Home Blog Page 13977

Hipnotis Lin

Oleh: Iwan Junaidi
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

SAAT ini nama Jeremy Lin benar-benar mendunia. Itu karena sosok pemuda berdarah Taiwan itu mampu menghipnotis lewat bakatnya yang aduhai di arena NBA (kompetisi bola basket professional di Amerika).

Dampak dari apa yang dilakukannya itu, keluarga Lin di Taiwan menjelma menjadi public figure, termasuk sang nenek yang masih  berstatus sebagai warga negara Taiwan.

Betapa kita, anak bangsa ini pantas cemburu mendapati fakta yang sedemikian. Pasalnya, ketika seorang pemuda bernama Jeremy Lin telah membulatkan tekadnya untuk berkecimpung di olahraga, yang konon katanya milik bangsa Amerika, Lin justru membuktikan jika ungkapan itu hanya sebuah propaganda untuk terus mengakui kehebatan bangsa Amerika. Syukurnya, Lin telah membuktikan jika dirinya atau pemain dari bangsa lain pun bisa juga menjadi yang terbaik di sana.

Membandingkan apa yang dilakukan Lin dengan para pemuda di Kota Medan, rasanya sungguh tidak adil, karena jelas ini merupakan dua buah kubah dengan kultur dan tingkat popularitas yang berbeda. Namun setidaknya kita berharap agar kisah sukses Lin di Amerika bisa menginspirasi para pemuda di sini.

Jika Lin bekerja dengan hati demi menggapai apa yang diinginkannya, sementara sebagian kelompok pemuda dengan dalih mencari jati diri terus melakukan berbagai aksi kerusuhan yang merugikan dan membahayakan orang lain.

Ya, geng motor… meski komunitas ini tak sebesar kumunitas pemuda  yang gemar berolahraga (atlet) ataupun komunitas lainnya, namun sepak terjang mereka justru telah meredam popularitas dan berbagai kegiatan positif dari komunitas lainnya.

Sebuah popularitas yang diraih dengan cara yang kebablasan tadi ironisnya justru membuat kelompok ini kian tumbuh dan berkembang kian pesat.
Jumlah anggota yang tak lagi sedikit, dengan gampangnya merubah  rasa takut menjadi sebuah keberanian tanpa batas. Tak peduli wanita atau pria, atau malah orang-orang setua bapak atau kakek mereka pun kerap menjadi korban keganasan geng motor tadi.

Kalau sudah begini, siapakah yang pantas dipersalahkan? Jadi teringat ungkapan seorang teman yang dengan entengnya berkata, bagaimana pemuda bisa bagus, jika pemimpinnya pun tak bagus. Ups….

Ya, kini beragam kasus milik para pemimpin di negeri ini mulai terungkap ke permukaan. Dari mulai kasus korupsi, pelecehan seksual hingga penyalahgunaan narkoba.

Begitupun, tetap ada harapan jika kelak para pemuda kita tak mencontoh sikap para pemimpin yang sontoloyo, sehingga mampu menjadi  simbol kebesaran Kota Medan, sebagaimana Lin yang telah menjadi maskot bagi bangsa Taiwan.

Ingat, sifat masyarakat kota Medan yang pekerja keras, cinta keluarga dan sederhana, nyaris tak berbeda bangsa Taiwan, tempat nenek moyang Jeremy Lin berada. Artinya, jika Lin bisa melakukan sesuatu yang hebat, maka para pemuda kita pun pasti bisa. Yakin. (*)

Istri AKBP Apriyanto: Biar Tuhan yang Balas…

Terkait Wadir Narkoba Poldasu Tersangkut Kasus Narkoba

MEDAN-Pencopotan AKBP Apriyanto Basuki Rahmat dari jabatannya sebagai Wakil Direktur (Wadir) Narkoba Poldasu menuai banyak tanya. Pasalnya, Apriyanto tersangkut masalah narkoba, sesuatu yang memang harus diberantasnya.

Kasus ini tak pelak membuat Rinawandini (40), istri Apriyanto, buka mulut. Menurut Rina, suaminya Apriyanto malam itu hendak menukar mata uang Bath (mata uang Thailand) untuk dirupiahkan sebanyak Rp10 juta. Bahkan, suaminya itu sempat meminta tolong kepada Jhonson Jingga (bos D’Core Paramount)  untuk menukarkan uangnya.

“Suami saya permisi sama saya mau menukar uang Bath. Karena suami saya mau ke Bangkok mewakili BNN dalam acara seminar narkoba. Jadi suami saya meminta tolong Jhonson Jingga,” kata Rina – panggilan Rinawandini – dalam jumpa pers di kantor pengacara Marudut Simanjuntak, di Jalan Mangkubumi Medan pada  Rabu (22/2) sore.

Rina pu mengaku, suaminya memang mengenal Agustina. “Suami saya banyak kenalan. Jadi, suami saya jam 21.00 WIB keluar rumah dan pulang dari D’cure Paramount pukul 23.30 WIB,” kata Rina.

