Home Blog Page 14039

Dua Kubu Masyarakat Nyaris Bentrok

Rebutan Lahan Eks HGU PTPN 2 Sei Semayang

BINJAI-Arahan dari pihak Polsek Binjai Timur dan Lurah Tunggurono ternyata tak mampu menahan gejolak warga di sekitar lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN 2 Sei Semayang. Dua kubu masyarakat di kelurahan itu tetap bersikeras untuk menguasai lahan di areal yang sama. Akibatnya, bentrok fisik nyaris kembali terjadi, Jumat (20/1), sekitar pukul 12.00 WIB.

Keterangan dihimpun Sumut Pos di lokasi lahan yang diperebutkan, ketegangan berawal saat anggota Parlin, selaku ketua kelompok tani Setiakawan, kembali memasuki lahan eks HGU PTPN 2.  Saat dirinya masuk ke areal lahan yang tak jauh dari rumahnya itu, puluhan masyarakat Tunggurono yang disebut-sebut diketuai oleh Cetut ternyata juga sudah berada di lahan tersebut.

Spontan, puluhan masyarakat yang sedang bercocok tanam di atas lahan eks HGU PTPN 2 langsung berang. Pasalnya, Parlin serta puluhan anggotanya sebelumnya sudah diusir oleh warga.

Beruntung, petugas Polsek Binjai Timur, yang sejak awal sudah mengetahui langkah Parlin langsung melakukan pengamanan. Bahkan, Kapolsek Binjai Timur, AKP Ismui, juga turun ke lokasi. Tak lama setelah itu, Parlin menarik mundur puluhan anggotanya dan berkumpul di sebuah rumah warga tak jauh dari lokasi lahan yang direbutkan itu.

Kapolsek Binjai Timur, AKP Ismui, kepada Sumut Pos menerangkan, bahwa kedua  kubu warga itu sudah sering dipertemukan untuk tidak bentrok saat memasuki lahan. “Untung saja kejadian ini diketahui oleh anggota kita. Kalau tidak, adu fisik pasti terjadi,” ujar AKP Ismui.

Lebih jauh dikatakan AKP Ismui, untuk kasus lahan eks HGU PTPN 2 ini, pihaknya hanya berharap agar kedua kubu masyarakat dapat bersatu. “Kalau ingin menanami, ya tanamilah. Kalau memang mau ambil upahan, ya masing-masing kelompok hendaknya saling berkoordinasi agar tidak ada bentrok fisik yang terjadi. Sehingga, situasi di Binjai tetap kondusif,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris Lurah Tunggurono, Sabar Harahap, yang juga ikut turun bersama Kapolsek Binjai Timur, menerangkan, kalau masyarakatnya sangat sulit untuk diimbau. “Saat ini masyarakat bersikeras untuk tetap menguasai lahan ini tanpa memberikan kelompok atau warga lain di luar Lurah Tunggurono ini,” kata Sabar Harahap.

Sedangkan dari langkat, segenap karyawan PTPN 2 Kebun Batang Serangan Kecamatan Batang Serangan meminta Kapolres Langkat, AKBP H Mardiyono, merekomendasikan pencopotan Kapolsek Padang Tualang AKP Azhari ke Mapoldasu. Pasalnya, pejabat kepolisian itu dinilai berlaku tidak adil dalam penyelesaian kasus.

Manajer kebun, Rusdi Yunus Harahap, ketika mengomandoi segenap karyawan maupun serikat pekerja kebun (SPBUN) kepada Kapolres Langkat AKBP H Mardiyono didampingi Kabag Ops Kompol Suyudi, Kasat Reskrim AKP Aldi S dan Kasat Intelkam AKP Asril dalam pertemuan di aula Mapolres, Jumat (20/1), keluhkan kinerja Kapolsek karena diduga berpihak kepada kelompok mafia getah.

