tersebut sudah final.

M Lian dan Irwan Djanahar (dua komisaris independen yang diberhentikan) sudah memperhitungkan sejak November 2011 lalu dan tidak mau mengubah keputusan tentang pilihan calon direktur yang mereka dukung. Komisaris Utama sudah menggunakan tangan pemegang saham dan sudah RUPS-LB. Kan sudah final. Yang tidak terungkap ialah kenapa Komisaris Utama nggak mau meneken notulen rapat mereka,” bebernya lagi.

Maka, sambung John Tafbu, akar persoalannya ada di Komisaris Utama PT Bank Sumut, bukan pada dua komisaris independen yang diberhentikan pada RUPS-LB tertanggal 25 Januari 2012 lalu, yang digelar di Ruang Beringin, Lantai Delapan, Kantor Gubsu, Jalan Diponegoro Medan. “Nyatanya, masalah tidak selesai juga. Posisi direktur yang meninggal, tidak terisi juga.

Dan sekarang masalah baru mengisi dua komisi independen. Nanti sudah ada komisi independen, masalah masih bisa tambah. Apakah benar-benar independen orangnya? Sementara Direktur Kepatuhan belum ada juga. Nanti diangkat Rudi Dogar, bisa juga muncul masalah karena dia menggantikan periodenya sendiri yang dulu tidak bisa diisinya lagi karena sudah dua periode direksi. Jadi, panjangkan?” papar John Tafbu.

Kemudian, dengan keputusan RUPS-LB tersebut, John Tafbu menyatakan, hal yang wajar bila pada akhirnya memunculkan beragam asumsi di masyarakat, terlebih jika dikait-kaitkan ke masalah pencalonan pada Pilgubsu 2013 mendatang.
“Keputusan rapat itu menjadi multitafsir di masyarakat. Dan itu wajar, bila ada yang menilai karena ada kepentingan dalam masalah politik untuk Pilgubsu, apalagi kabarnya Dirut Bank Sumut akan maju begitu juga Gatot. Tapi sayang, bila hanya karena masalah ini.

Jadi bagaimana saya mau membela, kalau persoalannya karena masalah politik, tidak lagi masalah ekonomi atau perbankan. Dalam konteks Bank Sumut, saya melihat masalah Plt Gubsu, asisstennya, solusi yang dibuat tidak menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah dan menjadi sumber masalah baru. Seperti opini politis yang dialamatkan ke Gatot,” tukasnya.

Sementara itu, penyenggaraan RUPS-LB yang terkesan mendadak itu juga tak luput dari kritik. Ada yang menilai sarat kepentingan pribadi, dan tidak sedikit yang menilai adanya kepentingan politis. “Secara etika, kenapa harus memberhentikan komisaris Independen di tengah-tengah masa jabatan mereka. Nah, yang mengangkat mereka juga adalah pemegang saham terbesar PT Bank Sumut. Dari apa yang ada, dalih melanggar AD/ART, kemudian diadakanlah RUPS itu yang akhirnya memberhentikan dua komisaris itu. Apa yang terjadi sepertinya atas dasar kepentingan,” tegas anggota Komisi C DPRD Sumut, Muslim Simbolon kepada Sumut Pos, kemarin.

Apakah kepentingan tersebut karena merujuk pada Pilgubsu 2013 mendatang, dimana ada sisi kekhawatiran akan terjadi persaingan yang kuat antara Gatot dan Gus Irawan? “Kita tidak mengkaji ke arah itu. Intinya, ada faktor kepentingan kenapa persoalan ini terjadi. Untuk itu, nanti akan kita pertanyakan kepada Dirut Bank Sumut mengenai masalah ini,” urainya. (ari)

Sodomi 12 Remaja, Sopir Angkot Ditangkap

MEDAN- Eston Purba (35), warga Kecamatan Namorambe ditangkap polisi pukul 22.00 WIB. Supir angkot jurusan Pancurbatu-Lubukpakam ini ditangkap karena menyedomi 12 remaja laki-lakin Kedua belas bocah korban sodomi itu masing-masing, YHS (16), DS (14), AP (14), F (15), E (17) DSS (14) HS (15) S (12) FAT (15) dan tiga lagi belum mendatangi Mapolsek Namorambe.

Ceritanya, sejak sang istri menjalani operasi 6 bulan lalu, Eston mulai mencari pelampiasan hasrat seksnya. Gilanya, dia menyalurkan arus bawahnya kepada 12 remaja laki-laki.

