29 C
Medan
Saturday, April 4, 2026
Home Blog Page 14341

Warga Laporkan Mafia Tanah ke Mabes Polri

MEDAN- Sebanyak 34 kepala keluarga pemilik tanah seluas 68 Hektare di Pasar IV Sidomulyo, Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan Deli, Deli Serdang menyebutkan tanahnya dikuasai mafia tanah. Akibatnya warga melalui Husaini Kasim dan kawannya melaporkannya ke Mabes Polri.

Demikian disampaikan Kuasa hukum warga, Andry Mahyar SH MH, Minggu (11/12). Menurut dia, tanah masyarakat yang dikuasai mafia tanah tersebut adalah tanah consessie yang ditinggalkan terlantar oleh Perkebunan Belanda NV Verinigde Deli Maschappijen (VDM) Helvetia Estate, Januari 1952.

Ketika itu, paparnya kebijakan pemerintah dan berdasarkan Kepmendagri No 12/5/14 tanggal 28 Juni 1951, Gubernur Sumut Ub Residen/Kepala Kantor Penyelenggara Pembagian Tanah Ub Bupati Deli dan Serdang (Dp), pada 27 September 1952 telah dibagi-bagikan kepada masyarakat yang telah menggarapnya, yang masing-masing kepala keluarga memperoleh 2 Hektar. Kemudian, berdasarkan SK Menteri Agraria No Sk/509 Ka Jo PP No 224/1961 tanggal 19 September 1961 telah ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Surat Izin Mengerjakan.  “Setelah berakhirnya HGU PTPN II tersebut, masyarakat berharap pemerintah mengembalikan tanah itu kepada masyarakat pemilik tanah,” katanya. (eza/smg)

ABG Empat Kali Disetubuhi Uwak

BRANDAN- Seorang gadis berusia 12 tahun warga Dusun Pasir Putih, Desa Lubuk Kasi, Kecamatan Brandan Barat, Langkat dipaksa melayani nafsu bejat seorang pria lanjut usia, yang merupakan uwaknya. Beruntung, aksi pelaku Aki (68) terhenti saat korban menceritakan aksi itu kepada tetangganya.

Dengan adanya pengakuan itu, pelaku yang diketahui tinggal seorang diri dan korban datang langsung diajak ke dalam kamar. Usai melucuti pakaian, di dalam kamar belakang pelaku berhasil menggarap kegadisan ABG yang selama ini tinggal dengan nenek kandungnya.

“Aku disuruh masuk ke dalam kamar setelah itu pakaian dilepaskannya lalu badanku ditindih Uwak, tapi mulut ku ditutup tangan kanannya,” ungkapnya. “Aku sudah empat kali ditindih uwak, dan setiap itu aku dikasih uang Rp20 ribu,” tambahnya.

Tapi, setelah kejadian itu, pria berusia 68 tahun itu mengancam korban agar tidak menceritakan kejadian itu kepada orang lain. Kalau diceritakan, korban akan dipukuli dan tak dikasih uang.

Informasi yang diperoleh POSMETRO (Grup Sumut Pos), peristiwa itu sudah diketahui keluarga korban, tapi orang susah, mereka tidak dapat berbuat banyak terkait kejadian yang menimpa gadis ABG yang tidak pernah duduk dibangku sekolahan.

Kapolsek Pangkalan Brandan H Kosim Sihombing mengimbau agar korban membuat laporan dan di dampingi keluarganya. Pasalnya, korban akan diperiksa ke pihak medis untuk melakukan pemeriksaan perlu pembuktian terkait pengakuan korban, bahwa kemaluannya telah dirusak pelaku.

“Apabila terbukti atas tuduhan perbuatan pelaku terhadap korban, pelaku bisa dijerat pasal 81 UU perlindungan anak No. 23/2002 dengan ancaman 15 tahun penjara dan pasal 287 KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara,” tegasnya. (jok/smg)

Warga Tegang, Kades Bacakan Visi dan Misi

PAKPAK BHARAT – Penyampaian visi dan misi calon kepala desa (kades)di Desa Kaban Tengah, Kecamatan STTU Jehe, Pakpak Bharat berlangsung tegang. Pasalnya, ada beberapa pertanyaan warga tidak dijawab oleh calon kades yang sebelumnya sudah menjabat kades.

