26 C
Medan
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 14334

BIN Telusuri Orang di Belakang Nunun

JAKARTA-Kabar adanya keterlibatan pengusaha asing yang ikut melindungi tersangka Nunun Nurbaeti terus memancing pertanyaan. Alasannya, tersangka dianggap cukup berani hidup di luar negeri dengan status buronan. Bahkan sempat lolos dari pengejaran tim pengintai KPK saat digerebek di apartemennya di Singapura.

Fakta tersebut yang memunculkan istri mantan Wakapolri, Adang Dordjatun ini dimungkinkan tidak sendirian selama dalam pelariannya. Ada sekumpulan orang yang mendukung persembunyian Nunun tersebut. Termasuk membiayai seluruh masa tinggalnya di luar negeri.Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Letjen TNI Marciano Norman mengaku belum mendapatkan informasi lengkap tentang organisasi yang terlibat dalam aksi persembunyian tersangka. Namun dipastikan bakal segera mengumpulan informasi terkait kabar tersebut.

“Belum tahu persisnya. Nanti kami pelajari dan telusuri,” terang Kepala BIN, Letjen TNI Marciano Norman usai mengikuti rapat koordinasi di kantor Menkopolhukam, Jakarta, Senin (12/12).

Desas-desusnya keterlibatan pengusaha asing dalam persembunyian itu pertama kali dilontarkan Ketua KPK, Busyro Muqoddas. Berdasarkan sejumlah informasi yang diterima dari tim pemburu Nunun di luar negeri. Dengan menyebut adanya kekuatan besar dibalik pelarian Nunun.

Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin menjelaskan keterlibatan Kementerian Hukum dan HAM sebatas pada pencabutan passport milik tersangka. Sekaligus membantu penempatan tersangka di rumah tahanan Pondok BAmbu.
Menurutnya perburuan Nunun tidaklah pantas disebut sangat terlambat. Karena secara teknis penetapan tersangka pun baru dilakukan setahun lalu. Sebleum ditetapkan tersangka sudah lebih dulu pergi ke luar negeri.
“Jadi kalau dihitung dari masa penetapan tersangka, maka tak bisa disebut terlambat penangkapan tersangka,” terang Amir.

Dia mengakui prestasi besar yang layak diberikan atas penangkapan Nunun itu diserahkan kepada KPK dan Badan Intelejen. Karena hasil kerja lembaga itulah yang berhasil membawa Nunun kembali ke tanah air.
Terkait perlakuan bagi tersangka, Amir telah meminta kepala Rutan Pondok Bambu dapat tetap menjaga kebijakan yang adil. Tersangka Nunun tidak boleh mendapatkan perlakuan berlebihan selama di tahanan, tetapi juga harus tetap menjaga kebutuhan yang manusiawi.

“Saya telah instruksikan kepala rutan tetap memperlakukan tersangka secara manusiawi,” ucap politisi Partai Demokrat ini.

Di tempat terpisah Juru bicara KPK, Johan Budi menambahkan proses pemeriksaan tersangka kasus suap cek pelawat, Nunun Nurbaeti pada tahap ini difokuskan pada pokok perkaranya. KPK belum berminat untuk melakukan pengembangan perkara.

“KPK tuntaskan dulu yang menjadi persoalan tersangka. Yakni kasus suap cek pelawat itu,” terang Johan Budi di gedung KPK.

Menurutnya kabar adanya pengusaha asing yang menjadi beking tersangka tidak diungkapkan lebih dulu. Tujuannya agar perkara yang didakwakan nanti menjadi lebih detil. Dapat mengungkap persoalan cek pelawat secara tuntas.
“Sejak awal perburuan tersangka itu untuk kasus cek pelawat. Jadi fokuskan dulu pada perkara pokoknya,” terang dia.
Didesak soal keterlibatan pengusaha asing itu, Johan mengaku belum dapat memberikan informasi lebih. Karena sampai saat ini pengusaha yang dianggap menajdi beking tersangka belum diketahui. Sehingga tidak dapat digali informasi lebih jauhnya.

