Home Blog Page 13927

Isner Jinakkan Ferderer

FRIBOURG – Mantan petenis nomor 1 dunia Roger Federer secara mengejutkan ditaklukan oleh John Isner sehingga membuat tuan rumah Swiss untuk sementara tertinggal 0-2 dari Amerika Serikat dalam babak pertama Grup Dunia Davis Cup.

Sebelumnya, petenis Swiss lainnya Stanislas Wawrinka juga ditekuk Mardy Fish 2-6 6-4 6-4 1-6 7-9. Usaha Swiss untuk melaju ke babak perempat final Davis Cup untuk pertama kalinya sejak 2004 pun terancam kandas.

Dalam laga yang berlangsung di lapangan tanah liat di Fribourg, Swiss itu Federer terlihat kesulitan meladeni servis-servis keras yang menjadi ciri khas dari Isner dan akhirnya harus menyerah empat set 6-4 3-6 6-7 2-6.

Isneryangmenempatiperingkat17duniaitu pun menyebut kemenangan ini sebagai kemenangan terbesar sepanjang hidupnya. Isner mesti melalui pertarungan selama dua jam 39 menit untuk menorehkan kemenangannya yang fenomenal tersebut.

“Itu merupakan salahsatukemenan- gan terbesar sepanjang hidup saya, bukan yang benar, itu merupakan kemenangan terbesar sepanjang hidup saya,” tandas Isner seperti dikutip dari Eurosport, Sabtu (11/2). (net/jpnn)

Ferrari Target Barcelona

JEREZ – Fernando Alonso berjanji Ferarri akan tiba di tes pramusim berikutnya di Barcelona dengan kondisi yang lebih baik dibanding tes pertama di Jerez. Tes di Barcelona akan dilangsungkan pada 21 hingga 24 Februari mendatang.

Sekalipun Alonso berhasil mencatat waktu tercepat di hari keempat atau hari terakhir tes di Jerez pada Jumat (10/2) kemarin tetapi direktur teknis Ferrari Pat Fry mengakui sebelumnya di awal pekan ini bahwa dirinya tidak puas dengan kemajuan yang dicatat F2012.

Di tengah segudang keraguan soal performa F2012, di mana Alonso mengungkapkan kekhawatiran terbesarnya adalah reliability atau daya tahan, tetapi juara dunia 2005 dan 2006 itu tetap yakin tim akan segera menemukan solusi atas problem tersebut.

“Saya masih berpikir masih jauh perjalanan menuju Australia dalam konteks berapa banyak hari dan tes yang masih bisa kami lakukan,” kata Alonso seperti dikutip Autosport, Sabtu (11/2). (net/jpnn)

PSMS Kalah, Beni Puas

SIGLI- PSMS Medan menguasai jalannya pertandingan babak pertama saat menghadapi PSAP Sigli di Stadion Kuta Asan, kemarin (11/2). Tapi sayang di akhir babak pertandingan Ayam Kinantan- julukan PSMS harus rela menerima kekalahan dengan skor 1-2.

Di babak pertama PSMS tampil garang. Beberapa kali gawang PSAP yang dikawal Fakhrurrazi nyaris bobol dari serangan Osas Saha dan kawan-kawan. Seolah-olah PSAP tidak memiliki stamina sehingga serangan Sayuti dan kawan-kawan dapat dipatahkan tim ayam kinantan yang digalang Sasa Zecevik.

Bermain dengan kondisi panas sedikit menguras tenaga pemain ke dua tim. 20 menit berjalannya pertandingan gawang PSAP nyaris bobol karena tendangan keras Osas Saha dapat ditepis Fakhrurrazi.

Pemain PSAP Sigli sering melakukan kesalahan sehingga umpan-umpan pendek yang diperagakan PSAP Sigli membuat bola mudah dicuri PSMS.

Kemudian menit 40 Wook Jin Yuo tinggal berhadapan dengan penjaga gawang PSMS Markus Harison, tendangan lemah Wook Jin You dapat diselamatkan Novi Handriawan sehingga selamat gawang PSMS Medan.

