Home Blog Page 14037

Perketat Aturan Sensor Internet

Poppy Bunga

HATI Poppy hancur saat pose adegan mandinya dalam film Pemburu Hantu The Movie, beredar luas, Februari 2010. Ia tak menyangka, lekuk tubuhnya bisa dinikmati orang banyak.

“Awalnya aku nggak mau buka suara soal foto panasku itu. Tapi sudah terjadi, namanya juga lagi nahas. Seharusnya yang nyebarin minta izin dulu dong. Nggak seenaknya sebarin, sembarangan,” ketusnya.

Foto syur jelas bikin keluarga besarnya shock. Meski sang manajer telah mengklarifikasi kepada mamanya, Poppy tetap tak kuasa menahan malu.

“Foto seseksi apa pun, aku nggak pernah memperlihatkan dadaku. Mami sih nggak masalah. Malah bilang (ke manejer), coba deh temuin langsung dan hibur hatinya, dia stres nangis terus,” tuturnya.

Atas pengalamannya itu, Poppy tak setuju kalau peredaran foto hot dinilai sengaja dilakukan artis untuk mendongkrak pamor.

“Aku pernah alami nasib sama kayak mereka. Aku yakin mereka nggak bakal buka suara soal foto-foto aksi panasnya, apalagi tersebar di internet. Biasa itu buatan orang iseng yang punya akses tapi gatal nyebarin. Kalau udah jadi artis mah sudah terkenal, nggak perlu cara kayak begitu,” ucapnya.

Mantan pacar presenter Mandala Shoji itu bilang, sudah semestinya sang artis mencari siapa penyebar foto itu.

Lalu tangkap tangan dan serahkan ke pihak yang bertanggung jawab.

“Kalau perlu ada tuntutan hukum.

Biar kita nggak khawatir kalau ada tawaran foto seksi atau main film agak sensual. Kan kalau ada adegan terbuka, suka parno sendiri,” tegasnya.

Poppy pun setuju kalau ada pengetatan regulasi publikasi foto syur di media khususnya internet. Baginya, sebagai public figure, artis memang harus tampilkan sisi baik pada publik. Tapi di sisi lain, artis pun kadang perlu aktualisasi diri lewat peran yang menantang.

“Mau foto topless bahkan blue film sekali pun nggak baik bagi masyarakat.

Tapi nggak selamanya kita akting sopan terus, perlu tantangan. Kita butuh peran itu,” ujarnya. (ins/jpnn)

Persema Mogok Latihan

MALANG- Keinginan manajemen Persema agar timnya bisa meraih poin maksimal saat menjamu PSMS Medan Senin besok (23/1) terganjal. Sejak kemarin (21/1), semua pemain Laskar Ken Arok – julukan Persema – justru mogok latihan.

Padahal, sesuai agenda, seharusnya kemarin mereka mengikuti latihan pagi dan sore. Latihan pagi digelar di Lapangan Abdulrachman Saleh pada pukul 08.00 hingga pukul 10.00. Sedangkan latihan malam digelar di Stadion Gajayana pada pukul 19.00 sampai 20.00.

Tanda-anda pemain akan mogok latihan terlihat sejak pagi. Semua pemain sudah berkumpul di mes Persema Jalan Mojopahit mulai pukul 07.00. Namun, mereka hanya dudukduduk di sekitar mes. Mereka enggan naik ke dalam bus yang akan mengantarkan mereka ke Lapangan Abdulrahman Saleh di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Mereka mogok latihan karena gaji Januari yang seharusnya diterima pada tanggal 15 lalu hingga kini masih belum cair. Aksi mogok itu terus berlanjut sampai malam hari.

Jadwal latihan malam di Stadion Gajayana urung dilakukan. Padahal latihan malam digelar pelatih Persema Slave Radovski agar pemainnya bisa beradaptasi.

Sebab laga Persema versus PSMS akan digelar malam hari di Stadion Gajayana. Seorang pemain lokal mengungkapkan bahwa manajemen berjanji untuk menyelesaikan gaji mereka Senin lalu (16/1).

“Janji itu mereka ucapakan sebelum laga Bontang FC (15/1). Tapi kenyataannya hingga kini (kemarin), gaji juga belum dibayar,” katanya. Pemain yang cukup senior di Persema itu sangat berharap manajemen tidak ingkar janji.

“Kami sudah bekerja keras membela Persema. Tapi kelihatannya manajemen tidak menghargai kami,” tambahnya.

Keluhan telatnya gaji juga diucapkan para pemain asing Persema. Di tim ini ada empat pemain asing. Mereka adalah Guy Bertrand Ngon Mamoun, Emile Bertrand Mbamba, Dennis Kacanovs, dan Naum Sekulovski.

Mereka juga tampak bergerombol dengan para pemain lokal menuntut hak yang sama.

Mereka meminta agar pengurus Persema bersikap profesional. Karena tim yang dibela mereka juga tim profesional. Menurut para pemain asing, selama ini mereka sudah bekerja secara profesional. “Kami di Persema adalah satu tim. Jika pamain lokal mogok, kami juga harus ikut. Karena di tim ini tidak ada perbedaan antara pemain lokal mapun asing,” ucap salah satu pemain asing yang minta namanya dirahasiakan.

