Home Blog Page 14111

Tender Gedung DPRD Awal Februari, Kantor Sementara Belum Juga Ada

MEDAN-Proses tender pembangunan gedung baru DPRD Medan segera dibuka awal bulan depan. “Pengumuman bisa berlangsung sampai du minggu,” kata Kepala Dinas Perkim Medan, Iriadi Irawadi, kepada wartawan, Rabu (25/1).

Menurutnya, gedung yang akan dibangun sesuai dengan detail enginering desain (DED) delapan lantai dengan anggaran keseluruhan Rp89 miliar,” ujar Iriadi.

Apa saja fasilitas yang akan dibangun? Iriadi menyebutkan fasilitasnya tentu untuk menunjang kinerja anggota dewan.
“Tidak ada fasilitas kesenangan seperti yang ada di gedung DPRD Sumut, yakni ruang fitness.

Sesuai dengan DED yang sudah dibuat oleh konsultan perencana, yang pasti gedung delapan lantai ada ruang konferensi, ruang kerja masing-masing juga ruang rapat. Selain itu juga ke bawah tiga lantai itu untuk parkir,” jelasnya.

Iriadi menyebutkan, Perkim Medan sama sekali tidak ada menampung anggaran yang dialokasikan untuk gedung sementara anggota dewan.
Sementara itu Wakil Ketua Fraksi Patriot Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD Medan, Bangkit Sitepu meminta Wali Kota Medan untuk menunda pelaksanaan pembangunan gedung DPRD Medan hingga 2014 mendatang. Pasalnya, hingga kini belum ada bangunan pengganti sementara yang tepat.
“Selagi belum ada bangunan pengganti, Wali Kota Medan harus menunda pembangunan gedung DPRD Medan,” kata politisi Partai Patriot Medan itu, Rabu (25/1).

Dia beralasan, hingga kini belum ada bangunan pengganti sementara untuk gedung DPRD Medan. Dari beberapa gedung yang ditawarkan belum ada kecocokan, seperti gedung Bank Sumut akan berdampak kepada operasional bank milik Pemprovsu tersebut, kemudian di Paladium Plaza sangat tidak sesuai karena bisa menyulitkan warga menyampaikan aspirasinya. Selain itu juga Deli Plaza dan gedung PT PN IV.

Untuk itu, dia menyarankan Wali Kota Medan sebaiknya membatalkan anggaran Rp90 miliar untuk pembangunan gedung DPRD Medan dan dialihkan ke pembangunan terminal di wilayah Medan bagian selatan, khususnya di Jalan Jamin Ginting, Medan. Sisanya, masih bisa disalurkan ke sejumlah pembangunan infrastruktur jalan dan drainase serta perbaikan lampu jalan.

Dia menambahkan, gedung DPRD Medan yang sekarang masih layak digunakan, hanya saja ada persoalan kamar mandinya perlu perbaikan. Ke depan, Wali Kota Medan memerintahkan Sekwan DPRD Medan untuk segera memperbaikinya.

“Kalau hanya perbaikan kamar mandi, saya rasa di bawah Rp200 juta, sehingga bisa menghemat anggaran miliaran rupiah,” ujarnya.

Bangkit membandingkan dengan kondisi infrastruktur di Kota Medan masih membutuhkan anggaran yang besar, sedangkan gedung DPRD Medan masih layak digunakan. Sebaiknya, Wali Kota Medan lebih memikirkan pembanguna infrastruktur untuk masyarakat banyak. “Jadi dari penghematan anggaran yang miliaran itu, bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur di sejumlah ruas jalan di Kota Medan,” tegasnya.

Wakil Ketua BKD DPRD Kota Medan ini menyatakan jika tetap dilaksanakan pembangunan gedung DPRD Medan, tentunya sangat menyakiti masyarakat banyak khususnya di wilayah Medan bagian selatan yang sangat membutuhkan kehadiran terminal. Selama ini, angkutan yang masuk ke Kota Medan dari Tanah Karo dan Nangroe Aceh Darussalam (NAD) harus memutar jauh masuk ke terminal Pinang Baris dan dampaknya menimbulkan biaya yang lebih tinggi.