“Memang Pak Busyro yang menyebut itu. Tapi kalau dia pengusaha asing yang jadi beking, kan tidak bisa diperiksa KPK,” ucapnya. (rko/jpnn)

Soal Tanah Sari Rejo, Hari Ini Kasau ke Medan

MEDAN- Masalah sengketa tanah di Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia tampaknya mulai ada titik terang. Setidaknya, surat dari pihak TNI AU ternyata sudah diterima Wali Kota Medan, Rahudman Harahapn
“Surat sudah ada pada saya, mau apa lagi?” kata Rahudman Harahap usai melakukan pelantikan terhadap pejabat ekselon II di Pemko Medan di Kantor Kota, Senin (12/12) siang.

Dikatakannya, surat dari Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) untuk menindaklanjuti permasalahan tanah di Kelurahan Sari Rejo sudah diterimanya untuk mengamankan aset yang luasnya 260 ha tersebut. “Surat Kasau kepada wali kota untuk mengamankan aset tersebut sudah ada pada saya,” ulangnya.

Dengan begitu, Rahudman meminta warga Sari Rejo untuk bersabar. “Nanti tanggal 13 (hari ini, Red), Kasau akan datang, secepatnya saya akan lakukan konfrensi pers untuk menjelaskannya,” cetus Rahudman.

Terkait informasi ini, Ketua Forum masyarakat Sari Rejo (Formas) Riwayat Pakpahan kembali menyuarakan harapannya terhadapa wali kota. “Diharapkan janji tersebut terealisir, kenapa pihak CBD Polonia yang juga berdiri di atas tanah Kelurahan Sari Rejo dapat berlanjut dan dikeluarkan sertifikatnya. Padahal, jelas jarak kami sangat jauh dengan Bandara polonia, kami hanya meminta pemerintah berlaku adil,” jelasnya.

Selain itu, Formas juga meminta kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk memberitahu kepada masyarakat tentang tanah mana saja yang sudah bersertifikat dari luas 302 ha tersebut. “Tolonglah untuk dikeluarkan sertifikat tanah warga agar masyarakat tidak resah dan ada kepastian hukum yang akan diperoleh,” bebernya.

Ketua Komisi A DPRD Medan, Ilhamsyah menambahkan kalau masalah tanah Sari Rejo diharapkan semua pihak terkait untuk serius menangani mnasalah tersebut. “Berdasarkan hukum warga sudah jelas sebagai pemilik berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA). Seharusnya pihak Pemko Medan mempertanyakan kepada pihak TNI AU bagaimana kejelasan draf MoU yang sudah dikirimkan ke Pemko Medan,” jelasnya.

Menurut Ilhamsyah, sudah saatnya pihak Pemko Medan mentabulasi berapa luas yang sebenarnya yang dikuasi masyarakat atas tanah tersebut. Dikarenakan hal itu dapat menjadi acuan dan keseriusan Pemko Medan untuk menyelesaikannya. “Bila tidak, ditakutkan ada orang-orang yang memanfaatkan sengketa tanah di Sari Rejo dengan menempati lahan kosong. Masyarakat harus bisa mengetahui batas tanah miliknya, jangan sampai nantinya lahan masyarakat ditempati orang baru seperti pendatang,” jelasnya. (adl)

Audisi Berlanjut di Hotel Asean

60 Peserta Indonesia Idol Jalani Tahap Selanjutnya

AUDISI pencari bakat Indonesian Idol yang dilaksanakan oleh FremantleMedia dan RCTI di Kota Medan telah usain
Dari audisi yang digelar selama dua hari, 10-11 Desember di Gedung Serba Guna Universitas Negeri Medan (Unimed) Jalan Willem Iskandar Pasar V Medan ini disaring 60 peserta yang akan menjalani tahap selanjutnya.