Babak kedua anak-anak PSAP mulai bangkit dan meneror gawang PSMS yang dikawal Markus Harison. Serangan Sayuti dan kawan-kawan selalu kandas di kaki pemain lawan namun nasib sial menimpa PSAP Sigli, dimana pada menit 55 Osas Saha mampu menciptakan gol simata wayang untuk PSMS Medan.

Gol itu terjadi akibat kesalah fahamanan antara Arifin dan Stembiso karena dianggap ada pelanggaran.

Selang lima menit Wook Jin You mampu menyamakan kedudukan 1-1. Gol itu terjadi dari aksilerasi Sukman Sueb masuk ke kotak finalti lawan umpannya mampu diteruskan Wook Jin You dan langsung menyambung tendangannya dan membuat Markus harus memungut bola dijalanya.

Kedudukan berubah 1-1 dan tempo permainan semakin tinggi serangan demi serangan terus dilancarkan tim laskar aneuk nanggroe namun tidak berhasil.

Masuknya Skou Camara menggantikan Sayuti membuat permianan PSAP semakin hidup. Bahkan Camara kerap mengancam gawangnya Markus, aksi Wook Jin You pada babak kedua membuat 6000 lebih penonton di Stadion Kuta Asan memberi dukungan terhadap Feri Komol. Masuknya M Ali mengantikan Arifin Geuninu juga semakin kokohnya pertahanan PSAP.

Menit ke 80 aksi Skou Camara membuat 6000 penonton yang memadati Stadion Kuta Asan Sigli dibuat terpana ketika sundulan kepala Skou Camara tak mampu dijangkau penjaga gawangPSMS Medan Markus Horison dan akhirnya kedudukan 2-1 untuk PSAP Sigli.

Menejer PSMS Medan Beni Tomasoa kepada Rakyat Aceh (grup Sumut Pos) Sabtu (11/2), mengaku kemenangan PSAP Sigli bersih dan tidak ada main mata. Kemudian pihaknya puas dengan penampilan pemainnya. PSMS hanya kurang beruntung, bahkan anak-anak terlalu lelah dalam menjalankan pertandingan karena cuaca panas.

Asisten Pelatih PSAP Sigli Noviar mengaku pemain di babak pertama terlalu terbebani sehingga sulit bangkit dan pada babak kedua PSAP bermain gemilang dan tampil bagus sehingga mampu mengalahkan PSMS , 2-1. (saz/mir/jpnn)

PSDS Mantapkan Posisi

LUBUK PAKAM- Berbekal tiga kali menang dalam tiga pertandingan dengan nilai 9, PSDS mantapkan posisi sebagai pemuncak di klasemen sementara kompetisi PSSI Divisi Satu Grup II Liga Indonesia 2011-2012.

PSDS Deliserdang berhasil menaklukkan PSPP Padang Panjang dengan skor 3-1 yang berlangsung di Stadion Baharoeddin Siregar, Sabtu (11/ 2) sekitar pukul 14. 00 WIB.

Ketiga gol yang dihasilkan PSDS itu masing masing disumbangkan Agung Surya Wardhana di menit ke-28, Ronal Sinaga menit ke-32 serta Renny Mustafa menit ke-62. Sedangkan gol balasan PSPP Padang Panjang tercipta pada menit ke-40 oleh Yasril.

Semenjak peluit pertama ditiup oleh wasit Muchlis, pemain dikuasai anak anak traktor kuning. Beberapa peluang di menit menit pertama nyaris menggetarkan gawang PSPP Padang Panjang yang dikawal oleh Reza Sargianus.

Namun, upaya yang dilakukan pungawa PSDS tercipta melalui sontekan kaki kanan Agung Surya Wardhana.

Agung Surya Wardhana memaksimalkan bola munta yang tidak berhasil diantisipasi kiper PSPP Padang Panjang, Reza Sargianus. Skor berubah 1-0 keunggulan PSDS.

Kemudian di menit 32, kesalahan yang sama dilakukan kiper PSPP Padang Panjang. Tendangang keras yang dilepaskan oleh Ridho Kurniawan tidak berhasil secara maksimal dikuasai Reza Sargianus.

Sementara Ronal Sinaga yang berdiri di sana, menendang kearah gawang yang tidak dibendung. Skor berubah 2-0 keunggulan PSDS.

