23 C
Medan
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 14206

Tiket Medan-Jakarta Habis, Sriwijaya Bandrol Rp1,82 Juta

MEDAN- Loket Sriwijaya Air di Bandara Polonia Medan membandrol harga tiket pesawat sebesar Rp1,82 juta untuk tujuan Medan-Jakarta. Padahal tarif batas atas yang telah disepakati sebesar Rp1,7 juta. Uniknya, maskapai lainnya menjual tarif tiket pesawat tujuan Medan- Jakarta dikisaran Rp1,7 juta.

Di tengah harga tiket melambung tinggi, ternyata tiket Medan- Jakarta juga sulit didapatkan dalam empat hari ke depan.

Demikian informasi yang dihimpun Sumut Pos, Sabtu (7/1) petang.

Tarif pesawat Sriwijaya itu diketahui ketika wartawan koran ini mengecak harga tiket melalui counter ticket sale (counter penjualan tiket, Red) di Bandara Polonia.

Seorang stafnya menyebutkan, harga tiket Medan-Jakarta sebesar Rp1.82 juta, dan sekarang sudah habis terjual. “Tiket habis bang, harganya Rp1,82 juta Medan- Jakarta. Kalau mau, tiket baru ada tanggal 11 Januari 2012 karena sudah diborong para calon penumpang yang membeli via online,” ujar wanita mengenakan pakaian seragam Sriwijaya Air.

Seperti diakui seorang staf counter penjualan tiket Lion Air, Dede menyebutkan, harga tiket maskapanya Rp1,72 juta, tapi sudah habis terjual. Tiket rute yang sama baru ada pada 11 Januari 2012. “Harga tiket 11 Januari 2012 sekitar Rp1.3 juta,” ucapnya.

Menanggapi tingginya harga tiket tersebut, Kasie Angkutan Udara, Kelayakan Udara dan Pengoperasian Udara Otoritas Bandara (Otband) Polonia Medan, Havandi Gusli menegaskan mengenai adanya harga tiket yang diatas batas atas agar secepatnya dikembalikan normal sesuai harga batas atas.

Lebih lanjut, dia mengatakan pihaknya sudah melakukan upaya dalam memberantas praktek percaloan. Tapi, para calo masih beroperasi di saat Otband Polonia Medan tidak ada. “Kami sudah bergeliat beroperasi, tapi saat petugas dan keamanan lengah sedikit saja para calo manfaatkan.

Semua pas sudah ditarik dari orang-orang yang dianggap tak memiliki hak masalah pas,” ungkapnya.

Terpisah, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Medan yang menaikkan tarif KA mulai 24 Desember 2011 sebesar Rp5 ribu, kini KAI sudah kembali mengembalikan ke tarif normal. (jon)

Dilihat Nyabu, Anak Jalanan Ditusuk Keris

MEDAN- Seorang anak jalanan, Muhammad Pane (21) warga Jalan Gurilla, Medan ditusuk pakai keris karena melihat seorang warga menghisap sabu-sabu. Akibatnya, anak jalanan tersebut harus dirawat intensif di lantai VIII RSU Pirngadi Medan, Sabtu (7/1).

Penuturan teman korban, Agus (16) saat ditemui di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Pirngadi Medan. Awalnya, dirinya bersama Muhammad Pane serta empat temannya lagi mau tidur di rumah kosong di Jalan Sentosa Lama, Medan Perjuangan.

Saat masuk ke rumah kosong yang biasa menjadi tempat tidurnya, Sabtu (7/1) dini hari ternyata ada seorang warga diketahui bernama Adol sedang asik memakai sabu-sabu. Spontan, Adol marah ke grombolan Muhammad Pane dan terjadi adu mulut , Adol pun pergi.