Rina mengaku heran,  kenapa penggerebakan itu dikaitkan dengan suaminya. Pasalnya, penggerebekan itu terjadi setelah suaminya pulang. “Kan aneh, suami saya dibilang memesan pil Happy Five sama Jhonson melalui si Ade. Lalu, saat dirazia polisi ada menemukan pil itu dari Jhonson. Kenapa suami saya dilibat-libatkan,” kata Rina.

Karena ada yang tidak beres dalam kasus yang menimpa suaminya, Rina meminta kepada Kepala Kepolisian Daerah (Kapoldasu) Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro agar menegakkan keadilan, dan suaminya AKBP Apriyanto terbebas dari fitnah.

Tak hanya itu, Rina sangat menyesali tuduhan terhadap suaminya. “Biarlah Tuhan yang membalasnya. Yang saya sangat sesali, tuduhan penyalahgunaan narkoba dan perselingkuhan. Itu fitnah,” ujar Rina.

Sementara itu, Dir Narkoba Poldasu Kombes Pol Andjar Dewanto yang ditemui Sumut Pos di kantornya mengatakan, Apriyanto memang saat penggerebekan sedang tidak berada di lokasi. “Wadir memang sudah pulang dengan teman wanitanya bernama Wina,” terang Andjar, kemarin.
Ditanyakan apakah AKBP Apriyanto tidak mengetahui bakal ada razia, Andjar membantah. “Wadir Narkoba tahu memang ada razia di tempat itu, sekaligus dengan lokasi razianya.Tapi, ya saya tidak tahu apa kepentingannya datang ke sana,” kata Andjar.

Terkait pemeriksaan, Andjar menerangkan kalau Apriyanto membantah kalau dia menerima dan memesan pil Happy five dari tersangka Ade Hendrawan. Namun, dirinya mengakui memang benar sedang berada di tempat tersebut sebelum dilaksanakan razia.

“Intinya, kasus ini masih dalam proses penyidikan, kita akan tetap dalami, sesuai dengan kronologis yang sudah saya sampaikan kemarin,” terang Andjar.
Andjar menambahkan, bahwa pemeriksaan terhadap Aprianto ini statusnya masih sebagai saksi. Sedangkan terkait pencopotan jabatan AKBP Aprianto sebagai Wadir Narkoba, Andjar mengatakan hal itu adalah pemindahanan jabatan yang sifatnya masih sementara.

“Ini untuk mempermudah  melakukan penyidikan. Soalnya yang akan memeriksa  anggotanya, biar tak ada rasa sungkan dan agar penyidikan ini lancar, makanya sementara waktu beliau dicopot dari jabatanya,” kata Andjar.

Sementara itu, kasus yang menyeret nama Apriyanto menjadi perhatian Ketua Komisi A DPRD Sumut, Isma Fadly Ardhya Pulungan. “Citra polisi, sangat bergantung pada prilakunya. Ini menjadi tugas berat Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, untuk membangun loyalitas dan polisi yang bersih terhadap segala tindak kriminal termasuk narkoba,” tegasnya.

Untuk membuktikan itu, lanjut Politisi dari Partai Golkar ini, sebaiknya dilakukan sebuah tes untuk membuktikan kebenaran hal itu, serta membuktikan benar atau tidanya personel polisi di Sumut ini bersih dari namanya narkoba.

“Saya pikir, diperlukan tes urine, jadi tahu siapa pemakai, pecandu atau mungkin penjual. Bagaimana polisi mau memberantas narkoba, kalau di tubuh kepolisian sendiri masih ada yang seperti itu,” tambahnya lagi.

Ade Baru Dua Kali Bertemu Apriyanto

Kemarin, Sumut Pos berhasil menjumpai Ade Hendrawan (29) , sang kapten di D’Core Paramount Di Jalan Merak Jingga, Medan. Ade berada di dalam sel tahanan Narkoba Poldasu yang ada di gedung Direktorat Reser Narkoba Polda Sumut.

Ade saat ditemui memakai baju kaos merah dan celana ponggol. Dari keterangannya, ia mengaku baru dua kali bertemu dengan sang wadir. Pertemuan pertama saat ia dikenalkan dengan AKBP Apriyanto. Dalam perkenalan pertama, Ade hanya sebatas mengetahui nama, jabatan dan tugas. Ini seperti kewajiban terhadap para manejer dan kapten di setiap hiburan malam.

Jadi, kata Ade, pada malam petaka itu, saat mengetahui kedatangan sang Wadir Narkoba, ia langsung menyambutnya, yang saat itu diakui Ade datang bersama seorang wanita bernama Sri.

Selang beberapa menit duduk, Ade mengatakan ia dipanggil Apriyanto untuk meminta Happy Five kepada sang manejer. “Dia nyuruh aku minta sama Jhonson manejerku Happy Five. Aku jumpai manejerku dan memberitahukan permintaan Wadir. Trus aku dikasih satu papan. Dan langsung kukasih dengan wadir yang saat itu duduk bersama seorang wanita,” cerita Ade dari balik jeruji besi.

