Home Blog Page 13960

Demi Moore Sakit, Gagal Jadi Bintang Porno

Kondisi kesehatan Demi Moore dikabarkan semakin memburuk. Terutama sejak Moore mendadak dilarikan ke rumah sakit (RS). Kabarnya, Moore sakit cukup parah karena menghisap suatu zat berbahaya. Ada pula kabar berhembus mengatakan, Moore sakit karena mengalami overdosis obat.

Karena sakitnya, Moore yang sebelumnya telah didapuk menjadi artis terbaru yang bergabung dalam film biopik bintang porno populer Linda Lovelace berjudul Lovelace, akhirnya gagal untuk ikut andil dalam film itu.

Bintang Ghost itu juga gagal membuat cameo dengan memerankan tokoh aktivis dan politikus iconic Gloria Steinem dalam film itu.
Heidi Jo Markel, produser film Lovelace pun sempat terguncang. Bahkan dia bilang, Moore benar-benar  merasa hancur setelah tahu dirinya gagal memerankan karakter di film tersebut.

“Ini adalah kejutan dan keprihatinan bagi kita semua,” kata Markel.
Sarah Jessica Parker akhirnya pun terpilih menggantikan peran Moore. Produser memilih lebih peduli dengan kesehatan ibu tiga anak itu. (rm/jpnn)

2012, Ada Lima Cuti Bersama

JAKARTA-Sejatinya, rancangan cuti bersama 2012 sudah ditetapkan pertengahan tahun lalu. Tetapi, kemarin pemerintah merevisi ketetapan cuti bersama ini. Pemerintah akhirnya menambah satu hari, yaitu pada 31 Desember 2012. Berarti, selama tahun ini akan ada enam kali cuti bersaman
Penambahan cuti bersama ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Lakosono. Pertimbangan penambahan satu hari cuti bersama ini bertepatan dengan tanggal merah tahun baru 1 Januari 2013. Pemerintah menetapkan 31 Desember sebagai cuti bersama karena kecepit antara dua tanggal merah, yaitu Minggu 30 Desember 2012 dengan 1 Januari 2013.

“Diharapkan dengan penambahan citu bersama ini, ada efisiensi dan efektifiktas dalam pemanfaatn hari kerja. Hari libur, dan cuti bersama,” ujar menteri asal Partai Golkar itu.

Aturan cuti bersama ini tertuang dalam Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara tentang perubahan atas keputusan bersama Menag, Menakertrans, dan Menpan-RB Nomor 7 Tahun 2011: 04/MEN/VII/2011, SKB /03/M.PAN-RB/ 2011 tentang hari libur nasional dan cuti bersama 2012.

Agung juga menjelaskan, penambahan cuti bersama ini berpotensi memberikan kontribusi terhadap kunjungan wisata. Potensi ini merujuk pada evaluasi 2011, dimana ada peningkatan pemasukan wisata setiap kali cuti bersama. (wan/jpnn)

Daftar cuti bersama 2012

  1. 18 Mei 2012 cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus
  2. 21-22 Agustus 2012 cuti bersama Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
  3. 16 November cuti bersama Tahun Baru 1434 H
  4. 24 Desember 2012, cuti bersama hari raya Natal
  5. 31 Desember 2012 cuti bersama Tahun Baru Masehi 2013

 

“Nanti Kubilang Sikit, Langsung Ditulis”

Dugaan Korupsi Dishub Medan Rp24 M

MEDAN-Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Me dan, Syarif Armansyah Lubis, menolak mengomentari perkembangan pengusutan dugaan korupsi retribusi parkir yang tengah diintensifkan Kejatisu. Bob-panggilan Armansyah-juga menolak menanggapi perihal rencana pemanggilan kedua dirinya oleh Kejatisu.

Saat ditemui wartawan koran ini di Balai Kota, Rabu (1/2), Bob hanya memberikan jawaban singkat dan ketus. “No comment, no comment. Nanti kubilang sikit saja, langsung ditulis,” ujarnya sambil berlalu.

Wartawan koran ini kemarin sengaja menunggu Syarif Armansyah Lubis di Balai Kota untuk memberinya kesempatan menyampaikan tanggapan terkait kasus yang tengah ‘melilit’ dirinya. Pasalnya, sehari sebelumnya Kasi Penyidikan Pidsus Kejatisu, Jufri Nasution SH, menyatakan ada perkembangan terbaru dalam dugaan korupsi sebesar Rp24 miliar tersebut. Jufri juga mengatakan, dalam waktu dekat mereka bakal meningkatkan status kasus tersebut dari penyelidikan ke penyidikan.

Beberapa jam sebelum bertemu Syarif Armansyah Lubis, wartawan koran ini terlebih dahulu bertemu Sekda Medan, Syaiful Bahri. Namun Syaiful menolak memberikan tanggapan terkait kasus tersebut. Dia juga menolak memberikan keterangan terkait desakan DPRD Medan agar Pemko Medan segera mengevaluasi jabatan Kadishub Medan. “Saya no comment. Tanya saja langsung ke Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Medan, Syarif Armansyah Lubis,” katanya singkat.