“Karyawan kami menjadi korban penyerangan, bukan hanya rumah dihancurkan serta hartanya disikat tetapi berimbas juga kepada keluarganya yang merasa cemas ketakutan dihantui penyerangan itu. Anehnya malah menjadi tersangka, padahal berupaya membela diri dari penyerangan ketika itu,” kata Manajer Kebun Batang Serangan, Rusdi Yunus Harahap, di Aula Mapolres Langkat, Jumat (20/1).

Dikisahkan, kronologi penyerangan terhadap Samino (42) warga Dusun Jati Mulyo Desa Sei Banban Kecamatan Batang Serangan dilakukan sekelompok orang diduga mafia getah dipimpin KG. Permintaan kelompok tersebut, agar getah dijual kepada mereka ditolak Samino dan itu menjadi pemicu penyerangan terhadap korban serta keluarga.

“Kami minta tangkap pelaku pengrusakan rumah Samino, kenapa pengaduan pelaku langsung ditanggapi Kapolsek, sementara laporan korban setelah rumahnya diserang dan dihancuri dibiari saja,” ditambahkan dia.

Kasat Reskrim, AKP Aldi Subartono, kepada karyawan ini mengaku permasalahan dihadapi polisi karena tidak adanya saksi bersedia memberikan keterangan. “Memang penanganan kasus ini di Polsek Padang Tualang, bukan disini. Tetapi info kita terima, kendala dihadapi petugas karena kurangnya saksi pihak Samino jadi perkaranya terkendala. Sementara itu, pihak pelapor memiliki saksi yang mendukung dan karena itulah berkas perkaranya Samino lengkap,” jelas Aldi.

Namun demikian, sebut Aldi, direncanakan gelar perkara dilaksanakan Rabu (25/1) mendatang, sekaligus mengundang kesediaan karyawan menghadirinya di Mapolres. Aldi menegaskan, polisi tidak berpihak kepada mafia seperti dugaan sebelumnya. “Kita tidak ada kompromi dengan yang namanya mafia, kalau salah kita sikat. Kita tidak perduli itu, siapapun,” tegas Kasat.

Kapolres Langkat, AKBP H Mardiyono, mengutarakan pihaknya terbuka menerima informasi tentang keterlibatan personel (Polres) memback-up aksi dugaan mafia dimaksud.  “Kalau memang ada anggota Polres membekingi atau terlibat dibarisan mafia itu, langsung beritahukan maka saya akan langsung turun ke sana,” pinta Kapolres. (ndi/mag-4)

Diancam Mati Eks Kapolda

Shinta Bachir

Merasa keselamatan jiwa dan keluarganya terancam, Shinta Bachir bikin pengakuan mengejutkan. Spesialis film horor ini katanya telah diancam bunuh oleh eks Kapolda Metro Jaya. Ancaman yang seperti nya terkait skandal asmara. Tapi sayang, Shinta enggan jelas mengungkap siapa eks Kapolda itu. Cuma diberi clue, dirinya sudah lama intim dengan sang jenderal.

“Yang jelas, saya kenal beliau cukup lama. Sudah dekat sekitar dua tahun,” ujar Shinta. Sudah tiga minggu terakhir Shinta diteror. Bahkan keluarganya pun turut mendapat ancaman yang sama.
“Namanya diancam kan semua juga tidak nyaman. Ini kan bukan hal biasa. Ini serius,” ujarnya.

“Saya bisa membunuh keluarga kamu’ demikian salah satu ancaman yang diterima Shinta baik lewat sms dan telepon. Karena terus mendapat ancaman, perempuan asal Wonosobo itu berkonsultasi dengan pengacara.

“Saya ke kantor Pak Rifai karena merasa saya dan keluarga terancam kenyamanan dan keselamatan. Saya butuh perlindungan,” ungkap Shinta.
Rifai belum bisa mengambil kesimpulan pasti mengenai kasus ini. Dia menduga motif ancaman lantaran si eks Kapolda merasa di kecewakan oleh Shinta.
“Kecewa ya mungkin pastinya. Mungkin kita belum membuka dahulu motivasinya pengancam ini. Masalah ada apa sebenarnya itu bukan domain kita,” beber Rifai.