Pelaksanaan penyampaian visi dan misi akhirnya digelar setelah lima anggota Badan Permusyawaratan Desan (BPD) hadir. Pada kesempatan itu, Sabtu (10/12) Panitia Pemilihan Kepala Desa (P2KD), Desa Kaban Tengah, Kecamatan STTU Jehe, Pakpak Bharat dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sepakat membuka sesi tanya-jawab.

Seorang warga, Bancin mempertanyakan keberadaan berbagai ternak bantuan yang diperoleh desa, beberapa waktu lalu. “Apakah ternak itu merupakan bantuan Pemkab atau milik pribadi? Kalau memang bantuan, ke mana ternak-ternak itu sekarang dan kalau milik pribadi, saya tidak akan menanyakannya lagi,” tanya Bancin di kantor P2KD kepada seorang calon Kades yang sebelumnya menjabat Kades di desa itu.

Karena belum ada reaksi atas pertanyaan itu serta suasana agak tegang, pihak BPD mengambil alih acara dan tidak berapa lama acara ditutup. Kepada wartawan Bancin mengatakan dia merasa kurang puas karena tidak ada jawaban atas pertanyaannya pada sesi tanya-jawab itu.

Di tempat yang sama, tokoh masyarakat, Berutu (73) menegaskan Kades yang terpilh nantinya harus transparan dan serius membangun desa. “Pembangunan harus merata di 7 dusun, jangan hanya dusun tertentu saja dan transparan kepada warga,”pinta tokoh ini.

Usai acara,Camat STTU Jehe,  Sabar Berutu mengatakan kini masyarakat semakin kritis dengan berbagai pertanyaan yang dikemukakan pada sesi. Untuk itu, kepada siapa terpilih nantinya harus mendengarkan aspirasi warga dan jangan mengecewakan masyarakat yang dipimpinnya. (mag-14)

Dugaan Korupsi Sekdakab Langkat, Satu Proses Lagi Masuk Penuntutan

LANGKAT- Kejaksaan negeri (Kejari) Stabat bertekad melanjutkan kasus dugaan korupsi mantan Kepala Bagian (Kabag) Keuangan Pemkab Langkat, Surya Djahisa, sampai tuntas. Pasalnya, setelah penetapan status tersangka kepada Sekdakab itu bukanlah pekerjaan ringan dan kini satu proses lagi masuk tahap penuntutan.

“Ya gak mungkinlah, kalau harus dihentikan (SP3) ngapai kami capek-capek dari kemarin mengerjakannya. Saat ini, kami hanya tinggal melalui satu proses lagi yakni ekspos di Kejatisu,” kata Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Stabat, Firmansyah.

Kasi Pidsus bersama Kasi Intel Kejari, Zulfahmi ketika ditemui wartawan seusai menerima sekelompok elemen unjuk aksi saat peringatan hari anti korupsi, Jumat (9/12) kemarin, menjelaskan kasus dugaan korupsi penghitungan pajak (PPh 21) melibatkan Surya serta seorang konsultan, terlebih dahulu di ekspos di Kejaksaan Agung (Kejagung) medio Maret 2011 lalu.

Dia menerangkan Kejari Stabat diperintahkan melanjutkan atau meneruskan kasus dimaksud sebab dinilai memenuhi unsur. Namun, Kejatisu meminta hal serupa sampai akhirnya diputuskan dilakukan ekspos, Selasa (13/12) besok.
Disinggung prosedur tetap (Protap) atau hirarki institusi, mengapa sudah ekspos di Kejagung harus dilakukan di Kejatisu, baik Kasi Pidsus maupun Kasi Intel tidak bersedia berkomentar banyak. Tapi, Zulfahmi memaparkan menghadapi alasan-alasan bakalan dilemparkan ke Kejatisu, tapi pada intinya tetap dilanjutkan, maka Kejari Stabat sudah mempersiapkan argumen agar dugaan korupsi menyeret Surya tidak di SP3 kan.

“Tentang apa alasannya Kejatisu, nanti diketahui setelah berlangsungnya ekspos. Untuk itu, kita juga kan punya argumen mengapa kasus ini tidak di SP3 kan,” singkat Kasi Intel.