Kepada wartawan koran ini, Syaiful juga mengaku tak berani bersikap atas kasus yang menimpah anak buahnya itu, apalagi melakukan pemanggilan terhadap Bob. “Kalau itu langsung saja ke Pak Wali Kota. Pemko Medan belum ada mengatakan kalau dugaan korupsi yang sedang ditangani Kejatisu itu, bisa dikatakan korupsi,” jelasnya. (adl)

Rahmat Shah Ogah Keluar Duit

Pastikan Maju Pilgubsu 2013

MEDAN-Rahmat Shah, bakal calon (balon) Pilgubsu 2013 terkaya versi Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang sudah diserahkan dan diverifikasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan siap maju. Tapi, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang memiliki kekayaan mencapai Rp139,7 miliar plus USD 950.783 per November 2009 itu ogah mengeluarkan duit.

“Soal Pilgubsu, saya akan maju. Saya melihat perkembangan. Ada dua atau tiga partai yang sudah menawari. Fungsionaris partai dan anggota dewan yang menawari itu. Ya, partai-partai besar. Ada yang nawari saya jadi wagub ada juga jadi gubernur. Saya akan maju, kalau ada yang nawari gratis. Saya tidak mau mengeluarkan uang, kalau tidak untuk yang bermanfaat,” akunya kepada Sumut Pos, Rabu (1/2).

Bagi Rahmat Shah, uang bukanlah yang utama. Pemilik Rahmat Gallery ini menyatakan, dirinya sebagai orang yang amanah.

“Saya diberi kepercayaan persatuan karate Medan, menjadi ketua perhimpunan kebun binatang, jadi perwakilan rakyat Sumut di pusat. Dan jadi Ketua Tim Pemenangan Presiden.

Alhamdulillah dari 60 persen suara yang ditargetkan, kita bias dapat 71 persen suara. Itu karena saya selalu ingin menjadi orang yang amanah dan menjaga amanah itu,” ungkap pria kelahiran Perdagangan, Kabupaten Simalungun, 23 Oktober 1950 lalu tersebut.

Bagaimana dengan sosok-sosok lain yang mungkin jadi pesaingnya pada putaran Pilgubsu 2013 mendatang? Terkait hal itu, Rahmat Shah menyatakan, sosok-sosok yang selama ini diperkirakan akan maju, memiliki kans atau peluang dan kemampuan yang sama. Yang terpenting menurutnya, sosok-sosok yang akan maju tersebut, sebaiknya adalah orang-orang yang berpegang teguh untuk menjalankan amanah.

Lalu, bagaimana dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu, Gatot Pujo Nugroho, yang juga kemungkinan besar akan maju pada Pilgubsu 2013 mendatang sebagai incumbent. Sementara, kekayaan Gatot tidak seberapa. Menyikapi hal itu, pria yang pernah menjadi seorang montir di Bengkel Mobil MSH, Medan dari 1965 sampai 1970 ini menganalogikan, dengan sosok Presiden Amerika Serikat, Obama. “Obama juga tidak punya uang, tapi bisa jadi pemimpin. Dan itu tadi, kita harus menjaga amanah yang diberikan. Kalau saya, sekarang belum lah. Tiga bulan sebelum pemilu baru kita akan memulainya. Kalau sekarang masih melihat perkembangannya,” katanya.

Sementara itu dari Jakarta Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Didik Supriyanto mengatakan, komposisi pasangan yang pelangi akan sangat membantu kestabilan roda pemerintahan tatkala pasangan tersebut nantinya berkuasa. Jika tidak pelangi, maka kelompok masyarakat yang tidak terwakili dalam komposisi pasangan, bisa merecoki pemerintahan dibawah kendali pasangan itu.
“Pemilukada sebetulnya bisa menjadi sarana mengakomodir perbedaan-perbedaan. Pasangan harus merepresentasikan muslim-nonmuslim atau sebaliknya, sehingga nantinya tercipta keharmonisan,” ujar Didik saat diskusi di Jakarta, Rabu (1/2).

Memang, kata mantan wartawan ini, heteregonitas di Sumut tidak hanya dari aspek agamanya saja, tapi juga etnis dan kedaerahan. Namun menurutnya, aspek agama paling sensitif. Masalah komposisi pelangi ini tidak perlu disembunyikan, daripada diam-diam menjadi pemicu masalah di kemudian hari.
Didik memberi contoh di Maluku, yang lebih terbuka membicarakan hal ini. Di sana sudah ada kesepakatan para politisi bahwa jika cagubnya muslim, maka cawagubnya Kristen, atau sebaliknya.  Jika pasangan hanya ‘sewarna’, lanjutnya, sama saja memaksa sebagian masyarakat untuk memilih yang sebenarnya bukan pilihannya.

“Sumut, Kalbar, Kaltim, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Tengah, dan beberapa daerah lain, itu mirip,” ujarnya.
Dengan alasan itu pula, Didik menolak tegas rencana pemerintah yang akan mengubah model pemilukada gubernur, dimana hanya gubernurnya saja yang dipilih rakyat secara langsung, sedang wakilnya lewat penunjukkan.