Tanpa disangka, ternyata Adol bersama abangnya, Zul (30) datang ke rumah tersebut. Saat bersamaan, Zul membawa keris dan temannya. Zul marah. Lalu, menusukkan keris ke pinggang dan dada korban . Korban jatuh, pelaku lari meninggalkan korban. (jon)

Mengalah adalah Perlawanan yang Tertunda

Ramadhan Batubara

Kata bijak memang mengatakan mengalah untuk menang, tapi bagi saya saat ini tidak seperti itu. Bagi saya, mengalah adalah perlawanan yang tertunda. Kenapa? Ya, karena saya tidak ada kesempatan untuk menang dan menyimpan sekian dendam!

ITULAH sebab Chairil Anwar menulis Kalau sampai waktuku//’Ku mau tak seorang kan merayu//Tidak juga kau dalam sajaknya yang berjudul Aku. Ya, di masa depan nanti, saya akan melakukan sesuatu yang kini belum bisa dilakukan. Saat ini saya hanya bisa mengalah; pada ruang dan kesempatan yang terasa ditutup oleh orang-orang seperti mereka. Ya, ini yang saya sebut perlawanan yang tertunda.

Begitulah, saya awali lantun ini memang dengan sesuatu yang penuh emosi. Bukan karena saya sedang merasa tak nyaman atau apapun itu, tapi siang kemarin saya menemukan kejadian tidak menyenangkan. Saya dibangunkan oleh teriakan orang-orang: Maling! Maling! Maling! Tak pelak, dengan mata sembab karena tidur tak lengkap, saya bergegas keluar rumah. Di depan sana, seorang anak remaja dipukuli massa.

Dia tidak melawan. Dia Pasrah. Begitu pun ketika tubuhnya dilempari bensin, siap untuk dibakar.

“Ada apa, Bang?” tanya saya pada seorang tetangga yang berada di sudut kejadian, jauh dari lokasi ‘pembataian’.

“Anak itu, ketahuan lagi mau mencuri sepeda motor bapak itu,” jawabnya sambil menunjuk lelaki yang paling garang memukul dan berteriak.

“Biar tahu rasa, sudah sering kali di daerah ini kecurian…” timpal tetangga lainnya.

“Tapi, apa anak itu juga yang mencuri tempo hari?” pertanyaan ini keluar dari mulut saya tanpa sadar.

Tetangga yang bicara ‘biar tahu rasa’ tadi melirik saya dengan tatapan heran.

Tak lama kemudian dia tersenyum, mungkin dia tahu kalau saya berbicara spontan tanpa maksud membela anak itu. “Gak tahu, tapi ini namanya peringatan bagi maling yang nekat beroperasi di kawasan kita,” ucapnya.

Saya pun tersenyum, tentu bukan karena dia tersenyum, tapi karena jawaban dia tadi. Ayolah, pelajaran? Kenapa dia tetap dipinggir, kenapa tidak ikut memukuli remaja itu! Tapi sudahlah, mungkin dia tidak suka melakukan kekerasan atau tidak mau dilibatkan ketika kasus itu nanti berbuntut panjang, atau dia memang tak mau repot kan sudah ada yang menghakimi.

Tak puas dengan kenyataan di pinggir lokasi kejadian, saya mencoba masuk ke tempat ‘pembantaian’ itu. Sayang, usaha saya tidak sesuai harapan.

Barisan massa yang mengantre memberikan pukulan terlalu rapat.

Saya berbalik, memilih tepat di pinggir, tentunya bukan tempat dua tetangga tadi.

Saya lalu berpikir, mengapa saya harus masuk ke tempat itu, apakah saya ingin menolong sang remaja atau ikut memukuli? Belum lagi saya temukan jawabannya, saya malah berpikir, apa yang ada dalam otak remaja itu; adakah dia menyesal karena sudah membuat salah hingga dia pasrah menerima hukuman atau malah dia menyimpan dendam. Ukh, saya perhatikan mata anak itu tajam memandang sekian orang meski tubuhnya terkesan pasrah menerima pukulan.