Sebelumnya, belasan elemen masyarakat tergabung dalam Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (ALAMAK) Kab Langkat menuntut transparansi kasus PPh 21 tahun 2003 melibatkan Surya Djahisa yang kini menjabat Sekdakab Langkat dengan dugaan kerugian negara mencapai sekitar Rp1,1 Miliar.

“Kasus ini sudah setahun berjalan dan Surya pun ditetapkan sebagai tersangkanya bersamaan dengan waktu tersebut, tetapi kenapa masih belum ada lanjutan serta penahanan buat Surya. Harusnya ada kejelasan dan kepastian hukum, kalau memang tidak maka terbitkan SP3 buat tersangkanya,” kata Lukman Hakim koordinator aksi.

Kasi Pidsus dihadapan kelompok massa menjelaskan, pihaknya (tim Kejari) Stabat tak mungkin mengeluarkan SP3 begitu saja mengingat waktu, pikiran, tenaga serta materi dicurahkan menangani kasus itu. Malah pihaknya tak menghalangi kelompok massa ikuti ekspos di Kejatisu, Selasa (13/12) lusa mendatang guna mengetahui prosesnya. (mag-4)

Forum Kasek Didesak Publikasikan Hasil Studi Banding

LANGKAT- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupatan Langkat, meminta hasil studi banding seluruh Kepala Sekolah (Kasek) SMP, SMA serta Kepala Unit Pembantu Teknis Daerah (KUPTD) yang berangkat ke pulau Bali.
“Kalau betul studi banding mana laporannya, publikasikanlah. Bukan se-sederhana itu melakukan kegiatan secara resmi tidak ada laporan. Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Pengajaran (Dikjar) harus memahami itu, sebagai pemegang kekuasaan dunia pendidikan semestinya tahu prosedural sekaligus mekanisme,” kata Ketua DPC PDI-P Kabupatan Langkat, Syafril, Sabtu (10/12).

Mantan anggota DPRD Langkat dua periode ini menyesalkan kelalaian legislatif melakukan pengawasan. Idealnya, sebelum bertolak studi banding ke Bali harus dipertanyakan tujuan serta garansi agenda dimaksud. Begitu pula, setelah melaksanakannya maka perlu dipertegas tentang penerapan hasil studi banding itu.

Dia berpendapat, terlalu berlebihan jika segenap Kasek maupun KUPTD studi banding melibatkan anggota keluarga, kendati memang menggunakan biaya sendiri. Belum lagi, sasaran tujuan (Bali) relevansinya dinilai kurang tepat mengingat aspek perekonomian hasil pendapatan asli daerah (PAD) pulau dewata sangat berbanding terbalik dengan Langkat.

“Sah-sah saja kalau sumber dana keberangkatan dari forum kasek, tapi mana wadahnya cobalah tampilkan kenapa selama ini tidak dimunculkan terus dengan KUPTD apa pula forumnya. Kemudian, kalau mau studi banding sebaiknya dilakukan jauh hari sebelum jadwal ujian semester siswa. Kami minta evaluasi kinerja Kadisnya itu, kita menduga kalau Bupati sudah dikelabui dalam konteks studi banding tersebut,” sesalnya.

Kabag Humas Pemkab Langkat, H Syahrizal menjelaskan studi banding ke pulau Bali selama tiga hari Senin (5/12) sampai Rabu (7/12) digawein forum kasek menggunakan biaya pribadi termasuk kesertaan anggota keluarga Kasek atau KUPTD dalam rombongan. Pihaknya secara detail tidak mengetahui misi kegiatan, namun pastinya sudah memperoleh izin pimpinan (Bupati) selama tidak mengganggu proses belajar mengajar. (mag-4)

Frustasi, Perut Sendiri Ditusuk Pakai Pisau

KUALA- Pawiro alias Aleng (83) mencoba bunuh diri dengan cara menusuk perut sendiri pakai pisau belati. Tapi, upaya itu berhasil digagalkan anak kandungnya, Syamsidar (43). Akibat kejadian itu, bapak enam anak itu langsung dibawa ke RSU dr Fuad Binjai untuk dirawat secara medis. Kini, kondisinya mulai berangsur pulih pasca ditangani medis.

Informasi diperoleh, aksi nekat Aleng terjadi, Sabtu (10/12) sekira pukul 06.00 Wib dinihari dirumah anak kandungnya Syamsidar di Dusun VI, Desa Tanjung Keriahan, Kecamatan Serapit, Langkat.