Di tempat yang sama, pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Profesor Ibramsyah mengingatkan publik agar selektif menimang kandidat. Dia mengajukan empat syarat seseorang layak menjadi gubernur.  Pertama, harus punya kemampuan intelektual, yang diuji lewat tes potensi akademik. “Kepalanya ada otaknya nggak,” cetusnya.

Kedua, harus punya kematangan emosional. “Kalau dia suka memaki-maki, berarti emosinya tak matang, itu orang masih taraf sedang lucu-lucunya,” ujarnya.

Ketiga, kematangan moral spiritual. “Ini penting, agar nantinya saat berkuasa dia tak menjadi mafia,” ulasnya. Keempat, terakhir, track recornya lolos uji publik.

Dia mendorong publik di Sumut agar berani membentuk semacam tim independen yang tugasnya mengukur para kandidat, memenuhi atau tidak empat kriteria tersebut. “Kalau tak mau diuji, umumkan saja ke publik, biar publik tahu,” sarannya. (ari/sam)

Pemerintah Untung, Pedagang Kecil Buntung

Jumlah Indomaret Melebihi Jumlah Kelurahan di Medan

MEDAN-Keberadaan toko modern alias minimarket bermerek Indomaret di Sumatera Utara, khususnya Medan, bukan lagi cerita baru. Warga pun sudah terbiasa berbelanja di jaringan waralaba tersebut.

Sayangnya, seiring itu, pedagang kecil mulai terpinggirkan. Bahkan, ada yang gulung tikar.

Menurut Pengamat Ekonomi dari Unimed, M Ishak, toko modern bisa mencuri minat pembeli disebabkan beberapa sebab. Pertama, pola konsumsi masyarakat dan ini merupakan peluang yang dilihat oleh pengusaha. “Masalah pola konsumsi masyarakat di Sumut, khususnya Medan, secara konsisten naik terus. Indikasi yang kedua, adalah kebijakan yang diambil oleh pemerintah,” ujarnya.

Bagi masyarakat, keuntungan dari toko modern ini memberikannya alternartif harga dan barang yang akan dikonsumsi. Sedangkan bagi pemerintah, Pendapatan Asli Daerah (PAD) bertambah karena pajak untuk toko modern lebih mahal dan tentu saja lebih mudah untuk ditarik. “Ini dia yang seharusnya di-matching antara pemerintah dan pengusaha, jangan saling menjatuhkan, tetapi ini pasti menjadi hal yang sulit,” ujar Ishak.

Kenyataannya memang sulit bagi pemerintah untuk memilih untung dari toko modern sementara pedagang kecil malah buntung. Terbukti, sekian keluhan muncul dari pedagan kecil. Misalnya, kedai “Mak Linda’ di Perumnas Simalingkar. Menurut pemiliknya H Siregar, sejak ada Indomaret di lingkungan mereka, pendapatan kedainya turun drastis. “Belum lagi kita bersaing dengan kedai-kedai lain yang berada satu lingkungan. Tentu ini jadi masalah tambahan tersendiri bagi kita kedai kecil-kecilan seperti ini,” ujarnya.

Begitu juga pengakuan Kak Mia (55), pedagang yang berada di Pasar Merah yang kedai grosisnya hanya berjarak 20 meter dari Indomaret. “Entahlah, orang lebih memilih belanja di Indomaret. Padahal barang-barang yang kita jual tidak jauh beda dengan yang ada di Indomaret dan harganya juga lebih murah yang di tempat kita,” katanya.

Budi pemilik grosir di Jalan Karya Wisata Medan Johor pun memberi pernyataan nyaris sama.  “Jarak antara Indomaret yang satu dengan lainnya juga berdekatan. Seperti nggak ada batasan. Kalau begini, namanya bisa mematikan usaha kami. Maunya pedagang kecil lebih diperhatikanlah, kalau begini, pendapatan kita jelas terancam,” bebernya.

Lebih miris yang dirasakan Lina. Ibu ini adalah pedagang yang lokasi usahanya berhadapan dengan Indomaret di kawasan Jalan Gajah Mada hingga Sei Batanghari. Meski Lina mengaku hadirnya Indomaret tidak begitu mempengaruhi omzet penjualannya, mengingat kedainya juga menjual produk sayur dan ikan, namun lamban laun Indomaret pasti akan menyalip. “Sekarang Indomaret juga sudah menjual telur, tepung terigu dan lainnya. Mungkin saja dalam waktu dekat mereka menjual sayur dan ikan kemasan. Jika ini terjadi mungkin saja kedai saya yang sudah berdiri lebih dari 15 tahun ini akan tutup karena tumpur,” ucapnya.

Keluhan-keluhan tadi mungkin hanya sebagian kecil dari pedagang yang merasa teraniaya. Masih banyak pedagang lain bernasib sama karena Indomaret di Medan saja sudah memiliki 200 ritel. Setidaknya data ini diungkapkan Marketing Franchise Indomaret, Bintang. Dengan kata lain, kehadiran Indomaret sudah menyebar ke seluruh kelurahan mengingat jumlah kelurahan di Ibu Kota Sumatera Utara ini hanya 151. “Untuk menjalin franchise, si pengusaha cukup menyediakan dana sekitar Rp350 juta dan tempat dengan luas 8×20 atau 200 m. Untuk produk yang akan dijual semuanya dari kita,” papar Bintang soal kemudahan bergabung dan mendirikan Indomaret.