“Kemudian di beberapa wilayah di Kota Medan sudah banyak titik kemacetan. Jadi buat apa membangunan gedung DPRD Medan, jika infrastruktur tidak baik,” sebutnya. (ril/adl)

Wali Kota Seser Penjual Unggas di Jalan Bintang

MEDAN-Dinas Pertanian, Perternakan dan Kelautan (Distanla) melakukan penyemprotan desinfektan di pusat perdagangan unggas dan burung yang ada di Kota Medan, Kamis (26/1), untuk mengantisipasi penyebaran flu burung.

Untuk hari pertama dilakukan di pusat jual beli burung di Jalan Bintang langsung dipimpin Wali Kota Medan Rahudman Harahap.
“Ini sebagai langkah pencegahan sekaligus imbauan kepada masyarakat terutama para pedagang bahaya flu burung. Pemko Medan siap jika ada laporan dari masyarakat,” kata Rahudman, di sela-sela penyemprotan.

Rahudman sempat masuk ke sebuah toko dan memeriksa hingga ke bagian belakang toko. Rahudman menilai bahwa pedagang telah menerapkan kebersihan yang baik.

“Ternyata mereka menerapkan prinsip kebersihan, mulai dari membersihkan kandang sampai pemberian makanannya,” ujar Rahudman.
Kadistanla Kota Medan, Wahid menambahkan jajarannya secara teratur memantau pusat-pusat perdagangan burung dan unggas.

Sebagai langkah pencegahan, Distanla membagi-bagikan cairan desinfektan gratis kepada setiap kecamatan. “Setiap kecamatan mendapatkan jatah satu liter desinfektan dengan rasio penggunaan untuk penyemprotan lima mililiter per  satu liter air,” cetusnya.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Kabid Keswan) Distanla drh Dewi Nainggolan menjelaskan kalau peralihan cuaca dari musim hujan ke musim kemarau perlu diwaspadai. Sebab pada saat peralihan ini peluang penyebaran virus flu burung semakin besar.

“Oleh sebab itu, untuk memperkecil risiko sekaligus memutus mata rantai penyebaran virus dilakukan penyemprotan desinfektan. Sebagai komitmen terhadap upaya pencegahan, Distanla Medan membentuk satuan tugas (satgas) atau tim pemantau flu burung.  Tim ini dinamakan participant disease surveilance disease (PDSR),” ungkapnya.

Pedagang unggas yang ditemui wartawan mengatakan kalau setiap harinya terus melakukan perawatan terhadap unggas yang dijualnya.
“Perawatan yang kita berikan dimulai dari kebersihan kandang sampai unggas. Kalau ada temuan unggas yang sakit kami langsung membawanya ke dokter hewan yang ada di sekitar sini,” jelas Asiong, pedagang yang mengaku sudah 15 tahun menjadi penjual unggas di Jalan Bintang.

“Kepedulian Pemko terhadap pencegahan virus flu burung sangat disambut baik pedagang unggas. Karena selain melaukan perawatan penyemprotan desinfektan juga perlu agar tidak terjangkit ke unggas lain dan manusia,” pungkasnya.(adl)

Jauhkan Generasi Muda dari Narkoba

Sosialisasi Laskar Merah Putih untuk Pelajar

MEDAN-Forum Bersama Markas Cabang Laskar Merah Putih Kota Medan menginginkan generasi muda bersih dari narkoba. Sebagai langkah yang diambil, Laskar Merah Putih Kota Medan melakukan penyuluhan narkoba untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kota Medan yang berlangsung di Aula Masjid Taqwa Jalan Demak Medan, Kamis (26/1).

Ketua Laskar Merah Putih Kota Medan, Mangatas Siagian dalam sambutannya mengaku, kegiatan penyuluhan yang mengambil tema say no to drugs ini, dilakukan dalam wujud memberikan pemahaman kepada siswa akan dampak dan bahaya dari narkoba.

“Siswa merupakan generasi bangsa, komponen penting dalam kemajuan sebuah negara. Demi mewujudkan hal itu dibutuhkan generasi yang bersih dari narkoba, sehingga kegiatan ini mampu memberikan pemahaman kepada pelajar dalam menjauhi narkoba,” kata Mangatas.