(yon/fir/ruk/jpnn)

Anggota Polri Boleh Bantah Atasan

Irjen Saud Usman Nasution

RAPAT pimpinan Polri akhir pekan ini menghasilkan keputusan penting. Salah satunya, ada komitmen bersama di internal Korps Bhayangkara tentang hubungan atasan dan bawahan. Komandan di lingkungan Polri kini boleh dibantah oleh anak buah.

Komitmen itu merupakan poin ke empat dari sepuluh poin yang ditandatangani Kapolri Jenderal Timur Pradopo. Bunyi lengkapnya, mengakomodasi hak dan kewajiban bawahan, untuk berani menyampaikan penolakan terhadap perintah atasan yang bertentangan dengan norma dan ketentuan yang berlaku. “Jadi, penolakan boleh tapi syaratnya kan jelas, ada perintah yang bertentangan dengan norma dan ketentuan,” ujar Kadivhumas Polri Irjen Saud Usman Nasution kemarin.

Hal ini membuka ruang bagi anggota untuk tetap bertindak sesuai aturan.

“Tidak ada lagi istilah komandan selalu benar dan harus ditaati membabi buta,” tambahnya.

Komitmen ini berlaku bagi ribuan anggota Polri mulai level Mabes hingga Polsek. “Komandan atau atasan juga tidak boleh arogan dan mengakomodasi penolakan dengan empati,” kata Saud. Poin untuk komandan ada pada komitmen kesembilan.

Secara terpisah, komitmen ini dinilai sebagai terobosan penting bagi kepolisian. “Tinggal berani tidak anggota di lapangan melakukannya,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta Sanusi Pane kemarin.

(rdl/jpnn)

Tentang Dia yang Terus Saja Menulis

Pekan ini saya mengalami kesulitan untuk memulai menulis lantun. Seperti ada yang menahan. Seperti ada ketakutan. Dan, seperti ada kebingungan.

Terlepas dari itu, saya rasa yang paling benar ada pada kemalasan.

MUNGKIN karena itulah, Pramodya Ananta Toer sempat memberi pesan pada penulis muda untuk tulis… tulis…

dan tulis kalau ingin terus menjadi penulis. Atau, Putu Wijaya berkata jangan berani tidur kalau belum tahu besok mau nulis apa. Ah…

Terus terang, masalah menulis ini sebenarnya tidak akan terlalu membingungkan jika saja tidak ada kesibukan saya yang lain. Maksudnya, kemarin saya baru memiliki perangkat baru yang katanya bisa membuat saya gampang berhubungan dengan dunia luar.

Entahlah, saya tak tahu kenapa ada yang berpikir kalau saya tidak bagus berhubungan dengan dunia luar hingga harus memiliki barang itu.

Yang jelas, kini barang itu sudah di tangan saya. Dan, karena sudah di tangan saya, konsentrasi pun jadi pecah. Sebentar-bentar pandangan saya di monitor komputer beralih ke barang mungil berwarnah putih yang katanya perangkat pintar itu. Jemari di keyboard komputer pun berulang terhenti, sibuk memainkan keyboard di barang kecil itu. Apalagi, ada suaranya yang membuat saya tergoda.

Ukh…

Mungkin karena itulah Stephen King sempat berkata, tutup semua pintu ketika menulis. Dan, ketika menulispun harus di tempat yang terasing. Maksudnya, jika menulis dengan komputer, jangan sampai ada benda lain di meja selain komputer itu saja. Pun, di dalam komputer jangan sampai ada game atau musik atau apalah yang bisa menghancurkan fokus.

Masalahnya, karena barang itu baru di tangan saya, jadi saya masih kemaruk.

Tambah masalah, lantun harus segera selesai. Akh… dilema yang seharusnya tidak tercipta seandainya saya tidak memiliki barang itu? Tapi sudahlah, apapun ceritanya lantun memang harus selesai.

Masalah gangguan barang itu, anggap saja sebagai stimulan kan? Selesai! Tunggu dulu, gejala sulit memulai menulis memang bukan hal baru yang sering dihadapi penulis kan? Ini bukan soal penulis baru atau yang sudah karatan, tapi lebih pada gangguan yang mengoyak fokus. Maka tidak berlebihan ketika ada beberapa penulis (baik tua dan muda) berhenti ketika tulisannya selesai. Marah, ketika tulisannya tak sesuai. Dan, menyerah dengan tulisan yang asal jadi.

Tapi, bukan berarti tidak ada penulis yang mampu mengatasi itu. Bagi saya, dibutuhkan suasana kemaruk menulis bagi seorang penulis. Ya, untuk menjadi penulis andal memang semangat menulis tidak boleh ditinggalkan.

Maksudnya, menulis bukan sekadar tugas. Menulis menjadi sebuah kebutuhan. Dan, bangga ketika tulisan berhasil diselesaikan.

Soal ini, saya jadi ingat seorang kawan. Dia penulis tua dan bisa dikatakan sebagai pemegang rekor kolom terbanyak di Indonesia selama 2011 (dia menulis kolom setiap hari di medianya, lalu setiap pekan menulis kolom di media lain). Ceritanya, hampir setiap hari dia narsis menunjukkan tulisannya.

Bayangkan saja, bangganya dia terhadap tulisan itu bak penulis muda yang baru saja karyanya dimuat media.