Manariknya, apa yang diungkapkan Bintang seakan didukung pihak pemerintah. Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Medan Wiriya Alrahman mengatakan kalau kehadiran Indomaret patut diapresiasi. “Masyarakat lebih memilih minimarket. Jadi kedai sampah yang merasa tersaingi harus melakukan pembenahan diri dari kebersihan dan pelayanan serta keamanan. Kalau masalah harga masih relatiflah,” cetusnya.

Jika berbicara mengenai perbandingan harga, lanjut Wiriya, harga di minimarket pun lebih murah. Meski begitu, bukan berarti Indomaret bisa sesuka hati. “Makanya dengan Perwal (Peraturan Wali Kota) dilakukan pembatasan agar tidak terlalu ketinggalan pelaku usaha lainnya untuk melakukan pembenahan. Seperti pembatasan lokasi antara minimarket modern dengan kedai sampah,” ungkapnya.

Peraturan wali kota yang dimaksud adalah Perwal No.20/2011 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern. “Kalau konsumen pasti meminta minimarket berdiri sebanyak-banyaknya. Selain nyaman dan tidak jauh dari tempat tinggal. Untuk itu, pelaku dunia usaha lainnya harus kita pikirkan agar tidak ada kesalahpahaman. Dengan begitu, Pemko sudah ada membentuk tim untuk melakukan pemikiran seperti itu dari asisten Ekbang Pemko Medan,” jelasnya.

Menurut Wiriya, sepanjang 2010-2012 tercatat hanya 9 izin Indomaret diterbitkan oleh Pemko Medan melalui BPPT Kota Medan. “Setelah itu, BPPT tidak pernah menerbitkan izin karena tidak pernah ada yang memenuhi persayaratan sesuai dengan Perwal. Padahal mereka juga memegang Perwal,” katanya.
Dijelaskannya, izin yang dikeluarkan terhadap 9 Indomaret tersebut hanya surat izin usaha perdagangan (SIUP) cabang saja. “Jadi, kalau ada Indomaret yang berdiri tanpa izin yang kami terbitkan, itu bisa dikatakan tidak memiliki izin. Namun, BPPT tidak punya fungsi untuk melakukan pengawasan terhadap izin dari market yang berdiri. Semuanya ada pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Medan,” jelas Wiriya.

Terkait dengan itu, Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) kantor perwakilan Medan-Sumut, Goppera Panggabean, menyatakan bahwa saat ini peraturan yang ada tidak memiliki sanksi, sehingga tidak dapat ditindak bagi pelanggarnya.

Selain itu, toko modern juga tidak merugikan konsumen, sehingga tidak dapat berbuat banyak. “Tidak ada komplain dari masyarakat, malah masyarakat merasa senang dengan kehadiran mereka,” ujar Goppera.  “Tetapi, bila mereka menjual produk yang sama di bawah harga pasaran yang telah ditetapkan, baru itu melanggar persaingan usaha,” kata Goppera. (adl/jul/mag-11/saz/jon/uma)

Ketika Kenikmatan tak Lagi Milik Malam

Siang-siang di KTV Stroom, Selecta Building Medan (1)

Tak ada yang membantah kalau malam adalah penguasa dunia hiburan Namun, bukan berarti siang tidak bisa menyaingi. Buktinya, di Karaoke Televisi (KTV) Stroom yang terletak di Selecta Building Medan, apa yang tersedia saat matahari terbenam sudah laris saat surya masih garang; termasuk narkoba!

Tim, Medan

Pekan lalu, sekira pukul 15.00 WIB, penulis mendapat telepon dari seorang kolega. Segera meluncur ke Selecta, katanya. Seperti memerintah, dia pun mengatakan sudah berada di lokasi sejak pukul 14.10 WIB.

Berhubungan ada sesuatu yang memang harus diselesaikan dengan rekan ini, penulis pun langsung bergerak. Tak sampai lima belas menit, Gedung Selecta yang berada di Jalan Listrik itu terlihat. Turun dari taksi, memasuki gedung, yang terlihat hanya ruang yang cenderung melompong. Terlihat beberapa properti Imlek, lainnya tidak ada yang mencolok. Bi ngung mau bertanya pada siapa, ponsel pun menjadi senjatan
“Tunggu saja, nanti anggotaku yang jemput,” jawab kolega itu dari seberang ponsel.

Tak lama kemudian muncul lelaki tegap dengan rambut ala David Beckham; bergaya sedikit mohawk dan berwarna kemerahan. Sayang, tubuhnya sedikit hitam. Tanpa banyak cakap si ‘David Beckham’ ini langsung mengajak masuk lift. Di lift itu sudah ada satu orang lagi, berseragam. Jelas, yang ini pasti petugas dari Selecta Building.

“Bawah,” perintah si ‘David Beckham’ kepada petugas lift.

Tak sampai semenit, pintu lift kembali terbuka. Penulis digiring melewati sebuah gang kecil berbelok dengan pintu yang tertutup di masing-masing sisinya; bersih dan tertata apik.