Pastinya, Rifai segera menindaklanjuti ancaman mati ini. Dia siap membawa kasus ini ke jalur hukum. “Ini kan tindak pidana. Kejahatan IT (teknologi informasi) juga. Makanya kami akan mempelajari karena menakut-nakuti orang itu kan jelas pidana. Disayangkan mantan penegak hukum di Indonesia mengancam. Sangat aneh,” pungkasnya. (bcg/jpnn)

Ulos, Identitas dalam Sebuah Kain

Dihadiri oleh sosialita Kota Medan, fashion show yang mengangkat ulos sebagai kain tradisional Batak kembali digelar. Pagelaran yang dilaksanakan di salah satu ikon Kota Medan, Rumah Tjong A Fie yang terletak di Jalan Ahmad Yani Medan ini, juga turut dihadiri oleh Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Meutia Hatta.

Selain peragaan busana, dalam pameran yang diadakan oleh Torang Sitorus ini juga menampilkan berbagai jenis ulos yang merupakan koleksinya. “Bajunya untuk menunjukkan bahwa ulos dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, sedangkan pameran ulos ini untuk menunjukkan banyaknya jenis ulos dengan berbagai corak yang melambangkan sebuah makna tertentu,” ujar Torang.
Pangelaran yang dilakukan pada Jumat (20/1) kemarin ini menimbulkan decak kagum dari Meutia Hatta, bagaimana tidak, anak muda berani ber gerak untuk mengembalikan kebudayaanya.

“Saya sangat antusias dengan apa yang dilakukan Torang, jiwa muda tetapi tidak western, bahkan bisa dibilang sangat mencintai kebudayaannya,” ujar Meutia.

Menurut Meutia, untuk menjadi seorang Torang, bukan hanya dibutuhkan uang dan waktu. Tetapi juga semangat agar tidak gampang menyerah. “Semangat Torang sebagai anak muda patut diacungi jempol, kalau dia konsisten kita pastikan ulos tidak akan hilang dimakan zaman,” ujar Meutia.

Pelebaran sayap yang dilakukan Torang bukan hanya di Indonesia, bahkan Eropa seperti Perancis sudah melihat secara langsung koleksi ulos Torang. “Kemarin kita buat pameran di Paris, untuk memperkenalkan kepada dunia, dunia mode tentunya tentang ulos,” tambah Torang.

Torang, sebagai kolektor menyatakan bahwa Ulos cocok digunakan oleh siapa saja dan kapan saja, karena pada dasarnya, suku Batak menggunakan ulos untuk dikenakan dalam sehari-hari. “Saya hanya ingin meyakinkan masyarakat, ulos dapat digunakan oleh siapa saja dan kapan saja karena ulos merupakan pakaian sehari-hari pada masa dulu,” tambah Torang.

Sebanyak 20 pakaian yang dipamerkan, semuanya sangat serasi bila disanding dengan ulos. Bukan hanya itu, kesan elegan terpancar dari kain ini. Karena pada dasarnya, warna ulos menggunakan warna gelap, maka sangat cocok untuk dipadu padankan dengan berbagai warna. “Sangat cocok dipadu dengan berbagai warna, karena pada dasarnya, warna gelap sudah mendominasi,” tambah Torang.

Nah, bagi yang berminat untuk memiliki baju dan ulos dari Torang Sitorus, maka dapat dengan harga mulai dari Rp3 juta hingga Rp10 juta. “Dalam pangelaran ini, harga baju yang kita tawarkan mulai dari Rp3 juta hingga Rp10 juta,” ungkap Torang. (ram)

Seperti Dangdut, Banyak yang Suka, tapi Malu-Malu

Upaya Membawa Es Cendol Jadi Minuman Nasional

Minuman cendol sudah sangat merakyat. Lewat terobosan kreatif, manajemen Es Cendol Elizabeth berambisi menjadikan minuman tersebut makin populer hingga tingkat nasional.