Sempat jengah juga dengan sikapnya itu. Kemaruk banget seh, bahasa anak mudanya. Namun, saya berpikir, mengapa dia yang sudah setua itu dan sudah mapan di kariernya masih saja semangat seperti itu. Tanpa mencari jawabannya, saya menebak kalau hal itu memang dipeliharanya. Bahkan, saya sering melihat dia menyembunyikan ide agar tidak saya curi untuk tulisan saya. Jadi, ketika kami bertemu, kadang-kadang kami lebih pendiam.

Masing-masing berusaha untuk menahan pembicaraan agar tak keluar yang dipikirkan. Fiuh. Bagi saya, situasi semacam itu begitu menyenangkan.

Saya dan dia adalah musuh dalam tulisan… hahahahah.

Tapi begitulah, mengingat dia, saya malah bertambah semangat untuk menulis. Bayangkan saja, umur dia itu berbeda tiga puluh tahun dengan saya, tapi semangatnya malah mengalahkan saya. Kurang ajar kan? Makin kurang ajar, sebelumnya saya juga tahu kalau dia memiliki perangkat yang mengganggu konsentrasi saya itu. Tapi, dia tidak terpengaruh.

Tetap saja dia menulis dan tetap saja karyanya dibaca orang setiap hari.

Karena itulah, kini lantun saya selesaikan.

Ya, sebuah tulisan tentang dia yang tidak pernah berhenti semangat menulis. Tentang dia yang menganggap menulis sebagai kebutuhan. Tentang dia yang masih bangga dengan satu tulisannya sementara ribuan tulisannya yang lain telah hinggap di kepala pembaca. Dan, tentang dia yang sejak tadi terus mengganggu saya hingga saya terlambat menyelesaikan lantun ini. Fiuh. (*)

Oknum Guru Sesatkan Murid SD

Salah Artikan Surat Al Ikhlas

ACEH-Orang tua murid SDN Matang Seulemak, Nurussalam, Aceh Timur mendadak resah. Pasalnya, ada oknum guru melakukan penyesatan dan pendangkalan akidah Islam.

Para bocah yang masih duduk di bangku kelas II Sekolah Dasar (SD) tersebut pun tak sadar, jika mereka sudah menerima ajaran menyalah dari seorang oknum guru di Bakhti Murni berinisial ZH di SDN Matang Seulemak, Kecamatan Nurussalam –Bagok Aceh Timur.

Kepada Metro Aceh (group Sumut Pos), Razali (30) salah satu orang tua murid, Sabtu (21/1) siang menunjukkan sejumlah bukti-bukti. Menurut warga Desa Asan Tanjung, Kecamatan Nurussalam, Aceh Timur itu mengakui sudah dilaporkan mereka kepada Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Timur.

Dugaan pedangkalan Akidah terungkap melalui buku tulis beberapa murid kelas II. Di dalamnya terdapat pelajaran mengenal surat Al Ikhlas. “Surat Al Ikhlas terdiri dari empat ayat, Al Ikhlas artinya tulus, Allah itu satu, Allah itu beranak, Allah itu beribu, Allah itu Maha Esa,” ujar Razali sembari menyatakan ajaran ditulis anak-anak dari guru ZH. Bahkan bahkan tulisan tersebut diberi nilai angka 70 hingga 100.

Atas kejadian ini, Razali mengaku sangat terkejut. Ia semula tidak percaya, karena kasus ini mulai didengar dari wali murid lainnya saat berada di warung kopi. Selanjutnya memeriksa catatan di dalam buku anaknya, hingga melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.

“Saya sangat terkejut begitu melihat buku tulis pelajaran Agama. Juga ada tulisan Allah itu beranak dan Allah itu beribu. Saya sangat kecewa atas kejadian ini.

Karena arti surat Al Ikhlas diajarkan kepada anak kami jauh melenceng dari arti yang sebenarnya. Bahkan anak saya dengan tulisan demikian dibukunya mendapat nilai 100,ini sangat aneh,” ujar Razali.

Terkait kejadian ini, Ketua MPU Kecamatan Nurussalam, Tgk. H. Dliauddin, saat dihubungi Metro Aceh, membenarkankan laporan itu “Segera pihak MPU akan melakukan proses terhadap oknum guru tersebut. Karena tulisan yang ada dibuka murid di sana jelas salah dan menyimpang dari Aqidah Islamiah,” jelas Tgk.

H. Dliauddin. Pihaknya pun berjanji dalam waktu dekat akan mengelar rapat, dengan pihak Muspika terkait persoalan tersebut.

Sementara itu, Kepala SDN Matang Seuleumak, Yusufsah ditemui diruang kerjanyamengaku tindakan penyesatan murid tersebut.

“Oknum ZH adalah guru Bhakti Murni, yang sekarang menetap di Kecamatan Julok. Dia telah mengajar disekolah itu sejak tahun 2007.

Untuk sementara ia mengaku silaf dan telah mengetahui kejadian tersebut serta mengumpulkan sejumlah buku tulis agama murid kelas II/ A,” terang Yusufsyah. (yas/jpnn)

Artis Jualan Sensasi Foto Syur

Sensasi Bisa tak Direkayasa

Nikita Mirzani terus jualan sensasi lewat koleksi foto syurnya yang beredar luas di internet. Meski dibantah, ini dianggap salah satu cara artis mendongkrak popularitas. Beberapa seleb mengakui itu kepada Rakyat Merdeka (Grup Sumut Pos).

MERASA satu profesi, Vicky Shu menghargai cara artis yang biasa jualan sensasi. Ada banyak alasan, misalnya karena kemampuan seorang artis yang memang pas-pasan.