Communication Officer Marcom Dept RCTI, Trista P Effendi mengatakan para peserta asal Kota Medan yang lolos akan diadu lagi dengan peserta dari perwakilan Padang dan Palembang hari ini, Selasa (13/12) di Hotel Asean. Nantinya, peserta yang terpilih dan merupakan terbaik akan diboyong ke Jakarta untuk menjalani tahap selanjutnya.

“Proses penjurian sangat detail dan panjang. Saya belum bisa ngasi info yang banyak, karena kita benar-benar seleksi terbaik di antara yang terbaik. Nanti para peserta ini akan kita adu lagi dan dibawa ke Jakarta untuk menjalani seleksi ketat dan jumlahnya tidak ditentukan. Karena seperti yang saya bilang tadi, yang dipilih adalah terbaik diantara yang terbaik,” jelasnya, Senin (12/12).

Menurutnya, audisi yang digelar selama dua hari tersebut, para peserta sudah menampilkan bakat dan kemampuan bernyanyi yang luar biasa. “Jumlah total peserta yang mengikuti audisi selama dua hari mencapai 5 ribuan lebih. Kita nggak tahu berapa detail pastinya. Tapi, masing-masing peserta sudah memberikan yang terbaik dan unjuk bakat di depan para juri,” katanya.

Menurutnya pada hari kedua audisi, Minggu (11/12) lalu, ribuan peserta sudah memadati Gedung Serba Guna UNIMED sejak pukul 06.00 WIB. “Sejak pagi, mereka sudah berkumpul dan memadati lokasi. Banyak yang datang dari luar Kota Medan seperti Padang, Siantar, Tebing Tinggi dan lainnya. Bahkan ada yang memakai pakaian adat Batak dan menunjukkan kemampuan menyanyi dan menari Tor-tor yang dimilikinya,” ungkapnya.

Selain itu, katanya, Daniel Mananta selaku host Indonesian Idol 2012 datang langsung dari Jakarta untuk menghibur dan memberi semangat kepada para peserta audisi di Kota Medan. Tidak hanya itu, Gisel Idol juga tak mau kalah untuk ambil bagian dalam pelaksanaan audisi Indonesian Idol kali ini. “Gisel Idol hadir dan menyanyikan empat lagu sepanjang audisi untuk menghilangkan rasa bosan para peserta ketika mengikuti audisi Indonesian Idol.” (mag-11)

Dapat Koin Jutaan, tak Cukup Disimpan di Kardus Mi Instan

Coin A Chance!, Komunitas Pengumpul Uang recehan untuk Pendidikan Anak-anak Miskin

Dua orang bersahabat ini, Hanny Kusumawati dan Nia K Sadjarwo, ingin menerapkan moto: mulailah dari yang terkecil untuk berbuat baik. Sejak 2008, mereka telaten menghidupkan gerakan mengumpulkan uang koin. Selanjutnya, uang recehan itu disalurkan untuk membantu pendidikan anak-anak miskin.

M Hilmi Setiawan, Jakarta

GELARAN muktamar blogger bertajuk ON|OFF di Jakarta awal Desember lalu berlangsung sangat meriah. Puluhan blogger memajang kreativitas masing-masing. Mulai blogger yang intensif memasarkan pariwisata daerah penyedia buku-buku pendidikan, hingga kolektor merchandise serial fenomenal Star Trek. Semua berbaur.

Di antara sekian stan blogger, yang terlihat jarang sepi adalah milik komunitas Coin A Chance! Sesuai dengan namanya, gerakan komunitas itu adalah mengumpulkan koin-koin, lalu disumbangkan untuk membantu anak-anak miskin yang terancam putus sekolah.

Di kios komunitas yang mengambil slogan drop, collect, send those kids back to school itu pengunjung bisa ikut berpartisipasi menyumbangkan koin-koin sisa berbelanja atau membayar parkir. Stan tersebut juga menyiapkan belasan celengan dengan foto anak sekolah yang tersenyum ceria.

