30 C
Medan
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 14016

Empat Rumah Terbakar, 1 Orang Luka-luka

Sudah tak Ada Lagi Rumahku, Mau Tinggal di Mana Aku…

MEDAN-Empat rumah di Dusun IIIA, Selambo Raya Amplas, Percut Seituan ludes dilalap api, Jumat (20/1). Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun seorang  warga Roma br Sirait mengalami luka bakar diterpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Ridos di Jalan Menteng Medan. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Keempat rumah semi permanen itu dihuni oleh H Hutajulu (bengkel sepeda motor), F Siahaan (reverasi televisi), Roma br Sirait (menjual bensin) dan Malau (warung kopi).

Keterangan korban F Sihaan di lokasin kejadian mengatakan, melihat api pertama kali dari rumah Roma br Sirait. Apai langsung membesar dan mebakar rumahnya.

“Sudah tak ada lagi rumah ku. Mau tinggal dimana aku,” katanya.
Empat mobil pemadam dari Dinas Pencegah dan Pemadaman Kebakaran (DP2K) Kota Medan turun ke lokasi.

Kanit Reskrim Polsekta Percut Seituan mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan dan belum mengetahui secara pasti asal api.
“Kalau keterangan sementara api diduga berasal dari rumah Roma, namun hal itu masih dalam penyelidikan,” katanya.

Menurutnya, polisi sudah memeriksa dua orang pemilik rumah untuk kejadian ini.”Sudah dua orang pemilik rumah sudah kita mintai keterangan,” katanya. (gus)

30 Persen Anak Sumut Alami Perkosaan dan Pencabulan

Sebanyak 164 kasus kekerasan yang terjadi pada anak sepanjang tahun 2011. Sekitar 30 persen atau 46 kasus diantaranya merupakan kasus pencabulan dan perkosaan.

Tindakan pemerkosaan dan pencabulan tersebut dilakukan diantaranya, oleh keluarga sendiri, tetangga dan bahkan aparat penegak hukum.
Hal itulah yang dilaporkan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAID) Sumut M Zahrin Piliang beserta anggota KPAID Sumut lainnya, kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Provsu Nurdin Lubis di Kantor Gubsu, Kamis (19/1).

“Selama tahun 2011 terdapat 164 kasus pengaduan dan lebih dari 30 persen adalah kasus anak yang mengalami perkosaan dan pencabulan. Kasus lainnya perebutan hak asuh anak yang pada umumnya orangtua yang usianya masih muda. Sedangkan kasus lainnya seperti penganiayaan, kekerasan dan lainnya tidak begitu besar,” jelasnya didampingi Ketua Pokja Kemitraan Elvi Hadriany dan Ketua Pokja Pengaduan Muslim Harahap MM.

Pada kesempatan itu, Zahrin Piliang menyatakan, diharapkan ke depan Pemprovsu untuk lebih memberi prioritas pada perlindungan anak dengan cara mulai memikirkan tempat yang aman bagi anak-anak yang menjadi korban dengan pembangunan rumah aman atau rumah sosial perlindungan anak.

KPAID Sumut juga mengingatkan, mengenai dua kesepakatan kerjasama antara pihaknya dengan Pemropvsu tertanggal 19 Desember 2009 dan 22 Desember 2009 tentang rehabilitasi anak yang berhadapan dengan hukum.

Terkait dengan laporan yang telah disampaikan Ketua KPAID Sumut tersebut, Sekdaprovsu mengatakan, Pemprovsu segera menjadwalkan pertemuan dengan instansi terkait untuk membahas permasalahan yang ada.
Sekda Provsu Nurdin Lubis mengaku, dalam menangani kasus anak ini, terdapat keterbatasan dana, sarana dan prasarananya.

“Walaupun dengan keterbatasan dana terus bekerja mendampingi anak-anak yang menjadi korban dan yang bermasalah dengan hukum,” kata Nurdin Lubis.
Sementara itu di Tebing Tinggi,  ST (47) warga Jalan Pasar Kebun, Lingkungan IV, Kelurahan Lalang, Kota tebing Tinggi membuat pengaduan ke Mapolres Tebing Tinggi, Jumat (20/1) sekira pukul 09.30 WIB.

Korban pencabulan sebut saja Bunga (15) pelajar kelas I di sekolah menengah atas swasta di Kota Tebing Tinggi dicabuli pacarnya AW (19) buruh bangunan warga Desa Pertapaan, Pondok Banjar, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, sebanyak empat kali.