“Bakar! Bakar!” terdengar lagi teriakan itu, entah siapa yang teriak. Aneh, setahu saya bensin sudah disiramkan sejak tadi, kenapa belum ada yang menyulut api? “Banyak cakap,” tanpa sadar saya membisikan kalimat itu. Sumpah, entah sisi diri saya yang mana berujar.

Entahlah, saya merasa ada yang membingungkan saja, otak saya seperti tidak menerima, kenapa pembakaran itu belum terlaksana. Kan, katanya tadi untuk pembelajaran bagi kaum maling. Bukan maksud mendukung hal anarkis itu, tapi saya merasa seperti ada yang menggantung dengan kejadian itu.

Ya, jika memang sudah tak percaya dengan aparat hukum hingga warga memilih menghakimi sendiri, kenapa harus nanggung? Ya, bakar saja. Atau pukuli saja tanpa harus melempari bensin. Bukankah begitu? Lalu, jika tidak berani menghakimi semacam pembakaran tersebut, kenapa tidak menyerahkan maling itu langsung ke polisi? Entahlah…, saya jadi kurang tertarik mendiskusikan tingkah warga.

Saya perhatikan lagi remaja yang dipukuli dan yang telah disiram bensin tadi. Hm, tak ada air matanya, yang ada hanya darah. Sinar matanya pun masih lantang, memang tidak melotot, tapi lirikannya secara diamdiam itu begitu mengerikan. Ya, ada dendam di sana.

Terus terang saya membayangkan diri saya menjadi anak itu, apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya menangis hingga massa kasihan? Oh, tidak, massa yang marah malah senang kalau saya menangis. Mereka menjadi tambah beringas karena merasa menang. Lalu, haruskah saya melawan hingga massa lari. Akh, untuk yang terakhir rasanya tidak mungkin.

Tubuh remaja itu kecil, meski pun dia punya ilmu kanuragan andal, tapi melawan puluhan orang dalam ruang sempit semacam itu pastilah kalah.

Hm, apa yang dilakukan anak itu tampaknya benar. Dia pasrah. Dia mencoba menikmati semua pukulan tendangan hingga makian, tidak lupa aroma menyengat bensin yang telah ada di tubuhnya. Ya, dia juga tak lupa mencoba menghafal setiap wajah yang mengelilinginya. Jika menjadi dia, saya tentunya akan balas dendam.

Ayolah, ini manusiawi. Bagaimana tidak, saya disiksa tanpa ada kesempatan membela diri. Baiklah jika saya memang salah, namun bukankah negeri ini masih punya polisi? Ups, bagaimana jika polisi malah menyiksa saya di kantornya sana? Tapi sudahlah, menghadapi kejadian seperti itu memang sudah pas memilih tingkah pasrah. Bagaimanapun kesalahan telah dibuat kan? Jadi, ya terima saja. Masalah tubuh jadi penuh luka kan risiko. Ya, mengalah adalah perlawanan yang tertunda.

Masalah kalah atau menang di akhirnya nanti kan belum ada yang tahu. Begitu kan? (*).

Polisi Kerjasama dengan Aparatur Pemerintah

MEDAN- Polsekta Sunggal belum mengetahui identitas jenazah wanita memakai cincin belah rotan dan jam berwarna emas yang ditemukan di Sungai Belawan, tepatnya di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang. Kini, Polsekta Sunggal langsung melakukan koordinasi dengan aparatur pemerintahan setempat, Pernyataan itu disampaikan Kapolsekta Sunggal Kompol M Budi Hendarawan saat dikonfirmasi, Sabtu (7/1). Dia mengakui, sekarang pihaknya sedang berkordinasi dengan kepala dusun, kepala desa dan Camat Sunggal.

Budi menyampaikan, wanita yang ditemukan itu memiliki ciriciri berbadan gempal, berkulit putih, memakai cincin belah rotan, jam berwarna mas, memakai baju tidur berwarna coklat batik, celana pendek coklat dan memakai bra warna merah jambu.