Celengan sepanjang satu jengkal berdiameter seukuran lengan orang dewasa itu dibagikan gratis kepada pengunjung yang ingin mengumpulkan koin di rumah masing-masing. “Kami di sini bersifat sukarela. Tidak ada ketentuan harus menjadi member atau apalah namanya,” tutur Anggia Bahana Putri, relawan bagian administrasi yang saat itu bertugas menjaga stan.

Anggia menjelaskan, pihaknya menggunakan sebutan coiners untuk pengumpul koin aktif sekaligus pengurus operasional Coin A Chance!. Ada juga sebutan droppers bagi pengumpul koin aktif dan tidak aktif yang tidak terlibat dalam kepengurusan komunitas.

Anggia menjelaskan bahwa secara berkala, komunitas tersebut menggelar pertemuan yang dijuluki Coin Collecting Day (CCD). Pertemuan itu digunakan untuk mengumpulkan sekaligus menghitung perolehan koin dari celengan-celengan yang tersebar di seantero DKI Jakarta dan sekitarnya. Anggia menuturkan, kesan formal dihapus bersih dalam pertemuan CCD itu. “Kami sering kumpul santai di restoran-restoran atau kafe,” ucap perempuan kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1981, itu.

Dalam setiap pertemuan CCD, koin yang terkumpul cukup fantastis. Dari delapan kali rekaman CCD, donasi koin yang terkumpul pernah mencapai Rp 10 juta lebih. Tapi, rata-rata uang yang terkumpul pada pertemuan itu Rp 2 jutaan.
Anggia menceritakan, uang koin yang jumlahnya jutaan rupiah itu banyaknya bukan main. “Pernah kami bungkus dengan menggunakan satu kardus mi instan masih kurang,” katanya.

Setelah terkumpul, duit koin dari para coiners dan droppers tersebut siap digunakan untuk menyumbang biaya pendidikan siswa-siswi miskin. Saat ini mereka memiliki anak asuh belasan orang. Anak-anak miskin itu tersebar di DKI Jakarta, Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, hingga Malang, Jawa Timur.
Anggia menceritakan, dirinya pernah ikut menyerahkan donasi untuk siswa-siswa miskin di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Alumnus London School of Public Relations, Jakarta, itu menuturkan, sambutan orang tua siswa sangat luar biasa. “Sampai pernah pulang dikasih petai,” kenang Anggia.

Sambutan dari para pendidik siswa-siswa tersebut juga tidak kalah luar biasanya. Sampai-sampai ada sejumlah guru yang terpincut dengan model penggalian donasi ala Coin A Chance!. Para guru itu akhirnya rela menyisihkan uang receh untuk membantu siswa mereka sendiri yang tidak mampu. Mereka menyatakan tidak berat jika harus mengumpulan Rp 100 hingga Rp 500. Apalagi, sumbangan tersebut tidak mengikat dan tidak dilakukan setiap hari.
Pada saat seremoni pemberian bantuan biaya pendidikan siswa miskin, digelar upacara yang cukup unik. Yaitu, sebagian bantuan biaya pendidikan diberikan tetap dalam kondisi recehan. Rata-rata jumlahnya Rp 100 ribu.

“Lucunya, oleh kepala sekolah uang recehan ini didiamkan untuk dibuat kenang-kenangan. Kemudian, diganti dengan uang kertas miliknya,” ucap Anggia.

Sejarah berdirinya Coin A Chance! hingga tumbuh menjadi komunitas yang begitu bermanfaat untuk sebagian orang itu dibidani dua sahabat Hanny Kusumawati dan Nia K. Sadjarwo. Komunitas itu resmi berdiri pada Desember 2008.
Genap tiga tahun berdiri, kini cabang-cabang komunitas Coin A Chance! tersebar di penjuru Indonesia. Di antaranya, Bandung, Bali, Palu, Cilegon, Makassar, dan Semarang. Bahkan, komunitas tersebut juga sudah terbentuk di Benua Eropa. Tepatnya di Berlin, Jerman. Mereka khusus mengelola donasi yang terkumpul dari para donatur di kawasan Benua Biru.

