25 C
Medan
Saturday, April 18, 2026
Home Blog Page 13944

Mau Pulang Kampung

Dua sahabat karib Agus (24) dan Yudi (29) tertangkap tangan saat hendak mencuri tabung gas ukuran 12 kg dari rumah seorang warga, di Jalan Tangki Air, Medan Kota, Senin (27/2).

Keterangan seorang ibu saat membuat laporan di Mapolsekta Medan Kota menuturkan, saat itu dirinya hendak keluar rumah, namun dia curiga ketika pintu dapur rumahnya terbuka. Saat hendak didatangi tiba-tiba dua pemuda langsung keluar dengan membawa obeng di tangan dan mengambil tabung gas elpiji dan hendak kabur naik sepeda motor.

“Begitu aku mau keluar rumah sebentar tapi pintu belakang terbuka pas aku liat keluar dua orang bawa obeng yang satu aku teriakin maling mereka langsung tancap gas,” katanya.

Neruntung saat kejadian seorang tukang becak menghalangi laju keduanya. Warga langsung memberi bogem mentah kepada keduanya sahabat karib itu.
Agus dan Yudi saat ditanya POSMETRO MEDAN (grup Sumut Pos) mengaku nekat mencuri untuk ongkos pulang kampung ke Palembang.
“Nggak ada uang buat pulang ke Palembang. Jadi kami lihat ada gas nganggur kami ambil aja tapi tiba-tiba udah diteriakin maling,” kata Yudi. (smg)

DPRD Akan Panggil Kadisdik Medan

Outbond Kepsek SDN Medan Dikutip Rp600 Ribu

MEDAN-Wakil Ketua DPRD Medan Ikrimah Hamidy berjanji akan memanggil Pj Kadisdik Medan Dr Rajab Lubis MS, terkait kutipan biaya Rp 600 ribu setiap peserta untuk pelaksanaan out bond Kepsek SDN se-Kota Medan.

“Kalau ada kegiatan seperti outbound itu mestinya sudah terprogram oleh Pemko Medan dan dananya dianggarkan di APBD. Sehingga kepala sekolah tidak perlu bayar,”ujarnya.

Kalau diprogramkan tanpa APBD dan kalau kepala sekolah itu membayar seharusnya Kadis Pendidikan Medan berkonsultasikan dengan sekda dan wali kota, karena pelaksanaan menggunakan anggaran di luar dari APBD.

“Kalau tidak ada rekomendasi dari wali kota atau sekda sebaiknya tidak usah diadakan kegiatan itu. Karena sifatnya pribadi kepada kepala sekolah,”sebutnya.

Sementara pengamat pendidikan Dr Mutsyuhito Solin MPd mengatakan, kegiatan dan keperluan outbound itu memang ada jadi sekolah punya prioritas.
“Ikut atau tidak itu merupakan hak sekolah. Kalau menurut manajemen sekolah boleh saja mereka menolak untuk ikut,” ucapnya.
Disinggung adanya kebijakan yang nantinya diambil kadis atas penolakan yang dilakukan kepala sekolah, menurut Sholin hal itu risiko bagi kepala sekolah.

Seperti diberitakan, pelaksanaan outbond yang dilaksanakan Dinas Pendidikan (Disdik)  Kota Medan yang diikuti kepala sekolah di tingkat SD Negeri di Kota Medan dituding sebagai program mubazir. Selain dianggap tidak bermanfaat dan tidak menunjang majunya dunia pendidikan. Kegiatan tersebut malah dianggap membebankan bagi setiap kepala sekolah (kepsek) karena diwajibkan membayar Rp600.000 per orang.
Hal itu terungkap dengan adanya surat Nomor 420/94 PPMP/2012 tertanggal 03 Februari 2012, yang dilayangkan ke setiap sekolah yang ditujukan untuk kepsek SD Negeri di Kota Medan.

Dimana isi surat tersebut mengharapkan kepada pihak sekolah agar turut berpartisipasi sebagai peserta mengikuti outbond dengan biaya Rp600.000 per peserta.