Kejadian terakhir dilakukan pelaku di sebuah sekolah taman kanak-kanak Afedeling V, Kebun Rambutan di Desa Pertapaan, Kecamatan Tebing Tinggi beberapa bulan lalu.

Orang tua korban, ST mengetahui kejadian tersebut, Rabu (18/1) sekira pukul 23.50 WIB, saat Bunga tertidur di kamarnya dengan rok bercak darah. “Saya lihat roknya berdarah, langsung ditegur untuk menggati pakaian, tetapi saat terbangun Bunga langsung jatuh pingsan,” katanya.

Melihat bunga pingsan tiba-tiba, orang tua langsung membawanya berobat ke bidan terdekat dan menurut hasil keterangan bidan tersebut, bunga telah hamil dan mengalami keguguran kandungan. “ Saya tanya langsung kepada bunga siapa pelakunya, bunga mengaku telah dicabuli AW sebanyak empat kali,” ujar ST. (ari/mag-3)

10 Pendemo Nanyang Dilepas

Warga Mau Ngadu ke Propam Poldasu

MEDAN-Setelah menjalani pemeriksaan di Satuan Reskrim Mapolresta Medan 10 pendemo yang diamankan polisi akibat melakukan aksi demo di Sekolah Nanyang di Jalan Abdullah Lubis Medan kemarin, dilepas oleh polisian, Jumat (20/1).

“Setelah dilakukan pemeriksaan kita lepas semuanya,” kata Kasat Reskrim Polresta Medan Kompol M Yoris Marzuki kepada Sumut Pos, Jumat (20/1).
Menurut Yoris, polisi juga sudah menerima laporan dari pihak Sekolah Nanyang. “Sudah kita terima laporannya dan akan kita proses,” ucapnya.

Menurutnya, aksi demo boleh dilakukan namun harus sesuai prosedur. “Kalau aksi harus sesuai ketentuan, anarkis akan kita lakukan proses hukum,” ujarnya.
Sedangkan Kuasa Hukum Sekolah Nanyang, Syafarudin SH Hhum mengatakan biar hukum yang berbicara.

“Sudah biar hukum yang memproses. Kita sudah buat laporan,” ucapnya.
Sementara itu, warga yang tinggal di sekitar Sekolah Nanyang Zhi Hui Modern Internasional School berencana akan melaporkan personel Sabhara Polresta Medan ke Profesi Pengamanan (Propam) Polda Sumut.

Dasar laporan warga terkait atas tindakan anarkis pihak kepolisian yang melakukan pemukulan terhadap dua orang warga, Pelita dan Wito hingga mengalami luka-luka, serta Lansia yang terkena tembakan gas air mata.

“Setelah melakukan pemeriksaan di RS Prof Dr Boloni di Jalan WR Monginsidi, Kecamatan Medan Polonia. Kami (warga) berencana akan melaporkan tindakan polisi yang sudah anarkis terhadap warga dengan main pukul ke Propam Poldasu,” kata Pelita, Jumat (20/1).

Dijelaskannya, warga juga mengajak mahasiswa yang menjadi korban pemukulan saat menggelar aksi untuk mengadu.

“Tindakan polisi sangat rapi saat melakukan pemukulan terhadap pengunjuk rasa. Karena kami tidak ada luka di luar, semua luka yang kami rasakan di dalam tubuh. Makanya kami akan periksa lebih dalam ke rumah sakit,” ujarnya.
Menurutnya, polisi tidak bisa mengelak dengan tindakan anarkis kepada masyarakat yang seharusnya diberikan pelayanan yang baik.

“Kami punya bukti rekaman CCTV saat polisi memukul pengunjuk rasa dan memijak-mijak dengan sepatu. Padahal kami melakukan unjuk rasa tidak anarkis, hanya melempar telur dan membakar satu ban di satu titik saja. Tapi kenapa polisi bertindak anarkis kepada masyarakat,” cetusnya.

Sementara, Lansia yang ditemui wartawan di RS Boloni setelah dirujuk dari RS Herna sudah mulai membaik. “Kalau kondisi saya sudah mulai membaik. Namun, jantung saya belum stabil. Jadi dokter menyarankan kepada saya untuk dirawat dulu dalam beberapa hari,” ucapnya.

Lansia berharap kepada teman-teman seperjuangan yang menuntut agar pembangunan gedung baru Sekolah Nanyang dihentikan.