Selama ini, Aleng tinggal di rumah anak kandungnya tersebut. Aleng yang memiliki riwayat penyakit darah tinggi, frustasi karena penyakitnya tak kunjung sembuh. Akibatnya, Aleng nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Ketika menusukkan sebilah pisau ke perutnya, Aleng berteriak. Syamsidar yang mendengar teriakan itu langsung mendatangi Aleng di kamarnya. Saat itu, korban terlihat sudah tersungkur bersimbah darah dengan luka tusuk diperutnya. Bahkan, pisau yang dipakai itu untuk bunuh diri masih terlihat menancap diperutnya.

“Untuk apa aku hidup, kalau harus menderita penyakit seperti ini, “ kata salah seorang perawat yang menangani korban menirukan ucapan korban saat dirawat di rumah sakit tersebut.

Kapolsek Kuala AKP Turnip saat dikonfirmasi membenarkan kejadian itu. Pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait insiden percobaan bunuh diri tersebut. Namun kuat dugaan kalau korban nekat melakukan itu karena stres dan frustasi dengan penyakit yang dialaminya tak kunjung sembuh. (wis/smg)

Menjahit Sepatu Supaya Jadi Dokter dan Bantu Keluarga

Melihat Siswa SMP Cari Biaya Hidup

Di tengah keterpurukan ekonomi keluarga, seorang anak tak boleh berhenti dari pendidikan. Demi mempertahankan sekolahnya, Nijam Tanjung (15) siswa kelas II SMP Negeri 3 Tebing Tinggi rela menjadi penjahit sepatu dipinggir jalan demi pendidikan dan meraih cita-cita menjadi seorang dokter.

DITEMUI di lokasi prakteknya menjahit sepatu di Jalan Suprapto, Tebing Tinggi, Nijam tampak bersemangat menusukkan satu persatu jarum ke sepatu yang sudah robek. Semangat itu, tak lelah walau panas terik siang itu, Minggu (11/12).

Sambil menusukkan jarum dan menarik kuat benang-benang untuk perekat sepatu yang robek, Nijam dengan ramah menjawab setiap pertanyaan wartawan. Dia mengaku, menjahit sepatu karena memahami perekonomian keluarganya.
“Kalau saya hanya mengandalkan penghasilan keluarga, saya tak bisa sekolah tinggi. Makanya saya menjahit sepatu dipinggir jalan dengan penghasilan hanya pas-pasan membantu kebutuhan keluarga dan biaya sekolah,” sebutnya.
Anak pertama buah pasangan Jali Tanjung (39) dan Muarifah (35) ini sehari-harinya tinggal di bersama kedua orang tuanya dan dua saudara kandungnya di Jalan Lintas, Kelurahan Begelen, Lingkungan III, Tebing Tinggi.

Dia mengakui, setiap pulang sekolah mesti ke Jalan Suprapto untuk menjahit sepatu. Pekerjaan itu dilakoninya demi untuk membiayai sekolahnya, agar jangan terputus di tengah jalan. “Saya punya cita-cita ingin menjadi dokter,” tegasnya.

Nijam ternyata sudah memiliki agenda rutinitas harian yang sangat padat, buktinya dimulai pukul 06.00 WIB bangun tidur, Nijam langsung mandi, usai berpakain sekolah dan sepatu sedikit bolong di bagian depan, dia langsung menuju sekolah SMP Negeri III, di Jalan Thamrin, Tebing Tinggi. Dengan berjalan kaki sejauh enam kilometer dari pinggiran rel kereta api.

“Yah jauh bang, cuma itu harus dijalani setiap hari. Supaya bisa jadi dokter,” katanya.

Dia menyebutkan, perjalanan itu tak membuatnya merasa letih, ditambah agenda setelah pulang sekolah harus ke Jalan Suprapto untuk melaksanakan kegiatan rutinnya menjadi penjahit sepatu dan sandal. “Sampai di Jalan Suprapto baru makan siang bang, dibekali ibu dari rumah,” sebutnya.

Ke dewasaan anak itu muncul, ketika disinggung apakah tak ingin bermain-main dengan temannya. Nijam menyebutkan, dirinya sama sekali tak punya waktu bermain-main dengan teman, karena kesibukannya bekerja dan belajar. “Lebih baik aku menjahit sepatu dari pada bermain-main dengan teman, uang hasil kerjaku bisa biaya sekolah serta untuk menabung,” sebutnya.