Lalu, memasuki sebuah pintu. Setelah masuk pintu itu, ternyata masih ada pintu lagi. Intinya, penulis harus melewati dua ruang kecil. Sepanjang perjalanan, ketika melewati pintu-pintu itu di sisi dua ruang kecil tersebut ada beberapa pintu lagi. Belakangan diketahui kalau itu kamar mandi dan kamar ‘eksekusi’. Akhirnya pintu ketiga terbuka, di ruang yang lebarnya sekitar 6×8 meter itu sang kolega duduk. Dia berdua dengan seorang perempuan – yang paras cukup menggoda mata – memakai blazer warna gelap. Mereka duduk di atas sofa yang empuk berwarna hitam. Selain sofa yang diduduki mereka, masih ada dua sofa lagi, semuanya lebar dan empuk. Barisan sofa itu berbentuk ‘L’. Di depannya ada meja kaca pendek dua buah.

Selain itu terpampang screen ukuran jumbo di tengah ruangan. Dari fasilitas yang ada, di ruangan ini tampaknya tak perlu lagi tamu meminta bantuan pegawai. Karaoke diset secara komputerisasi; memilih menu cukup melalui remote control saja. AC pun cukup dingin. Lampu temaram.

“Duduklah… santai saja,” tegur sang kolega. Si perempuan tersenyum dan langsung membakar rokok. Asap keluar dari mulutnya yang mungil.
“Oh, kenali…” sambung sang kolega sambil menunjuk si perempuan.

“Panggil saja, Cindy,” kata perempuan pemilik paha mulus itu. Hm, jelas bukan nama asli.

Sebelum sempat terlibat perbincangan, penulis merasa dihantui lagi dengan pintu. Pasalnya, di seberang pintu tempat masuk tadi ada satu pintu lagi. Beruntung, sebelum sempat bertanya – yang bisa dianggap bodoh karena gak tahu apa-apa – si ‘David Beckham’ menuju pintu itu. Dia membukanya. Rupanya pintu itu dua lapis pula. Setelah lapis terakhir dibuka, sinar menyerobot masuk.

“Belum pernah kemari kau kan?” tegur sang kolega. “Itu pintu khusus, langsung ke parkiran basement… lihat saja,” sambungnya.
Benar saja, begitu penulis melihat, terpampang di depan sana parkiran sepeda motor dan mobil. Si ‘David Beckham’ rupanya menuju mobil sang kolega.
“Asyik gak?” sambut sang kolega setelah penulis mulai duduk kembali di sofa.

“Ini ruang khusus, Kawan. Semuanya memang dibuat khusus. Untuk yang biasa-biasa, di sana di lantai 3,” jelasnya.
Dasar buta lokasi, tanpa malu lagi penulis langsung mencari tahu tentang KTV Stroom ini. Dari penjelasan sang kolega, diketahui kalau karaoke ini menyediakan sedikitnya 23 ruang dari kelas standar, VIP, hingga Super VIP. Dan, semuanya beroperasi dari pukul 14.00 WIB serta tutup pukul 02.00 WIB (untuk waktu normal).

Terciptanya tempat seperti tak lain karena arena pub dan diskotek bukan lagi pilihan utama bagi pencari hiburan. Setidaknya, sejak era 2000-an, pencinta hiburan mulai mencari ruang pribadi, tidak lagi ruang komunal.Tempat hiburan pun bukan lagi semata ruang hiburan, tapi menjadi tempat lobi-lobi hingga deal-deal tertentu. Dan, untuk meraihnya tidak harus malam hari. Untuk itu, ruang privacy yang menyuguhkan hiburan terbaik menjadi pilihan utama bagi mereka. Nah, untuk itulah penulis hadir di ruang mewah yang terjaga privacy-nya ini.

“Ini Bos,” celetuk si ‘David Beckham’.

Sang kolega menyambut sebuah bungkusan; amplop berwarna coklat. Langsung saja amplop itu dia letakan di meja. “Biasalah… bisnis, bentar lagi kawan itu datang,” kata sang kolega.

Penulis mengangguk. Sebelumnya sang kolega sempat berkata akan mengenalkan penulis dengan seseorang yang tahu seluk beluk narkoba di beberapa tempat hiburan di Kota Medan ini. Dan, bungkusan itu pasti itu seseorang yang belum datang itu.

“Minum apa, Bang?” si ‘David Beckham’ tersenyum. Dia pun menerangkan kalau di tempat ini bisa minum apa saja, dari yang kadar alkoholnya rendah hingga yang kelas berat.

“Gak usah kasih itu, kasih saja jus… biar enak masuknya nanti,” kekeh sang kolega. “Kalau mau nulis soal narkoba, yah kan harus tahu rasanya,” sambung kolega itu tanpa berhenti tertawa.

Si ‘David Beckham’ tersenyum dan langsung bergerak. Tak lama kemudian dia kembali beserta seorang pelayan pria. “Kasih jus jeruk untuk kawan kita ini,” ucap sang kolega. Pelayan itu langsung pergi.