Mengetahui timnya tertinggal 0- 2, Pelatih PSPP Padang Panjang Drs Erizon Cristiar dari luar lapangan mengintruksikan agar timnya, menyerang.

Instruksi itu tidak sia- sia.

Pada menit ke-40, striker PSPP Padang Panjang Yasril menciptakan gol buat timnya. Skor berubah menjadi 2-1, bahkan sampai babak pertama berakhir.

PSDS menambah golnya melalui pemain penganti Renny Mustafa di menit ke 62. Padahal Renny Mustafa mengantikanVickyYulizarpadamenit 56. Atas kemenangan ini, pelatih PSDS Deli Serdang Dosman Sagala, senang.

Namun, lanjut pria berkulit warna sawo matang itu, posisi teratas klasemen sementara .(btr)

Padang Makin Gemilang

Tahun Kedua, 3500 Penonton Meriahkan Opening Party

PADANG- Kompetisi basket pelajar terbesar di tanah air Honda Development Basketball League (DBL) 2012 kemarin (11/2) resmi dimulai di kota Padang. Menginjak tahun kedua penyelenggaraan, antuasiasme pelajar Padang untuk menyambut event tersebut semakin besar.

Tercatat sebanyak 3500 penonton memenuhi tribun dari GOR Prayoga yang hanya memiliki kapasitas 2000 orang. Mereka bergantian menyaksikan empat pertandingan yang diselenggarakan.

”Di tahun pertama, potensi yang dimiliki pelajar di kota Padang tak kalah menjanjikan jika dibandingkan kota-kota lain yang pernah disinggahi Honda DBL. Semua itu membuat saya makin optimis kalau Padang bisa menyamai kota-kota besar lain yang telah dikenal gila basket,” ucap Masany Audry, general manager PT.DBL Indonesia.

Optimisme akan pertumbuhan Honda DBL 2012 seri Sumatera Barat juga dirasakan oleh Doni Hendra, marketing manager CV Hayati, main dealer Honda di kota Padang. Menurutnya, event tersebut memberikan banyak dampak positif bagi para pelajar Padang.

”Kompetisi ini tak sekedar menjadi wadah kreativitas bagi para pelajar.

Namun juga mengarahkan para pelajar untuk melakukan berbagai kegiatan yang positif. Tahun ini, saya optimis animo pelajar Padang untuk menyambut kompetisi ini bakal semakin dahsyat,” terang Doni.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Taufik Ardiansyah, CSCTelkomselbranchPadang.

Kompetisi tersebut dia nilai akan semakin meningkatkan gairah para pelajar di Sumatera Barat terhadap olahraga basket.

”Kami selalu mendukung segala bentuk kegiatan positif yang diselenggarakan untuk para pelajar. Lewat kompetisi ini, akan lahir atlet-atlet basket potensial yang bisa membawa nama Sumatera Barat,” terang Taufik.

Opening party Honda DBL 2012 West Sumatera Series memang mendapat sambutan positif dari pelajar di ranah minang.

Rombongan supporter dengan jumlah besar datang dari SMAN 3 Padang. Mereka memboyong lebih dari 500 suporter ke GOR Prayoga. Tim putri SMAN 3 Padang bertanding di laga pembuka melawan SMA Xaverius Padang. (jpnn)

Rebutan Main, Posisi Pertandingan Dibatalkan

MALANG- Hingga pukul 16.51, Sabtu (11/2), pertandingan antara Arema Indonesia dengan melawan Bontang FC, di Stadion Gajayana, Kota Malang, tak kunjung dimulai. Akhirnya, pertandingan pun dibatalkan karena ada dua tim yang tetap ngotot akan bermain. Dua tim Arema sama-sama datang ke Stadion Gajayana.

Dari pantauan Kompas.com di stadion, pembesar kedua kubu tetap sama-sama ngotot bermain. Namun, pihak PSSI yang diwakili Bernhard Limbong, serta musyawarah pelaksana pertandingan memutuskan pertandingan dibatalkan. Menurut Wakapolresta Malang, Kompol Irwan Susanto, selama ada dua tim dan dua panpel, kepolisian tak bisa memberikan izin.