Di temui sebelum menjadi pembicara sebuah seminar di Jakarta Sabtu lalu (10/12), Hanny mengatakan tidak ada niat khusus ketika kali pertama menggagas komunitas itu. “Semua dulu iseng. Tidak menyangka sebesar ini sambutannya,” ucapnya.

Hanny menceritakan, awal berdirinya Coin A Chance! dimulai ketika dirinya dan Nia sedang bengong di sela-sela mengurusi pekerjaan sebagai konsultan komunikasi. Kebetulan, meja kerja mereka berdua berdempetan. “Saya dan Nia memandangi celengan koin yang berada di meja kami. Diapakan ya enaknya,” tutur perempuan kelahiran Bogor, 31 Mei 1983, itu.

Kebetulan juga, Hanny dan Nia hobi mengumpulkan uang recehan. Hanny beralasan, uang recehan cukup ribet jika harus disimpan di saku. “Jika disimpan di dompet, berat nanti bawanya,” jelas dia. Celengan kecil menjadi media satu-satunya bagi Hanny dan Nia kala itu untuk  menyimpan uang recehan.

Nah, ketika tebersit pertanyaan digunakan untuk apa uang-uang receh tadi, mereka memutuskan untuk membantu biaya pendidikan anak-anak miskin. Saat celengan Hanny dan Nia dipecah, terkumpul sekitar Rp 600 ribu. Duit itu langsung disalurkan ke Bintang Gempur Anarki, anak salah seorang penjual rokok di sekitar kediaman Nia di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Hanny menceritakan, kondisi pendidikan Gempur saat itu benar-benar kacau. Dia hampir putus sekolah karena tidak bisa melanjutkan pendidikan dari jenjang SD ke SMP. Penyebabnya, ijazah Gempur ditahan pihak sekolah gara-gara memiliki tunggakan biaya SPP sejak kelas V. “Biaya sebenarnya tidak besar, tapi dia benar-benar tidak mampu,” katanya.

Akhirnya, Coin A Chance! datang menjadi juru penolong untuk kelangsungan pendidikan Gempur. Dia akhirnya bisa bersekolah. Sekarang Gempur kelas VIII di SMP kawasan Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

Hanny menuturkan, dirinya mendapat informasi anak-anak yang berhak dibantu dari kawan-kawannya. Dia mengaku memiliki sistem yang benar-benar selektif untuk memberikan bantuan biaya pendidikan.

Di antaranya, anak yang akan dibantu harus benar-benar punya semangat belajar. Nilai rapor tidak perlu tinggi, tetapi konsisten di level sedang. Kriteria lainnya adalah orang tua harus benar-benar mendukung pendidikan anak. Jangan sampai, setelah dibantu, anak tadi tetap putus sekolah karena disuruh orang tuanya bekerja.

Bagi Hanny, komunitasnya tidak memasang target seberapa banyak anak yang harus dibantu. Tetapi, mereka nekat membantu hingga anak tamat SMA. Saat ini, berdasar perhitungan yang dipampang di situs mereka, saldo komunitas sekitar Rp18 juta.

Saldo itu, menurut Hanny, cukup untuk membantu biaya pendidikan para anak asuh. Sebab, dia menghitung biaya pendidikan satu siswa di tingkat SD sekitar Rp60 ribu per bulan. Untuk biaya siswa tingkat SMP dan SMA, dia memperkirakan Rp100 ribu per bulan.

Hanny menegaskan, komunitasnya anti meminta uang di jalan-jalan. Meskipun dibalut dengan aksi demonstrasi. Dia memiliki filosofi membantu orang itu tidak harus menunggu harta menumpuk. “Bisa dimulai dari kecil dulu. Menyisihkan uang recehan,” paparnya.

Celengan-celengan Coin A Chance! saat ini sudah tersebar ke mana-mana. Mulai pribadi hingga perusahaan-perusahaan ternama di DKI Jakarta dan sekitarnya. Selain itu, celengan berada di Kedubes Australia dan Kedubes Amerika di Jakarta.

