26 C
Medan
Thursday, July 18, 2024

Ekspresif dengan Japanese Style

Bermuara pada kecintaan terhadap gaya Harajuku atau fashion Jepang, terbentuklah komunitas ini. Komunitas para remaja pecinta Japanese Style yang biasa disebut Harajuku. Harajuku sendiri diambil dari nama sebuah kawasan kecil di daerah Onden, yang akhirnya tumbuh menjadi pusat berkembangnya mode yang booming pada tahun 80-an dan mampu bertahan hingga saat ini.

MEDAN – Sisi menarik dan unik yang ditampilkan oleh Harajuku ini mampu menghipnotis kawula remaja khusunya Kota Medan untuk menampakkan eksistensinya dalam mengadopsi Fashion Jepang ini. Seperti yang disampaikan empat remaja berikut saat ditemui di taman Ahmad Yani ini, alasan mengapa mereka tertarik menggunakan fashion Jepang.

Salah satunya Yocin (15), lewat kostum Sweet Lolita, , Yocin merasa mendapatkan kepuasan dan mampu mengekspresikan dirinya saat menggunakan pakaian ala Jepang.

Selain menarik dan cantik, keunikan juga melatar belakangi dirinya memilih menggunakan Fashion Jepang.
Yocin sendiri mengaku telah dua tahun eksis dengan komunitas pencinta fashion Jepang di Medan yang dikenalnya lewat kecintaan yang sama terhadap model fashion dari negeri Sakura tersebut.

“Aku pertama kali tertarik dengan pakaian Jepang saat melihat situs-situs di internet. Setelah mencari informasi dan mengatahui ada sejumlah komunitas seperti cosplay, dan Japanese Style, aku mulai tertarik untuk bergabung dan berkumpul sekedar untuk berbagi informasi dan menggunakan pakian style Jepang,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Melanie(23), mahasiswi ilmu budaya Jepang di USU ini juga mengaku memiliki kecintaan terhadap fashion Jepang.

Tidak hanya sebagai partisipan, Melanie ternyata memiliki kecintaan terhadap fashion Jepang sejak lama yakni ketika dirinya masih duduk di bangku SMP.

Bagi Melanie, menggunakan pakaian Jepang memiliki nilai seni yang tinggi, selain cantik dan  menarik   pakaian Jepang juga lebih terkesan nyentrik.

“Evolusi dunia fashion juga terus berkembang, tak sulit untuk mengikuti perkembangannya selama kita terus eksis untuk bertemu dan saling bertukar pikiran,” ungkap Melanie.

Dalam kesempatan itu, Melanie mencoba mengekspresikan dirinya lewat fashion bergaya Gothic Lolita dengan menampilkan warna dominan seperti merah, hitam dan putih.

Gaya yang lebih sederhana juga coba ditampilkan Ai Uchida (15) lewat kostum jepang bergaya original ataupun dikenal dengan oshare stylist, atau gaya tersendiri.

Komunitas pecinta Japanese Style ini mengaku selain sering berdiskusi mengenai perkembangan fashion Jepang,  terkadang menentukan sebuah waktu yang tepat untuk bertemu dengan berkostum ala Jepang yang sesekali mengambil momen untuk diabadikan lewat gaya yang apik dan nyentrik. (uma)

Bermuara pada kecintaan terhadap gaya Harajuku atau fashion Jepang, terbentuklah komunitas ini. Komunitas para remaja pecinta Japanese Style yang biasa disebut Harajuku. Harajuku sendiri diambil dari nama sebuah kawasan kecil di daerah Onden, yang akhirnya tumbuh menjadi pusat berkembangnya mode yang booming pada tahun 80-an dan mampu bertahan hingga saat ini.

MEDAN – Sisi menarik dan unik yang ditampilkan oleh Harajuku ini mampu menghipnotis kawula remaja khusunya Kota Medan untuk menampakkan eksistensinya dalam mengadopsi Fashion Jepang ini. Seperti yang disampaikan empat remaja berikut saat ditemui di taman Ahmad Yani ini, alasan mengapa mereka tertarik menggunakan fashion Jepang.

Salah satunya Yocin (15), lewat kostum Sweet Lolita, , Yocin merasa mendapatkan kepuasan dan mampu mengekspresikan dirinya saat menggunakan pakaian ala Jepang.

Selain menarik dan cantik, keunikan juga melatar belakangi dirinya memilih menggunakan Fashion Jepang.
Yocin sendiri mengaku telah dua tahun eksis dengan komunitas pencinta fashion Jepang di Medan yang dikenalnya lewat kecintaan yang sama terhadap model fashion dari negeri Sakura tersebut.

“Aku pertama kali tertarik dengan pakaian Jepang saat melihat situs-situs di internet. Setelah mencari informasi dan mengatahui ada sejumlah komunitas seperti cosplay, dan Japanese Style, aku mulai tertarik untuk bergabung dan berkumpul sekedar untuk berbagi informasi dan menggunakan pakian style Jepang,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Melanie(23), mahasiswi ilmu budaya Jepang di USU ini juga mengaku memiliki kecintaan terhadap fashion Jepang.

Tidak hanya sebagai partisipan, Melanie ternyata memiliki kecintaan terhadap fashion Jepang sejak lama yakni ketika dirinya masih duduk di bangku SMP.

Bagi Melanie, menggunakan pakaian Jepang memiliki nilai seni yang tinggi, selain cantik dan  menarik   pakaian Jepang juga lebih terkesan nyentrik.

“Evolusi dunia fashion juga terus berkembang, tak sulit untuk mengikuti perkembangannya selama kita terus eksis untuk bertemu dan saling bertukar pikiran,” ungkap Melanie.

Dalam kesempatan itu, Melanie mencoba mengekspresikan dirinya lewat fashion bergaya Gothic Lolita dengan menampilkan warna dominan seperti merah, hitam dan putih.

Gaya yang lebih sederhana juga coba ditampilkan Ai Uchida (15) lewat kostum jepang bergaya original ataupun dikenal dengan oshare stylist, atau gaya tersendiri.

Komunitas pecinta Japanese Style ini mengaku selain sering berdiskusi mengenai perkembangan fashion Jepang,  terkadang menentukan sebuah waktu yang tepat untuk bertemu dengan berkostum ala Jepang yang sesekali mengambil momen untuk diabadikan lewat gaya yang apik dan nyentrik. (uma)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/