AGUNG PUTU-THOMAS K, Jakarta

Stan Es Cendol Elizabeth di pergelaran Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang diadakan Bank Mandiri di Jakarta Convention Center (JCC) kemarin (20/1) terlihat ramai. Beberapa orang mengantre di stan dengan dominasi warna hijau tersebut. Mereka penasaran dengan es yang warna hijau cendolnya dibuat dari ramuan daun suji dan pandan tersebut.

Sama dengan sebagian besar wirausaha di JCC, Es Cendol Elizabeth juga menggunakan model waralaba. Tetapi, mereka tidak mau mematok harga terlalu tinggi. Hanya Rp6,5 juta. Itu sudah termasuk booth dan peralatan membikin minuman segar tersebut.

“Kami tidak mau memasang harga tinggi. Yang penting bisa masal biar es cendol semakin populer. Kalau terlalu mahal, nanti orang tidak segera buka usaha. Harganya segitu karena kami tidak mematok royalty fee,” kata Abdul Gani, salah seorang direktur di Es Cendol Elizabeth.

Es Cendol Elizabeth saat ini sedang berupaya membawa minuman tradisional tersebut agar populer di kalangan anak muda Mereka ingin es cendol populer seperti minuman berenergi yang banyak digemari. Caranya, memperbaiki packaging dan persepsi masyarakat tentang es cendol.

“Es cendol ini banyak yang suka, tapi malu-malu. Seperti orang suka dangdut. Mereka sungkan kalau ketahuan suka, padahal diam-diam dengerin dangdut. Nah, kita berusaha agar orang minum es cendol dengan bangga,” kata Abdul Gani lantas terkekeh.

Saat ini Es Cendol Elizabeth memiliki 60 gerai. Mereka menargetkan bisa menguasai penyebaran es cendol ke seluruh Jawa. Perusahaan keluarga yang berasal dari Bogor, Jawa Barat, itu juga mulai membuat produk-produknya lebih variatif. Di antaranya dengan mencampurkan wortel, buah-buahan, dan beberapa sayuran ke cendol. Dengan inovasi tersebut, cendol yang diminum bisa sangat baik karena mengandung vitamin dan sarat serat.

Dengan strategi diferensiasi pasar, kata Abdul Gani, mereka berupaya menghapus citra es cendol sebagai minuman jalanan. Mereka juga akan masuk ke hotel-hotel berbintang lima dan beberapa restoran. Tujuannya, cendol bisa sejajar dengan minuman-minuman berkarbonasi yang sudah lebih dulu populer di Indonesia.

Abdul Gani juga berupaya agar es cendol menjadi minuman andalan nasional. Sebab, saat ini sudah terlalu banyak minuman impor. Padahal, kebanyakan minuman tersebut tidak baik untuk kesehatan. “Minuman tersebut juga belum tentu membuat mereka bugar dan berenergi,” katanya.

Minuman berkarbonasi mengandung banyak gula. Tetapi, gula yang terkandung tidak baik untuk kesehatan. Akibatnya, mereka yang gemar minuman soda tersebut gampang obesitas. Nah, di es cendol, gula yang digunakan adalah gula khusus. Yakni gula Jawa yang  dibuat dari mengumpulkan tetes-tetes pohon aren. “Kami juga sedang berusaha agar es cendol tidak pakai es. Tapi disajikan hangat seperti wedang,” katanya. (*)

Sepasang Remaja Mesum di Parkiran Sun Plaza

Sempat Direkam Petugas, Namun Dihapus Keluarga

MEDAN- Kantor petugas keamanan Sun Plaza mendadak ramai. Pasalnya, Jumat (20/1) sekira pukul 17.00 WIB, sepasang remaja etnis Tionghoa, Felix Wijaya dan teman wanitanya Amoi (bukan nama asli) ketangkap lagi berbuat mesum di dalam mobil Nissan BK 802 K warna silver. Mobil itu terparkir di parkiran mobil blok GM.