Apakah wanita korban pembunuhan? Budi mengaku untuk mengarah ke situ pihaknya masih menunggu hasil outopsi dari pihak RSUP H Adam Malik Medan. (gus)

Pasangan Sejenis Curi Kipas Angin

MEDAN LABUHAN- Pasangan homo (sejenis), Syahrul (19) dan Hasan alias Lisa (17) tertangkap warga setelah mencongkel rumah Rosmina Sihite (24) di Jalan Veteran, Pasar VI, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli. Pasangan sejenis yang tinggal di desa yang sama diamankan bersama barang bukti satu unit kipas angin dan rice cooker di Polsek Medan Labuhan, Sabtu (7/1) dinihari.

Informasi diterima di kantor polisi, pasangan homo itu mencongkel rumah Rosmina saat pemilik sedang tidak ada di rumah, kemudian pasangan homo tersebut mencongkel dinding kamar mandi dan langsung mengambil kipas angin dan rice cooker. ”Kami amankan beserta barang bukti kipas angin dan rice cooker. Kini keduanya diperiksa,” ucap Kapolsek Labuhan, Kompol Sugeng Riyadi.

Perbuatan tersebut, diketahui tetangga saat pelaku masuk ke dalam rumah. Setelah Rosmida pulang dari kampungnya, terkejut melihat barang-barangnya hilang. Tetangganya memberitahukan kalau pelaku pencuriannya ada dua pria homo.

Syahrul mengaku nekat mencuri karena mereka ingin menggunakan barang tersebut untuk dipakai bukan untuk dijual. (yod/smg)

Rooney tak Dijual

MANCHESTER- Jelang derby, Manchester United diterpa isu seputar masa depan Wayne Rooney. Itu terkait pemberitaan The Independent apabila pelatih United Sir Alex Ferguson bakal melepas Rooney di bursa transfer Januari. Pemicunya apalagi jika bukan kasus indispliner Rooney di malam Boxing Day (26/12).

DERBY DAN MISTIS DALAM sepak bola ada faktor teknis dan nonteknis.

Nah, untuk pilihan terakhir, ada beberapa orang dari skuad Manchester City maupun Manchester United yang memercayai mistis atau takhayul. Siapa saja mereka Kala itu, Rooney melanggar aturan Ferguson dengan menggelar pesta sampai larut malam usai kemenangan 5-0 atas Wigan Athletic. Rooney yang berpesta ditemani dua pemain United lainnya, Jonny Evans dan Darron Gibson beserta pasangan masing-masing, lantas dihukum latihan di hari libur plus denda potong gaji sepekan.

Tidak hanya itu. Rooney juga tidak dimainkan Ferguson ketika United kalah mengejutkan 2-3 dari Blackburn Rovers dalam laga yang bertepatan dengan ultah ke-70 sang pelatih. Tentu saja, United dan Rooney langsung membantah kabar dari The Independent yang dimuat di halaman depan dan diulas lengkap sebanyak empat halaman tersebut.

“Setiap pendapat yang menyebutkan apabila Manchester United dan Wayne Rooney telah berpisah adalah omong kosong”. Demikian rilis United di situs resmi klub.

“Saya selalu memiliki dan memelihara hormat kepada siapapun dan berharap terus bekerja sama di musimmusim berikutnya. Antara pelatih dan saya tidak memiliki masalah apapun dan siapapun yang mengatakan berbeda tidak tahu apa yang telah mereka katakan,” tulis Rooney mengenai hubungannya dengan Ferguson di akun Twitter-nya.

Rooney memang beberapa kali berkonflik dengan Ferguson. Konflik keduanya pernah memuncak pada Oktober 2010 ketika Rooney ingin hengkang. Tapi, seiring bujukan Ferguson, striker 26 tahun itu berubah pikiran dan memilih memperpanjang kontrak di Old Trafford hingga Juni 2015.