Bukti-bukti tersebut dibeberkan oleh Direktur Konsultan Pendidikan Indonesia (Kopindo) Sumut, Joharis Lubis saat dikonfirmasi Jumat(24/2).
“Berdasarkan pengamatan, Disdik Medan adalah sebagai panitia pelaksana kegiatan outbond dan sudah terselenggara dua kali. Saya pikir ini tidak ada manfaatnya buat para kepsek itu. Kalaupun ada outbond, serahkan saja kepada panitia dan seharusnya jangan dibebankan biaya,” tegasnya.
Menurut informasi yang diterima, outbond telah berlangsung di kawasan Wisata Kolam Deli, Kabupaten Karo beberapa waktu lalu.

Kegiatan ini, menurut Johari, akan membuka peluang bagi dinas pendidikan Kota Medan untuk melakukan pengutipan kepada pihak kepala sekolah.
Salah seorang kepala sekolah SD Negeri yang enggan namanya disebutkan, membenarkan adanya acara outbond yang diselenggarakan oleh Disdik Medan.

Dia bahkan mengatakan jika pihaknya mendapat info kalau pada Maret mendatang akan diselenggarakan kembali kegiatan outbond yang pernah dilakukan oleh Disdik Medan semasa Rajab Lubis sebagai Kadisdik Kota Medan.

Ditanya soal biaya, kepala sekolah tersebut mengaku belum ada disebutkan nominal dan sumber biayanya.

“Jumlahnya saya belum tahu. Ada dikabari kalau Maret ini bakal ada outbond lagi. Soal biayanya belum diketahui berapa jumlahnya. Masih menunggu kejelasan juga,” ucapnya.

Begitu juga pengakuan Eva, salah satu Guru SD negeri di Kota Medan dirinya membenarkan jika ada kegiatan outbond yang dilaksanakan oleh Disdik Kota Medan beberapa waktu lalu. Namun dia tidak berani mengatakan soal biaya yang dibebankan kepada kepsek.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Rajab Lubis saat dikonfirmasi mengaku, sudah menutup kegiatan tersebut dan dipastikan tidak akan ada lagi kegiatan serupa untuk kedepannya.

Rajab mengakui jika kegiatan outbond dimasa kepemimpinannya telah  berlangsung sebanyak dua kali  dan tidak dikenakan pungutan.
Saat disinggung mengenai alasan tidak diselenggarakannya lagi outbond, menurutnya ada pihak tertentu yang merasa kegiatan itu tidak ada manfaatnya.
“Sudah kita tutup kegiatan outbondnya. Jadi sudah gak ada lagi kegiatan seperti ini karena gak ada manfaatnya kecuali buat guru,”katanya dan enggan membahas hal tersebut lebih lanjut. (uma)

Tersangka Pembunuhan Ditangkap sama Selingkuhan

MEDAN-Tersangka pelaku pembunuh Suwandi alias Abeng Botak, yang tewas mengenaskan di Jalan Benteng, Lapangan Tembak TNU AU, Sari Rejo, Medan Polonia berhasil dibekuk Gegana Brimob Polda Sumut, Senin (27/2) dini hari.

Tersangka Jesuda (31) dibekuk dikediamannya di Jalan H Zailnul Arifin, Gang Kampung Kubur Medan. Setelah dilakukan pengembangan, polisi kemudian membekuk temannya Edos (19), warga Jalan H Zainul Arifin Gang, Kampung Kubur, Sarwanen alias Wanen (15), warga Jalan Pasar VII Kecamatan Medan Marelan.

Polisi juga membekuk selingkuhan Jesuda yakni Nilam Sari (24), warga Aceh Tamiang NAD. Sari ditangkap saat bersama Jesuda, kemudian polisi kembali menangkap Agus, warga Jalan Sekata Medan, selaku penadah sepeda motor milik Vijai yang saat kejadian itu sedang digunakan korban.
Kini petugas lagi melakukan pengejaran untuk mengetahui keberadaan sepeda motor tersebut. Selain membekuk pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti berupa pisau, mancis berbentuk pistol dan baju.

Selanjutnya para pelaku ini diboyong ke Brimob Polda Sumut untuk dilakukan pemeriksaan sementara sebelum diserahkan ke Mapolsekta Medan Baru.
Keterangan yang dihimpun Sumut Pos di Markas Komando Gegana Brimob Polda Sumut para pelaku murni melakukan pembunuhan, setelah menikam korban. Sementara itu antara korban dan pelaku Jesuda adalah teman satu permainan.