“Saya tidak bisa berbicara banyak, tetapi saya hanya berharap kepada teman-teman seperjuangan agar terus berjuang sampai tuntutan warga yang sudah tertindas diperhatikan oleh pemerintah,” pintanya. (adl/gus)

Bukan Diskriminasi tapi Memberi Rasa Aman Pasien Lain

Usulan Penyediaan Tempat Khusus Penanganan Gigi Bagi Penderita HIV/AIDS

PERSATUAN Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Kota Medan,  menilai perlu adanya tempat khsusus dalam penanganan masalah gigi bagi penderita HIV/AIDS. Selain memberikan kenyamanan bagi dokter, juga memberikan rasa aman bagi pasien lainnya.

Hal ini disampaikan Sekretaris Umum PDGI Medan, Drg Erwan saat dikonfirmasi wartawab, Jumat (20/1).”Kita pernah usulkan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara untuk menyediakan tempat khusus bagi penderita HIV/AIDS, baik dari sisi efektivitas ruangan seperti sirkulasi udara dan lainnya. Hanya saja usulan tersebut belum dijumpai satu sudut pandang, dan justru dianggap adanya bentuk diskriminasi jika ini dilaksanakan,” terangnya.

Padahal lanjutnya, tempat khusus untuk penanganan gigi bagi pasien yang menderita HIV/AIDS bertujuan untuk memberikan rasa aman.
Mengingat penderita HIV memiliki syndrome penyakit penyerta seperti TB Paru dan Hepatitis.

“Jadi ini bukan bentuk diskriminasi melainkan memberikan rasa aman bagi dokter, pasien yang negatif dan tentunya pasien yang positive HIV/AIDS,” ujarnya.

Menyikapi hal itu, Wakil Ketua DPRD Medan, Ikrimah Hamidy mengakui jika usulan tersebut tidak melanggar Perda HIV yang telah disahkan beberapa waktu lalu.

Meskipun tidak ada pasal khusus pemisahan bagi penderita HIV, namun ada pasal mengenai antisipasi yang terkena HIV/AIDS dengan memberikan pelayanan khusus. “Perda HIV yang sudah disahkan dan menunggu lanjutan wali kota. Tidak ada pasal khusus untuk untuk pemisahan hanya antisipasi yang terkena HIV perlu ada penanganan khusus,” ujarnya.

Selain itu Ikrimah juga mengatakan dalam pasal tersebut ada menyebutkan jika penderita HIV harus memberitahukan tentang penyakitnya.

Terutama untuk penanganan dalam medis agar tidak menularkan terhadap orang lain. “Jika ada penderita yang tidak memberitahukan tentang statusnya baik dalam proses penanganan secara medis dan lainnya akan mendapatkan sanksi,”ungkapnya.

Bentuk sanksinya sendiri, bilang Ikrimah mengarah kepada pidana ringan dan sanksi dalam bentuk denda.
Disinggung mengenai adanya usulan penyediaan tempat khusus untuk perawatan gigi bagi penderita HIV/AIDS, menurut Ikrimah sebaiknya tidak perlu dilakukan.

Karena menurutnya, penyediaan tempat khusus yang dimaksudkan membutuhkan pembiayan dan anggaran yang besar. “Saya rasa gak perlu tempat khusus, namun bagi penderita HIV harus memberitahukan statusnya agar bisa ditangani sesuai ketentuan dan prosuderal yang berlaku. Namun jika ada bantuan dari pihak swasta untuk penyediann tempat khsusus, sah-sah saja karena itu bukan bagian dari diskriminasi melainkan memberikan rasa aman bagi yang lainnya,” sebut Ikrimah. (uma)

Menjambret, Batal Tunangan

Rencana Ardiansyah Putra alias Putra (22), warga Jalan M Yacob, Sei Kera Hilir I, Medan Perjuangan untuk bertunangan dengan kekasihnya terpaksa dibatalkan Pasalnya, karyawan perusahaan swasta itu dijebloskan ke dalam sel Mapolsekta Medan Timur akibat tertangkap menjambret, di Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, persis di belakang RSU dr Pirngadi Medan, Rabu (18/1) sekitar pukul 20.00 WIB.

Keterangan yang dihimpun, tersangka Ardiansyah Putra bersama temannya Suhairi alias Ari (21), warga Jalan M Yacob, Medan Perjuangan, Rabu (18/1) sekira pukul 18.00 WIB, berangkat mengendarai sepeda motor Yamaha Vixion mencari mangsa di kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Prof HM Yamin.