“The Independent benar-benar menulis sampah.

Masa depan saya adalah bersama Manchester United.

Antaraklubdansaya memilikikomitmensatusamalain,” tulis Rooney lagi.

Tidak hanya Rooney, kabar mengejutkan lainnya muncul terkait Paul Scholes. Eks gelandang United yang pensiun akhir musim lalu pada usia 37 tahun itu disebut siap merumput lagi untuk mengatasi krisis pemain tengah, khususnya sebagai kreator permainan. Darren Fletcher dan Tom Cleverley cedera, sedangkan Ryan Giggs sudah sangat berumur.

Scholes adalah one club man alias menghabiskan seluruhkarirnyabersamaUnited( 1994-2011). Pemainyang menggelar laga testimonial kontra New York Cosmos di Old Trafford pada 5 Agustus 2011 itu memiliki statistik 676 laga dan 150 gol. (dns/jpnn)

Wasit Dukung KLB PSSI

SURABAYA – PSSI jatim terus merapatkan barisan. Setelah menyatukan suara para klub Jatim untuk mengusung KLB bulan lalu, kini giliran perangkat pertandingan menyatukan suara. Sebanyak 140 perangkat pertandingan (wasit, asisten wasit, pengawas pertandingan) se Jatim berkumpul di Hotel Sahid kemarin (7/1) untuk menyatakan gerakan moral ‘Deklarasi Wasit’.

Dalam kesempatan itu, hadir Ketua Pengprov PSSI Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti dan wasit senior Purwanto. La Nyalla yang juga anggota executive committee (Exco) PSSI tersebut kembali menyatakan bahwa, Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI), mantap menggelar Kongres Luar Biasa (KLB).

La Nyalla juga berharap, wasit yang datang dalam acara kemarin tidak raguragu lagi. “Jangan takut, kita pasti menang. Sebab, apa yang kita lakukan sudah sesuai dengan keputusan Kongres Bali. Sebab, pengurus PSSI telah melanggar statuta,” tegas La Nyalla. Ucapan tersebut langsung mendapatkan aplaus dari undangan yang hadir.

Dalam kesempatan kemarin, wasit, asisten wasit dan pengawas pertandingan membubuhkan tanda tangannya di atas lima butir pernyataan. Diantaranya mendukung terselengaranya KLB 6 Maret di Surabaya mendatang. Lalu mendukung penyelenggaraan kompetisi sepakbola profesional dibawah operator PT Liga Indonesia.

Mereka juga diharapkan loyal terhadap semua keputusan kongres Bali menyangkut regulasi kompetisi dan badan pelaksana kompetisi profesional. Para wasit juga diwajibkan hanya bertugas memimpin pertandingan di kompetisi di bawah PT LIga Indonesia.

Terakhir, para wasit, asisten dan pengawas pertandingan akan memimpin pertandingan sesuai dengan Rule of The Game dan tidak akan melacurkan profesionalisme profesi wasit.

Di bagian lain, wasit senior Purwanto menyatakan, wasit Jatim harus mempunyai keteguhan hati dalam mendukung kinerja KPSI. ýÿBisa dibilang, ini memang mengandung resiko. Tidak memilih juga resiko. Tapi, saya ingin wasit Jatim mempunyai komitmen dan tetak menjaga kekompakan,ýÿ harap Purwanto.

Sementara itu, salah satu pengawas pertandingan (PP) asal Pengcab Pobolinggo, Khalid Abubakar mengaku siap mendukung apapun langkah yang akan diambil organiasi dan La Nyalla. “Kami siap mendukung pak Nyalla untuk suksesnya KLB,” kata pria yang juga PP nasional itu. (dra/jpnn)

Pelayan tak Senyum Pengunjung Dihadiahi Es Sunda

Resto Koki Sunda Garap Konsumen Penggosip 

Sepertinya Koki Sunda di Jalan Hasanuddin cocok menjadi tempat pilihannya mengingat menu yang ditawarkan sesuai dengan namanya menu gosip.
MULAI pukul 14.30 wib hingga malam hari, Koki Sunda menawarkan makanan yang kreatif. Kreatif maksudnya bukan hanya karena sarana obrolan santainya saja, melainkan berbagai menu khas ala Koki Sunda juga menjadi siap memenuhi selera konsumen.