Kepala Detasemen Gegana Biromobdasu, Kompol A Darma Sinaga melalui Kanit I, Iptu Elhakim Sembiring mengaku, para pelaku diserahkan ke Mapolsekta Medan Baru untuk proses hukum selanjutnya. (gus)

Pemilik Tanah tak Diberi Kesempatan Beri Penjelasan

Kuasa Hukum Abdul Kiram Buka Mulut Soal Kedatangan Komisi III DPR RI

MEDAN-Kuasanya hukum warga penggugat dari pihak Abdul Kiram Cs, Alihasmi SH dan Rakerhut Situmorang mengatakan kunjungan anggota Komisi III DPR RI yang dipimpin oleh Azis Syamsudin SH menimbulkan kesan negatif.

“Kedatangan Komisi III DPR RI tidak memberikan kesempatan kepada pemilik tanah untuk memberikan penjelasan atas kedudukan tanah sebenarnya,” kata Alihasmi.

Menurutnya, eksekusi pengosongan di Jalan Jati yang dilakukan Pengadilan Negeri Medan telah memenuhi ketentuan Undang-undang yang berlaku, mengacu kepada keputusan No 113/pdt G/2006/PN Medan dan aparat kepolisian. Dalam melakukan eksekusi tidak melakukan perlanggaran HAM dan mengacuh pada ketentuan UU No 2 Tahun 2002.

Alihasmi menilai warga dan preman yang melakukan perusakan tembok bukan orang tereksekusi.
Sementara Wagiman, seorang warga yang memenangkan sengekata mengaku sudah melaku penggarapan sejak tahun 1947 lalu dan memiliki sertifikat yang asli.

Dirinya menilai warga Jalan Jati sudah tertipu dengan sertifikat yang dipegang selama ini dan seharusnya melakukan pengcekan atas keabsan sertifikat yang dimiliki.

“Seharusnya dicek dulu sertifikat tanahnya sebelum dibeli, jangan menganggap sertifikat miliknya itu asli,” pungkasnya.(gus)

Ditabrak Truk Pulang Mengantar Ayah Berobat

MEDAN- Dian Utari (18), warga Pasar X Desa Bandar Khalipa, Percut Seituan tewas ketika sepeda motor yang dikendarai laga kambing dengan truk, di Jalan Titi Sewa, Senin (27/2).

Keterangan Siti Mariah (71), nenek korban, Dian siang itu baru pulang dari RSU dr Pirngadi Medan mengantarkan ayahnya berobat.
Ditambahkannya, sehabis berobat dari rumah sakit lalu mereka pulang. Saat berada di Jalan Titi Sewa, tiba-tiba datang dari arah depan sebuah truk dan truk tersebut pun menabrak sepeda motor Honda Revo yang dikenderaai korban.

“Dian meninggal di lokasi, sedangkan ayahnya terlempar jauh dan hanya mengalami luka ringan. Sepeda motor yang dikenderai Dian laga kambing dengan truk. Padahal menurut keterangan ayahnya mereka berjalan di arah yang benar dan truk itu saja yang datang salah arah,” sebutnya.
Disambungnya, Dian dan ayahnya tinggal di Aceh dan mereka di Medan sudah seminggu lebih. Menurutnya, mereka datang ke Medan dan tinggal di tempat kakaknya, Dian, tepatnya di samping rumahnya untuk berobat ke Medan.

“Padahal Dian ke Medan bersama ayahnya untuk berobat. Rencananya malam ini jenazah akan dibawa ke Aceh langsung,” bebernya.
“Korban meninggal di tempat dan supir sudah diamankan dan dimintai keterangan,” jelas seorang petugas lantas.(jon)

Ajak Masyarakat Bersatu dalam Perbedaan

Pangkostrad Silturahmi ke Kota Binjai

BINJAI- Pangkostrad Letjen TNI AY Nasutioan bersilaturahi dengan Wakil Wali Kota Binjai Timbas Tarigan di Pendopo Umar Baki, Jalan Veteran, Kecamatan Binjai Kota, Senin (27/2). Kehadiran Pangkostrad itu disambut Wakil Wali Kota Binjai Timbas Tarigan dan dalam acara tersebut, dihadiri sejumlah unsur Muspika serta Muspida yang ada di Kota Binjai.

Dalam silaturahmi bertajuk “Membangun Karakter Bangsa untuk Memperkuat Ketahanan Nasonal” itu, Letjen TNI AY Nasution mengajak masyarakat Binjai bersatu dalam perbedaan. “Mari kita bersatu dalam perbedaan. Jangan sampai kita persoalkan suku dan agama yang ada. Hal itu kita lakukan, agar meraih ketentraman serta kemakmuran,” ujar AY Nasution.