“Panpel ada dua. Sama- sama bawa pemain. Jadinya polisi bingung mau menentukan tim yang mana yang boleh main,” katanya ketika ditemui di dalam Stadion Gajayana.

Jauh hari sebelumnya, pihak kepolisian mengaku sudah proaktif memberikan tawaran agar segera berdamai.

Namun, solusi tak kunjung diperoleh. Jika tak kunjung menemukan jalan keluar, pihaknya akan menunda pertandingan hingga dengan waktu yang tidak ditentukan.

“Kita ingin aman. Karena tak ada solusi, pertandingan dibatalkan. Itu juga hasil musyawarah dari pelaksana pertandingan dan kedua pihak serta kepolisian.

Hasilnya dibatalkan,” tambahnya.

Sementara itu pelatih Bontang FC, Edy Simon, mengaku, sangat kecewa dengan dibatalkannya pertandingan.

Namun, karena kondisi tak bisa dikompromi, dia menerimanya. “Jelas kami kecewa karena dibatalkan.

Tapi kita tunggu keputusannya nanti. Apakah tim lawan WO. Harapan kita begitu. Karena tim kami sudah siap tanding,” ungkapnya.(net/jpnn)

Di Pinggir Jalan Titikuning yang Gamang

Oleh: Ramadhan Batubara

Dini hari kemain, ketika suasana mulai tenang dan lampu-lampu mulai dimatikan, saya memilih duduk di sini. Ya, di sebuah restoran siap saji yang beberapa waktu ke belakang menjadi pembicaraan karena diserang sekelompok anak muda. Hm, genk motor.

TAPI, bukan genk motor yang ingin saya bicarakan di lantun ini. Seperti lantun sebelumnya, saya memang ingin menceritakan tentang sebuah tempat di Medan yang mungkin sudah sangat biasa tapi bisa menjadi menarik. Kali ini saya memang pilih Titikuning.

Terbayang dalam ingatan ketika beberapa waktu lalu saat jalan di depan saya ini belum ada. Menumpang sudako jalur 17, berwarna kuning dan berpintu belakang, saya harus menunggu lama agar bisa menyeberangi Sungai Deli. Jembatannya pun belum bisa dilalui oleh dua mobil di dua sisi bersamaan. Ya, belum ada jembatan dan Jalan AH Nasution seperti sekarang yang ramai dilalui hingga macet di siang hari.

Titikuning bagi saya cukup menarik bukan hanya karena sejak kecil saya sering melewatinya. Tapi Titikuning ini tidak sekadar jembatan yang berwarna kuning, dia juga sebuah kawasan dengan level kelurahan. Selain itu, dari kawasan ini telah lahir seorang sastrawan ternama di Indonesia, Hamsad Rangkuti. Kalau mau dicari tahu, masih banyak kelebihan dari kawasan ini.

Tapi sudahlah, saat ini saya sedang duduk di restoran siap saji yang kabarnya diusahai oleh seorang pembalap Sumut ternama. Tempat yang nyaman untuk menghabiskan malam. Layanan menarik dan menu yang elite. Dan dini hari kemarin, sepulang kerja saya dan teman sekantor memilih tempat ini untuk melepas penat.

Menariknya, kami memang sengaja membuat heboh. Kebetulan kebanyakan dari kami masih menggunakan sepeda motor. Maka, kami datang serempak, terdiri dari dua puluhan orang dengan mengendarai sepeda motor masing-masing. Fiuh. Meski tidak meraung-raungkan suara sepeda motor, kehadiran kami sempat juga membuat warna wajah pengunjung berubah sesaat. Sayang, kostum kami terlalu sopan, terlihat jelas baru pulang kerja. Wajah pengunjung lainnya pun kembali semula. Suasana seram beberapa waktu lalu di tempat ini langsung mencair. Yang ada hanya tawa, tawa, dan tawa. Apalagi, beberapa dari kami sibuk memegang telepon pintar dan langsung mengabadikan momen itu. Jepret.

Nah, di saat suasana hingar-bingar itu, tiba-tiba saya teringat dengan kehebatan Titikuning di zaman dulu. Kini jalan utama yang menjadi pilihan pengguna jalan adalah tepat di belakang gedung ini. Benar-benar berbeda.