“Tergantung orangnya. Bisa jadi si artis mempunyai sesuatu yang berbeda. Atau sedang naik daun sehingga diberitakan terus dan dicari sensasinya,” ujar pelantun hit Mari Bercinta 2 ini.

Sensasi, lanjut Vicky, juga bisa ada tanpa direkayasa lebih dulu oleh si artis dan manajernya. Bisa jadi sensasi berkembang seiiring popularitas si artis yang naik. Tapi Vicky pantang populer gara-gara sensasi. Dia terus belajar meningkatkan kemampuan agar berumur panjang di dunia hiburan tanah air.

“Aku tak terlalu tergantung pada gosip atau sensasi. Yang paling penting jaga sikap. Alamiah, tidak dibuat-buat,” ucapnya.

Perjalanan karier Vicky cukup kompleks. Pernah menjadi penari, backing vokal sejumlah musisi dan juga menjadi personel band, sebelum kemudian solo karir sebagai penyanyi.

“Dari kecil sudah di musik, setiap ada acara kesenian aku ikut, nge-dance. Selesai kuliah aku diminta beberapa musisi untuk jadi backing vokal, waktu nge-band aku main alat musik,” bebernya.

Lika-liku tadi dianggapnya sebuah proses yang harus dilalui.

Mewujudkan mimpi butuh kerja keras dan belajar.

“Yang namanya lancar itu harus proses dari bawah dan aku belajar banyak dari pengalaman yang berharga. Dari nyanyi di depan nasi goreng, bahkan nggak dibayar sama tukang nasi goreng. Tapi aku senang belajar jadinya,” ungkapnya.

Kunci yang selalu dipegang oleh Vicky hingga sekarang adalah kedisiplinan. Dia merasa harus kerja keras melayani orang lain, yang membutuhkan atau memintanya untuk menyanyi.

“Disiplin waktu, ngerasa bukan aku artisnya. Aku bantuin mereka, aku berusaha maksimal. Kerja sama-sama orang nggak mungkin males-malesan, harus detil tentang apapun,” katanya.• (bcg/jpnn)

2012, Berhasil Seturut Firman

OLEH: PDM. EDISON SINURAT STH

Yosua 1:8 “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”

BANYAK cara ditempuh orang untuk dapat berhasil dalam pekerjaannya. Kali ini kita akan melihat bagaimana Firman Tuhan mengajar kita untuk memperoleh keberhasilan dan keberuntungan tersebut.

Perjalanan bangsa Israel merupakan contoh yang sangat relevan bagi kita yang hidup di zaman ini. Kepada Yosua, Allah memberi petunjuk khusus setelah ia menerima estafet kepemimpinan dari Musa untuk memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan yang telah dijanjikan itu. Tuhan memerintahkan agar Yosua harus selalu memperhatikan Firman Tuhan. Itulah sebagai petunjuk pelaksanaan atas proyek yang ditugaskan Allah kepadanya. “Janganlah lupa memperkatakan Firman Tuhan.” Banyak orang beranggapan bahwa untuk memperkatakan Firman Tuhan itu hanya para pendeta yang harus selalu berkhtobah. Yosua, bukan pendeta, Yosua pemimpin prajurit dan akhirnya menjadi pemimpin bangsa Israel untuk merebut tanah Kanaan. Keberhasilannya bukan karena ia ahli berperang, tetapi karena ia benar-benar serius memperhatikan Firman Tuhan. Di hadapan prajurit dan rakyatnya, ia memberi instruksi tetapi sekaligus memperkatakan Firman Tuhan sebagai dasar pelaksanaannya.

Tahukan saudara bahwa dari sekitar tiga juga rakyat Israel yang berangkat dari Mesir (yang lahir di Mesir), hanya dua orang saja yang sampai di tanah Kanaan (Yosua dan Kaleb).

Selainnya adalah yang lahir di Padang gurun. Sebagian besar dari mereka tewas di Padang gurun.

Keberhasilan kita untuk dapat mencapai sukses, sampai di tujuan yang kita harapkan adalah jika kita mengikuti petunjuk Firman Tuhan dan benar-benar melakukannya.

Kegagalan sebagian terbesar dari bangsa itu sangat jelas dituliskan dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 10:1-11). Ada lima alasan kegagalan tersebut, di antaraya: kejahatan, peyembaha berhala, perabulan, mencobai Tuhan, persungutan. Hal-hal ini merupakan pemberontakan kepada Firman Tuhan. Itu terjadi karena mereka tidak benar-benar memperhatikan Firman Tuhan. Hanya Yosua dan Kaleb yang konsisten kepada Firman Tuhan dan sebagai hasilnya, merekalah yang dipercayakan Tuhan mencapai keberhasilan itu.

Di tahun 2012 ini, tentu kita ingin memperoleh keberhasilan bahkan keberuntungan. Banyak cara ditempuh orang, tetapi sebagai pengikut Kristus, contohlah Yosua dan Kaleb yang telah mendapat tips dari Tuhan dan kemudian melaksanakannya.

Selamat berkarir di tahun 2012 bagi anak-anak Tuhan, dan selamat melayani dan berkarya bagi semua hamba-hamba Tuhan. Ini adalah tahun keberhasilan dan keberuntungan bagi mereka yang mau melakukannya.