Saat ditanyai berapa penghasilannya perhari, Nijam menyebutkan setiap harinya terkadang hanya mendapatkan satu pasang sepatu. Untuk satu sepatu yang dijahit, harganya Rp7 ribu. “Terkadang mulai siang hari sampai sore mendapat dua konsumen. Tapi, kalau hari Minggu pendapatan bisa berlebih, karena banyak penjahit sepatu yang tutup,” ujarnya.
Nijam bercerita dirinya bekerja menjahit sepatu karena penghasilan orang tuanya tidak cukup untuk membiaya sekolahnya, karena ayah-nya bekerja sebagai tukang becak, kadang ayah pulang tidak membawa uang untuk emak, terkadang hasil menjahit  sepatu separuhnya diberikan untuk membeli beras dan membuat kebutuhan adik-adiknya yang masih duduk di sekolah dasar.

“Saya bekerja supaya tabungan ada supaya bisa kuliah,” ucapnya, “Saya mulai saat kelas 5 SD,” tambahnya.
Jali Tanjung mengaku sudah melarang anaknya agar tidak bekerja menjahit sepatu, karena usaha menjahit sepatu itu adalah profesinya dulu. Akibat pendapatan menurun, kadang ada kadang tidak ada, makanya berpindah profesi menjadi penarik becak motor dengan menyewa milik toke.
“Nijam punya keinginan keras meneruskan menjahit sepatu, karena keinginan itu saya harap kelak jadi orang besar suatu saat,” katanya. (Sopian)

SSB Cikal Garuda Juara Liga FKPSBSU

MEDAN- SSB Cikal Garuda juara Liga Forum Pelatih Sepak Bola Sumatera Utara (FKPSBSU) U-14 setelah pada partai final mengalahkan SSB Generasi Kosek III AU dengan skor 2-0, Minggu (10/12) di Lapangan PPLP Sumut.
Status pendatang baru tak membuat SSB Cikal Garuda tak diperhitungkan. Bermaterikan pemain-pemain yang cukup dikenal di tingkat usia dini unntuk pemain kelahiran 1997, SSB binaan Indra Sakti Harahap tersebut memang salah satu kandidat kuat menjadi juara sejak ajang ini digulirkan.

Dalam laga puncak, para pemain SSB Cikal Garuda unggul mutlak dari SSB Generasi Kosek. Kendati di babak pertama berakhir imbang 0-0. Para pemain Generasi Kosek yang dilatih Sucipto Hadi hanya mampu bertahan total dan hampir tak pernah melakukan serangan.

Tak ingin laga berakhir dengan adu penalti, pelatih Cikal Garuda Coli Misrun menginstruksikan para pemain untuk meningkatkan alur serangan di babak kedua. Melalui Anggara dari sisi kiri serta Dio dan Iqbal dari sektor kanan, SSB Cikal Garuda terus mencoba menciptakan gol. Terus diserang akhirnya tembok SSB Generasi Kosek bobol juga. Kapten Cikal Garuda, Iqbal, sukses menciptakan gol di menit 10 babak kedua setelah lebih dahulu melakukan penetrasi ke jantung pertahanan lawan. Skor berubah 1-0. Berhasil unggul satu gol tak membuat SSB Cikal Garuda mengendorkan serangan. Selang lima menit kemudian, skor berubah menjadi 2-0. Memanfaatkan umpan tendangan pojok Fandi, sundulan kepala Muhammad Uday sukses mengecoh penjaga gawang SSB Generasi Kosek Iqbal Daulay. Keunggulan dua gol tersebut pun bertahan hingga laga usai.

Melihat keberhasilan timnya, pengurus SSB Cikal Garuda Hj Lisnanur Muis mengaku bangga dan gembira. “SSB Cikal Garuda adalah pendatang baru dan sukses menjadi juara di Liga Forum. Keberhasilan ini jelas membuktikan bahwa pembinaan berjalan sesuai dengan baik di SSB Cikal Garuda. Kami akan jadikan keberhasilan ini sebagai alat untuk memacu kami lebih giat menjalankan pembinaan, sehingga nantinya keinginan kami untuk menghasilkan pemain-pemain berkualitas bisa terwujud,” ujar sosok yang pernah menjabat sebagai pengurus Pengprov PSSI Sumut tersebut.
Sementara itu, bagi Sucipto Hadi, kegagalan timnya di partai final dikarenakan kekalahan stamina.