Ya, seperti teori evolusi: kemajuan di suatu bidang memang membuat kemunduran di bidang lainnya. Maka, saya hanya mengelus dada dengan perubahan ini. Ya, ketika dulu orang-orang berbondong-bondong membangun rumah atau tempat usaha mengarah ke jalan itu, kini jalan bersajarah tersebut malah dipantati gedung-gedung.

Lalu, apakah perubahan ini bisa dikatakan salah. Tentu, saya tidak menjawabnya dengan kata iya. Pasalnya, pertumbuhan Medan memang tidak bisa dibendung. Dibangunnya jalan dan jembatan baru di Titikuning memang sebuah keharusan. Coba bayangkan jika tetap mengandalkan Titikuning yang lama. Volume kendaraan yang sudah gila-gilaan pastilah tak akan mampu ditampung . Saat ini saja, kawasan ini dikenal sebagai salah satu titik termacet di Kota Medan.

Padahal, Jalan AH Nasution terdiri atas dua jalur jalan; yang masingmasing sisinya bisa dibariskan tiga mobil. Jembatannya pun tidak sempit; kekurangannya hanya bentuknya saja yang tidak seperti jembatan, jembatan lama memiliki kuping tinggi layaknya jembatan kebanyakan.

Terus terang, biasanya saya melewati kawasan ini dengan suasana yang biasa saja. Dini hari kemarin, ada kegamangan yang mengemuka. Seperti melihat sudako, angkotan kota yang sejatinya bisa menjadi ikon kota.

Kini, sudako secara perlahan mulai dipinggirkan. Alasannya, kendaraan itu sudah sangat tua hingga mencemarkan udara Medan. Ah, bagi saya itukan sekadar alat. Ya, tinggal ganti saja mobilnya, tapi bentuknya tetap dijaga. Selesai. Kenapa harus mengubah sesuatu dengan alasan-alasan yang instan. Ayolah, apalagi yang bisa dijadikan ikon kendaraan Medan setelah bus bertingkat dan becak motor dengan pedal dayung yang telah raib? Seperti Titikuning ini (dalam arti jembatan), mengapa yang baru tidak mempertahankan bentuk Tititkuning yang lama? Lihatlah Titikuning yang baru, bentuknya yang seperti pagar itu bisa saja dikemudian hari tidak dianggap jembatan lagi. Apalagi, semakin banyak gedung di sekitar jembatan itu, dia tertutup, tidak tampak jembatannya. Ujung-ujungnya, warga Medan pun lupa kalau di kawasan ini mengalir sebuah sungai yang bernama Sungai Deli. Ah … Mungkin kegamangan ini terlalu berlebihan. Tapi sudahlah, setidaknya dengan kegamangan yang saya miliki dini hari kemarin, saya makin merasa Medan sebagai kota saya. Ini tentang rasa, kawan. Seperti kami yang menjadikan restoran siap saji ini bak milik kami sendiri. Kemaruk. Ha ha ha Jepret, bunyi telepon pintar kawan saya di sebelah. Ah. (*)

Asosiasi Pengembang Ngaku Dizalimi

KETUA Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI), Eddy Ganefo mengaku pemerintah telah menzalimi kepada para pengusaha properti.

Akibat berubah-ubahnya kebijakan pemerintah, mereka harus menanggung kerugian triliunan rupiah.

“APERSI sangat terpukul dengan kondisi sekarang ini. Sejak Januari 2012 hingga sekarang, belum ada satupun rumah yang kami bangun diakadkreditkan.

Anggota kami sampai ada yang jual mobil karena dikejar-kejar para tukang yang meminta bayaran gajinya,” ungkap Eddy di Jakarta, Jumat (10/2).

Belum lagi APERSI harus berhadap dengan calon debitur yang belum bisa menempati rumahnya. Padahal, developer sudah menjanjikan Januari sudah bisa akad kredit. Keluhan ini, menurut dia, sudah disampaikan ke pemerintah (Kemenkeu dan Kemenpera) agar membuka keran pembiayaan.

“Saat itu dijanjikan hanya seminggu kemudian akan dibuka. Nyatanya sudah Februari belum juga dilakukan akad kredit. Kami malu sama masyarakat, mereka bilang kami penipu karena sudah dijanjikan Januari bisa menempati rumahnya,” ucapnya.