“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” Tuhan Yesus memberkati.(*)

Misionaris Asal Jepang Dukung Penginjil Medan

Pelayanan STT “Misi” William Carey Medan

STT “Misi” William Carey Medan terus mendapatkan dukungan dari misionaris lokal dan mancanegara. Mengawali 2012, misionaris dari Jepang yang berasal dari Japan Bible University mengunjungi kampus STT “Misi” William Carey di Jalan Mongonsidi Baru I No 25 Medan Polonia, Selasa (11/ 1) dalam rangka kerjasama pelayanan yang diikuti oleh mahasiswa, dosen dan fungsionaris STT William Carey.

Misionaris asal Jepang yang mendukung pelayanan STT William Carey tersebut adalah Rev DR Minoru Maeda ThD PhD LLD, putra Laksamana Maeda yang ikut memprakarsai kemerdekaan Indonesia. Maeda merupakan gembala gereja Ehime Jesu Nomitama Kyokai Church Japan. Kemudian Rev TairaYoshihiro ThD dari Kagoshima, Rev Eng DR Tsuda Masatoshi ThD dari Kochi, Rev Kenji Takeo ThD dari Osaka, Rev Tahara Makito ThM LLD dari Fukuoku dan Rev Taira Tomonari ThM dari Hiroshima.

Perkuliahan dokmatika dan kebaktian ini turut hadir Ketua Yayasan STT William Carey Pdt Octavianus Nathanael BTh MMin dan Ketua STT sekaligus Direktur Pascasarjana Drs VM Siringo-ringo MTh DTh. Dalam acara yang diterjemaahkan oleh Drs VM Siringo-ringo MTh DTh juga dihadiri Pdt Sardo Dongoran STh.

Pdt Octavianus Nathanael menjelaskan tujuan kedatangan tim misionaris asal Jepang tersebut untuk berbagi pelayanan dan mendoakan pelayanan STT “Misi” William Carey sekaligus bersama-sama mendoakan Indonesia dengan berkeliling mengunjungi sejumlah wilayah dari Sabang sampai Marauke.

Selain itu Leonie Radius Prawiro, isteri ekonom alm Dr Radius Prawiro juga mengunjungi STT “Misi” William Carey pada 8 Februari mendatang sekaligus menggelar seminar dengan tema “Wanita yang dipimpin roh kudus”.

Dan pada 10 Februari hingga 14 Februari akan diadakan Kuliah Terbuka Eskatologi yang diajar Dr Ewald Frank dari Jerman.

Hamba Tuhan berusia 78 tahun ini masih memberikan waktunya untuk melayani di STT Misi William Carey di setiap kesempatan kalau ia datang ke Indonesia.

STT “Misi” William Carey Medan juga akan membuka Program Pasca Sarjana atau S-2 dengan Magister Teologi, Master Divinity dan Master Misiologi bekerjasama dengan St Joseph University, India menggelar perkuliahan perdana yang akan dibimbing langsung Rev Dr Amos Jayarathnam dari Singapura pada 18-22 Oktober 2011 di kampus STT “Misi” William Carey di Medan. Selain itu STT “Misi” William Carey juga membuka pogram S-1 Teologia Kependetaan dimana perkuliahan semester ganjilnya telah dimulai namun masih terbuka kesempatan untuk mendaftar. (rahel sukatendel)

Krisis Melanda Eropa, Gereja pun Dipajak

GARA-GARA krisis ekonomi yang melanda Eropa, membuat pemerintah melakukan cara-cara yang dapat menyelamatkan perekonomian negara. Seperti di Italia contohnya.

Pemerintah setempat menerapkan peraturan baru dimana gereja-gereja Katolik diharuskan membayar pajak.

Hal ini bagian dari peraturan yang mewajibkan semua property komersial dikenai pajak.

Karena peraturan baru ini, menurut Konsultan Perencanaan Perkotaan Pemerintah Daerah Roma, Paolo Berdini, Italia akan memperoleh tambahan 100 juta euro dari pungutan gereja. Partai Radikal Italia mengatakan, gereja Katolik di Italia memiliki lebih dari 100 ribu property, dan sepertiganya adalah komersial.

Menurut professor sejarah kontemporer Universitas Luiss, Francesco Perfetti, gereja selalu menjadi sasaran polemik.

“Krisis utang memaksa pemerintah untuk mempertimbangkan kembali hak-hak istimewa bahkan yang selama ini dianggap sakral,” ujarnya.

Di jaman dahulu kala, di masa-masa Alkitab, Tuhan berkata bahwa imam adalah milik-Nya. Jadi, Tuhan berpesan agar umat Lewi yang melayani Tuhan pada waktu itu, hanya berfokus pada pelayanannya semata agar tidak dipusingkan dengan uang. Tetapi, nampaknya hal itu tidak berlaku sekarang.

Namun, apapun keputusan yang dibuat, kiranya yang terbaik dan dengan begitu Italia maupun negara-negara lain dapat terlepas dari krisis ekonomi karena jika negara mengalami krisis, ditakutkan rakyatnya akan menderita. (rol/ bbs)

10 Bulan, Empat Emas, Tiga Rekor

I Gede Siman Sudartawa, Raja Gaya Punggung Asia Tenggara

Jangankan event sebesar SEA Games, di level sekelas PON saja, I Gede Siman Sudartawa belum pernah turun. Keberhasilannya menggondol empat emas sekaligus mencatat tiga rekor SEA Games XXVI/2011 membuat publik Indonesia tercengang.