Wahyudin M Nur, Supervisor Koki Sunda yang ditemui wartawan di Resto Koki Sunda mengaku pilihan menu gosip, tersedia untuk semua kalangan dan usia.

“Gosip merupakan pilihan kata yang bermakna ngobrol positif. Jadi dalam hal ini koki sunda memberikan menu yang spesial bagi semua kalangan dan untuk dapat menikmati santapan sore di resto ini,” terangnya.

Diantara Menu Gosip sore, bilang Wahyudin, juga tersedia cemilan sehat non kolesterol, seperti bubur sumsum dan bubur ubi sagu. Itu mungkin pilihan cocok bagi anda yang takut gemuk.

Sedangkan bagi Anda penikmat jajanan gorengan, dapat memesan pisang dan ubi goreng.

“ Selain beberapa menu tadi, koki sunda juga menawarkan sajian pedas Sate Padang untuk menambah nuansa santap sore,”terangnya.

Soal rasa, masakan ala Koki Sunda tentu tak perlu diragukan lagi. Di tangan para koki andal, es pulut durian yang biasa ditemui di pinggir jalan bisa menjadi pilihan utama.

Fla beraroma durian yang disiram diatas tumpukan pulut menjadi ciri khas yang tidak dijumpai pada es pinggir jalan.

Beberapa pengunjung mengaku menelan ludah saat es diletakkan di atas mejanya. “Bau duriannya langsung tercium, tapi tidak terlalu menyengat. Apalagi minumannya dihias sehingga menarik.

Dan ingin langsung dinikmati.” ujar salah seorang pengunjung sembari menyantap makanannya yang terhidang di mejanya.

Bagi pengunjung yang anti durian tak perlu ragu untuk tetap menggosip di tempat ini. Masih ada beberapa sajian es lainnya sebagai pelepas dahaga.

Diantarnya sensi float, es teler, manggo tanggo, es buah, es tape pulut, dan es delima. Semua harga menu gosip ditawarkan sangat terjangkau, dari Rp7 ribu hingga Rp15 ribu. Bahkan Koki Sunda juga memberikan smile service garansi, yakni garansi senyum atau gratis Es Sunda Kelapa menjadi nilai lebih pelayanan yang diberikan Koki Sunda.

“Jika ada staff kami yang tidak tersenyum saat melayani pelanggan maka Koki Sunda akan memberikan garansi es sunda kelapa secara cuma-cuma. Ini kita lakukan untuk memberikan kepuasan bagi pelanggan,” terang Wahyudi. Bahkan untuk memanjakan pelanggan, Koki Sunda juga menaruh bell wireless di setiap meja, untuk memudahkan memanggil pelayan. (uma)

Kans Aspac Balas Kekalahan

JAKARTA-Forward Dell Aspac Jakarta Rizky Effendi masih ingat betul bagaimana kesedihan yang dirasakannya saat partai puncak preseason musim ini. Dalam partai yang berlangsung di GOR Bimasakti Malang pada 2 Oktober 2011 itu, dia dipaksa “melihat para pemain CLS Knights Surabaya merayakan pesta juara. Ketika itu, Aspac dibekuk CLS dengan skor 50-59.

Padahal, saat itu, Rizky bermain bagus buat Aspac. Dia mampu menjadi top skor bagi Aspac dengan koleksi 10 poin dan empat rebound. Sayang, permainan apiknya tak cukup untuk membantu Aspac merengkuh trofi juara. “Sedih sekali kalau mengingat pertandingan final itu. Kami harus melihat tim lain merayakan gelar juara,” terang Rizky.