Setelah memberikan pil yang dilarang oleh hukum di Indonesia, Ade mengaku, karena jam kerjanya habis ia langsung pulang ke rumahnya. “Saya hanya mengantarkan, kenapa saya diginikan,” kata Ade yang akan terus berjuang dengan nasibnya melawan ketidakadilan hukum terhadap dirinya. (mag-5/ari)

Citra Scholastika: Kuliah? Nanti Dulu

Jalur sukses tengah ditapaki musisi jazz belia ini. Namun, Citra tetap mawas diri. Ia tak ingin Ujian Akhir Sekolah (UAS) nya berantakan.
“Aku SMA kelas 3. Citra lagi fokus ke sekolah dulu. Sampai nanti benar-benar lulus baru fokus ke nyanyi,” ujarnya.

Kalaupun ia masih bisa membagi waktu, itu lebih karena berbagai kemudahan dan fasilitas. Sesuatu hal yang selalu ia syukuri. “Kebetulan aku home schooling. Jadi aku bisa bantu semuanya Citra juga punya tim yang promo,” bebernya.

Namun sayangnya, finalis Indonesian Idol 2010 itu memilih menunda kuliah setelah lulus sekolah nanti. Ia masih menimbang beratnya tuntutan kuliah sambil dikejar karir.

“Sepertinya pending dulu, karena Citra lagi ada kesempatan untuk karir. Karena Citra melihat peluang itu ada. Tapi, ya Citra masih mau kursus, Inggris, public speaking dan lain-lain,” terangnya.

Setelah sukses dengan Everybody Knew, Citra kembali hadir dengan single Pasti Bisa. Citra pun baru saja merampungkan syuting video klip itu di Jogjakarta. “Ingin mengangkat budaya Jogjakarta. Kebetulan Citra juga orang Jogjakarta. Jadi biar lebih warna-warni,” katanya.

Citra bersama timnya mengambil beberapa lokasi populer di Jogjakarta seperti Malioboro, Taman Sari, Keraton dan Alun-alun Kidul. Ia juga sempat mengunjungi salah satu candi yang terletak di sebelah timur kota Jogjakarta. “Aku ke Merapi, terus ke salah satu candi yang jarang terekspose namanya Candi Ijo,” ucapnya.

Di Jogjakarta, Citra tidak hanya syuting video klip Pasti Bisa saja. Penyanyi kelahiran 1993 ini juga menjalani syuting untuk single ketiga judulnya 3G (Galau Galau Galau).

“Capek sih, bolak-balik Jakarta-Jogyakarta. Tapi, capeknya seru. Bisa berkolaborasi sama musisi lain terutama yang lebih senior,” pungkasnya. (ins/rm/jpnn)

Menlu Australia Bantah Bakal Kudeta PM

WASHINGTON- Australia mengalami gonjang-ganjing politik. Selasa malam atau Rabu siang kemarin (22/2), di sela-sela kunjungan ke Amerika Serikat (AS), Menteri Luar Negeri Australia Kevin Rudd mengumumkan pengunduran diri.

Rudd beralasan, keputusan itu diambil karena dirinya merasa tak didukung Perdana Menteri (PM) Julia Gillard. Terutama di tengah derasnya tuntutan dari sejumlah pihak agar Rudd dipecat.

“Sederhana saja, saya tak bisa bertahan sebagai menteri luar negeri tanpa dukungan Perdana Menteri Gillard,” katanya dalam temu pers di Washington, yang ditayangkan langsung ke Australia seperti dikutip BBC.

“Karena itu, saya percaya, satu-satunya tindakan terhormat yang bisa saya lakukan adalah mundur,” lanjut mantan PM Australia dari Partai Buruh (memimpin dalam periode 2007?2010) tersebut.

Pengunduran itu mengonfirmasi perselisihan antara Rudd dan Gillard yang ramai digunjingkan selama ini. Perselisihan bersumber pada “kudeta” yang dilakukan Gillard (51), kepada Rudd (55), pada 24 Juni 2010.

Saat itu Rudd yang mendapat serangan mosi tak percaya akhirnya mundur sebagai ketua umum Partai Buruh sekaligus PM Australia dan digantikan deputinya di dua jabatan itu, Gillard. Baru pada 14 September 2010 Rudd masuk kabinet sebagai Menlu.(c10/ttg/jpnn)

Perampok Antarnegara Dibekuk di Medan

MEDAN- Tim Reskrim Polsekta Medan Barat meringkus  anggota sindikat perampok yang kerap beraksi di beberapa negara di Asia Tenggara, Selasa (21/2). Tersangka dibekuk saat hendak menguras ATM milik korbanya di ATM BNI depan Swalayan Macan Yaohan Jalan Kolonel Yosudarso, Pulo Brayan Medan.

Tersangka berinisial MR alias Syafril (41), warga Jalan Taman Raya Tahap IV Blok NQ, Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota, Kepri, selanjutnya diboyong ke Mapolsekta Medan Barat guna menjalani pemeriksaan. Dari tersangka, polisi menyita stiker ATM BNI Call Center, sejumlah kartu ATM dan handpone Nokia tipe X2 warna hitam sebagai barang bukti.