HUJAN deras mengguyur kolam renang KONI Jawa Timur pada Jumat petang (30/12). Azan Magrib berkumandang. Arena juga mulai gelap. Namun, itu tidak menyurutkan tekad ratusan penonton untuk bertahan dan menyaksikan Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Seluruh Indonesia (KRAPSI) Ke-33.

Beberapa perenang junior yang sedang melakukan pemanasan menghentikan aktivitas. Mereka bergerombol di tenda belakang petugas pencatat waktu. Beberapa panitia mengambil kamera saku dan siap merekam adegan yang hendak berlangsung.

Perlombaan terakhir sektor putra pada ajang yang berlangsung empat hari tersebut memang teramat sayang untuk diabaikan. Sebab, sesi itu melibatkan dua perenang gaya punggung terbaik Asia Tenggara saat ini, I Gede Siman Sudartawa dan Glenn Victor Sutanto.

Beradu sprint di nomor 50 meter gaya punggung putra, Siman menunjukkan kelasnya. Pemuda 17 tahun, kelahiran Klungkung, Bali, tersebut menjadi juara dengan catatan waktu 26,39 detik. Dia unggul tipis atas Glenn di posisi runner-up dengan 26,78 detik. Tribun langsung bergemuruh dengan aplaus panjang penonton.

Siman memang menjadi pusat perhatian utama di arena KRAPSI 2011. Penyebabnya apalagi kalau bukan prestasi gemilangnya di SEA Games XXVI/2012 pada November lalu. Sebelumnya, dia nyaris tidak dikenal.

Siman tampil luar biasa pada pesta olahraga Asia Tenggara dua tahunan tersebut. Perenang asal Klub Millenium Lumba-Lumba Riau itu mampu menggondol empat medali emas.

Siman berhasil membabat habis sektor gaya punggung putra dengan menjadi kampiun di nomor 50 meter, 100 meter, dan 200 meter. Capaian itu membuat dia sah disebut sebagai raja baru gaya punggung Asia Tenggara. Satu emas lagi diraih Siman bersama Glenn, Indra Gunawan, dan Triady Fauzi pada nomor 4 x 100 meter gaya ganti beregu putra.

“Jujur, saya terkejut. Padahal, saya adalah pelapis Glenn Victor di SEA Games. Jadi, memang tidak ada beban,” tutur Siman saat ditemui Jawa Pos pada arena KRAPSI 2011 (28/12).

Siman memang terlihat sangat rileks pada event yang juga merupakan pra kua lifikasi tahap terakhir PON XVIII/2012 itu. Atlet kelahiran 8 September 1994 tersebut terlihat lebih sibuk memotret dengan kamera milik salah seorang pelatihnya, mantan perenang nasional Felix Christiadi Sutanto.

Pada KRAPSI 2011 Siman hanya turun di dua nomor, 50 meter gaya dada dan 50 meter gaya punggung. Dia hanya berada di peringkat ketiga pada gaya dada.

Albert menyatakan, tampilnya Siman di nomor gaya punggung adalah sebuah keisengan.

“Saya memang memberikan kelonggaran besar kepada Siman. Setelah SEA Games, tekanannya memang tinggi sekali. Dia bukan robot. Setelah ini, saya akan push dia lagi,” jelasnya.

Siman mengungkapkan, kelonggaran itu bisa terlihat dari berat badannya yang naik 5 kilogram jika dibandingkan dengan SEA Games lalu. Putra pasangan I Ketut Sudartawa dan Ni Made Sri Karmini tersebut tidak menampik bahwa dirinya bekerja habis-habisan.

Buktinya, tidak hanya menggondol emas, dia juga memecahkan rekor SEA Games di nomor 100 meter gaya punggung dengan 55,59 detik. Capaian itu amat tajam. Sebab, pemegang rekor sebelumnya, Lim Keng Liat (Malaysia), ”hanya” mencatat waktu 56,16 detik pada 11 September 2001.

Selain itu, Siman membantu tim Indonesia mencetak rekor baru SEA Games di nomor 4 x 100 meter gaya ganti beregu putra dengan 3 menit 41,35 detik. Dia juga bisa disebut sebagai pemegang rekor SEA Games di nomor 50 meter gaya punggung. Sebab, dia mendapatkan medali emas pada nomor yang baru dilombakan tahun lalu itu.

Prestasi Siman tersebut seolah membangkitkan memori kejayaan renang putra Indonesia. Dengan empat emas, dia mengulangi prestasi perenang legendaris Wisnu Wardana pada SEA Games 1993.

“Sebenarnya, saya tidak menargetkan emas. Fokus saya hanya satu, mempertajam catatan waktu. Itu saja. Syukurlah, saya malah mendapatkan emas,” ungkap Siman.

Siman memang tidak mematok target apa pun.

Sebab, jangankan event besar seperti SEA Games, di level sekelas PON saja, dia belum pernah turun.

Maklum, dia baru masuk pemusatan latihan nasional (pelatnas) pada 1 Februari 2011. Dia mendepak tempat perenang Jawa Barat M. Idham Dasuki.

Perjuangan untuk masuk pelatnas tidak mudah.

Sebelumnya, Siman bukan siapa-siapa. Dia beberapa kali menjadi juara di kategori kelompok umur.