“Para pemain kalah stamina. Itu yang membuat SSB Cikal Garuda menguasai pertandingan sepenuhnya. Selamat kepada SSB Cikal Garuda,” ujar Sucipto. Adapun hasil-hasil pertandingan yang digelar kemarin. Semifinal I, SSB Mayang Putra vs SSB Cikal Garuda Azhar, semifinal II, SSB Rajawali vs SSB Generasi Kosek III AU 0-2, perebutan tempat ketiga, Mayang Putra vs Rajawali 2-1, dan final SSB Cikal Garuda vs SSB Generasi Kosek III AU 0-2.

Dengan berakhirnya Liga FKPSBSU U-14, Ketua FKPSBSU Legirin menyampaikan bahwa ajang serupa akan tetap rutin digelar demi memberikan wadah evaluasi bagi siswa-siswa SSB.

“Ajang seperti ini akan rutin digelar oleh FKPSBSU. Semoga dengan kegiatan seperti ini keinginan menghasilkan anak didik yang siap pakai bisa terwujud,” ucap Legirin didampingi para pengurus  lainnya, Marzuki Harahap, Helmi Yusuf, Yunus Saragih, dan Nasib. (ful)

PSMS Bertolak, Arema tak Sabar

MEDAN-Laga lanjutan kompetisi IPL, pada Rabu (13/12) mendatang, PSMS akan bertandang ke Stadion Gajayana Malang markas Arema. Kabar baiknya, beberapa pemain tambahan dipastikan bisa tampil menghadapi tim berjuluk Singo Edan itu.

Adalah bek asal Brasil Vagner Luis De Oliveira Marins dan wing bek Sugiatno yang bakal memperkuat tim berjuluk Ayam Kinantan itu. Namun sayang, walau terdaftar dalam 17 pemain yang diberangkatkan, striker Argentina Julio Cesar Alcorse dipastikan belum bisa turun.

Kondisi ini memaksa asisten pelatih PSMS M Khaidir harus olah taktik. Ia mengaku mempersiapkan dua skenario untuk membendung tim besutan Milomir Seslija itu.

“Ada dua strategi yang dipersiapkan, mengingat Julio Cesar juga belum pasti bisa bergabung. Skenario pertama, kita mengandalkan duet Jecky Pasarela dan Julio Cesar di depan lewat formasi 3-5-2. Andre Abu Bakar akan lebih ke tengah sebagai second striker,” ungkapnya, Minggu (11/12).

Namun, di opsi kedua, PSMS harus siap tanpa kehadiran Julio Cesar. Untuk itu, skenario menduetkan Jecky Pasarela dan Andre Abu Bakar telah digeber selama beberapa hari persiapan. “Tentunya kami akan mengandalkan Andre dan Jecky. Akan banyak tekanan dari Arema, sebagai antisipasinya, kami akan menggunakan counter attack,” ujar Khaidir.
Pria yang pernah menjadi pemain dan sekaligus pelatih PSMS itu juga membeberkan, kali ini, barisan pertahanan PSMS dipastikan lebih kuat pasca masuknya Vagner Luis. Tak hanya bek berkepala plontos itu, mantan pemain Persita Tangerang Sugiatno yang berposisi sebagai bek sayap juga dipastikan bisa tampil.

Untungnya, menurut Khaidir, kali ini fisik dan stamina pemain juga cukup meningkat karena memiliki masa persiapan yang lebih panjang. “Stamina dan fisik sudah kelihatan lebib baik. Mereka lebih enjoy dan sudah berani pegang bola,” tutur pelatih yang juga pernah membseut Persigo Gorontalo itu.

Khaidir juga beranggapan, formasi 3-5-2 merupakan yang paling tepat bagi skuad besutannya karena telah terbiasa. “Kita pakai 3-5-2 karena mereka sudah lebih paham. Pergerakan dengan formasi itu tak asing bagi pemain. Kami yakin, tak akan ada lagi miskomunikasi antara pertahanan dan lini depan,” ujarnya lagi.