Saat bersamaan, Cindy juga permisi, entah ke mana. Si ‘David Beckham’ membakar rokok. Tinggal kami bertiga menunggu kawan yang dijanjikan hadir. Kawan yang akan membuka ruang terselubung dunia narkoba di tempat-tempat hiburan di Kota Medan ini.

“Bentar lagi kawan itu datang…, kita nikmati duluanlah siang yang indah di Stroom ini ya,” lirik sang kolega.
“Okay!”

Si ‘David Beckham tertawa. “Mantap,” katanya.
“Ya, dah, Wak, ambillah lima butir sama si BD (Bandar, Red),” perintah sang kolega pada si ‘David Beckham’.  Yang diperintah pun langsung bergerak masuk.

“Gampang untuk dapat barang kekgitu di sini…, lihat saja. Yang penting ada uang,” kata sang kolega lagi.
Tak berapa lama si ‘David Beckham’ datang dengan seorang kawan. Lelaki berusia sekitar tiga puluhan.Pakaian dan rambutnya rapi. Warna kulitnya sedikit hitam, lebih hitam dari si ‘David Beckham’. Matanya memandang curiga kepada penulis. Namun, sang kolega langsung mencairkan suasana. “Kawan kita ini… santai saja,” katanya.

Dan, si BD membuka telapak tangannya, tampak di situ lima butir kecil pil berwarna merah muda. Yah… ekstasi. (bersambung)

Tiga Calo Jaringan ‘Cikeas’ Nyerah

Sindikat Calo CPNS

MEDAN-Tiga calo CPNS yang telah menipu ratusan korbannya, Rabu (1/2), tiba di Mapoldasu setelah dua hari sebelumnya, Senin (30/1), menyerahkan diri ke Mapolda Jabar. Tiga tersangka tersebut adalah PNS di Dinas Kesehatan Kota Medan, Damari Sianturi warga Jalan Bhakti Luhur Medan Helvetia. Kemudian, Rintar Sianturi warga Medan (alamat tak jelas, Red). Dan, Jhony Surbakti warga Kabanjahe. Ketiganya kemarin langsung diperiksa intensif oleh penyidik Poldasu.

Penyerahan diri tiga tersangka ini memudahkan Poldasu menuntaskan sindikat calo PNS yang sedikitnya telah menilep Rp60 miliar milik ratusan korbannya. Seorang rekan mereka, Delisa, yang telah ditangkap lebih dahulu, kini sedang menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Medan. Sindikat calo CPNS ini dalam setiap aksinya selalu mengaku dekat dengan Presiden SBY dan keluarga Cikeas. Ratusan korban yang terpedaya pun tak sungkan mengeluarkan uang Rp150 juta-Rp200 juta.

Seorang tersangka, Damari Sianturi, saat diwawancarai wartawan koran ini membantah jika mereka kabur ke Jakarta. Dia mengaku, kepergian mereka ke Jakarta untuk mencari seseorang bernama Plancius Panjaitan. Menurutnya, Plancius lah yang telah memperalat mereka untuk mencari orang yang berminat menjadi CPNS. Kepada Damari dan kawan-kawan, Plancius Panjaitan mengaku kenal baik dengan orang dekat SBY yang bernama Gimin. Damari sendiri mengenal Plancius karena sebelumnya Plancius pernah menjadi tetangganya di Jalan Bhakti Luhur.

Damari mengaku, jumlah peminat CPNS yang meminta ‘tolong’ kepadanya berjumlah 49 orang. dari jumlah korban tersebut, dia berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp5,197 miliar. Sedangkan jumlah korban yang minta ‘tolong’ kepada rekannya yang lain, Damari mengaku tidak tahu. “Semua itu saya serahkan ke Plancius menggunakan kwitansi bermaterai. Saya menyerahkan di rumahnya langsung dan disaksikan isterinya. Kata Plancius, orang-orang ini akan dimasukkan menjadi CPNS di Pemprovsu, Pemko Medan, Pemko Binjai, sejumlah kementerian dan BPN, “ terang Damari. Tak semua korbannya tertipu, dari 49 orang yang ‘ditolongnya’, tiga diantaranya berhasil menjadi PNS di Pemko Medan dan Pemko Binjai.

Siapa sebenarnya Plancius Panjaitan? Damari mengatakan, Plancius adalah pengusaha ekspedisi. Kepergiannya dan dua orang rekannya ke Jakarta karena mendengar kabar kalau Plancius berada di kawasan Rawamangun. Lagi pula saat di Medan, mereka tak tahan dikejar-kejar terus oleh ratusan korban yang meminta uangnya dikembalikan.

Namun mencari keberadaan Plancius bukan perkara gampang. Mereka sempat berhasil mengontak Plancius lewat ponsel. Saat itu Plancius mengaku sedang berada di Bandung, Jabar. Namun kemudian nomor ponsel Plancius tak aktif lagi. Merekapun mengejar Plancius ke Bandung. Karena tak berhasil ketemu, dan tak ingin persoalannya makin rumit, mereka akhirnya menyerahkan diri ke Polda Jabar. “Kami  ini bukan ditangkap, kami nyerahkan diri.  saat ini saya melaporkan si Plansius,” katanya. Damari memprediksi, Plancius telah berhasil melarikan uang dari orang-orang yang diperalatnya hingga Rp60 miliar lebih. Sementara itu, Jhony Surbakti mengaku ia sebagai korban  dalam kasus ini. Hanya saja Jhony mengaku selama beraksi tak menyerahkan uangnya kepada Plancius langsung, tapi melalui Delisa.