Saat berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, persis di belakang RSU dr Pirngadi, keduanya melihat seorang wanita bernama Sari (26) sedang mengendarai Scoopy bernomor polisi BK 6047 ABC melintas sendirian. Sementara tasnya diletakkan di bawah stang.

Tanpa buang waktu, tersangka Putra yang duduk di belakangh langsung menyambar tas tersebut, kemudian tancap gas di tengah kemacatan arus lalulintas yang sedang padat merayap sore itu.

Namun, tersangka Suhairi yang membawa sepeda motor  menyenggol mobil pribadi hingga kedua penjambret ini terjatuh. Meski sudah terjatuh dan terjebak kemacatan arus lalulintas, kedua penjambret tersebut pura-pura hendak mengembalikan tas milik korban, namun korban sudah terlanjur berteriak jambret.

Akibatnya, tanpa ada yang mengomandoi sejumlah massa pun memukuli keduanya.

Tersangka Ardiansyah Putra mengaku, akan melangsungkan pertunangan dengan kekasihnya Ika bulan Februari 2012, setelah setahun menjalin hubungan asmara.

“Tapi, semuanya terpaksa dibatalkan karena aku masuk penjara,” tutur Ardiansyah Putra.
Menurut Putra, begitu dirinya ditangkap polisi dan dijebloskan ke dalam sel, sang kekasih pun membesuknya dari balik terali besi bersama kedua orangtuanya.

“Tadi kekasihku datang membesuk. Ku bilang sama dia bahwa aku diajak teman jalan-jalan naik sepeda motor dan spontan menjambret,” kata Putra.
Penuturan Putra, hasil jambretan bukan digunakan untuk biaya tunangan melainkan untuk membayar utang judi bola sebesar Rp1 juta, sedangkan dirinya hanya memiliki Rp500 ribu.

“Karena kalah judi bola kami pun terpaksa keliling cari uang untuk bayar utang,” aku Putra.

Kapolsek Medan Timur Kompol Patar Silalahi menjelaskan, kedua penjambret tersebut merupakan penjahat jalanan yang disinyalir sudah sering beraksi di kawasan Jalan Prof HM Yamin dan di kawasan lainnya di wilayah hukum Polsekta Medan Timur. (gus)

Membangun Semangat

Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Medan, Syahrul Harahap mengakui program Wali Kota Medan untuk menggalakkan senam kesegaran jasmani kepada seluruh staf di jajaran Pemko Medan sangat baik.

“Kegiatan senam merupakan program pak Wali untuk sesama staf di setiap instansi. Sejak awal, kegiatan ini sudah berjalan dan dilakukan di beberapa instansi serta kantor Wali Kota. Kini giliran Dispenda untuk melaksanakannya,” sebutnya.

Menurut Syahrul, kegiatan senam dapat membangun semangat seluruh staf di lingkungan Pemko Medan dan bisa mewujudkan pembangunan di Kota Medan.
“Dengan semangat dalam mewujudkan itu sangat perlu dalam meningkatkan sinertigitas agar selalu bersemangat,” ucapnya.(adl)

Tiap Jam, 20 Bayi Lahir di Sumut

MEDAN-BKKBN Wilayah Sumatera Utara mencatat sekitar 20 bayi lahir di Sumatera Utara  setiap jam atau sekitar 175.360 bayi per tahun.
Menurut Kepala Sub Bidang Advokasi Pergerakan dan Informasi (Adpin) BKKBN Sumut, Anthony SSos, Jumat (20/1), angka kelahiran bayi tersebut sudah angka ideal.

Anthony menjelaskan, laju pertumbuhan penduduk dan pengendalian penduduk di Sumut hendaknya dipertahankan dan ditingkatkan.

“Perlu kita cermati bersama, baik lintas sektor maupun mitra-mitra kerja, dalam rangka menekan laju pertumbuhan penduduk di Sumut ini,” jelasnya.
Antoni juga mengakui, masalah kependudukan tidak serta-merta merupakan tugas dari BKKBN saja, melainkan tugas bersama termasuk Satuan Kerja Perangkat Daerahn (SKPD) kabupaten/kota.

Untuk 2012 ini, lumbung-lumbung akseptor KB di daerah perlu ditingkatkan kerjasamanya.
“Hal ini dilakukan karena KB berperan untuk mengatur kelahiran, jarak dari usia ideal kelahirannya,”ungkapnya.