Diapun mengimbau pemerintah segera mempermudah pembiayaan. Terlebih yang dilayani APERSI 100 persen masyarakat berpenghasilan rendah.

“Mereka siap suku bunganya delapan sampai sembilan persen seperti yang sudah kami sosialisasikan pada 2011.

Kalau sekarang kebijakannya baru lagi, ya tidak apa-apa. Maksud kami, cobalah dibantu pembiayaan 10 ribu unit yang siap akad Januari 2012 dan 27 ribu unit pada Februari, sembari menunggu angka suku bunga baru (enam sampai tujuh persen). Ini agar dana kami tidak mandek di situ,” tandasnya.

Seperti diketahui, ditutupnya keran pembiayaan untuk kredit pemilikan rumah (KPR) sejak Januari 2012, ternyata memberikan kerugian sangat besar bagi pengusaha properti. Wakil Ketua Kadin Zulkarnain Arif mengungkapkan, akibat belum dilakukan serahterima rumah (akad kredit) ke debitur, pengusaha properti mengalami kerugian sekitar tiga sampai empat triliun rupiah.

“Itu hanya dalam hitungan Januari saja. Hampir 50 ribu unit rumah yang tidak bisa akad karena bank masih menunggu kebijakan baru pemerintah.

Belum lagi ratusan ribu tenaga kerja terpaksa menganggur karena tidak ada pekerjaan. Sebab, pengusaha menghentikan pembangunan rumah,” ujar Zulkarnain menguatkan komentar Eddy Ganefo.(esy/jpnn)

Satu Hidran Rp43 Juta

Medan-Ketersediaan hidran di Medan memang minim. Hal ini semakin diperkuat dengan keterangan dari pihak PDAM Tirtanadi. Menurut data, hanya 91 unit hidran yang masih aktif. Masalah biaya ternyata dijadikan alasan soal penyediaan fasilitas pemadam kebakaran tersebut.

“Hidran kita memang hanya 150 (data Dinas Pemadam  Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Medan 141 unit, Red), yang aktif 91 unit. Kita berupaya untukn melakukan pengadaannya tapi terganjal kepada anggaran juga sebab untuk pengadaan hidran ini membutuhkan biaya yang banyak,” kata Kepala Bidang Publikasi PDAM Tirtanadi Medan, Jumirin, kepada Sumut Pos, Kamis (9/2).

Berdasarkan data dari PDAM Tirtanadi, di Medan kota hanya ada 25 unit hidran. Sedangkan di Belawan hanya ada 1 unit (lainnya lihat grafis). “Satu unit hidran itu harganya Rp9,5 juta tapi untuk satu set yang lengkap bisa mencapai Rp43 juta. Selama ini kita juga terus melakukan perawatan setiap bulannya. Dan sering mengganti gate valve atau tutup yang biayanya juga tinggi sekitar Rp1 juta per satu gate valve,” terang Jumirin.

Dikatakan Jumirin, kalau gate valve tidak diganti, maka akan terjadi kebocoran yang merugikan bagi PDAM. “Selama ini kita terus melakukan monitor terhadap hidran yang ada di Medan, kalau gate valve nya rusak maka kita ganti, perawatan tetap kita lakukan,” kata Jumirin.

Disinggung soal minimnya hidrant, Jumirin menyebutkan untuk pengadaan hidran memang pihaknya masih terganjal kepada anggaran yang ada. “Keterbatasan anggaran kita, tapi kita upayakan untuk membuat pengadaannya secara bertahap. Jadi untuk anggaran seluruhnya tidak bisa diberikan karena tak bisa dirinci dan sudah tergabung semuanya, dari perawatan, pembelian sekalian untuk rehab,” terang Jumirin.

Sebelumnya, kepala Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (P2K), Marihot Tampubolon mengatakan hidran yang ada di Medan ini masih sangat minim dan mengakibatkan petugas pemadam sulit untuk mendapatkan akses air. “Hidran yang ada di Medan itu hanya 30 persen yang bagus.