Dia berharap, gerakan komunitas Coin A Chance! bisa langgeng dan tidak sekadar menjadi tempat nongkrong meriah-meriahan saja. Hanny menuturkan, komunitasnya tetap fokus menggarap dunia pendidikan yang selama ini belum tersentuh pemerintah. (wan/c4/kum/jpnn)

Aset Tanah Pemprovsu Dibangun Ruko

MEDAN- Sinyalemen banyaknya aset Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) berpindah tangan, dan dikuasai mafia tanah mencuat, ketika digelarnya Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi C DPRD Sumut dengan Biro Perlengkapan dan Perawatan (Kapwat) Provsu, Senin (12/12).

Salah satunya adalah tanah seluas 25,51 hektar di Desa Medan Estate, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, yang kini telah diambilalih oleh pengembang yakni PT Mutiara Developer untuk kepentingan komersil, pendirian bangunan seperti rumah toko (ruko) dan sebagainya.

Asal mulanya, tanah seluas 25,51 hektar yang berada tepat di belakang Gedung Serba Guna dan Kantor Dinas Perkebunan Sumut, Jalan Williem Iskandar, termasuk tanah seluas 200 hektare yang merupakan lahan pembebasan, dari pihak PTPN 9 (sebelum merger dengan PTPN 2, Red) atas usul Pemprovsu, berdasarkan surat yang dikeluarkan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu). Peruntukan tanah tersebut antara lain, pertama untuk area perkantoran, kedua untuk area pendidikan dan ketiga untuk fasilitas sosial.

Awalnya pembebasan lahan dari PTPN 9 berdasarkan pengusulan Pemprovsu, diperuntukkan bagi perkantoran pemerintah, area pendidikan dan fasilitas sosial. Maka berdirilah Universitas Negeri Medan (Unimed) Kantor Gubsu lama (Kantor Dinas Perkebunan Sumut, red), Gedung Serba Guna dan sebagainya. Namun, anehnya di bagian belakang Gedung Serba Guna dan Kantor Gubsu lama itu, sekarang su dah berdiri bangunan atas nama PT Mutiara Developer. Itu seluas 25,51 hektar. Anehnya, pihak pengembang mengaku punya sertifikat. “Darimana sertifikat yang mereka miliki? Apalagi, pagar yang mengelilingi bangunan itu saja masih pagar Pem provsu dan masih terdapat plang milik Pemprovsu. Dan harus dicatat, pembebasan lahan oleh PTPN 9 atas usul Pemprovsu tidak ada memberikan ruang bagi siapa pun untuk mengkomersilkan itu,” ujar Anggota Komisi C DPRD Sumut, Muslim Simbolon kepada Sumut Pos, Senin (12/12).

Maka dari itu, sambung politisi asal Fraksi PAN DPRD Sumut tersebut, dicurigai ada pihak-pihak tertentu yang telah menjual aset tersebut ke pengembang.

“Apa dasar pengembang memiliki sertifikat kepemilikan terhadap tanah aset Pemprovsu itu. Jadi, kepemilikan sertifikat itu dicurigai.” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Biro Kapwat Provsu Syafruddin SH, M.Hum menyatakan, pihaknya akan memfasilitasi penyelesaian masalah tersebut serta akan menyerahkan surat-surat yang diminta Komisi C DPRD Sumut.(ari)

Oknum Jaksa Kejari Medan Todongkan Pistol

Gara-gara Mobilnya Disenggol Pengendara Sepeda Motor

MEDAN-Tak senang dengan perbuatan seorang oknum jaksa dari Kejari Medan yang memukul serta menodongkan pistolnya, Yuawardi Septian (20) warga Jalan Rotan Perumnas Simalingkar Medan ngadu ke Polsek Medan Baru, Senin (12/12).