Hal senada disampaikan Bendahara Laskar Merah Putih Kota Medan, Jhonny Nadeak. Dirinya berharap para siswa tidak mudah terjebak narkoba lewat iming-imig dan rayuan teman yang lain.  “Kepada para siswa untuk lebih menjaga pergaulannya dan jangan mudah dirayu oleh teman yang lain untuk mengkonsumsi narkoba, karena kita ketahui bahwa narkoba memberikan dampak yang negatif terhadap perkembangan generasi muda,” ujarnya saat akan menutup resmi kegiatan penyuluhan narkoba itu.

Penasehat Laskar Merah Putih Amrudy mengaku akan terus mendukung kegiatan  yang bernilai positif. Salah satunya,  penyuluhan mengenai narkoba. “Kalau tidak peduli dari sekarang tentang masa depan generasi muda, mau kapan lagi tumbuh generasi yang berguna bagi nusa dan bangsa?. Laskar Merah Putih akan terus meningkatkan dan mengobati penyakit narkoba dengan melaksanakan kegiatan penyuluhan secara berkesinambungan,”serunya.
Dalam acara penyuluhan narkoba itu hadir tiga pemateri, yakni Winda Kustiawan, Abdul Hakimn Batubara MA, dan Kompol Tuti Herawati mewakili Direktorat Narkoba Polda Sumut.

Acara yang dihadiri lebih dari 500 siswa-siswi itu mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari Kepala SMP Muhammadiyah 01, Paiman Spd.
“Sesuai moto sekolah kita yakni berjuang terhadap narkoba dan berlomba dalam mengejar prestasi lewat akademik. Diharapkan kegiatan seperti ini akan terus berkesinambungan dalam menciptakan siswa yang terjauh dari narkoba seraya memiliki kepribadian yang berahlak mulia,” pungkasnya.(*/uma)

RS Tembakau Deli Cagar Budaya

Rumah Sakit Tembakau Deli sudah dijual per 1 Januari 2012 lalu. Apa tanggapan anggota dewan? Berikut petikan wawancara wartawan Harian Sumut, Pos Ari Sisworo dengan anggota Komisi E DPRD Sumut, Richard Eddy M Lingga.

Apa pendapat Anda tentang penjualan RS Tembakau Deli?

Berdasarkan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi C DPRD Sumut dengan Pihak PTPN II, dengan tegas Komisi C meminta PTPN II untuk tidak menjual atau mengalihkan fungsi rumah sakit tersebut. Pasalnya, keberadaan sarana pelayanan kesehatan itu sangat dibutuhkan masyarakat. Kami meminta RS Tembakau Deli itu tidak dialihfungsikan apalagi dijual untuk kepentingan lain. Rumah sakit itu sangat dibutuhkan masyarakat Sumut.

Apakah realistis penjualan RS Tembakau Deli atas dasar untuk membayar utang?

Jika alasan PTPN II yang dalam menjual RS Tembakau Deli tersebut hanya untuk membayar utang sangat disayangkan. Sebab untuk membayar utang sebenarnya masih ada aset lain yang dimiliki PTPN II dan bisa dijual ketimbang menjual rumah sakit tersebut. Jadi kalau mau bayar utang, jual saja aset yang lain. Kenapa harus rumah sakit yang dibutuhkan masyarakat dan akan mengorbankan karyawannya itu dijual.

Kenapa RS Tembakau Deli dipertahankan?

RS Tembakau Deli itu merupakan bangunan tua yang memiliki nilai sejarah dan tergolong cagar budaya. Sehingga keberadaannya harus dijaga. Kami tidak mau setelah RS Tembakau Deli itu dijual, bangunan bersejarah itu akan musnah. Kemana karyawan-karyawan PTPN II harus berobat? Ini yang harus dipikirkan pihak PTPN II. Meskipun katanya akan dibangun klinik, untuk menggantikan RS Tembakau Deli  apa cukup dengan begitu banyaknya karyawan PTPN II. Ini harus menjadi perhatian PTPN II.(*)

Lagi, Ruko Terbakar

MEDAN-Api kembali menghanguskan satu rumah toko (ruko) di Jalan Sutomo, Medan Timur, Kamis (26/1) siang. Api diduga berasal dari lantai IV ruko milik Halim Jafar (60), yang di jadikan sebagai agen pelumas dan elpiji oleh PT PT Pola Raya Jaya Sakti. Beruntung tak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut, namun kerugian ditaksir mencapai puluhan juta.