Meski Khaidir optimis dengan kemampuan anak asuhnya, namun di tempat terpisah pelatih Arema IPL Milomir Seslija  mengaku tak sabar untuk melumat tim Ayam Kinantan.

Hampir dua bulan penggawa Arema IPL melakukan persiapan menatap kompetisi Indonesian Premier League (IPL). Selama itu pula M. Ridhuan dan kawan-kawan hanya latihan dan latihan.

Jadwal kompetisi yang sudah empat kali berubah membuat pemain Arema IPL merasa sudah tak sabar untuk segera merasakan atmosfer laga IPL. Pemain Arema juga sudah ngebet untuk melumat lawan perdananya PSMS Medan.
“Namun kita tetap harus waspada karena mereka punya striker yang berbahaya,” ujar Seslija.

Yang dimaksud oleh Milo tak lain adalah striker Jecky Pasarella. Mantan pemain PSM Makassar itu sudah mencetak satu gol di IPL, tepatnya ketika timnya kalah 1-2 dari Persebaya.

Dari rekaman yang sudah ditontonnya, Jecky seringkali memperlihatkan aksi individu dalam menembus pertahanan lawan. Sayang, pada dua pertandingan, Jecky memang lebih sering terlihat bekerja sendirian tanpa adanya sokongan berarti dari pemain PSMS lainnya. (saz/muf/abm/tom/jpnn)

Bank Sumut Tembus Livoli Divisi Utama

MEDAN-Tim bola voli putra Bank Sumut menjadi kekuatan baru perbolavolian nasional setelah tampil menjadi runner up Kejurnas Livoli Divisi I sekaligus memastikan diri masuk ke Livoli Divisi Utama tahun depan.

Dalam pertandingan final yang berlangsung Minggu (4/12) di GOR Kota Tangerang, Banten, langkah Bank Sumut untuk meraih juara tertunda, setelah dijegal JML Tangerang 3-2. Namun tim tuan rumah tersebut sempat kewalahan melayani permainan alot yang diperlihatkan Bank Sumut. Terbukti di set pertama, Bank Sumut berhasil mematahkan perlawan tim JML Tangerang dengan poin 25-22. Demikian juga di set kedua, Bank Sumut kembali unggul 25-17.
Namun memasuki babak ketiga, stamina pemain Bank Sumut menurun. Kondisi ii dimanfaatkan JML dengan mencuri kemenangan secara berturut masing-masing 25-21, 25-18 dan 15-10.

Meski gagal meraih gelar juara, namun hasil yang dicapai Bank Sumut besutan Apit Diansyah dinilai maksimal. Tim Manejer Sudirman pun memuji penampilan para pemainnya yang terdiri dari Dody Ardiansyah cs, Arif Juanda Lubis, M. Al Faizun, Anton Suprapto, Dedy S. Prayugo, Santo, Raka Prayitno, Ahmad Andri, Didit Prasetyawan, Ari Suhendra, Ricky Hartono dan Supendi.

“Hal lain yang cukup menggembirakan, pebolavoli Bank Sumut Arif Juanda Lubis  masuk dalam pemantauan klub Jakarta Elektrik (peserta Proliga) untuk bisa mendapat pembinaan lebih baik di tangan pelatih nasional,” kata Sudirman.

Didampingi  pelatih Apit Ardiansyah, Sudirman  secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Dirut Bank Sumut Gus Irawan selaku pembina tim yang selama ini sangat peduli dan bersemangat memberi dukungan untuk memajukan klub voli Bank Sumut.

Dirut Bank Sumut Gus Irawan secara terpisah juga menyatakan rasa sukacitanya atas keberhasilan tim bola voli binaannya ini menembus level Livoli Divisi Utama untuk musim kompetisi tahun depan.

Ia mengingatkan para pemain tidak larut dalam kegembiraan, tapi harus terus berlatih dan berlatih  untuk meningkatkan kualitas permainannya sebagai modal tampil di Livoli Divisi Utama.

“Saya berharap, tim voli putra Bank Sumut dapat meraih pretasi yang lebih baik lagi di masa mendatang. Untuk itu, teruslah berlatih. Manajemen Bank Sumut akan terus berkoitmen memberikan dukungan penuh demi kesuksesan tim voli putra kebanggaan kita ini,” tandas Gus Irawan. (jun)