Tadi malam, Eston ditangkap saat sedang bersama istrinya. Kasus sodomi itu terkuak setelah seorang korbannya mengadu pada orangtuanya. Kabar mengejutkan itu lalu diteruskan orangtua bocah itu ke kepala desa setempat dan ke polisi.

Seorang dari orangtua para korban mengaku, “Aku tak nyangka anakku bisa disodominya. Dia itu baru 2 tahun tinggal di kampung kami. Selama ini, di rumahnya itu anak-anak sering main-main. Tapi tak nyangka bisa seperti itu kejadiannya,” ujar pria beruban itu.
Sementara, Eston berdalih, dia tak lagi mampu menahan gejolak seksnya. Maklum, istrinya tak bisa melayaninya lagi sejak 6 bulan belakangan. “Udah 6 bulan tak campur sama istriku aku Bang. Istriku dioperasi karena keguguran,” akunya.

Dijelaskan Eston, dia tak ada memberikan uang setiap berhasil menyalurkan hasratnya. “Aku mengajak mereka ke rumah,” jelasnya.

Sambung Eston, para korban awalnya disuruh memegang kemaluannya, lalu disetubuhi dari belakang. “Setelah selesai aku pun mengancam mereka, tapi tak pernah aku kasih uang sama mereka. Tapi enggak semuanya sempat aku masukkan,” ujar Eston.
Kapolsek Namorambe AKP SH Karo-Karo melalui Kanit Reskrim Aiptu Baik Ginting saat dikonfirmasi mengatakan, “Tersangka kita jerat dengan undang-undang perlindungan anak pasal 81 dan pasal 82 nomor 23 tahun 2002,” ujarnya.(roy/joe/smg)

Bukan Bernard Bear

Oleh : Iwan Junaidi
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

ADAKAH orangtua yang tak sayang sama anaknya? Rasanya, tak ada. Hampir semua orangtua pasti mengaku sayang dengan anaknya. Jadi, jangan heran bila ada seorang ibu yang sampai menangis terisak-isak ketika melihat anaknya terbaring lemah akibat sakit atau hal lainnya Beberapa hari lalu di sebuah ruangan. Tak ada tawa renyah yang lepas khas anak-anak. Semua yang ada di ruangan itu hanya tertunduk lesu.

Bahkan sebagian besar di antaranya meletakkan tangannya tepat di wajah. Entah malu, entah karena ketidakberdayaan mereka. Ada apa?

Kembali masyarakat, utamanya para orangtua dikejutkan dengan kabar tragis saat sejumlah anak harus dilarikan ke rumah sakit akibat  keracunan.

Ups, jelas ini bukan kasus pertama. Sebelumnya juga sering didapat cerita tentang sejumlah anak yang mengalami mual-mual dan muntah-muntah setelah melahap jajanan yang ada di depan sekolahnya.
Artinya, meski para guru dan orangtua telah berusaha menjaga anak-anaknya, tetap saja ada celah yang bisa membuat mereka berada di luar kontrol.

Dan celah yang sangat kecil itu, bisa berujung pada sebuah penyesalan yang berkepanjangan, jika tidak ditemukan solusinya. Betapa tidak, besarnya rasa sayang orangtua kepada anak terkadang membuat mereka mengesampingkan rasio. Akibatnya, tanpa disadari, para orangtua tadi justru telah memberi kesempatan kepada sang anak, atau bahkan orang-orang yang berada di lingkungan sang anak untuk melakukan hal-hal negatif seperti penculikan, pencabulan hingga keracunan makanan.

Coba bayangkan saat sejumlah anak seperti si Ucok, si Buyung, si Adi dll berlari berhamburan keluar dari gerbang sekolah dengan segala keriangannya. Dengan segala keluguan yang mereka miliki, membuat mereka tak menaruh curiga kepada orang asing yang berpura-pura baik kepada mereka.
Bisa jadi mereka akan langsung menyambar apapun yang ditawarkan kepada, termasuk air nira yang akhirnya mengantarkan mereka ke rumah sakit.

Oke lah jika itu mutlak karena kelalaian sang pedagang yang ingin mendapat keuntungan sebesar-besarnya dari menjual barang yang sudah tak layak. Lantas, bagaimana bila dengan kesadaran penuh, oleh seseorang,   anak-anak tadi ditawari sesuatu yang lebih merusak dari sekadar air nira?