Koki Restoran Nelayan Sun Plaza Medan itu menceritakan, sekitar pukul 09.00 WIB, dirinya hendak berangkat kerja dengan menggunakan sepeda motor. Namun sampai di tengah jalan tepatnya di daerah Jalan Mongonsidi, sepeda motor yang dikendarainya bersenggolan dengan mobil jaksa dari Kejari Medan.

“Tadi waktu aku mau kerja di simpang Jalan Wahid Hasyim, aku bersenggolan dengan mobil sedan Ford Viesta BK 19xx IU, karena aku nggak merasa bersalah dan hanya kaca spion saja yang kena, aku langsung aja pergi,” terang Yuawardi.

Lebih lanjut ia menuturkan, setelah terjadi senggolan tersebut, oknum jaksa tersebut mengejarnya dan memberhentikannya. “Dia ngejar dan memepet keretaku serta menyuruh ku untuk berhenti sambil menodongkan pistolnya. Kemudian setelah aku berhenti dia langsung memukul ku hingga aku terjatuh,” papar Yuawardi lagi.

Akibat pukulan yang dilakukan oleh oknum jaksa tersebut, Yuawardi mengalami luka dibagian bibir sebelah bawah. “Karena aku dianiaya dan aku nggak senang diancam dengan pistol makanya aku langsung membuat laporan ke Polsek Medan Baru,” ujarnya sambil memperlihatkan bukti STPL/2989/XII/2011/SU/Polresta Medan Baru.

Di tempat terpisah seorang yang mengetahui kejadian, Heri Andrian mengatakan dirinya sempat mengejar oknum jaksa sampai di Jalan Kejaksaan Medan. “Aku tadi sempat mengejarnya, dia juga sempat menodongkan senjatanya, di situlah aku tahu dia jaksa dari Kejari Medan,” tuturnya.

Sementara itu, Kapolsek Medan Baru, AKP Donni Alexander SIK mengatakan saat ini pihaknya sedang melakukan penyelidikan.

“Tadi ada yang buat laporan, dan saat ini sedang dilakukan penyelidikan,” tandasnya. (saz)

Pria Paruh Baya Membusuk di Kos

MEDAN- Pria paruh baya Hanadi Tjandra, warga Jalan Pukat Banting IV, Medan Tembung ditemukan tewas dalam kamar kosnya di Jalan Brigjen Katamso, Gang Warni, Medan Kota, Senin (12/12) pukul 09.00 WIB. Korban diduga tewas karena menderita penyakit sebab di tubuhnya tidak ditemukan tanda luka penganiayaan.

Kanit Reskrim Polsekta Medan Kota, AKP Sangkot Simare-mare SH mengaku, korban meninggal dunia di dalam kamar dengan kondisi membusuk.

“Korban diduga sakit dan saat ini kita masih mencari keluarga korban, karena korban itu kos. Kita masih mencari alamat pasti korban karena hanya identitas KTP saja yang kita temukan di saku celana korban,” tuturnya.(jon)

Ajak Tetap Bergairah

Taufik Kiemas

Ketua MPR Taufik Kiemas berbagai jurus kepada para menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II (KIB II) agar tetap semangat bekerja.

Politikus senior PDIP ini meminta para menteri melihat semangat kerja rakyat yang selalu bergelora sejak pagi buta hingga larut malam.

“Yang penting gairah rakyat luar biasa. Mestinya menteri-menteri melihat gairah rakyat,” ujar Taufik di gedung MPR, Jakarta, Kamis (8/12).

Taufik meminta, jajaran Menteri KIB II bekerja efektif dan bersemangat. Jangan justru rakyatnya yang lebih bersemangat. Taufik melihat indikasi justru masyarakat jauh lebih bersemangat. “Rakyatnya luar biasa gairahnya, belajar dari rakyatlah,” katanya.

Walau kondisi ekonomi yang susah, politisi senior PDIP ini melihat gairah rakyat yang memuncak. Aktivitas mulai pagi buta hingga berdesak-desakan diangkutan umum, dinilai Taufik sebagai semangat tinggi masyarakat dalam membangun bangsanya. Ini yang harus ditiru oleh jajaran menteri.