Kapolsekta Medan Barat Kompol Nasrun Pasaribu didampingi Kanit Reskrim AKP Anthoni Simamora mengatakan, pria asal Bandung ini merupakan anggota sindikat perampok Asia Tenggara dan residivis kasus perampokan di Kuala Lumpur, Malaysia dan Singapura sejak 1989 hingga 2010.
Selanjutnya, setelah bolak balik Malaysia-Singapura dan akhirnya pada 2011, tersangka menetap di Batam. Di Indonesia, tersangka bergabung dengan sindikat perampok kelas kakap dan pada 2007 beraksi bersama kelompoknya merampok Kantor Imigrasi Riau. Tersangka juga berulang kali tertangkap dan ditembak kakinya serta mengalami patah tangan ketika ditangkap polisi di Malaysia dan Singapura.
Guna memenuhi kebutuhan hidupnya, tersangka kemudian bergabung dangan penjahat kelas kakap antar provinsi pembobol ATM sejumlah bank di antaranya BRI, BCA dan BNI.

Kepada petugas, tersangka mengaku baru belajar menjadi pembobol ATM. Tersangka juga mengaku baru dua malam berada di Medan dan menginap di Hotel  Pardede Belawan. Waktu itu, korban inisial RLS (21), penduduk Jalan Pertempuran hendak mengambil uang tunai di ATM BNI depan swalayan tersebut. Namun setelah selesai transaksi tiba-tiba kartu ATM-nya sangkut, tidak bisa keluar karena terganjal korek api yang dimasukkan tersangka.

Selain memasukkan korek api, tersangka juga menempelkan stiker palsu berisi call center BNI dengan nomor ponsel temannya. Karena panik siswa Akademi Maritim Martadinata tersebut lalu menghubungi ke nomor call center BNI tersebut, namun setelah lima kali dihubungi ke nomor itu tidak ada yang angkat.

Melihat korbannya mulai panik, muncul tersangka berlagak pahlawan lalu langsung menghubungi ke nomor call center tersebut ternyata teleponnya diangkat operator BNI gadungan. Operator gadungan itu meminta korban memberitahukan nomor PIN nya setelah itu tersangka menyuruh korban mendatangi kantor BNI terdekat.

Mulanya korban tanpa curiga pergi menuju kantor BNI, namun dipertengahan jalan muncul kecurigaan korban. Selanjutnya korban menemui sekuriti Macan Yaohan dan langsung menghubungi Reskrim Medan Barat.

Ketika dibekuk, tersangka tengah menggunakan kartu ATM korban yang berhasil dikeluarkannya pakai penjepit, untuk menarik tunai uang korban di ATM CIMB Niaga yang bersebelahan dengan ATM BNI.

Tanpa melakukan perlawanan berarti, tersangka berikut barang bukti lalu diboyong ke Mapolsekta Medan Barat. Kepada polisi tersangka mengaku sudah beraksi di beberapa ATM dan menguras tabungan korbannya.

“Sampai saat ini kami masih memeriksa tersangka guna menangkap operator gadungan dan rekannya  yang lain. Ketika ditelusuri, operator gadungan itu berada di Padang, Sumbar,” tukas Kapolsek.(gus)

Ada Dermaga Mewah di Hutan Bakau

Sambungan dari Kalau tak Lapor, Kami Hajar di Jembatan

Menyusuri Pintu Masuk Narkoba dan Barang Ilegal Lainnya di Sumatera Utara (2)

Perahu yang dikemudikan Bang Ful melaju pelan. Beberapa rumah di pinggir sungai kecil berair asin di kawasan Parit Belang terlihat jelas. Penghuninya tampak beraktivitas layaknya nelayan kebanyakan; membenahi jaring hingga menambal perahu mereka.

Herdiansyah-Ramadhan Batubara, Medan

Sumut Pos bersama dua orang teman lainnya duduk dalam diam. Perjalanan menuju jalur-jalur penyeludupan pun dimulai.

Lepas limapuluh meter, Bang Ful mulai menambah kecepatan perahu bermotornya. Di saat bersamaan, kami pun mulai memasuki kawasan yang menawarkan pohon bakau di pinggir sungai. Rumah penduduk semakin jarang. Pemandangan cukup menarik. Namun sayangnya, ketika semakin diperhatikan hutan bakau itu, yang tampak hanya sekadar barisan pohon bakau; bukan hutan. Bagaimana tidak, pohon bakau hanya di barisan depan pinggir sungai saja, pada barisan kedua dan seterusnya malah pohon sawit yang berbaris. Tapi, sudahlah, penusuran ini tak akan berhenti hanya gara-gara itu. Setidak di kawasan ini, Sumut Pos dan rekan terhibur dengan beberapa burung bangau putih.

Tidak ada kesempatan untuk berbincang di perahu ini. Selain perahu yang kecil — setiap ada yang bergerak maka perahu akan goyang — suara mesin perahu juga sangat bising. Praktis, Sumut Pos hanya berharap pada pantauan saja. Ya, tanpa keterangan Wak Ngah dan rekannya yang sepakat dipanggil dengan nama Pak Awang. Sosok terakhir ini diajak bergabung karena dia juga memiliki pengalaman dengan jalur penyeludupan. Dia tidak begitu tua, umurnya masih di bawah Wak Ngah.