Ugh… sungguh mengerikan. Namun tak dapat disangkal bahwa itu bisa saja terjadi, dan bahkan pernah terjadi. Ya, beragam makanan dan mainan anak sering disulap menjadi sesuatu yang bisa membawa anak-anak ke alam bawah sadar. Kasus bonbon berbalut narkoba seperti yang pernah terjadi di Makassar mungkin layak menjadi peringatan para orangtua.

Setidaknya, kita-kita para orangtua harus mampu memproteksi anak dari segala hal yang dapat membuat mereka dalam posisi tak menguntungkan. Ingat, mereka bukan Bernard Bear, tokoh kartun anak yang sering mangalami kesialan.

Jadi, agar anak kita tetap dapat menunggu dan menonton Bernard Bear dengan tenang, maka hindarkanlah mereka dari segala hal yang dapat membuat nasib mereka seperti beruang kutub itu. Sanggupkah? Harus sanggup! (*)

Mata Sempat Buta, Rindu Kembali ke Sekolah

Sila Ardita, Dua Tahun Lumpuh karena Penyakit Misterius

Mata Sila Ardita berbinar melihat teman-temannya bermain. Begitupun ketika teman-temannya itu berlompatan, berlari, hingga berkejaran. Tapi, tak lama kemudian, sinar itu langsung berubah 180 derajat. Gadis cilik berusia 9 tahun itu memang tak bisa bergabung. Tangannya sulit digerakkan, kakinya pun mengalami kelumpuhan.]

SOPIAN, Tebingtinggi

Kesedihan Sila terlihat jelas ketika Sumut Pos mendatangi rumahnya di di Jalan Syek Beringin, Lingkungan 1, Kelurahan Tebingtinggi, Kecamatan Padanghilir, Kota Tebingtinggi, kemarin. Sila hanya duduk di kursi plastik berwarna hijau di depan rumahnya. Sementara teman sebayanya bebas berlarian. Sila hanya menonton.

”Kadang mereka ngajak aku turun ke tanah, tapi aku cuma bisa duduk,” buka Sila yang saat itu memakai baju merah.
Pemilik senyum manis ini sesekali tertangkap memandang kosong entah ke mana saat berbicara. “Pernah juga dia ajak teman-teman bermain, tapi aku gak bisa gerakan kaki. Rasanya sakit dan kebas. Aku cuma bisa menonton, Om,” terangnya.

Terlihat jelas setiap Sila bicara kalau ada keinginan yang tidak bisa digapai. Buah hati Armaja (38) dan Mustika Wati (34) ini tampaknya ingin mengulang masa cerianya dulu yang bisa berlari dan bermain di rumah maupun di sekolah. “ Ingin, Om, seperti mereka bisa berjalan. Aku ingin bermain dan sekolah bersama teman-temanku,” tutur Sila.

Ya, Sila seperti pengakuan sang ayah, Armaja, memang sempat bersekolah. Dulu saat Sila berumur 6 tahun, dia terlihat segar bugar tidak mengalami gangguan penyakit apa pun. Bahkan, Sila sempat bersekolah hingga kelas dua sekolah dasarn
“Tapi saat Sila berumur tujuh tahun saat naik ke kelas tiga, dia diserang penyakit aneh. Matanya sampai buta. Tapi setelah dilakukan pengobatan secara rutin, penglihatan Sila kembali membaik. Tapi kondisi tangan dan kakinya mengecil sehingga terjadi kelumpuhan,” terang Armaja.

“Berbagai pengobatan sudah kami lakukan, seperti membawa ke dokter dan pengobatan tradisional yang ada. Tapi selama berobat, penyakit yang diderita Sila tak kunjung sembuh,” ungkap Armaja.

Soal penyakit aneh yang diderita Sila hingga kini masih menjadi misteri. Sang ibu, Mustika Wati, mengatakan telah berbagai tempat mereka datangi untuk kesembuhan sang buah hati. Lucunya, pernah seorang dokter mengatakan bahwa penyakit yang diderita Sila Ardita itu tidak ada. Tapi, Sila malah dikatakan terkena penyakit stroke ringan. Tak pelak, keterangan sang dokter membuat dia dan suami bingung. “Masak untuk anak berusia tujuh tahun udah terkena stroke ringan, stroke itu kan dialami orang pada usai 35 tahun ke atas,” ucap Mustika.