Nah, hari ini (8/1) Aspac bakal bentrok kontra CLS dalam pertemuan pertamanya musim ini. Rizky dan para penggawa Aspac lainnya tentu tak ingin melewatkan momen untuk membalaskan dendamnya.” Apalagi, Aspac memiliki modal bagus menyongsong pertandingan itu. Rekor pertandingan mereka selama seri I jauh lebih bagus ketimbang CLS.

Di seri I, Aspac terlihat lebih mapan dibanding CLS dengan membukukan empat kemenangan dari lima laga. Salah satu kemenangan penting saat menjungkalkan Pelita Jaya (PJ) Jakarta dengan skor 58-51. CLS sendiri belum mampu menunjukkan permainan sebagai tim finalis musim lalu serta juara preseason. Agustinus Indrajaya dkk dipaksa menelan tiga kekalahan selama di Bandung.

Selain itu, dalam pertandingan hari ini, Aspac juga dipastikan turun dengan kekuatan terbaik. Saat final preseason lalu, Aspac memang compang-camping setelah Mario Gerungan dan Xaverius Prawiro bergabung di pelatnas. (ru/diq/jpnn)

Penyelundup Senjata Aceh-Medan Ditangkap di Langkat

FN dari Aceh Dibarter AK 47 di Medan

LANGKAT- Jajaran Polres Langkat berhasil membekuk Wahyudi (39) dan Syaiful (39), dua warga Biruen, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yang diduga anggota sindikat penyelundup senjata Aceh-Medan. Keduanya digelandang ke Mapolresta beserta barang buktisenjataapi(senpi) jenis FN tanpa izin serta 18 peluru. Turut pula diamankan, mobil rental Toyota Avanza BK 1661 KG serta supirnya.

Kapolres Langkat, AKBP H Mardiyono, menduga kalau kedua pemilik senpi ilegal ini memiliki kaitan dengan penembakan misterius sejumlah warga yang belakangan terjadi di NAD. “Untuk persoalan ini, kita akan berkoordinasi dengan Poldasu serta Polda NAD, guna mengungkap kasus,” ujar Kapolres.

Dugaan itu sesuai pengakuan Wahyudi dan Syaiful kepada petugas.

Mereka ke Medan bertujuan melakukan transaksi senpi dengan warga negara (WN) Malaysia.

Kuat dugaan, Wahyudi dan Syaiful akan melakukan barter FN dan pelurunya dengan senjata laras panjang AK 47, jenis senjata yang digunakan dalam sejumlah penembakan di Aceh beberapa hari lalu.

Penangkapan Wahyudi dan Syaiful ini diamankan dari mobil yang dihentikan saat melaju dari arah NAD menuju Medan, persisnya seputaran wilayah hukum Polsek Hinai-Langkat.

Saat didekati petigas patroli Lantas, keduanya memperlihatkan gelagat yang mencurigakan.

“Saat keduanya melakukan perlawanan, diketahui kalau senpi terselip di balik baju mereka,” kata AKBP H Mardiyono.

Dengan penangkapan pria asal Aceh ini, Kapolres memerintahkan anak buahnya untuk lebih meningkatkan razia di perbatasan. “Selanjutnya, razia dari NAD menuju Medan akan terus kita tingkatkan seketat mungkin,” ujarnya.

Poldasu Perketat Perbatasan Jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara memang telah mengantisipasi masuknya para pelaku teror di Provinsi NAD. Sejumlah pos pemeriksaan di sejumlah titik wilayah perbatasan, dijaga polisi dan Brimob.

Kapolda Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro melalui Direktur Bimbangan Masyarakat (Dir Bimas), Kombes Pol Heri Subiansauri, mengatakan pemeriksaan dilakukan terhadap seluruh kendaraan yang datang dari NAD mau pun kendaraan dari Sumut menuju Aceh.