Kondisi ini jelas sangat menyulitkan bagi kita untuk segera mengantisipasi kebakaran. Kalau hidran tidak tersedia dengan baik di daerah lokasi kebakaran, maka akses air terpaksa kita ambil kembali dari kantor dan itu memakan waktu, dan terkadang mengakibatkan api yang sudah mereda kembali membesar. Inilah yang sering kami alami,” kata Marihot.

Menangapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Medan, Ikrimah Hamidy menegaskan, kondisi hidran di Medan ini harus segera diantisipasi. Caranya, dengan menyerahkan atau menghibahkan hidrant yang ada ke Pemko Medan. Dengan begitu, maka Pemko Medan bisa melakukan perawatan terhadap hidrant yang ada di Medan.

“Mungkin nanti akan dilakukan perawatannya oleh Dinas Perkim atau Dinas P2K,” terang Ikhrimah.

Politisi dari fraksi PKS ini juga menilai, jumlah hidran di Medan itu masih sangat minim. Terutama di beberapa kecamatan juga masih belum tersedia hidran “Seharusnya memang perlu ditambah lagi hidran terutama di kecamatan-kecamatan yang selama ini belum ada hidran yang mencukupi. Selain itu, tentu saja debit air juga harus ada. Jangan nanti ada hidran tapi airnya menetes, bagaimana mau mengantisipasi kebakaran kalau seperti itu,” terang Ikrimah. (adl)

Pantai Sumut Favorit Mafia

1.300 Km Garis Pantai hanya Dijaga 95 Petugas

JAKARTA-Garis pantai di Sumatera Utara (Sumut) sepanjang 1.300 kilometer menjadi pintu masuk ideal bagi peredaran narkoba. Pasalnya, untuk mengawasi kawasan sepanjang itu, Direkrorat Polisi Perairan (Ditpolair) Polda Sumut hanya memiliki kemampuan tak seberapa.

Dari data yang didapat, Ditpolair hanya memiliki  8 unit kapal patroli tipe C, masing-masing Kapal Patroli Tipe C-1 dengan jumlah personel satu pleton 20 hingga 30 polisi, Tipe C-2 sebanyak 6 unit dengan jumlah personel masing-masing 10 polisi dan Tipe C-3 satu unit dengan jumlah lima polisi. Dengan kata lain, 1.300 km hanya dijaga 95 personel. Sedangkan kemampuan kapal patroli hanya mampu menjaga sampai 6 mil, sementara perbatasan dengan laut tetangga jaraknya 12 mil.

Keadaan inilah yang sudah dibaca sindikat narkoba internasional, hingga memilih Medan sebagai transit sebelum dipasok ke Jakarta.  Selain kawasan pantai Sumut relatif gampang dijadikan pintu masuk, begitu berhasil masuk Medan, jaringan narkoba yakin bakal aman untuk melanjutkan perjalanan darat menuju Jakarta.

“Dengan menggunakan kapal-kapal kecil, mereka masuk ke Sumut. Dari Medan, jalan darat ke Jakarta. Bandar-bandar itu sudah mempelajari situasi. Bisa aman hingga Lampung. Dari Lampung mobil begitu saja masuk (ke kapal menuju Jakarta),” ujar Juru Bicara Badan Narkotika  Nasional (BNN) Kombes Pol Sumirat Dwiyanto kepada Sumut Pos di Jakarta, Jumat (10/2).

Apakah segampang itu? Sumirat mengatakan, bandar narkoba selalu punya jaringan yang luas dengan menanamkan orang-orangnya di banyak tempat. “Ada yang warga biasa, ada juga petugas. Atau mereka berhasil mengelabui,” ujarnya.

Lantas, apa yang dilakukan BNN untuk menutup jalur masuk ke pantai Sumut? Dijelaskan Sumirat, persoalan yang dihadapi BNN adalah keterbatasan petugas. Sementara, panjang pantai Indonesia 81 ribu kilometer.  Dengan panjang pantai segitu, BNN memfokuskan perhatian ke daerah-daerah terluar, yang berpotensi besar menjadi pintu masuk. “Kita tak hanya bergerak di perairan Sumut, tapi juga hingga ke Miangas yang berbatasan dengan Filipina, Pulau Rupat, Riau, yang berbatasan dengan Malaysia, hingga ke Pulau Rote. Tapi namanya maling, begitu patroli pergi, mereka masuk,” terangnya.