Untuk mengetahui jenis penyakit yang diderita anak perempuannya, Mustika tetap melakukan pengobatan walapun dengan cara harus mengutang kepada orang lain untuk biaya perobatannya. “Kami berharap penyakit aneh diderita Sila bisa diketahui penyebab dan namanya. Sebelumnya Sila hanya menderita demam tinggi, kemudian dibawa berobat ke klinik. Bukan kesembuhan didapat, malah anak saya mengalami kebutaan dan lumpuh kaki dan tangan,” ujarnya.

Kini, pengobatan untuk Sila hanya dengan pengobatan alternatif. Pasalnya, pengobatan secara kedokteran tak bisa dilanjutkan karena uang yang dimiliki sudah habis untuk pengobatan awal.

Armaja hanya bekerja sebagai  pegawai honorer di Telkom di Kota Tebingtinggi. Upah yang diterima sebulan tidak mencukupi untuk membiayai pengobatan anaknya, belum lagi untuk keperluan kebutuhan sehari-hari keluarganya; selain Sila, Armaja masih memiliki dua anak lagi.Rumah tempat tinggal pun tidak ada. Meraka terpaksa menumpang di rumah orangtua Armaja.

Sementara Mustika Wati dalam kesehari-hariannya hanya mengurus Sila dan kedua adiknya. “Saya tidak bekerja hanya mengurus Sila di rumah,” ujar Mutika Wati.

Karena itu, kini pihak keluarga sangat berharap dengan bantuan dari Pemerintah Kota Tebingtinggi. “Masa depan anak saya sangat tergantung dengan bantuan orang lain,” pungkas Armaja.(*)

Minta Masjid yang Roboh Dibangun Lagi

Ratusan Massa Serbu Hotel Emerald Garden

MEDAN-Ratuan massa  Aliansi Ormas Islam Pembela Masjid Sumut menggelar demo ke kantor PT Jati Masindo,  di Hotel Emerald Garden, usai salat Jumat berjamaah di lokasi Masjid Raudhatul Islam, Jalan Putri Hijau dan Masjid Al Khairiyah, Jumat (27/1) siang.
Aksi itu dilakukan karena perusahaan pengembang dituding telah menghancurkan masjid Dalam pernyataan sikapnya, massa meminta PT Jati Masindo segera membangun kembali masjid. Massa juga meminta kepada PT Jati Masindo tidak mengusik Umat Islam karena bisa memancing kerusuhan.

Selain itu, kepada Polisi, Massa juga meminta untuk menangkap pelaku penghancuran Masjid Raudhatul Islam dengan menggunakan buldozer. Massa juga meminta Wali Kota Medan Rahudman Harahap untuk tidak menjadi antek-antek pengembang yang rela menghancurkan masjid-masjid di Kota Medan. Massa juga mengimbau dan mengajak Umat Islam untuk bersama-bersama membela, utamanya terkait  aksi pemukulan yang dialami warga oleh sekuriti hotel segera ditangkap.

Saat melakukan aksi ratusan massa membawa pengeras suara, spanduk. Massa juga membakar ban bekas. Dalam aksi itu seorang pendemo diamankan polisi karena membakar tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram dan membuangnya di tengah Jalan Putri Hijau Medan. Beruntung polisi langsung memadamkan api di tabung gas tersebut.Massa juga sempat marah saat polisi mencoba memadamkan api yang membakar ban bekas dan menyemprotkan gas air mata serta datangnya mobil water canon.

Setelah 2 jam melakukan orasi di depan hotel pendemo melakukan salat Ashar berjamaah di depan hotel. “Aksi  ini dilakukan untuk meminta pertanggungjawaban dari pihak pengembang karena sudah menghancurkan Masjid Raudhatul Islam. Perobohan masjid sama artinya telah menghalang-halangi Umat Islam untuk melaksanakan ibadah,” tegas Ketua Aliansi Ormas Islam Pembela Masjid Sumut, Drs Leo Imsar Adenan kepada Sumut Pos.

Leo juga meminta pertanggungjawaban telah menghancurkan Masjid Al Khairiyah yang letaknya di Komplek Perumahan Emeral Garden. Masjid Al Khairiyah dihancurkan sementara rumah ibadah yang letaknya bersebelahan dengan masjid tersebut malah tidak dihancurkan.