Kepada POSMETRO MEDAN (grup Sumut Pos), petugas yang namanya tak mau dikorankan mengatakan, kejadian itu diketahui setelah ada aduan pengunjung. Pasangan itu terlihat sedang buka-bukaan di dalam mobil. Mengetahui hal tersebut pengunjung langsung melaporkan kepada petugas keamanan.

Ternyata apa yang dilihat pengunjung tersebut benar. Bahkan petugas parkir sempat merekam aksi kedua remaja Tionghoa tersebut yang diduga mesum itu. Lalu, petugas menginterogasi keduanya. Namun mereka tak mengaku dan langsung tancap gas. Naas salah seorang petugas parkir yang kebetulan berdiri di depan mobil langsung saja ditabrak.

Menyadari hal tersebut petugas parkir tadi langsung sigap dan melompat ke atas kap mobil.  Seperti di film-film, petugas itu sempat nyangkut di atas kap mobil beberapa meter. Bahkan, mobil itu sempat berusaha untuk menurunkan orang yang ada di atas kap tersebut dengan melakukan gerakan maju mundur, seperti aksi film aksi yang ada di TV.

Syukurnya kedua pasangan yang diduga melakukan mesum tersebut akhirnya menghentikan mobil.
Sebelum diboyong ke pos satpam, pria yang ketangkap mesum tersebut sempat memanggil 2 orang temannya.

Mereka pun sempat terlibat adu pukul.
Di pos satpam juga sempat terjadi keributan, bahkan HP milik petugas parkir yang sempat merekam adegan kedua remaja Tionghoa tersebut sempat diambil oleh pihak keluarga.

Anehnya pihak keamanan Sun Plaza membiarkan hal tersebut, sehingga gambar sebagai bukti mesum kedua remaja Tionghoa tersebut telah terhapus.

Amatan di lokasi, petugas parkir dan kedua remaja yang diduga telah berbuat mesum tersebut berdamai, yang sebelumnya telah sempat pukul-pukulan. (gus/smg)

Masih (kah) Pesta Rakyat

Oleh : Iwan Junaidi
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

JIKA kita berada di sebuah warung kopi, selalu ada kisah menarik yang bisa kita ceritakan kepada kawan-kawan kita yang berada di lain tempat. Dari mulai cerita si Iyem penjual jamu, atau tentang si Robert yang menjadi sopir si Ahok.
Semuanya bisa dikemas menjadi sebuah cerita yang menarik.

Terkait harga temu lawak dan jahe, mungkin menjadi cerita si Iyem. Sedang ribut-ribut masalah pembatasan BBM bersubsidi, tentu saja menjadi menu pembahasan si Robert.

Demikian juga ketika si Ahok menyatakan niatnya untuk menjadi orang nomor satu di provinsi ini Hari itu, dengan bangganya si Robert bercerita jika sang tauke bakal mendaftar sebagai bakal calon (balon) gubernur. Namun, ketika sedang asyik-asyiknya bercerita, tiba-tiba saja aura wajah pria kelahiran Pulau Samosir itu berubah tegang.

“Kayaknya tak bisa aku menjadi tim sukses (TS) taukeku itu. Soalnya, tak ada lagi gunanya TS, kalau pemilihan gubernur melalui DPRD. Bah… bisa gagal totallah objekku,” bilang si Robert.
Selanjutnya, sambil matanya menerawang si Robert mengatakan bahwa jika Pilgubsu dilaksanakan secara langsung, maka terbuka kesempatan baginya untuk membeli sebuah mobil, setidaknya sebuah mobil murah produksi anak bangsa bermerk Esemka.

Ya, meski Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara telah memutuskan jika Pilgubsu yang rencananya digelar pada 7 Maret tahun depan dilakukan secara langsung, sesuai dengan UU No 23 Tahun 2004, namun beberapa anggota dewan yang terhormat justru berkeinginan agar merekalah yang menentukan siapa gubernur ke depan.