Namun, untuk bersaing di level senior, levelnya masih berada jauh di bawah. Terutama jika dibandingkan dengan peraih emas SEA Games 2009 Laos, Glenn.

Kerja keras dan tekad kuat Siman mampu membuat Glen gigit jari.

Pemegang dua rekor nasional itu hanya mendapatkan dua perak di 50 meter dan 100 meter gaya punggung. Padahal, Glenn adalah unggulan utama peraih emas, bukan Siman.

Kunci keberhasilan Siman adalah keberaniannya untuk hijrah ke Jakarta pada akhir 2009. Merasa tidak berkembang di Bali, Sri Karmini mendatangi PB PRSI.

Tujuannya, Siman mendapatkan program latihan yang lebih baik. PB mengumpulkan perenang-perenang muda terbaik nasional saat itu.

Kisah Siman berlangsung bak sinetron. Awalnya, dia ditolak dan disuruh pulang ke Bali karena tidak memenuhi kriteria. Tubuhnya terlalu pendek. Namun, Albert tidak tinggal diam.

Setelah melakukan analisis ketat, perenang yang pernah berlaga di delapan SEA Games tersebut memutuskan untuk memanggil kembali Siman ke Jakarta. Dia memasukkan Siman ke klub binaannya, Millenium Aquatic Swimming Club per 1 Januari 2010. “Saya setahun numpang tidur di rumah Ko Albert,” ungkap Siman.

Merasa mendapatkan kesempatan emas, Siman langsung bekerja keras. Tanpa keluhan, dia menerima program latihan yang amat ketat. Latihan pagi dilakoni tiga jam dan sore tiga jam plus program penguatan otot di fitness center pada siang.

Hasilnya dahsyat. Dalam setahun Siman masuk pelatnas. Sepuluh bulan kemudian, anak Klungkung tersebut menjadi pahlawan nasional di arena renang.

Namanya mendadak terkenal. Dia bolak-balik mengisi halaman koran dan masuk televisi setelah SEA Games. “Istilahnya, from zero to hero. Ternyata, dengan motivasi yang tinggi, saya bisa juga,” ujarnya.

(ainur rohman/c12/ko)

Ogah Bela Bali, Pilih Riau di PON

SAKIT hati I Gede Siman Sudartawa kepada Pengprov PRSI Bali belum sembuh benar. Siman menolak mentah-mentah permintaan untuk membela Bali pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012.

Pada PON perdananya itu, dia mantap mewakili tuan rumah Riau.

Sebelum SEA Games XXVI/2011, konflik antara Bali dan Riau memang memanas. Dua daerah tersebut berebut untuk mendaftarkan Siman di PON. Bali menuduh Riau membajak atlet potensialnya tersebut.

Namun, Siman menyangkal tudingan itu.

Atlet kelahiran Klungkung tersebut menegaskan pindah ke Riau tanpa paksaan. “Saya tidak akan mau jika Bali meminta saya. Sebab, mereka telah menyia-nyiakan saya. Niat saya sudah bulat. Saya ingin turun untuk Riau,” tegasnya.

Siman mengungkapkan, Bali memang tidak pernah menghargai usahanya. Saat berusia 15 tahun, dia merajai sektor kelompok umur nasional lewat gaya punggung dan kupu-kupu. Tetapi, PRSI Bali anteng-anteng saja. Permintaan Siman agar PRSI Bali memberikan program latihan yang variatif tidak pernah diberikan.

“Mungkin, penyebabnya, saya hanya juara kelompok umur saat itu. Jadi, kesannya kok ditelantarkan.

Apalagi, program latihannya sa ngat monoton. Saya merasa tidak ber kem bang,” papar mantan perenang Klub Elang Laut Bali tersebut.

Hal tersebut membuat Siman hengkang ke Jakarta.

Niat untuk memperbaiki diri bersambut baik karena pelatih nasional sekaliber Albert C. Sutatnto mau menampung dia. Setelah setahun berlatih di Millenium Aquatic Swimming Club Jakarta, dia pindah ke Riau.

Dia masuk Klub Millenium Lumba-Lumba.

Lantas, Pengrov PRSI Riau menawari Siman membela daerah itu di PON. Riau memberikan biaya sekolah, fasilitas, dan biaya hidup. Dengan itu, Siman tidak berpikir lama untuk meng iya kan.

“Sekarang, tiba-tiba, Bali menginginkan saya main di PON. Tentu saya menolak,” ujar Siman.

“Sebetulnya, Riau mau melepas saya asal Bali mengganti ongkos yang selama ini mereka tanggung.

Tetapi, Bali tidak mau. Sebenarnya, jangan seperti itu. Mereka ingin instannya tanpa melakukan pembinaan,” imbuh peraih empat emas SEA Games XXVI/2011 tersebut.

Pada PON November mendatang, KONI Riau menargetkan bisa meraih empat emas lewat Siman.

Kalau tidak lengah, dengan prestasinya saat ini, rasanya, Siman tidak mengalami kesulitan untuk bisa memenuhi target tersebut. (nur/c12/ko)

Yessy Menjadi Teman Curhat

GOSIP kedekatan I Gede Siman Sudartawa dan Yessy Venisia Yosaputra sudah sangat populer di kalangan anggota pemusatan latihan nasional (pelatnas) renang. Hampir semua atlet dan tim pelatih pelatnas renang menduga bahwa Siman dan Yessy saat ini berpacaran.