Tim BNN, dengan menggandeng TNI, kata Sumirat, juga rutin menggelar patroli di kawasan perairan di Sumut.  Jika memergoki ada yang mencurigakan, BNN tidak bisa langsung melakukan penangkapan, jika belum memastikan orang itu membawa narkoba.

Sumirat menjelaskan, biasanya mengendusan dan penguntitan dilakukan setelah ada laporan dari badan narkotika negara tetangga. Informasi dari negara tetangga biasanya menyebutkan adanya orang yang mencurigakan yang akan masuk ke wilayah Indonesia. “Informasi awal hanya mengatakan ‘mencurigakan’, belum menyebut membawa narkoba. Lantas kita kawal diam-diam, kita kuntit,” papar Sumirat.

Untuk memperkuat kecurigaan, BNN membandingkan dengan data yang ada di BNN mengenai orang-orang yang dicurigai sudah masuk jaringan sindikat narkoba internasional.  “Nah, begitu masuk Indonesia kok cuman 20 menit, 30 menit, berarti dia hanya untuk menyerahkan barang kiriman,” terang Sumirat. Jika dianggap yakin ada barang bukti, barulah dilakukan penyergapan.

Apakah lima tersangka yang diduga anggota jaringan narkoba lintas negara yang berpusat di Iran dan transit di Medan sebelum ke Jakarta, yang dibekuk BNN beberapa hari lalu, merupakan hasil penguntitan seperti itu? Sumirat tak berani memastikan. “Saya belum mendapat penjelasan soal itu,” kilahnya.

Jadi, kebutuhan mendesak saat ini adalah penambahan petugas? Sumirat membenarkan. Hanya saja, lanjutnya, yang lebih penting dari itu adalah kepedulian masyarakat, agar mau memberikan informasi kepada BNN jika menemukan orang yang dicurigai jaringan dan pengedar narkoba.

Selama ini, lanjutnya, BNN sangat terbantu oleh informasi masyarakat. “Dalam setahun ada delapan ribuan laporan masyarakat. Begitu ada laporan, kita dalami dulu karena tidak 100 persen benar. Jangan sampai laporan hanya untuk maksud pembunuhan karakter seseorang,” bebernya.

Sebelumnya diberitakan, Mantan Kalahar Badan Narkotikan Nasional (BNN) Pusat, Komjen (Purn) Togar Sianipar, mengatakan, Medan memang daerah yang menggiurkan bagi mafia narkoba internasional, sebagai daerah transit.
Togar bahkan menyebut, bukan mafia yang berpusat di Iran saja yang menggunakan Medan sebagai daerah transit.  Dua kelompok jaringan menjadikan kawasan Sumut sebagai pintu masuk.

Pertama, pasokan narkoba dari kawasan Bulan Sabit Emas (Golden Crescent) yang berada di antara Pakistan, Afganistan, dan Iran. Kedua, pasokan dari kawasan Segi Tiga Emas yakni Laos-Myanmar-Thailand.

Sementara itu, anggota DPRDSU tampaknya menyalahkan pihak penegak hukum terkait Medan yang dijadikan kota transit narkoba. Setidaknya hal ini diungkapkan Anggota Komisi A, Raudin Purba.  “Pencuri itu lebih tahu dari orang yang dicuri. Begitu juga dengan masalah peredaran narkoba ini.

Para pengedar lebih lihai dari kepolisian. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga bila polisi tahu namun terkesan tidak tahu. Tapi yang pasti, polisi lalai dalam mengatasi masalah peredaran narkoba dan memberantas sindikat yang ada,” tegasnya, kemarin.

Sedangkan pengamat hukum Medan, Muslim Muis SH menilai, peredaran narkoba di Medan yang seolah tidak terpantau oleh aparat kepolisian tersebut menunjukkan fungsi intelijen di kepolisian tidak berfungsi maksimal. “Kalau tidak lemah, kenapa ini terus terjadi dan terulang. Kalau disebut mandul, sudah pasti karena tidak mungkin berulang-ulang,” tegasnya. (sam/ari)