Efisiensi anggaran dianggap menjadi alasan paling sakti untuk mementahkan keputusan Pilgubsu secara langsung yang melibatkan sembilan juta warga Sumatera Utara.

Menurut mereka, bila Gubsu dipilih oleh DPRD, maka anggaran yang dibutuhkan hanya berkisar Rp100 juta sampai Rp200 juta. Sedangkan bila
Gubsu dipilih langsung oleh rakyat, diperkirakan menelan anggaran Rp496 miliar.

Itu belum lagi menghitung dana operasional para calon gubernur, yang diperkirakan mencapai angka sekitar Rp200 miliar sampai Rp500 milar. “Mbok sekali-kali rakyat kecipratan dikit, ora opo-opo toh,” bilang si Iyem sembari mengelap botol jamunya.

Ha..ha..ha.. dalam hati hanya bisa tertawa ketika si Iyem mulai menghitung berapa pendapatannya bila mengikuti sebuah kampanye. “Lumayan lho Mas, kalau seorang calon gubernur ngasih Rp25 ribu sekali kampanye, sementara calonnya ada sepuluh, kan udah Rp250 ribu,” bilang Iyem yang tangannya menari-nari seolah menulis pada keranjang tempat
botol jamunya.

Sana terima, di sini juga terima, meski pada saat pemilihan nantinya, mereka justru merajut mimpi pada sebuah dengkuran teramat panjang, di dipan ataupun spring bed nya yang empuk. Walah… walah….

Terkesan mau menang sendiri memang. Tapi pantaskah mereka dipersalahkan, setelah beberapa pemimpin yang mereka percaya sebelumnya, justru telah membuat kecewa karena tak menepati janji politik yang telah terucap.

Ya.. sudahlah, anggap saja Pilgubsu secara langsung dilaksanakan karena kita menginginkan bumi yang kita pijak, air yang kita minum serta udara yang kita hirup mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa. Ingat, Vox Populi Vox Dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan.

Jadi, jika rakyat tak lagi memiliki kekuasaan untuk menentukan pemimpinnya, maka sama halnya kita kembali ke zaman entah berentah, ketika seorang pemimpin Dinasti Qin Lord Shang Yang berteori jika rakyat lemah, maka negara menjadi kuat Ingat, zaman sudah berubah.

Si Iyem sudah sering membaca koran dan menonton televisi. Si Robert pun ternyata kerap nguping pembicaraan taukenya si Ahok tentang sistem kenegaraan. Jadi, harusnya kita bangga jika ternyata mereka tak sebodoh, seperti yang diperkirakan. Intinya, jika rakyat kuat (pintar), maka negara pun menjadi kuat. (*)

372 Mahasiswa Nommensen Terima Beasiswa

Saya tak Nyangka Anak Saya Dapat

MEDAN- Universitas HKBP Nommensen memberikan beasiswa kepada 372 mahasiswa berpretasi  dihadapan orangtua mahasiswa di Aula Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen, Jumat (20/1) siang.

“Ini tahap kedua dimana total keseluruhan dari tahap pertama dan tahap kedua ada 372 mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Sudah termasuk kampus Universitas HKBP Nommensen Medan dan Siantar. Wakil Rektor III Universitas HKBP Nommensen, Drs Maringan Panjaitan MSi menjelaskan, Universitas HKBP Nommensen mempunyai dua beasiswa yaitu bantuan bea siswa bagi mahasiswa (BBM) yang kurang mampu dan bantuan beasiswa (PPA) bagi mahasiswa yang berprestasi dari pemerintah.

Ditambahkannya, bagi mahasiswa yang kurang mampu dan berhak mendapatkan beasiswa harus mempunyai IPK 2,75.

“Untuk mahasiswa penerima PPA kriterianya mahasiswa harus berkelakuan baik, benar-benar belajar dengan ditunjukkan transkrip nilai, kehadiran dan nilai IPK di atas 3,00,” sebutnya.
Ditambahkannya, pemerintah harus lebih sering lagi memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi dengan harapan agar mahasiswa lebih banyak lagi yang berprestasi.