Tak lebih dari duapuluh menit kemudian, tiba-tiba Bang Ful mematikan mesin. Perahu melaju begitu saja dan langsung merapat ke sisi kiri sungai ke sebuah dermaga yang sama sekali tidak terurus.

“Ini Paluh Makna,” kata Bang Ful sambil tersenyum.

Sumut Pos berusaha paham. Ya, ini adalah salah satu tempat perahu-perahu merapat, menurunkan muatan tanpa melewati jembatan di Parit Belang. Posisi dermaga ini memang cukup mencurigakan.Bagaimana tidak, idealnya sebuah dermaga berdiri di tempat yang ramai bukan? Dermaga di Paluh Makna benar-benar berbeda. Secara fisik, dermaga ini memang cukup mewah: dermaganya terbuat dari beton yang kuat, bukan kayu. Pun, ada sebuah bangunan kecil tepat di samping dermaga itu, seperti kantor layaknya sebuah pelabuhan. Tapi, itu tadi, tempat ini begitu sepi. Kiri dan kanan dermaga ini hanyalah pohon bakau. Tak terdengar pula suara kendaraan di darat seperti sepeda motor maupun mobil. Benar-benar dermaga di tengah hutan; tersembunyi dan mencurigakan.

“Ya, beginilah. Dermaga ini memang tak pernah diurus, tak ada yang merapat di sini,” kata Pak Awang.

Wak Ngah tersenyum. “Ya, orang-orang lebih suka merapat di tempat yang ramai. Nelayan kurang suka di sini,” tambah Wak Ngah.
Jika memang begitu, kenapa dermaga ini dibuat? Ketika pertanyaan ini dilontarkan Sumut Pos, tidak ada satu pun yang menjawab. Mereka hanya menggeleng. Bang Ful sibuk senyum-senyum saja. “Pasti ada manfaatnya,” katanya sambil tetap tersenyum.

Lagi-lagi, Sumut Pos berusaha paham dengan yang dimaksud Bang Ful. Lelaki berkulit hitam dengan rambut bergelombang itu semakin menyenangkan. Kalimatnya cukup memberikan gambaran, ya meski hanya sebuah kalimat pendek.

Lalu, Bang Ful menghentikan senyum. Dia pun berdiri, perahu bergoyang. Dia pun menghidupkan lagi mesin perahunya. Perahu kecil dari papan itu kembali melaju.

Menariknya tak jauh dari situ, perahu mencapai belahan sungai, persis pertigaan jalan di darat; bedanya tak ada traffic light. Bang Ful berteriak, sayang suara mesin perahu dan angin yang kencang membuat suaranya hilang. Tapi, tangannya menunjuk ke arah kanan, ke arah belahan sungai sana.
“Hamparan Perak,” teriak Wak Ngah yang duduk di samping Sumut Pos.

Ya, satu lagi kawasan yang dianggap sebagai pintu masuk barang ilegal dan narkoba terlewati. Kami tidak mampir ke sana, kami melaju terus. Jam sudah menujukkan pukul tiga sore. Jika kami mampir, tak terbayang lagi akan sampai ke Kwala Besar Kabupatena Langkat pukul berapa. Perjalanan masih sangat jauh.

Bang Ful mempercepat laju perahunya. Yang namanya perahu kecil, percikan air langsung menyerbu ke dalam perahu. Tapi sudahlah, biarkan saja. Setidaknya, ketika perahu tiba di Belawan, Sumut Pos merasakan sesuatu yang berbeda. Pemandangan pohon bakau, meski pun ada mulai berkurang, berganti dengan rumah-rumah nelayan. Pun, sungai membesar, tidak lagi seperti gang-gang kecil.

Memasuki Belawan, kapal-kapal pun semakin banyak. Di sisi kanan, menara-menara PLTG Belawan mulai terlewati berganti dengan kantor Direktorat Kepolisian Perairan (Ditpolair). Beberapa kapal patroli tampak parkir di dermaganya. Lalu, pemandangan berubah, Pangkalan Utama Angkatan Laut, memberikan pemandangan kapal perang dengan senjata lengkap. Sedikitnya ada tiga kapal perang yang sedang parkir di dermaganya. Lalu, tak lama kemudian, terminal penumpang Pelabuhan Belawan terlewati.

Sepanjang perjalanan di perairan Belawan, Sumut Pos dan rombongan bak artis. Bagaimana tidak, kami tampil sangat berbeda, sama sekali tidak mencerminkan nelayan yang sedang mencari ikan. Beberapa penghuni kapal sedang yang sedang parkir di lautan malah melihat kami dengan dalam; penuh curiga.

Tapi, kami terus melaju. Kini malah semakin berkonsentrasi. Perairan Belawan hari itu sedikit nakal, ombaknya lumayan tinggi. Perahu kecil kami bergoyang hebat. Beruntung, Bang Ful cukup andal. Setiap kali ombak besar datang, dia kurangi kecepatan; jika tetap dilawan, sudah bisa dipastikan kami karam.