Saat Jawa Pos meminta Siman dan Yessy berfoto bersama di arena Krapsi 2011, misalnya, atlet pelatnas seketika menjadi heboh.

Mereka kerap menggoda keduanya. Mendapati hal tersebut, Siman dan Yessy terlihat malu-malu.

“Ah, nggak kok. Kami nggak pacaran, hanya dekat. Kan kami sama-sama spesialis gaya punggung, jadi memang banyak curhat.

Untuk mengevaluasi kelemahan dan kelebihanlah,” ungkap Yessy lalu terseyum kecil.

Entah ada hubungannya atau tidak. Rupanya saling curhat tersebut membuat Yessy dan Siman sama-sama bersinar di arena SEA Games XXVI/2011 lalu. Keduanya mampu memecahkan rekor di nomor gaya punggung.

Siman membukukan rekor baru pada nomor 100 meter gaya punggung putra. Sedangkan Yessy menajamkan rekor perenang Filipina Akiko Thompson yang sudah bertahan 18 tahun lebih pada nomor 200 meter gaya punggung putri. Hebatnya, Yessy menjadi satu-satunya perenang perempuan Indonesia yang meraih emas di ajang SEA Games lalu.

Siman tidak mau menanggapi rumor tersebut. Saat ini konsentrasi Siman adalah ingin berprestasi di Olimpiade XXX London yang berlangsung mulai 27 Juli mendatang.

Siman menargetkan masuk 16 besar dunia pada pesta olahraga terbesar sejagat tersebut. Selain itu, Siman berkeinginan menajamkan catatan waktunya di nomor 100 meter gaya punggung. “Saya ingin best time saya mencapai 54 detik,” ujarnya. Saat ini catatan waktu Siman adalah 55,59 detik. Ini merupakan rekor baru SEA Games.

Untuk mencapai targetnya tersebut, Siman serius berlatih. Dia ingin memperbaiki daya tahan dan kualitas kecepatan bawah air (underwater). “Saya kira dua hal itu yang butuh perbaikan serius.

Saya akan menambah porsi latihan untuk mengurangi kelemahan yang ada,” papar Siman. (nur/c2/ko)

Berikan Semua Bonus kepada Ibu

TANPA ragu, I Gede Siman Sudartawa menyebut sang ibu, Ni Made Sri Karmini, sebagai sosok yang paling berjasa dalam perjalanan karirnya. Karena itu, dia memberikan seluruh bonus SEA Games kepada ibunya. “Saya tidak mengambil sama sekali. Kebutuhan saya hanya vitamin,” katanya.

Merebut empat emas SEA Games, sebenarnya, Siman berhak mendapatkan bonus Rp 800 juta. Namun, sampai akhir tahun lalu, dia baru menerima Rp 600 juta.

Siman tentu tidak akan bisa melupakan jasa ibunya. Sebab, Sri Karmini-lah yang men dorong Siman berlatih renang mulai usia enam tahun. Meski tidak memiliki uang melimpah, ibunya memasukkan Siman ke klub lokal di Klungkung.

Siman memang tidak berasal dari keluarga berada. Ayahnya, I Ketut Su dartawa, hanyalah sopir travel lokal Bali. Ibunya membantu ekonomi keluarga dengan membuka salon kecil-kecilan di rumah.

Walau begitu, hasrat Ketut dan Sri Karmini untuk mendorong Siman kecil berprestasi tinggi sangat kuat.

Keduanya, terutama Sri Karmini, setia mengantarkan Siman berlatih di klub yang berjarak satu jam perjalanan dari rumah mer e ka.

Saat karir Siman melesat sebagai jagoan nasional sektor kelompok umur, keinginan Sri Karmini melihat anaknya maju semakin besar. Walau Siman berlatih di Klub Elang Laut Bali, Sri Karmini belum puas. Dia ingin anaknya mendapatkan program latihan yang lebih bagus. Selain itu, dia ingin kebu tuhan keseharian Siman juga di-support.

“Yang membawa saya ke Jakarta ya ibu. Sampai-sampai, salonnya tidak terurus dan akhirnya ditutup. Jadi, saat saya menerima bonus, yang saya ingat pertama adalah ibu,” ungkap Siman.

Albert Christiadi Sutanto, pelatih Siman, ingat benar pertemuannya dengan Siman pada akhir 2009. Dia menyatakan, saat itu, Siman merupakan perenang yang masih mentah dan bisa diasah.

Mantan perenang nasional yang meraih sembilan emas dari delapan SEA Games tersebut melakukan analisis selama se minggu. Hasilnya, Siman sangat potensial.

Dari beberapa aspek fisik, seperti kaki, bahu, lengan, perut, dan kelenturan, Siman merupakan perenang yang menjanjikan. “Saya memanggil Siman ke Jakarta lagi setelah sempat menolak,” paparnya.

Program latihan disusun. Albert ber kolaborasi dengan mantan jagoan gaya punggung yang juga saudara kembarnya, Felix C. Sutanto, dalam memoles Siman.

Siman diputuskan hanya fokus pada gaya punggung dan meninggalkan gaya kupu-kupu. Siman berlatih di Millenium Aquatic Swimming Club di bawah asuhan Albert dan Felix.

“Saya menyusun program latihan. Felix membenahi tekniknya. Saya minta ibunya pulang ke Bali. Saya ajak Siman tinggal di rumah saya,” katanya. (nur/c12/ko)