Informasi yang dihimpun Sumut Pos di lokasi, api terlihat pertama kali di lantai IV. Dugaan sementara api berasal dari korsleting listrik. Api langsung membesar sehingga karyawan serta pemilik ruko panik. Dengan alat seadanya, sejumlah karyawan langsung memadamkan api.

Petugas Dinas Pencegah dan Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan menerjunkan tiga unit armada untuk memadamkan api di ruko tersebut.
Karyawan ruko, Sipon (42) menuturkan saat dia hendak naik dia melihat asap hitam sudah mengepul. Spontan dia berteriak.
“Saya baru pulang dari pasar, saya naik dan melihat sudah ada asap. Ya saya teriak,”ucapnya.

Personel Polsekta Medan Timur yang mengetahui kejadian itu menurunkan personel dan melakukan olah TKP di lokasi kebakaran. Polisi juga mengamankan satu unit AC yang diduga menjadi penyebab kebakaran.

Kanit Reskrim Polsekta Medan Timur AKP Ridwan mengatakan masih melakukan penyelidikan. (gus)

Trotoar kok Ditabrak

MEDAN-Mobil Daihatsu Taruna dengan nomor polisi BK 1465 HB yang dikendarai Vira Lubis (28) menabrak trotoar di Jalan Sudirman, Simpang Jalan S Parman, Medan Polonia, Rabu (25/1). Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu tapi mobil yang dikendarai Vira ringsek.

Keterangan yang dihimpun, mobil Daihatsu Taruna melaju dengan kecepatan tinggi dari Jalan S Parman. Saat melintas di Jalan Sudirman mobil oleng dan menabrak trotoar. “Saya tadi baru dari rumah bersama tiga adik saya.

Kami dari Jalan S Parman. Ketika mau masuk Jalan Sudirman saya terkejut melihat ada sepeda motor di depan saya. Saya banting setir ke kiri dan beginilah jadinya,” ujar Vira Lubis di lokasi kejadian.

Dijelaskan wanita yang mengaku tinggal di Jalan Sei Batang Kuis Medan itu mengaku, punya SIM.

“Kalau nggak punya nggak mungkin saya nyetir,” kata Vira. Wanita berkulit putih itu mengaku sempat syok.
“Saya masih syok. Di dalam ada tiga penumpang adik saya dua masih balita,” katanya.

Akibat kecelakaan itu Jalan Sudirman Simpang Jalan S Parman sempat mengalami kemacetan, karena warga yang melintas berhenti ingin melihat kejadian itu.(gus)

Tora-Mieke Menanti Kelahiran Buah Hati

Pasangan Tora Sudiro dan Mieke Amalia kini tengah berbahagia menanti kehadiran sang buah hati. Menurut hasil USG, jabang bayi dalam kandungan Mieke disinyalir berjenis kelamin perempuan. Keadaan kehamilan tersebut juga sehat-sehat saja. Tora masih sempat bercanda saat disinggung tentang perasaannya akan segera mendapat anak lagi.

“Katanya cewek. Gak apa-apa, 5 anak perempuan,” ujarnya. “Sama aja, namanya mau punya anak. Gue gak sabar pengen liat mukanya aja. 2-3 bulan lagi deh insya Allah,” imbuhnya kemudian.

Mieke sendiri tidak bawel selama menjalani masa kehamilan. Tidak mengalami fase ngidam, dan juga tidak sibuk meminta ini itu. Sejak bulan pertama kehamilannya, Mieke lebih suka diam di rumah sambil menonton televisi atau DVD.
“Dia santai banget. Gak pernah ngidam, malah gue terus yang ngidam. Baju juga gak ngoyo. ‘Pokoknya aku mau diet’, aku bilang, siap nanti kita naik sepeda bareng,” ungkap Tora.

Memang dasar komedian, saat ditanya soal aktifitasnya bersama sang istri di rumah sepanjang masa kehamilan ini, dengan muka serius Tora menjawab, “Kita lagi suka main kaget-kagetan karena film horor.
Dibentak dan dimarahi. Orang suka becanda itu kadang bawa malapetaka juga ya,” ungkapnya. (kpl)

Terdakwa Terus Dimaki-maki Keluarga Korban

Eksekutor Pembunuh Teller BRI Suherman

MEDAN-Sidang perkara pembunuhan teller BRI Syariah Jalan S Parman Medan, Sri Wahyuni Simangunsong, dengan empat terdakwa pasangan suami istri kembali digelar di Pengadilan Negeri Medan, Kamis (26/1).