Kami melaju semakin jauh, semakin ke tengah. Ombak dan angin cukup merepotkan. Beruntung, kami mendapat hiburan. Tanpa sadar, laju kami diikuti sekawanan camar. Burung-burung itu terus mengikuti, kadang mereka bermanuver di samping perahu. Benar-benar pemandangan yang menarik. Sesaat terlupakan niat untuk menelusuri jalur peredaran barang ilegal dan narkoba. Ya, perjalanan ini seperti wisata bahari saja.
“Tak sampai dua jam lagi kita sampai di Kwala Besar!” teriak Wak Ngah.
Ah…, kenapa diingatkan! (*)

Pengusaha Warnet Mengaku Dipungli

Surat Rekomendasi dari Dinas Kominfo Medan Dipatok Rp600 Ribu

MEDAN-Pengusaha warung internet (warnet) mengaku dipungli Dinas Kominfo Kota Medan saat mengurus izin usaha. Akibatnya, sebanyak 680 warnet di Kota Medan dari 850 warnet yang ada tidak mau mengurus rekomendasi teknis ke Dinas Kominfo Medan.

“Awalnya, petugas dari Dinas Kominfo Medan datang ke usaha warnet saya mempertanyakan izin usaha warnet dan meminta untuk segera mengurusnya ke Dinas Kominfo Medan, dengan melengkapi persyaratan keterangan kepling dan lurah tempat tinggal saya,” kata pengusaha warnet yang minta namanya tidak ditulis saat ditemui Sumut Pos, Rabu (22/2) siang.

Dijelaskannya, setelah mengurus seluruh surat dari kepling dan lurah, petugas Dinas Kominfo Medan menyuruh datang ke kantor Dinas Kominfo Medan di Jalan Sidorukun Medan.

“Tetapi begitu saya minta agar surat rekomendasinya dikeluarkan staf Dinas Kominfo meminta dana sebesar Rp600 ribu untuk mendapatkan rekomendasi teknis tersebut,” ujar pria yang mengaku sudah membuka usaha warnetnya selama satu tahun.

Dikatakannya, pengusaha warnet mau membayar uang sebesar Rp600 ribu asal disertai dengan tanda terima dari Dinas Kominfo Medan.
“Ternyata staf Dinas Kominfo itu tak mau dengan alasan sebagai uang operasional petugas Dinas Kominfo Medan di lapangan,” bebernya.
Akibatnya, para pengusaha warnet merasa dipungli dan memilih tak mengurusnya.

“Kalau caranya begitu saya tidak mau membayar karena saya yakin tidak resmi. Ini hanya pungli yang dilakukan Dinas Kominfo Medan terhadap pengusaha warnet agar mengurus rekomendasi,” jelasnya.

Karena merasa ada permainan pengusaha warnet mencoba untuk menghubungi Kepala Dinas Kominfo Medan, Zulkifli Sitepu. Ternyata, hal itu juga sudah diketahui kadis yang menyarankan harus berurusan dengan petugas dari Dinas Kominfo Medan, Abdul Khalik.
“Saya sudah beberapa kali menghubungi kepala dinasnya karena khawatir ada pemainan di bawah tanpa sepengetahuannya. Tetapi malah kadis tersebut menyarankan agar saya megurusnya ke petugas tersebut. Ini ada apa? Kenapa Pemko Medan membuat masyarakat semakin ditindas dengan adanya peraturan yang baru,” ujarnya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi, Zulkifli Sitepu yang dikonfirmasi Sumut Pos membantah hal tersebut dan berjanji akan memberikan sanksi terhadap stafnya.

“Itu harus dibuktikan. Bila terbukti dari anggota saya, akan saya tindak tegas. Nggak betul itu, Dinas Kominfo Medan tetap mendukung pengusaha untuk mengurus izin,” bebernya.

Dikatakannya, BPPT Kota Medan yang mengeluarkan izin tetapi rekomendasi teknis dikeluarkan dari Dinas Kominfo Medan.
“ Jadi untuk biaya di Dinas Kominfo tidak ada dipungut. Untuk lanjutnya langsung saja ke Kepala Bidang (Kabid) Aplikasi Telematika Kominfo Pemprovsu, Eli Suhaeriyah,” katanya.

Sementara, Kepala Bidang (Kabid) Aplikasi Telematika Kominfo Pemprovsu, Eli Suhaeriyah mengatakan, pihaknya memiliki kebijakan untuk pembinaan sosialisasi dengan internet sehat. Tujuannya tak lain supaya  mahasiswa dan pelajar tidak salah jalan.

“Kebijakan itu sesuai dengan kabupaten masing-masing soal aturannya agar berjalan dengan baik,” sebutnya.
Sekadar diketahui sesuai dengan ketentuan di dalam Perwal No 28 tahun 2011 diatur bahwa setiap pemohon izin usaha warnet tidak dipungut biaya alias gratis untuk memperoleh rekomendasi teknis dari Dinas Kominfo. Sedangkan izin yang mengeluarkan adalah Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Medan, sesuai dengan Peraturan Wali Kota Medan (Perwal) No 28 tahun 2011 tentang izin usaha warnet. (adl)

Cuma Diajar 3 Guru,Uang Sekolah Rp10 Ribu per Bulan

TKA dan TPA Al-quran Al-Ikhlas Medan Estate

Sekolah itu baru saja dibangun tahun 2005 lalu melalui bantuan swadaya masyarakat. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Bangunannya terpaksa berbagi dengan bangunan masjid karena berdiri di atas tanah wakaf.