Selain itu, AY Nasution juga menyampaikan, masyarakat lebih baik mencari kesamaan dari pada terus mencari perbedaan. “Kalau kita terus mencari perbedaan dengan sesama. Maka, kita akan terus seperti ini. Mulai sekarang, mari kita satukan hati, meski kita berlainan suku dan agama. Demi membangun karakter bangsa yang lebih baik ke depannya,” katanya.

Usai bersilaturahmi, Pangkostrad Letjen TNI AY Nasution, bersama Wakil Wali Kota Binjai, Timbas Tarigan menyempatkan diri makan siang di rumah Dinas Wali Kota Binjai yang bersebelahan dengan Pendopo Umar Baki. “Kedatangan Letjen TNI AY Nasution, tentunya kita sambut dengan baik dan kegiatan seperti ini sangat positif. Kalau bisa, hal seperti ini terus ditingkatkan, misalnya dilakukan di setiap sekolah yang ada di Kota Binjai. Karena, apa yang disampaikan Letjen TNI AY Nasution, sangat baik untuk para pelajar agar dapat membangun jati diri yang lebih baik,” ujar Wakil Wali Kota Binjai Timbas Tarigan di rumah Dinas Wali Kota Binjai. (dan)

Angkutan Luar Masuk Medan, Sopir Angkot Demo

MEDAN-Puluhan sopir angkot trayek 64 jurusan Pinang Baris-Amplas yang tergabung dalam Keluarga Besar Sopir dan Pemilik Kendaraan (Kesper) melakukan aksi unjuk rasa di de pan Terminal Pinang Baris, Jalan Pinang Baris Medan, Senin (27/2) siang.

Koordinator pengunjuk rasa, Israel Situmeang mengatakan, aksi yang sudah berulang kali itu menuntut agar Dinas Perhubungan (Dishub) Medan tidak diskriminasi terhadap angkot dari Deli Serdang  masuk ke Kota Medan. Namun, sampai saat ini tidak ada tindakan tegas dari Dishub Medan yang terkesan
diskriminasi terhadap supir angkot Medan.

“Mengapa trayek angkot dari Deliserdang diizinkan masuk ke dalam kawasan Kota Medan. Ini sudah membuktikan kalau Dishub Medan sudah diskriminasi terhadap supir angkot 64 di Kota Medan,” kata Israel.

Selain itu, lanjut Israel, angkot berplat hitam juga sudah merajalela di Kota Medan. Sedangkan peran Dishub Medan untuk melakukan pengawasan dan penertiban tekesan adanya pembiaran.

“Apa tindakan dari Dishub Medan terhadap angkot berplat hitam yang sudah merajalela. Kami merasa dirugikan akibat semakin bebasnya angkutan dari luar Medan masuk ke dalam Kota Medan, tetapi angkot dari Medan tidak boleh masuk,” ujarnya.
Menurutnya, bila tidak ada tindak lanjut dari Dishub Medan untuk menyikapi tuntutan para supir angkot 64. Puluhan supir akan mengancam tidak akan membayar retribusi ke Dishub Medan.

“Sebaiknya Pemko dan DPRD Medan memperhatikan permasalahan ini, sehingga tidak merugikan sopir KPUM. Kalau seperti ini terus, kami tidak akan membayar retribusi harian ke Dishub Medan,” ungkapnya.

Seorang supir angkot 64, P Silalahi menjelaskan beroperasinya angkot dari Deliserdang yang mengangkut penumpang ke Kota Medan, mengakibatkan menurunnya pendapatan para sopir 64. “Gara-gara angkot Deliserdang, pendapatan kami berkurang setiap hari, biasanya kami dapat mengantongi uang Rp150 ribu per hari, dengan keberadaan mereka pendapatan kami berkurang tajam,” katanya.

Ia menambahkan, selain pendapatan mereka berkurang jumlah angkot Binjai tersebut juga tergolong banyak, jika dibandingkan dengan angkot 64 yang beroperasi.