Sidang yang dipimpinan Ketua Majelis Hakim Muhammad SH, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pardomuan Siburian SH dengan agenda mendengarkan keterangan tiga orang saksi, yakni Rosiana Simangunsong adik korban, ibu korban, Hainidar dan Briptu Al Fatih.

Mengawali kesaksiannya di hadapan persidangan Briptu Al Fatih anggota Polresta Medan mengatakan, bahwa eksekutor pembunuh Sri Wahyuni Simangunsong adalah Suherman alias Embot bersama istrinya Eva Lestari.

‘’ Eksekutor pembunuh korban adalah Suherman alias Embot bersama istrinya Eva Lestari. Hal ini berdasarkan pengakuan terdakwa pada saat ketika pertama kali ditangkap petugas Reskrim Polresta Medan. Embot yang melakukan penganiayaan dan yang melakban mulut korban, sedangkan yang memegang leher korban adalah Eva yang ketika itu berada di jok belakang mobil,’’ tegas saksi.

Ketika disinggung hakim kenapa saksi eksekutornya adalah Suherman alias Embot, saksi Briptu al Fatih mengatakan kalau dirinya selalu berkoordinasi dengan Kasat Reskrim Polresta Medan.

‘’Saya selalu kordinasi dengan Kasat Reskrim untuk mengetahui dimana keberadaan korban sejak hilang dua hari. Pelacakan kami lakukan dengan melacak signal seluler milik korban. Bahkan sebelum korban menghilang sempat menelepon saya mengatakan kalau dirinya ditangkap polisia dalam razia. Dalam percakapan kami itu korban mengatakan kalau dirinya ditangkap polisi berpangkat Bripka berdinas di Polda Sumut,’’tegas saksi.
Korban juga mengaku, ditangkap polisi dengan kesalahan melanggar lampu lalulintas dan tidak memakai sabuk pengaman.

‘’Saya juga berkomunikasi dengan terdakwa Erwin Panjaitan, saya juga tidak kenal dia maupun wajahnya dalam telepon saya meminta pada terdakwa untuk membantu korban agar tidak diboyong,’’ tegas saksi.

Saksi juga mengaku kalau dia juga menadapatkan pesan singkat (SMS) dari korban yang isi dirinya disekap.

“Saya sempat menghubungi telepon korban namun tidak diangkat ketika saya coba hubungi lagi ternyata teleponnya sudah tidak aktif. Keesokan harinya kerabat korban menelepon saya dan mengatakan korban tidak pulang dan tidak masuk kerja. Untuk itulah saya mencoba hubungi teleponnya namun tidak aktif lantas saya berusaha mencari korban, kerena mau buka puasa maka saya pulang ke rumah,’’ ucap korban.

Usai buka puasa, sambung saksi, dirinya menerima SMS dari telepon korban yang isi pesan itu mengatakan kalau dirinya tidak apa-apa dan berada di rumah sakit untuk mengantarkan temannya.

Pada 1 Agustus, sambungnya, dia mendapatkan kabar kalau korban sudah ditemukan di Tele Samosir dengan kondisi tidak bernyawa.
‘’ Saya sendiri melihat jenazah korban di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Di sana saya melihat wajah korban luka lebam, sedangkan kepalanya mengeluarkan darah,’’ ucap saksi.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, hakim menutup persidangan dilanjutkan pekan depan. Namun saat ketiga terdakwa hendak diboyong keluar dari ruang sidang, sempat terjadi kericuhan. Bahkan keluarga korban Sri Wahyuni berusaha memukul para terdakwa yang diboyong petugas kepolisian untuk dikembalikan ke sel tahanan. Namun karena tidak kondusif, akhirnya ketiga terdakwa langsung dimasukkan ke dalam mobil tahanan. Sebelumnya keluarga korban sempat memaki-maki kedua terdakwa Eva Lestari dan Ria yang berada di dalam ruangan sel tahanan wanita PN Medan. (rud)