Kanit Jahtanras Subdit III Reskrimum Poldasu, Kompol Murdani, kepada wartawan mengatakan, jaringan calo CPNS ini merupakan sindikat yang telah beroperasi sejak tahun 2009. Diperkirakan total korbanya mencapai 400 orang. “Sejauh ini yang telah menjalani persidangan adalah Suroso, Marisi Tambunan dan Delisa,” ujarnya. (mag-5)

Deswita Maharani Besok Resmi Dinikahi Ferry

Mungkin gara-gara telanjur tercium telah menikah siri, Deswita Maharani dan Ferry Maryadi memutuskan untuk menikah secara resmi. Kabarnya, Jumat besok keduanya akan melangsungkan akad nikah. Ini dibenarkan Kepala KUA Tebet, Asep Edwan.

“Sudah masuk berkas pernikahan Deswita Maharani dengan Ferry Maryadi. Sudah lengkap semua. Mereka yang mendaftarkan,” bebernya.
Akad nikah Deswita dan Ferry digelar di kediaman calon mempelai wanita. “Sudah komunikasi dari pihak keluarga Deswita,” kata Asep.
Asep mengaku akan bertindak sebagai penghulu. Meski demikian, ia tidak tahu siapa saja saksi yang akan hadir. “Siapa saksinya mereka yang menentukan,” ujar Asep.

Sebelumnya, Deswita dan Ferry santer dikabarkan sudah menikah siri pada 14 Januari 2011. Tepatnya sehari sebelum ibunda Deswita meninggal. Sejak itu, Ferry diketahui sudah tinggal satu atap dengan Deswita di kediaman orangtuanya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan
Pada Selasa (31/1) petang , Deswita tampak hadir di rumah duka komedian Ade Namnung, di Ponndok Bambu, Jakarta Timur
Namun karena masih dalam suasana bersedih dengan kepergian sahabatnya, perempuan berusia 31 tahun ini mengaku belum bisa menjelaskan soal rencana pernikahannya. “Jangan membicarakan seperti itu lah, saya kan lagi berduka, tolong jangan dialihkan kemana-mana. Saya kemari kan lagi berduka untuk sahabat saya,” ujar Deswita.

Saat diminta konfirmasi soal hubungannya dengan Ferry, Deswita buru-buru meninggalkan wartawan.  “Konfirmasi-konfirmasi apa. Nanti lain kali, itu ada saatnya,” janji pemain variety show Ngelenong Nyok ini.

Saat sang ibunda meninggal, Deswita puji Ferry yang selalu berada di sisinya melewati masa-masa sulit. Hal ini membuat dirinya lebih tegar. “Ferry selalu menemani saya, mulai dari masuk rumah sakit, sampai mengurus pemakaman. Saya merasa kuat,” kata Deswita.

Hubungan Deswita dengan Ferry memang sudah lama terdengar. Terutama sejak Deswita dituduh jadi orang ketiga di balik perceraian Ferry dengan Risma Nilawati sekitar 2009. Bahkan kala itu, sempat tersiar kabar Ferry kepergok sedang asyik check in dengan Deswita di sebuah hotel. Itu terjadi saat Ferry sedang mengurus perceraian.

“Silakan fitnah gue. Ferry menghamili beberapa perempuan, silakan. Itu bukan urusan gue, tapi dengan Tuhan,” sangkal Ferry kemudian.
Dalam kesempatan itu, Ferry juga membantah rumor dia dipergoki sang istri, Risma, sedang tidur seranjang dengan Deswita. “Demi Allah, demi Rasulullah, gue nggak pernah kepergok berduaan dengan Deswita di kamar,” sumpah Ferry yang main bareng Deswita di Ngelenong Nyok ini.
Ferry merasa dirugikan atas pemberitaan salah yang telanjur beredar. Karena itu, dia merasa kasihan terhadap bekas pacar pebulutangkis Taufik Hidayat itu.  “Yang paling sakit hati bukan gue atau pun istri, tetapi justru Deswita yang merasa terpojok dengan pemberitaan itu,” belanya. (bcg/rm/jpnn)

Think Globally, Act Locally

Oleh : Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Think globally, act locally. Istilah yang sudah acap kita dengar. Dan yang sekarang marak dide ngung-dengungkan, baik secara lisan maupun tulisan.
Sebuah kutipan dari sebuah situs di internet, dibuat oleh seseorang bernama Wayan, saya pikir cukup mampu menjelaskan konsep ini dengan sederhana. Kutipannya begini: ‘Broaden your vision, yet narrow your focus” (Perluas visimu, namun persempit fokusmu). Sederhana bukan?

Istilah think globally, act locally ini pertama kali diperkenalkan oleh para pemerhati lingkungan hidup pada tahun 60-an. Idenya kala itu, ketika kita membuat polusi di wilayah kita, seyogyanya kita juga berpikir bahwa polusi tersebut akan ikut merusak bumi. Untuk mengurangi polusi secara global, tak usah berharap langsung mengubah seisi bumi untuk memikirkannya. Melainkan, mulailah dari diri sendiri.