Menurutnya, mahasiswa yang menjadi penerima bea siswa harus menjadi contoh yang baik kepada rekan-rekannya yang lain dan menjaga nama baik almamater dan mampu mempertahankan prestasinya.

“Harapan dan imbauan saya kepada mahasiswa yang belum menerima bea siswa agar berlomba-lomba mendapatkan beasiswa khususnya kepada mahasiswa yang kurang mampu. Dalam pemberian bea siswa ini kita buka dengan pujian dan doa begitu juga dengan penutupan pemberian bea siswa,” bebernya. Sarila Zebua, mahasiswa Fakultas FKIP yang mewakili mahasiswa berprestasi dengan IPK 3,80 mengaku, dirinya tetap semangat dalam menjalankan proses belajar mengajar.

“Beasiswa yang saya terima ini akan saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Universitas HKBP Nommensen karena telah mempercayai saya menerima beasiswa ini,” ucapnya. M br Sitorus, orang tua yang mahasiswa mengaku, dirinya senang anaknya mendapatkan bea siswa.

“Suami saya seorang pengemudi becak dan saya sangat senang anak saya bisa menerima beasiswa ini. Saya sendiri tidak menyangka anak saya menerima beasiswa  dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena anak saya menerima bea siswai,” ujarnya berlinang air mata.(jon)

Senam Itu Kebutuhan

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Kadispora) Medan, Hanas Hasibuan menjelaskan kegiatan senam kesegaran jasmani bersama merupakan kebutuhan bagi setiap manusia untuk menjaga kebugarannya.

Di jajaran Pemko Medan, paparnya senam kesegaran jasmani juga sebagai bagian kewajiban di setiap instansi karena dengan senam bersama banyak yang bisa didapatkan, mulai dari kesehatan secara fisik, dan menambah keakraban diantara staf serta atasan.
“Kegiatan senam dirasakan Wali Kota Medan Rahudman Harahap perlu dimasyarakatkan di lingkungan Pemko Medan dan seluruh masyarakat Kota Medan,” ucapnya.

Dia mengatakan, rencananya, olahraga senam tidak akan dilakukan di masing-masing dinas. Tapi akan dilakukan bersama masyarakat dengan seluruh pemerintahan di jajaran Pemko Medan.
“Bagaimana membangun warga Kota Medan agar lebih sehat, olahraga senam harus terus dilakukan setiap hari. Bila sudah sehat seluruh masyarakat dan instansi pemerintahan, pembangunan dapat dicapai dari segala segi untuk segera dilaksnakan,” cetusnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, kegiatan senam yang dilkakukan merupakan program Pemko Medan dalam melaksanakan pemerintahan yang baik, serta memiliki hubungan kedekatan diantara masyarakat dan pejabatnya.  Menurut dia, kegiatan tersebut tidak dilaksanakan dinas saja tetapi di Pemerintahan Kecamatan akan dilaksanakan bersama sejumlah pegawai dan masyarakat.
Mantan Kabag Humas Pemko Medan itu menerangkan, senam yang digelar setiap minggunya sebagai sosialisasi pentingnya senam kebugaran jasmani bagi staf dan masyarakat.

Dia menyebutkan, komitmen Wali Kota Medan, Rahudman Harahap dan Wakil Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin menjadikan arah yang berarti untuk kebugaran setiap staf Pemko Medan hingga ke jajaran staf di kecamatan dan kelurahan.
“Dengan mengikuti senam, badan sehat, keakraban terjalin dan  tugas-tugas bisa menjadi ringan karena badan sehat serta pikiran segar,” katanya. (adl)

Korban Melawan, Kaki Ditikam

Rekonstruksi Perampokan WN Amerika

MEDAN-Polisi menggelar rekonstruksi kasus perampokan yang menewaskan WN Amerika, Lee Samuel Hyuen (33) di Jalan Mustang, di lapangan parkir Mapolresta Medan, Jumat (20/1).