Farida Noris,  Medan

Sekolah yang cukup memprihatinkan itu adalah sekolah Taman Kanak-kanak Al-quran dan Taman Pendidikan Al-quran (TKA-TPA) Al-Ikhlas yangn
terletak di Jalan Pertempuran Bah Bolun Lorong I Komplek Veteran Blok A, Medan Estate.

Di sekolah ini bahkan hanya tersedia 2 ruang kelas serta sekitar 30 meja dan kursi kayu yang sudah rusak parah untuk 80 siswanya. Satu-satunya yang berharga di sekolah itu hanyalah sebuah lemari kayu dan di dalamnya terpajang tropi yang diperoleh beberapa waktu lalu, karena memenangi perlombaan antar sekolah.

Meski keberadaannya sering tak dianggap, namun nilai-nilai agama terus mengalir di sekolah itu. Para muridnya tetap bersemangat mengikuti pelajaran. Dari sanalah anak-anak kampung dan kurang mampu yang awalnya buta aksara dan agama menjadi lebih mengenal apa itu Islam.

Memang untuk menuju TKA-TPA Al-Ikhlas ini harus melewati jalan kerikil penuh debu. Jarak tempuh yang agak jauh sekitar 4 km dari perkotaan membuat para orangtua dengan ekonomi rendah terpaksa menyekolahkan anaknya ditempat itu. Apalagi iuran sekolahnya juga sangat terjangkau. Untuk TPA saja Rp10 ribu per bulannya sedangkan TKA cuma Rp30 ribu per bulan.

Di situlah, 3 guru wanita tetap mengabdi dan bertahan dalam menyebar ilmu di sekolah itu. Meski menerima gaji seadanya, tapi tidak terbersit bagi mereka untuk pindah dan menutup sekolah.

“Awalnya ada 5 tenaga didik di sekolah ini. Mungkin karena honor yang diperoleh juga sangat minim, akhirnya yang tersisa hanya tiga guru saja. Kami menerima gaji hanya berdasarkan  pembayaran uang sekolah murid. Terkadang ada yang menunggak hingga tiga bulan baru bayar uang sekolah,” kata Nurlailani, tenaga pengajar disekolah itu.

Bahkan, pada tahun ajaran sebelumnya, murid didik di sekolah itu hanya 14 orang. “Para orangtua terus kita imbau untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah ini. Biarpun setelah beroperasi hingga kini tidak ada yang membantu pembiayaannya. Kita maklum saja, karena keuangan warga juga tidak seberapa. Kursi dan mejanya juga banyak yang rusak. Padahal sudah berulang kali diperbaiki. Kalau untuk beli yang baru, nggak punya dana. Jadi untuk mensiasatinya sehari itu dibuat dua kali jam masuk untuk anak-anak pagi dan sore,” ujar wanita yang tinggal di Kampung Kolam itu.

Fasilitas yang ada disekolah ini hanya sebuah luncuran rusak yang letaknya persis ditengah halaman sekolah. Dengan kondisi seperti itu, murid-murid hanya bisa menerima keadaannya dan tak jarang mereka masih menggunakan seluncuran itu untuk bermain.

“Yang namanya taman kanak-kanak, seharusnya dilengkapi arena bermain juga, tapi lihat saja, disekolah ini cuma punya satu luncuran. Itupun sekarang sudah rusak,” tambahnya.

Nurlailani sendiri memutuskan untuk menjadi guru di sekolah itu karena dikawasan tersebut jarak sekolah sangat jauh. “Kasihan kalau melihat tekad anak-anak ini untuk belajar. Siapa lagi yang mendidik mereka. Memang ada beberapa sekolah dikawasan ini, tapi lokasinya jauh dan uang bulanan nya juga agak mahal. Hanya mengharapkan uang bulanan dari murid memang nggak cukup, apalagi saya punya dua orang anak yang masih sekolah. Begitupun saya senang mengajar di sini,” ujarnya lagi.

Sementara Nurhamidah juga mengatakan hal yang sama. TKA-TPA Al-Ikhlas tidak pernah mendapat bantuan operasional dari pemerintah setempat.
“Saya pernah membuat proposal bantuan dana ke Pemprov, tapi ditolak, mereka bilang sudah terlambat untuk mengajukan bantuan. Di sekolah ini, kami mengajarkan kepada murid mengenai Iqra’, membaca dan menulis agar nantinya mereka punya bekal setelah tamat dari sekolah ini. Kalau jam istirahat, kami selaku tenaga didik juga ikut mengawasi anak-anak bermain. Karena nggak punya kantor, jadi kami duduk disamping kelas,” urai Nurhamidah yang tinggal di Jalan Bandar Setia itu.