Ini daftar panjang act locally versi aktivis Go Green yang bisa kita praktikkan sehari-hari. Mulai dari kurangi konsumsi daging, karena untuk menghasilkan 1 kg daging, sumber daya yang dihabiskan setara dengan 15 kg gandum; belilah produk local, karena lebih murah dan menghemat energi; daur ulang aluminium, plastic dan kertas; bawa tas yang bisa dipakai ulang; gunakan gelas yang bisa dicuci; tanam pohon setiap ada kesempatan; turunkanlah suhu AC Anda; gunakan pemanas air tenaga surya; matikan lampu tidak terpakai dan jangan tinggalkan air menetes; maksimalkan pencahayaan dari alam; gunakan deterjen dan pembersih ramah lingkungan; gunakan kertas lebih sedikit, gunakan eMail dan software perkantoran untuk membuat laporan internal; gunakan eBanking; berliburlah di dalam negeri dan gunakanlah transportasi darat; gunakan mobil antar jemput untuk sekolah anak Anda; gunakanlah city car; dll, dll… yang daftarnya masih panjang lagi.

Dari aktivis Go Green, konsep think globally, act locally sekarang menjalar ke hampir semua lini. Kalangan birokrat, profesional, para CEO perusahaan, LSM, bahkan petani pun sudah banyak yang menerapkan konsep ini dalam pekerjaannya.

Ir H Doli D Siregar, MSc, seorang konsultan properti Indonesia, menerapkan konsep ini di perusahaannya dengan cara: menggabungkan kekuatan “local experience” dengan “international expertise” (tindakan lokal dengan keahlian tingkat dunia). Keahlian Pak Doli yang sudah level internasional, tak membuatnya ngotot harus bekerja skala dunia juga, tetapi bersedia menerapkannya terhadap dunia properti di tanah air.

Orang-orang China juga telah mengadopsi konsep ini dalam hal pemanfaatan internet. Jika di Indonesia kita rame-rame memanfaatkan Facebook dan Twitter sebagai situs pertemanan, tidak demikian dengan Cina. Mereka menciptakan Facebook sendiri versi China. Namanya Renren dan Kaixin001. Kedua situs jejaring sosial ini sangat popular di sana. Renren menyasar segmen pelajar dan mahasiswa sejak 2005. Adapun Kaixin001 menyasar kaum profesional muda China sejak 2008.

Selain FB dan Twitter, situs Google pun kalah di Cina dengan adanya situs Baidu, situs pencari di China. Bahkan untuk Iphone pun China punya versi sendiri, yakni Chiphone.

Sebuah stasiun televisi nasional juga sudah menerapkannya sejak lama, yakni memberi porsi terhadap konten daerah dalam penyiaran mereka. Sayang, mereka terkesan terus saja ‘bertahan’ dengan konsep lama, saat dunia sudah berubah.

Konsep think globally, act locally pas diterapkan di tengah persaingan global saat ini, dengan bertindak sesuai kemampuan dalam wilayah “kekuasaan” kita. Jangan dulu berpikir langsung mengubah dunia. Tetapi berpikirlah besar dengan tindakan yang bisa kita capai saat ini. (*)

Dua Mantan Panglima Dukung Partai Aceh

BANDA ACEH- Untuk memenangkan Partai Aceh dalam Pemilukada, dua mantan panglima bergabung. Mereka adalah mantan Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI (Purn) Soenarko dan mantan Panglima GAM Muzakir Manaf.

Kepada wartawan, Rabu (1/2), Soenarko menyebutkan, dirinya bergabung dengan Partai Aceh karena melihat pasangan yang diusung partai ini sangat cocok memimpin daerah berpenduduk 4,4 juta jiwa itu.

“Saya sudah pensiun, maka tak ada salahnya ingin bergabung dengan PA,” ujarnya yang disambut tepuk tangan sejumlah pengurus dan kader partai lokal itu.

Soenarko yang pernah memimpin Kodam IM selama dua tahun sejak 2008 justru melihatnya lebih jauh ke depan bahwa PA sudah berubah sikap politiknya membangun kembali bersama-sama untuk kesejahteraan rakyat Aceh.

Katanya, memang dahulu ada perbedaan sikap antara pemerintah dengan GAM, namun, itu semua katanya sudah harus dibuang jauh-jauh jangan ingat lagi perbedaan masa lalu, karena manusia bisa saja salah.

Sementara, Muzakir Manaf mengatakan, bergabung Pak Soenarko membuat PA semakin solid, sebab, ini merupakan kehormatan bagi jajaran pengurus dan kader di daerah untuk memenangkan Pemilukada.

Selain itu, PA kata Muzakir sudah berkomitmen bahwa tetap bergabung dengan Indonesia dengan satu tujuan yang sama, arah yang sama, dan maksud yang sama yakni NKRI, Tidak ada niat lagi berpisah, semua ingin membagun Aceh dan Indonesia agar lebih baik.(net/jpnn)