Dalam rekonstruksi itu hanya tersangka Arifin alias Ipin yang hadir sementara tersangka Muhammad Toha Harahap sedang sakit digantikan oleh polisi.
Dalam rekonstruksi dengan 20 adegan itu terlihat tersangka Toha menikam kaki korban sehingga korban tewas akibat kehabisan darah. Selanjutnya kedua tersangka kabur ke Delitua. Sebelum ditikam korban sempat melakukan perlawanan.

Kasat Reskrim Polresta Medan Kompol M Yoris Marzuki mengaku, rekonstruksi digelar untuk melengkapi berkas. (gus)

Hilangkan Tekanan dalam Bekerja

Wali Kota Medan Senam Kebugaran Jasmani Bersama Staf

Senam kebugaran jasmani bermakna ganda, sebagai wujud menyehatkan fisik dan mengimplementasikan serta menjabarkan program kerja Pemko Medan pada tahun 2012. Selain itu terwujudnya saling keakraban diantara staf dan kepala instansi.

Wali Kota Medan Drs  H Rahudman Harahap MM mengungkapkan hal itu saat melakukan senam kesegaran jasmani bersama pegawai Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Medan dan Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Medan, Jumat (20/1) pagi.

Hadir dalam Senam kebugaran jasmani tersebut seperti Wakil Wali Kota Medan Drs HT Dzulmi Eldin S MSi, Sekda Medan Ir H Syaiful Bahri dan sejumlah pimpinan SKPD  lainnya. Sebelumnya, senam kebugaran jasmani yang sama telah dilaksnakan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan (TRTB) dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) serta Dinas Perumahan dan Pemukiman (Dinas Perkim).

Usai senam pagi, Rahudman Harahap mengatakan, tahun ini Pemko Medan akan menjadi satu contoh pelayanan publik untuk dua kota besar di Indonsesia. Untuk itu, seluruh staf agar bisa bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas, sehingga sasaran menjadi tujuan Pemko Medan bisa diwujudkan.

“Saya selalu mengatakan di setiap kesempatan dan dalam rapat kerja pembangunan kota baru-baru ini, jangan ada aparat pemerintahan di jajaran Pemko Medan termasuk staf saya ada tekanan dalam melaksanakan tugas,” katanya.

Dia menyebutkan, Pemko Medan ingin  membangun suasana kerja untuk selalu berada dalam suasana menikmati (enjoy), gembira, selalu termotivasi sehingga  mampu melahirkan inovasi dan melakukan terobosan-terobosaan baru.

“Kita harus bangga yang selama ini  Kota Surabaya luar biasa dan selada berada di atas Kota Medan, tapi sampai saat ini APBD-nya  belum selesai, untuk itulah diberikan terima kasih dan apresiaisi kepada semua jajaran Pemko Medan terutama Dispenda sebagai dinas terdepan dalam mendapatkan dana pembangunan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rahudman menambahkan, BPPT telah menunjukkan kinerjanya dengan pelayanan cepat sesuai dengan apa yang menjadi tuntutan pelayanan publik. “Kedua hal inilah menjadi satu indikator bagi kita untuk melangkah lebih baik lagi sehingga capaian secara nasional dapat meningkat bila dibandingkan dengan capaian 2011,” ujarnya.

Dia berharap pada tahun 2012 bisa membangun kebersamaan dan sinergitas, agar semua indikator-indikator yang meningkatkan pelayanan untuk masyarakat dapat ditumbuh kembangkan.

“Inilah harapan kita, tanpa dukungan semua staf Pemko Medan tidak bisa melangkah maju, dan kita sudah sepakat tahun 2012 harus lebih baik dari tahun 2011,” ucapnya.

Dia membeberkan, kegiatan senam kesegaran jasmani yang dilakukan masing-masing instansi menjadi kegiatan membangun, tidak ada lagi jarak antara anak buah dengan pimpinan.

“Mari kita bangun hubungan, lakukan kebersamaan dan bangun komunikasi yang terbaik,” imbaunya. (adl)