Hery mengimbau masyarakat Sumut agar tidak mudah terprofokasi dengan penembakan di Aceh. “Bila ada hal-hal yang mencurigakan yang dianggap bisa merusak Kantibmas, khususnya di Sumut, diimbau segera melapor ke Polisi terdekat,” ujar Hery.

Dari Aceh dikabarkan, Forum Komunikasi Mahasiswa Aceh (FKMA) meminta semua tetap tenang, tidak mudah terpengaruh serta terprovokasi, terkait kasus penembakan warga non Aceh akhir-akhir ini, jelang Pemilukada Aceh.

Rentetan penembakan terus terjadi membuat mata dunia kembali tertuju ke Provinsi Aceh, yang baru lepas dari konflik berkepanjang 15 Agustus2005lalu. Bahkan, PresidenSBYtelahmemerintahkan Kapolri, untuk segera menangkap pelaku penembakan warga non Aceh, oleh orang tak dikenal (OTK) bersenjata api.

Tentunya, siapun pelakunya harus diusut tuntas dan dihadapkan pada meja hijau (pengadilan).

“Jangan gara-gara beberapa orang yang tidak ingin Aceh menikmati perdamaian, hingga membuat kerusuhan menembak orang-orang yang tidak berdosa, lalu merusak perdamaian Aceh yang baru bangkit,” tegas Tim Advokasi FKMA, Isbahannur, kepada Rakyat Aceh (grup Sumut Pos), di Lhokseumawe, Sabtu (7/1).

Kata dia, elit politik Aceh, pejabat, TNI/Polri di Aceh dan semua elemen masyarakat Aceh dan warga non Aceh, harus selalu waspada setiap permainan yang dilakukan oleh perusak perdamaian Aceh.

FKMA juga berharap kepada semua rakyat Aceh, untuk bersatu bukan untuk saling menciptakan strategi pembunuhan demi meraih tujuan misi tententu. Selain itu, lanjut aktivis mahasiswa ini, memberontak atas ketidakadilan sah-sah saja sebagai warga Negara yang baik untuk melawan pemerintah zhalim yang berhukum dengan hukum rimba dan bermental korup.

Sementara itu masyarakat perdalaman Gayo Aceh Tengah mengecam dan mengutuk keras tindakanaksipenembakanbrutalyangdilakukan orang tak bertanggung jawab di Aceh pesisir.

Ini disampaikan Suhardi bersama puluhan perwakilan tokoh masyarakat Aceh Tengah tergabung dalam Elemen Cinta Damai saat bertemu dengan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) setempat.

Elemen masyarakat cinta damai menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dilingkungan masing- masing dan tidak terprovokasi dengan isu-isu yang mudah terpancing dalam segala hal ingin merusak perdamaian Aceh.

“Tidak semua masyarakat baca Koran, jadi diharapkan wakil rakyat, aparat kampung dan polisi ikut berperan untuk secepatnya mengumumkan kepada warga untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak terpancing dengan isu tersebut, pinta Suhardi.

Sementara pakar dan pengamat di Aceh yang dulunya selalu nyaring bersuara, kini lebih memilihdiamkalauurusannyasoalpenembakanitu, kalau pun mau berkomentar tapi dengan catatan ‘off the record’.

“Tanya soal yang lain saja. Kalau itu, saya tidak mau berbicara. Statement yang bilang itu, karena kecemburuan sosial ekonomi atau lainnya, sepertinyamedia-lahyangmengarahkanpertanyaan ke arah itu,” kata Pakar Sosiologi NAD, Saifuddin Bantasyam, di Bandaaceh.

Psikolog Nurjannah Nitura juga enggan menjawab pertanyaan perilaku dan kejiwaan pelaku penembakan.

Sejumlah pihak lainnya pun lebih memilih bungkam. Alasannya, bila salah memberi statement, malah berpengaruh buruk terhadap masyarakat. (arm/ian/ron/jpnn/mag-5)