“Saya tidak tahu jumlah pastinya, tetapi jumlah angkot Deliserdang tersebut lumayan banyak, dapat kita lihat di daerah Jalan Gatot Subroto Medan, hampir setiap menit angkot Binjai lalu lalang, kalau ini dibiarkan terus penghasilan kami akan menurun,” bebernya lagi.
Pantauan wartawan koran ini, puluhan sopir angkot tersebut memarkirkan kendaraannya di sepanjang Jalan Pinang Baris Medan, yang mengakibatkan arus lalulintas di sepanjang kawasan tersebut tersendat.

Kepala Terminal Pinang Baris, Arjani Siregar menyatakan kalau aksi tersebut salah alamat. “Mereka (supir angkot 64) melakukan aksinya di luar terminal Pinang Baris. Aksi mereka itu sudah biasanya, karena masalah trayek. Tetapi mereka seharusnya melakukan aksi di Terminal Amplas,” jelasnya.
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Medan, Armansyah Lubis menjelaskan kalau pihaknya terus melakukan pengawasan terhadap supir angkot dari luar Kota Medan. “Pengawasan dan penertiban tetap kita lakukan terhadap supir angkot dari Deliserdang. Tetapi kita hanya bisa menindak para supir dari luar daerah yang kebetulan melintas dan langsung diberikan tindakan tegas,” ucapnya.(adl)

Tak Sesuai UMK, Perusahaan Dipidanakan

Dinas Tenaga Kerja Kota Binjai Segera Data Gaji Karyawan

BINJAI- Pemerintah Kota (Pemko) Binjai melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Binjai segera melakukan pendataan gaji karyawan di setiap perusahaan yang ada di Kota Rambutan tersebut. Pendataan ini dimaksudkan untuk mengetahui perusahaan mana yang menerapkan upah di bawah upah minimum kota (UMK) yang telah ditentukan.

“Memang tak tertutup kemungkinan setiap pengusaha yang ada di Binjai melanggar Upah Minimum Kota (UMK) dalam membayarkan gaji para karyawannya. Maka dari itu, kita akan segera melakukan pendataan gaji karyawan. Jika tidak ada kendala, pendataan itu akan kita lakukan Maret mendatang,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Industrial dan Pengawasan di Disnaker Binjai M Sitorus SH kepada Sumut Pos, Senin (27/2).

Menurut M Sitorus, untuk tahun ini, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) sudah menaikan gaji karyawan yang dituangkan dalam Upah Minimum Kota (UMK) Binjai, dengan surat putusan nomor 188.44/93/KPTS/tahun 2012. “Tahun 2011 lalu, gaji atau upah karyawan mencapai Rp1.050.000. Sementara, untuk 2012 ini, gaji naik sekitar Rp150 ribu, jadi Rp1.201.000 ribu,” jelasnya.

Tak sampai disitu, M Sitorus juga menerangkan, setiap perusahaan yang sudah memiliki pekerja satu orang, wajib menggaji karyawannya sesuai UMK. “Menyangkut soal UMK ini, dikenakan kepada seluruh pengusaha tanpa pengecualian, baik karyawannya hanya satu, dua dan seterusnya. Yang jelas, setiap pengusaha harus tetap membayar karyawannya sesuai dengan UMK,” tegasnya.

Mengenai gaji atau upah, sambungnya, banyak dari karyawan belum tahu sama sekali. Sehingga, banyak karyawan yang menerima gaji sebesar Rp800 ribu hingga Rp900 ribu. “Nah, disini saya mau jelaskan. Setiap karyawan yang bekerja di setiap perusahaan, baik karyawan itu digaji dengan cara harian, mingguan dan statusnya kontrak, serta nonkontrak, tetap digaji sesuai UMK,” ungkapnya.

Misalnya Buruh Harian Lepas (BHL), tambah M Sitorus, setiap pengusaha harus tetap menggajinya sesuai UMK. “Untuk pembayaran gaji BLH itu, pengusaha harus sesuaikan gaji buruh hariannya dikali 24 hari. Yang intinya, gaji para buruh tetap sesuai dengan UMK yang sudah ditetapkan Gubsu tadi,” terangnya.

Untuk itu, kata M Sitorus, jika setiap pengusaha melanggar atau tidak menggaji karyawannya sesuai dengan UMK, dapat dikenakan sangsi Pidana. “Sesaui dengan undang-undang tenaga kerja, pasal 90 ayat (1), pasal 143 dan pasal 166 ayat (4) dan ayat (7). Maka, setiap pengusaha dikenakan sangsi Pidana paling singkat 1 tahun penjara dan dikenakan denda sebear Rp Rp 100 juta, dan hukuman paling lama 4 tahun penjara dan denda sebesar Rp 400 miliar,” kata M Sitorus sembari membuka buku Undang-Undang yang dimaksud.