“Inikan diskriminatif terhadap Umat Islam. Masjid Al Khairiyah dirobohkan sementara rumah ibadah di sebelahnya tidak dirobohkan. Tentu saja ini memancing kemarahan Umat Islam yang selama ini diam saja dan masih menahan diri,” sebut Leo
Hal senada juga diungkapkan koordinator aksi, Amirullah Hidayat SSos. Dalam orasinya Amirullah meminta agar pembongkaran masjid segera diusut, meminta agar pimpinan Hotel Emerald meminta maaf dan membangun kembali masjid yang dibongkar.

“Ini tidak bisa dibiarkan karena ini sudah sangat bertentangan. Pemerintah jangan menutup mata dan jangan memberikan semuanya kepada para pengembang dimana ini merupakan hak rakyat,” jelasnya.

Setelah melakukan salat Ashar berjamaah ratusan massa membubarkan diri. Aksi ini mendapatkan pengawal ketat dari Satuan Sabhara Polresta Medan dan Satuan Brimob Polda Sumut. Akibat aksi itu Jalan Putri Hijau sempat macet total.

Sekadar diketahui masjid yang sudah dirobohkan di Kota Medan yakni Masjid At Thoyibah di Jalan Multatuli, Masjid  Sudirman di Padangbulan, Masjid Al Khairiyah, Masjid Raudhatul Islam, Masjid Al Ikhlas Jalan Timor Medan. Satu lagi Masjid Nurul Hidayah Jalan Williem Iskandar yang terancamakan dihancurkan.

Sementara itu, Stasiun Pengisian Bahan Umum (SPBU) yang berada persis di depan Hotel Emerald Garden, Jalan Yos Sudarso memilih tutup dan tidak beroperasi karena tidak mau mengambil risiko.
“Karena ada aksi bakar ban kami tutup sementara. Itu diperintahkan bos kami,” jelas seorang petugas SPBU. (jon/adl/gus)

Jaksa Cross Check Hasil Auditor Investigasi BPKP

Dugaan Korupsi di RSU Pirngadi Medan

MEDAN-Investigasi yang dilakukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terhadap dugaan korupsi penyimpangan anggaran operasional di Rumah Sakit Umum dr Pirngadi Medan masih belum final. Jaksa masih melakukan cross check hasil auditor investigasi tersebut sebelum mengeluarkan kesimpulan.

“Ada beberapa yang harus di-cross check dari tim auditor investigasi sebelum dibuat kesimpulan,” tegas  Kasi Penkum Kejatisu, Marcos Simaremare SH, beberapa hari lalu.
Menurutnya, konfirmasi terhadap pejabat di RSUD dr Pirngadi Medan mulai dari direktur, bagian keuangan, kepala instalasi farmasi dan lainnya.

“Justru hasil BPKP yang akan dijadikan focal point. Kalau ada ditemukan akan dilakukan penyelidikan,” tegas Marcos.
Sebelumnya, dugaan korupsi di RSU dr Pirngadi Medan terungkap berdasarkan audit yang dilakukan BPKP. Dalam audit itu ditemukan adanya penyimpangan dana operasional rumah sakit termasuk penyimpangan dana operasional obat yang dikelola oleh pihak farmasi serta dugaan penyimpangan penggunaan alat pencucian darah Apa tanggapan petinggi RSU dr Pirngadi Medan? “Nanti setelah semua selesai diperiksa oleh tim Kejatisu dan tim BPKP hasilnya pasti akan kita ekspose dan kita beritahukan. Untuk saat ini belum bisa karena masih dalam pemeriksaan,” kata Wakil Direktur RSU dr Pirngadi Medan, Yasin, Selasa (24/1) lalu.

Berapa orang yang dimintai keterangan sebagai saksi? “Tidak ada yang dimintai keterangan sebagai saksi,” tegasnya.
Tapi, Kasubbag Hukum dan Humas RSU dr Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin SH MKes mengaku ada 15 orang yang dimintai keterangan sebagai saksi oleh tim penyidik.

“Memang ada dimintai keterangan sebagai saksi sebanyak 15 orang tapi saya tidak pernah tahu siapa-siapa orangnya karena tidak ada diberitahukan kepada saya,” katanya.

Mengenai hasil pemeriksaan, Edison Perangin-angin menerangkan, juga tak mengetahui karena tak pernah diberitahukan juga.
Ditambahkan Edison, dirinya tak tahu menahu mengenai hasil pemeriksaan dari tim penyidik karena tak pernah diikutsertakan rapat. (jon/rud)