Akper Akfarma Wira Sakti Medan Disemprot

MEDAN-Akper Akfarma Wira Sakti Medan mendapatkan surat peringatan kedua, karena tak bersedia melakukan alih bina pengelolaan pendidikan tinggi kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Koordinator Kopertis Wilayah I Aceh-Sumut Prof Ir HM Nawawiy Loebis MPhil, PhD saat dikonfirmasi, Kamis (26/1) menjelaskan, sesuai UU Sisdiknas 2003 seluruh pengelola profesi kesehatan baik akademi keperawatan dan akademi kebidanan maupun pengelola strata satu ilmu kesehatan wajib berada di bawah Kemdikbud dan tidak lagi di bawah Kementerian Kesehatan.

Sedangkan 9 PTS di bawah Kopertis Wilayah I Aceh-Sumut yang belum bersedia alih bina yakni  Atro Sihat Beurata Banda Aceh, Akbid Pemkab Aceh Utara, Akper Pemkab Pidie, Akbid Yapeda Lhokseumawe, Apikes Sihat Beurata Banda Aceh, Akper
Pemkab Aceh Tenggara dan Akper Pemkab Aceh Selatan, serta dua PTS di Sumut masing-masing, Akper Pemkot Tebing Tinggi dan Akfarma Wira Sakti Medan.

Padahal lanjut Nawawiy, Kopertis dan Dinas Kesehatan Sumut beberapa waktu lalu telah melakukan kesepakatan untuk saling mendukung peningkatan kualitas keperawatan dan kebidanan berada di bawah Kemendikbud dan ketentuan ini mulai diberlakukan pada tahun akademik 2012/2013 ini.
“Kecuali terhadap pengelolaan sekolah kedinasan maka bagi PTS yang melawan atau menentang ketentuan UU Sisdiknas itu maka ijazah yang dikeluarkan pengelola profesi kesehatan itu tidak sah dan ilegal,”tegasnya.

Menyinggung tentang SKB tiga menteri, Nawawiy mengatakan hal itu bersifat teknis bagaimana pengaturan tata cara pengalihannya. Artinya baik kemenkes maupun dinas kesehatan tidak berwenang melakukan kompetensi dan sertifikasi lulusan, karena sebagai pendukung saja. Yang patut dipertanyakan bilang Nawawy, kompetensi lulusan ilmu kesehatan baik Akper maupun Akbid seharusnya dikelola oleh institusi independen bukan kewenangan Kemenkes maupun Dinas Kesehatan. (uma)

Kim Kardashian Jawab Cercaan

Kim Kardashian menanggapi komentar pedas yang masih mengalir kepadanya tentang pernikahan palsu dengan Kris Humphries. Kardashian menyebut semua itu omong kosong.

“Jika pernikahan hanya keputusan bisnis dan saya mendapatkan uang dari situ, kenapa saya harus mengakhirinya dengan cepat. Saya businesswoman yang pintar. Tentu, jika alasannya uang, saya pasti menikah lebih lama. Mengakhirinya dengan cepat adalah keputusan bisnis yang buruk,” kata Kardashian saat menjadi host pendamping dalam acara Live! with Kelly bersama Kelly Ripa, awal pekan ini.

Seolah belum cukup bintang reality show itu menegaskan, “Sungguh, jika kamu mau berpikir, tak akan muncul dugaan seperti itu. Saya tidak menyangka, keputusan menuruti kata hati ini memunculkan begitu banyak konflik.”

Kardashian mengaku mengalami bulan-bulan yang berat pasca memutuskan berpisah dari Humphries akhir Oktober lalu. Tetapi, dia tak pernah menyalahkan dirinya sendiri karena jatuh cinta terlalu cepat. Sebab, sebagian besar keluarganya berhasil dengan kisah cinta kilat.
Sang bunda, Kris Jenner, menikah dengan Bruce Jenner hanya lima bulan setelah berpacaran. Adik Kardashian, Khloe, juga menjalani masa pacaran yang singkat. “Saya kira, saya bisa mengikuti jejak mereka. Saya jatuh cinta dan merasa bisa segera menikah, melihat contoh yang ada. Ternyata tidak,” ujarnya. (c13/ayi/jpnn)