Begitupun, TKA-TPA Al Ikhlas pernah menempati posisi kedua dalam perlombaan gerak jalan se-Kota Medan dalam Gebyar 30 tahun BKPRMI dari Ketua DPD KNPI Sumut Rolel Harahap beberapa waktu lalu. “Saat itu anak-anak sangat senang setelah tahu sekolahnya menempati posisi kedua. Tropinya dipajang di dalam lemari. Mungkin cuma itu yang berharga disekolah ini. Karena selama sekolah ini beroperasional, baru itu kami memenangi perlombaan,” ungkapnya lagi.

Berbeda dengan kedua guru tersebut. Ramadiana yang merupakan ibu rumah tangga justru ingin mengabdi disekolah itu karena tak ingin hanya berdiam diri di rumah.
“Saya nggak mau kalau hanya menghabiskan waktu dirumah sebagai ibu rumah tangga. Saya pikir lebih baik mengajar dan memberi manfaat untuk orang lain. Kalau jam mengajar selesai, kami menunggu sampai anak-anak dijemput orangtuanya. Selaku guru, ya kami hanya ingin sekolah ini lebih diperhatikan, kalau sampai sekolah ini tutup, kasihan anak-anak mau belajar dimana mereka nantinya?” ujarnya. (*)

Dihantam Ombak, Kapal Ikan Tenggelam

BELAWAN – Cuaca buruk yang melanda perairan Sumatera, membuat satu unit kapal penangkap ikan milik nelayan tenggelam dihantam ombak, Rabu (22/2). Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Seluruh awak kapal berhasil diselamatkan kapal penangkap ikan lainnya yang melintas di perairan tersebut.

Tenggelamnya kapal penangkap ikan tanpa nama tersebut terjadi sekira pukul 05.00 WIB. Saat itu, kapal ikan jenis alat tangkap pukat langgai yang biasa sandar di tangkahan Sungai Deli Jalan Young Panah Hijau, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, bermaksud pulang setelah melakukan penangkapan ikan pada malam harinya.

Saat melintasi perairan lampu satu Belawan, kapal ikan yang ditumpangi enam orang nelayan itu tiba-tiba dihantam gelombang laut setinggi 1,5 meter hingga menyebabkan mesin kapal mati. “Tak lama setelah mesin mati, ombak kembali datang dan menghantam hingga membuat boat oleng dan tenggelam karena dipenuhi air laut,” ujar Ahyar (37), seorang nelayan.
Mengetahui kondisi kapal mulai tenggelam, para nelayan dengan menggunakan pelampung seadanya langsung melompat ke laut untuk menyelamatkan diri. Sedangkan barang-barang lainnya berikut ikan hasil tangkapan tenggelam bersama kapal yang mereka tumpangi.
“Untung ada boat lain yang melintas dan menyelamatkan kami dan mengantar sampai ke tangkahan,” katanya.

Sementara, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Belawan (SMMB), Drs Sampe Simangunsong melalui sambungan telepon selular kepada Sumut Pos sebelumnya mengingatkan agar para pengguna jalur pelayaran, khususnya nelayan supaya berhati-hati dalam melintasi perairan pantai barat Sumatera. Hal ini diakibatkan cuaca buruk dan gelombang tinggi yang merupakan dampak dari adanya gangguan siklon tropis yang terjadi di bulan Februari.
“Selain gelombang laut, berdasarkan pantauan citra satelit untuk perairan Sumut dan Selat Malaka bagian Barat juga ada potensi peluang hujan disertai guntur dan angin kencang,”terangnya. (mag-17)

Balita Diculik Teman Ayahnya

LUBUKPAKAM- Seorang balita, Muhammad Ramadhan (2,5), anak dari pasangan Ibnu Hajar (42), dan Halidah (40), warga Dusun 5, Desa Baru, Kecamatan Batangkuis menjadi korban penculikan. Diduga, korban diculik dua pria yang merupakan sahabat orangtuanya, Kamis (16/2) lalu.

Menurut Ibnu Hajar, sehari sebelum penculikan itu, temannya bernama Kiwin bersama seorang temannya bertamu ke rumah mereka. “Mereka sudah beberapa kali datang ke rumah kami, makanya kami tidak menaruh curiga. Bahkan Kiwin sempat mengambil foto anak kami dengan kamera ponselnya,” kata Ibnu Hajar yang saat itu didampingi istrinya Halidah.

Keesokan harinya, Kamis (16/2) pagi sekira pukul 07.30 WIB, Kiwin datang lagi bersama seorang temannya yang lain. Saat itu suaminya Ibnu Hajar tidak berada di rumah. Setelah berbasa-basi, Kiwin mengajak Ramadhan yang baru bangun tidur untuk berjalan-jalan dengan alasan hendak membeli sarapan.
“Karena alasannya mau beli sarapan, saya biarkan saja di Kiwin membawa Ramadhan. Sejak itulah anak saya tidak kembali hingga sekarang,” jelas Halidah sebari menangis.

Menurut Halidah, dia mengenal Kiwin sejak masih remaja. Makanya dia sama sekali tidak menaruh curiga apapun terhadap Kiwin. Karena ditunggu-tunggu tak kunjung pulang, akhirnya Halidah mencari anaknya ke kedai lontong tak jauh dari rumahnya. Ternyata tidak ada. Akhirnya mereka mengadukan kasus ini ke Mapolres Deliserdang.(btr)