Selain itu juga dirinya menyebutkan dalam mewujudkan keluarga berkualitas,juga harus didukung SKPD dan masyarakat, karena ledakan penduduk tidak bisa dihindari tanpa adanya bentuk kordinasi lintas sektor.(uma)

Jaga Kekompakan

Camat Medan Johor, Azwarlin mengaku kegiatan senam yang dilakukan sesuai dengan program Pemko Medan menjaga kekompakan seluruh pegawai.
“Untuk menjaga kekompakan pegawai agar tetap harmonis dalam menjalankan roda pemerintahan dengan mengemban tugas dari pimpinan dan bawahan harus bersama-sama membangun Kota Medan,” cetusnya.

Hal itu juga, lanjut dia, menyahuti kinerja Pemko Medan yang tidak saling memandang antara atasan dan bawahan, tapi demi meraih tujuan bersama. Artinya senam sebagai bagian untuk mewujudkan dan mensukseskan kerja sama antara staf dan atasan.

“Untuk membangun kinerja Pemko Medan, jadi harus bekerja sama tidak mengenal batasan antara atasan dan bawahan untuk saling membangun Kota Medan,” ujarnya.

Menurut dia, senam kesegaran jasmani memang diprogramkan oleh Pemko Medan dalam menjalin silaturahmi antara aparat kecamatan dan dinas.  “Jadi kegiatan senam ini tidak putus dilakukan setiap semingu sekali atau setiap hari Jumat, tapi seterusnya di masing-masing instansi,” jelasnya.(adl)

Lurah Lempari Petugas Dinas TRTB

Cuma Diberi Surat Peringatan

MEDAN-Camat Medan Denai, Edi Matondang sudah memberikan surat peringatan keras kepada Lurah Tegal Sari Mandala I, Medan Denai, Elmon akibat melempari petugas Dinas TRTB Medan, saat melakukan pembongkaran rumah miliknya di Jalan Jati III, Gang Ampera, Teladan Timur, Medan Kota.

“Saya sudah memanggil yang bersangkutan agar ke depan tidak lagi mengulangi tindakannya. Saya juga sudah mengeluarkan surat peringatan keras kepadanya,” kata Camat Medan Denai, Edi Matondang, Jumat (20/1).

Dikatakan Edi, pihaknya tidak bisa memberikan sanksi, sebab tindakan yang dilakukan Elmon, merupakan kesalahan pribadi terkait urusan pribadi. Apalagi rumah yang bermasalah itu tidak berlokasi di Medan Denai, melainkan di Medan Kota.

“Itu memang masalah pribadi dia, makanya kita hanya memberikan surat peringatan saja, terkait dirinya sebagai lurah agar tidak melakukan tindakan seperti itu lagi,” jelas Edi.

Kabag Tata Pemerintahan (Tapem) Pemko Medan, Sofyan juga mengatakan kalau pihaknya sudah memanggil yang bersangkutan.
“Kemarin sore lurah itu sudah kita panggil. Kita sudah menasehati dan lurah tersebut juga sudah mengakui kesalahananya, makanya kita minta dia untuk mengurus izin bangunan miliknya,” ujar Sofyan.

“Masalah lurah itu sudah dilaporkan ke Wali Kota Medan dan Pak Wali marah besar saat menerima laporan itu. Karena yang bersangkutan telah mencoreng citra pamong masyarakat,” ungkap Syaiful.

Hingga saat ini, lanjut Syaiful, lurah sudah dipanggil oleh Kabag Tapem dan sudah dinasehati. “Tindakan yang dilakukannya itu jelas salah, tapi kalau sanksinya tergantung Pak Wali,” jelasnya.

Elmon ketika ditemui di rumahnya Jalan Jati III Gang Ampera, Kelurahan Teladan Timur Medan tidak ada di rumah, bahkan berulangkali dihubungi nomor ponselnya tak menjawab. (adl)

Kecantikan Terlihat dari Attitude

Cut Nabila Azhar, Putri Indonesia Kepulauan Sumatera 2010

Bagi cewek kelahiran Medan, 2 Maret 1991 ini, kecantikan seorang wanita tidak hanya terlihat dari luar saja. Tetapi kecantikan tersebut terlihat dari sikap (attitude) seseorang, dan cara berfikir yang positif dan optimis dalam menghadapi hidup. Dengan keoptimisan, seseorang akan memancarkan semangat yang dapat memberi dampak positif bagi orang lain. “Optimis akan memancarkan semangat, sehingga akan memberikan dampak positif pada orang disekitar kita,” ujar gadis manis yang memiliki hidung mancung ini. Selain itu, dengan hati bersih dan senyuman, akan membuat seseorang akan terlihat lebih cantik.