M Sitorus berharap, agar para karyawan atau buruh yang ada di Kota Binjai, dapat melaporkan perusahaannya ke Disnaker, jika gaji yang diterima tidak sesuai dengan UMK.(dan)

Teknisi Komputer Dirampok Empat Pria Bersenpi

LABUHAN DELI- Empat pria bersenjata kembali beraksi di wilayah hukum Polres Pelabuhan Belawan, Senin (27/2). Kevin (25), warga keturunan Tionghoa, dirampok dan ditodong pistol di Jalan Ileng, Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan. Akibatnya, dompet berisi uang, surat penting berikut handpone milik teknisi komputer ini dibawa kabur pelaku.

Peristiwa perampokan yang dialami warga Jalan Thamrin Medan ini terjadi sekira pukul 10.00 WIB. Ketika itu, Kevin dengan mengendarai sepeda motor BK 2963 IC melintas di pinggiran Sungai Deli, Jalan Ileng, Kecamatan Medan Marelan.

“Tadinya aku mau ke Belawan untuk perbaiki komputer di salah satu perusahaan di sana. Karena tak mau terjebak macet, aku memotong jalan dari pinggiran Sungai Deli,” kata Kevin saat buat pengaduan di Mapolsekta Medan Labuhan.

Persis dari arah belakang, tiba-tiba pria tak dikenal langsung memepetnya sambil mengeluarkan senjata tajam. Takut nyawanya terancam, korban lantas mengentikan laju sepeda motornya.

“Leherku sempat diacungi parang panjang dan seorang pelaku lainnya mengeluarkan pistol dan menodong ke arahku,” ucapnya. Menyadari nyawanya terancam, korban hanya bisa pasrah saat pelaku merampas dompet dan handpone miliknya.

Namun begitu, para pelaku yang sempat mengincar sepeda motor, Kevin akhirnya mengurungkan niatnya dan lebih memilih melarikan diri begitu melihat beberapa warga melintas di jalan tersebut. “Untung ada orang yang lewat, kalau tidak kretaku pun dibawa kabur sama mereka,” ujarnya.
Tak terima atas kejadian yang dialaminya korban pagi itu juga langsung mendatangi Mapolsekta Medan Labuhan guna membuat laporan pengaduan terkait perampokan yang dilakukan empat pria bersenjata tersebut.(mag-17)

Baju Renang Muslimah di Style Sport

MEDAN- Baju renang memiliki trend tersendiri. Termasuk yang didesain untuk wanita yang sehari –hari memakai busana muslimah. Saat ini berbagai desain baju renang muslimah  mudah ditemukan. Karena desain nya yang bervariasi dan nyaman saat dikenakan, pakaian renang muslim ini pun menjadi pilihan.
Seperti yang  bisa ditemukan di Style Sport lantai 2 Plaza Medan Fair. Berbagai model pakaian renang muslimah tersedia, sudah menutupi seluruh aurat  termasuk jilbab untuk penutup kepala.

Maria dari  Style Sport, mengatakan baju renang muslimah ini diminati para wanita muslim. Karena memiliki spesifikasi yang berbeda dibanding baju renang lainnya. Bahkan baju ini di desain untuk tidak menimbulkan lekukan lekukan tubuh sehingga jauh dari kesan seksi.

“Pakaian ini akan tetap nyaman saat di air. Karena terbuat dari bahan kain spandex sehingga ringan saat dipakai di dalam air. Baju renang muslim ini lebih tertutup. Jadi banyak yang suka memakainya, terlebih pelanggan muslim,” ujarnya kepada Sumut Pos.

Selain itu ada juga pakaian renang yang bahannya terbuat dari polyester, spandex, cotton dan lain-lain. Baju renang seharga Rp 210.000 ini, tersedia dalam berbagai pilihan model dan warna. Namun, lanjutnya, baju renang dengan warna tua seperti hitam dan biru merupakan produk yang paling diminati.
Ditambahkannya,   peminat pakaian renang muslimah ini bukan hanya dari wanita muslim saja. “Wanita non muslim juga banyak membeli pakaian renang tertutup ini karena mereka merasa nggak nyaman saat mengenakan pakaian renang yang terbuka,” ungkapnya. (mag-11)