“Rakyat kan jam 06.00 sudah bangun, mereka kerja bukan pelisiran. Naik bus bertumpuk-tumpuk, naik kereta di atas, emangnya tidak bergairah,” jelasnya. (net/bbs)

Brotoseno Paling-paling Cuma Dimutasi ke Daerah

Anggie Yakin Tak Melanggar Hukum

JAKARTA-Anggota Komisi X DPR dari Fraksi Demokrat Angelina Sondakh tak banyak komentar ketika ditanya soal kedekatannya dengan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kompol Brotoseno.
Kemarin, Anggie, panggilan akrabnya, dicegat wartawan di Wisma Nusantara DPR.

“Apa yang saya lakukan tak pernah melanggar hukum dan saya akan hadapi semua cobaan ke depan,” ujarnya.  Selain itu, ia juga menepis adanya isu yang menyebutkan dia berada selama satu minggu di Singapura. “Siapa bilang . Saya sama keluarga dan ngapain saya dengan keluarga, nggak perlu dijelaskan,” katanya sembari buru-buru meninggalkan kerumunan wartawan.

Di Mabes Polri Kadivhumas Polri Irjen Saud Usman Nasution menjelaskan Kompol Raden Brotoseno masih berstatus penyidik KPK. “Karena surat dikirim kembali ke sini belum secara resmi diterima,” katanya.

Secara terpisah, seorang perwira tinggi di Mabes Polri yang bertugas di Divisi Pembinaan Hukum menilai Brotoseno tak bisa dihukum atau diberi sanksi apapun. “Sama sekali tidak ada dasarnya (menghukum),” katanya,
Satu-satunya kemungkinan terburuk untuk Brotoseno hanyalah mutasi ke daerah.

“Mungkin dikirim ke luar Jakarta supaya tenang dulu. Toh, sesuai dengan wewenang bidang tugasnya, polisi kan memang seluruh Indonesia,” katanya.

Juru bicara KPK Johan Budi menegaskan Brotoseno sudah ditarik dari KPK ke Mabes Polri. (rdl/bay/dim/jpnn)

Wakapolsek Pukuli Ayahnya Hingga Tewas

Klaten- Seorang anggota polisi di Klaten tiba-tiba hilang kendali dan mengamuk. Kantor polisi tempat dia bertugas dirusak, beberapa orang juga diserang. Ayah kandungnya juga diserang hingga tewas. Dia diduga mengalami depresi.
Polisi tersebut adalah Iptu Marsono, Wakapolsek Jatinom, Klaten. Sepulang kerja, Minggu (11/12) malam, sesampai di rumahnya di Dusun Karang Duwet, Desa Krajan, Jatinom, Marsono tiba-tiba meradang. Sejumlah orang di sekitar rumahnya ditantang.

Tiba-tiba saja dia menantang orang-orang yang sedang santai, kemudian menyerang. Siapapun yang mendekat diserangnya. Akibatnya beberapa orang mengalami luka akibat tindakan Marsono tersebut. “Setidaknya lima orang mengalami luka-luka akibat diserang oleh Pak Marsono. Semua tetangga Pak Marsono sendiri,” ujar Sap to, salah satu tetangga yang mengalami luka ringan akibat ikut diserang Marsono.

Tak cukup itu, rupanya di dalam rumah Marsono juga menyerang Yoto Wiratmo, ayah kandungnya. Karena kekerasan yang dialaminya, lelaki 85 tahun tersebut tewas. Keluarga menolak memberikan keterangan mengenai tragedi tersebut.
Namun Kapolres Klaten, AKBP Kalingga R Raharja, membenarkan peristiwa yang dialami anak buahnya tersebut. Kalingga mengatakan peristiwa tersebut masih dalam penyelidikan. Dia juga mengatakan sebelum mengamuk pada warga, Marsono juga merusak Mapolsek Jatinom hingga terjadi kerusakan pada kaca depan bangunan.(net/bbs)