“Menurut saya pribadi, senyuman akan menambah kecantikan seseorang, lihat saja orang yang tersenyum pasti lebih baik dibandingkan dengan yang tidak tersenyum,” ucapnya.

Baginya, kecantikan merupakan pemberian dari Yang Maha Kuasa, karena itu harus dijaga. Untuk menjaga kecantikan, mahasiswi kedokteran USU ini selalu mengonsumsi makanan yang sehat. Bahkan sejak kecil sayuran dan buahan sudah menjadi makanan yang disajikan oleh sang bunda. “Sejak kecil saya sudah mengonsumsi sayuran, karena mama selalu menyediakannya di  rumah,” tambahnya. Walaupun awalnya, dirinya tidak memahami manfaat sayuran, hanya mengikuti perintah sang bunda.

Kecantikan yang dimilikinya juga tidak dijadikannya sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain, terutama kaum adam. Menurutnya, kecantikan seseorang itu relatif, tetapi berbeda dengan inner beauty. “Jangan pikir, cowok akan melirik karena kecantikan kita, karena kecantikan fisik itu relative. Jadi inner beauty saja yang diperdalam. Selanjutnya, tentu saja kerapian. Kalau rapi pasti enak dipandang,” ujarnya.

Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, gadis yang biasa disapa Nabila ini sudah mulai focus menjaga kecantikannya. “Pada zaman SMA, saya sudah mulai fokus merawat kecantikan, lebih banyak mengonsumsi sayur, air putih dan kulit,” ujarnya.

Mengonsumsi sayur dan lainnya untuk menjaga kesehatannya dari dalam, sedanghkan untuk perawatan dari luar, dirinya tetap melakukan perawatan lulur. “Karena sudah fokus perawatan, jadi perawatan dari dalam tubuh juga saya lakukan,” ungkapnya.

Masa kecil yang dilewatinya juga sederhana, seperti anak kecil pada umumnya, penampilannya Nabila tidak mencolok, atau bisa dikatakan biasa-biasa saja. Bahkan dirinya tidak pernah dandan untuk mempercantik penampilannya. “Saya biasa-biasa saja, tidak ada yang mencolok. Dandan juga melihat tempat dan situsi, tidak ada yang istimewa,” ujarnya.

Walaupun sudah sangat dekat dengan ketenaran karena posisinya sebagai Putri Indonesia Kepulauan Sumatera 2010 yang ditunjang dengan kecantikan yang dimilikinya, hal tersebut tidak membuatnya lupa akan pendidikan.

Menurutnya, ilmu lebih penting dibandingkan dengan apapun. Demi pendidikan, ia sering menolak  tawaran untuk bermain film dan menetap di Jakarta. Selain itu, Nabila juga tidak mau dicap sebagai cewek bodoh yang hanya bermodalkan wajah cantik saja. “Kita tidak tahu apa yang terjadi ke depannya, entertaiment dan kecantikan hanya bersifat sementara, sementara ilmu untuk bekal selamanya,” tambahnya.

Dengan modal ilmu kedokteran yang dimilikinya, ia berharap dapat mandiri. Dirinya menyadari posisinya sebagai wanita yang nantinya akan menjadi ibu dan istri. “Walau wanita, bukan berarti tidak menuntut ilmu, saya sadar akan posisi saya. Tapi sebagai wanita juga kita harus mandiri, jangan hanya bergantung pada suami nantinya. Sepengetahuan saya, lelaki zaman sekarang juga lebih suka melihat wanita mandiri daripada yang berpangku tangan saja,” tambahnya.

Untuk saat ini, duta PMI (Palang Merah Indonesia) Sumut ini masih konsen dengan penyelesaian kuliahnya. Ke depannya, bila tawaran dari dunia entertaiment masih ada, ia mengaku akan tetap konsen dengan ilmu yang dituntutnya, dan menjadikan dunia entertaiment sebagai hobi.
Adapun keikutsertaannya di PMI, karena ini salah satu yang bisa dilakukannya dan berguna untuk siapa saja. “Saya ingin menjadi berguna bagi siapa, dan kegiatan di PMI menjadikan saja lebih berguna,” ungkap Nabila. (ram)